
Makan siang habis kami santap.
“Sus kita kembali ya, jam istirahat udah mau habis,” ajakku.
“Iya Dok,” jawabnya.
Aku melihat meja yang di ujung selatan yang sudah tidak ada
Naufal dan dua rekannya.
“Dokter Naufal juga udah kembali Dok,” ucap Si Suster.
“Iya Sus, mau ada operasi kayaknya,” kataku.
Aku dan Suster berjalan ke ruanganku.
Kami kembali melaksanakan tugas kami disini.
.
.
.
.
.
Hari sudah semakin sore, aku mebereskan banyak kertas-kertas yang memenuhi meja kerjaku.
“Pasti Naufal sudah menungguku di parkiran ini,” gerutuku
dalam hati.
Aku mengirim pesan pada Naufal agar dia menungguku disana.
Pesanku pada Naufal.
“Mas, aku masih beres-beres meja, kamu tungguin aku bentar ya,” Gia.
2 menit kemudian, Naufal membalas pesan dariku.
“Iya Sayang, aku tungguin kamu, mau lama, mau sebentar, aku bakalan tetep nungguin kamu, hehehe” Naufal.
Ponselku bergetar, aku langsung membuka balasan pesan dari
Naufal.
Saat aku tengah membaca balasan pesan Naufal, aku tersenyum-senyum sendiri di buatnya.
Lalu ku balas balik pesan dari Naufal.
“Nggak udah gombal, nggak mempan tau,” Gia.
Aku kembali menata rapi mejaku.
Tak lama kemudian, selesai aku membereskan meja kerjaku,
langsung aku berjalan menyusul Naufal yang sedang menungguku di parkiran.
***(Di Parkiran)
Aku melihat Naufal dan Pak Bastian yang sedang ngobrol
berdua di depan mobil Naufal.
Langkahku semakin dekat dengan tempat dimana mereka berdiri.
“Tuh istri Lo udah datang,” kata Pak Bastian.
Aku tersenyum pada Pak Bastian.
“Suami kamu loh Gi minta temenin aku ini soalnya nggak
berani sendiri, kan semua udah pada pulang yang shift,” kata Pak Bastian.
“Enak aja, nggak gitu Sayang, dia aja nih yang mau nemenin
aku, padahal udah aku suruh pulang tadi, takutnya istrinya nungguin,” tepis Naufal.
“Heheheh, ya udah Gue balik mobil, hati-hati kalian,” ucap
Pak Bastian.
“Iya Pak,” jawabku.
Pak Bastian berjalan kea rah mobilnya, aku dan Naufal masuk
ke dalam mobil.
Naufal melajukan mobilnya untuk menjemput Abay.
“Sayang, besok ke salon Mama ya,” ajak Naufal.
“Ngapain orang kaki ku udah nggak kenapa-napa kok,” kataku.
“Aku pengen aja ngajak kamu kesana Sayang, seharusnya kamu kesana tuh seminggu sekali bukan dua minggu sekali,” ucap Naufal.
“Mas kamu kan tau sendiri aku kerja,” tepisku.
“Iya juga sih, maksud aku kan biar rutin gitu Sayang,” kata
Naufal.
“Kalo aku nggak kerja ya bisa-bisa aja Mas, tapi kan aku
kerja,” bantahku.
“Emang kamu mau nggak kerja?” tanya Naufal sambil menoleh
padaku.
“Nggak mau lah Mas, aku rindu nanti sama pasien-pasien aku,”
candaku.
“Maka nya Sayang, besok pulang kerja, kita pulang bentar,
terus kita ke salon Mama, soalnya seminggu ke depan aku bakalan kena shift malam Sayang, terus depannya lagi aku ke luar negeri,” ucap Naufal sambil fokus menyetir.
“Kamu kok sering banget ke luar negeri ya Mas, meeting lagi?”
tanyaku.
“Ya iya lah Sayang, mau apalagi kalo nggak meeting,” jawab
Naufal.
“Ooww gitu, ya udah akum au, tapi sama kamu ya,” ucapku.
“Ya nggak mungkin lah Sayang, itu kan salon khusus cowok,”
tolak Naufal.
“Maksud aku itu kamu temenin aku kayak biasanya, bukan kamu ikut di spa,” kataku.
“Ya kalo itu pasti Sayang, kirain aja,” ucap Naufal.
“Kamu aja nggak pernah ke tempat gituan, gitu kamu
ngeharusin aku,” ujarku.
“Ya kan aku cowok Sayang, jarang banget sih kalo ke tempat
gituan, itu pun nganter kamu sama nganter ini,” kata Naufal terhenti karena jalanan yang macet.
“Sama ini??? Ini siapa?” tanyaku.
“Sama ini loh Sayang, sama Mama,” jawab Naufal yang sangat
fokus melihat spion mobilnya.
“Yakin Mama?” tanyaku lagi ingin membuyarkan fokusnya.
“Iya lah Mama, mau siapa lagi,” jawab Naufal.
Berarti dia benar-benar tidak berbohong padaku.
“Kan kamu pernah denger sendiri karyawan Mama, kalo aku
nggak pernah bawa siapa-siapa kesana kecuali Mama dulu,” ucap Naufal lagi.
“Iya iya Mas, aku percaya,” kataku.
.
.
.
Setelah berhasil keluar dari kemacetan, akhirnya kami pun
sampai di depan sekolah Abay.
Mobil kami berhenti agak jauh dari sekolah Abay, tampak Abay
bersama teman ceweknya yang sedang berdiri seperti menunggu jemputan.
“Itu Abay nungguin siapa Sayang?” tanya Naufal.
“Nggak tau Mas, kayaknya nunggu temennya itu di jemput deh,” jawabku.
“Coba kamu samperin kesana,” perintah Naufal.
Ku lepas seatbeltku lalu aku keluar dari mobil untuk
menghampiri Abay dan temannya.
“Abay,” panggilku.
Abay dan temannya melihatku.
“Mama,” panggil Abay balik padaku.
Abay dan temannya itu menyalamiku.
“Abay nungguin siapa Nak?” tanyaku.
“Oh iya Ma, kenalin ini temen Abay yang dulu kasih kado sama
Abay, namanya Revina,” Ucap Abay.
“Abay disini nunggu jemputan sopir dia Ma,” jawab Abay.
“Oh belum dijemput, ya udah sekalian kita antar saja Nak ke
__ADS_1
rumahnya,” kataku.
“Beneran Ma?” tanya Abay yang kesenangan.
“Iya lah Abay, ya Dek ya?” tawarku pada teman Abay.
“Makasih ya Tante,” ucap teman Abay.
“Iya sama-sama,” jawabku.
“Ya udah ayo ke mobil,” ajakku.
Aku menggiring mereka untuk berjalan masuk ke mobil.
Dalam mobil Abay langsung mengucap salam pada Papanya dan
menyalami tangan Papanya.
“Kenalin, ini Papa aku,” kata Abay paada temannya,”
Revina menyalami tangan Naufal.
“Abay tau rumah temannya dimana?” tanyaku pada Abay.
“Nggak tau Ma,” jawabnya.
“Saya tau Tante,” sahut teman Abay.
“Oh kamu tau, ya udah kita langsung antar kamu ya,” ucapku.
“Iya Tante,” jawabnya.
“Mas kita antar temen Abay dulu ya,” kataku.
“Iya Sayang, alamatnya di mana?’ tanya Naufal.
“Di perumahan Adinda Banyu Om,” jawab teman Abay.
“Ooh rumah kamu perumahan situ,” ucap Naufal pada teman
Abay.
“Iya Om,” jawab Revina.
Naufal menancap gas mobilnya untuk mengantarkan teman Abay.
“Kamu tau Mas?” tanyaku.
“Ya tau lah Sayang,” jawabnya.
“Ya iyalah, kamu asli orang sini, kan kalo aku turis disini,”
kataku.
“Hehehem turis dari kota*****,” ejek Naufal.
“Iya lah Mas,” kataku.
“Jauh nggak Mas dari sini?” tanyaku lagi.
“Nggak jauh-jauh banget kalo dari sekolah Abay, tapi kalo
dari Rumah kita ya jauh banget,” jawab Naufal.
“Maka nya kamu kalo lagi libur jalan-jalan keliling kota
ini, kamu sih di rumah aja,” canda Naufal.
“Mas Mas, liburnya sehari, mending buat aku istirahat di rumah,” tepisku.
“Ya biar kalo nyasar apa gimana kamu tau,” ucap Naufal.
“Kamu doa in aku nyasar ya, wah wah Papa kamu Bay,” candaku.
“Ya nggak gitu Sayang,” tepis Naufal.
“Bay Papa kamu nakal sama Mama,” adu ku pada Abay.
“Tenang Ma, kalo Mama nyasar, tinggal telfon Papa aja ya Ma,” kata Abay.
“Iya lah Nak, kan Papa kita asli orang sini, kalo kita kan
enggak ya Nak,” ucapku.
“Enak aja kamu Sayang, Abay itu separuh dari sini, separuh
dari kota kamu, hehehe,” bela Naufal.
“Ada yang nggak terima Nak,” kataku pada Abay.
Mobil Naufal belok ke arah kiri dan masuk dalam sebuah
perumahan.
“Ini kan Dek?? Om bener kan ini perumahan tempat kamu
tinggal??” tanya Naufal.
“Iya Om, nanti Om lurus aja terus belok kanan dikit aja, nanti rumah saya hadap barat Om, gerbangnya warna putih,” jawab teman Abay.
Naufal menuruti apa kata teman Abay itu, dan akhirnya Naufal menemukan rumah teman Abay.
“Ini Om rumah saya,” kata teman Abay.
“Iya Dek sama-sama,” jawabku dan Naufal.
Teman Abay turun dari mobil dan membuka gerbang rumahnya.
Mobil kami kembali melaju untuk pulang.
“Rumahnya sepi banget ya Nak,” kataku.
“Iya Ma,” jawab Abay.
“Perumahan daerah sini tuh emang sepi Sayang, penghuninya
sibuk semua,” kata Naufal.
“Ah masak?” tanyaku.
“Lo iya Sayang, terkenal sepi disini, aku dulu pernah mau
beli disini, tapi setelah aku survei eehh sepi banget, nggak jadi aku beli,” kata Naufal.
“Coba aja kalo malem, serem pasti,” ucapku.
“Kamu tuh, hantu aja yang dipikirin,” ejek Naufal.
“Ya kan kalo tempat sepi terus gelap terkenal serem nya Mas,” tepisku.
“Abay sebelumnya udah pernah kesini Nak?” tanya Naufal.
“Belum Pa, baru tau ini tadi,” jawab Abay.
“Nanti malem kan les Abay libur, jadi nanti malem kita bisa
jalan-jalan,” ucap Naufal.
“Yeeaay jalan-jalan ya Pa,” kata Abay yang sangat senang
kegirangan.
“Iya sekalian ke rumah Eyang Feni,” kata Abay.
“Asiikkk,” sorak Abay.
“Kamu tadi kok nggak bilang sama aku kalo kita mau keluar,”
kataku.
“Kan surprise Sayang,” ucap Naufal.
“Memangnya kita mau kemana?” tanyaku pada Naufal.
“Ke puncak sama makan,” jawab Naufal.
“Kan kita udah buat janji kalo kita akan ngajak Abay keluar
seminggu sekali, biar dia nya nggak stress atau jenuh di rumah terus, apa lagi dia mau lomba,” kata Naufal.
“Iya Mas, itu perlu banget,” kataku.
“Ya maka nya Sayang, mala mini waktu yang tepat,” ucap
Naufal.
Sampai di depan gerbang rumah kami.
Pak Joko membuka kan pintu gerbang untuk kami.
“Sore Pak,” sapa Naufal di kaca mobilnya yang terbuka.
“Sore Pak, Buk,” jawab Pak Joko.
Mobil Naufal melaju dan berhenti di tempat parkir, Abay
langsung turun dan berlari masuk ke rumah.
“Mas kenapa nggak langsung dimasukin garasi?” tanyaku.
“Kan nanti jugakita keluar lagi Sayang,” jawabnya.
“Nanti pake mobilku aja Mas, sayang kan nggak pernah di
pake,” kataku.
“Apa kamu bilang tadi?? Coba ulangin, aku nggak kedengeran
Sayang?” canda Naufal sambil mendekatkan telinganya padaku.
“Sayang kata kamu??” goda Naufal padaku.
“GR kamu, maksud aku sayang mobilnya kalo nggak pernah di
pake,” jawabku.
“Tuh kan kamu, Sayang-Sayang lagi sukanya,” goda Naufal lagi yang membuat kedua pipiku memerah seperti kepiting rebus.
“Kamu tuh nggak usah malu-malu panggil sayang ke aku dong,”
ejek Naufal.
“Eh eh eh…. Siapa yang panggil kamu sayang, kamu tuh salah
mengartikan, aku kan nggak bilang Naufal Sayang, aku bilangnya sayang mobilnya, gitu kan,” bela ku.
__ADS_1
“Lah itu tadi barusan apa hayo, kamu bilang apa?? Hahaha,
kena sendiri kan,” ucap Naufal dan menertawakanku.
“Tau ah Mas, rumit bicara sama kamu,” keluhku.
“Mentang-mentang Abay udah keluar aja, kamu mau godain
Mamanya,” ucapku lalu turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah.
***(Di Kamar)
Ku lepas kerudungku dan ku nyalakan AC dalam kamarku.
“Aduh panas banget disini,” keluhku.
Aku berjalan ke balkon dan melihat pemandangan bawah balkon yang tampak sejuk dan alami.
“Huuuufftt, segernya,” kataku.
“Kenapa ya udara di balkon sama tadi di depan rumah kok
beda, disini kayak masih alami banget, padahal satu kawasan juga,” gumamku sendirian.
“Emang sengaja aku desain kayak gitu, biar nanti istriku
betah di kamar, eehhh ternyata beneran kan,” sahut Naufal yang berjalan ke arahku.
“Sejak kapan kamu masuk kesini?” tanyaku.
“Kok nggak ada suara pintu ke buka,” ucapku.
“Kan aku casper, bisa kemana-mana,” jawab Naufal.
“Berarti kamu hantu dong,” ejekku.
“Iiihh serem, aku takut,” kataku mengejek Naufal.
“Gimana mau ada suara buka pintu, kalo pintunya aja nggak
sampe ketutup tadi, kamu kebiasaan deh Sayang kayak gini nih, nanti kalo tiba-tiba ada orang selain aku yang masuk kesini gimana?” tanya Naufal.
“Ya aku teriak lah,” jawabku.
“Kalo sepi?? Di rumah cuman ada kamu, aku kerja, yang lain
keluar, semua satpam libur gimana?” tanya Naufal lagi yang memojokkan ku.
“Kan ada Abay,” tepisku.
“Abay ada les di luar, gimana kamu hayo?” tanya Naufal lagi.
“Ya panggil kamu lah, kamu kan Casper, jadi kamu bisa muncul
dari mana aja kan,” jawabku yang sepertinya mengalahkan Naufal.
“Hehehehem, bisa aja kamu Sayang, gemes aku sama kamu,” kata Naufal sambil melingkarkan tangannya di pinggangku dan mencium keningku.
“Aku ngaku kalah kalo sama kamu,” bisik Naufal di telingaku.
“Udah sana kamu mandi,” turuku.
“Kamu mandi duluan sana Sayang,” bantah Naufal.
“Mas, mandiku lama, nanti kamu nungguin nya lama, udah gih sana mandi,” tuturku.
“Sayang, yang penting kan aku udah sholat ashar tadi pas
kerja, udah kamu duluan aja,” kata Naufal.
“Ya udah, iya iya,” jawabku menyerah.
“Gitu dong Nyonya Naufal,” canda Naufal.
Aku berjalan masuk ke kamar mandi.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, setelah aku mandi, Naufal tertidur
di ayunan tepi balkon.
“Naufal tidur?” tanyaku dalam hati.
Aku berjalan masuk ke ruang ganti baju, tak lama kemudian
aku berjalan pelan menghampiri Naufal.
Naufal tertidur nyenyak di atas ayunan.
“Ya Allah Naufal tidur beneran, kasihan, pasti dia capek,”
kataku dalam hati.
Aku duduk di sisi kepala Naufal, ku angkat kepala Naufal dan
ku pangku kepala Naufal.
Ku elus-elus kening Naufal sambil menikmati senja, sore ini
suasananya sangat romantis untuk kami, Naufal yang tertidur dalam pangkuanku dengan pemandangan indah yang di hadirkan Allah pada kami.
Sepertinya Naufal mulai terganggu adanya aku di disana,
Naufal membuka pelan kedua matanya, kedua metanya menatapku.
Ku kira Naufal akan bangun dan bergegas mandi, ternyata dia
malah memelukku dan melanjutkan tidurnya.
“Pasti kamu capek banget ya Sayang,” gumamku dalam hati
sambil tersenyum padanya.
“Kamu pekerja keras banget Mas, meskipun aku juga bekerja, tapi kamu sekalipun tidak pernah menanyakan berapa gajiku, uangnya kemana aja, beruntung Sayang aku punya kamu, hehehehm, kamu baik banget, pengertian, sabar,
dewasa,” pujiku pada Naufal dalam hati.
“Meskipun kamu tidur, semoga kamu dengerin kata hati aku
yang baru saja memujimu, aku mencitaimu,” kataku dalam hati.
Ku dekatkan mulutku pada telinga Naufal.
“Aku mencintaimu Sayang,” bisikku sangat lirih pada telinga
Naufal.
“Ini kan yang kamu mau, aku memanggilmu Sayang,” ucapku
dalam hati.
“Sore ini, aku wujudkan satu permintaanmu padaku, semoga
saja tersampaikan padamu, meskipun hanya lewat mimpi, hehehm,” kataku.
Tak lama kemudian, naufal terbangun.
“Uughhhmm,”
“Waduh, Naufal bangun, jangan-jangan dia dengerin apa yang
barusan aku bisikin sama dia, aduuh bisa gawat ini,” gerutuku dalam hati.
Naufal langsung menatapku, memandang wajahku yang tampaknya berbeda.
“Wajah kamu kenapa merasa terancam gitu?” tanya Naufal.
“Eemm….terancam gimana?? Biasa-biasa aja kok ini,” belaku.
“Astagfirullah, jangan-jangan kamu habis apa-apain aku ya,
Ya Allah Gia,” ucap Naufal yang langsung terbangun dari pangkuanku dan tangannya mendekap dadanya.
“Apa sih Mas?? Orang aku nggak ngapa-ngapain kok, ngaco
kamu,” bantahku.
“Hehehe, enggak-enggak Sayang, gitu aja langsung cemberut,” kata Naufal.
“Udah sana mandi,” kataku judes.
“Dasar Naufal nggak bisa di romantisin,” gumamku dalam hati.
“Jadi males mandi Sayang, pengen bobok di situ lagi,” rengek
Naufal.
“Udah jam berapa ini kamu belum mandi, udah mau magrib loh,”
tuturku.
“Kita udah jarang loh Sayang kayak gitu tadi, sekali aja ya,
ya,” rayunya.
“Mas, tadi kan kamu mau ngajak aku sama Abay keluar,”
ucapku.
“Iya Sayang, aku tau, 5 menit aja ya,” rayunya.
“Huumm, iya iya,” kataku.
Naufal kembali tidur dalam pangkuanku.
“Meskipun hanya lima menit, tapi berasa lama Sayang kkalo
sama kamu,” kata Naufal.
“Garing kamu,” ejekku.
“Heemm, tadi kamu nggak bisikin aku apa-apa kan?” tanya
Naufal yang membuat mulutku kaku.
Bersambung…….
__ADS_1