
Pak Kevin juga keluar dari mobil, dan aku segera menyusulnya karena tidak ingin terjadi perkelahian di antara mereka.
Saat Pak Kevin keluar dari mobil, Naufal sangat kaget apalagi aku juga menyusulnya keluar dari mobil Pak Kevin.
Naufal menghentikan langkah kakinya saat tengah melihatku.
Aku menatapnya penuh amarah, begitu juga dengan dia.
Naufal memundurkan langkah kakinya, lalu aku mengejarnya.
"Mas.....Mas," kataku sambil menarik tangannya.
"Mas dengerin aku, ini nggak seperti yang kamu lihat," rayuku padanya.
Naufal berbalik menghadapku.
"Kenapa Gi??!! Kenapa kamu bisa sama dia??" tanyanya.
"Aku....aku hanya di tolong sama Pak Kevin Mas," jawabku.
"Tapi kenapa Gi?? Kenapa harus sama dia?? Apa selama ini kamu cinta sama dia tapi kamu berpura-pura di depanku untuk acuh padanya," ujar Naufal dengan menahan amarahnya.
Aku semakin tersakiti dengan kata-kata Naufal.
"Ya Allah, padahal aku selalu mencintainya, aku tidak pernah sedikitpun mengkhianatinya, tapi kenapa dia masih berfikir seperti itu padaku, kurang apa aku?" tanyaku dalam hati sambil berdiri menunduk di depan Naufal.
"Kenapa Gi?? Ayo jawab??! Kamu gak bisa jawab kan," ucapnya.
Aku hanya bisa menangis di depannya, di tengah-tengah situasi yangs seperti ini, Naufal bersikap separah ini sama aku.
"Kamu gak bisa jawab kan Gi??!! Aku kecewa Gi sama kamu," ucapnya sambil berjalan meninggalkana aku.
Pak Kevin berlari menghentikan Naufal.
"Fal, ini bukan salah Gia," ucap Pak Kevin.
Naufal berbalik menoleh dan menatap Pak Kevin.
"Kamu gak bisa nyalahin sepihak sama Gia," ucap Pak Kevin yang semakin membuat Naufal marah.
Naufal menghampiri Pak Kevin dan ingin menghantam wajah Pak Kevin.
Tapi aku berdiri tetap di depan Pak Kevin untuk menghadang Naufal, Naufal menghentikan hantaman tangannya tepat di depan mataku.
"Udah jelas Gi sekarang, aku tau," ucap Naufal lalu berjalan masuk ke dalam mobil dan memasukkan mobilnya.
Aku menangis sejadi-jadinya di depan Pak Kevin.
"Huhuhuhuhuhuuuu,"
"Gi, maafin aku, niatku baik sama kamu, tapi malah jadi seperti ini," ucap Pak Kevin.
"Aku akan jelasin sama Naufal Gi, aku janji," kata Pak Kevin.
"Udah Pak, udah, biarkan saya saja yang menjelaskan pada Mas Naufal, ya, ini masalah kami," kataku.
"Nggak Gi, ini menyangkut aku," bantahnya.
"Saya tadi sudah bilang sama Bapak untuk menurunkan saya," ucapku.
"Tapi Gi, aku nggak tega sama kamu, bagaimana bisa aku melihat orang yang.....yang aku cintai sendirian di jalan, aku khawatir," ucapnya.
"Cukup Pak!!! Saya mohon cukup, jangan membicarakan soal cinta pada saya, ya?? Saya mohon sekali pada anda," kataku.
"Terima kasih Pak, sudah menolong saya dan sudah mengantarkan saya pulang, maaf atas semua perlakuan saya," kataku lalu pergi meninggalkan Pak Kevin.
Aku berlari masuk ke gerbang rumah.
***(Di Rumah)
"Assalamu'alaikum," salamku.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah.
"Alhamdulillah, Mbak Gia habis dari mana, Bibi menunggu Mbak Gia disini," ucap Bi Sarah yang rela tidak tidur dan menungguku hingga pulang.
"Bibi nggak tidur?" tanyaku yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa barusan.
"Bibi nggak bisa tidur Mbak, Bibi nunggu Mbak Gia sama Mas Naufal belum juga pulang, terus barusan Mas Naufal naik ke atas, Mbak Gia nggak pulang sama Mas Naufal tadi?" tanya Bi Sarah.
"Eeemmm.....Gia....Gia pulang sama Mas Naufal kok Bi," jawabku yang tak ingin jika Bi Sarah mengetahui masalah kami.
"Ya udah Gia ke atas dulu ya Bi," kataku.
Aku berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.
***(Di Kamar)
Aku melihat Naufal yang sudah terbujur di sofa.
"Apakah Naufal benar-benar marah padaku?" tanyaku dalam hati.
Ku usap air mataku.
Lalu aku masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, aku kembali menangis.
"Ya Allah, kenapa semua jadi seperti ini?? Apalagi melihat Naufal yang pulang tengah malam tadi, habis dari mana dia sampai-sampai ponselnya sama sekali tidak bisa di hubungi, huhuhuhu,"
Setelah aku keluar dari kamar mandi, ku rebahkan tubuhku di atas ranjang, namun Naufal tak kunjung menyusulku dan dia malah lebih memilih tidur di sofa.
Aku mencoba untuk berbicara dengan Naufal, aku menghampiri nya.
"Mas......aku mau...," kataku langsung di tepis oleh Naufal.
"Aku capek," ucapnya yang membuatku semakin bersalah, padahal aku juga sakit hati karenanya.
Kenapa kata-kata Naufal begitu mengiris hatiku.
Aku langsung meninggalkannya dan kembali merebahkan tubuhku, semalaman aku menangis, bahkan aku tidak tidur sama sekali hingga shubuh.
.
.
.
.
Adzan shubuh berkumandang.
Dengan mataku yang sembab, aku memberanikan diri untuk membangunkan Naufal.
Aku masih menangisinya.
"Mas Naufal," panggilku membangunkan Naufal.
Naufal langsung bangun tanpa menoleh padaku dan mengajakku berbicara.
"Aku siapin air hangat ya," kataku.
"Ya," jawab Naufal singkat tanpa menatapku.
Aku berjalan menyiapkan air hangat untuknya.
__ADS_1
"Ya Allah, apakah dia tidak ingin tau apa yang sebenarnya terjadi padaku, dan menjelaskan dari mana sebenarnya dia sampai pulang selarut itu," kataku dalam hati.
"Huhuhuhuhu,"
Setelah selesai aku menyiapkan air hangat untuknya, Naufal langsung masuk ke dalam kamar mandi, aku menyiapkan kemeja untuknya.
.
.
.
.
Beberapa menit setelah selesai mandi, sekarang giliran aku yang mandi.
"Naufal sama sekali tidak melihatku, huhuhuh," kataku dalam hati.
Aku menangis meraung-raung di dalam kamar mandi.
.
.
.
.
Setelah selesai mandi, Naufal tetap mengimami ku untuk sholat shubuh.
Baru pertama kali ini kami merasa sangat jauh meskipun kami tinggal dalam satu atap bersama.
Naufal yang tidak lagi mau melihatku.
Bahkan selesai bersiap-siap pun dia langsung turun ke bawah tanpa mengajakku atau bilang padaku.
Hatiku menangis, seakan-akan disini aku bukan siapa-siapa.
Dulu aku yang sangat dia sayang, sekarang aku di acuhkan.
***(Di Ruang Makan)
Saat di Ruang Makan, Bi Sarah dan yang lainnya melihat sikap Naufal yang sangat beda dan tidak seperti biasanya.
Bi Sarah sepertinya melihat mata sembabku yang tidak berhasil ku sembunyikan dari mereka.
"Mbak Gia sama Mas Naufal beda banget, diem-diem an, apa jangan-jangan mereka berantem lagi ya," gumam dalam hati Bi Sarah.
Suasana sangat berbeda, semua hening, hanya suara tegukan susu dan piring yang bergeser dengan meja.
.
.
.
Setelah selesai makan, aku berjalan ke grasi dan sudah melihat mobilku disana,
"Kok mobilnya udah disini??" tanyaku dalam hati.
Aku tidak sempat memikirkan tentang mobil, karena yang aku pikiran sekarang hanya Naufal, aku lebih memilih menaiki mobilku sendiri karena tidak ingin mengganggu Naufal yang sedang kacau hati dan pikirannya.
"Pake satu mobil aja," ucap Naufal singkat sambil membuka pintu mobilnya.
Aku berjalan masuk ke dalam mobilnya, menuruti apa yang dia mau.
Sepanjang jalan aku menangis, namun Naufal tetap diam padaku.
"Nanti kamu ada jadwal meeting nggak?" tanya ku pada Naufal.
"Nanti pulang kerja, aku keluar habis nganter kamu pulang," ucapnya singkat.
"Oh iya," ucapku.
Hanya itu saja yang keluar dari mulut Naufal sepanjang perjalanan berangkat kerja.
***(Di Rumah Sakit)
Setibanya di Rumah Sakit, setelah mobil terparkir, Naufal langsung turun dan meninggalkanku.
Aku sangat kesal dengan sikap Naufal, aku ingin marah padanya.
Aku berjalan sendirian menuju ruang kerja.
Dalam ruanganku, aku duduk termenung dan masih memikirkan dari mana Naufal sebenarnya, dan mau kemana dia nanti.
Ku jalankan tugasku tanpa adanya semangat.
"Gi, kamu fokus, kamu harus profesional, ini tempat kerja kamu, bukan rumahmu, kamu harus tetap menjalankan abdi mu pada pasien," kataku dalam hati.
"Huuuffttt,"
Saat aku tengah bertemu Suster yang biasanya menemaniku, aku memanggilnya untuk mengambil berkasnya kembali.
"Suster," panggilku.
"Iya Dok," jawabnya.
"Berkas yang kemaren bisa diambil kembali," kataku.
"Oh iya Dok, dan maaf Dok kemaren langsung saya letakkan di meja Dokter, karena saya terburu-buru Dok, sedangkan Dokter ada di Ruang Operasi," ucapnya.
"Iya Sus nggak papa, nanti langsung diambil aja nggak papa, saya permisi," kataku.
"Mari Dok mari," jawabnya.
.
.
.
.
.
.
Hari sudah semakin sore, aku menunggu Naufal dengan duduk di ruanganku.
Berkali-kali aku melihat layar ponselku tetapi sama sekali tidak ada pesan dari Naufal.
"Huumm, mungkin Naufal sibuk kali ya, tapi dia gak kasih kabar sama aku," kataku dalam hati.
Aku melangkah karena berniat untuk menemui Naufal, tapi ku hentikan langkahku saat aku ingat dia marah padaku.
"Aku lupa, Naufal marah sama aku," kataku.
Aku menunggunya sampai adzan magrib.
Dia sama sekali tidak meberiku kabar, ku tinggalkan sholat sebentar.
Dan tetap Naufal tidak ada kabar.
Aku menungunya sampai bosan.
__ADS_1
Ingin bertemu, tapi.....
"Naufal gini banget sama aku, dia sudah nggak peduli sama aku," kataku sambil menangis sendirian.
.
.
.
.
.
Hingga akhirnya tepat pukul 8 malam, Naufal mengirim pesan padaku.
"Aku di mobil," Naufal.
Mataku terbelalak melihat isi pesannya, dengan segera aku pergi menyusulnya.
Aku berlari untuk menuju parkiran.
Sampai di parkiran, aku langsung masuk ke dalam mobil, dan tanpa berkata sepatah kata apapun, Naufal melajukan mobilnya.
"Kamu kok pulang semalam ini?" tanyaku.
"Meeting dadakan," jawabnya.
"Asal kamu tau Fal, setiap jawaban singkat yang kamu beri padaku, kala itu juga sangat menyakiti hatiku Fal, sejahat itu kah aku Fal," gerutuku dalam hati sambil mengusap air mataku.
"Kamu mau keluar kemana nanti?" tanyaku lagi.
"Ada nanti," jawabnya lagi singkat.
Aku memberanikan diri untuk menyampaikan unek-unek ku padanya.
"Mau sampe kapan kita kayak gini?" tanyaku.
"Kita udah melangkah jauh, dan sekarang? Huumm gak ada artinya apa-apa," kataku yang di acuhkan oleh Naufal.
"Aku minta maaf sama kamu, aku bener-bener minta maaf, belum bisa menjadi istri yang baik, yang bisa segalanya untuk kamu, jangan lama-lama ya Fal kamu diemin aku," kataku dengan isak tangisku.
Naufal hanya diam dan fokus menyetir.
"Aku nggak tau apa yang sebenarnya terjadi sama kamu, begitu juga dengan kamu, kamu nggak ta..," kataku terpotong oleh Naufal.
"Nggak!! Aku tau yang terjadi sama kamu," ucapnya dengan nada sedikit menekan.
"Kamu tau apa Fal, yang kamu tau aku dan Pak Kevin," ucapku.
"Yah, memang itu," ucapnya.
Dengan jawaban Naufal yang semakin menyakiti hatiku, dan aku masih terus mendesak nya.
"Kamu masih nggak mau ngasig tau aku mau kemana?" tanyaku.
"Huuftt, okey, aku nggak akan pernah lagi tanya sama kamu," kataku dengan nada gemetar karena menangis.
"Kamu bebas, mau nglakuin apa aja," kataku.
"Aku, nggak akan pernah nyuruh-nyuruh kamu ini itu, nuntut kamu gini lah gitu lah, dan aku juga gak akan ngusik kamu, haaah........aku gak akan pernah nglarang-nglarang kamu lagi, sekarang?? Genggaman itu hilang, aku yang melepaskan, biarkan dia mencari bahagianya sendiri," kataku dengan air mata yang terus menetes di pipi.
"Aku dengan egoku, dan kamu dengan egomu, yah itu kita," kataku.
"Tapi kamu nggak perlu khawatir kok, aku akan tetep ngejalanin kewajibanku sebagai istrimu, dan kamu?? Terserah, apakah kamu masih ingin, atau kamu sudah muak," kataku yang sangat-sangat berat ku ucapkan.
"Aku hanya bisa bicara sepanjang ini untuk kali ini saja, jangan menyesal, jika nanti tiba-tiba hatiku sudah terlanjur terluka dan sangattttt dalam lukanya, akan sulit untuk di sembuhkan, malam ini, cuman ini yang bisa aku katakan sama kamu, selebihnya, itu urusanku, kamu jangan menuntutku,"
"Dan jika aku sudah melepaskan, akan sangattttt sulit untuk kuraih kembali, untuk ku peluk kembali, dan untuk bersama hatiku kembali, karena cukup sakit jika aku meraihnya kembali apalagi memeluknya," kataku.
"Karena sebenarnya, jika hatiku sudah terluka teramat dalam, siapapun itu, bahkan orang yang paling aku cintai sekalipun, gak akan bisa menyembuhkan nya, jadi kamu jangan menyesal," kataku untuk terakhir kalinya pada Naufal.
Hatiku sangat sesak, dengan aku bicara panjang lebar, Naufal juga tak kunjung mengeluarkan kata-kata nya.
Sesampainya di Rumah, aku turun dari mobil Naufal, dan Naufal melajukan mobilnya kembali untuk meninggalkanku.
Aku langsung berlari masuk ke dalam kamar, menangis, menangis dan menangis. Itu yang saat ini aku lakukan.
Sedangkan Naufal.
//////////.
Naufal keluar dengan Pak Bastian.
Setelah Naufal menjemput Pak Bastian, di dalam mobil Pak Bastian cerita pada Naufal.
"Fal, Lo gak tengkar sama Gia?" tanyanya.
"Kenapa Bastian tanya gitu, hari ini kan dia gak ketemu sama sekali sama Gue sama Gia," gerutu dalam hati Naufal.
"Agheem, kok Lo tanyanya gitu," ucap Naufal.
"Ya Gue khawatir, kan semalem Gue di samperin sama Kevin atau siapa lah itu, herannya dia kok tau alamat Gue," ucap Pak Bastian dengan santai.
"Loh!!!! Bentar bentar, ngapain Kevin ke rumah Lo?" tanya Pak Bastian.
"Loh, jadi Lo nggak tau, kalo Gue yang nganterin mobil Gia ke rumah Lo semalem," ucap Pak Bastian.
"Iissh gimana sih Bas maksud Lo, Gue nggak paham," ucapnya.
"Lo beneran gak tau??" tanya Pak Bastian.
"Enggak," jawab Naufal.
"Sama sekali?" tanya Pak Bastian lagi.
"Sama sekali Bas, sumpah," jawab Naufal.
"Jadi gini nih Fal, tengah malem Kevin nyamperin Gue sama bawa mobil Gia, Gue kaget banget kan, lagian Gue juga gak kenal sama dia, tapi dia tau Gue, terus bilang sama Gue, Mas ini saya titip mobil Gia ya, gitu katanya," cerita Pak Bastian.
"Ya Gue kaget dong, kok bisa mobil Gia lagi sama Kevin, terus Gue nanya, loh kok bisa?? gitu kan, terus dia cerita sama Gue, kalo semalem kan hujan deres banget tuh, dia ngelihat Gia di godain sama dua orang bekal, udah di tarik-tarik tuh Fal tangan Gia sama tukang begalnya, Gia nangis kan tuh, terus Kevin ini nolongin Gia, mobilnya di calling in mekanik terus Gia nya di anter pulang, gitu," kata Pak Bastian.
"Terus, Kevin gak mau ada masalah lagi, jadi mobilnya di titipin Gue, terus langsung Gue anter ke rumah Lo," kata Pak Bastian.
Pak Bastian melihat Naufal dengan pandangan yang berbeda kali ini.
"Fal, Lo beneran gak tau?? Gia gak ada sama sekali bilang sama kamu," tanyanya yang di acuhkan oleh Naufal.
"Ya Allah, Astagfirullah, ternyata gitu ceritanya, ya ampun Gia......," kata Naufal dalam hati.
"Aku sudah menyakitimu berulang kali Gi," gumam dalam hati Naufal.
Naufal yang mendengar cerita itu dan langsung membelokkan mobilnya untuk pulang.
"Loh loh loh Fal, kok balik?" tanya Pak Bastian.
"Darurat Bas, ini penting!!!!" ucap Naufal.
"Aaaaaiiisshhh, ketebak kan, Lo marahan sama Gia," kata Pak Bastian.
"Pasti Lo gak tau apa yang sebenarnya terjadi," kata Pak Bastian.
Naufal melajukan mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi.
Sampai-sampai Pak Bastian melongo melihat Naufal sepanik ini.
__ADS_1