
Sesudahnya kami sholat isya’.
Bi Sarah memanggil Naufal yang
sedang duduk bersantai di halaman belakang.
“Mas Naufal, ada tamunya Mas Naufal,” ucap Bi Sarah.
“Siapa Bi?? Laki-laki?” tanya Naufal balik.
“Iya Mas, ada dua Mas pake jaket hitam kulit,” jawab Bi
Sarah.
“Jangan-jangan ini Pak Polisi,” ucap dalam hati Naufal.
Naufal langsung menemui dua tamunya itu.
***(Di Ruang Tamu)
“Malam Pak Naufal,” kata Pria berjaket kulit itu sambil
menyalami tangan Naufal.
“Malam Pak,” jawab Naufal.
“Saya dari pihak kepolisian Pak, yang tadi siang sempat
menelfon Pak Naufal,” kata Pria itu.
“Saya Pak Susanto, ini rekan saya Pak Ilham,” sambung Pak
Susanto.
“Ooooo ini Pak Susanto temen nya Bastian ya?” tanya Naufal.
“Iya Pak Naufal benar,” jawabnya.
“Mari mari silahkan duduk Pak,” ucap Naufal.
“Maaf saya baru bisa kesini malam-malam, dan saya dapat
alamat Bapak dari Bastian,” kata Pak Susanto.
“Iya Pak, nggak papa, saya dari tadi menunggu loh Pak,
hehehem,” canda Naufal.
“Hahahah, iya Pak, tadi masih sempat mengorek-ngorek masalah dari terdakwah nya Pak,” kata Pak Susanto.
“Eeemmm iya Pak, iya,” ucap Naufal sambil
mengangguk-anggukan kepalanya.
“Jadi saya langsung ke intinya saja ya Pak, jadi gini Pak
kronologi nya, terdakwah ini adalah anak dari pasien yang ada di Rumah Sakit tempat Bapak kerja, setelah kami lakukan tindak selanjutnya, ternyata terdakwah bernama Samsul ini sudah mempunyai kartu gila Pak, jadi bagaimanapun juga jika Bapak ingin menuntutnya itu tidak bisa Pak dikarenakan Pak Samsul mempunyai penyakit gangguan jiwa,” kata Pak Susanto.
“Eeemmm gitu ya Pak, saya juga sempat mikir gitu Pak, tapi
saya nggak berniat buat nuntut dia sama sekali loh Pak, tapi Pak, kan kata Bapak, pasien saya adalah Bapaknya, kenapa bisa dia mau membunuh Bapaknya sendiri?” kata Naufal.
“Sesuai introgasi dan informasi yang saya ambil dari pihak
keluarga, ternyata gangguan jiwa Pak Samsul ini di buat oleh Bapaknya sendiri Pak, jadi kata Ibu nya dulu Pak Samsul ini sudah hampir menikah dengan pacarnya tapi Bapaknya tidak merestuinya, dan Bapaknya pernah bilang bahwa dia sudah
tidak di anggap sebagai anaknya lagi, jadi Si Pak Samsul ini mengalami depresi berat, itu pasien Bapak habis di cekik sama Pak Samsul, maka nya langsung di bawa ke rumah sakit sama keluarganya, nah keluarganya ini juga tidak mengetahui bahwa Pak Samsul ini mengikuti mereka,” jawab Pak Susanto.
“Tapi Pak, jika memang dia mengalami gangguan jiwa dan
seperti orang gila pada umumnya, secara otomatis, pihak keamanan dari Rumah Sakit saya tidak mungkin mengijinkan Pak Samsul ini masuk,” sanggah Naufal.
“Gangguan jiwa nya Pak Samsul ini Pak Naufal tidak selalu
terjadi setiap hari, kata Ibunya kadang dia juga seperti orang waras biasa, kadang kalo dia ingat atau Si Bapaknya ini sedikit membentak, baru dia mengungkit-ngungkit masalahnya yang dulu dia di pisahkan dengan pacarnya, dan akhirnya terjadi cek cok seperti ini Pak,” kata Pak Susanto.
“Tapi Pak Samsul ini juga berobat kan Pak?” tanya Naufal
lagi.
“Sejauh ini Pak Samsul ini masih berobat rutin Pak,” jawab
Pak Susanto.
“Eeeemmmm gitu, iya iya Pak,”
Naufal bercerita-cerita dan mengorek informasi tentang
kejadian tadi pagi di rumah sakit.
Aku yang turun ke dapur mencoba menguping pembicaraan
mereka.
Cukup lama mereka berbincang-bincang bertiga.
.
.
.
.
.
Akhirnya pihak kepolisian pamit untuk pulang, tepat dimana
Guru les Abay juga pulang.
“Ma, siapa tamu tadi?’ tanya Abay.
“Eeemmm……”
“Pak Polisi Abay,” jawab Naufal.
“Kenapa Pak Polisi kesini Pa?? Papa ada masalah??” tanya
Abay yang sedikit panik.
“Enggak, Papa nggak ada masalah, cuman tadi ada sedikit
masalah di Rumah Sakit tempat kerja Papa,” jawab Naufal.
"Papa di apain Pa, Papa di copet apa Papa disakiti Pa?" tanya Abay.
“Tapi Papa nggak kenapa-napa kan?” tanya Abay yang membuatku was-was.
“Ini Papa nggak kenapa-napa kan, Papa sehat-sehat aja,”
jawab Naufal sambil menaikkan dua alis tebalnya.
“Ya udah Abay ke atas ya Ma, Pa,” ucap ABay.
“Iya Nak,” jawabku,.
Abay berlari menaiki anak tangga untuk ke kamarnya.
“Huuufftt untung saja kamu bisa buat alasan ke ABay Mas,”
kataku.
“Kamu sih Sayang jawabnya aamm eemmm jadi ya aku terpaksa jawab,” ucap Naufal.
“Aku nggak tega Mas, aku bingung jawabnya gimana, takut
keceplosan, takut salah,” ujarku.
“Hhmmmmm enggak lah Sayang,” kata Naufal sambil menarik
pundakku untuk di peluknya.
__ADS_1
“Jangan meluk-meluk gini, nanti luka kamu aku senggol loh,”
candaku.
“Coba aja, orang tadi dibuat pelukan sama kamu aja malah
nggak berasa, mungkin itu obatnya Sayang, hehehe, jadi kayaknya boleh deh di ulangi lagi nanti, Hihihihi,” ucap Naufal.
“Mass….” Desisku.
Bi Sarah sepertinya mendengar obrolan kami, dan Bi Sarah
langsung berjalan menghampiri kami yang akan berjalan menaiki anak tangga.
“Mbak, Mas Naufal kenapa??” tanya Bi Sarah yang histeris.
“Eemmmm…….gimana ya ngomongnya yah,” jawabku yang bingung.
“Kenapa Mbak?? Ada Apa?” tanya Bi Sarah.
“Eeeemmm…gini Bi, sini-sini,” ucapku sambil mengajak Bi
Sarah untuk berpindah posisi di bawah tangga besar rumah ini.
“Bi, Gia minta ya, Bibi jangan bilang sama siapa-siapa,”
kataku dengan lirih.
“Kenapa Mbak??!! Bibi takut loh?? Siapa Mbak dua laki-laki tadi??” pertanyaan Bi Sarah terus datang bertubi-tubi padaku.
“Gini Bi, jadi tadi di Rumah Sakit, Mas Naufal ada masalah
kecil Bi, perut Mas NAufal terluka karena tersayat pisau,” kataku.
“Haaa!!! Masya’Allah Mbak, kok bisa Mbak?” tanya Bi Sarah
sangat lirih.
Aku menceritakan semua kejadian pada Bi Sarah.
“Tapi Mbak, luka nya parah nggak??” tanya BI Sarah.
“Alhamdulillah sih enggak Bi, cuman robek dikit aja, tadi
juga sempat Gia jahit,” jawabku.
“Ya Allah, Bibi gak bisa bayangin Mbak, tadi kejadian nya
gimana,” ucap Bi Sarah.
“Bi, masalah ini jangan sampe Abay tau ya, soalnya bentar
lagi Abay ujian Bi, terus Gia sama Mas Naufal satu hari lagi harus pergi jadi relawan, jadi Gia takut kalo Abay nanti kepikiran soal Papa nya Bi,” tuturku.
“Iya Mbak, Bibi akan jaga masalah ini,” ucap Bi Sarah.
“Tapi Mbak, Mama nya Mas Naufal juga nggak tau masalah ini?” tanya BI Sarah.
“Kalo itu sih Gia belum tau Bi, dan nggak jamin kalo Mama
Feni bakalan nggak tau, apalagi yang punya Rumah Sakit kenal betul sama keluarga Papa Diki,” kataku.
“Eemmmm…..pasti nya tau Mbak Gia, apalagi masalah seperti
ini,” ujar Bi Sarah.
“Sepertinya Bi, ya udah Gia ke kamar ya Bi, Bibi segera
tidur, jangan tidur malam-malam,” tuturku sambil mengelus lengan Bi Sarah.
“Iya Mbak,” jawab Bi Saeah.
Aku berjalan mnyusul Naufal yang sepertinya sudah berada di
kamarnya.
***(Di Kamar)
kamar, aku langsung menuju kamar untuk bersih-bersih dan segera tidur.
.
.
.
Setelah cuci muka, gosok gigi, dan memakai lotion ku
rebahkan tubuhku dank u Tarik selimut.
Naufal baru saja selesai teleponan dengan entah siapa aku
tak tau.
“Telfon siapa Mas?” tanyaku.
“Pak Dodi,” jawab Naufal.
Pak Dodi adalah pemilik dari Rumah Sakit tempat kami
bekerja.
“Eemmm…gimana kata Pak Dodi, kamu di marahi ya Mas?”
tanyaku.
“Enggak lah, malah Pak Dodi kasih support aku biar segera
lurusin masalah ini, dan mengklarifikasi apa yang sebenar-benarnya terjadi,” jawab Naufal yang berdiri di samping ranjang.
“”Eeemm…ya udah kalo gitu, syukurlah,” ucapku.
Naufal melepas kemejanya dan masuk ke kamar madni.
.
.
.
.
.
Saat kami sedang tidur berdua, dan saling menatap sambil
masih membicarakan masalah yang bagi kami cukup besar itu.
“Mas, yang punya Rumah Sakit, orangnya baik ya?” tanyaku.
“Baik banget Sayang orangnya, tapi orangnya Duda punya anak 3,” jawab Naufal.
“Kasihan ya Mas, Duda nya sejak kapan Mas?” tanyaku.
“Udah 7 tahunan kalo nggak salah Sayang,” jawab Naufal.
“Eeemmm, cerai nya kenapa Mas?’ tanyaku lagi.
“Istri nya selingkuh Sayang,” jawaban Naufal yang membuatku
kaget.
“Ha??? Orang sebaik Pak Dodi di selingkuhin istrinya Mas???”
tanyaku.
“Gi, mau sebaik apapun kita, bukan jaminan kalo kita bakalan
bersama orang baik juga, Pak Dodi itu udah sabar, mapan, dari keluarga terhormat, seorang Bos, loh kurang apa cobak, orang sesukses dan seberuntung Pak Dodi aja bisa di gituin Sayang sama istrinya, istri nya juga tega banget Gi selingkuh sama teman sekolahnya dulu,” kata Mas Naufal.
“Tapi, kalo berita yang beredar, Pak Dodi nya yang selingkuh,
__ADS_1
tapi aku nggak percaya Gi, Pak Dodi sendiri malah yang cerita ke Papa, terus Papa bilang ke aku,” sambung Naufal.
“Kasihan Pak Dodi ya Mas, udah di selingkuhin terus di
fitnah lagi, huuummm, cobaan nya berat banget,” ucapku.
“Eh Mas, tapi Papa tau nggak ya sama masalah yang menimpa
kamu?” tanyaku.
“Ya pasti tau lah SAyang, dari tadi aja, Papa WA an sama
aku, nanyain gimana luka nya, proses hukum nya gimana, gitu,” jawab Naufal.
“Pasti Mama sama Papa kamu khawatir banget itu Mas,” ujarku.
“Pastinya lah Sayang, istriku aja khawatirnya minta ampun,
sampe nangis-nangis tadi, hehehem,” canda Naufal.
“Aaaaaa Mas NAufal, masih dibahas aja,” kataku.
“Hehehe, sini akum au coba lagi,” kata Naufal.
“Coba apa?” tanyaku.
“Yang tadi Sayang, gih sini, jangan berlagak lupa,” ucap
Naufal.
Naufal langsung menarik pinggangku agar bergeser mendekat
padanya.
“Kebiasaan Mas Naufal nggak bilang-bilang dulu kalo mau
narik,” kataku.
“Lagian kenapa sih Sayang, mau aku bilang, mau aku nggak
bilang tetep aja kan kamu bakalan ke pelukan aku,” ucapnya.
Ku cubit pipi Naufal.
“Iiihhh sakit Sayang, kamu nih gemes ya sama aku,” ucapnya.
“Pipi aku ini tirus, nggak tembem, jadi sakit Sayang,” keluh
Naufal.
“Biarin Weekk, kata nya tdi nggak berasa kalo aku yang
mukul-mukul,” ucapku.
“Hehehe tanggung jawab loh kamu Gi, sakit nih,” ujar Naufal.
“Apaan aku tadi nyubitnya nggak beneran kok, mana ada sakit, alasan aja kamu Mas,” kataku.
“Ayolah, ya ya,” rayunya sambil mendekatkan pipinya pada
mulutku.
Dan aku pun mencium pipi bekas cubitanku.
“Udah, nggak sakit lagi kan?’ tanyaku.
“Hehehehe, enggak Sayang, sembuh langsung kan,” kata Naufal.
“Iya lah kan aku Dokter,” kataku.
“Udah udah tidur, bakalan ngomong terus sampe nanti malam
kamu Sayang,” ucap Naufal sambil membelai pipiku.
“Mas, perut kamu beneran nggak skait kan?” tanyaku.
“Enggak Sayang, cuman kana da berasa cekit-cekit nya dikit,
kamu tau sendiri lah kalo luka jahitan itu gimana, besok juga udah nggak papa kok, tenang aja,” jawab Naufal.
“Kamu ini masih aja bisa tenang, istri nya udah panik, eh situnya malah ketawa,” ucapku.
“Hahaha, lagian kamu sih,” tepis Naufal.
“Hhhmmm besok kita packing Mas, cepet banget ya udah mau
berangkat aja,” kataku.
“Kita bakalan berapa hari sih Mas disana?"tanyaku.
“2 sampe 3 minggu kayaknya Sayang,” jawab Naufal.
“Hmmm aku bakalan kangen sama Abay nih Mas,” kataku.
“Ya nanti kan bisa video call Sayang,” ucap Naufal.
“Terus tidurnya kita dimana Mas?’ tanyaku lagi.
“Ya nanti disana udah disedia in Sayang, kita tinggal
berangkat aja, tapi bukan hotel loh,” jawab Naufal lagi.
“Iya iya Mas, nggak mungkin juga kalo kita tidur di hotel di
tempat gituan, kita harus simpati dong,” ujarku.
“Nah iya, tapi mungkin aja sih kalo kamu mau, hahaha,” canda
Naufal.
“Nggak lah Mas, ini baru pertama kalinya aku jadi relawan
loh Mas,” kataku.
“Aku juga baru pertama kalinya ini Sayang, nggak tega aku
kalo nanti ketemu orang-orang yang merintih kesakitan langsung tepat di depan TKP loh,” kata Naufal.
“Udah ah jangan di bayangin dulu, yang penting di jalanin,”
tuturku.
“Ullluuhhh Sayangku,” kata Naufa.
Naufal mencium keningku lama.
“Bobo ya istriku, peluk suami kamu dong, biar cepet sembuh
lukanya,” rayu Naufal.
“Iiihhh dasar, apa hubungan nya Mas, aku meluk kamu sama
luka kamu,” ucapku.
“Lah ini kamu nggak meluk aku,” kata Naufal.
“Aku takut kena perut kamu yang luka Mas,” tepisku.
Naufal merangkulkan tanganku di atas luka di perutnya.
“Ehhmm, nggak papa Sayang, good night Sayang,” ucap Naufal.
“Night Sayang,” jawabku yang malu-malu dan kaku.
Naufal hanya tersenyum mendengar panggilan sayang dariku
sambil memejamkan kedua matanya.
Bersambung.......
Jangan lupa like, komen dan vote nya yaaa kakak hehehehe😁🙏
__ADS_1
See you die episode selanjutnya ya.....