Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 236 (Maaf, Aku Pergi)


__ADS_3

"Jangan pergi," kata Mas Naufal.


"Mas butuh kamu disini," sambung Mas Naufal lagi.


"Ya Allah jika aku menolaknya, aku ini istrinya, aku tau aku sangat marah padanya, tapi melihat Mas Naufal seperti ini, aku jadi kasihan padanya," kataku dalam hati.


Aku pun duduk di samping Mas Naufal dan mengompres pipi bekas tamparan Mama Feni.


Tanpa menatap kedua mata Mas Naufal aku bisa melakukannya.


Aku terus mengalihkan pandanganku dari Mas Naufal. Mas Naufal yang terus saja menatapku.


Tanpa menyentuh kulitnya, akhirnya aku bisa.


"Kamu udah nggak mau lihat Mas lagi??" tanya Mas Naufal.


"Kamu aja udah nggak mau natap Mas, sebenci itu kamu sama Mas??"


Aku terus mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang dia berikan padaku. Hatiku menjadi semakin sesak mendengar itu.


"Gia,"


"Lihat Mas," ucapnya.


Mas Naufal mencoba memegang tanganku yang mengompresnya. Aku menarik tanganku kuat-kuat.


"Mas nggak mau lepasin kamu Sayang," kata Mas Naufal.


"Udah bukan waktunya kita kayak gini Mas, Gia udah sakit," ucapku sambil menarik tanganku dan Mas Naufal melepaskannya.


"Aku rasa Mas bisa mengompresnya sendiri," kataku singkat tapi hatiku tak tega.


Aku tidak ingin seperti itu padanya, kenapa?? Kenapa hatiku terus ingin percaya dengan Mas Naufal?? Padahal sudah jelas-jelas Mas Naufal menutupi semuanya dariku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Malam harinya, tepat jam 11 malam.


Aku menengok Mama Feni yang sudah tertidur pulas di kamar Abay. Lalu aku kembali ke kamar untuk tidur.


Aku terpaksa memunggungi Mas Naufal agar dia sadar akan kesalahannya.


Mas Naufal mencoba menyentuh pundakku.


"Aku mohon jangan Mas, jangan sekarang, hatiku masih sakit karena Mas Naufal, huhuhu," ucapku dalam hati.


Namun, Mas Naufal terus akan mencoba memberikan malamnya padaku.


"Mas cinta sama Gia," bisiknya di telingaku.


Nafasnya terasa hangat di daun telingaku.


Kenapa rasanya tidak ada yang berubah?? Kenapa aku sulit untuk tidak mencintainya?? Kenapa aku sulit merubah semuanya.


Mas Naufal membalikkanku dan dia menatapku.


Mataku terus saja lari dari pandangannya meskipun sekarang wajah kita sangat berdekatan, mungkin hanya berjarak 2cm saja.


Deg deg.....deg deg....


Kenapa hatiku masih bergetar, kenapa masih seperti ini?? Aku ingin pergi jauh darinya?? Huhuhu.


Mas Naufal mencoba mencium setiap inci sisi wajahku. Dan memori tentang di masa lalu dulu kembali terekam di otakku.

__ADS_1


Saat masih awal pernikahan, Mas Naufal belum mencintaiku, dan Vela datang memeluknya, kemudian kotak hitam dari Vela serta foto-foto ulang tahun Vela yang masih tersimpan di berkas Laptop Mas Naufal membuatku tidak nyaman jika harus meneruskan ini.


Dan akhirnya.....


Pyaaaarrrrr.......spontan, tanpa sengaja tangaku menyenggol gelas yang ada di atas meja.


Membuat Mas Naufal langsung menghentikan semuanya.


Aku langsung gelagapan saat membuat Mas Naufal kaget.


"Mmm.....Ma....Maaf Mas, aku....aku mau turun," kataku dengan singkat.


Aku sudah menahan air mata ini sedari pertama Mas Naufal akan memberikan malam indahnya bersamaku.


Aku langsung bergegas bangun dan keluar dari kamar. Untung saja ini sudah sangat malam. Jadi semua orang di Rumah ini sudah pasti tertidur.


Aku menangis sambil menuruni anak tangga.


"Apa yang telah aku lakukan pada Mas Naufal?? Huhuhuhu,"


"Sungguh aku tidak ingin seperti itu tadi Mas, huhuhuhu, semuanya tanpa sadar Mas, aku juga tidak menginginkan hal ini terjadi,"


"Tapi kenangan itu, terlihat jelas saat aku mulai memejamkan mataku Mas, huhuhuhu, maafkan aku Mas, aku tidak bisa," kataku dalam hati.


Aku bingung mau menenangkan diriku kemana.


Jika di Dapur?? Takut sewaktu-waktu ada Bi Sarah atau siapa yang kesana.


Dan akhirnya, aku berlari ke ruang kerja Mas Naufal.


***(Di Ruang Kerja Mas Naufal)


Ku nyalakan saklar lampu disana.


Aku duduk di sofa sambil menggigit jari jemariku yang terus bergetar dan tidak tenang karena merasa bersalah pada Mas Naufal.


"Ya Allah, aku sungguh berdosa, huhuhu," kataku dalam hati.


"Maafin aku Mas," kataku dalam hati.


Tiba-tiba, gleeekkk...........


Mas Naufal datang menemuiku.


"Mas," ucapku spontan.


Mas Naufal langsung mendekatiku dan Mas Naufal langsung mengangkat kedua pundakku agar aku berdiri. Dia melingkarkan kedua tangannya pada pinggangku. Wajah Mas Naufal mulai mendekat padaku, hingga hidung kita saling bersentuhan.


Saat aku memejamkan mataku, lagi-lagi..... memori itu teringat kembali. Memecahkan suasana hangat ini.


"Nggak Gi, kamu bisa!!! Jangan menolak Mas Naufal lagi melalui sikapmu," gertakku dalam hati.


Mungkin Mas Naufal sudah merasa, dan dia kembali menghentikannya. Aku hanya bisa menangis dan menunduk di depannya.


"Apa yang membuatmu seperti ini sama Mas??" tanya Mas Naufal.


"Kamu istrinya Mas, tapi kenapa kamu seperti ini?? Mas mencoba, tapi kamu kembali seperti ini??"


"Apakah memang benar-benar kamu sudah membenci Mas??" tanya Mas Naufal.


"Mas ini nggak ada apa-apa sama Vela Gi, dia yang suka kirim-kirim kue itu sendiri, dan Mas lakuin itu semua sebagai seorang Dokter yang berkorban demi pasiennya," jelas Mas Naufal.


"Sudah??"


"Aku pusing Mas bahas Vela, Clava, Vela, Clava lagi,"


"Sudah, ya," kataku.


Aku mencoba menghindari Mas Naufal, tapi Mas Naufal memelukku dari belakang.


"Jangan ngindar dari Mas Naufal Gi," ucapnya di pundakku.


Aku melepas tangannya yang memelukku.


"Mas, udah ya, udah malem, aku capek," kataku.


Aku terpaksa berbuat seperti itu sama Mas Naufal, aku tidak ingin menghukumnya, ini berjalan begitu saja. Mungkin karena keadaan yang menginginkan kamu untuk Jera Mas.


Aku meninggalkan Mas Naufal kembali ke kamar sendirian, sepertinya Mas Naufal tertinggal disana karena aku sempat menunggunya hingga setengah jam. Tapi Mas Naufal tak kunjung kembali ke kamar.


Tangisan menemani hingga tengah malam.


"Giaa, Abay nggak boleh tau semua ini,"


"Dia harus fokus sekolah, nggak boleh keganggu hanya karena masalahku dan Mas Naufal," kataku dalam hati.


Saat-saat seperti ini, aku sangat rindu Papa Ya Allah.


Pengen ketemu Mamaku, meluk Mama saja rasanya sudah sangat tenang walaupun tanpa ku ceritakan semua masalahku pada beliau.


Mama dan Papaku itu, dua orang yang tidak pantas mendengar kesedihan dari apa yang aku rasakan.


Mereka terlalu baik. Dari dulu aku tak tega membagikan kesedihanku pada mereka.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


Sebelum shubuh aku sudah bangun.


"Uuggghhmmm,"


Aku bangun dan mencari keberadaan Mas Naufal yang tidak ada di kamar.


"Pasti Mas Naufal tidur di ruang kerjanya," gumamku dalam hati.


Aku beranjak bangun dan turun dari ranjang.


Berjalan menuju ruang ganti baju. Mengambil koper dan mengemasi barang-barangku yang akan ku bawa pergi jauuuuuhhhh dari Mas Naufal.


Berat rasanya saat membuka almari dan memasukkan gamis demi gamisku ke dalam koper.


Air mata sudah pasti tak sabar ingin terjatuh di kedua pipiku.


"Huuuuufffffttt, semoga dengan begini, hubungan dan Mas Naufal nantinya akan membaik, dan tidak akan ada lagi masalah-masalah seperti ini," ucapku dalam hati.


Aku mendengar Mas Naufal masuk ke kamar, dia terkejut melihatku yang sedang mengemasi barang-barang ku untuk besok aku pergi darinya.


"Gia,"


"Kamu mau kemana??!! Kenapa kamu beresin barang-barang kamu??" tanya Mas Naufal.


"Aku besok mau ke Mama," jawabku tanpa meliriknya.


"Sebenarnya, kamu mau kemana sih?? Kamu mau ninggalin Mas? Iya??" Sambung Mas Naufal.


"Mas kan sudah bilang, Mas nggak bisa kamu tinggalin, Mas butuh kamu Sayang," ucapnya.


Aku terus mengabaikan kata-kata Mas Naufal, aku harus tetap teguh dengan apa yang akan aku lakukan.


"Gi, kamu mau pergi kemana?? Mas nggak mau kamu pergi," ucap Mas Naufal sambil duduk bersimpuh di sampingku dan membongkar barang-barang yang sudah ku tata rapi di dalam koperku.


"Mas nggak mau Sayang," sambungnya lagi.


"Aku sudah ijin sama Mama Feni, aku mau pergi, jauh dari Mas," jawabku dengan terbata-bata.


"Enggak Sayang, kamu nggak boleh kemana-mana, kamu harus ini sama Mas, sampai kapan pun," kaya Mas Naufal dan memelukku.


"Massss, aku mohon, Mas jangan seperti ini, kalo Mas begini, semakin berat untuk aku pergi jauh dari Mas," gumamku dalam hati sambil menangis.


"Mas, lepasin aku," ucapku.


"Nggak, Mas nggak akan lepasin kamu!" ucap Mas Naufal.


"Mas, lepasin," gertakku lagi.


"Nggak mau Sayang!! Nggak," kata Mas Naufal.


"Jangan pergi kemana-mana ya Sayang, disini sama Mas,"


"Nggak Mas, aku harus pergi, Mas sudah melepaskan aku,"


"Yang kucari bukan siapa yang bisa membahagiakanku Mas, karena setelah apa yang Mas perbuat padaku, aku jadi lebih bisa ngebahagiain diriku sendiri,"


"Aku mohon, Mas jangan ganggu aku, aku ingin pergi jauh menenangkan diriku yang sudah Mas sakiti ini," sambungku.


"Aku akan tetap pergi apapun yang terjadi," ucapku.


Aku mencoba membalikkan tubuhku untuk menghadap Mas Naufal, ini saatnya aku berbicara panjang dengan Mas Naufal. Mengatakan semuanya sebelum aku pergi jauh dan lama darinya.


"Mas, aku sangat memohon sama Mas, jangan ceritain masalah ini ke Abay ya,"


"Bilang sama dia kalo kita baik-baik aja,"


"Maaf, jika aku harus pergi,"


"Secepatnya aku akan tinggalkan semuanya, tapi Mas tenang aja, kita akan tetap menjadi sepasang suami istri,"


"Aku harap, setelah kejadian ini, Mas sadar, dan jika nantinya Mas dan Vela akan tetap berlanjut, silahkan.....aku rela Mas....aku ikhlas, jika harus berbagi," kataku yang membuatku semakin menangis terisak-isak.


"Dengan aku pergi, perlahan aku bisa menghapus rasa cintaku ke Mas,"


"Dan setelah rasa itu hilang, aku tidak tau Mas, apakah aku bisa mencintai Mas lagi?? Huhuhu," kataku.


"Mas ingat kan, siapa laki-laki yang aku percaya setelah Papa, siapa laki-laki yang mampu mematahkan persepsiku tentang bahwa laki-laki semuanya sama, siapa??"


"Dan ternyata..... laki-laki itu sekarang telah membawa luka sembilu, huhuhuhuhu,"

__ADS_1


"Aku harap, kita tidak saling egois, lepaskan aku Mas, aku ingin pergi,"


Bersambung.......


__ADS_2