
Naufal kaget melihatku yang bertingkah manja padanya dan memanggilnya "Sayang".
"Sa.....Sayang kata kamu?" tanyanya.
Aku menangis di dada bidangnya.
"Aku mau cerita banyak sama kamu, huhuhuhu," kataku.
"Sini sini kita masuk dulu," tuturnya.
Naufal membawaku duduk di atas ranjang.
"Tidurkan Abay dulu Sayang," tuturnya.
Ku bawa Abay di ranjangnya sendiri, lalu aku bercerita pada Naufal.
"Kamu kenapa lagi?" tanyanya sambil mengangkat daguku.
"Aku ketemu Pak Kevin Mas," jawabku sambil menangis.
"Kamu diapain sampe nangis kayak gini?" tanyanya.
"Jadi gini Mas, tadi aku pulang kan, terus ada mobil yang ngikutin aku, dan itu mobil Pak Kevin, Pak Kevin berhenti di depan mobil kamu, terus otomatis aku rem mendadak apalagi posisi nya itu hujan kan Mas, Pak Kevin bicara banyak sama aku, huhuhu," jawabku dan langsung memeluknya.
"Pasti Kevin bilang kalo dia cinta sama kamu lagi kan?" tanyanya lagi.
"Iya Mas, huhuhu, beliau bilang gitu sama aku, tapi aku terus menolaknya, Sampai beliau sempet meminta untuk memelukku, tapi aku nggak mau, aku cintanya sama kamu, aku nggak mungkin nglakuin itu, terus kan Mas Pak Kevin janji gak bakal gangguin aku, gak bakal muncul lagi di hadapanku, huhuhu," kataku.
"Terus sekarang apa yang membuat kamu nangis kayak gini Sayang?" tanyanya dengan halus.
"Aku bingung Mas, akus sangat bingung, aku takut menyakiti hatinya Pak Kevin, tapi yang ku katakan padanya memang faktanya seperti itu," ucapku.
"Aku juga takut jika aku cerita sama kamu, kamu salah paham sama aku, terus kita bertengkar lagi," kataku.
"Ya enggaklah Sayang, aku gak bakalan marah sama kamu, kan kamu udah cerita sama aku, udah jujur sama aku," tuturnya.
"Gini Sayang, kamu nggak salah, apa yang kamu bilang ke Kevin itu semua jujur kan, jadi kenapa kamu merasa bersalah, jika memang sebuah kejujuran itu sangat menyakitkan, ya sudah, memang begitu adanya, dari pada kamu bohong, udah malah sakit terus nambah dosa lagi, ya kan," tuturnya.
"Iya sih Mas, tapi malamnya aku sempat mimpi tentang Pak Kevin Mas, aku terus di hantui sama Pak Kevin," ucapku.
"Udah udah gak papa, aku nggak cemburu kok," ucapnya.
Naufal melepas pelukan dariku, dan menatapku.
"Kasihan kamu Sayang, tidak ingin menyakiti orang lain, tetapi orang lain tidak pernah memikirkan apa yang akan membuatmu bahagia, mereka egois," gumam Naufal dalam hati.
"Kamu kenapa malah lihatin aku kayak gitu? Jelek ya aku kalo ngrengek-ngrengek nangis gini ke kamu?" tanyaku sambil mengucek mata kananku.
Naufal malah membalasku dengan senyuman nya.
"Kenapa????" tanyaku.
"Hehehemm, tadi kamu kesambet apa?" tanya Naufal balik.
"Kesambet apa gimana maksud kamu?" tanyaku balik.
"Ya tadi," jawab Naufal.
"Tadi apa? Yang mana?" tanyaku yang semakin penasaran.
"Yang.......kamu manggil aku Sayang tadi," jawabnya.
Degggggg....krik..krik...krik.
"Aku?? Manggil kamu Sayang?" tanyaku.
"Iya, tadi waktu kamu ngrengek-ngrengek meluk aku," jawab Naufal.
"Owwhh, enn....enggak, aku nggak manggil gitu kok," bantahku karena malu.
"Aaahh kamu gitu, selalu kamu nggak mau ngaku," ucapnya.
"Apaan sih enggak," kataku membela diri.
"Udah ah aku ngantuk," kataku.
Naufal langsung menarik tanganku.
Wajahnya semakin mendekat dengan wajahku.
"Mau lari kemana kamu? Selalu cari alasan kamu Sayang," ucapnya.
"Enn....enggak, aku nggak alasan, kan emang udah malem, waktunya bobo," ucapku.
Naufal langsung menarik tubuhku sampai aku terjatuh terbujur membeku di ranjangku.
Dia mendekat, dan semakin mendekat.
"Kalo manggil sayang lebih nyaman, kenapa nggak diterusin," bisiknya di telingaku.
Deg....deg...deg...deg.
"Malam ini milikku," bisiknya lagi.
Hati semakin berdebar-debar mendengar bisikan Naufal.
Saat hidung Naufal bernafas hangat di pipiku. Tiba-tiba ponsel Naufal bergetar di atas meja.
"Mmm....Mas, angkat dulu barangkali penting," kataku terbata-bata.
"Aaassshhh, siapa malem-malem nelfon sih, ganggu aja," ucap Naufal yang sangat kesal.
Naufal langsung mengambil poselnya dan mematikan ponselnya.
"Tadi...sii....siapa Mas?" tanyaku.
"Gak penting Sayang," jawabnya.
Naufal melanjutkan untuk mengambil hak miliknya kembali.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
10 tahun kemudian.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pernikahan kami terus di warnai oleh kebahagiaan, apalagi Abay yang sudah semakin tumbuh menjadi pria SD yang duduk di bangku kelas 4.
Abay tumbuh menjadi anak yang baik, karena Papanya selalu menemaninya, dia lebih dekat dengan Papanya di banding aku.
Sifatnya seperti Abay, dia lebih ekstrovert, tidak sepertiku yang pendiam dan pamalu, tidak heran lagi jika Abay selalu menjadi bintang kelas di sekolah, Papanya sangat bannga padanya, Aku dan Naufal selalu siap mengantar dan menjemputnya kemanapun, entah les, sekolah, dan lainnya.
Kali ini aku dan Naufal pulang bekerja namun semenjak Abay SD, kami tidak langsung pulang, melainkan menjemput Abay. Untungnya sekolah Abay pulangnya sama dengan pekerjaan kami, pulang sekolah Abay sore, karena sekaligus dia mengaji di sekolahnya. Sekolah Abay bisa dibilang seperti pondok, karena setengah hari waktu dia dihabiskan disana, dan juga di sekolah Abay, ilmu agama di utamakan disana.
Aku menunggunya di dalam mobil bersama Naufal.
"Mana Sayang kok belum kelihatan Abay?" tanya Naufal.
"Bentar lagi Mas," jawabku.
Tak lama kemudian Abay keluar dari gerbang sekolahnya.
Tampak dia sedang mencari seseorang.
"Nyari siapa dia Sayang?" tanya Naufal.
"Aku mungkin Mas, bentar aku keluar dulu," jawabku.
Ku buka pintu mobil, aku turun dan keluar dari mobil.
Ku lambaikan tanganku pada Abay.
"Abay...," panggilku.
"Mama," panggilnya.
Abay berlari untuk memelukku.
"Uuugghhh anak Mama," kataku.
"Ma, hari ini Abay dapat nilai tertinggi ujian semester nya kata Pak Ustad," ucap Abay.
"Alhamdulillah, bilang sama Papa kamu, pasti Papa kamu senang," tuturku.
Abay segera masuk dalam mobil begitu juga aku.
"Pa, Abay tadi kata Pak Ustad dapat nilai tertinggi Pa," ucapnya.
"Waaah, Abay minta hadiah apa?" tanyanya.
"Abay minta....kalo hari libur nanti, Abay....pengen keluar sama Mama sama Papa seharian," ucapnya.
"Tapi.....pasti Mama sama Papa nggak bisa ya, jadi Abay ahnya minta hadiah agar Papa selalu sayang sama Mama," ucapnya sambil mencium pipiku dari belakang kursi.
"Heheheh," Naufal tersenyum sambil mengelus rambut Abay.
"Sifatmu ini persis seperti Mama kamu Bay, tidak ingin meminta sesuatu melainkan rasa," kata Naufal daalm hati.
"Tumben Abay pengen cepet-cepet pulang," kataku.
"Iya Ma, soalnya tadi Abay minta di buatkan spaghetti sama Bibi, ayo Pa pulangg," rengeknya.
"Ya Allah Abay, Mama kan bisa buatin buat Abay, kenapa nggak minta Mama?" tanyaku.
"Abay nggak mau Mama kecapek an, Mama kan kerja, pasti pulang kerja Mama capek," jawabnya.
Naufal langsung menancap gas mobilnya untuk pulang.
.
.
.
.
.
.
Pak Joko membukakan gerbang untuk kami. Mobil Naufal melaju masuk ke halaman Rumah.
***(Di Rumah)
Saat mobil berhenti, Abay langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap salam Abay yang terdengar dari luar rumah.
"Ya Allah Mas, Abay aktif banget hari ini," kataku sambil berjalan beriringan dengan Naufal untuk masuk ke Rumah.
"Ya kan kayak Papanya, kalo Mamanya kan pendiem, hehehe," ejek Naufal.
"Bisa bisanya hehehe," kataku.
"Lah, emang iya kan Sayang?" ucap Naufal sambil menaikkan satu alisnya.
"Heheh iya juga sih Mas," kataku.
"Assalamu'alaikum," salamku dan Naufal.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah dan Abay.
Aku melihat mereka tengah berada di Ruang Makan. Aku mneghampiri mereka yang sedang bercanda berdua.
"Abay, ganti baju dulu," tuturku.
"Abay ke atas dulu ya Bi," ucapnya.
Abay berjalan di belakang Papanya yangs sedang menaiki anak tangga.
"Bi Maaf ya kalo Abay sering minta buatin ini itu sama Bibi," kataku.
"Nggak papa Mbak nggak papa, Bibi malah senang Mbak bisa dekat dan akrab sama Dek Abay," kata Bi Sarah.
"Ini juga baru pertama kalinya Dek Abay minta di buatkan spaghetti sama Bibi," kata Bi Sarah.
Tak lama kemudian, Abay datang kembali ke Ruang Makan.
"Mama nggak mau?" tanyanya.
"Udah makan aja, Mama udah kenyang," jawabku.
"Dek Abay mau minum apa? Biar Bibi buatkan," tanya Bi Sarah.
"Nanti Abay ambils sendiri aja Bi," jawab Abay.
Aku menemani Abay menikmati spaghetti buatan Bi Sarah.
"Habis ini kamu mandi loh, Guru les kamu bentar lagi dateng," tuturku.
"Iya Ma," jawabnya.
"Mama mandi dulu ya ke atas," kataku.
Aku berjalan menaiki anak tangga untuk ke kamar.
***(Di Kamar)
Aku melihat Naufal baru saja keluar dari kamar mandi.
"Tumben cepet banget mandinya," ejekku.
"Masak iya Sayang?? Perasaan udah seperempat jam deh aku di kamar mandi," kataku.
"Baru juga lima menit," ejekku.
"Masak sih?'" tanya Naufal yang masih tidak percaya dan berjalan melihat jam kecil yang ada di atas meja.
"Enggak kok Sayang, ini lima belas menit," ucapnya.
__ADS_1
"Hihihihi, parno banget," ejekku lagi.
"Takut dikira mandi bebek ya," ejekku sambil menertawakannya.
"Huuumm dasar kamu Sayang, awas aja ya," ancam Naufal sambil berjalan menghampiriku.
Aku mencoba berlari darinya dan langsung masuk ke kamar mandi.
"Weeekkk gak bisa," ejekku dalam kamar mandi.
"Awas ya Sayang nanti," ancam Naufal.
"Aaaah takut," candaku sambil menertawkannya.
"Dasar Gia, hihihi nggak tau aja kalo suaminya ini bahaya," ucap Naufal sambil menggosok handuk di kepalanya.
Beberapa menit kemudian, aku selesai mandi, ku keluarkan hanya kepalaku saja yang sedang mengintip keberadaan Naufal.
"Huufft syukurlah dia nggak ada," kataku.
Aku berjalan mengendap-endap keluar dari kamar mandi, dan ternyata Naufal memelukku dari belakang.
Buuukkkkkk.
"Aaarrgghh," kataku yang menyerah pada Naufal.
"Awas ya kamu Sayang," bisiknya di telingaku.
"Mas, aku udah wudhu loh ini tadi," ucapku.
"Biarin, aku juga udah, terus batal gara-gara meluk kamu," kata Naufal lirih di telinga kananku.
"Udah ah lepasin, nanti ada Abay loh," kataku.
"Nggak akan, Abay kan lagi makan di bawah, jangan kamu coba-coba mengelabuhi suami mu lagi Sayang, hehehe," ucap Naufal.
Naufal membalikkan badanku dan melingkarkan tangannya di pinggangku.
Tangan kanannya menarik tengkukku, wajahnya semakin mendekat padaku. Semakin dekat dan sangat dekat.
Tok....tok...tok
"Ma...," panggil Abay.
Naufal langsung menoleh pada pintu kamar dan melepaskanku.
"Aaghhhemmm," Naufal salah tingkah berdiri di depanku.
"Kamu buka dulu pintunya Sa..yang," ucapnya dengan gugup.
Gleeekkk...
Abay masuk dan langsung masuk ke kamar mandi.
"Abay tumben mandi disini?" tanyaku.
"Abay nggak mandi disini Ma, Abay mau ambil shampoo Abay disini," jawabnya.
Abay keluar dari kamar mandi, dan berjalan keluar dari kamarku.
Suasana menjadi canggung, Naufal juga salah tingkah padaku.
"Eemm...mmm ak....aku wudhu dulu ya," kataku terbata-bata.
"Iya, Sayang," jawabnya.
.
.
.
.
Setelah aku dan Naufal sholat, Abay masuk ke kamar.
Naufal langsung bergelut dengan tugasnya sedangkan Abay masih mengaji dengan ustad yang setiap hari mengajarinya.
.
.
.
.
Malam harinya, setelah Abay selesai belajar. Dia datang menemui Papanya di Kamar.
"Pa, katanya main ps sama Abay," tagihnya.
"Oh iya Papa lupa, bentaran aja ya, soalnya kamu besok nggak," kata Naufal.
Naufal menuruti permintaan anaknya.
***(Di Kamar Abay)
Aku datang membawakan makanan untuk mereka.
"Hayooo udah 2 jam loh, habis ini tidur," tuturku.
"Mama kamu udah ngomel-ngomel," bisik Naufal.
Abay mematikan PS lalu memakan roti maryam yang ku buatkan untuk mereka.
"Jam berapa sih Ma?" tanya Abay.
"Ini udah jam 9, waktunya kamu tidur," jawabku.
"Abi ini Abay sholat terus tidur Ma," ucapnya.
"Tadi siapa yang menang game nya?" tanyaku.
"Aku lah Sayang," jawab Naufal.
"Papa curang Ma, Papa kan emang udah lahir duluan, jadi jago mainnya, soalnya udah main PS duluan," kata Abay yang membuatku gemas.
Naufal menertawakan Abay.
"Hehem, ya nggak gitu Abay, kamu seharusnya harus lebih jago dari Papa kamu ini," kataku.
"Papa mah selalu menang, apalagi menangis hati Mama kamu," ceplos Naufal tanpa sadar.
"Upppss," kata Naufal sambil melirikku.
Aku menyenggol lengan Naufal dan memberi isyarat padanya.
"Maksud Papa gimana Pa?" tanya Abay.
"Maksud Papa, Papa harus menang dalam segala hal positif," jawab Naufal.
"Huufftt, Mas Naufal....," gerutuku dalam hati.
"Ya udah Mama sama Papa ke kamar ya Abay, kamu sholat gih," tuturku.
"Ayok Mas," ajakku pada Naufal.
Aku dan Naufal berjalan keluar dari kamar Abay.
***(Di Kamar)
"Mas.......Kamu jangan ngomong gitu di depan Abay," kataku.
"Tadi spontan Sayang, tadi tiba-tiba los kontrol aja, beneran," ucapnya.
"Awas loh kalo kamu gitu lagi," ancamku.
"Heheh, jahat banget sih Sayang, kan tadi nggak sengaja," rayu nya.
"Abay juga gak tau maksud aku kan," ucapnya membela diri.
Langsung ku gigit lengan Naufal.
"Aawww," keluhnya.
"Salahnya sendiri di bilangin malah kayak gitu kamu," ucapku sambil mengernyitkan kedua alisku.
"Hehehemmm......Iya iya Sayang maaf," rengeknya sambil memelukku.
"Abay masuk tau rasa kamu manja-manja gini ke aku," ucapku.
Naufal langsung melepas pelukannya.
"Mana Sayang??!" tanyanya panik sambil melihat sekeliling kamar.
"Tapi bohong, weeekkkk," kataku langsung berlari ke dalam kamar mandi.
"Aaasshhh,"
Naufal mengikutiku dari belakang.
"Kok kamu ikut aku?" tanyaku.
"Kan aku juga mau wudhu Sayang," jawabnya.
"Kan bisa gantian Mas," tepisku.
"Biasanya juga bareng-bareng kok Sayang," bantahnya.
"Ya udah kamu wudhu dulu aja," tuturku.
"Nggak mau, harus berdua," ucapnya.
"Aaarrghhh, selalu gitu," kataku.
Bersambung.....
__ADS_1