
Gia kaget karena semua berkumpul di rumah ini.
Sedangkan Naufal sangat terkejut akan kedatangan keluarga mereka di saat kondisi hatinya dengan Gia sedang tidak baik.
Lagi-lagi Gia terpaksa menutupi perasaan sedihnya di depan keluarga mereka. Dia terlihat baik-baik saja dan seakan-akan dia bahagia saat itu pulang honeymoon dengan Naufal.
"Papa," ucap Gia langsung memeluk Papanya.
Gia lega bisa melepas rindu dengan Papanya, sebenarnya Gia ingin mengadu kepada Papanya tapi Gia tidak ingin Papanya sedih.
Gia melepas pelukannya dan menyalami satu persatu kerabatnya.
Gia memasang wajah sok bahagia di depan mereka.
"Ciyee, yang pulang honeymoon," ejek Susi.
Gia hanya tersenyum pada Susi.
Johan yang sedari tadi memandangi Gia langsung memeluknya.
"Kakak, kangen," rengek Johan
Gia mengacak-acak rambut Johan di pelukannya.
"Papa sama Mama kok bisa ada disini?" tanya Gia.
"Kan kemaren Naufal udah pamitan sama Mama kalo kalian mau honeymoon, jadi Mama sengaja buat kalian kejutan," jawab Mama Gia.
"Iya Nak, Mama gak sabar mau punya cucu," sahut Mama Naufal.
Lagi-lagi Gia hanya bisa tersenyum pada mereka, berbeda dengan Susi, sepertinya Susi tau kondisi raut wajah Gia yang sekarang, tetapi Susi mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Mari, monggo masuk dulu sini Mbak Mas," tutur Bi Sarah pada Gia dan Naufal.
Mereka semua duduk santai di ruang tamu.
Gia dan Naufal pamit untuk naik ke atas dulu, karena ingin mengganti baju dan juga meletakkan koperya.
***(di Kamar)
Gia meletakkan kopernya dan mengganti gamisnya lalu langsung turun ke bawah menemui keluarga mereka.
Langkahnya terhenti dengan panggilan Naufal.
"Gi, kamu masih marah sama aku?" tanya Naufal
"Jangan bahas sekarang ya, aku ingin menikmati momment bahagia bersama keluargaku," jawab Gia datar.
"Aku ingin turun menemui mereka, kamu segera menyusul agar mereka tak curiga pada kita," tutur Gia sambil mengambil oleh-oleh dari koperm
"Tapi Gi? Rasanya gak enak kamu giniin," rengek Naufal.
"Giniin gimana? Aku masih tetep kayak gini, gak ada yang berubah," kata Gia sambil mengernyitkan kedua alisnya.
"Beda Gi, beda," bantah Naufal.
"Mungkin bukan aku yang berubah, tapi kamunya yang ngrasa semua sudah berubah," jawab Gia langsung meninggalkan Naufal.
***(di Ruang Tamu)
__ADS_1
Gia melihat semua makanan sudah tertumpuk di meja ruang tamu.
Gia duduk di samping Papanya.
"Nih, Gia bawain oleh-oleh buat semuanya Ma," kata Gia pada Mamanya.
"Sebanyak itu Nak?" kata Mama Gia.
"Iya Ma, Gia sengaja beli sebanyak ini, biar semuanya ngrasain oleh-oleh khas balinya, hehehe," ucap Gia.
Gia membagikan oleh-olehnya pada kerabatnya.
Rupanya mereka senang dengan oleh-oleh yang dibelikan Gia.
"Bagus banget ini Nak, Mama suka," sahut Mama Naufal.
"Itu Gia pilihin warnanya sesuai kesukaan Mama," kata Gia.
"Naufal kemana Nak?" tanya Papa Naufal.
Gia menoleh ke arah belakang.
"Itu Pa Naufal," ucap Gia sambil melihat Naufal menuruni anak tangga.
Naufal duduk samping Mamanya.
"Gimana Nak honeymoonnya?" tanya Mama Naufal mencoba menggoda Gia dan Naufal.
Naufal menatap ke arah Gia, semua hening menatap Gia.
"Eemm....em," Gia hanya menjawab am em am em saja.
Semua mengerjai Gia dan Naufal. apalagi Susi dan Johan yang berkali-kali mengejeknya.
Setelah cukup lama mereka bercengkrama dan saling membuang canda. Gia mengajak mereka untuk makan siang bersama.
"Mari Ma, Pa makan siang dulu," ajak Gia.
Mereka berpindah ke meja makan.
Gia berjalan ke dapur untuk mengambilkan buah. Susi mengikutinya dari belakang.
"Gi," panggil Susi lirih.
"Hm? Apa Si?" jawab Gia sambil menata buah di piring putihnya.
"Kamu kenapa?" tanya Susi.
Gia menghentikan tangannya yang sedari tadi sibuk menata buah.
Gia membalikkan badannya menghadap Susi.
Gia tersenyum ke arah Susi.
"Apaan sih kamu, jelas bahagia lah, orang pulang honeymoon, gimana sih kamu," kata Gia sok bahagia.
"Gia Gia kayak gak tau kamu aja, bahagia sedih tetep aja senyam senyum," ejek Susi.
"Udah ayo kesana ditunggu mereka Susi," ejek Gia ganti.
__ADS_1
Susi dan Gia berjalan ke meja makan dengan membawa 4 piring buah.
Gia bingung ingin duduk di sebelah mana, karena kursi di samping Papa dan Suaminya kosong.
Naufal mengedipkan matanya pada Gia, pertanda memberikan kode pada Gia. Akhirnya Gia duduk di samping Naufal.
"Mari makan Pa, Ma," ucap Naufal.
Mereka segera menyantap hidangan yang ada di meja makan.
Setelah makan, mereka masih sempat mengejek Gia dan Naufal, Gia semakin malu begitu juga dengan Naufal.
Setelah beberapa menit mereka asyik membuang canda, mereka semua pamit untuk pulang.
***(di Depan Halaman Rumah)
"Mama sama Papa sering-sering kesini lagi ya," ucap Gia pada Mama Papanya.
"Insya'Allah Nak pasti," sahut Mama Naufal.
"Kami pulang dulu ya Nak," pamit Papa Naufal.
"Iya Pa," jawab Gia dan Naufal bersamaan.
Mereka menyalami Mama dan Papanya.
Setelah kerabat mereka masuk ke dalam mobil.
Raut wajah Gia kembali bersedih kembali.
"Bi, Gia ke atas dulu ya," pamit Gia pada Bi Sarah.
"Iya Mbak," kata Bi Sarah yang merasa ada yang beda pada Gia.
Gia berjalan menaiki anak tangga, Naufal mengikutinya dari arah belakang.
***(di Kamar)
Gia membuka kopernya dan membereskan baju-bajunya kembali.
Naufal selalu mencoba merayu Gia agar mau menatap wajahnya.
"Gi," panggil Naufal lirih.
"Hm?" jawab Gia.
"Aku boleh jelasin sekarang," tawar Naufal.
Gia menghentikan tangannya melipat baju-bajunya.
Bersambung.........
Terima kasih kakak semua🖤
jangan lupa like, komen, dan vote yang banyak yaa🙏😁
Tunggu kejutan di episode-episode selanjutnyaaa.
siap-siap dibuat baper hehehehe
__ADS_1