
Adzan magrib berkumandang, seperti biasa kami melaksanakan kewajiban kami untuk melaksanakan sholat, lalu kami kembali untuk tidur.
Keesokan harinya, saat aku terbangun, aku melihat Naufal yang sudah memakai kemeja.
Aku kaget melihatnya.
"Astagfirullah," ucapku sambil terbangun dari atas kasur.
"Loh, kok?? Kok kamu udah rapi," ucapku.
"Kan aku masuk pagi banget Sayang," jawab Naufal dengan santai.
"Ya Allah, aku lupa Mas, maaf ya Mas, aku nggak nyiapin kamu, kamu sendiri yang nyiapain?" tanyaku.
"Iya Sayang, udah gak papa, aku tadi kasihan mau bangunin kamu, kamu pasti masih ngantuk kan, apalagi semalam jam 2 kita baru tidur," tuturnya.
"Mas.....maafin aku," rengekku yang berdiri di sampingnya.
"Udah gak papa Sayang, nanti kamu di antar Pak Joko ya apa kamu mau nyetir sendiri, kan kamu jarang mau semobil sama orang lain," ucapnya.
"Lah, terus kamu?" tanyaku.
"Aku pake mobilku sendiri Sayang," jawabnya.
"Ooww ya udah nanti aku pake mobil sendiri aja Mas," kataku.
"Ya udah sekarang kamu mandi, aku mau berangkat ya," tuturnya.
"Nggak sarapan dulu kamu?" tanyaku.
"Udah nanti disana, ini jamnya udah mepet Sayang, aku berangkat ya," kata Naufal sambil mengecup keningku dan aku mencium tangannya.
"Bye Sayang, Assalamu'alaikum," ucap salamnya.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati Mas," jawabku.
Naufal berjalan keluar dari kamar, dan aku segera bergegas untuk mandi.
Kenapa tiba-tiba terus terpikirkan berkas dengan nama Pak Kevin di otakku.
"Apa yang sebenarnya terjadi sama Pak Kevin?" tanyaku dalam hati.
"Aku sudah berusaha untuk tidak memikirkan hal itu, tapi kenapa tiba-tiba aku mengingatnya kembali, padahal aku nggak ada apa-apa sama beliau," kataku dalam hati.
"Perlahan-lahan aku akan cerita sama Naufal," kataku.
Setelah selesai mandi, aku segera bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Saat aku sedang berkaca, tiba-tiba bisikan itu terdengar kembali di telingaku.
"Pak Kevin," bisik angin sangat lirih.
Aku meletakkan maskaraku kembali ke meja.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, ke belakang.
"Ada apa sebenarnya?" dalam hatiku bertanya-tanya tentang bisikan itu.
"Kenapa harus aku yang memikirkan ini," kataku dalam hati.
Aku melamun sampai tak sadar jika waktu ku sudah mepet.
"Astagfirullah," keluhku sampai terburu-buru.
Aku segera mengambil tasku lalu turun ke bawah.
***(Di Ruang Makan)
"Mbak, kok nggak sarapan dulu?" tanya Bi Sarah yang tengah melihatku terburu-buru.
"Iya Bi, Gia pagi ini nggak sarapan ya, jamnya udah mepet banget," jawabku.
"Bibi bekelin ya Mbak," tuturnya.
"Nggak usah Bi, nggak papa, Gia langsung berangkat aja ya, daaa Bi, Assalamu'alaikum," kataku sambil langsung melangkahkan kaki menuju ke garasi.
Setelah aku masuk ke dalam mobil, segera ku tancap gas mobilku dengan sangat kencang.
Nama Pak Kevin terus bergema di telingaku.
"Pak Kevin, Pak Kevin, Pak Kevin,"
Aku takut mendengar bisikan itu terus menerus.
"Hwwaaaaaaa," teriakku sambil mengerem mendadak mobilku.
"Hah hah hah," nafasku tersengal-sengal.
Untung saja mobilku berhenti di tepi jalan.
"Astagfirullah, Ya Allah," kataku sambil menyenderkan kepalaku.
Ku pijat keningku perlahan-lahan.
"Astagfirullah huuufftt, ada apa sebenarnya Ya Allah?? Aku tidak ingin memperdulikan beliau, tapi kenapa terngiang terus di pikiranku," kataku dalam hati.
"Bismillahirrahmanirrahim, fokus Gi fokus," kataku, lalu kembali menancap gas mobilku.
***(Di Rumah Sakit)
Ku parkirkan mobilku.
Aku turun dari mobil dan berlari ke ruanganku, karena hari ini aku telat.
Sampai-sampai di tengah lorong aku sempat tertabrak dengan seseorang.
"Maaf Mbak, maaf," kataku.
Sampai di ruanganku, aku meletakkan tasku dan mengambil stetoskop lalu berjalan ke ruang periksa.
"Aduh, hari ini kan aku ada jadwal operasi malam," kataku dalam hati.
"Aku lupa nggak bilang sama Naufal," ucapku dalam hati.
Setelah selesai memeriksa pasien, Suster yang biasanya bersamaku datang ke ruanganku.
"Dok, nanti ada jadwal operasi sehabis magrib," ucap Suster itu.
"Iya Sus, saya ingat," jawabku.
"Dan ini untuk berkas hari ini Dok," ucapnya sambil menyerahkan beberapa lembar kertas padaku.
"Oh iya Sus, makasih," kataku.
Sebenarnya aku ingin menanyakan berkas Pak Kevin pada Suster ini, tapi aku takut,tapi jika aku tidak menanyakan, bisikan itu akan terus menghantuiku.
"Kalo gitu saya permisi ya Dok," ucapnya lalu berjalan melangkah keluar.
__ADS_1
"Emmm Sus," panggilku.
Suster itu berbalik lagi menoleh padaku.
"Iya Dok?" jawabnya.
"Eemmmm.....Saya boleh minta data pasien yang kemaren Suster ambil di meja saya," kataku yang sebenarnya benar-benar ragu.
"Ooowwhh itu Dok, baik nanti saya ambilkan," kata Suster itu.
"Eemmm makasih ya Sus," ucapku.
"Iya Dok, saya permisi," ucapnya kembali.
Setelah Suster itu keluar dari ruanganku, aku kembali terpikir tentang Pak Kevin.
"Apapun itu, aku harus cerita sama Naufal, aku nggak mau ada masalah lagi sama dia," kataku dalam hati.
"Untung saja Suster tadi tidak bertanya-tanya padaku," kataku sendiri.
"Apa sekarang aja ya aku ke ruangan Naufal," ucapku sendirian.
Tetapi aku memutuskan untuk menemui Naufal.
Sampai di ruangan Naufal aku tidak melihatnya di dalam sana.
Saat aku keluar dari ruangan Naufal, aku bertemu dengan Pak Bastian.
"Loh Gi? Nyari Naufal?" tanyanya.
"Iya Pak, kemana ya?" tanyaku balik.
"Naufal di ruang ICU Gi, sibuk dia," jawab Pak Bastian.
"Oww gitu ya Pak, ya sudah nanti saja, makasih Pak, permisi," kataku.
Aku berjalan menjauh dari ruangan Naufal.
Aku juga harus melanjutkan pekerjaan ku disini.
Hari sudah semakin sore.
Aku tidak bertemu sama sekali dengan Naufal, bahkan saat aku sholat aku juga tidak bertemu dengannya.
Apalagi sebentar lagi aku ada jadwal operasi, pasti aku sudah tidak bertemu dengan Naufal.
Dan sore ini aku ada tugas lain.
Jadi aku mengirim pesan saja pada Naufal.
"Mas, ini nanti aku ada jadwal operasi, jadi kamu pulang duluan aja gak papa," Gia.
Belum ada balasan dari Naufal.
Tiba-tiba kepalaku sangat pusing.
"Aduh, pusing banget," kataku dalam hati.
Adzan magrib berkumandang, aku segera menyempatkan untuk sholat.
Setelah sholat, aku baru saja mendapat balasan pesan dari Naufal.
"Aku nunggu kamu aja, sampe kamu pulang Gi," Naufal.
Aku berjalan ke Ruang Operasi.
***(Di Ruang Operasi)
Semua sudah bersiap disana, karena operasi ini merupakan operasi besar untuk yang pertama kalinya untukku.
Beberapa jam kemudian, aku keluar dari Ruang Operasi.
Ku buka ponselku barangkali ada pesan dari Naufal, tapi ternyata tidak ada sama sekali.
Aku berjalan ke ruanganku.
***(Di Ruanganku)
Aku melihat ada semua berkas yang menumpuk di mejaku.
"Ini kan berkas yang kemarin," gumaku dalam hati.
Ku lihat satu persatu lembar kertas itu, sampai akhirnya aku menemukan nama Pak Kevin disana.
Ku baca identitas yang tertulis di kertas itu, untuk memastikan apakah itu benar-benar Pak Kevin atau pasien lain.
Dan ternyata aku sangat syok, karena tau bahwa Pak Kevin sedang di diagnosa penyakit gagal ginjal.
"Astagfirullah," kataku dalam hati sambi menutup mulutku karena benar-benar kaget.
"Pak Kevin sakit gagal ginjal," kataku dalam hati.
Aku masih tidak percaya dengan tulisan ini, tapi ku baca dari awal sampai akhir benar membuktikan bahwa Pak Kevin mengidap penyakit gagal ginjal.
"Ya Allah kasihan Pak Kevin," aku terduduk lemas saat itu.
Aku melamun karena kaget dengan kenyataan yang aku lihat sekarang.
"Pak Kevin Pak Kevin, aku gak nyangka padahal selama ini beliau kelihatan sehat-sehat saja," ucapku dalam hati.
Hari semakin larut malam.
Sampai waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
Ku lihat ponselku, tidak ada notif pesan masuk dari Naufal.
Aku mencoba untuk meneleponnya, dan ternyata tidak ada balasan sama sekali dari Naufal.
Segera aku membereskan mejaku lalu menyusul Naufal ke ruangannya.
Aku berlari ke ruangan Naufal.
Sampai disana ruangan Naufal sudah gelap.
"Naufal kemana sih? Di chat gak ada balasan, Di telepon ga bisa, kepalaku pusing banget," kataku dalam hati.
Berkali-kali aku melihat ponsel ku dan menunggu balasan dari Naufal.
"Pasti dia sudah pulang?? Tapi dia bilang, dia bakalan nunggguin aku," ucapku di depan ruangan Naufal.
Hampir satu jam aku menunggu di depan ruangan Naufal.
"Apa aku ke parkiran aja ya? Lihat mobilnya ada apa nggak?" tanyaku dalam hati.
Aku berjalan pelan menuju parkiran dengan kepalaku yang sangat pusing.
***(Di Parkiran)
__ADS_1
Aku mencari dari ujung parkiran sampai akhir, aku tidak menemukan mobil Naufal disana.
"Ya Allah Naufal kemana sih? Aku takut pulang sendiri, lagian ini udah setengah sebelas malam, mana hujan deras lagi," kataku dalam hati.
Aku masuk ke dalam mobil, menelepon kembali Naufal. Tapi tetap saja tidak bisa.
"Fal, kamu kemana? Aku khawatir sama kamu, aku takut," ucapku yang khawatir dalam mobil.
Air mataku menetes deras di kedua pipiku.
Dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang sendiri saja.
Ku tancap gas mobilku sangat cepat.
Jalanan begitu sepi, bahkan hanya mobilku saja yang tengah melintas sekarang.
Aku terus menangis di dalam mobil, sampai akhirnya di pertengahan perjalanan, mobilku oleng, segera ku tancap remnya.
"Astagfirullah astagfirullah," kataku dalam mobil.
"Mobilku kenapa ya?" tanyaku dalam hati.
Aku menoleh ke belakang, ke samping dan kembali menatap ke arah depan, jalanan sangat sepi, tidak ada satu mobilpun yang melintas keculi mobilku yang berhenti.
"Iiissh," desisku karena pusing di kepalaku.
Ku ambil payung yang ada di bagian belakang mobilku untuk mengecek apa yang terjadi dengan mobil ini meskipun kepalaku sangatlah pusing.
Ku buka mobilku dan ku kenakan payung untuk mengecek satu per satu ban mobilku, dan ternyata ban belakang mobilku bocor.
Sehabis aku jongkok dan kembali berdiri di tengah-tengah jalan dengan hujan yang dangat deras, ada dua laki-laki yang tengah berjalan ke arahku.
"Siapa mereka?" tanyaku dalam hati.
Aku tidak mengenal wajah dua laki-laki berotot itu.
Mereka mulai mendekat padaku, aku sangat takut, saat aku akan masuk kembali ke dalam mobil, dua laki-laki itu menarik kedua tanganku dn menggodaku.
"Siapa kamu???!!! Lepasin saya!!!" teriakku dengan sangat histeris.
Aku menangis ketakutan, sepertinya mereka seorang begal.
Dan akhirnya ada lampu mobil yang menyorot dari belakang, lalu mobil itu berhenti di belakang mobilku, tak sempat melihat siapa yang ada di dalam mobil, karena pandanganku sudah buram dan kepalaku sangat pusing, aku jatuh pingsan di antara dua laki-laki itu.
Aku tidak tua apa yang terjadi, yang aku tau saat aku membuka mata, aku sedang berada di dalam sebuah mobil.
Dan hujan masih sangat deras.
"Mobil siapa ini?" tanyaku dalam hati.
Aku menoleh ke samping sambil memijat kepalaku.
Dan aku sangat syok melihat pria yang sedang duduk menyetir di sampingku.
"Pak Kevin!!!" ucapku sangat syok saat sedang di setiri Pak Kevin di hujan deras ini.
Aku menoleh ke belakang mobilnya, jalanan sepi.
"Pak....Kok saya??? Saya ada disini?" tanyaku.
Aku benar-benar bingung, apa yang harus aku lakukan, apalagi aku sekarang berada dalam satu mobil dengan Pak Kevin, aku takut jika Naufal tau. Pasti dia akan salah paham.
"Aduuh gimana ini? Apa yang terjadi?? Kok aku bisa sama Pak Kevin," gumamku dalam hati.
"Gimana kalo Naufal tauuu?" gerutuku dalam hati sambil memeras kain gamisku.
Pak Kevin hanya diam dan fokus menyetir, ku lihat ponselku tidak ada pesan juga dari Naufal.
"Ppp.....Pak, saya......saya....turunin saya disini Pak," kataku dengan gugup.
"Pak," panggilku karena ingin memaksa turun.
"Gak mungkin saya turunin kamu disini, ini tengah malam, jalanan sepi, hujan deras," jawabnya singkat dan sama sekali tidak menoleh padaku.
"Bapak turunin saya aja gak papa, lebih baik saya naik ojek online Pak," paksaku.
"Bahaya malem-malem gini, bentar lagi juga sampe rumah kamu," jawabnya lagi dengan singkat tanpa melihatku.
Aku langsung mengambil ponselku untuk menelepon Naufal agar dia menjemputku. Tapi ponsel Naufal tidak bisa di hubungi.
"Aaassshh," kataku menyerah untuk menghubungi Naufal.
Hatiku sangat sakit dan kacau, sedih seperti mau mati rasanya, disaat seperti ini Naufal tidak ada untukku.
Mataku mulai berkaca-kaca.
Sampai aku menangis terisak-isak.
Pak Kevin sesekali menoleh padaku, melihatku yang sedang resah dan sangat kacau.
"Kamu takut Naufal marah?" tanya Pak Kevin.
"Aku tadi hanya menolongmu dari para begal itu, aku kasihan karena kamu sangat ketakutan," ucapnya.
"Kamu pingsan, dan mobilmu?? Tadi sudah di urus sama mekanik mobil," ucapnya.
Aku benar-benar sangat sedih.
"Kemana Naufal??!! Apa dia tidak memikirkan keadaanku," kataku dalam hati.
"Pak turunin saya, saya takut jika Mas Naufal salah paham," ucapku.
Pak Kevin tidak menjawabnya, malah menambah kecepatan mobilnya.
Aku menangis terus-menerus dalam mobil.
"Fal Fal, kamu gini sama aku? Kamu kemana? Aku hampir saja celaka tapi kamu?? Kemana Fal?!" tekanku dalam hati.
"Aku harus bilang apa sama Naufal jika Naufal tau semua ini," kataku dalam hati.
Aku terus memaksa Pak Kevin tapi dia mengabaikan ku, karena dia khawatir padaku jika harus turun dari mobilnya malam ini.
Saat jalan menuju rumahku semakin dekat, hatiku semakin takut akan ada masalah lagi di antara aku dan Naufal.
Mobil Pak Kevin melaju pelan mendekati depan Rumah.
Saat mobil Pak Kevin akan berhenti dari arah barat yang akan berhenti di depan gerbang Rumah, aku melihat mobil Naufal yang juga berhenti dari arab timur.
Mobil Naufal dan Pak Kevin berhenti tepat berhadapan di depan gerbang.
"Itu kan mobil Naufal?? Dari mana dia sampai tengah malam seperti ini??!!" tanyaku dalam hati yang awalnya aku khawatir padanya dan sekarang menjadi sakit karenanya.
Aku melihat Naufal yang turun dari mobilnya dan menghampiri mobil Pak Kevin.
Padahal dia belum tau jika aku berada di dalam mobil Pak Kevin.
Bersambung.......
__ADS_1