Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 183 (Air Minum)


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Naufal terus menggenggam tanganku.


Dan membuat iri hati Pak Bastian.


“Agghheeeemm, terusin Fal, terusin, bisa aja Lo, buat iri


temen,” sahut Pak Bastian.


“Kamu yang sabar ya Al, bentar lagi sah, hehehe,” canda Pak


Bastian.


Alvi hanya tersenyum pada Pak Bastian.


Sampainya di puncak, kami semua langsung turun dari mobil.


“Langsung tidur ya Sayang,” tutur Naufal sambil mengelus


kepalaku.


Aku hanya menganggukkan kepalaku saja.


“Saya duluan ya Dok, makasih atas traktirannya, hehe,” ucap


Alvi.


“Iya sama-sama Al, jangan kapok-kapok main sama kita ya,”


ucap Naufal.


“Iya Dok, permisi,” kata Alvi dengan sangat sopan.


Alvi pun meninggalkan kami.


“Mas kamu juga langsung tidur ya,” kataku.


“Iya Sayang,” jawab Naufal.


“Gi, aku enggak,” sahut Pak Bastian.


“Eeemmm maksud Bapak??” tanya ku dengan polos.


“Nggak disuruh tidur juga,” jawab Pak Bastian.


“Bas….Bas…dasar Lo, udah Sayang sana langsung tidur aja,


jangan peduliin Bastian, kalo pulang aduin ke Susi nanti,” ujar Naufal.


Aku hanya tersenyum pada mereka dan melangkah pergi.


***(Tenda Perempuan)


Ku cari-cari Si Suster ke sekelilingku, namun tidak ada dia


disana karena akum au minta tolong padanya untuk mengantarkanku ke belakang.


Aku tanya dengan Dokter yang ada di sebelahku.


“Dok, Suster Andini kemana ya?” tanyaku.


“Tadi kayaknya keluar Dok, tapi belum balik,” jawabnya.


“Ooo ya udah makasih,” kataku.


“Aduuuuh Si Susternya lagi nggak ada lagi, gimana dong??”


gerutuku dalam hati smabil merogo sabun dan sikat gigi di dalam koper.


Namun dengan terpaksa aku tetap ke belakang, karena memang aku sudah sangat kebelet juga.


“Bismillah, semoga nggak ada apa-apa,” kataku dalam hati


keluar dari belakang pintu tenda.


Disana sangat gelap, hanya bunyi jangkrik saja dari arah


manapun.


“Adduuh maju nggak ya,” kataku salam hati.


“Kalo aku ketemu poci (Pocong) atau Mbak Kun (Kuntilanak) gimana donggg….aaaaaa,” keluhku dalam hati.


Sesekali ku telan salivaku.


“Apa aku minta anterin Mas Naufal aja ya,” kataku.


“Aaarrghhh nggak mungkin,” kataku.


“Ya udah lah nggak papa, Bismillah,” ucapku sambil


melangkahkan kaki ku untuk menuju kamar mandi.


Setiap langkah aku selalu melantunkan sholawat dan juga ayat


kursi agar dijauhkan dari makhluk-mahkluk halus penunggu disini.


Sampainya disalam kamar mandi, setiap kali aku menggayung


air selalu sambil mendengarkan suara-suara di luar, karena aku takutjika ada suara-suara aneh.


Aku jadi tidak nyaman berlama-lama disini sendirian, ku


cepatkan gosok gigi dan cuci muka ku.


Setelah selesai, ku buka pintunya, dan langsung berlari


cepat masuk ke tenda dan tidak memperhatikan ke belakang.


“Huuuffttt…..Huuuffttt….serem banget,” gumamku dalam hati.


Dan Suster Andini pun nongol di depanku.


“Dokter Gia,” ucapnya.


“Astaghfirullah Suster, dari mana aja Sus, saya cariin


tadi,” kataku.


“Saya keluar ke kota tadi Dok, baru pulang,” jawabnya.


“Dokter ke kamar mandi sendirian?” tanyanya.


“Iya Sus, deg deg an Sus,” jawabku.


“Hehehe, ciyee Dokter Gia berani nih sekarang,” kata Suster


Andini.


“Bukan berani lagi Sus, terpaksa banget tadi, saya lari,”


kataku.


“Hehehehe, ya ampun Dok,” kata Suster.


“YA udah saya kesana, kamu mau ke kamar mandi kan,” tebakku.


“Iya Sus,” jawab Suster Andini.


Aku kembali ke ranjanganku dan melepas kerudungku lalu ku


rebahkan tubuhku ke ranjang.


Tiba-iba Dokter Irene datang menemuiku.


“Dokter Gia, kamu udah mau tidur?” tanyanya.


“Ooooh….eng….enggak kok enggak,” jawabku sambil bangun dari


ranjang dan kembali duduk.


“Aku mau cerita Dok, hehehe, curhat,” ucapnya.


“Ooh curhat ya, boleh Dok silahkan,” kataku.


Dokter Irene curhat padaku tentang suaminya, namun pada


akhirnya yang di curhatkan Dokter Irene adalah Alvi.


Deeeggg…..


Aku sangat kaget saat mendengar Dokter Irene yang terus


memuji-muji Alvi.


“Dia baik banget ya Dok, hehehem, kemaren aja saya di


tolongin saat kaki saya lecet pake wedges, itu untuk pertama kalinya kita ketemu Dok,” ucap Dokter Irene.

__ADS_1


Padahal Dokter Irene ini sudah mempunyai suami tapi tetap


saja memuji-muji pria lain.


Aku hanya mendengarkan saja curhatan Dokter Irene yang


katanya mencintai suaminya.


“Andai ya Dok, saya bisa dapat suami seperti dia,” kata


Dokter Irene.


“Hehehem, mungkin bukan jodoh kali Dok,” kataku.


“Iya sih, kenapa ya…..aku nggak ketemu sama dia aja dulu,”


ucap dokter Irene.


Apalagi sekarang Dokter Irene juga akan berpisah dengan


suaminya karena sudah tidak kuat dengan sauminya, padahal mereka sudah saling mencintai, namun suaminya tidak bisa untuk hidup dengan satu wanita saja, jadi Dokter Irene terpaksa melepaskannya meskipun beliau masih mencintai suaminya.


“Dokter pasti tau kan Dokter Alvi, temennya Dokter Naufal


juga kok,” ujarnya.


“Ooohh iya, saya……..saya kenal Dok,” kataku.


“Naufal bisa nggak ya deketin aku samadai,” ucap Dokter


Irene.


“Ha?? Tapi kan Alvi mau menikah,” kataku dalam hati.


“Eemmm…..tapi…..maaf ya Dok, kemaren Mas Naufal bilang


katanya Dokter Alvi sudah mau menikah,” kataku.


“HA??? Yang bener Gi??? Sumpah??” tanyanya dengan panik dan membulatkan kedua matanya.


“Iiii….iya Dok,” jawabku.


“Yaaaaahh, saya kalah lagi Dok, tapi beneran loh Dok,


kemaren dia nolongin saya tuh kelihatan peduli banget,” ujar Dokter Irene yang sedang kasmaran.


“Iya Dok, memang Dokter Alvi peduli dengan semua orang,”


kataku.


“Dokter tau dari mana??” tanya Dokter Irene.


Deeeggg…


“Aduh Gia, mulut kamu, pake keceplosan segala lagi,” gumamku dalam hati.


“Eemmm…..mmm….saya tau dari……soalnya kemaren kita keluar berempat, yah itu jadi saya tau nya dari situ Dok,” jawabku dengan gugup.


“Huufftt untung saja bisa jawab Gi,” ucapku dalam hati.


“Yaaah tapi kok dia udah mau nikah Dok, jadi saya sedih


dengernya,” keluh Dokter Irene.


“Memangnya rumah tangga Dokter Irene memang tidak bisa di


perbaik Dok, maaf Dok??” tanyaku.


“Hhuuummm, saya itu jiwa toleran nya tinggi banget sih Dok,


berkali-kali sih dia seperti itu, bahkan ciuman di depan saya pun saya biarkan, saya maafkan, tapi kan saya pikir-pikir setelah sadar nggak bakal bisa selamanya seperti ini, saya juga pengen punya keturunan,” jawab Dokter Irene.


“Saya sudah bilang sama dia juga dok, saya mencintai dia,


tapi saya suruh dia berubah, dan jawabannya, nggak bisa, dari pada saya terusin saya sakit, kesehatan saya juga sering terganggu, mending saya gugat saja, dan dia terima kok Dok,” sambungnya.


“Dan giliran sekarang saya nemuin pria yang tepat, eh malah


pria nya mau nihak, hehehem, nasib saya jelek banget ya Dok,” ucap Dokter Irene dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.


“Sabar Dok, nggak selamanya akan seperti ini, kalo Dokter


memang bener-bener mau berubah, Allah tidak akan mengubah nasib HambaNYA jika HambaNYA saja nggak mau berubah, hehehem,” tuturku pada Dokter Irene.


Pagi harinya, sangat pagi-pagi sekali, kami semua berkumpul


di depan tenda.


“Inia da apa sih Sus??” tanyaku.


“Ini itu hari terakhir Rumah Sakit Cempaka Husada bertugas


Dok, karena nanti sore relawan yang dari sana balik lagi kerja di kotanya,” jawab Suster Andini.


“Itu kan Rumah Sakit tempat kerja Alvi,” gumamku dalam hati.


“Kok cepet banget ya Sus, nggak lama kayak kita,” tanyaku.


“Kan mereka lebih dulu dari pada kita Dok, mereka udah lama


disini,” jawab Suster Andini.


“Oooh gitu ya,” kataku.


Kami disana berkumpul memang ada beberapa yang disampaikan dari ketua pengurus disana sekaligus memberikan kenang-kenangan atau cinderamata untuk Rumah Sakit Cempaka Husada.


Kebetulan yang menerima cinderamata itu adalah Alvi,kami semua bertepuk tangan untuk dia.


Dokter Irene langsung bergeser mendekatiku.


“Sayang ya Dok, pria nya sudah mau pergi,” kata Dokter


Irene.


“Hehem, iya Dok,” jawabku.


Mata Dokter Irene terus saja memperhatikan Alvi.


Suster Andini menyenggol-nyenggol lenganku.


Dokter Irene sampai-sampai tidak berkedip melihat Alvi.


Setelah acara pagi selesai,kami semua langsung menuju puncak seperti biasanya.


“Dok, Dokter Irene naksir ya sama Dokter tadi yang maju??"


tanya Suster Andini.


“Kurang tau Sus, kenapa memangnya?” tanyaku balik.


“Tadi di lihatin terus soalnya Dok, padahal Dokter Irene


udah punya suami loh, masih aja lirik-lirik orang lain,” gumam Suster Andini.


“Hehehe, Ya Allah sus, kok Suster yang jengkel sih,


jangan-jangan Suster cemburu ya…” tebakku.


“Bukan begitu Dok, apa Dokter Irene nggak kasihan sama


suaminya, uuuggghhh dasarya Dokter Irene tidak mensyukuri apa yang ada,” ucap Suster Andini.


“Huussttt, udah Sus nggak boleh gitu, kalo memang orangnya


seperti itu, mau gimana lagi, hehehem, biar Allah aja yang menilai, kita cuman lihat aja, kalo bisa ya dibilangi, di nasehati, di ajak, kalo nggak bisa ya sudah, yang penting sesama orang islam kita sudah mengingatkan,” tuturku.


“Wiiihhh pencerahan di pagi hari, hehehehe, bener Dok, bener


banget,” kata Suster Andini.


“Astagfirullah,” ucapnya.


“Tuh Dok, lihat, sekarang ajja, Dokter Irene jalan dempetan


sama Dokter tadi,” ujar Suster Andini sambil menunjukkan kea rah mereka.


“Mana?" tanyaku.


“Itu Dok, yang pake ransel kecil,” jawab Suster.


“Alvi sama Dokter Irene,” gumamku dalam hati.


“Kayaknya Dokter Irene beneran suka deh sama Alvi,” gerutuku dalam hati.


“Udah Sus biarin,” ucapku singkat dan tidak lagi


memperhatikan mereka.

__ADS_1


***(Di Puncak)


Seperti biasanya, tugas berhari-hari kami laksankan.


“Sus pasang infus Sus,” ucapku.


“Baik Dok,” jawabnya dan segera mengeluarkan infus set.


Aku melihat Ibu ini terbujur lemas, bibirnya sangat pucat,


dan denyut jantungnya tidak teratur.


Anaknya yang terus-terusan menangis di sampingnya,


mengingatkanku pada Abay.


“Sabatr ya Dek, Ibunya Insya’Allah baik-baik saja,” tuturku.


Anak itu agak sedikit tenang.


“Mungkin seperti ini cara Mama buat nenangin aku ketika Papa


opname, Mama selalu bilang bahwa Papa baik-baik saja, padahal keadaan Papa darurat, yaahh seperti yang ku lakukan pada anak ini, aku membujuknya seperti Mama membujukku,” ucapku dalam hati sambil mengelus anak itu.


Aku menoleh ke samping kiri, dan pandangannya malah Dokter


Irene dan Alvi yang sedang berdua.


“Sus, selesai pasang infus, kita pindah ke bagian sana ganti


ya,” ajakku.


Ku bawa tasku yang berisi berbagai alat kesehatan ke tempat


lain.


Adzan dhuhur berkumandang, kami semua segera mengambil air wudhu.


“Sayang,” panggil Naufal saat aku akan mengantri mengambil


air wudhu.


“Kenapa Mas?” tanyaku.


“Irene suka sama Alvi, minta di comblangin lewat aku,” ucap


Naufal.


“Ha?? Dokter Irene, padahal kan sudah aku bilang kalo Alvi


udah mau nikah,” gerutuku dalam hati.


“Terus kamu bilang gimana??” tanyaku.


“Ya aku bilangin, aku nggak bisa, soalnya Alvi udah ada


tunangan,” jawab Naufal.


“Lagian ngapain sih Irene masih kayak gitu, dia kan udah


punya suami,” ucap Naufal.


“Irene……Irene, aku kira udah berubah beneran, ternyata masih goyah aja, huuumm,” omelan Naufal.


“Kok kamu yang ngomel sih Mas,” ucapku.


“Yak an aku kira dia udah berubah temenan sama kamu, udah


lurus jalannya, eeeh malah belok lagi,” kata Naufal.


“Mas, kita memang bisa mengingatkan, tapi kita nggak bisa


jamin, cuman Allah yang bisa jamin,” ujarku.


Naufal langsung membelai pipiku.


“Subhanallah istriku, hehehehe,” ucap Naufal yang terus


mengelus pipiku.


Langsung ku Tarik tangannya dari pipiku.


“Mas….jangan gini ah, di lihatin orang, mesra-mesra an di


sini,” tepisku.


“Hehehehe, emang maunya diaman sih Sayang??” canda Naufal.


“Mas Naufal…..kok malah di terusin sih,” ucapku.


“Hehehe, enggak-enggak, ya udah sana gih wudhu,” tutur


Naufal.


Setelahnya sholat dhuhur berjamaah. Kami semuakembali


bekerja hingga fajar berada di ujung kulon.


“Uuughhhh akhirnya balik juga kita ke tenda,” ucapku sambil


duduk di kursi kayu dengan Suster Andini.


“mau minum Dok??” tanyanya.


“Boleh Sus,” jawabku.


“Bentar ya, saya ambilin Dok,” ucap Suster Andini.


“Iya Sus,” jawabku.


Aku menunggunya disana sendirian.


Dan tak lama kemudian, ada yang menaruh segelas air dingin


di smapingku.


“Alhamdulillah, kok cepet banget Sus,” ucapku sambil menoleh


ke sampingku, dan ternyata dia bukan Suster Andini, tapi dia adalah Alvi.


“Alvi, ngapain kamu disini?’ tanyaku.


“Sana sana pergi,” usirku.


“Untuk terakhir kalinya aku ketemu sama kamu Gi, ijinin aku


bentar aja buat ngomong sama kamu,” ucap Alvi.


“Nggak Al, aku nggak bisa,” kataku.


“Cuman bentar Gi, aku mohon, dengerin aku bentar,” kata


Alvi.


“Aku nggak bisa!!” tolakku.


Aku langsung berjalan kesal meninggalkannya.


“Kenapa sih Alvi harus muncul lagi,” gerutuku dalam hati.


“Dulu aku mencintai kamu Gi,” teriak Alvi.


Degggg……


Langkah kaki ku langsung berhenti kira-kira 5 meter dari


Alvi.


“Alvi cinta sama aku???” tanyaku dalam hati.


“Iya Gi, aku cinta sama kamu dulu, aku nggak sempat bilang


sama kamu, karena Papa kamu sudah bilang sama aku, bahwa kita nggak akan pernah bisa sama-sama,” ucap Alvi lagi.


Dalam hati aku menangis mendengar pengakuan Alvi.


“Aku nggak peduli Al!! Semua nya udah terlambat,” ucapku.


Mataku sedikit berkaca-kaca.


“Dan, jangan pernah kamu gangguin aku, aku udah bahagia sama Mas Naufal, aku.....bukan Gia yang dulu!!!!" kataku dan langsung meninggalkan dia pergi sendirian.


Dengan seluruh amarahku pada Alvi aku turun dari puncak.


Disana Suster Andini tidak bertemu denganku, malah bertemu dengan Alvi.


Dia juga bingung saat disana tidak ada aku.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2