
***(di Rumah Sakit)
Sesampainya di Rumah Sakit.
Tepat di depan mobil Naufal adalah mobil Pak Bastian.
Mobil kami terparkir bersebelahan.
Aku dan Naufal segera keluar dari mobil.
Pip....pip
"Widih, yang mau nikah," ejek Naufal pada Pak Bastian.
Baru kali ini aku melihat Pak Bastian salah tingkah.
"Apaan sih Lo, masih pagi juga," tepis Pak Bastian.
Kami berjalan bertiga masuk menyusuri lorong.
"Harus dateng Lo nanti sama Gia," kata Pak Bastian.
"Iya gampang, malem kan?" tanya Naufal.
"Iya lah, kan paginya kita kerja," jawab Pak Bastian.
"Lo punya berita bagus, Gue juga punya berita gak kalah bagusnya sama Lo," kata Naufal.
Langkah Pak Bastian terhenti dan aku mengikutinya.
"Apa??!! Lo kan udah nikah, berita apa lagi?? Jangan jangan," kata Pak Bastian langsung di tepis Naufal.
"Gak usah suudzon Lo," kata Naufal.
"Terus apa??" tanya Pak Bastian yang semakin penasaran.
"Gue, mau jadi Papa," bisik Naufal di telinga Pak Bastian.
"Apa??!! Serius Lo!!!" ucap Pak Bastian yang histeris.
"Emangnya wajah Gue kelihatan bohong??" tanya Naufal sambil mengarahkan wajahnya di depan Pak Bastian.
Aku hanya diam melihat tingkah mereka.
"Yaa....enggak sih, beneran Lo??? Ini serius Fal??" tanya Pak Bastian lagi sambil mengangkat kedua alisnya.
"Gi ini beneran Gi, suami kamu gak lagi bohong kan?" tanyanya padaku.
"Eeemmm iya," jawabku malu-malu.
"Weeeeehhh....," sorak Pak Bastian sambil lengsung memeluk Naufal dengan girang.
Seseorang yang melewati lorong itu terpaku melihat tingkah Pak Bastian yang kegirangan.
"Bas Bas, jaga image Bas, ini di Rumah Sakit," ucap Naufal lirih.
Pak Bastian menghentikan aksinya.
"Wuhuhuuyyy, bentar lagi Gue punya keponakan dong Fal," kata Pak Bastian.
Naufal kembali merapikan jas dokternya.
"Tapi ya gak gitu juga Bas, di lihatin orang-orang tau, masak jeruk makan jeruk," kata Naufal sambil menggigit kedua giginya.
"Hehehehe, ya maaf Fal, kesenengan Gue, jadi kelepasan, Hahhai," kata Pak Bastian sambil menggaruk-garuk tengkuknya.
Pak Bastian mengarahkan mulutnya pada telinga Naufal.
"Sejak kapan Gia hamilnya?" tanya Pak Bastian sambil menyelipkan kedua tangannya di saku celananya.
"Kemaren baru ketauan, baru 3 minggu," jawab Naufal.
"Seneng Gue Fal, Lo kan udah nunggu lama," bisik Pak Bastian.
"Hust," tepis Naufal.
"Agheemm, udah udah kerja, Sayang aku ke ruanganku ya," pamit Naufal.
"Iya Mas," kataku lalu berjalan meninggalkan mereka.
Setelah jarakku agak menjauh dari Naufal dan Pak Bastian, mereka berjalan pelan di belakangku.
"Lo jangan bilang gitu Bas, kasihan nanti Gia," tutur Naufal.
"Bisik bisik tadi Fal," ucapnya.
"Bener sih Gue berharap dari dulu Bas, tapi ya balik lagi harus sabar Bas, Gia sebenarnya mungkin juga berharap banget, tapi gimana lagi?? Di kasihnya sekarang," ujar Naufal.
"Gue ikut seneng banget Bas," kata Pak Bastian sambil menepuk lengan Naufal.
Naufal segera masuk dalam ruangannya.
Sedangkan aku sudah fokus akan memeriksa para pasien.
Aku dihampiri oleh pasien hamil yang pernah ku operasi.
Aku kaget saat bertemu di depan ruanganku.
"Bu Lia," panggilku yang kaget menatapnya.
"Dokter Gia," panggilnya sambil menangis histeris di depanku.
Bu Lia jatuh berlutut di kaki ku.
"Terima kasih Dok, huhuhuhuhu," kata Bu Lia.
Aku memaksa mengangkatnya untuk berdiri.
"kok Bu Lia kesini?? Apa beliau tau semuanya," gummaku dalam hati.
"Bu Lia, Bu, saya mohon Ibu jangan berlutut seperti ini," tuturku.
Bu Lia berdiri lemas di depanku.
"Saya sangat berterima kasih Dok, Dokter yang sudah membiayai biaya operasi saya dan suami saya," ucapnya sambil menyalami tanganku.
"Kok Bu Lia tau??" ucapku dalam hati.
"Bentar bentar, Bu Lia tau dari mana?" tanyaku.
"Saya....saya tau dari administrasi Dok, tapi....saya yang memaksa mereka, saya menunggu setiap hari sampai saya di kasih tau siapa yang telah membiayai saya," ucapnya sambil masih tetap menangis.
"Dokter jangan memarahi mereka, Saya yang memaksa mereka Dok," ucap permohonannya.
"Ibu tenang ya, saya tidak akan memarahi mereka," kataku.
"Saya boleh memeluk Dokter?" tanyanya dengan isak tangisnya.
Tanpa menjawab, aku langsung memeluk beliau.
Bu Lia menangis di pundakku, memelukku erat.
"Saya sungguh berterima kasih sama Dokter, saya tidak tau harus membalasnya dengan apa," ucapnya.
"Bu, saya membantu Ibu dengan ikhlas, ini memang sudah rejeki Ibu," tuturku.
Bu Lia melepas pelukannya.
"Saya bersedia melakukan apapun untuk Dokter," paksanya.
"Bu, saya ikhlas, saya benar-benar ikhlas," ucapku.
"Ya Allah, huhuhuhuhu, Masya'Allah, terima kasih Ya Allah," ucapnya.
"Saya hanya meminta pada Ibu, doakan saya ya, semoga kandungan saya sehat sampai nanti lahiran," kataku.
"Aamiin Ya Allah Aamiin, pasti saya doakan Dok, semoga Dokter di beri kesehatan, kebahagiaan," doa Bu Lia.
Aku terharu mendengarnya.
"Maaf Dok saya telah mengganggu waktunya," kata Bu Lia.
"Eeheemm, tidak papa Bu, tapi maaf sekarang saya harus segera menangani pasien saya, jadi tidak bisa berlama-lama dengan Ibu, lain waktu kita bisa kapanpun bertemu," kataku.
__ADS_1
Tangisan Bu Lia semakin menggila.
"Bu Lia jangan menangis lagi ya," tuturku sambil mengelus lengannya.
"Iya Dok, terima kasih sekali lagi Dok," kata Bu Lia.
"Sama-sama Bu, maaf banget ya Bu, saya harus pergi sekarang," kataku.
"Iii....iya Dok," jawabnya.
Aku terpaksa meninggalkan Bu Lia dan berjalan menuju ruang periksa.
.
.
.
.
.
Ternyata sedari tadi Naufal mengikutiku dari belakang.
"Gi.....Gia," panggilnya dari belakang.
Aku berbalik menghadapnya.
"Ada apa?" tanyaku.
"Kamu tadi sama siapa?" tanya Naufal.
"Sama siapa?" tanyaku balik.
"Tadi di depan ruangan kamu," ucapnya.
"Oh itu tadi, tapi maaf banget ya Mas, ini cerita nya panjang banget, tapi gak bisa aku ceritain sekarang, ya?" kataku.
"Ya udah iya, tapi nanti kamu harus cerita," ucapnya.
"Iya iya Mas," kataku lalu masuk ke ruang periksa.
.
.
.
.
.
***(Di Ruang Periksa)
"Pagi," sapaku pada semua pasien.
"Pagi Dokter Gia," jawab mereka serentak.
Ku periksa satu per satu dari mereka, aku senang melihat pasien-pasienku yang wajah nya agak lebih sumringah dari biasanya meskipun mereka tau masing-masing penyakit yang mereka derita.
Tak hanya itu, beberapa kamar ku masuki untuk memastikan keadaan pasienku.
.
.
.
.
Setelah selesai aku berjalan melewati bagian Administrasi.
Salah satu petugas admin memanggilku.
"Dokter Gia," panggilnya.
Aku menoleh lalu menghampirinya.
"Dok, tadi Bu Lia menemui Dokter?" tanyanya.
"Iya," jawabku.
"Dok maaf banget ya, saya tidak bermaksud apa-apa, dari kemaren Bu Lia memaksa saya, menunggu disini terus Dok, saya tidak tega melihanya, akhirnya saya beri tau pada Bu Lia bahwa yang membiayai semuanya adalah Dokter," kata Petugas admin itu dengan rasa bersalah.
"Eeeeemmm....iya gak papa, saya ngerti, tadi Bu Lia juga sudah bilang sama saya," kataku.
"Dokter jangan marah sama saya," ucapnya sambil mengernyitkan kedua alisnya dan tangannya memohon padaku.
"Hehehem, enggak, say tidak akan marah," kataku sambil tersenyum padanya.
"Saya benar-benar merasa tidak enaks sama Dokter, karena dulu saya sudah menyanggupi bahwa tidak akan memberitahukan pada siapapun," ucapnya.
"Hehehm, udah gak papa," kataku.
"Maaf ya Dok, saya benar-benar minta maaf," ucapnya.
"Gak papa, ya udah kalo gitu saya ke mushola dulu ya," ucapku.
"Silahkan Dok," kata Petugas Admin itu.
Aku berjalan menuju mushola untuk sholat dhuhur.
***(Di Mushola)
Aku melihat Naufal yang tengah melepas kaos kaki nya.
Sepertinya dia tidak melihatku, karena ia sedang asik berbicara dengan Pak Bastian yang duduk di sampingnya.
"Hehehehm," senyum ku dalam hati.
"Kenapa setiap aku melihat Naufal, semakin aku jatuh hati padanya, dan semakin aku terpanah melihatnya," gumamku dalam hati yang melamun melihatnya.
"Astagfirullah, apa-apa an sih aku ini, sadar Gi sadar, ini di mushola, ayo sholat," kataku dalam hati yang tersadar dari lamunan.
Segera aku masuk ke mushola dan mengambila air wudhu lalu melaksanakan sholat dhuhur.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, selesai sholat, aku kembali berjalan untuk melanjutkan tugasku.
Hari sudah semakin sore, waktunya aku dan Naufal untuk pulang.
***(Di Ruang Kerjaku)
Ku bereskan semua berkas yang menumpuk di mejaku, ku tutup laptop lalu ku simpan di laci.
Aku mengirim pesan pada Naufal.
"Mas, aku tunggu di parkiran ya," pesanku pada Naufal.
Setelah selesai berberes, aku langsung berjalan menuju parkiran.
Di tengah perjalanan, aku bertemu dengan Dokter Irene.
Sesekali beliau menyapaku, ku balas tersenyum padanya.
***(Di Parkiran)
Aku menunggu Naufal di samping mobilnya.
Ku lihat Naufal sedang berjalan bersama Pak Bastian.
Dari jauh mereka sudah melihatku.
"Udah di tungguin Fal," ejek Pak Bastian.
"Gak ikut Gue Bas?" tawaran Naufal pada Pak Bastian.
"Kemana?" tanya Pak Bastian.
__ADS_1
"Ke Supermarket, belanja bulanan, hahah," jawab Naufal.
"Dasar Lo, gak ah, nanti dulu Gue, sama Susi," kata Pak Bastian.
"Idih udah bisa bilang kek gitu," ucap Naufal.
"Tapi nanti kalo udah halal," ucapnya.
"Ya udah Bas, Gue duluan ya," kata Naufal.
"Yoi," kata Pak Bastian.
Aku dan Naufal masuk ke dalam mobil, Naufal menancap gas mobilnya dan menyalakan klaksonnya untuk memberi isyarat pada Pak Bastian.
Mobil keluar dari lingkup Rumah Sakit.
Di perjalan Naufal menagih padaku tentang cerita tadi pagi.
"Sayang,"
"Hm?" Jawabku.
"Tadi kamu mau cerita apa??" ucap Naufal sambil fokus menyetir.
"Cerita Apa? Yang mana?" tanyaku.
"Yang tadi pagi loh, kamu di samperin sama ibu ibu di ruangan kamu," ucapnya.
"Oh itu tadi, itu Bu Lia Mas, Ibu hamil yang aku operasi dulu," jawabku.
"Ooohh yang kecelakaan itu Gi?" tanyanya lagi.
"Iya Mas," jawabku.
"Kok nyamperin kamu, emang kenapa??? Berlutu pula di depan kamu, tadi aku gak sengaja lihatin Gi," ucapnya.
"Iya Mas, padahal tadi aku udah maksa Ibunya berdiri, Bu Lia tau Mas kalo aku yang melunasi biaya operasinya," kataku.
"Tau dari mana?" tanya Naufal lagi yang semakin penasaran.
"Dari admin lah Mas," jawabku lagi.
"Kok bisa?" ucapnya sambil mengernyitkan kedua alisnya.
"Soalnya Ibu nya itu maksa-maksa Mas katanya, Ibu nya tadi juga jelasin ke aku kok, udah lah Mas gak papa, kan semua yang terjadi udah takdir kata kamu, lagian kita juga gak bakal bisa nyembunyiin rahasia, ujung-ujungnya pasti ketauan kan," kataku.
"Iya Sayang, bener kamu, aku juga gak bisa lama-lama nyembunyiin perasaan aku dari kamu," kata Naufal.
"Hmmm kan, bahas apa, jawabnya apa, Astagfirullah," kataku mengelus dada.
"Hehhee, emang gitu kok kenyataannya, kamu juga gak bisa kan lama-lama nyembunyiin rasa cemburu kamu kalo aku dulu masih ada rasa sama Vela," ejeknya.
"Apa sih, Biasa aja kali," kataku.
"Heheheh, kamu gitu Sayang, malu-malu," kata Naufal.
Di tengah perjalanan menuju Supermarket, tak lupa kami menyempatkan untuk sholat ashar terlebih dahulu.
Kami berhenti di mushola tepat di pinggir jalan.
Setelah mobil menepi, kami segera turun dan masuk ke mushola untuk mengambila air wudhu, lalu melaksanakan sholat berjamaah.
Setelah selesai sholat, kami kembali ke dalam mobil, dan melanjutkan perjalanan kembali.
"Huuumms seger banget habis wudhu," ucap Naufal.
"Lebih seger lagi lihatin kamu sehabis wudhu, ademmm banget," ucapnya yang membuat pipiku memerah.
"Apa sih, gombal terus gak pernah serius," ejekku ganti.
"Haduuuh Ya Allah Sayang, kurang serius gimana aku sama kamu, kurang buktinya?" tanya Naufal.
"Becanda Mas, baperan sih kamu," kataku.
Tak lama kemudian kami sampai di supermarket.
***(Di Supermarket)
Kami sedang mengantri untuk parkir mobil, antrian sangat panjang.
Hampir 20 menit kami mengantri, akhirnya mobil berhasil terparkir.
Kami berjalan masuk ke dalam Supermarket.
Naufal mengambil troli.
Kami berjalan berdua memilih-milih barang bulanan kami.
"Sayang, jangan lupa susu buat kamu," ucapnya.
"Iya Mas," jawabku.
"Sayang, ke buah-buah dulu," ajaknya.
Aku menuruti apa yang dimintanya.
Naufal memilih berbagai macam buah yang hampir memenuhi troli kami.
"Udah Sayang, kesana," ajaknya lagi untuk berpindah ke jajaran beef.
Ku ambil sayur mayur dan berbagai macam selai.
"Mas jalan sini," ucapku sambil membelokkan trolinya.
Ku ambil bahan-bahan untuk membuat sandwich.
"Banyak banget Sayang," ucapnya.
"Iya kan sekalian buat sandwich kesukaan kamu," kataku.
Naufal terdiam dan agak canggung.
"Nggak.....nggak usah Sayang, lagian kan sekarang aku jarang banget udah lama gak makan sandwich," kata Naufal.
"Udah gak papa Mas, kali aja Bi Sarah sama yang lain mau," kataku tidak menoleh padanya.
Naufal menghentikan tanganku yang terus mengambil bahan buat sandwich.
"Sayang, udah dikit aja, aku gak mau makan sandwich," ucapnya.
Aku terharu mendengar ucapan Naufal.
"Udah, ya," ucapnya.
Aku menarik tanganku dari genggamannya.
"Aku tidak akan makan sandwich di depanmu lagi Gi," gumam dalam hati Naufal sambil memperhatikan ku yang berjalan di depannya.
Aku berhenti untuk mengambil susu ibu hamil untuk ku sendiri.
"Yang mana Mas?" tanyaku dengan polos pada Naufal.
"Ya kamu aja sukanya yang mana Sayang," jawabnya.
Aku sama sekali tidak tau menahu tentang hal ini apalagi Naufal.
Ku ambil 5 dus susu untuk ku.
"Punya kamu?" tanyaku.
"Ha?? Maksud kamu?" tanya Naufal.
"Susu buat kamu," ucapku.
"Sebelah sana Sayang, ini kan khusus untuk ibu hamil," ucap Naufal.
Kami berjalan lurus.
Saat aku berjalan kembali, dari arah depan ada seseorang yang tengah menabrakku.
Buuukkkk....
Bersambung...
__ADS_1