Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 88 (Vela & Naufal)


__ADS_3

"Padahal Dokter Irene nanyanya baik-baik loh Mas," kataku dengan polos.


"Sayang, kalo udah ke pegang sama Irene pasti kesebar," kata Naufal.


"Pantesan kemaren banyak yang nanya-nanya ke aku," ucapku.


"Tuh udah, kuat-kuatin ngejawabnya Sayang," kata Naufal sambil menjepit ujung hidungnya.


Di tengah lorong, Naufal tidak belok ke ruangannya, tetapi malah ikut denganku.


"Kok nggak belok?" tanyaku sambil menunjuk lorong yang akan menuju ruangan Naufal.


"Mau nganterin kamu, sampe di depan ruangan kamu," jawabnya sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya.


"Ooww," kataku.


Naufal mengikuti berjalan dari arah belakang.


Di depan ruanganku, Naufal memandangku sampai aku masuk ke dalamnya.


"Mas, cepet balik sana," kataku.


"Kamu masuk dulu aja, aku mau memastikan kalo kamu gak kenapa-napa," ucap gombalan Naufal.


"Aaarrghhh, garing Mas," kataku langsung menutup pintu ruanganku.


Seperti biasa, aku segera memeriksa pasien-pasien ku begitu juga dengan Naufal yang sebenarnya lebih sibuk dariku.


Saat aku melewati bagian Administrasi, Seseorang memanggilku.


"Dok," panggilnya.


Aku menoleh padanya dan ku hampiri dia.


"Ya," kataku.


"Emmmmmm kata Dokter Gia kemaren nggak pacaran sama Dokter Naufal tapi malah udah jadi istrinya Dokter Naufal," ucap wanita dibagian administrasi itu.


"Ya.......Memang saya sama Dokter Naufal nggak pacaran," kataku.


"Langsung nikah Dok?" tanyanya.


"He'em," kataku sambil menganggukkan kepalaku.


"Tapi kok gak ada rumor atau informasi kalau Dokter Naufal sudah menikah, kapan diadakan resepsinya juga nggak ada yang tau," katanya.


Pak Bastian sepertinya melihatku sedang ngobrol dengan bagian administrasi itu, dia penasaran dengan obrolan kami, Pak Bastian berjalan menghampiri kami.


"Ngomongin apa sih?? Kayaknya serius banget," tanya Pak Bastian.


"Dokter Bastian tau, kalo Dokter Gia istrinya Dokter Naufal?" ceplos wanita itu..


"Ya.....Tau lah," jawab Pak Bastian sambil melihatku.


"Lagian ngapain sih kepo banget, mereka udah nikah lama, Oh iya tadi kamu di cariin Naufal suruh ke ruangannya," kata Pak Bastian.


"Eeemmm.....ii...iya," kataku sambil melangkah menjauh dari mereka.


"Udah jangan kepo lagi," ucap Pak Bastian yang agak terdengar di telingaku.


Aku segera berjalan menuju ruangan Naufal.


Tok....Tok...Tok.


"Masuk," suara Naufal dari dalam.


Aku membuka pintunya dan disana Naufal fokus menatap ponselnya.


"Eh Sayang, tumben banget kesini," kata Naufal.


"Ada apa?" tanyanya.


"Loh, bukannya kamu nyariin aku," kataku yang berdiri di depan mejanya.


"Kata siapa? Enggak, aku nggak nyariin kamu Sayang," jawab Naufal.


"Tadi Pak Bastian bilangnya gitu Mas," kataku.


Gleekkk.....


Pak Bastian menyusul masuk ke ruangan Naufal.


"Loh, beneran kesini kamu Gi," ucapnya.


"Kan tadi Pak Bastian bilang sendiri, katanya saya di cari Mas Naufal dan di suruh untuk ke ruangannya," ucapku.


"Bas, Lo bilang apa sih sama istri Gue, Gue bingung," sahut Naufal.


"Tadi Gia di bagian admin Bas, di tanyai soal nikahan Lo sama dia, ya udah Gue risih kan, kayak gak tau mereka aja, Gue kasih posisi aman dong buat Gia, ya udah Gue bilang kalo Lo nyariin dia aja," kata Bastian.


Naufal berdiri, merangkul dan menepuk lengan Naufal.


"Best Lo Bas, best best," kata Naufal sambil menepuk lengannya.


"Maksudnya mereka apa sih?" gumamku dalam hati.


"Enggak Sayang, tadi itu kamu di amanin sama Bastian, soalnya nanti kalo kamu kelamaan disana, pasti mereka ngorek-ngorek informasi dari kamu, terus di sebarin," ucap Naufal.


"Ooow gitu," kataku benar-benar malu karena Pak Bastian hanya berpura-pura.


"Ya udah, aku kembali aja, hehem," pamitku langsung keluar dari ruangan Naufal.


"Sayang.....Sayang," Naufal memanggilku tapi menghiraukannya karena aku benar-benar tengsin.


"Lo nyuruhnya ke Gia Bas, ya pasti dia lakuin lah, orang dia polos banget, ya iya iya aja, dasar Lo, heheemm, malu tuh pasti dia," kata Naufal.


"Gue kan gak tau Fal, kalo istri Lo lucu kayak gitu," ucap Pak Bastian.


"Yeeeee, ngaco Lo," ucap Naufal sambil kembali duduk.


.


.


.


.


.


.


.


Hari sore, hampir setengah hariku ku habiskan di Rumah Sakit untuk mengabdi pada pasienku.


"Uuugghhmm," ucapku sambil menarik setiap sudut kaki dan tanganku.


Naufal membuka pintu dan masuk ke ruanganku.


"Ayo pulang Sayang," ajak Naufal.


"Bentar," kataku sambil membersihkan dan membereskan meja.


Naufal berdiri memperhatikan ku.


Setelah selesai aku membereskan, Naufal kembali mengajakku pulang.


Kami berjalan menuju parkiran.


***(di Parkiran)


Kami masuk dalam mobil, dan Naufal menyalakan mesin mobilnya lalu menancap gasnya.


Di perjalanan Naufal terus tersenyum-senyum sendiri.


Aku hanya meliriknya saja.


"Naufal kenapa senyum-senyum sendiri?" tanyaku dalam hati.

__ADS_1


"Mas, kamu nggak papa???" tanyaku.


"Aku keinget kamu tadi Sayang, bisa-bisanya kamu ke ruanganku beneran," ucap Naufal.


"Ya iya lah Mas, lagi pula kata Pak Bastian kamu loh yang manggil, jadi aku mikirnya pasti beneran," kataku.


"Ahhahahahaha, aduh-aduh, lucu banget sih kamu Sayang, jangan polos-polos gitu dong," ejek Naufal.


"Maassss......Udah dong jangan di ketawain, aku lebih malu lagi,' ucapku sedikit malu.


"Hehehehe, iya iya, emang Bastian tadi nggak ngasih kode sama kamu," tanyanya.


"Ngasih kayaknya, tapi aku nya yang kurang ngeh," jawabku.


"Hahahahah, Sayang.....Sayang," kata Naufal sambil masih tertawa.


"Mas udah, jangan ketawa terus," rengekku.


"Hehehe iya Sayang, abis lucu banget," kata Naufal.


Mobil melaju agak kencang.


***(di Rumah)


Tak terasa akhirnya kami sampai di Rumah.


Pak Joko membukakan gerbang untuk kami, mobil Naufal berhenti di depan pos jaga Pak Joko.


Naufal membuka kaca jendela mobilnya, dan Pak Joko berdiri di samping mobilnya.


"Sore Pak," sapa Pak Joko.


"Sore, Pak Joko sudah cari satpam lagi?" tanya Naufal.


"Sudah Pak, besok mereka kesini," jawabnya.


"Oh ya udah, makasih ya Pak," kata Naufal.


"Iya Pak, sama-sama," jawab Pak Joko.


Naufal memarkirkan mobilnya di depan halaman Rumah.


Segera kami turun dari mobil dan masuk ke Rumah.


"Assalamu'alaikum," salamku dan Naufal saat membuka pintu Rumah.


"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Rusdi sambil menggendong dua pot bunga.


"Eh Mas Naufal, sudah pulang Mas?" tanyanya.


"Sudah Pak, ini potnya mau dibawa kemana?" tanya Naufal sambil melepas jas dokternya.


"Ke belakang Pak, ini mau menanam bunga mawar," jawabnya.


"Oh saya kea atas dulu ya Pak," pamit Naufal.


"Monggo Mas monggo," ucapnya.


Aku dan Naufal berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.


***(di Kamar)


Gleeekkkk


Naufal membuka pintu kamar, aku melepaskan jas dokternya yang melekat pada tubuhnya, segera Naufal menyalakan AC karena sepertinya dia sangat gerah.


"Mas, aku mandi dulu ya, kan kamu masih gerah, nanti juga aku mau jemput Vela juga," kataku sambil melepas kerudungku.


"Iya Sayang, kamu yakin jemput dia sendiri?" tanyanya.


"Iya Mas, udah gak papa kok," jawabku.


Aku bergegas mandi,


.


.


"Aku gak nyangka, nasibnya Vela seperti itu, kasihan juga, tapi aku hanya bisa membantu apa?? Aku tidak bisa jika mencintainya lagi," gumam dalam hati Naufal.


Setelah beberapa menit, aku selesai mandi.


"Mas," panggilku.


"Iya Sayang," jawab Naufal yang berdiri di balkon.


"Mandi gih," perintahku.


Naufal berjalan masuk ke dalam kamar.


"Kamu ngapain ke balkon?" tanyaku sambil menggosok-gosok rambutku.


"Kasihan Vela," jawabnya.


"Gak nyangka aja gitu Gi hidupnyad dia sesengsara itu, sumpah aku gak pernah tau kalo dia sebenarnya kayak gitu," ucapnya.


"Dia......Dia sedikitpun nggak pernah cerita gitu sama kamu?" tanyaku.


"Enggak Sayang, makanya aku kaget banget waktu kamu cerita gitu ke aku," jawabnya.


"Huuuumm gimana lagi Mas? Kita bisa bantu dia apa," tanyaku.


"Ya itu Gi dari tadi yang aku fikirin, udah ah aku mandi dulu Sayang, biar fresh, hehehe," kata Naufal lalu berjalan masuk ke kamar mandi.


Aku menyiapkan sajadah dan sarung untuk kami melaksanakan sholat.


Beberapa menit Naufal selesai mandi, kami langsung melaksanakan sholat ashar.


Setelah melaksanakan sholat berdua, aku bersiap-siap untuk menjemput Vela.


"Mas, aku pake mobilku sendiri aja ya," kataku sambil memakai kerudung di depan kaca.


"Pakai mobilku aja Sayang, kamu nanti belum ngeluarin dari garasi juga," ucap Naufal yang duduk di sofa.


"Ya udah, kamu nggak nitip apa-apa?? Barangkali kamu pengen makan apa gitu, biar nanti aku beliin di luar," tawaranku.


"Eemmm.....nggak usah Sayang, lagi nggak pengen apa-apa," jawabnya.


Selesai memakai kerudung, aku mengambil kunci mobil Naufal di meja samping sofa.


"Aku jemput Vela dulu ya Mas, Assalamu'alaikum," pamitku.


"Iya Sayang hati-hati, Wa'alaikumsalam," jawabnya.


"Awas loh kalo ngebut," teriaknya.


Aku turun ke lantai bawah dan berjalan ke halaman depan.


Segera aku masuk ke mobil Naufal dan melajukan mobilnya untuk menjemput Vela.


"Kok aku deg deg an gini ya," kataku dalam mobil.


"Bismillah, semoga Mas Naufal memberikan keputusan yang terbaik untuk kami," gumamku dalam hati.


Hampir setengah jam perjalanan, akhirnya aku sampai di depan gerbang Rumah Vela.


Ku lepas seatbelt lalu ku turun dari mobil.


Rumahnya terlihat sepi, gerbangnya terbuka dan sudah berkarat, halaman rumahnya yang penuh daun-daun berjatuhan.


Aku berjalan masuk ke lingkup rumahnya.


"Assalamu'alaikum," salamku.


Tidak ada jawaban sama sekali.


"Assalamu'alaikum," salamku lagi.


Vela keluar, dan berjalan menemuiku, dia benar-benar berubah, sekarang dia memakai kerudung dan gamis panjang.

__ADS_1


"Gia," ucapnya.


Aku tersenyum padanya.


"Sini Gi masuk," kata Vela dengan senyumnya.


Aku di persilahkan duduk di Ruang Tamunya.


"Ada apa Gi???" tanyanya.


"Aku mau menjemputmu Vel untuk ketemu sama Mas Naufal," kataku.


"Apa????!!! Kamu serius Gi???" tanyanya dengan sangat kegirangan dan senang.


"Iya Vel, aku serius," ucapku.


Mata Vela berkaca-kaca.


"Akhirnya aku bertemu dengan Naufal kembali," ucapnya sambil meneteskan air matanya.


"Eeemmm......Sekarang kamu siap-siap ya," kataku.


"Aku tunggu disini," ucapku.


"Gi, aku pengen kamu yang milihin gamis buat aku untuk ketemu sama Naufal, kan kamu pasti tau gamis kesukaan Naufal," ajaknya.


"Eeee.....eeeemmmmm," aku belum sempat menjawabnya tetapi dia langsung menarik tanganku ke dalam kamarnya.


***(di Kamar Vela)


Dia mengambil beberapa gamisnya yang ada di almari.


"Bagus yang mana Gi?" tanyanya.


Aku memilih gamis yang terbaik untuknya.


"Kayaknya ini deh Vel," kataku memilihkan gamis warna coklat susu untuknya.


"Okey, kamu bantuin dandanin aku ya Gi," ucap Vela.


"Tapi....Tapi aku nggak ahli dandan Vel," tolakku.


"Pliiiissss Gi, untuk terakhir kalinya ya, apapun nanti keputusan Naufal, akan aku terima, aku mohon, untuk yang terakhir kalinya, ya," rayunya yang memohon-mohon padaku.


"Benar kata Vela, aku ingin memberikan yang terbaik untuknya dan untuk pertama dan terakhir kalinya," gumamku dalam hati.


"Gimana Gi???" tanyanya.


"Ya udah, iya," jawabku.


Vela mengganti gamisnya, lalu duduk di depan kaca besarnya.


Aku memoles wajah Vela mulai dari mata, hidung, bulu mata, alis, bibir semua sisi wajahnya.


"Baru pertama kali ini aku sanggup memberikan yang terbaik untuk wanita yang sangat mencintai suamiku," gumamku dalam hati sambil menggoreskan blush on di pipi Vela.


Setelah selesai aku memoles wajah Vela, aku membantu memakai kerudung di kepalanya.


Vela berdiri di depan kacanya, dia sangat senang melihat dirinya sendiri, berkali-kali dia berkaca dan memutar tubuhnya.


"Makasih Gi," ucap Vela sambil memelukku.


Aku membalas pelukannya dan mengelus pundaknya.


Vela melepas pelukan kami.


"Anak kamu, nggak kamu ajak???" tanyaku.


"Aku terpaksa tidak mengajaknya Gi, karena jika aku mengajaknya pasti dia akan menanyakan dimana Papanya," jawab Vela.


"Ooowww gitu, terus anak kamu sama siapa?" tanyaku lagi.


"Aku titipin ke tetangga depan aja Gi, kebetulan dia main ke sana," ucapnya.


"Eemmm ya udah, kamu udah siap?" tanyaku.


"Udah, aku udah siap ketemu Naufal," ucapnya.


"Ooww, ya udah ayo Vel," ajakku.


"Bentar aku mau pamitan sama Nenek," ucapnya.


"Oh iya, sekalian aku juga ikut Vel," kataku.


Neneknya duduk di kursi roda di halaman belakang, aku dan Vela menyalami dan berpamitan untuk pergi.


Setelah berpamitan dengan Nenek Vela, aku dan Vela berjalan ke depan rumah.


Saat akan masuk ke dalam mobil, Vela menitipkan anaknya terlebih dahulu pada tetangganya depan rumah, aku menunggunya di dalam mobil.


Tak lama kemudian Vela masuk ke dalam mobil.


"Udah Vel?" tanyaku.


"Udah Gi," jawabnya sambil mengenakan seatbelt.


"Dia nggak nanya kamu mau kemana?" tanyaku yang khawatir dengan anaknya Vela.


"Sempat nanya, tapi aku bisa mengatasinya Gi," jawabnya.


"Ooww, oke," kataku lalu menyalakan mesin mobil dan menancap gasnya menuju ke rumah.


Di perjalan, wajah Vela sumringah sekali, dia senyam senyum sendiri sambil membuang muka ke jendela mobil, sebenarnya aku tau.


"Gi, makasih ya," ucapnya.


"Makasih untuk apa?" tanyaku.


"Kamu udah baik sama aku, bahkan kamu membantuku untuk bertemu dengan Naufal, mungkin jika aku di posisinya, aku sama sekali tidak sudi Gi, apalagi aku ini sudah jahat sama kamu," ucapnya sambil melamun.


"Ehmmm, aku hanya manusia biasa Vel, pernah ngrasain sakit juga, dan nggak selalu bahagia ataupun benar, jadi aku tau persis gimana rasanya, aku tidak ingin merasakan hal yang menyakitkan jadi aku sama sekali tidak ingin menyakiti orang lain atau membuatnya tersakiti," kataku.


"Hatiku beda Gi, sudah kotor," kata Vela.


"Kesempatan selalu ada Vel, kamu bisa memperbaiki semuanya," tuturku.


Tak lama kemudian akhirnya kami sampai di Rumah Naufal.


***(di Rumah)


Aku melihat Vela yang tangannya gemetar.


"Kenapa Vel?" tanyaku.


"Tiba-tiba aku gemetar Gi, gak tau kenapa," jawabnya.


Aku meraih tangannya.


"Huuummm udah gak papa, aku kan nemenin kamu, Bismillah, ya," tuturku sambil tersenyum padanya.


"Tapi Gi....," cegahnya.


"Udah gak papa, ayo turun," ajakku.


Akhirnya aku berhasil merayu Vela.


Aku menggandengnya masuk ke rumah.


Ku buka pintu rumah.


"Assalamu'alaikum," salamku.


"Wa'alaikumsalam," jawab Naufal yang duduk di ruang tamu.


Vela dan Naufal saling menatap.


Aku hanya bengong melihat mereka.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2