
Dan ternyata yang keluar dari lift adalah Pak Kevin dan
istrinya (Meira)
“Pak Kevin,” ucapku dalam hati.
“Si Kevin,” ucap dalam hati Mas Naufal.
Kedua bola mataku terbelalak melihatnya.
Mas Naufal pun kaget saat melihat ternyata adik dari
temannya itu adalah musuhnya sendiri.
Mas Raka pun berdiri menyambut adiknya.
“Nah ini dia adik Gue Fal, kenalin namanya Kevin, dan ini
istrinya namanya Meira,” kata Mas Raka yang tidak tau apa-apa itu.
Mas Naufal berdiri dan berjabat tangan dengan Pak Kevin.
“Gue udah kenal sama adik Lo Ka,” bisik Mas Naufal di
telinga Mas Raka.
“Waaaah…..bagus dong kalo gitu, kita kan jadi bisa enjoy,”
sahut Mas Raka.
Meira langsung duduk di sebelahku dan melotot padaku.
“Apaaa???!!! Jadi selama ini Mas Naufal udah tau kalau
ternyata Pak Kevin adalah adik dari Mas Raka??!!”
“Kenapa Mas Naufal nggak cerita ke aku, pasti Mas Naufal
udah tau semuanya,”
“Ternyata ini jawaban dari semua pertanyaanku, kenapa pada
saat aku mengantar Revina pulang ke rumah Mas Raka, yang membuka malah Pak Kevin,”
“Oooow jadi selama ini Mas Naufal nyembunyiin dari aku??!!”
tanyaku dalam hati yang penuh dengan emosi.
Kenapa pertemuan ini harus terjadi lagi dan lagi, aku tidak
menginginkan semua ini.
Jika aku bisa berpindah negara bersama keluarga kecilku,
pasti aku akan segera pergi jauh dari negara kelahiranku. Aku tidak ingin
terus-terusan bertemu dan berhadapan lagi dengan masa lalu.
“Kamu udah kenal Naufal Vin?” tanya Mas Raka pada adik
sambungnya itu.
Pak Kevin hanya menganggukkan kepalanya dan duduk di sebelah
Meira.
“Haduuuh Fal, tau gitu Gue sering-sering ajak Kevin ke rumah
Lo, tapi by the way…kalian kenalnya gimana? Dan dimana?” tanya Mas Raka.
Deegggg……..ini pertanyaan yang membunuh empat mulut dari
kami.
Kami saling menatap satu sama lain, apalagi Pak Kevin dan
Meira yang terlihat semakin terancam.
“Eehhmm Mas udahlah, ceritanya di sambung nanti lagi,
mending sekarang kita makan,” sahut istri Mas Raka.
“Huuuffttt….syukurlah,” batinku.
Akhirnya kami pun menikmat makan-makan disana, Mas Naufal
yang hanya diam dan kurang nyaman terlihat saat ketika dia memotong steak di
depannya.
Beberapa kali aku terus memandang wajahnya kesal. Aku jadi
tidak nafsu makan.
“Mas Naufal berpura-pura di depanku, sok-sok an nggak tau
kalau Pak Kein adalah adiknya Mas Raka,”
“Pasti dia lakuin semua ini agar aku mau diajaknya kesini,
tapi buat apa??”
“Kenapa sih Mas kamu gini??” gumamku dalam hati.
__ADS_1
Aku sangat tidak nyaman disini, rasanya aku terkurung dan
tidak bisa berekspresi.
Bukan kaku karena ada Pak Kevin dan istrinya, tapi aku terus
memikirkan dan masih tidak menyangka jika ternyata seperti ini kejadiannya.
Apalagi suami menyembunyikan dari aku.
Aku kesal dengan Mas Naufal, sangat kesal.
Di pertengahan setelah kita melahap separuh hidangan di
depan kami semua.
Mas Raka menanyakan lagi tentang bagaiamana bisa Adiknya dan
temannya itu sudah saling mengenal.
“Oiiya Fal, gimana?? Kalian kenalnya dimana? Apa kalian
punya bisnis bareng nih?” tanya Mas Raka sambil mengusap sudut mulutnya.
“Iya kita kenal karena….”
Dan tiba-tiba ponsel Mas Naufal pun berdering.
“Bentar ya,” kata Mas NAufal sambil beralih ke tempat lali
untuk menerima panggilan itu.
Tak lama kemudian, Mas Naufal datang dan mengajakku untuk
pulang.
“Sayang, kita pulang sekarang,” ajak Mas Naufal.
“Loh kenapa Fal? Kok buru-buru?” Tanya Mas Raka.
“Mama Gue jatuh di kamar mandi, Gue balik duluan ya, maaf
loh,” jawab Mas Naufal.
“Oh ya udah kalo gitu, Lo pulang gih, kasihan Mama Lo,” ujar
Mas Raka.
Mas Naufal menggandeng tanganku dan mengajakku pulang.
“Pulang dulu ya Ka, makasih,” kata Mas Naufal lalu
meninggalkan meja mereka.
Di dalam lift aku hanya diam karena kesal dengan Mas Naufal.
Hingga kami berdua masuk ke dalam mobil.
Mas Naufal menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi,
aku hanya diam saja.
“Tumben kamu nggak ngomel kalo aku ngebut kayak gini,” kata
Mas Naufal.
“Udah jalan aja,” jawabku cuek.
Mas Naufal kembali fokus menyetir dan menambah kecepatan
mobilnya menuju ke Rumah Mama Feni.
Sampailah kami di Rumah Mama Feni.
***(Rumah Mama Feni)
Aku langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke Rumah
Mama Feni.
“Assalamu’alaikum,” ucapku.
“Langsung ke atas Sayang,” sahut Mas Naufal di belakangku.
Aku dan Mas Naufal berlari menaiki anak tangga rumah Mama
Feni yang sangat lebar dan besar itu.
Di depan kamar Mama Feni, Mas NAufal langsung membuka pintu
itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu karena sangat panik.
“Mama, “ panggil Mas Naufal.
Mama Feni duduk terbujur dengan kakinya yang sudah di lilit
oleh kain perban oleh seorang perawat disana.
“Mama, Mama mana yang sakit?” tanyaku yang duduk disebelah
Mama Feni
Mama Feni malah senyam senyum saja.
__ADS_1
“Hehehem, ini sih Gi, cuman ada luka dikit sama kesleo,”
jawab Mama Feni sambil menahan rasa sakitnya.
“Berarti jatuhnya Mama udah dari tadi?” tanyaku.
“Iya Nak,” jawab Mama Feni.
“Kok Mama baru hubungi Naufal sih Ma,” gerutu Mas Naufal.
“Ya Mama sengaja nggak mau ganggu acara kamu, kan kamu tadi
balas WA Mama katanya kamu mau ketemu sama Raka, yak an?”
“Its okey My Son,” sambung Mama Feni.
“Lagian Mama juga udah panggil perawat ini kok,” ucap Mama
Feni.
“Mama, lain kali yang utama Mama harus hubungi Naufal kalo
Papa nggak ada di rumah, ya?” rayu Mas Naufal ke Mama Feni.
“Anak Mama ini posesif banget, hehem,” kata Mama Feni.
Perawat pun membereskan alat-alatnya dan berkemas akan
pergi.
“Permisi ya Bu, saya pamit pulang,” ucap Perawat itu.
“Makasih ya Mbak, oo..iya nanti di antar saja sama sopir
saya,” kata Mama Feni.
“Nggak boleh nolak, kayak sama siapa aja,” sambung Mama
Feni.
“Iya baik Bu,” kata Perawat itu lalu pergi.
“Fal, Mama telfon kamu itu bukan hanya ingin kamu sama
istrimu kesini, Mama pengen mala mini kalian menginap di rumah Mama, bukan
karena Mama manja atau gimana,” ujar Mama Feni sambil menyelimuti tanganku.
“Gia mau ya?” rayu Mama Feni padaku.
“Eehhhmm, Giaaa…..ikut Mas Naufal aja Ma,” jawabku.
“Fal, gimana? Mau ya? Kan kerja bisa kapan aja, kerja nggak
dibawa mati Fal,” canda Mama Feni.
“Iya Mama……..Naufal sama Gia mala mini akan menginap di
rumah Mama,” jawaban Mas Naufal yang membuat Mama Feni tersenyum lega.
“Yes, akhirnya…..kamar kamu tadi udah dibersihin kok, jadi
kamu tinggal masuk aja sama Gia, ya? Jangan lupa, Adiknya Abay kapan? Hehehe,”
ejek Mama Feni dengan lirih.
“Mama apa sih, ada-ada aja,” jawab Mas Naufal malu-malu lalu
keluar dari kamar Mama Feni.
“Udah kalian kesana, Mama juga mau istirahat,” Perintah Mama
Feni.
“Mama yakin nggak ppa ditinggal sendiri?” tanyaku yang
khawatir pada Mama Feni.
“Nggak papa Sayang, udah sana susul suami kamu,” perintahnya
lagi.
Bersambung........
Hello, apa kabar semua?? Gia dan Naufal hadir kembali
seribu kata maaf untuk kakak semua
terima kasih banyak udah setia nunggu kelanjutan ceritanya...
Meskipun ada beberapa kendala, tapi Gia dan Naufal tetap lanjut dan hadir kembali...
sehat" ya kalian semua....
semoga kita semua selalu diberikan kebahagiaan
sekali lagi terima kasih banyak
udah kangen banget sama readers yang selalu setia dan selalu support Authornya ini
enjoy dengan ceritanya yaa...
semoga selalu suka dan selalu kasih supportnya
__ADS_1
Love, Author