Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 72 (The Problem is Finished)


__ADS_3

"Hoy, Lo kenapa senyam senyum sendiri dari tadi," kata Bastian.


"Iiiih kepo, kalo punya istri ya gini ini, bawaannya bahagia mulu," ucap Naufal.


"Tau tau, mentang-mentang punya istri dasar Lo," ujar Bastian.


"Eh gimana Fal? Gak ada kabar sama sekali dari Mamanya Vela?" tanya Bastian.


"Belum, kenapa?" tanya Naufal ganti.


"Ya kali aja ada, biar masalahnya cepet selesai, Gue kasihan sama Lo, harus ngebagi waktu antara Gia dan Vela," kata Bastian.


"Gue pengennya juga cepet selesai Bas, ya tapi gimana? Lo tau sendiri Mamanya kemaren bilang apa," ucap Naufal.


"Lo kalo nemenin Vela, Gia marah gak?" tanya Bastian yang khawatir dengan sahabatnya.


"Gia itu boleh-boleh aja, malahan dia kasihan sama Vela," jawab Naufal.


"Rejeki Lo banget dapetin Gia, kenapa nggak Gue aja ya," ucap Bastian ingin membuat sahabatnya cemburu.


"Eh Bas, udah jodohnya aku sama dia," tepis Naufal.


"Kenapa Gue dulu gak deketin dia aja ya," ucap Bastian lagi.


"Percuma, Papanya ngejodohinnya sama Gue, udah sana, pagi-pagi udah ngikutin Gue aja Lo," ejek Naufal.


Bastian ikut masuk ke dalam ruangan Naufal.


Tiba-tiba ponsel Naufal berbunyi dari saku celananya.


Dengan segera Naufal mengangkat telepon tersebut. Dan ternyata telepon tersebut dari Tante Firly.


"Assalamu'alaikum," salam Naufal.


"Wa'alaikumsalam, Fal tante nanti sore sudah sampai indonesia, nanti tolong jemput tante ya di depan rumah sakit," kata Tante Firly.


"Bukannya besok ya Tante sampe nya," kata Naufal.


"Tante sengaja datang lebih cepat ternyata Tante di izinkan oleh pihak sana nya Fal, jadi Tante bisa segera bertemu denganmu dan Vela," kata Tante Firly.


"Nanti Tante telepon Naufal lagi, kalo Tante udah sampai di sini ya," ucap Naufal.


"Iya Fal, maaf Tante ganggu waktu kamu, bye Assalamu'alaikum," kata Tante Firly.


"Wa'alaikumsalam," jawab Naufal lalu menutup langsung telepon dari Tante Firly.


"Siapa tadi Fal?" tanya Bastian.


"Mamanya Vela," jawab Naufal singkat.


"Kenapa? Tiba-tiba murung gitu, bukannya Lo malah seneng," ucap Bastian.


"Seneng sih seneng, tapi aduh males banget jelasin sama mereka," keluh Naufal.


"Jelasin apanya?" tanya Bastian.


"Ya jelasin kalo Gue udah nikah sama Gia, Mamanya Vela kan belum tau," jawab Naufal.


"Ya jelasin aja apa susahnya, terserah mereka mau bilangnya apa," gertak Bastian.


"Udah ah dipikir nanti aja," kata Naufal.


"Mau kemana Lo?" tanya Bastian.


"Kerja lah," jawab Naufal yang keluar dari ruangannya.


Sedangkan aku yang sedari tadi sangat sibuk melayani satu per satu pasienku.


.


.


.


.


.


.


Hari sudah semakin siang, adzan dhuhur berkumandang, aku segera bergegas pergi ke mushola.


***(di Mushola)


Aku segera mengambil air wudhu, lalu melaksanakan sholat dhuhur.


Setelah sholat, di depan halaman mushola aku sedang berjalan menuju ruanganku, Naufal menghampiriku dari belakang.


"Gi," panggil Naufal.


Aku menoleh ke sumber suara.


"Ada apa?" tanyaku.


"Nanti sore mamanya Vela kesini," jawab Naufal.


Deeggg..


"Ya...ya bagus dong," kataku.


"Pokoknya nanti kamu harus nemenin aku," kata Naufal.


"Aku bakalan jelasin sama mereka," kata Naufal lagi.


"Kamu yakin Mas?" tanyaku agak ragu.


"Yakinlah Gi, biar cepet selesai masalahnya," ujar Naufal.


"Ya udah kalo gitu nanti kamu nyusulin aku ke ruangan ku ya," ucapku.


"Iya Sayang," jawab Naufal.


"Husst, inget ini rumah sakit, Sayang sayang," kataku sambil melangkah pergi meninggalkan Naufal.


"Hehehem dasar Gia pemalu," kata Naufal menertawakanku.


Aku dan Naufal lanjut untuk bekerja kembali.

__ADS_1


Berjam-jam telah kita lewati, hari juga semakin sore.


.


.


.


.


Naufal sudah menyusulku di depan ruangan rupanya.


Ku buka pintu ruanganku, disana tampak Naufal berdiri sambil memainkan ponselnya.


"Kok kamu nggak masuk," kataku.


"Enggak Sayang, gak papa," kata Naufal.


Aku mendekat di tempatnya berdiri, ku cubit pinggang Naufal.


"Kok gitu lagi sih, kan tadi udah aku bilang, ini di rumah sakit, nanti kalo ada yang denger gimana sih kamu," kataku kesal.


"Ya maaf Gi, spontan ini tuh, mana aku tau," kata Naufal yang langsung fokus menatap ponselnya kembali.


"Kamu fokus banget sih," ucapku.


"Ini Mamanya Vela WA aku, ternyata beliau udah di depan ruangan Vela, aku suruh masuk katanya nggak mau, nunggu kita dulu aja katanya Gi," ucap Naufal.


"Ya udah ayo kita segera kesana, kasihan beliau nunggu lama nanti Mas," ajakku.


"Bener kamu, ya udah, " kata Naufal.


Kami berjalan menuju lantai 4 tempat ruangan Vela.


Setelah kami keluar dari lift, tampak disana seorang wanita yang berpakaian rapi sedang menunggu di depan ruang VIP Vela.


"Mas, itu ya orangnya?" tebakku.


"Mana?" tanya Naufal.


"Itu, yang pakai vest(rompi) warna abu," kataku sambil menunjuk ke arahnya.


"Iya kamu bener, kok kamu tau," kata Naufal.


"Kan berdirinya disitu kayak orang kebingungan lagi nyariin seseorang," kataku.


Kami langsung menghampiri tempat Tante Firly berdiri.


"Tante," sapa Naufal.


"Naufaalll, Ya ampun lama nggak ketemu," kata Tante Firly.


Aku dan Naufal segera bersalaman pada beliau, Tante Firly memandangku bingung.


"Apa kabar Fal?" tanya Tante Firly.


"Baik Fal, kamu sendiri gimana?" tanya Tante Firly balik.


"Alhamdulillah, sehat Tante, oh iya ini istri saya Tante, namanya Gia," kata Naufal memperkenalkanku pada Mamanya Vela.


Pandangan Mama Vela sepertinya kaget dan tidak menyangka.


"Oooh iya iya, kerja dimana istrimu?" tanya Tante Firly sinis.


"Disini sama saya Tante, dia juga dokter," jawab Naufal.


"Oh iya Tante, mari segera masuk," ucap Naufal.


Naufal membuka pintu kamar Vela.


Gleeekkk.


"Assalamu'alaikum," ucap Naufal.


Vela kaget dengan kehadiran Mamanya. Dia melotot ke arah Mamanya, seperti tidak senang jika Mamanya ada disini bersamanya.


"Vela Sayang, maafin Mama ya, telat dateng kesini," kata Tante Firly langsung memeluk Vela.


Tapi Vela tidak membalas pelukannya.


"Kok aneh, Vela kayak gak suka banget sama Mamanya," gerutuku dalam hati.


"Gak papa Ma," jawab Vela singkat dan melepas pelan pelukan tangan Mamanya.


Tante Firly duduk di samping Vela, sedangkan aku dan Naufal duduk di sofa.


"Jadi gini Tante, aku mau jelasin semuanya, mau selesain semua masalahnya," Kata Naufal.


"Maaf sebelumnya buat Tante sama kamu Vel, bukannya aku mau ngecewain Tante ataupun kamu, enggak. Gak sama sekali, cuman aku mau jelasin, maaf juga sebelumnya buat Tante Firly, memang benar saya dulu pernah berjanji bakalan jagain Vela, tetapi sekarang posisi saya sudah berbeda Te, status saya sudah berbeda dengan Vela, saya sudah mempunyai istri," ucap penjelasan Naufal.


" Lalu bagaimana dengan janjimu Fal?!!" tanya Tante Firly sinis.


Aku hanya diam dan mendengarkan semua penjelasan Naufal pada Tante Firly.


"Eeehmmm begini Tante, saya dan Gia istri saya sudah sepakat bahwa saya akan tetap menjaga Vela jika Vela disini, tetapi tidak bisa seperti dulu lagi, karena semua sudah berubah Tante," kata Naufal.


"Udah Fal gak papa, aku ngerti, Mama nggak usah nagih janji ke Naufal lagi," kata Vela yang juga sinis.


"Kamu ini gimana sih Fal? Sedikit pun kamu gak mikirin perasaan Vela!!!" ucap Tante Firly.


"Bukan begitu Tante, memang dulu Naufal dekat dengan Vela, tapi untuk sekarang tidak bisa Tante, bukannya saya tidak memikirkan Vela, tapi memang sekarang hati saya hanya untuk istri saya, saya mencintai istri saya, tidak ada siapapun lagi kecuali dia," ucap tegas Naufal.


"Apakah jika saya memikirkan perasaan Vela, Vela juga akan memikirkan perasaan saya yang sekarang telah bersama wanita lain? Saya sangat menghargai Tante, tapi saya mohon Tante mengerti posisi saya sekarang ini," ucap Naufal lagi.


Aku bingung berada di antara permasalahan mereka.


"Ya sudah!! Jika kamu ingin Mama tidak menagih janji pada Naufal lagi, kamu pulang sama Mama, nggak usah dateng kesini cuman nemuin pria ini," kata Tante Firly yang sepertinya marah.


Vela menundukkan kepalanya lalu menangis.


Aku merasa kasihan dengan Vela, tapi disini aku tidak berhak untuk bicara apapun.


"Sebaiknya begini saja Tante, jika memang keinginan Vela tetap disini, saya dan Gia siap jagain dia, tapi Vela juga harus inget, bahwa kita sudah berbeda nggak seperti dulu lagi, karena saya sudah dimiliki oleh Gia," kata Naufal.


"Tidak!!!! Tante akan tetap bawa Vela pulang," kata Tante Firly.


Mendengar kata itu, Vela semakin menangis.

__ADS_1


"Pasti Vela tidak terima jika harus jauh dari Naufal," gumamku dalam hati.


"Setelah kamu di izinkan untuk pulang, Mama akan bawa kamu pulang langsung ke Singapura Vel," kata Tante Firly dengan tegas.


"Tapi Ma.." kata Vela terpotong oleh Tante Firly.


"Tapi apanya lagi Vel??! Buat apa kamu disini jika kamu sudah tidak dibutuhkan lagi, siapa yang memperdulikan kamu disini??!! Nggak ada, kamu tau itu Nak," ucap Tante Firly.


"Mama disana juga kepikiran sama kamu, disana Mama sendiri tanpa kamu," kata Tante Firly sambil meneteskan air matanya.


"Vel, sebaiknya kamu ikutin kata Mama kamu," tutur Naufal.


Vela tidak menjawab apa kata Naufal, dan sedikitpun Vela tidak menoleh pada Naufal.


"Kamu pulang sama Mama ya, kan Nenek disini udah ada yang ngerawat," rayu Tante Firly.


"Maaf ya Tante, memang beginilah keadaannya, takdir siapa yang tau," ucap Naufal.


"Kasihan Vela, andai aku berada di posisinya sekarang ini? Rasanya mungkin aku sudah tidak ingin lagi berada disini," ucapku dalam hati.


"Tante, maaf ya Naufal harus segera pulang, nanti kalo Tante butuh bantuan atau apapun itu selama disini, kapanpun Tante boleh hubungi Naufal," ucap Naufal.


"Iya," jawab Tante Firly singkat sambil mengucap air matanya.


Naufal dan aku keluar dari kamar Vela.


"Mas, Mamanya Vela kayaknya marah banget sama kamu," kataku.


"Ya habis gimana lagi Gi, emang gini keadaannya," kata Naufal.


"Kalo Tante Firly benci sama kamu gimana? Semua ini gara-gara aku ya Mas," ucapku lagi.


"Gia, udah berapa kali aku bilang sama kamu. Ini bukan salah kamu, emang takdirnya udah begini ini, biarpun Tante Firly ngebenci aku ya udah, yang penting kita tetep baik sama mereka, kan emang kita nggak mengada-ada Gi, aku sudah berkeluarga, dan aku tidak bisa memungkiri itu," ucap Naufal.


"Udah ya gak usah kamu ngerasa bersalah, lebih baik kita sekarang pulang, masalah ini sudah selesai, aku udah jelasin sama Mamanya Vela," tutur Naufal padaku.


Aku hanya menganggukkan kepalaku sambil mengikuti Naufal berjalan menuju lift.


"Kasihan Naufal, harus menyelesaikan masalah rumitnya ini," gerutuku dalam hati.


Setelah lift terbuka dan membawa kami ke lantai 1, kami langsung berjalan menuju parkiran dan langsung segera pulang.


Di dalam mobil, Naufal terlihat tidak sumringah seperti biasanya.


Aku mengelus lengannya.


"Sabar ya," ucapku pelan.


"Iya Sayang, aku bingung sama Vela, kenapa nggak lupain aku aja sih," kata Naufal.


Aku jadi teringat dulu waktu aku sama Pak Kevin.


"Mas, ngelupain seseorang yang kita cintai itu sangat sulit bahkan sakit, ya memang kita tau, pasti ada perpisahan setelah pertemuan, cepat atau lambat, duka ini akan terjadi pada siapapun, termasuk kamu, termasuk juga Vela," tuturku.


"Dan mereka, harus saling merelakan, melepaskan, bahkan mengikhlaskan, jika aku berada di posisi Vela ataupun kamu, berat sekali buat aku nglakuin hal itu, apalagi Vela? Seorang wanita," kataku.


"Tapi aku bisa bisa aja kok Gi," kata Naufal.


"Itu kamu, bukan dia, tapi aku yakin, kamu pasti juga merasakan apa yang dirasakan oleh Vela meskipun itu tidak seberat Vela, dulu ataupun sekarang," kataku.


"Ya kan?" tebak ku.


"Aku tau, itu wajar, semua orang pasti pernah merasakan hal itu," ucapku.


"Termasuk kamu?" tanya Naufal.


"Aku? Berpisah sama siapa?" tanyaku dengan tersenyum.


"Kata kamu semua orang pasti pernah merasakan hal itu," kata Naufal.


"Memang, kamu benar, aku juga pernah merasakannya," jawabku.


"Bersama pria yang kamu cintai?" tanya Naufal.


"Iya, bahkan sangat aku cintai," jawabku.


"Pasti Si Kevin lagi," gerutu dalam hati Naufal.


"Eehmmm dulu?" tanya Naufal lagi dengan ragu.


"Iya, beberapa hari kemaren," jawabku sambil melihat jalan ke arah depan.


"Saat dia pria yang aku cintai tengah membagi waktunya bersama wanita lain, disitulah aku berusaha merelakannya dan melepaskannya, tapi aku belum sempat mengikhlaskan nya," kataku sambil meneteskan air mata.


"Siapa?" tanya Naufal yang pura-pura tidak tau.


"Dia itu kamu," kataku sambil menoleh ke arahnya.


"Jadi aku tau persis apa yang sedang dirasakan Vela sekarang, apakah dulu kamu juga pernah merasakan hal yang sama seperti Vela?" tanyaku.


Naufal agak lama menjawabnya.


"Pernah sih," jawab Naufal.


"Sama Vela?" tanyaku lagi.


"Ii....iya Gi, tapi dulu banget," jawab Naufal lagi.


"Berarti kamu juga tau persis dong gimana rasa sakitnya," ucapku.


"Giaaa, udah ya jangan dibahas," tutur Naufal.


"Hehemmm, kenapa? Kamu takut keinget lagi rasa sakitnya?" tanyaku lagi dan lagi.


"Bukan begitu Gi, cuman aku males aja, gak penting juga," bantah Naufal.


"Kenapa? Saking sakitnya ya kamu gak mau nginget lagi," ucapku sambil mengernyitkan kedua alisku.


"Sayang, aku hanya ingin hal itu tidak terjadi lagi padaku, udah ya," kata Naufal.


Beberapa menit kemudian akhirnya kami sampai di rumah.


****(di Rumah)


Saat mobil kami akan di masukkan ke garasi, aku melihat seorang yang tengah duduk di halaman depan rumah sambil wajahnya tertunduk.


"Siapa itu?" ucapku dalam hati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2