Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 27 (Kesempatan Kedua)


__ADS_3

Naufal langsung menjorok tubuh Vela yang memeluknya. Kali


ini hati Gia benar-benar hancur dan sangat kecewa dengan Naufal.


Gia menghampiri mereka. Vela bertanya pada Naufal.


“Fal, ini siapa?” tanya Vela.


“Eeeemm ini…,” kata Naufal dipotong oleh Gia.


Tanpa pikir panjang Gia langsung menjawabnya.


“Saya rekan kerja Dokter Naufal,” jawab Gia dengan lapang


dada. Padahal sebenarnya hati Gia hancur.


“Saya Vela,” ucap Vela ramah.


Deeeeegggggg


“Ini kan wanita yang di cintai Naufal,” gumam Gia dalam


hati.


“Oh iya, saya permisi,” ucap Gia singkat dan berjalan menuju


mobilnya.


Gia menancap gas mobilnya dengan sangat kencang, Gia


menangis dalam mobil.


“Pa, Gia takut disini tanpa Papa, Gia pengen selamanya sama


Papa, Gia capek Pa, Gia pengen meluk Papa, hati Gia sakit Pa,” rintih Gia dalam hatinya.


Sebelum Gia sampai di kos Susi, dalam mobil Gia mengusap


bersih air matanya, agar Susi tidak curiga padanya.


***(di Kos Susi)


Gia mengetuk pintu kamar kos Susi.


Tok….tok….tok.


Susi membuka pintu kamarnya.


“Giaaaa, masuk sini,” perintah Susi.


Gia duduk di ranjang Susi sambil menunggu Susi yang masih


berdandan. Susi tidak bisa sedikitpun dibohongi oleh Gia.


“Gi, are you oke?” tanya Susi yang memoles wajahnya dengan


bedak.


“I’am oke,” jawab Gia sambil tersenyum kea rah Susi.


“Gak, kali ini kamu bohong sama aku?” ucap Susi yang


beranjak dari kursinya untukmenghampiri Gia.


“Iiiih apaan sih Si, orang aku gak kenapa-napa kok,” ejek


Gia.


Susi menatap tajammata Gia yang sembab di bagian bawah


kantung mata dan kelopak matanya.


“Gak salah lagi ini Gi, kamu habis nangis ya?” tebak Susi.


“Enggak, aduuh Susi, udah ah cepetan ayo berangkat,” rayu


Gia.


“Gi, udah dong, udah cukup pura-pura bahagianya,” rengek


Susi.


“Sahabatnya Naufal ke rumah Si,” ucap Gia sambil matanya


berkaca-kaca dan langsung memeluk Susi.


Dalam peluknya, pikiran Susi langsung tertuju pada sahabat


Naufal yang pernah di ceritakan padanya.


“Giaaa, nggak semua hal bisa kamu pertahanin sendiri Gi,


kamu gak bisa berjuang sendiri, kamu nggak kasian sama diri kamu sendiri,” tutur Susi sambil mengelus-elus Gia.


“Aku mencintainya Si,” ucap Gia terbata-bata karena isak


tangisnya.

__ADS_1


“Suatu saat kamu pasti menyadari Gi, bahwa cinta bukan soal


kamu dan dia, tapi juga tentang perasaanmu, aku ngerti Gi, jatuh cinta itu takdir, tapi bukankah kita masih bisa mengendalikan diri,” tutur Susi lagi.


“Lalu sampai kapan Gi kamu mau tetap seperti ini?” ucap Susi.


Gia sudah tidak bisa berkata apa-apa, Gia hanya bisa


menangis saat itu.


Susi mengusap air mata Gia di kedua pipinya.


“Tangisin aja Gi kalo kamu mau nangis, aku akan ada sama


kamu,” ucap Susi.


Beberapa menit sepertinya Gia agak tenang.


“Gi, ini udah malem mending sekarang kamu pulang, kamu


selesai in masalahnya ya,” tutur Susi.


Gia menggelegkan kepalanya.


“Gi, kamu gak boleh lari dari masalah, ya?” rayu Susi.


“Aku pengen ketemu Papa Si, aku sakit Si, sakit hati aku,”


ucap Gia.


“Hei, lihat aku, aku yakin kamu bisa lewatin ini semua, kamu


kuat Gi,” tutur Susi.


Akhirnya Gia menuruti apa kata Susi, Gia berpamitan untuk


pulang.


***(di Rumah)


Sampai di rumah, Gia berjalan sambil melamun dengan


tangisnya sampai-sampai Gia lupa tak mengucapkan salam saat masuk rumahnya.


Gia naik ke kamarnya, Gia menaruh tasnya dan duduk di


ranjang kasurnya sambil tetap menangis.


Naufal yang baru saja keluar dari ruang kerjanya berniat


untuk naik ke atas kamarnya.


terbuka, Naufal melihat istrinya yang sedang menangis dengan wajah lusuh dan


sembab.


Gia mengetahui adanya Naufal disana. Naufal berjalan


mendekati Gia dan ingin duduk di sebelah Gia. Tapi Gia mencengah nya.


“Stop! Jangan dekati aku,” ucap Gia yang sama sekali tak


melihat ke arah Naufal melainkan melamun.


“Apakah kamu sekarang sangat bahagia?! Apakah kamu sekarang ingin berpisah dengan ku?! Apakah sekarang kamu ingin meninggalkan aku?! Ha jawab Fal!” ucap Gia dengan nada meninggi.


“Aku capek Fal! capek. Aku bisa nerima kenyataan kalo kamu


gak bisa cinta sama aku, tapi aku gak bisa lihat kamu sama dia Fal, enggak ! aku gak bisa! hatiku gak setegar itu Fal,” ucap Gia dengan tangisnya yang semakin menggila.


“Gi, dengerin aku dulu,” rayu Naufal.


“Dengerin apa lagi Fal? jika kamu mencintainya kenapa kamu


mau dijodohkan dengan aku! Kenapa kamu mau menikahi aku, seakan-akan kita terlihat sangat saling mencintai di depan keluargaku begitu juga di depan keluargamu! Kamu mikir dong Fal,” kata Gia yang sangat marah dan masih tetap menangis.


“Aku rela bertahan untuk mereka Fal, tapi kamu! Apa Fal? Ha


apa?!” kata Gia.


“Hati yang lebih tau pada siapa dia jatuh cinta Fal, dan


sudah fitrahnya hatiku seperti ini, hati tak mampu mengingkari,” ucap Gia sambil menunjuk-nunjuk ke arah hati Naufal.


“Disini aku yang salah, aku yang mencintaimu, tapi kamu


tidak. Aku nggak minta lebih sama kamu Fal, aku hanya ingin bersamamu karena Allah, dan terimalah aku juga karena-Nya Fal, tapi apa?!” sontak Gia.


“Tapi sudahlah, malam ini aku ingin pergi, aku ingin pulang


Fal,” ucap Gia sambil mengambil kopernya dan membuka almarinya lalu mengambil


semua bajunya.


Sepertinya sedari tadi Bi Sarah telah menguping pertengkaran Gia dan Naufal, Bi Sarah mengetahui semuanya. Bi Sarah memilih untuk pergi menjauh dan masuk ke kamarnya saja sebelum sepasang suami istri melihat


keberadaannya.

__ADS_1


Naufal langsung berlari memeluk Gia, dan ingin menghentikan


amarah Gia.


“Enggak Gi, kamu gak boleh kemana-mana,” ucap Naufal sambil tetap memeluk Gia.


“Lepasin aku!” tegur Gia yang memukul-mukul tubuh Naufal.


“Aku gak mau kehilangan kamu Gi, enggak, aku gak mau,” ucap Naufal.


Gia berhenti berontak mendengar kata-kata Naufal.


Gia membalikkan badannya menatap Naufal.


“Jika kamu nggak mau kehilangan aku, lantas kenapa kamu


masih mencintainya? Kenapa kamu masih menaruh harap padanya? Aku ini istrimu Fal, aku ingin di cintai seperti seorang istri pada umumnya,” ucap Gia dengan menepuk-nepuk dada Naufal.


“Iya Gi, aku tau aku minta maaf,” kata Naufal mencoba


meyakinkan Gia.


“Dulu, aku udah cukup nahan semuanya Fal, sudah cukup aku


berharap bahwa kamu bisa mencintaiku? Udah Fal udah,” kata Gia yang langsung menyeret kopernya keluar kamar.


“Gi, beri aku satu kesempatan lagi buat bisa jatuh cinta


sama kamu,” ucap Naufal untuk menahan Gia agar tidak pergi.


“Jatuh cinta gak semudah itu Fal,” ucap Gia yang berdiri


membelakangi Naufal.


“Tapi aku yakin aku bisa Gi,” rayu Naufal.


“Percuma Fal, aku udah terlanjur kecewa sama kamu,” ucap Gia kembali berjalan meninggalkan Naufal.


“Gia, apakah kamu sudah tidak mencintaiku? Apakah kamu sudah merubah semua harapmu padaku? Jika kamu mampu berusaha untukku, begitu juga dengan aku yang selalu berusaha buat bisa jatuh cinta sama kamu Gi,” teriak Naufal.


Langkah Gia terhenti lalu membalikkan badannya. Naufal


kembali memeluk Gia lagi. Dan mengelus-elus kepala Gia. Gia membalas pelukan Naufal dengan sangat erat. Gia menangisdipundak Naufal.


“Kamu tenang ya, aku akan jelasin semua sama kamu, kamu


jangan pergi, aku janji aku gak akan ngecewain kamu,” ucap Naufal.


Naufal menenangkan Gia dan membawa Gia untuk masuk kembali ke kamar, Naufal menjelaskan semua pada Gia. Mereka duduk berdampingan di sofa.


“Tadi setelah kamu pergi, aku jelasin semuanya sama Vela


bahwa aku sudah menikah dan kamu adalah istriku,” ucap Naufal dengan sangat lirih.


“Lantas apa tujuan dia kemari?” tanya Gia yang masih sinis pada Naufal.


“Aku kira dia gak akan balik ke sini lagi, tapi ternyata dia


kembali untuk mengulang kisah aku sama dia di masa lalu, tapi gimana lagi? Semua itu tidak mungkin terjadi, aku sudah sepenuhnya milikmu Gi, meskipun dia mencintaiku, tapi dia gak akan bisa merebut aku dari kamu Gi, kamu istriku, tapi dia masa laluku,” kata Naufal sambil mengelus-elus pipi Gia.


“Bagaimana jika perasaanmu kembali seperti dulu lagi pada


Vela? Bagaimana jika kamu membohongiku? Bagaimana jika…..,” kata Gia terhenti.


“Huuuussstt, gak akan bisa Gi,” jawab Naufal sambil jari


telunjuknya membungkam bibir Gia.


“Aku gak akan nyia-nyiain kesempatan yang kamu beri untukku Gi,” kata Naufal sambil menarik telapak tangan kanan Gia dan ditempelkannya pada dada Naufal.


“Udah ya, jangan nangis, kita mulai lagi dari awal, aku


bakalan lupain dia,” ucap Naufal sambil mengusap pipi Gia.


“Kamu janji?” tanya Gia.


“Iya aku janji buat kamu,” jawab Naufal dan langsung


mengecup kening Gia.


“Sekarang kamu tidur ya, aku mau selesai kerjaan aku dulu,”


tutur Naufal.


Gia hanya menganggukkan kepalanya.


Naufal menggandeng Gia untuk tidur dan menutupi tubuh Gia


dengan selimut tebalnya. Sesekali Naufal kembali mengecup kening Gia. Dan berbisik pada telinga Gia.


“Good Night sayang, maafin aku,” ucap Naufal lirih.


Bersambung.......


see you di next eps readers😄


jangan lupa like, comment, dan vote ya😁🙏

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2