Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 133 (Rahasia Abay)


__ADS_3

Tampak Noni dan Mamanya turun dari mobil.


Mereka berjalan masuk ke rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap mereka.


"Wa'alaikumsalam," jawab kami.


"Budhe," panggil Noni.


"Eh Budhe kebetulan disini," kata Mama Noni.


Mereka bersalaman dengan kami.


"Tumben kesininya bareng-bareng ya," kata Mama Feni.


"Hehehem, iya Budhe," sahut Noni.


"Ini loh Budhe, Noni kesini mau ketemu Abay katanya," kata Mama Noni.


"Oh iya, hehem, tapi tadi katanya Abaynya masih belajar di atas," jawab Mama Feni.


"Itu ada Uncle, kan sama aja kembaran Abay," canda Mama Feni.


"Tapi Uncle nggak kayak dulu Budhe," ceplos Noni.


"Uncle itu sekarang jarang banget sama Noni, huumm nggak tau kenapa Budhe," ceplos Noni yang membuat Mamanya malu.


Naufal kaget mendengar perkataan Noni tersebut, Naufal menahan kesal padanya.


"Mama juga gitu Budhe, Noni pengen punya Papa, temen-temen Noni kemana-mana di antar sama Papanya, giliran Noni di antars sopir Budhe, kalo dulu enak sering keluar sama Uncle, tapi sekarang Noni kesepian Budhe, Mama kerja kerja kerja dan kerja, huhuhuhu," ucap Noni mencurahkan semua isi hatinya pada Mama Feni.


Mama Noni malu mendengar itu semua, berkali-kali dia menyenggol kaki Noni tapi Noni terus melontarkan unek-uneknya.


"Noni sedih Budhe, huhuhu," ucapnya.


Mama Noni ingin memberi penjelasan pada Noni, tapi Mama Feni mencegahnya.


"Iya, nanti Budhe coba bicara sama Mama kamu ya," bujuk Mama Feni.


"Sekarang temui Abay dulu di atas," tutur Mama Feni.


"Bi....Bi Sarah, minta tolong antarkan Noni ke atas, dia mau ketemu Abay Bi," ucap Mama Feni pada Bi Sarah.


Bi Sarah segera mengantarkan Noni ke atas.


"Budhe maafkan tingkah tak sopan Noni ya," kata Mama Noni.


"Tidak apa-apa, aku tau seusia Noni itu ego ego nya seorangr remaja, ya kan?? Aku juga memakluminya," kata Mama Feni.


"Saya mau bagaimana lagi Budhe, saya tulang punggung keluarga, jadi saya harus menghidupi Noni, semua yang saya lakukan demi Noni, apapun saya bisa menuruti kemauan Noni, tapi untuk menikah, saya belum bisa Budhe," ucap Mama Noni.


"Iya Ma, dia aku kenalin lagi nggak mau," sahut Naufal.


"Gimana ya Fal??? Namanya sudah mencintai sampai mati, Mama juga nggak bisa salahin sana atau sini, tapi cobalah kamu buka sedikit saja hati kamu untuk Papa baru buat Noni," rayu Mama Feni.


"Bukannya saya tidak mau Budhe, tapi hati saya selalu menolaknya, saya terkadang stress dengan sikap Noni sekarang ini, semakin besar malah semakin menjadi-jadi, saya bingung, padahal saya sudah mencoba kasih dia pengertian beberapa kali, tapi dia tetap ngotot," ucap Mama Noni.


"Lakukan semua demi Noni saja, jangan dengan maksud lain," tutur Mama Feni.


"Tidak bisa Budhe, saya tidak bisa memaksanya," bantah Mama Noni.


"Huuuum, ya sudah nanti aku coba bilang sama Noni ya," kata Mama Feni.


Tak lama kemudian, Guru les Abay berpamitan untuk pulang. Mama Feni berjalan menapaki anak tangga untuk menemui Noni.


***(Di Kamar Abay)


"Abayyyyyy Eyang dateng," kata Mama Feni.


"Eyanggg," panggil Abay langsung berlari memeluknya.


"Sudah selesai semua PR nya?" tanya Mama Feni pada Abay yang sedang membereskan buku-bukunya.


"Sudah Eyang," jawabnya.


"Tadi Kak Noni kesini kan?" tanya Mama Feni lagi.


"Iya Eyang, tapi Abay tinggalin ke kamar, terus Abay bilang, nggak boleh gangguin Abay di kamar," kata Abay.


"Kenapa Abay bilang gitu sama Kak Noni??" tanya Mama Feni lagi.


"Abay nggak suka sama Kak Noni, Kak Noni jahat Eyang," jawab Abay dengan polosnya.


"Jahat gimana Nak?" rayu Mama Feni.


"Eeemmmm......Abay nggak mau bilang sama Eyang," jawab Abay sambil menghindar dari Mama Feni.


"Loh....kenapa Abay gitu hayo?? Abay kan cucu Eyang, jadi Eyang harus tau rahasia Abay, ya," rayu Mama Feni.


"Janji ya Eyang nanti nggak akan bilang ke siapa-siapa," ucap Abay sambil mengangkat jari kelingkingnya.


"Sepertinya Abay mulai percaya padaku, apa sebenarnya yang akan di katakan Abay padaku," gumam dalam hati Mama Feni.


"Eeeemm...iya deh Eyang janji," kata Mama Feni memenuhi janji Abay dengan mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Abay.


"Abay sedih, setiap kali bertemu dengan Kak Noni, Kak Noni selalu nyalahin Abay, Kak Noni bilang sama Abay, kalo Abay salah, Mama Abay juga salah, dan Kak Noni bilang kalo Papa Abay juga Papa Kak Noni, Abay nggak suka Eyang, Abay nggak pengen Mama denger ini, nanti kalo Mama denger Kak Noni bilang gitu sama Abay, pasti Mama nanti sedih," jawab Abay.


Mama Feni kaget dengan sikap licik Noni yang masih baru menginjak usia remaja.


"Apa??!!! Kak Noni bilang begitu sama Abay??" tanya Mama Feni lagi yangs sempat tidak mempercayai Abay.


"Iya Eyang, Kak Noni jahat sama Abay sama Mama Abay, jadi Abay nggak suka Kak Noni ada disini, tapi kata Mama, Kak Noni kasihan nggak punya Papa, jadi tidak boleh bertengkar sama Kak Noni," ucap Abay.


"Masya'Allah Abay, begitu baik kamu Nak, Eyang bangga punya cucu sepertimu," gumam dalam hati Mama Feni.


"Eyang janji ya nggak bilang ke siapapun," kata Abay lagi.


"Iya Abay, Eyang janji," jawab Mama Feni sambil tersenyum pada Abay.

__ADS_1


Sedangkan aku, yang sedari tadi sudah mendengar obrolan Abay dan Mama Feni, menahan tangis di balik pintu.


"Meskipun Kak Noni jahat sama Abay, Abay nggak boleh jahat sama Kak Noni, ya," tutur Mama Feni.


"Iya Eyang, Mama juga bilang begitu sama Abay," jawabnya.


"Abay sama Mama Abay nggak salah, nggak ada yang salah, jadi Abay nggak usahs sedih ya, Papa Naufal tetap milik Abay," ucap Mama Feni sambil menyentil hidung mancung milik Abay yang mirip seperti Papanya.


"Iya Eyang," jawab Abay.


Sebelum Mama Feni kembali dan membuka pintu kamar Abay, aku segera turun dengan menahan tangis dan sesak di hatiku.


Mama Feni berjalan menghampiri Noni yang duduk di Ruang Tamu atas.


"Noni, kenapa disini sendirian, katanya cari Abay," ucap Mama Feni.


"Udah tadi Budhe," jawab Noni.


"Kenapa nggak ke bawah lagi ketemu sama Mama," ajak Mama Feni.


"Noni disini aja Budhe, Noni capek tiap hari berantem sama Mama," kata Noni.


"Loh kok gitu??? Kamu nggak boleh kayak gitu sama Mama kamu," tutur Mama Feni.


"Noni pengen Papa Budhe, huhuhuhu," kata Noni sambil kembali menangis.


"Noni, Noni nggak boleh egois, Mama kamu sangat mencintainya Papa kamu, maka nya Mama kamu belum siap untuk menikah lagi," tutur Mama Feni.


"Tapi kans seenggaknya ada yang nyenengin Noni Budhe, kan kalo dulu enak ada Uncle Naufal, huhuhuhu, sekarang Uncle Naufal jarang sekali menemui Noni," keluh Noni.


"Huuummmm, karena Uncle Naufal sudah punya keluarga, Uncle juga sudah punya Abay, jadi Noni nggak boleh berfikir kalo nggak asa yang nyenengin Noni, Mama kamu bekerja untuk kamu, untuk masa depan kamu, kamu nggak kasihan lihat Mama kamu berangkat pagi pulang malem, eh di rumah berantem sama kamu, kasihan kan, Mama kamu pasti pengen istirahat terus seneng-seneng sama anaknya," tutur Mama Feni terus menerus.


"Mama egois Budhe," bantah Noni.


"Mama nggak egois Noni, Mama cuman memberikana apa yang terbaik untuk kamu," ucapnya.


"Tapi Noni nggak ingin itu Budhe, Noni pengen Mama diam nemenin Noni di rumah, dan Papa yang kerja, tapi Papa Noni udah meninggal, tiap hari Noni kesepian Budhe, huhuhuhu," ucapnya.


"Kami lihat Abay, Abay juga jarang di temani Mama sama Papa nya, malah hanya pagi dan malam saja, Papa dan Mamanya sibuk bekerja, sama saja Noni, jadi Noni jangan iri ya," tutur Mama Feni lagi.


Noni terus menangis.


Akhirnya Noni di tuntun ke bawah bersama Mama Feni.


"Ma, makan dulu," ajakku.


Aku sangat merasa bersalah saat melihat Noni karena telah memberi jarak antara dia dan Naufal, tapi bagaimana lagi???


"Oh iya," jawab Mama Feni.


"Noni juga makan ya," rayuku.


Dia hanya menganggukkan kepalanya saja padaku.


***(Di Ruang Makan)


"Abay mau apa??" tawar Naufal pada Abay.


"Sate aja Pa," jawab Abay.


Noni terus melihat ke arah Abay dengan wajah kesal.


Aku terlebih dahulu mengambilkans sate untuk Abay.


"Biar aku aja yang ambilin Mas," kataku.


Aku tidak ingin, Noni semakin tidak menyukai Abay.


"Noni mau??" tawaranku.


"Ya Aunty," jawabnya.


"Mama juga mau Gi," sahut Mama Feni sambil tersenyum manis padaku.


"Hehehe, oh iya Mama kan suka sate," kataku sambil memberikan empat tusuk sate pada Mama Feni.


"Kamu mau Mas??" tawarku pada Naufal.


"Dua aja Sayang," jawabnya.


Kami langsung menyantap jamuan makan malam yang sebenarnya ku buatkan untuk Mama Feni.


"Huuuum enak banget ini Gi satenya sama acarnya," puji Mama Noni.


"Eehmm iya itus satenya beli, tapi acarnya buat sendiri," jawabku.


"Oh ya?? Kamu yang buat??" tanyanya padaku.


"Iya Mbak," jawabku.


"Mbak Gia pandai memasak Mbak," sahut Bi Sarah.


"Waaah pantesan Naufal lengket banget sama kamu, ya Fal ya," canda Mama Noni.


"Apaan sih?? Ya jelas lah, hahaha, ya kan Ma," kata Naufal.


"Iya Nak," jawab Mama Feni yang ikut tertawa.


Bi Sarah mengambilkan semangkok es buah besar untuk kami.


"Waaaah ini seger pasti Ma," kata Abay.


Ku ambilkan es itu untuk Abay dan juga Naufal, Noni terus melihat setiap gerak yang ku lakukan untuk Abay dan Naufal.


"Noni mau???" tawaranku lagi.


Lagi-lagi Noni hanya menganggukkan kepalanya saja.


Ku ambilkan satu gelas untuknya.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


Setelah selesai makan, sepertinya Mama Feni mengajak Naufal untuk berbicara empat mata di halaman belakang.


"Fal, Mama tau kamu sekarang jarang bersama Noni, Mama ngerti Nak, kamu sudah berkeluarga, jadi kamu tidak ingin menomor duakan keluargamu hanya karena Noni, Mama dulu sempat berfikir, bagaimana jika nanti kamu sudah berkeluarga sedangkan kamu, huuum harus memegang tanggung jawab lebih," kata Mama Feni.


"Apa Naufal salah Ma melakukan semua ini??" tanya Naufal.


"Enggak Nak, Kamu nggak salah, memang ini pilihan yang tepat untukmu, bukannya Mama tidak suka jika kamu dekat dengan keluarga Noni, mending nanti kalo Noni ada apa-apa dan Mamanya nggak bisa, biar dia sama Mama saja, jangan sama kamu, Mama tidak ingin rumah tangga kamu terganggu, apalagi jika menantu dan cucu Mama ngerasa nggak nyaman lagi, yaaahh sesekali kamu boleh sama Noni," tutur Mama Feni.


Naufal menatap kuat kedua mata Mamanya lalu memeluk Mamanya.


"Makasih ya Ma, Mama pengertian sekali," kataku Naufal.


"Mama benar-benar mnegerti apa yang diinginkan Gia," gumam dalam hati Naufal.


Tak lama kemudian, mereka bergabung kembali dengan kami.


Noni terus merayu Abay untuk diajak main bersamanya, aku jadis sedikit khawatir, untung saja Abay tidak pernah mau jika di ajaknya.


.


.


.


.


.


.


Sudah lama kami menikmati kumpul malam ini, akhirnyas satu per satu dari mereka berpamitan untuk pulang.


***(Di Halaman Depan)


"Eyang pulang ya Abay," kata Mama Feni dalam mobil.


"Iya Eyang, hati-hati ya Eyang," kata Abay.


"Assalamu'alaikum," salam Mama Feni.


"Wa'alaikumsalam," jawab kami.


Mobil Mama Feni melaju keluar gerbang dari rumah kami.


Aku, Naufal, dan Abay berjalan masuk untuk menuju kaamr masing-masing.


***(Di Kamar)


Di kamar kami langsung melaksanakan sholat, setelah sholat aku mencoba untuk berbicara tentang Noni pada Naufal.


"Mas, aku salah ya," kataku.


"Salah apa?? Kamu buat salah? Sama siapa??" tanya Naufal yang kaget mendengar pertanyaanku.


"Kamu jadi ada jarak sama Noni," jawabku.


"Apaan sih Sayang, enggak lah, kamu nggak salah, nggak ada yang salah disini, tadi Mama udah bilang banyak sama aku, yang kamu lakukan itu sudah benar Sayang," kata Naufal.


"Tapi aku ngerasa nggak enak Mas saat Noni membicarakan itu di depan Mamanya dan Mama kamu," ucapku.


"Sudah lah Sayang, jangan memikirkan itu, aku juga heran kenapa semakin remaja Noni semakin seperti ini," kata Naufal dengan heran.


"Aku jadi nggak enak Mas, aku kan yang pengen kamu ada jarak sama Noni, jadi aku," kataku terpotong oleh Naufal.


"Jadi apa?? Kamu salah?? Sayang....kamu sama sekali nggak salah," bantah Naufal.


"Iya Mas, tapi Abay yang jadi korban," ceplosku.


Dengan spontan aku mengatakan hal itu.


"Jadi korban??? Maksud kamu gimana?" tanya Naufal.


Deg deg....deg deg....deg deg


"Aku bilang nggak ya sama Mas Naufal, aku takut, pasti dia akan marah besar, aduuuh," gerutuku dalam hati.


"Eemmmm....,"


"Jawab Sayang??? Abay jadi korban gimana?" tanyanya lagi.


"Tadi.......tadi aku sempat dengar Mas, Abay bicara sama Mama di kamarnya, Abay bilang kalo......kalo Noni sering bilang ke Abay, kalo Abay sama aku salah, jadi Abay nggak suka sama Noni Mas, tapi Abay nggak mau aku sama kamu tau masalah ini, karena Abay juga nggak mau kita sedih," jawabku dengan gugup.


"Iiissshh, Astagfirullahalladzim, kamu bener denger kayak gitu Sayang?" tanya Naufal lagi yang masih tidak percaya.


"Iya Mas, aku dengernya gitu," jawabku.


"Tapi kamu jangan bilang sama Abay ya," kataku.


"Iya Sayang, aku nggak bakal bilang sama Abay, tapi aku nggak nyangka gitu Sayang, kalo Noni kayak gitu," kata Naufal.


"Aku juga gitu Mas, aku nggak nyangka kalo Noni kayak gitu, tapi kenyataannya, Abay sendiri loh yang bilang, masak kamu tetep nggak percaya," ucapku.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2