
Setelah mereka selesai melakukan tugasnya, dan sepertinya hari ini hari tersibuk untuk mereka, karena kuwalahan menangani pasien yang sangat macam-macam sifatnya tidak seperti biasanya.
***(Di parkiran Rumah Sakit)
Gia dan Riana masuk ke dalam mobil, dan langsung menyalakan mesin mobilnya, karena mereka sangat capek hari ini. Mobil Riana melaju sangat kencang.
Beberapa menit tiba di kos Gia.
***(Di kos Gia)
"Makasih ya Na," ucap Gia sambil melepas sabuk pengamannya.
"Iya Gi, aku balik langsung ya Gi, Assalamu'alaikum," salam Riana.
"Wa'alaikumsalam Na, hati-hati," jawab Gia.
Gia masuk ke dalam kamar nya tak lupa melepas jasnya, Gia membersihkan diri lalu sholat dhuhur, setelah sholat Gia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya, Gia memandang langit-langit kamarnya, Gia membayangkan wajah keluarganya di rumah, meskipun libur hanya sebentar, tetapi Gia tidak sabar bertemu dengan mereka. Dan tak sabar menyambut hadiah dari Papa nya.
Gia memeluk boneka minion besar di sampingnya. Dan Gia terlelap dalam tidurnya.
Adzan ashar berkumandang, Gia terbangun, dan menarik handuknya lalu mandi, dan melaksanakan sholat ashar. Gia bersiap-siap menjemput Susi.
WA Gia dan Susi.
"Bentar lagi otw Si" Gia.
"Oke siap Gi, ini aku udah siap" Susi
Setelah Gia selesai semuanya, Gia mengunci kamar kosnya dan bergegas menjemput Susi dengan mobilnya.
***(Di kos Susi)
Mobil Gia terparkir di depan kos Susi yang halamannya sangat luas sekali, Susi menghampiri mobil Gia dan masuk ke dalam mobilnya. Gai menancap gas pergi ke tempat oleh-oleh.
"Kamu enak Gi ada liburnya," ucap Susi.
"Ini aja ada acara Si, kalo nggak ada ya nggak bakal libur," jawab Gia.
"Gimana pasien kamu? Ada yang rewel gak?" tanya Susi.
"Pasti ada lah Si, apa lagi hari ini, aduh ada satu pasien yang rewel banget, sampe-sampe aku, Nana, sama Rama yang memeriksa," kata Gia bercerita sambil menggerak-gerakkan tangannya.
Susi yang mendengar cerita Gia tertawa terbahak-bahak.
"Sabar ya Gi, mungkin itu cobaan," ejek Susi.
***(Di tempat oleh-oleh)
Beberapa menit sampai di tempat oleh-oleh.
Gia dan Susi masuk ke toko oleh-oleh dan memilih milih makanan khas dari kota tersebut.
"Si nanti makan di luar ya?" ucap Gia.
"Dimana Gi?" tanya Susi yang masih memilih-milih cemilan.
"Di nasi goreng depan toko buku Si," jawab Gia.
"Oke siap, kemanapun akan ku antar kamu Gi," ejek Susi.
"Preketek kamu Si," ucap Gia.
Selesai memilih Gia dan Susi menuju kasir dan membayarnya.
Gia dan Susi masuk ke dalam mobil dan menuju ke tempat penjual nasi goreng yang dimaksud Gia.
***(Di tempat penjual nasi goreng)
Gia memesan nasi goreng mawut kesukaannya, sedangkan Susi memesan nasi goreng kremes.
Tidak menunggu lama, nasi goreng telah di sajikan di depan mejanya.
"Kayaknya enak nih Gi," ucap Susi yang mengendus-endus bau nasi goreng itu.
"Pastinya dong," jawab Gia.
Mereka melahap habis makanannya, lalu membayarnya,
Adzan magrib berkumandang, Gia dan Susi beranjak pergi dari tempatnya dan bergegas untuk pulang.
Gia mengantarkan Susi di depan kosnya, tanpa mampir Gia langsung manancap gas untuk pulang ke kosnya.
***(Di kos Gia)
__ADS_1
Gia membuka pintu kamarnya, lalu meletakkan tasnya dan melepas kerudungnya yang digantungkan di hanger dalam almarinya. Dan mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat magrib dan mengaji.
Setelah selesai melakukan rutinitasnya, Gia mengambil koper kecilnya yang akan Gia isi dengan sebagian gamisnya di kos.
Gia menata rapi baju gamis, perlengkapan mandi, dan lainnya di dalam koper warna pink punya Gia.
Beberapa menit tak terasa Gia selesai menata baju-bajunya.
Gia bergegas mengambil air wudhu dan sholat isya.
Setelah sholat isya' Gia memutuskan langsung tidur karena besok badan Gia harus fit karena harus menyetir sendiri untuk pulang ke rumahnya.
Keesokan harinya, Gia sangat senang sekali karena hari yang di tunggu-tunggu telah tiba, Gia bergegas untuk mandi. Setelah mandi Gia memakai gamis berwarna peach kesukaan Papanya, setelah selesai berpakaian dan berkerudung, Gia membawa kopernya dan mengunci kamarnya, Gia memasukkan kopernya di bagasi mobilnya. Tak lupa Gia pamit dengan pemilik kos yang rumahnya berdekatan dengan kos Gia.
Gia berjalan menuju rumah pemilik kos, sampai disana Gia melihat Ibu kos dan anaknya yang sedang membersihkan kebunnya.
"Assalamu'alaikum Bu," salam Gia.
"Wa'allaikumsalam," jawab Bu kos dengan membalikkan badannya menghadap Gia.
"Mbak Gia, mau kemana ini?" tanya Bu kos Gia.
"Gia ijin mau pulang Bu, lumayan libur 3 hari," ucap Gia.
"Oiya Mbak Gia, hati-hati ya, jalannya rame," jawab Bu kos.
"Naik mobil sendiri apa dijemput Mbak Gia?" tanya Bu kos.
"Naik mobil sendiri Bu," jawab Gia.
"Ya udah Gia pamit ya Bu, Assalamu'alaikum," kata Gia dengan menyalami tangan Bu kos dan mencium tangannya.
"Wa'allaikumsalam," jawab Bu kos Gia sambil tersenyum.
Gia berjalan menuju mobilnya, dan menancap gas mobilnya, mobil Gia melaju sangat kencang, karena jarak kota ini ke kota rumah Gia bisa memakan waktu 4 jam.
Di perjalanan Gia berhenti beberapa kali untuk membeli makan. Ponsel Gia berdering ternyata pesan dari Mama nya agar tidak teburu-buru dan hari-hati mengendarai mobilnya.
Hampir 5 jam Gia di perjalanan, karena terjebak macet.
***(Di rumah Gia)
Sesampainya di rumah Gia, Gia membuka gerbang rumahnya dan memarkirkan mobilnya di garasi yang cukup luas itu. Dengan senang dan terburu-buru Gia membuka bagasi mobilnya dan mengambil kopernya lalu masuk ke dalam rumahnya.
"Wa'allaikumsalam," jawab Mama Gia yang beranjak dari dapur tidak tau kedatangan Gia.
"Ma, Kakak udah sampai rumah," sahut Johan yang memeluk Gia.
Papa Gia keluar dari halaman belakang dan menyambut hangat Gia dengan pelukan. Begitu juga dengan Mama Gia yang senang karena anaknya pulang dengan selamat, Gia menciumi kedua tangan Papa dan Mamanya.
Papa dan Mama Gia tak henti-hentinya menciumi kening dan pipi Gia.
"Gia sudah makan?" tanya Papa Gia.
"Belum Pa," jawab Gia dengan mengelus-elus perutnya memberi aba-aba pada Papanya.
"Gia mandi dulu aja nanti makan siang sama-sama," sahut Mama Gia.
"Iya Ma, Bi Sarah mana Ma?" ucap Gia menanyakan ART Mamanya.
"Di dapur, sana kasih kejutan Bi Sarah," ucap Mama Gia dengan membawakan kopernya.
"Papa mandi dulu ya Gi, habis di halaman belakang jadi gerah," ucap Papa Gia.
"Iya Pa," jawab Gia.
Gia berjalan ke dapur dan mencoba mengagetkan Bi Sarah yang sudah bekerja lama dengan Mamanya sejak Gia masih dalam perut Mamanya.
***(Di dapur)
"Whaaaa," gertak Gia pada Bi Sarah.
"Ya Allah Gusti, Mbak Gia kapan datang?" tanya Bi Sarah yang langsung memeluk Gia.
"Gia baru saja datang Bi, Bibi gak kangen sama Gia?" tanya Gia.
"Bibi kangen banget, kangen, Ya Allah Bibi gak nyangka Mbak Gia bisa seperti ini sekarang," ucap Bi Sarah sambil matanya berkaca-kaca.
"Gia pulang, Bibi gak boleh sedih ya," kata Gia sambil mengelus-elus pundak Gia.
"Ya udah Bi, Gia ke kamar dulu mau mandi, nanti kita makan siang sama-sama," ucap Gia.
Gia berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
***(Kamar Gia)
Gia membuka kamarnya dan menyalakan AC kamarnya, aroma khas buah apel kesukaan Gia, sprei satu set gambar minion, boneka minion besar Gia yang selalu ada di atas kasurnya, sandal tidur minion di bawah ranjang, melihat susunan foto yang Gia pajang di mejanya.
"Semua masih tetap sama tidak ada sedikitpun yang berubah," ucap Gia dalam hati.
Sesekali Gia memeluk boneka minionnya, di rapatkan pelukan Gia pada boneka itu, Gia merasa bersyukur karena masih bisa berkumpul dengan keluarga sederhana Gia ini.
Gia beranjak ke kamar mandi, setelah mandi Gia sholat dhuhur. Dan Johan memanggilnya.
Ceklek...
"Kak," panggil Johan sambil membuka pintu dan melihat Gia baru selesai sholat.
"Kak, disuruh ke ruang makan sama Papa," ucap Johan yang hanya kepalanya saja di masukkan dalam kamar Gia.
"Iya habis ini kesana,"jawab Gia.
Gia melipat mukenahnya dan menggantungnya di almari kembali, Gia memakai kerudungnya lalu bergegas menuju ruang makan.
***(Ruang makan)
"Wah masak ayam kecap ya Ma?" tanya Gia.
"Iyalah Gi, kemarin Mama kamu kan udah janji," sahut Papa. Gia yang duduk manis di depan Gia.
"Bi Sarah mana Ma? Kok gak ikut makan?" tanya Gia.
"Bi Sarah masih ambil sambal balado tadi ke dapur, itu orangnya," jawab Mama Gia yang melihat Bi Sarah membawa cobek berisi sambal balado.
"Sini Bi duduk sebelah Gia," kata Gia sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.
"Gia udah kangen sama Bibi," ucap Mama Gia dengan senyumnya.
"Bibi akan menuruti semua yang diminta Mbak Gia Buk," ucap Bibi pada Mama Gia.
"Mari makan semua, jangan lupa berdoa ya," ejek Mama Gia.
"Iih Mama, Gia kan udah sebesar ini," rengek Gia.
Mereka makan siang bersama. Gia menyantap habis semua ayam kecapnya. Setelah makan Gia masuk ke kamar adiknya.
***(Kamar Johan)
Gia menyalakan PS punya Johan, dan kebetulan Johan menghampiri Kakaknya yang menyilangkan kakinya di depan PS. Mereka beradu di depan PS.
"Berani gak kamu?" tanya Gia pada Johan.
"Kakak kayak pernah menang aja, ayo berani," jawab Johan yang duduk di sebelah Gia.
Setelah satu jam mereka bermain PS bersama. Mama Gia memanggilnya.
"Gia, dipanggil Papa di belakang," panggil Mama Gia yang berdiri di tengah pintu.
"Iya Ma," Gia langsung beranjak dari tempatnya dan meletakkan stik PS nya.
Gia menghampiri Papanya.
***(Di halaman belakang rumah)
Gia melihat Papanya yang tengah duduk-duduk di halaman belakang rumah. Gia duduk di samping Papanya. Dan Mama Gia duduk di samping Gia.
"Pasti Papa mau kasih hadiah Gia ya?" tanya Gia.
"Gi, Papa mau ngomong serius sama Gia," ucap Papa Gia yang membuat Gia takut dan melongo.
"Ee..mm Papa ngomong aja," ucap Gia yang heran dengan Papanya.
"Nanti malam, keluarga dari teman Papa akan datang kesini untuk melamar mu Nak," ucap Papa Gia.
Deegggg Gia sangat syok.
Gia berusaha rileks dan tenang. Agar Papanya tidak khawatir padanya. Sesekali Gia menatap ke arah Mamanya.
Bersambung...
Nantikan episode selanjutnya kakak.
jangan lupa like, komen, vote dan gabung ke grup ya😁
kritik dan saran bisa disampaikan di grup🙏
Terima kasih🖤
__ADS_1