Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 158 (Ke Rumah Mama Feni)


__ADS_3

“Huuummm sepi Ma,” ucap Abay.


“Kata siapa sepi?? Enggak dong, abis ini Mama ajak kamu ke


rumah Eyang Feni,” kataku sambil mengepit bahunya.


“Beneran Ma??? Abis ini langsung ya Ma,” kata Abay dengan


girang, karena dia sangat berbeda denganku, suka merasa kesepian dan dia lebih suka keramaian.


“Sekarang siap-siap dulu, terus langsung berangkat,” sahut


Naufal.


“Nanti Naufal tinggal ke rumah Mama dulu ya Pak,” sambung Naufal.


“Enggeh Mas Naufal, biar Bapak yang jaga rumah, hehehe,”


kata Pak Rusdi lalu melangkah masuk.


“Abay ginian aja Ma,” ucap Abay.


“Abay kan masih pake sarung Nak,” kataku.


“Heheheh,”


Kami berjalan masuk ke kamar masing-masing untuk


bersiap-siap ke rumah Mama Feni.


Sesudahnya kami bersiap-siap, tak lupa aku membawa 2 kerudung yang kubelikan untuk Mama Feni.


Baakkkk……aku menutup pintu mobil.


Mobil melaju mendekati pintu gerbang yang menjulang tinggi dan megah, Pak Joko bersiap untuk membukakannya.


Naufal membuka pintu kaca mobil, dan kepalanya sedikit


keluar.


“Pak, saya keluar dulu ke Mama, nanti pulangnya nggak begitu


malam sih Pak,” pamit Naufal sambil melihat jam tangannya.


“Iya Mas, salam buat Mama nya Mas Naufal sama Papanya


sekalian,” kata Pak Joko.


“Iya Pak nanti saya sampaikan,” kata Naufal.


Naufal menutup pintu kaca mobilnya dan sekali menyalakan


klaksonnya.


Mobil melaju ke rumah Mama Feni yang hanya memakan waktu hanya 30 menit an saja jika tidak terjebak macet.


“Pa, kan bentar lagi Abay ujian, nanti setelah ujian, ayo Pa


kita liburan,” rengek Abay.


“Memangnya Abay kapan ujian, 1 bulan lagi ya kalo nggak


salah,” tebak Naufal.


“Iya Pa, ayo Pa, Abay pengen liburan,” ucapnya.


“Iya nanti pasti liburan, tapi Abay harus ingat, kalo kita


liburan, kita nggak bisa lama paling cuman 3 hari,” kata Naufal sambil melihat Abay dari kaca yang memantul tepat pada Abay.


“Nggak papa kok Pa, walaupun cuman 3 hari, tapi kan sama


Mama sama Papa, Abay udah seneng kok Pa,” jawab Abay.


“Ya nanti nunggu kamu liburan ya, Papa sama Mama nanti ambil cuti,” ucap Naufal.


“Iya Pa, Papa janji ya,” jawab Abay.


"Iya Insya'Allah Papa janji," jawab Naufal.


“Abay pengen kemana?” tanyaku.


“Eeeemmm….nanti aja ya Ma Abay bilangnya, hehehe,” jawab


Abay.


“Ke pantai atau kemana gitu Nak?” tanyaku lagi.


“Adadeh Ma, nanti kalo Abay sudah selesai ujian pasti Abay


bilang ke Mama, pasti Mama juga seneng kesana,” jawab Abay yang semakin membuatku penasaran.


“Heemm, ya udah deh Mama nunggu aja walaupun Mama sebenarnya penasaran,” kataku sambil menoleh padanya.


Abay tersenyum manis padaku.


.


.


.


.


.


Kebetulan Rumah Mama Feni berlokasi di pinggir jalan raya


pas, tidak seperti rumah Naufal yang ada di dalam kompleks, disini lebih bising walaupun rumah Mama Feni berdiri agak menjorok ke dalam dan jauh dari pintu gerbang.


Pintu gerbang di buka oleh satpam disana, aku dan Naufal


menyapa satpam itu.


“Eh Mas Naufal, silahkan Mas, silahkan,” ucap satpam itu


dengan sangat ramah.


Naufal tersenyum pada Bapak satpam itu.


Mobil berhenti di tempat parkiran yang sudah berjejer 2


mobil disana.


“Ayo turun,” ajak Naufal sambil melepas seatbelt nya.


Kami pun turun dari mobil.


Abay menggandeng tanganku. Kami melangkah masuk ke rumah Mama Feni yang besar dan serba putih itu.


“Assalamu’alaikum,” salam kami.


Tampak Mama Feni dan Papa Diki duduk berdua menonton TV,


mereka menoleh bersamaan pada kami.


“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka langsung menjingkat berdiri.


“Eh eh eh anak Mama kesini,” kata Mama Feni.


Kami langsung menyalami mereka.


“Eeehmmm, Mama seneng banget kalian kesini,” kata Mama Feni setelah memelukku.


“Ayo duduk sini dulu,” ucap Mama Feni yang menggeret kami


untuk duduk di sofa besar dan lumayan tinggi itu.


“Waduh cucu Kakek udah besar,” sahut Papa Diki.


“Kelas berapa sekarang?” tanya Papa diki.

__ADS_1


Abay malu-malu untuk menjawabnya.


“Di tanyain Kakek itu loh,” kataku sambil menyenggol halus


lengannya.


“Kelas 4 Kek,” jawabnya dengan malu-malu.


“Lama ya nggak ketemu Kakek, sini duduk sebelah Kakek,” ucap Papa Diki.


Abay malu-malu ambil menggelengkan kepalanya.


“Hehehe, malu-malu ini Pa,” sahutku.


“Katanya Papa kamu, kamu juara 2 ya lomba mengaji?” tanya


Papa Diki pada Abay.


Abay hanya menganggukkan kepalanya, karena memang Abay


sangat jarang sekali bertemu dengan Papa Diki, jadi nggak begitu akrab, apalagi Papa Diki yang snagat jarang juga ada di rumah.


“Hebat kamu, di kasih hadiah apa sama Papa kamu?” tanya Papa Diki lagi.


“Sepeda,” jawab Abay.


“Kok malu-malu gitu., hehehem,” sahut Mama Feni yang sedari


tadi memperhatikan Abay.


Seorang Bibi datang membawakan kami minuman.


“Silahkan,” ucapnya.


“Makasih,” ucap Naufal.


“Dulu Papa kamu juga juara lomba, pasti Kakek juga


beliin hadiah buat Papa kamu, jadi kamu yang semangat, lomba apa pun ikuti aja, jangan mikir menang atau kalah,” tutur Papa Diki.


“Tuh pialanya Papa kamu banyak satu almari, meskipun juara 3 juara 2, nggak masalah, nambah ilmu juga, ya Bay ya,” tutur Papa Diki.


Abay hanya duduk kaku dan mendengarkan nasehat dari Kakek nya.


“Papa galak nggak sama Abay?” tanya Mama Feni pada Abay.


“Enggak Eyang, Papa baik banget sama Abay sama Mama,” jawabnya.


“Tuh kan Ma,” kata Naufal lega mendengar jawaban anaknya.


“Kalo galak nanti bilang samaama Eyang, ya, hehehem,” kata Mama Feni.


Abay tersenyum pada Mama Feni,


“Papa nggak pernah jahat Eyang, Papa Abay itu Papa yang


paling baik sedunia, Papa nggak pernah marah sama Abay apalagi ngebentak Abay,” puji Abay mengadu kebaikan Papanya pada Eyangnya.


“Makan dulu yuk Fal,” ajak Mama Feni.


Dibawanya kami ke ruang makan, sudah ada beberapa menu


makanan ringan dan segala kue yang ada di atas meja makan.


“Makan malam kali ini, kita cobain kue buatan Mama sendiri,”


kata Mama sambil duduk di depanku.


“Ini Mama buat sendiri?” tanyaku.


“Iya Nak, Mama buat sendiri, kalo Papa kamu di rumah,


masakan apapun Mama masak sendiri, nggak pernah mau ini Papa kamu makan masakan selain buatan Mama,” jawab Mama Feni.


“Kapan-kapan Mama ajarin,” tutur Mama Feni.


“Dia tuh sukanya ini loh Ma, apa sih,” kata Naufal sambil


“Makan jaman dulu pokoknya, apa itu Ma, yang warna warni nah ini loh Ma, gethuk lindri, itu,” sahut Naufal.


“Kamu suka gethuk lindri Gi?” tanya Mama Feni sambil menaikkan kedua alisnya.


“Iya Ma, heheh,” jawabku.


“Itu makanan jadul loh, eehhh ternyata kamu juga suka, Mama juga suka sih makanan-makanan gitu an,” kata Mama Feni.


“Kapan-kapan Mama ajarin, Mama bisa kok,” sambung Mam Feni.


“Udah ayo makan,” kata Papa Diki mempersilahkan kami untuk


segera makan.


Aku mengambil kue basah berwarna hijau yang berbau khas daun pandan.


“Kalo mau makan nasi, silahkan makan aja,” kata Mama Feni.


Naufal mengambil kue yang sama sepertiku.


“Naufal nggak makan nasi?” tanya Mama Feni sambil mengambil satu entong nasi untuk Papa Diki.


“Enggak Ma, Naufal lagi nggak makan beras putih,” jawab


Naufal.


“Oooh kamu diet,” ucap Mama Feni.


“Iya Ma, hehehem,” kata Naufal.


“Kalo diet yang bener jangan kayak dulu kamu,” ejek Mama


Feni.


“Dulu Gi, suami kamu, waktu jaman kuliah, Naufal kan tipikal


orang yang jaga banget berat badannya, cuman lebih 2 kg kalo nggak salah, itu diet Gi, tapi ujung-ujungnya dia sakit, udah Mama nggak ngebolehin dia diet lagi Nak,” ucap Mama Feni.


“Sama Ma, dulu Gia juga gitu, sampe kepala Gia pusing


banget, terus nggak di bolehin Mama diet lagi,” kataku.


“Soalnya masih kuliah Ma, jadi nggak tau dietnya gimana,


nggak konsul ke Dokter kan dulu Ma, sekarang kan udah tau Ma,” sahut Naufal.


“Terus dia mohon-mohon sama Mama buat di bolehin diet lagi,


asal konsul dulu ke Dokternya, akhirnya Mama bolehin, jadi untuk selanjutnya udah Mama bolehin,” kata Mama Feni.


.


.


.


.


.


Setelah makan, Mama Feni mengajakku ngobrol berdua di depan TV, Naufal dan Papa Diki asik bermain catur berdua di tepi kolam.


Mama Feni bercerita banyak padaku, tentang Papa, tentang


Naufal dulu, yang aku heran, kenapa Mama Feni sama sekali tidak pernah menceritakan tentang Vela padaku dari awal, apa Mama Feni nggak pernah di kenalkan oleh sosok Vela ini ya, padahal Mama Feni bercerita dimana Naufal masih SMA.


“Naufal nggak pernah bawa pacarnya kesini Gi, Mama nggak


tau, mungkin dia nggak punya pacar, jadi nggak ada yang dibawa kesini, hehehe,” canda Mama Feni.


“Tapi kalo temen ada sih, pernah di bawa kesini,” kata Mama


Feni.

__ADS_1


“Nah ini pasti Vela, pasti aku nggak salah lagi, mau siapa


lagi?? Atau jangan-jangan ada lagi,” gerutuku dalam hati.


Aku menunggu siapa nama temen cewek Naufal yang pernah dia bawa pulang ke rumah.


“Tapi temen ceweknya banyak, ganti-ganti juga Gi,” ucap Mama Feni.


Aku semakin penasaran saat Mama Feni mengatakan kata “Banyak” dan “Ganti-ganti”.


“Waw…..Oohh My God…….Naufal player???? Apa gimana???”


tanyaku dalam hati.


“Hehehem, banyak ya Ma,” kataku sambil tersenyum kecut pada Mama.


“Iya banyak, kan kesini kerja kelompok Gi, hehehem, pasti kamu kira Naufal bawah pacarnya kesini dengan cewek yang ganti-ganti ya, hehehem enggak Nak, malah Naufal nggak pernah bawa pacar kesini atau memang nggak punya pacar,” ujar Mama Feni yang sepertinya kali ini bisa membaca pikiranku yang sudah berfikir kotor tentang anaknya.


“Mama akrab banget sama temen-temennya Naufal SMA, kalo yang kuliah cuman sama Bastian ini doang, kan kuliahnya Naufal nggak disini,” sambung Mama Feni.


Aku hanya mendengar setiap cerita yang keluar dari mulut


Mama Feni tentang anaknya yang sejak dulu sudah berperan sebagai suamiku di dunia ini.


“Mama kenal dekat semua teman SMA Mas Naufal?” tanyaku lagi.


“Iya, ada Haikal, ada Lexsi, ada Iyan, terus Rosi, terus yang cewek ada Mona, ada Debora, ada sevy, itu sih yang sering banget kesini, tuh kan Mama sampe hafal, hehehem,” jawab Mama Feni.


Dari jawaban Mama Feni tidak ada nama Vela terpanggil disana.


“Benar-benar Naufal tidak menceritakan pada MAmanya,”


gumamku.


“Meskipun waktu satu rumah sakit sama kamu Gi, hari pertama, Naufal nggak ada cerita apapun, ya Mama kira dia cerita tentang kamu atau bilang Ma murid koas ku begini-begini, nggak ada Gi, jadi ya dia kaget Mama bawa ke rumah kamu dulu, hehehem, memang anak itu,” kata Mama Feni.


“Tapi Mama yakin, Naufal suami terbaik untuk kamu,” ucap Mama Feni sambil menepuk pahaku.


“Hehehem, iya Ma, Mama bener, dari awal menikah sampai


sekarang, Mas Naufal nggak pernah bentak Gia, nggak pernah ngomong kasar ke Gia, dan nggak pernah main tangan sama Gia, ya seperti yang di bilang Abay tadi Ma,” kataku.


“Dia persis seperti Papanya, hanya satu yang ngebedain Nak,


Papanya merokok, tapi Naufal enggak,” kata Mama Feni.


“Loh Papa perokok ya Pa?” tanyaku yang kaget.


“Iya Papa kamu perokok, tapi dulu, semenjak Naufal jadi


Dokter, udah nggak pernah, soalnya di bilangin sama NAufal, sampe sekarang udah enggak,” jawab Mama Feni.


“Ooohh, pantesan Ma, Gia nggak pernah ngelihat Papa merokok,” kataku.


“Oh ya Ma, ini Gia ada beliin buat Mama,” kataku sambil


menyerahkan kantung kardus yang berisi 2 kerudung untuk Mama.


“Apa ini??” tanya Mama Feni.


“Mama buka aja nggak papa,” kataku.


“Mama buka ya,” ucap Mama Feni sambil membuka kantung kardus yang ku berikan.


“Kerudung Gi???” ucapnya sambil membawa 2 kerudung yang ku belikan.


Aku hanya menganggukkan kepalaku dan tersenyum pada Mama Feni.


Mama Feni menjeber kerudung yang sangat besar itu.


“Waaahhh Mama suka motif-motif kayak gini Gi, ini kain nya


adem loh Gi,” kata Mama Feni.


“Hehe, kebetulan Gia juga suka motifnya Ma, apalagi kalo di


pake Mama,” kataku.


“Mama coba pake ya,” ucapnya yang berjalan di depan kaca.


Aku berjalan mendekat dan membantu untuk memakainya.


“Ya Allah bagus ini Gi, Mama suka, suka banget, pas di muka


Mama,” ucapnya sambil terus melihat wajahnya di depan cermin.


“Ayo kita ke belakang, biar Papa kamu lihat,” ajak Mama Feni


sambil menaik tanganku dan berjalan menemui Papa Diki dan Naufal yang sedang bermain catur di belakang.


***(Di Taman Belakang)


“Pa, lihat Mama, bagus nggak?” tanya Mama Feni pada Papa Diki.


“Mama balik muda lagi, hehem, canti Ma, Mama pantes pake


kerudung gituan, kelihatan sedikit lebih muda,” puji Papa Diki yang membuat gembira hati Mama Feni.


“Beneran Pa?? Hehehem?” tanya Mama Feni.


“Iya, tanya ke Naufal kalo nggak percaya Ma,” jawab Papa Diki.


“Bagus Ma, cocok kok sama face Mama,” sahut Naufal.


“Iya dong, menantu Mama gitu yang beliin,” ucap Mama Feni.


“Makasih ya Nak,” ucap Mama Feni.


“Sama-sama Ma,” jawabku sambil tersenyum padanya.


“Itu kemaren Naufal juga ikut milihin Ma,” kata Naufal.


“Iya Gi?” tanya Mama Feni sambil mengangkat kedua alisnya.


“Ehehehe, enggak-enggak Ma, becanda,” ucap Naufal.


“Mama simpan dulu ah,” kata Mama Feni yang berjalan menaiki


anak tangga.


Aku duduk di samping Naufal menemaninya main catur bersama Papa Diki.


“Aku dari tadi yang menang Gi,” ucap Naufal.


“Iya Pa?? Mas Naufal dari tadi yang menang,” tanyaku pada


Papa Diki.


“Iya Papa ngalah Gi, hehehe,” jawab Papa Diki.


"Enggak Gi, ngga gitu ceritanya," tepis Naufal.


Papa Diki tertawa melihat tingkah anaknya.


Naufal berkonsentrasi bermain catur dengan Papa Diki.


“Gi, aku mau biskuit itu dong,” ucap Naufal.


Ku ambilkan piring yang berisi biskuit.


"Suapin aku Sayang, aku lagi konsentrasi banget ini, takut di kalahin Papa," ucapnya.


Mataku melotot, aku hanya mampu meneguk salivaku.


"Masak iyaa aku nyuapin Naufal di depan Abay sama Papa," gerutuku.


Bersambung......


jangan lupa like, komen, dan vote nya ya.....


terima kasih untuk support, dan yang selalu setia buat like, komen dan vote nya heheh🖤🙏😁

__ADS_1


__ADS_2