Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 150 (Pulang)


__ADS_3

Malamnya, sebenarnya aku tak ingin pulang dan tetap ingin menemani Papaku, tapi aku ingat bahwa sekarang aku hak suamiku bukan Papaku lagi.


Aku duduk di samping Papaku.


“Pa, sebenarnya Gia tidak ingin pulang, Gia ingin nemenin


Papa disini sampe Papa pulang,” kataku.


“Papa mungkin besok atau lusa sudah pulang, Gia jangan


khawatir, kasihan kan suami kamu, Gia pulang ya, sekarang kan kamu milik suami kamu Nak, jadi utamakan dia, dia pasanganmu, teman surgamu, ya,” bujuk Papaku.


“Kamu sangat beruntung mendapatkan suami yang sangat sabar seperti Naufal, meskipun suami kamu sabar jangan pernah kamu memanfaatkan itu, ya,” katak Papaku sambil meraih kedua pipiku.


Aku sangat berat meninggalkan Papa, tapi bagaimana pun juga, Naufal suamiku, dan Papa adalah Papaku, dua pria yang sangat aku cintai.


“Ya udah Pa, malam ini Gia akan pulang,” kataku.


“Papa pasti baik-baik aja Nak, udah jangan terlalu mikir


yang enggak-enggak ya,” tutur Papaku.


“Iya Pa,” jawabku.


“Pa pengen bicara sama suami kamu, mana suami kamu?” tanya Papaku.


“Gia panggilin ya Pa,” jawabku.


Aku berdiri dan memanggil Naufal.


“Mas, Papa pengen ngomong sama kamu,” kataku.


Naufal langsung masuk ke kamar Papa.


“Sini duduk,” kata Papaku.


Naufal duduk sambil menghadap Papa.


“Fal, maafkan sikap anak saya ya,” ucap Papaku.


“Maaf, maaf kenapa ya Pa?” tanya Naufal sambil menaikkan


satu alisnya.


“Maafkan sikap anak saya yang terlalu mengkhawatirkan saya, meskipun kamu memaklumi dan menganggap hal ini adalah hal yang wajar, tapi bagaimanapun juga kamu suaminya, dia hak kamu,” jawab Papaku.


“Hehem, enggak Pa, Naufal nggak papa,” jawab Naufal.


“Tidak Nak, untuk sekarang pasti kamu menganggapnya maklmum dan wajar tapi suatau saat, pasti akan menimbulkan hal buruk, masalah yang tidak baik, itu pasti, tapi Papa berharap, jangan sampai ya Nak, maafkan Gia anak Papa,” kata Papaku.


“Iya Pa Naufal ngerti, memang Gia sangat mencintai Papa,


jadi saya memakluminya,” ucap Naufal.


“Intinya, malam ini bawa Gia pulang ya Nak, ajak dia,” kata


Papaku.


“Tapi Pa,” kata Naufal terpotong oleh Papaku.


“Husst….lakukan ini untuk Papa, Gia sekarang untukmu, ajak


dia pulang, Papa mohon, jika kamu yang mengajaknya, pasti dia tidak akan menolaknya, bawa dia bersamamu untuk pulang Nak,” tutur Papaku.


“Iiii….iya Pa,” jawab Naufal gugup.


Banyak cerita Papa yang beliau ceritakan pada Naufal.


Hingga hari semakin malam, tepat setelah adzan isya’, Naufal


mengajakku untuk pulang.


“Gi, malam ini kita pulang ya,” kata Naufal yang duduk di


sampingku.


Aku hanya menatapnya, dan kedua mataku berkaca-kaca.


“Iya Mas,” jawabku.


“Nak, kita pulang ya,” ucapku pada Abay.


“Kok pulang Ma?? Abay kan pengen nemenin Kakek disini,”


jawab Abay.


“Besok kan Abay harus sekolah, dan Mama juga harus kerja,” kataku.


Akhirnya Abay pun menurut padaku. Kami pun berpamitan pulang pada Mama, Papa dan Johan.


“Pa, Ma, Gia pulang ya,” kataku.


“Iya Nak,” jawab Mamaku.


Aku berusaha kuat di depan Papa, dan tak ingin menangis di


depan Papa.


“Papa harus sembuh ya, biar cepet pulang,” kataku sambil


mengelus lengan Papa.


Papa hanya tersenyum dan mengangguk padaku.


“Jagain Papa ya Dek,” pesanku pada Johan.


“Iya Kak,” jawab Johan.


“Salim dulu Nak,” tuturku pada Abay.


Kami pun bersalaman pada Mama, Papa dan Johan.


“Cepat sembuh Pa,” kata Naufal.


"Cepat sembuh Kakek," kata Abay.


Sesekali Papa mencium kening Abay.


“Assalamu’alaikum,” salamku dan Naufal.


“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka.


Kami berjalan keluar dari kamar Papa untuk menuju lift ke


lantai dasar.


Aku hanya diam di sepanjang berjalan hingga masuk dalam


mobil.


Naufal menancap gas mobilnya dengan pelan.


Aku membuang pandanganku ke arah luar jendela, air mataku


terus menetes karena memang sangat berat meninggalkan Papa.


.


.


.


.

__ADS_1


.


2 jam sudah kami dalam perjalanan, Abay tertidur sendiri di


kursi belakang.


“Gia dari tadi diam terus, apa dia marah ya sama aku karena aku mengajaknya pulang,” gumam dalam hati Naufal yang gelisah.


Sedangkan aku juga merasakan hal yang sama seperti yang


dirasakan Naufal sekarang.


“Naufal kenapa nggak ngajak aku ngomong?? Apa dia cemburu


atau marah padaku saat aku lebih mengutamakan Papa di banding dia,” gumamku dalam hati.


“Ya Allah maafkan aku, aku merasa berdosa telah mengabaikan suamiku, maafkan aku Mas,” kataku dalam hati.


Aku hanya mampu menangis dan meremas-remas kain gamisku


karena merasa kesal dengan diriku sendiri, aku pun memberanikan diri untuk meminta maaf pada Naufal.


“Mas,”


“Sayang,” panggilku yang bersamaan dengan Naufal.


“Eeemm….ya udah kamu ngomong dulua aja, aghem,” kata Naufal.


“Enggak Mas, kamu aja dulu,” bantahku.


“Sayang….udah kamu dulu,” paka Naufal.


“Kamu duluan Mas nggak papa,” tepisku yang semakin deg-deg


an.


“Gia, kamu dulu ya, nurut sama suami, ya, ayo kamu mau


bilang apa sama aku,” ucap Naufal sangat lembut.


Ku telan saliva ku terlebih dahulu, bibirku tiba-tiba gemetar saat ingin mengatakan semuanya pada Naufal.


Aku malam menangis dan menutup wajahku dengan kedua


tanganku.


“Huhuhuhuhu,” tangisku.


“Loh kok malah nangis?? Kamu kenapa?? Kamu pengen ngomong apa sama aku, Sayang ngomong aja,” kata Naufal sambil mengelus lenganku.


“Huhuhuhu, maafin aku Mas, setiap hari aku selalu berusaha


menjadi istri yang baik bahkan lebih baik buat kamu, tapi untuk hari ini, aku lebih mengutamakan Papa di banding kamu, huhuhu, maafkan aku Mas, aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu, kamu pasti sangat kecewa kan sama aku,” kataku.


“Loh loh loh, kok gitu, Sayang hey hey dengerin aku, kamu jangan nangis,” tutur Naufal.


“Maafin aku Mas, maaf, aku benar-benar minta maaf, aku


sangat panik Mas, aku khawatir sama Papa, huhuhu,” ucapku dengan terbata-bata karena menangis.


“Sayang….huusst…Sayang, nggak gitu, hey gini loh, aku


jelasin ya sama kamu, aku nggak kecewa sama kamu, enggak, kamu jangan merasa bersalah sama aku, memang kamu sudah hak ku, tapi kan Papa adalah Papa kamu, aku memakluminya Sayang,” jawab Naufal.


“Nggak Mas, kamu bohong sama aku, kamu nggak mungkin semudah itu menganggap bahwa aku sama sekali tidak bersalah padamu, jelas-jelas aku salah Mas, maafkan aku, aku tau Mas, huhuhu,” ucapku.


“Huuustt, kamu tenang,” tutur Naufal sambil mengelus-elus


kepalaku.


“Bagi sebagian orang menganggap hal ini kurang baik, memang


sebenarnya kurang baik, tapi kan kamu nggak keterlaluan Sayang, selama 10 tahun lebih kamu sama aku, setiap waktu sama aku, bahkan dari awal kita berumah tangga, kamu nggak pernah minta sama aku buat pengen pulang dengan alasan kamu kangen sama Papa kamu, kangen sama Mama kamu, 10 tahun lebih kamu tinggal sama aku, bahkan jauh dari Mama dan Papa kamu, padahal awal kita jalani rumah tangga ini nggak mudah Gi, apalagi buat kamu, pasti sangat berat karena aku dulu belum mencintaimu, tapi sedikitpun kamu tidak pernah mengadu semua kesalmu padaku ke Papa dan Mama kamu kan, wajar Sayang wajar, bagi aku, selama kamu menjadi istri aku, kamu nggak pernah sekalipun berbuat seenaknya sendiri padaku, kamu sudah lebih dan lebih dari sosok istri yang pernah aku harapkan, jadi kamu jangan pernah merasa bersalah sama aku,” kata Naufal.


baju aku, setrika baju aku, beresin kamar kita, bersihin apa segala macem meskipun ada Bi Sarah di rumah tapi kamu nggak leha-leha, kamu nggak enak-enak an, itu udah lebih dari cukup buat aku Sayang, ya, apalagi setelah beberapa bulan kita menikah, kamu tidak memperbolehkan siapapun meyentuh baju aku, kamu yang mencucinya sendiri, meskipun ada laundry, kamu yang setrika dan lainnya, itu kamu,” sambung Naufal.


“Tapi Mas….aku tetap salah,” kataku.


“Nggak ada yang salah ataupun benar Sayang,” sanggah Naufal.


“Maafkan aku ya Mas, pasti aku akan lebih menjaga perasaan


kamu lagi, kamu suamiku,” ucapku.


“Jangan nangis lagi ya,” tutur Naufal sambil meraih


tanganku.


“Tadi kamu mau bilang apa sama aku?” tanyaku malu-malu sambil mengusap air mataku.


“Enggak, nggak jadi Sayang,” jawabnya.


“Harus jadi Mas, jangan gitu,” rengekku.


“Iya iya, tadi aku mau nanya sama kamu, aku kira kamu marah


gara-gara aku ajak pulang,” jawab Naufal.


“Eehh ternyata malah kamu yang ngira aku marah,” sambung


Naufal.


“Kan aku takut Mas, soalnya waktu kamu pas dateng ke kamar Papa kan aku sibuk nemenin Papa, maaf ya,” kataku.


“Nggak papa Sayang, udah,” jawab Naufal.


“Nggak boleh gitu Mas, kamu harus jawab maafin aku apa


nggak,” paksaku.


“Iya deh iya aku maafin kamu,” kata Naufal.


Aku merangkul lengan Naufal dan bersandar di pundaknya.


Naufal mencoba untuk mengerjaiku.


“Sayang, Abay bangun tuh, “ ucap Naufal.


Aku langsung menjingkat kaget dan langsung melepas pelukanku pada lengan Naufal karena malu jika dilihat Abay.


“Hahahahaha, nggak nggak Sayang, dia masih tidur kok,” kata


Naufal.


Aku menoleh ke belakang, dan ternyata Naufal hanya


mengerjaiku karena Abay ,asih tertidur.


“Aaaaaa…Mas Naufal, bilang aja kalo nggak boleh sandaran di


kamu,” kataku sambil mengernyitkan kedua alisku dan menciutkan bibirku.


“Enggak lah Sayang, enggak, kan aku becanda sama kamu, biar nggak terlalu mencekam banget,” kata Naufal.


“Ngambek nih,” goda Naufal.


Aku berusaha diam dan menahan senyumku pada Naufal.


“Jangan ngambek nanti nangis lagi,” ejek Naufal.


“Sini sini aku peluk lagi,” ucap Naufal sambil menarik dan


memelukku.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


Sesampainya di Rumah.


***(Di Rumah)


Kami turun dari mobil, dan langsung berjalan masuk ke Rumah.


Lagi-lagi Naufal menggendong Abay karena tak tega untuk


membangunkannya.


“Assalamu’alaikum,” ucap salamku.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Bi Sarah yang langsung berlari


menghampiriku.


“Mbak, gimana keadaan Bapak Mbak?” tanya Bi sarah.


“Alhamdulillah Bi, Papa hanya kecapek an saja,” jawab


Naufal.


“Iya Bi,” sahutku.


“Alhamdulillah Mbak kalo begitu, Bibi khawatir Mbak, cemas


di rumah,” kata Bi Sarah.


“Bibi tenang aja, Papa nggak papa kok Bi,” ucap Naufal.


“Kami istirahat dulu ya Bi,” kata Naufal.


“Oh enggeh Mas, monggo,” ucap Bi Sarah.


Kami berjalan menapaki anak tangga, wajahku belum bisa


sembuh total karena masih sedikit ingat dengan Papa.


***(Di Kamar)


Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Naufal


ada di kamar Abay.


Di dalam kamar mandi, aku kembali terpikirkan tentang Papa,


ku guyur wajahku dengan air dan melihat ke arah cermin.


.


.


.


Aku keluar dari kamar mandi menuju ruang ganti baju, Naufal


bergegas masuk ke kamar mandi.


Setelah ku ganti baju tidur, langsung ku rebahkan tubuhku di


atas ranjang.


Tak lama kemudian, Naufal mematikan lampu dan menyusulku.


“Sini deket deket, jangan jauh-jauh,” perintah Naufal sambil


menarik tubuhku agar lebih dekat dengannya.


Naufal mendekap tubuhku dan mengelus-elus rambutku.


“Sayang, aku boleh tanya sama kamu?” tanya Naufal.


“Apa?’ jawabku singkat.


“Memangnya Papa pernah sakit apa sampe kamu trauma?” tanya Naufal.


Saat mendengar pertanyaan dari Naufal yang seharusnya sudah ku lupakan, sekarang aku kembali ingat kejadian itu.


“Mama sama Papa minta buat aku lupain kejadian itu Mas, Mama minta sama aku buat nganggap bahwa hal itu tidak pernah terjadi pada Papa,” jawabku sambil merengek ingin menangis.


“Oh…eeemm….maaf Sayang, aku benar-benar ngagk tau,” kata Naufal.


“Dulu, nyawa Papa pernah hampir tidak tertolong Mas, dan aku melihat bagaimana Papaku merintih dan menahan rasa sakit di tubuhnya,” kataku.


“Udah Sayang, jangan di terusin, maafin aku ya,” ucap NAufal


yang merasa bersalah padaku.


“Mas, apa harus ya aku lupain semua itu, sedangkan selama


berpuluh tahun aku sudah memaksa dan berusaha untuk ngelupain dan menganggap hal itu tidak pernah terjadi Mas, tapi aku tidakbisa 100 persen melupakan semua itu, nggak mudah Mas,” ucapku.


“Meskipun Papa selalu bilang ama aku, lupakan semua hal yang


membuatmu sedih, tapi untuk kejadian itu, aku benar-benar sulit untuk nglupain Mas,” aku mengadu pada Naufal.


“Sayang, kata Papa benar, kata Mama juga benar, kamu harus ngelupain hal yang membuat kamu sedih dan anggap saja hal itu tidak pernah terjadi, buat apa kita harus mengingat-ingat hal yang menyakitkan untuk kita, kata kamu, hidup it uterus berjalan, jadi kamu jangan stuck di situ aja Sayang, aku tau kamu trauma, tapi kamu coba lah Sayang, semua ini kan juga demi kebaikan kamu, biar kamu nggak terlalu mengkhawatirkan Papa dan beranggapan bahwa kejadian itu akan terjadi lagi pada Papa, ya kamu anak baik selalu mengkhawatirkan keluarga kamu, tapi kan nggak selamanya kamu harus terjebak dalam trauma kamu,” tutur Naufal.


Aku hanya diam dan mendengarkan nasehat dari suamiku.


“Aku akan coba Mas,” jawabku.


“Maaf ya, aku jadi ngingetin kamu lagi tentang Papa,” ucap


Naufal sambil mengecup keningku.


“Berdoa saja semoga Papa cepat sembuh,” tutur Naufal.


“Setiap hari Mas, aku selalu berdoa buat kamu, buat Papa,


buat Mama, semua orang yang aku sayangi,” kataku.


“Sekarang kamu tidur ya, kamu pasti capek kan nemenin Papa


seharian, kata Pak Joko sepanjang perjalanan kamu juga nggak tidur,” ucap Naufal.


“Mata-mata kamu banyak banget ya Mas,” candaku.


“Loh iya dong Sayang, itu wajib buat keluarga aku, apalagi


istriku yang cengeng ini, di manapun pasti ada, kamu aja yang nggak tau,” ejek Naufal sambil menarik kedua bibirnya seperti bentuk bulan sabit.


“Mungkin juga Pak Bastian sama Pak Joko aja,” ejekku balik


dengan kedua mataku yang sudah terpejam.


“Kalo kamu mau buktiin, coba buktiin aja Sayang, dari pada


kamu nggak percaya kan,” kata Naufal.


“Hehe, iya iya aku percaya,” jawabku.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2