Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 25 (Tegar)


__ADS_3

Tepat di depan pintu kamarnya yang terbuka, Dokter Naufal


melihat Gia yang sedang sedang duduk di lantai sambil memangku kotak hitam miliknya, Dokter Naufal tau bahwa Gia sedang menangis saat itu.


Dokter Naufal melangkah menghampiri Gia. Gia yang melihat


langkah Dokter Naufal langsung bergegas untuk berdiri dan memandang tajam mata Dokter Naufal dengan penuh amarahnya.


Gia berusaha menahan rasa kesal pada suaminya.


Gia sangat gugup, karena telah di ketahui oleh suaminya.


“Ak…aku minta maaf, aku gak bermaksud buat lancang sama privasi kamu,” ucap Gia terbata-bata sambil menangis terisak-isak.


“Gi, Gia ma..,” ucapan kata maaf Dokter Naufal dipotong oleh


Gia.


“Nggak papa, aku ngerti kamu,” bantah Gia.


“Aku bisa jelasin ke kamu Gi,” tutur Dokter Naufal.


“Udah, gak papa,” bantah Gia sambil tersenyum dan mengelus


lengan suaminya.


 Gia memberikan kotak hitam milik Dokter Naufal dan langsung pergi meninggalkan Dokter Naufal.


Gia mengambil tasnya. Lalu pergi membawa mobilnya untuk


menghampiri Susi. Kebetulan kos Susi dan rumah Dokter Naufal tidak jauh dan lumayan dekat karena rumah Dokter Naufal ternyata di kota yang sama seperti tempat koas Gia dulu. Tak lupa Gia berpamitan dengan suaminya via WA, karena sekarang Gia sudah tanggung jawab suaminya. Jadi Gia tidak bisa pergi seenaknya. Gia sangat menghargai suaminya.


***(di Kos Susi)


Sampai di kos Susi. Gia yang masih menangis sedari tadi


melihat Susi yang sedang menyapu depan kamar kosnya.


Gia menghampiri Susi.


“Si,” panggil Gia.


“Gia, tumben kamu kesini?” tanya Susi.


“Kamu masih cuti Si?” tanya Gia balik.


“Iya dong, kan buat nikahan mu kemaren, tapi aku besok udah


masuk lagi. Eh eh bentar mata kamu kenapa sembab?” tanya Susi.


“Aku mau cerita sama kamu,” rengek Gia.


“Ya udah ayo masuk ayo,” perintah Susi.


Gia duduk di sofa kamar Susi.


“kamu kan katanya pindah jadi tinggal ke rumah Dokter Naufal


Gi?” tanya Susi.


“Iya Si, tadi pagi baru nyampek, gak jauh kok dari kosmu


ini, kapan-kapan aku ajak kamu kesana,” jawab Gia.


“Ya udah sekarang kita bahas masalah kamu,” tutur Susi.


Gia menceritakan semua kejadian pagi tadi. Susi merasa


sangat kasihan sama Gia.


“Gi, ayo dong sekali-kali kamu keluar suara, biar dia agak


takut sama kamu Gi,” tutur Gia.


“Bukannya aku gak mau keluar suara Si, tapi aku belum siap


ngedengerin kisah dia di masa lalu,” ucap Gia.


“Sabar ya Gi,” ucap Susi sambil mengelus-elus pundak Gia.


“kamu harus kuat Gi, ada aku yang selalu ada buat kamu,”


tutur Gia.


Adzan dhhuhur berkumandangan, Gia dan Susi bergegas untuk


sholat.


Setelah sholat Gia memutuskan untuk pamit pulang saja,


karena merasa tak enak meninggalkan suaminya di rumah sendiri.


Di tengah perjalanan Gia melihat penjual seblak kesukaannya,


akhirnya Gia membeli 2 seblak, 1 untuk Gia dan 1 untuk suaminya.


Setelah membeli seblak Gia melanjutkan perjalanan pulang


lagi.


***(di Rumah)


Sampai di rumah, Gia membuka pintu rumahnya.


“Assalamu’alaikum,” salam Gia.


Naufal yang mendengar salam dari Gia langsung turun ke bawah untuk menemui istrinya.


Mereka saling bertatapan. Gia berusaha mengubah suasana agar tetap terlihat baik-baik saja.


“Ini aku bawain seblak buat kamu, cepet dimakan,” perintah


Gia yang sebenarnya kesal dengan suaminya.


Naufal meraih satu kantung seblak dari tangan Gia, dan Gia


berjalan meninggalkan Naufal tetapi pergelangan tangan Gia ditarik oleh Naufal.


Naufal membalikkan badannya, tetapi tidak dengan Gia. Gia


tetap membelakangi suaminya.


“Gi, lihat aku,” perintah Naufal.


“Ada apa?” tanya Gia singkat.


“Aku belum siap denger cerita di masa SMA kamu Fal,” sahut


Gia.


Naufal melepas tangan Gia, dan Gia pergi ke kamarnya. Saat

__ADS_1


ini Naufal sangat merasa bersalah.


Naufal memberi kesempatan Gia untuk sendiri menenangkan


pikirannya. Gia merebahkan tubuhnya di sofa sedangkan Naufal menyantap habis seblaknya.


Beberapa jam kemudian adzan ashar berkumandang, seperti


biasa mereka sholat bersama.


Selesai sholat Naufal mencoba untuk ngobrol dengan Gia.


“Gi, kamu masih marah sama aku?” tanya Naufal.


“Enggak, aku nggak marah, aku cuman belum siap aja tau semua tentang masa lalu kamu,” ucap Gia dengan senyumnya.


Lagi-lagi Gia berusaha untuk tegar dan menguatkan hatinya,


padahal hati Gia sebenarnya hancur, tapi untuk menutupi kehancuran hatinya Gia hanya mampu diam saat ini.


Malam harinya, Gia merebahkan tubuhnya di ruang tamu sambil membaca majalah koleksi Naufal, sedangkan Naufal sepertinya sudah tertidur.


Setelah dirasa dirinya sepertinya sudah mengantuk, Gia


beranjak untuk pergi ke kamarnya, tetapi saat Gia membuka pintu kamar, Gia takut untuk masuk ke kamarnya yang gelap gulita itu. Gia tidak tau harus nglakuin apa sedangkan matanya sudah sangat mengantuk karena besok dia harus kembali bekerja.


“Apa aku nelfon Naufal aja ya,” gerutu dalam hati Gia.


“Ah nggak ah, kasihan di udah tidur,” gerutu Gia lagi.


Tetapi Gia sudah tak bisa menahan kantuknya akhirnya


terpaksa Gia menelfon suaminya.


Tut….tut…tut.


Naufal meraih ponsel di meja samping kirinya dan melihat bahwa yang menelfon dia adalah istrinya.


“Iya ada apa,” ucap Naufal sambil mengucek-ucek matanya.


“Aku takut,” kata Gia.


Naufal kaget mendengar ucapan Gia dan langsung membelalakkan matanya, Naufal segera membangunkan tubuhnya.


“Takuk apa?! Kamu dimana sekarang?! Kamu gak papa kan?! ini udah malem loh Gi,” tanya Naufal yang sangat khawatir dengan Gia.


Gia menahan tawa mendengar tingkah suaminya.


“Aku takut gelap, aku di depan kamar gak berani masuk,” ucap


Gia lirih.


“Aduuuh Gia, kirain apa, udah cepet masuk, aku nyalain


lampunya,” kata Naufal.


Gia menutup telfonnya.


Setelah lampu menyala, Gia masuk ke kamarnya dan Naufal


kembali merebahkan badannya.


Gia mengambil boneka minionnya dan satu buah selimut, Naufal


menatap Gia heran.


“kamu mau tidur dimana?” tanya Naufal.


“Sofa,” jawab Gia singkat.


“Iih orang kemaren aku juga tidur di sofa kok,” bantah Gi.


“Kali ini sampek seterusnya gak boleh, kamu harus tidur di


samping aku,” perintah Naufal.


“Nggak, aku gak mau,” ceplos Gia yang kurang sadar bahwa


mereka suami istri.


“Ayolah Gi, kita ini kan udah suami istri,” ucap Naufal


sambil mengernyitkan kedua alis tebalnya.


Gia membulatkan bibirnya dan sadar bahwa sekarang Gia


sepenuhnya milik Naufal.


“Cepet sini, kalo gak mau aku paksa nih,” ucap Naufal.


“Ya udah iya iya,” jawab Gia judes.


Naufal mematikan lampu kamar, dan hanya menyalakan lampu


tidur di samping kiri Gia dan samping kanannya yang kebetulan cahaya lampu lumayan agak terang.


Gia merasa sangat deg-degan malam ini karena harus tidur


bersama sosok laki-laki yang masih di ragukan olehnya dalam satu ranjang yang sama, walaupun Gia memberi pembatas dengan boneka minion besar di tengah-tengah mereka.


Gia malah tidak bisa tidur begitu juga Naufal.


Mereka menatap langit-langit atap.


“Gi,” ucap Naufal lirih.


“Hm,” jawab Gia singkat.


“Maafin aku ya,” kata Naufal.


“Buat?” tanya Gia.


“Soal tadi pagi,” jawab Naufal.


“Aku kan udah bilang sama kamu, aku belum siap ngederin


semuanya Fal,” tutur Gia.


Naufal memiringkan badannya agar menghadap Gia.


“Gi tapi ini penting loh buat kita, agar gak ada lagi salah


paham yang gak jelas itu,” tutur Naufal.


“Huuuuffttttt, ya udah iya, kamu boleh cerita sekarang,” jawab Gia.


Naufal kembali menghadapkan badannya ke atas langit-langit


kamar.


“Tadi foto dan surat yang kamu temuin itu foto aku sama

__ADS_1


sahabat aku,” kata Naufal.


Deeeeggggggg.


Rupannya kali ini tebakan Gia benar, sahabat yang seperti di ceritakan oleh Riana.


“Dulu, waktu aku SMA, aku punya sahabat namanya Vela, kita


sahabatan selama tiga tahun, kita selalu sama-sama, dia selalu ada untuk aku begitu juga sebaliknya, kita sering banget ngabisin waktu sama-sama, sampai pada akhirnya,” kata Naufal terhenti karena ragu ingin mengatakan hal ini pada


Gia.


“sampai pada akhirnya apa?” tanya Gia sambil melirik Naufal.


“Sampai pada akhirnya aku jatuh cinta Gi sama dia, tapi aku gak bisa ngungkapin ke dia, aku gak bisa lakuin apa-apa, aku hanya bisa nulis surat buat dia yang masih aku simpan sampai sekarang ini,” ucap Naufal.


Hati Gia sakit mendengar cerita Naufal. Mata Gia sudah


berkaca-kaca.


“Terus kenapa kamu nggak ngungkapin ke dia?” tanya Gia.


“Aku takut Gi kalo aku ngungkapin ke dia nanti akan merubah


semua tentang kita, aku takut dia bakalan jauhin aku,” ucap Naufal.


“Segitu takutnya kamu kehilangan dia?” tanya Gia sambil


meneteskan air matanya.


Naufal tidak mengetahui bahwa pada saat itu istrinya menangis.


Naufal mengalihkan pembicaraan.


“Maafin aku Gi, maaf aku belum bisa jatuh cin..,” ucap maaf


Naufal terpotong oleh Gia.


“Nggak papa, aku nggak maksa kamu buat bisa jatuh cinta sama aku,” ucap Gia sambil menoleh ke arah Naufal dan memberikan senyumnya.


“Kamu cinta ya sama dia?” tanya Gia sambil menelan salivanya.


“Emmm mending sekarang kita tidur aja Gi, karena besok aku sama kamu kan kerja,” perintah Naufal.


“Kamu gak perlu ngalihin pembicaraan, aku tau kok, udah gak


papa, memang cinta gak bisa di paksa Fal,” tutur Gia.


“Ya udah kamu segera tidur,” sahut Gia dengan senyumnya


kembali.


Naufal menuruti apa kata Gia, Gia memiringkan badannya untuk membelakangi Naufal karena Gia ingin mengeluarkan air mata yang sedari tadi di tahan olehnya.


Gia menangis dan menahan isak tangisnya karena tidak ingin


jika Naufal mengetahui hal ini.


Akhirnya Gia juga ikut tertidur.


Jam 3 tepat Gia bangun dan pergi ke dapur.


***(di Dapur)


Gia membuka kulkas pintu dua itu, disana hanya ada sayuran


seadanya.


Gia tidak tahu akan diapakan sayur ini karena Gia sama


sekali tidak bisa memasak, tapi Gia harus membuatkan sarapan untuk suaminya seperti pesan Mamanya.


Gia ingin mencari resep di google tetapi ponselnya


tertinggal dikamarnya, Gia tak ingin mengambilnya karena Gia tak ingin mengusik tidur nyenyak Naufal, akhirnya hati Gia tertarik memasak sayur sup yang kebetulan di kulkas ada wortel, kubis dan daging ayam segar.


Gia memulai aksinya untuk memasak. Gia mencuci sayur dan


daging ayam, lalu memotongnya kecil-kecil, Gia menyalakan kompor dan merebus air, setelah air mendidih Gia memasukkan sayurnya dan dagingnya.


“Asal-asalan gak papa kali ya,” ucap Gia sambil mengelap


keringat di keningnya.


Gia bingung bumbu mana yang dipakai untuk sayur sup nya,


akhirnya Gia hanya mengira-ngira saja.


Setelah beberapa menit, sayur sup ala Gia telah jadi.


Adzan shubuh berkumandang, Gia menaiki anak tangga menuju ke kamarnya, dia membangunkan suaminya.


***(di Kamar)


“Fal, bangun,” ucap Gia sambilmenggoyang-goyangkan badan


Naufal.


“Fal bangun udah shubuh,” ucap Gia lagi.


Naufal menarik-narik tangannya dan bergegas untuk bangun. Naufal melihat baju Gia yang basah karena keringatnya.


“Kamu habis ngapain keringetan gini?” tanya Naufal sambil


memandang samar-samar pada Gia.


“Aku tadi habis masak, buat kita sarapan,” ucap Gia sambil


tersenyum dan mengetipkan bulu matanya.


“Ya ampun, kan kita nanti bisa beli Gi, kamu gak perlu


capek-capek gini,” tutur Naufal.


“Aku ingin menjadi istri yang baik untuk suamiku seperti pesan Papaku,” ucap Gia sambil melangkah mengambilkan handuk untuk Naufal.


Naufal hanya bisa menatap Gia.


“Maaf Gi, aku belum bisa mencintaimu saat ini, dengan


sikapmu yang seperti ini yang semakin membuatku merasa bersalah sama kamu,” gerutu Naufal dalam hatinya.


“Udah ayo cepetan mandi, nanti giliran aku,” ucap Gia dengan memberikan handuk yang di bawanya.


“Iya iya,” jawab Naufal sambil menurunkan kakinya di atas


ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.


Bersambung......


Terima kasih, jangan lupa like, comment, dan like readers🖤

__ADS_1


jangan bosen buat selalu nunggu cerita Gia dan Naufal😁🙏


Tunggu momment" yang kalian inginkan. tinggalkan kritik dan saran di kolom komentar😄


__ADS_2