
Sepulangnya kami kerja.
***(Di Kamar)
“Mas, mandi gih,” tuturku yang sedang duduk di ayunan balkon
sudah wangi karena abis mandi.
Naufal bergegas berjalan masuk ke kamar mandi.
Ku cari-cari majalah yang pernah ku lipat ujungnya di tumpukan majalah bawah mini table.
“Nah, ini nih,” kataku saat menemukan majalah itu.
Ku cari lipatan itu lalu ku buka halaman yang sudah ku lipat
beberapa hari yang lalu.
Ku lihat model pria yang terpatung dalam majalah.
“Sumpah nggak salah lagi, aku kayaknya kenal sama orang ini,
tapi siapa ya,” kataku sambil berfikir siapa pria ini. Wajahnya sangat tidak asing menurutku.
Tiba-tiba ada seseorang yang sedang mengetuk pintu kamarku.
Tok….tok….tok…
Aku turun dari ayunan dan mengambil kerudung lalu ku buka
pintunya.
Gleekkk…
“Bapak,” kataku saat melihat ada Pak Rusdi di depan kamarku.
“Ada Mbak Susi sama Mas Bastian di bawah Mbak,” kata Pak
Rusdi.
“Tumben mereka kesini ada apa,” ucapku.
“Ya udah Pak, bilangin ya habis ini saya turun ke bawah,” kataku.
“Iya Mbak,” jawab Pak Rusdi.
Ku tutup kembali pintu kamarku.
Lalu ku ambil majalah yang membuatku penasaran beberapa hari ini.
Aku berjalan menuruni anak tangga.
***(Di Ruang Tamu)
“Haiiiii,” kataku.
Aku duduk di sebelah Susi.
“Naufal mana Gi?” tanya Pak Bastian.
“Masih mandi Pak, nanti saya panggillin,” jawabku.
“Mau minum apa ini? Hehehem, kamu mau minum apa Adek?”
tanyaku pada anak Susi.
“Aku mau minum yang biasanya aja Gi,” jawab Susi.
“Apa?? Coklat panas?” tanyaku.
“Iya lah itu, apalagi yang aku cari selain itu kalo di rumah kamu, hehehm,” canda Susi.
“Hehehem bisa aja kamu,” kataku.
“Bapak minumnya apa?” tanyaku pada Pak Bastian.
“Aku samain aja, coklat panas,” jawabnya.
“Bentar ya aku buatin,” ucapku.
“Tumben kamu sendiri yang buatin, Bi Sarah kemana?” tanya
Susi.
“Bibi pulang kampung Si,” jawabku.
“Jadi semua urusan rumah kamu sendiri yang beresin?” tanya
Susi sambil membulatkan kedua matanya.
“Iya lah Si mau siapa lagi, tapi kalo bagian luar tetep Pak Rusdi,” kataku.
“Udah ah, aku mau buatin minuman kamu dulu,” ucapku sambil
menepuk pahanya dan beranjak berdiri.
.
.
.
.
.
Setelahnya ku buatkan mereka sebuah minuman, aku memanggil Mas Naufal ke atas.
***(Di Kamar)
“Mas, di bawah ada Pak Bastian sama Susi loh,” kataku.
“Bastian?? Ngapain?? Tumben dia kesini, nggak WA aku dulu,”
ucapnya.
“Nggak tau, mungkin kesini mau main kali, bawa anaknya kok,”
kataku.
"Dari tadi loh nungguin kamu, kamu nya masih mandi,” sambungku.
Naufal langsung turun ke bawah.
***(Di Ruang Tamu)
“Weeh, Lo Bas, sini Bas ke belakang,” ajak Naufal.
Pak Bastian mengikuti kemauan Naufal untuk bersantai-santai di halaman belakang rumah.
“Ke belakang Si?” tawaranku pada Susi.
“Boleh, seger banget kan di belakang rumah kamu,” jawabnya.
“Tante, Kak Abay dimana?” tanya anak Susi agak kurang jelas.
“Kak Abay masih mengaji, nanti pasti turun kalo udah selesai
ngaji, pasti tau kalo ada kamu disini,” jawabku.
***(Di Halaman Belakang Rumah)
Aku duduk di atas papan yang ada tepat di atas kolam renang,
sedangkan Naufal dan Pak Bastian duduk lesehan di tepian kolam.
“Ma, aku ke Papa ya,” kata Anak Susi.
“Iya, hati-hati loh kalo jalan,” tutur Susi.
“Majalah apa itu?? Dari tadi kamu bawa terus,” tanya Susi.
“Eh iya ini loh aku mau tanya ke kamu, kayaknya kamu bisa
jawab yang selama ini buat aku penasaran deh Si,” kataku sambil mengabil majalah di sebelahku lalu ku buka halaman yang ku lipat tadi.
“Nah ini nih Si, cowok ini, nggak asing kan wajahnya, kayaknya kita kenal sama model yang ini deh,” kataku sambil mengernyitkan keningku.
“Tapi siapa ya Si?” sambungku lagi.
“Mana mana coba aku lihat,” ucap Susi.
Ku berikan majalahnya ke pangkuan Susi.
“Ini?” tanya Susi.
“Ya Allah Giiiiiii, ini kan teman kita kuliah,” kata Susi.
“Teman kita kuliah?? Siapa?” tanyaku.
“Ini tuh Prass, kamu masih inget nggak??” tanya Susi.
“Prass Gi, musuh aku, masak kamu nggak inget sih, yang
__ADS_1
sukanya gangguin kamu terus nyocok-nyocokin kamu sama dosen kita, masih nggak inget?” tanya Susi yang terus mencoba agar aku ingat dengan sosok Prass yang di maksud Susi.
“Oooowwww aku inget, Si Prass yang sekelas sama kita, yang
dulu pernah,” kataku terpotong oleh Susi.
“Iya, yang suka sama kamu dulu, tapi kamu nggak ada feedback nya sama sekali ke dia,” sahut Susi.
“He’em aku inget Si, aku inget, Ya Allah Masya’Allah Si Prass,
jadi model majalah dia, sumpah wajahnya beda banget Si kalo disini, lebih bersih, wiiiih sekarang jadi gini nih,” kataku.
“Iiih jahat kamu Gi nggak inget temen sendiri, aku gak yangka loh Prass jadi ginian, model sekaligus Dokter loh Gi,” ejek Susi
sambil meneguk coklat panas buatanku.
“Sumpah Si, beda dia, dia disini lebih langsing, dulu kan
agak berisi, berubah banget, mimpi apa dia suka sama yang beginian,” kataku sambil menertawakan foto Si Prass.
“Hahahahaha, aku juga kaget banget dia suka sama yang
begituan, jaman kapan sih itu,” kata Susi.
“Ini majalah baru aku beli bulan lalu Si, weeeh nggak
nyangka dia jadi model majalah baju takwa,” kataku.
“Kabarnya gimana ya anak itu sekarang Gi??? Aku banyak dosa sama dia,” ujar Susi.
“Heheheh, iya lah kamu dulu kan yang selalu belain aku kalo
lagi di gangguin sama dia,” kataku.
“Iya ya, mana nggak pernah ketemu lagi, waktu kita purna,
aku juga belum minta maaf sama dia, apalagi waktu dia minta foto sama kamu, terus aku yang ngelarang-ngelarang dia biar gak kasih foto sama kamu ehehehehem, kocak banget dia tuh,” ucap Susi.
“Anaknya berapa ya dia sekarang??” tanya Susi.
“Jadi pengen reuni kita kuliah Gi,” sambung Susi.
“Emang kamu gabung grup WA yang kuliah?” tanya Susi padaku.
“Masih kok, aku masih gabung kalo grup WA yang kita kuliah,
tapi kalo SD, SMP, SMA aku nggak gabung,” jawabku.
“Huuum, kamu tuh selalu gitu, kan menjalin tali silaturahmi
itu kan baik Gi, kenapa menutup diri sih kamu,” ujar Susi.
“Susiiiii…….kamu bahas ini lagi,” rengekku.
“Iya iya enggak, emang dari sono nya kamu udah gitu, puas
kan,” ucap Susi.
“Lagian kan kalo SD satu kompleks, jadi ya kalo pulang pasti
ketemu,” tepisku.
“Yakin ketemu?” tanya Susi.
Aku hanya tersenyum kecut padanya.
“Orang kamu aja nggak pernah keluar rumah, gimana mau
ketemu, tetangga Lo aja mungkin nggak pernah lihat Lo muncul deh kayaknya, kurang yakin aku kalo kamu ketemu temen SD sekompleks,” ucapnya.
“Hehehehem kan kamu udah tau,” ucapku.
“Kenapa sih Gi, kamu masih aja kayak gini, menutup diri dari
siapa pun, bahkan kamu bisa dianggap arrogant sama orang-orang,” tanya Susi.
“Kan kamu nggak pernah cerita sama aku tentang masa kecil
kamu dulu gimana,” sambung Susi.
“Cerita nya panjang Si, hampir semua yang aku lewatin
terekam jelas di otak aku, masa SD, masa SMP, masa SMA, semua punya ceritanya masing-masing, dan itu juga yang menjadi alasan aku kenapa aku menghilang darimereka, kenapa aku nggak mau setiap kali di ajak meet up sama mereka, semua alasannya ada di cerita itu Si, hehehehem, aneh ya aku??” tanyaku pada usi.
“Segitu menyakitkannya atau menyedihkannya ya Gi, sampe kamu lari dari mereka?” tanya Susi balik.
"Bukan lari Susiiii, emang udah dari orok aku kayak gini," kataku.
“Orang yang tipe seperti kamu ini cuman ada 2% loh di dunia
“Masak?? Serius kamu??” tanyaku.
“Iya, aku cari di youtube, hehehem, maka nya jarang ada tipe
orang yang seperti sifat kamu ini, punya dunia sendiri, punya imajinasi ekstra sendiri, meskipun itu nggak akan pernah terjadi, hehehem, tapi kamu masih yakin aja, aneh dasar,” ejek Susi.
“Sampe aku kadang sendiri nggak bisa tau apa yang kamu mau
loh Gi, kalo Naufal gimana katanya?? Awalnya tahan nggak kalo kamu diem aja,” tanya Susi.
“Tanya langsung aja ke orangnya, tuh,” kataku sambil
menunjuk ke arah Naufal.
“Eh eh jangan tunjuk-tunjuk, dikira apaan nanti sama suami
kamu,” kata Susi.
“Hehehem, biasa aja sama Mas Naufal,” kataku.
“Gokil sih Gi sifat kamu, gemes gemes kesel gimana gitu,
sumpah, butuh orang yang ekstra sabar sama kamu,” ucapnya.
“Termasuk kamu kannnn,” sanggahku.
“Hehehm, ya dong jelas,” balas Susi.
Adzan magrib berkumandang.
“Allahuakbar….Allahuakbar,”
“Udah adzan Si, masuk dulu yuk,” ajakku.
Kami turun dari papan di atas kolam renang.
“Loh Mas, anak kita kemana?” tanya Susi pada suaminya.
“Ke Abay dari tadi,” jawabnya.
“Keenakan ngobrol sama sahabat jadi lupa kan, hehem,” ejek
Naufal.
Kami pun melaksanakan sholat magrib berjama’ah dan di imami
oleh Mas Naufal.
.
.
.
Setelah kami sholat, aku mengajak Susi serta suami dan
anaknya untuk makan malam di Rumahku.
***(Di Ruang Makan)
Sambil menunggu beberapa menu makanan yang kami pesan secara online.
Kami bercerita kembali di meja makan.
Tak lama kemudian, makanan datang dan di bawa oleh Pak Joko.
“Buk, ini makanannya sudah datang,” ucap Pak Joko.
“Ya udah ayo kumpul, sekalian makan sama-sama ya,” ajak
Naufal.
“Tapi Pak, ada tamu, saya nggak enak,” sahut Pak Rusdi.
“Udah gak papa Pak, Naufal memang gitu orangnya,” sahut Pak Bastian.
“Panggil yang lain dulu Pak,” kata Naufal pada Pak Rusdi.
“Enggeh Mas, sekedap kulo timbali (Iya Mas, sebentar saya
panggil)” jawab Pak Rusdi lalu melangkah memanggil dua satpam muda Naufal.
.
__ADS_1
.
.
Sesudahnya berkumpul jadi satu di ruang makan, dua satpam
merasa sungkan.
“Maaf Pak, saya,” ucapan satpam itu langsung dipotong oleh
Naufal.
“Udah nggak papa, mereka kan teman saya, kalian keluarga
saya, hayo saya udah pernah bilang apa sama kalian,” ujar Naufal.
“Ehehehem, iya Pak maaf,” kata satpam itu.
Semua duduk berjejer dan saling berhadapan.
“Abay nggak ikut Gi?” tanya Susi.
“Ada les dia Si, tadi kan kamu tau sendiri Gurunya dateng,
kalo aku ajak makan paling dia juga nggak mau,” ucapku.
“Kok gitu?” Susi lagi.
“Abay memang gitu Si, kalo waktunya belajar sama ngaji,
nggak mau di ganggu dia, kalo nggak penting banget atau keluar kemana gitu,” sahut Naufal.
“Lo kasih makan apaan sih Si Abay Fal, segitunya,” sahut Pak
Bastian.
“Udah gitu dari janin,” jawab Naufal.
“Hehehem, dasar Lo,” ucap Pak Bastian.
“Udah ayo mari di makan, ambil yang kalian mau, udah nggak
usah sungkan-sungkan,” perintah Naufal.
“Ini kan porsinya banyak, jadi di habisin ya, perutnya di
kenyangin,” sambung Naufal.
Kami pun menikmati makan malam bersama.
.
.
.
.
.
Setelah makan, Susi dan Pak Bastian berpamitan pulang.
“Makasih Fal, Gue pulang ya,” ucap Pak Bastian.
“Iya, sering-sering main kesini, rumah Lo kan sepi banget,”
ejek Naufal.
“Hehehm, iya lah penghuninya cuman tiga,” kata Pak Bastian.
“Udah ya Fal, Gue pulang, Assalamu’alaikum,” kata Pak Bastian.
“Pulang Gi,” kata Susi.
“Iya Wa’alaikumsalam, hati-hati ya,” jawabku dan Naufal.
Mereka berjalan masuk ke dalam mobi, setelah mesin mobil
menyala, klakson berbunyi untuk menyapa kita, lalu mobil melaju keluar dan menjauh dari rumah ini.
Abay berlari menghampiri kami.
“Ma….Mama,” panggilnya dengan nafas tersenggal-senggal.
“Kenapa Nak?” tanyaku.
“Yah Tante Susi udah pulang ya,” kata Abay sedikit cemberut.
“Iya baru aja pulang, kenapa?” tanyaku.
“Padahal Naufal mau kasih mainan ke anaknya Tante Susi,
soalnya tadi dia suka Ma,” jawab Abay.
“Lain kali Bay, kan mereka psti kesini lagi,” sahut Naufal.
“Ibu Guru diamana?” tanya Naufal.
Ibu Guru les Abay berjalan menuruni anak tangga.
“Malam Pak Buk,” sapa Guru les Abay.
“Malam,” jawabku sambil tersenyum padanya.
“Sudah selesai mengajarnya?” tanya Naufal pada Guru les Abay.
“Sudah Pak, hehem, Abay sudah mengerjakan, jadi saya tinggal koreksi tadi, maka nya selesainya lebih awal,” jawabnya.
“Oooh gitu, nggak makan dulu Bu,” canda NAufal.
“Hehehm, sudah Pak, kalo gitu saya pamit pulang dulu ya Pak
Buk,” pamit Guru Les Abay.
“Motornya Bu Guru dimana?? Kok nggak ada, biasanya kan ada di depan sini,” tanyaku.
“Saya naik ojek online Buk, hehehem, karena kemarin saya
hampir saja jatuh karena mengantuk, jadi suami saya suruh saya naik ojek online saja begitu,” jawabnya dengan sangat sopan.
“Ya Allah, hati-hati loh Bu Guru,” kataku.
“Iya Buk, mari Pak, Buk, Abay, Asalamu’alaikum,” pamitnya.
“Wa’alaikumsalam,”jawab kami.
Kami melangkah masuk kembali ke dalam Rumah.
Pintu Rumah di tutup oleh Naufal.
“Pak, Bibi nggak kasih kabar kapan balik kesini lagi?” tanya
Naufal pada Pak Rusdi.
“Belum Pak, Bibi kemaren saya tanyai belum tau, mungkin
semingguan Pak,” jawab Pak Rusdi.
“Oh ya udah kalo gitu Pak, nanti bilangin ya sama Bibi, kalo
mau disana agak lama nggak papa, barangkali Bibi masih kangen-kangenan sama keluarga nya kan, terus Bibi ngerasa nggak enak sama saya, bilangin aja gitu Pak,” kata Naufal.
“Enggeh Mas, Enggeh nanti saya bilang ke Bibi,” jawab Pak
Rusdi.
“Ya udah Mas, saya ke belakang dulu nggeh,” ucapnya.
“Silahkan Pak,” ucap Naufal.
“Kamu ke atas dulu nggak papa Mas, akum au beresin meja
makan dulu,” kataku.
“Nggak, akum au bantuin kamu,” ucapnya.
“Nggak usah Mas, ini tugasnya istri,” tepisku.
“Nggak Papa Sayang, udah aku bantuin,” ucapnya.
“Ma, Abay ke atas dulu ya,” sahut Abay.
“Iya Sayang,” jawabku.
Abay berlari menaiki anak tangga.
“Ciyeeeee, kamu ngapain tadi panggil-panggil aku sayang,”
kata Naufal ambil menyenggol lenganku.
“Iiiih apaan, itu tadi buat Abay, bukan buat kamu, weeekkk,
udah ah,” kataku lalu meninggalkan Naufal ke Ruang Makan.
__ADS_1
“Hehehem, kali aja, aku kan juga mau,” kata Naufal.
Bersambung...........