Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 141 (Bertemu di Kantin)


__ADS_3

“Aku tadi di telfon sama client Papa Sayang, soalnya Papa


belum bisa terima telfonnya, jadi aku yang di telfon,” jawab Naufal.


“Oooh kok asik banget,” kataku.


“Orangnya udah kenal sama aku Sayang, dan tadi malem


bahasnya penting jadi maaf ya aku nggak dengerin kamu,” kata Naufal.


“Iya, udah jangan di bahas, kan emang penting Mas, lagian


kan kamu wakilin Papa,” jawabku.


“Udah nggak ngambek-ngambek lagi kan ini,” ejek Naufal.


“Oh kamu mau aku ngambek-ngambek lagi nih, ya udah gampang banget,” kataku.


“Heheheh, enggak Sayang enggak,” jawab ucap Naufal.


***(Di Rumah Sakit)


Aku turun dari mobil bersama Naufal.


Mobil Pak Bastian melaju dan terparkir di sebelah mobil


kami.


“Mas, aku duluan masuk ya, kamu tungguin Pak Bastian kan,”


tebakku.


“Iya Sayang,” jawab Naufal.


Aku berjalan meninggalkan Naufal.


Saat aku berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit, dan sempat beberapa petugas disana selalu menyapaku, mengucapkan selamat pagi padaku. Semenjak mereka semua tau bahwa aku adalah istri Naufal, mereka bertingkah


ramah padaku.


Tiba-tiba terlintas di pikiranku tentang Pak Kevin.


“Huumm udah sepuluh tahun Pak Kevin kemana ya? Beliau


nepatin janji nya banget, gimana ya kabar beliau?” tanyaku dalam hati.


“Semoga beliau udah hidup bahagia bersama Meira, udah


lama banget nggak ketemu sama Pak Kevin, di rumah sakit ini juga nggak pernah ketemu, apa Pak Kevin sengaja agar tidak bertemu denganku ya, atauuu dengan


penyakitnya beliau sudah…….aarrrghhh Gia jangan mikir aneh-aneh,” gumamku dalam hati.


Dokter Anton memanggilku dari belakang.


“Dokter,” panggilnya.


“Iya Pak,” jawabku.


“Pagi Dok,” kata Dokter Anton.


“Pagi Pak,” jawabku.


“Dokter Naufal kemana Dok? Nggak masuk ya hari ini?” tanya


Dokter Anton.


“Beliau masuk kok Dok, Dokter Naufal masih di belakang tadi saya tinggal,” jawabku.


“Ooww ya udah soalnya saya mau ngembaliin ini,” kata Dokter


Anton.


“Ya udah Dok, makasih ya,” ucap Dokter Anton sambil


tersenyum padaku.


“Iya Dok,” jawabku lalu berjalan meninggalkannya.


Sedangkan Naufal dan Pak Bastian masih berjalan dan keenakan ngobrol di jalan.


“Istri Lo udah nggak ngambek?” tanya Naufal.


Pak Bastian langsung menatap Naufal dengan panik.


“Udah nggak usah panik, Gue udah tau,” ucap Naufal.


“Lo jangan buat sedih anak orang,” ceplos Naufal.


“Ya elah Fal, Gue cuman kumpul sama temen-temen, kan nggak neko-neko, udah itu doang,” jawab Pak Bastian.


“Sekarang rubah dong, Lo udah berkeluarga, ya waktu Lo buat istri dan anak Lo, udah gak ada ceritanya buang-buang waktu buat nongkrong gak jelas kayak gitu, kalo mau nongkrong ya sekali dua kali tapi di luar,” tutur Naufal.


“Iya sih Fal, istri Gue bilangnya juga gitu,” kata Pak


Bastian sambil menaikkan satu alisnya.


“Kasihan tau Bas kalo Lo tinggal-tinggal nongkrong kek


gitu,” ucap Naufal.


“Tapi semalem Gue udah minta maaf kok Fal, Gue udah janji


gak gitu lagi sama Susi, setelah apa yang dikatakan Susi ke Gue, Gue sadar,” jawab Pak Bastian.


“Bagus Lo sadar, istri itu hanya minta waktu kita, minta di


perhatiin, di perduliin, di sayangi, ya gitu-gitu mintanya istri, permintaannya simple, tapi kadang susah di dapetin,” tutur Naufal.


“Bener juga Lo Fal, tapi sekarang Gue udah baikan kok sama


Susi,” ucap Pak Bastian.


“Syukur deh kalo Lo udah baikan, berantem lama-lama sama


istri nggak enak,” tutur Naufal.


“Iya iya Dokter Naufal,” canda Pak Bastian.


Di ruang kerjaku, ku letakkan tasku, dan langsung ku buka


laptop ku.


Tak lama kemudian, aku keluar dari ruang kerjaku dan


berjalan menuju ruang demi ruang yang sudah menanti untuk ku datangi setiap hari.


Aku senang berada disana, karena selalu di sambut hangat


oleh para pasienku, mereka selalu tersenyum padaku meskipun mereka tau telah menyangga cobaan berupa penyakit yang diberikan Allah pada mereka.


“Pagi semua,” sapaku sambil mengeluarkan stetoskop dari


dalam saku jas dokterku.


“Pagi Dok,” jawab mereka.


Ku periksa satu per satu dari mereka, aku senang bisa


terlibat dalam susah dan sedihnya suasana hati mereka, jadi aku ikut menyanggah apa yang mereka derita.


“Dokter, tolong sembuhkan saya,” kata seorang pasien yang


sudah sepuh, aku jadi teringat pada kisah Kakek dan Nenek dulu, kemana ya mereka sekarang, gimana kabar mereka.


“Saya akan berusaha semaksimal mungkin Kek, untuk sembuh itu Allah yang tau, saya hanya perantara, tapi Kakek jangan sedih, disini kita berjuang bersama-sama bukan hanya Kakek, saya juga,” tuturku sambil tersenyum pada mereka.


“Sekarang saya tinggak dulu ya,” pamitku.


Aku dan Suster berjalan ke ruang sebelahnya lagi.


“Dok, Dokter bisa sedekat itu sama pasien-pasien disini,”


ucap Suster itu.


“Hehem, itu karena memang hati kita saling tau, saling ngrasain, saya bisa rasain apa yang pasien saya rasain, jadi ikatan batin kita kuat, meskipun saya bukan keluarga atau saudaranya,” jawabku.


“Pantesan Dokter bisa sedekat bahkan dekat banget sama


pasien-pasien disini,” puji Suster itu.


“Sebuah pekerjaan, harus kita lakukan dengan hati, yah

__ADS_1


meskipun ini semua bukan kemauan kita,” ucapku.


“Maksud Dokter bukan kemauan kita? Kemauan orang tua gitu


Dok, hehehem,” tebak Si Suster yang terus mengulikku.


“Ya itu maksud saya,” jawabku.


“Dokter bener, ini aja Saya jadi perawat, Mama dan Papa saya yang mau, sebenarnya saya ingin sarjana hukum Dok, tapi ya bagaimana lagi dok, saya harus terjun ke dunia kesehatan karena memang kemauan mereka, saya juga


nggak tega mau nolak, karena saya anak satu-satunya,” ucapnya.


“Tapi kalo dilakukan pake hati enak kan?” tanyaku.


“Alhamdulillah iya Dok,” jawab Si Suster.


“Bukan hanya kemudahan yang kita dapatkan, tapi juga


kepuasan,” ucapku.


Kami pun masuk ke sebuah ruangan kembali.


.


.


.


.


.


Matahari sangat terik, aku dan Suster berjalan menyusuri


koridor, tak disangka kami pun bertemu dengan Naufal.


Kami jalan bersisipan.


Naufal sudah melihatku dari kejauhan, aku salah tingkah di


buatnya.


Saat jarak kita sudah semakin dekat, bisa-bisanya dia


menggodaku di tempat kerja ini.


“Siang Dokter Gia,” goda Naufal.


Aku tersenyum menatapnya, kedua pipiku mulai memerah.


“Ciye-ciye Dokter Gia,” kata Suster itu.


“Dokter Naufal masih romantis aja ya Dok, padahal sudah


punya satu anak, hehehm,” canda Suster.


“Iya Sus, ya gitu Sus tingkahnya,” kataku.


“Saya kaget loh Dok, soalnya jarang-jarang Dokter Naufal


senyumin orang jalan, apalagi sama cewek Dok, boro-boro di senyumin Dok, jarak aja di jaga sama beliau,” kata Suster.


“Hehehm masak iya Sus?” tanyaku yang kaget dengan sikap


Naufal.


“Iya Dok, dulu aja sebelum menikah dengan Dokter, Dokter


Naufal jarang ngomong kalo sama cewek Dok, mungkin seperlunya saja, tapi kalo sama temen Dokter yang cowok-cowok, ramah banget, jadi ya siapa sih yang nggak


pengen jadi istri Dokter Naufal atau Dokter Naufal jilid 2 juga nggak papa Dok, hihihihi,” canda Suster yang membuatku tertawa mendengarkan.


“Iiih Si Suster ada-ada aja,” kataku.


“Loh beneran loh Dok, termasuk saya ini penggemar Dokter


Naufal, dan hari ini hari bersejarah saya di senyumin sama Dokter Naufal Dok,” kata Suster yang terus nenbuatku menahan tawaku.


“Aduuhh Suster-suster bisa aja,” ucapku.


“Hehehm, ya sudah saya sholat dulu ya Dok, Dokter mau


“Oh enggak Sus, saya lagi nggak sholat,” jawabku sambil


tersenyum padanya.


“Oh maaf Dok, saya nggak tau,” kata Suster itu yang sangat


santun padaku.


“Iya nggak papa, saya juga mau ke kantin,” kataku.


“Saya ikut Dok, tapi saya mau sholat dulu,” ucap Suster itu.


“Iya nggak papa, saya tungguin kamu di ruangan saya ya,”


ucapku.


“Iya Dok,” jawab Suster itu lalu berjalan meninggalkanku.


Aku menunggu Suster di ruanganku.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, Suster itu menysuulku.


Tok….tok….tok.


“Masuk,” jawabku.


Suster itu masuk ke ruanganku.


“Udah?” tanyaku.


“Udah Dok,” jawab suster itu.


“Ya udah sekarang ke kantin ya, saya laper,” ajakku.


“Iya Dok,” jawabnya.


Kami pun berjalan menuju kantin.


***(Di Kantin)


Setelah aku memilih dan memesan makanan bersama Suster.


Aku mencari-cari tempat duduk.


Saat aku sedang berjalan-jalan di tengah kerumunan orang


yang memadati seisi kantin.


Aku bertemu dengan Naufal.


Dia bersama Pak Bastian dan Dokter Anton.


Pandanganku tertuju pada makanan yang sedang ada di


tangannya yaitu sebuah “Sandwich”.


Naufal kaget melihatku yang jarang sekali ke kantin.


“Eh Gia, sini Gi gabung,” ajak Pak Bastian.


Naufal langsung meletakkan sandwichnya kembali.


“Ini Gi, aku juga tadi di buatin Susi sandwich enak loh,”


tawaran Pak Bastian.


“Naufal juga ambil tadi,” kata Pak Bastian.


“Eemmm….enggak Pak, makasih,” kataku sambil tersenyum pada Pak Bastian.


“Loh kenapa?? Enak loh,”paksa Pak Bastian.


“Dia kurang suka sandwich Bas,” sahut Naufal.

__ADS_1


“Oooww pantesan, ini enak banget loh,” kata Pak Bastian.


“Gabung disini aja Dok,” ajak Dokter Anton.


“Enggak Dok, saya disana aja,” tolakku yang tidak ingin


mengganggu waktu mereka.


“Ya sudah, mari,” kataku lalu berjalan meninggalkan mereka.


Aku duduk berdua bersama Suster tadi.


“Pasti Naufal sekarang ngerasa bersalah sama aku, kasihan


dia,” gumamku dalam hati.


Naufal berkali-kali melihat ke arahku, sepertinya dia ingin


sekali mengajakku berbicara.


Sedangkan dalam hati Naufal juga merasa tak enak padaku.


“Adduuuhh, tadi ngapain aku pake megang sandwich ini sih,


Gia ngelihat lagi, nggak enak sama dia aku jadinya,” gerutu Naufal dalam hati.


“Fal, Lo ngapain sih gelisah gini, kayak nggak nyaman


banget dari tadi lihatin ke Gia,” kata Pak Bastian yang memperhatikan Naufal.


“Lo pengen nyamperin Gia?? Udah samperin aja,” tutur Naufal.


“Gue malu, ada Si suster di depan Gia,” jawab Naufal.


Kebetulan, untung saja Suster itu pamit sebentar padaku


untuk ke toilet, dan ini kesempatan emas Naufal untuk berbicara padaku.


Dugaanku benar, saat Suster tengah melangkah pergi,


diditulah Naufal mengambil langkahnya untuk menghampiriku.


Langkah Naufal semakin dekat di mejaku.


Dan akhirnya dia duduk di depanku. Sebagian orang disini


melihat ke arah kami, seperti tak terima jika Naufal duduk bersamaku.


“Mas, ngapain kamu kesini, kita dilihatin orang-orang loh,” gumamku padanya.


“Biarin, biar sekalian semuanya tau,” jawab Naufal dengan


enteng.


“Kamu kenapa sih kesini??? Enak-enak sama Pak Bastian sama Dokter Anton, aku ngrasa nggak enak sama mereka Mas,” ucapku lirih.


“Aku kesini mau minta maaf sama kamu,” kata Naufal.


“Issshh soal apa lagi?? Soal sandwich,” tebakku.


“Iya itu kamu tau, aku minta maaf sama kamu, pasti kamu


keinget ya,” kata Naufal.


“Udah lah Mas nggak papa, lagian kan kamu dulu janjinya


nggak makan sandwich di depan aku, kan tadi kamu nggak sengaja ketemu aku, aku juga gak mau larang-larang kamu makan sandwich,  aku kan nggak boleh egois,” kataku.


“Kamu nggak marah Sayang?? Atau ngambek mungkin,” kata


Naufal.


“Enggak Mas, ngapain sih cuman masalah gituan aku marah sama kamu, udahlah Mas dengan usia pernikahan kita yang udah 10 tahun, masalah kecil kayak gitu gak perlu lah Mas dipermasalahin,” ucapku.


“Aaaaaa…..istriku,” rengek Naufal.


“Mas jangan gitu, udah ah,  inget ini dimana,” ucapku.


“Lupa Sayang, agheemm,” kata Naufal sambil berdehem dan


kembali mengangkat dua pundaknya.


“Udah kamu sana balik, Susternya habis ini datang loh,


kursinya kamu dudukin,” tuturku.


“Iya iya Sayang, maaf ya, aku nggak jadi makan sandwichnya


kok,” kata Naufal yang melangkah pergi ke mejanya semula.


“Ada-ada aja Naufal, masih sempat-sempatnya romantic di


tempat kayak gini, hehehem dasar Naufal,” kataku dalam hati.


Tak lama Suster itu datang.


“Dok, kenapa semua lihatin kesini?” tanya Suster itu.


“iya, soalnya tadi Dokter Naufal kesini,” jawabku.


“Oooww, pantesan Dok, mereka mungkin kaget, kalo Dokter


Naufal nyamperin cewek yang sebenarnya adalah istrinya, tapi padahal berita tentang Dokter Gia sama Dokter Naufal udah kesebar loh Dok disini,” ucap Si Suster.


“Masak iya Sus?” tanyaku.


“Iya Dok, apalagi waktu awal-awalnya ketauan, uuhhh jadi


trending topik di ruangan Dok, pagi baru sampe yang di omongin Dokter Gia sama Dokter Naufal, tapi bukan ngomongin yang jelek-jelek Dok, hehehe,” ceplos Suster.


“Hehehem, segitunya ya Sus,” kataku heran.


“Ya begitu Dok, siapapun yang bersangkutan dengan Dokter


Naufal pasti bakalan jadi topik di rumah sakit ini,” ucap Si Suster.


Akhirnya pesanan kami pun datang.


“Huumm laper banget,” kata Si Suster.


“Ngomong-ngomong, kamu sudah menikah?” tanyaku pada Si Suster Dok.


“Belum Dok, tapi saya punya pacar Dok,” jawab Suster.


“Ooww, umur kamu berapa?” tanyaku.


“Masih 28 Dok,” jawabnya.


“Sebenarnya saya ingin segera menikah Dok, tapi pacar saya


masih lanjutin S2 nya di luar negeri, jadi saya harus menunggunya Dok,” cerita Si Suter.


“lanjut S2 apa?” tanyaku.


“Hukum Dok, hehhem,” jawabnya sambil tersenyum menyeringai padaku.


“Ooww, pantesan kamu juga pengen ke hukum,” kataku.


“Seru aja gitu Dok kalo ngambil hukum, ekstrim Dok, tapi saudara saya rata-rata ambilnya kesehatan sih,” jawabnya.


“Papa sama Mama kamu juga?” tanyaku lagi dan lagi.


“Iya Dok, Papa saya Dokter Gigi, Mama saya bidan,” jawabnya sambil menyumpit mie pangsit yang di pesannya.


“Waw enak ya kalo ngambil kesehatan semua,” ucapku.


“Memangnya keluarga Dokter Gia nggak ada yang ambil


kesehatan Dok,” tanyanya.


“Ada, cuman orang tua saya bukan dari orang kesehatan, cuman sepupu ada banyak yang ambil kesehatan,” jawabku.


“Tapi kalo Dokter Gia sama Dokter Naufal kan enak Dok


sama-sama Dokternya, pasti anaknya nanti juga ngambil Dokter,” tebaknya.


“Hehehem, memang anak saya pengen jadi seperti Papanya,”


kataku.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2