Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 83 (Naufal left)


__ADS_3

Tak terasa akhirnya kami sampai di rumah


***(di Rumah)


Mobil terparkir di depan halaman Rumah.


Kami masuk melewati pintu depan.


"Assalamu'alaikum," salam kami sambil Naufal membuka pintu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah yang berjalan dari halaman belakang Rumah.


"Pulang siang Mbak?" tanya Bi Sarah


"Iya Bi," jawabku.


Kami berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kamar.


***(di Kamar)


"Kamu segera mandi terus sholat, aku mau ke bawah siapin makan siang kamu," tuturku sambil melepas heelsku.


"Sayang ingetin aku ya nanti bawa berkas dari Pak Anton," kata Naufal.


"Iya," jawabku datar dan langsung masuk ke ruang ganti baju.


Setelah selesai mengganti baju, aku menyiapkan kemeja yang akan di pakai Naufal.


Kelihatannya Naufal sedang mandi, aku turun ke bawah untuk menyiapkan makan siang Naufal.


***(di Dapur)


Aku menyalakan kompor untuk membuatkan bubur ayam instan .


"Mbak, Mau masak lagi?" tanya Bi Sarah.


"Iya Bi, Mas Naufal ada kerja di luar negeri," jawabku.


"Kapan Mbak? Sekarang," tanya nya lagi.


"Iya Bi, habis ini, paling-paling juga sebentar lagi di jemput temannya," jawabku sambil tersenyum manis padanya.


"Loh, Mbak Gia nggak ikut?" tanya Bi Sarah yang semakin kepo.


"Enggak Bi, cuman tim dari Mas Naufal aja," kataku sambil menuangkan bubur ayam kering.


"Sini Bibi bantu apa lagi Mbak," tawar Bi Sarah.


"Oh nggak usah Bi, cuman ini kok," kataku.


"Lama ya Mbak disana," tebak Bi Sarah dengan lirih.


"Lumayan nggak lama Bi, cuman 3 hari aja kok," kataku.


Hati ku berkata, 3 hari itu sudah sangat lama menurutku.


"Mbak Gia sedih?" tanyanya lirih.


"Eehhhhmmm........Ini demi pekerjaan Mas Naufal Bi," ucapku.


Beberapa menit kemudian, Ku sajikan semangkuk bubur ayam dan jus seledri di meja makan.


Naufal turun dengan membawa koper yang sudah ku siapkan sejak tadi pagi.


***(di Ruang Makan)


Naufal duduk berdua saja bersamaku saat itu. Dan dia segera menyantap bubur ayam buatanku.


"Mas, Pak Bastian kok belum jemput, jangan-jangan nggak jadi," godaku.


"Pasti jadilah Sayang, bentar lagi pasti Bastian nyampe, tadi dia WA aku otw kok," kata Naufal.


"Oh, emm berkas kamu, gimana? Udah di bawa semua," tanyaku untuk mengingatkan nya.


"Udah Sayang, nanti kalo gak ada aku kamu baik-baik ya di rumah," tutur Naufal sambil memandangku.


"Kok gak ada kamu? Kan cuman 3 hari gak ada kamu, kamu bakalan balik kan," ucapku khawatir.


"Iya Sayang, pasti aku balik kok, kamu masih kepikiran ya?" tebaknya.


"Eehhmmm......ehmmm. Eng.....nggak," jawabku gugup tidak ingin membuat Naufal khawatir.


"Nanti kalo kamu disana, kayaknya aku sering keluar sama Susi deh, entah makan atau apa gitu, boleh ya?" rayuku mengalihkan pembicaraan.


"Aku tau Gi, sebenarnya kamu tidak ingin merasa kepikiran dan kesepian di rumah, dari mata kamu, aku sudah tau bahwa kamu masih memikirkan mimpi itu," gumam dalam hati Naufal.


"Iya boleh, tapi pulangnya tetep, gak boleh malem-malem,x tutur Naufal.


"Iya Mas," jawabku.


Ting tong.....ting tong......ting tong.


Bel rumah berbunyi.


"Bentar ya Mas, aku bukain pintu dulu, mungkin Pak Bastian," kataku sambil beranjak berdiri dari kursi.


Naufal hanya menganggukkan kepalanya.


Aku berjalan menuju pintu, lalu kubuka pintu itu.


Dan ternyata benar, itu adalah Pak Bastian.


Aku tersenyum padanya.


"Mari Pak masuk," ucapku mempersilahkan masuk.


"Naufal udah siap Gi?" tanyanya.


"Itu Pak, Mas Naufal masih makan," jawabku.


Pak Bastian melangkahkan kakinya untuk masuk, dan beliau ku tuntun untuk menuju Ruang Makan.


***(di Ruang Makan)


Pak Bastian duduk sejajar di kursi depan Naufal.


"Eehmmm Pak Bastian mau?" tawarku.


Sebelum menjawab, mata dua laki-laki itu saling bertatap.


"Mau Gi," jawab Pak Bastian.


"Sebentar, saya ambilkan," kataku sambil berjalan menuju dapur.


Naufal dan Pak Bastian saling berbisik.


"Kapan lagi Fal," goda Pak Bastian pada Naufal.


"Keenakan lo ditawarin istri Gue," ucap Naufal kesal.


"Wahahaha, siapa tau ketularan Fal," goda Pak Bastian lagi.


"Ketularan gimana maksud Lo?" tanya Naufal sambil mengernyitkan kedua alisnya.


"Ketularan dapet istri macam Gia, wahahaa," kata Pak Bastian lirih.


"Huuuu dasar jomblo, ngaco Lo," ejek Naufal.


Dari jauh sesekali aku melirik ke arah mereka yang juga melirikku sambil tertawa terbahak-bahak.


Aku kembali berjalan menuju meja mereka.


"Ini Pak," kataku sambil menyerahkan semangkuk bubur ayam.


"Sayang, tau gitu tadi nggak usah kamu tawarin bubur ayam," rengek Naufal.


Sedangkan Pak Bastian langsung melahap bubur ayam sambil matanya terarah pada Naufal.


"Dia cemburu Gi, kalo aku dapetin istri sama kayak kamu," sahut Pak Bastian yang sengaja ingin membuat kesal Naufal.


Ya begitulah mereka.


Saat Pak Bastian berkata seperti itu, aku malu dan langsung menundukkan kepalaku.


.


.


.


Setelah mereka selesai melahap habis bubur ayamnya, mereka berpamitan padaku.


Kami berjalan menuju halaman depan Rumah.


***(di Halaman Depan)


"Baik-baik ya Sayang disini," tutur Naufal.


"Kalo kamu mau kemana aja atau mau ngapain aja, kamu harus kasih tau aku, setiap menit atau jam kamu harus kasih kabar aku, ya?" ucap Naufal.


"He'em, kamu disana juga hati-hati Mas," kataku yang sebenarnya sangat berat aku ucapkan.


Naufal mengecup keningku sambil memegang kedua pipiku.

__ADS_1


"Selamat tinggal Sayang," ucap Naufal.


"Kok selamat tinggal? Kan kamu bakalan balik lagi," rengekku.


"Lupa Sayang, sampai jumpa ya, Assalamu'alaikum," kata Naufal.


"Wa'alaikumsalam," jawabku sambil menyalami dan mencium tangannya.


Naufal mengangkat kopernya di bagasi mobil dan masuk ke dalam mobil Pak Bastian.


Tinnn.


Sesekali Pak Bastian menyalakan klakson mobilnya, Naufal membuka kaca jendela mobil dan melambaikan tangannya padaku.


Saat mobil sudah keluar dari halaman Rumah.


Air mataku menetes di kedua pipiku.


Sekarang, orang yang sangat aku cintai telah pergi.


Dengan segera aku berlari menaiki anak tangga untuk ke kamarku


Saat di tengah-tengah anak tangga, sekilas teringat kembali mimpi buruk itu yang membuat pusing kepalaku.


"Ya Allah, lindungilah suamiku, berikan keselamatan untuk suamiku disana dan sampai kembali kesini, hamba tidak ingin dia kenapa-napa Ya Allah, apalagi kehilangan dia, hamba sama sekali belum siap," ucapku dalam hati dan kembali berjalan ke kamar.


***(di Kamar)


Aku mencoba menenangkan diri untuk tidak khawatir terus menerus pada Naufal.


Ku raih ponselku di dalam tas, dan aku mencoba menelepon Susi.


Tut...tut......tut.


Tidak ada balasan dari Susi, tetapi aku mencobanya kembali.


Tut....tut....tut.


"Assalamu'alaikum," ucapku.


"Wa'alaikumsalam Gi," jawab Susi.


"Si, nanti malem bisa nggak kita keluar kemana gitu," rengekku.


"Kamu kenapa? Tiba-tiba kayak ngrasa kesepian banget, suami kamu kemana Gi? Terus kenapa suara kamu lemes gitu," ucap Susi.


"Habis nangis ya?" tebak Susi.


"Ceritanya panjang Si, tapi aku bakalan cerita kok sama kamu," kataku.


"Okey, nanti jam berapa Gi? Aku bisa kok bisa, apalagi sama kamu," goda Susi yang selalu seperti itu jika tau aku sedang tak enak hati.


"Aaaaaaa.......Susi, habis magrib ya, nanti aku jemput kamu," kataku.


"Oke siap Dokter Gia," jawab Susi.


"Ya udah ya, makasih, jangan lupa loh nanti," kataku.


"Iya iya Gi," ucapnya.


"Assalamu'alaikum, bye Si," ucap salamku.


"Wa'alaikumsalam Gi," jawab Susi.


Aku menutup telepon pada Susi.


"Huuuffttt, sepi, Video call Papa ah," kataku.


Tut....tut....tut.


"Hallo Nak," sapa Papaku di layar ponselku.


"Assalamu'alaikum Pa," salamku.


"Wa'alaikumsalam," jawab Papa.


Aku melihat Papa sedang bersama Johan dalam mobil dan Mama duduk di kursi belakang.


"Papa pulang?" tanyaku sambil tersenyum padanya.


"Iya Nak, ini mau makan di luar sama Adik kamu sama Mama kamu," jawab Papa sambil menyerahkan ponselnya ke Johan.


"Gimana kuliah kamu?" tanyaku pada Johan.


"Lancar Kak, tapi ya gitu sih, gak selalu monoton, naik turun," ucap Johan sambil melirik ke arah Papa.


"Gak usah nyerah, kan memang seperti itu, kita.....nggak selalu berada di posisi atas," tuturku.


"Bukan begitu Pa?" sahutku pada Papaku.


"Kakak dulu gitu ya Pa?" tanya Johan.


"Kamu tau sendiri Nak," sahut Mamaku.


"Nak, suami kamu kemana?" tanya Mama.


"Lagi ada kerjaan di luar negeri Ma, baru aja berangkat tadi," jawabku.


Papaku langsung mengambil kembali ponsel dari genggaman tangan Johan.


"Berapa hari?" tanya Papa yang khawatir.


"Cuman tiga hari Pa," jawabku.


"Tuh Papa kamu khawatir sama Puteri nya," ejek Mamaku.


Ya begitulah Papa, yang sama sekali tidak ingin hal kesedihan mampir dalam hidupku.


"Kamu sama siapa di rumah?? Besok kerja berangkat sendiri?" tanya Papaku.


"Biasa Pa, Gia sama Bi Sarah, Pak Joko, Pak Rusdi, yaaa.....besok Gia berangkat sendiri Pa," jawabku dengan tersenyum agar terlihat seolah tidak ada kesedihan yang numpang di raut muka ku.


"Hati-hati Nak, makan nya di jaga, baik-baik di rumah, kalo kesepian telepon Papa atau Mama kamu," tutur Papaku.


"Pa, Kakak kan udah pernah Papa luncurin untuk kuliah luar kota," ejek Johan.


"Papa kamu parno Gi," sahut Mama.


Memang sih Papa parno an orangnya apalagi jika menyangkut aku.


"Tapi nanti malem Gia nggak kesepian kok Pa, nanti Gia keluar sama Susi," ucapku.


"Kemana Nak?" tanya Papaku lagi.


"Mungkin makan Pa," jawabku.


"Ya udah Pa, Gia tidur dulu, habis magrib nanti Gia keluar," pamitku.


"Iya Nak," ucap Papa.


"Daaaa Kak, Assalamu'alaikum," ucap Mama dan Johan.


"Wa'alaikumsalam," jawabku sambil menutup video callnya.


Meskipun hanya Via ponsel, aku sedikit tenang bercengkrama dengan mereka, Papa, Mama sekaligus Adikku.


Ku letakkan ponselku di meja, dan aku merebahkan tubuhku di atas ranjang, ku terlelap dalam tidurku.


.


.


.


.


.


Adzan magrib berkumandang.


Ku buka pelan kedua mataku.


"Naufal mana ya?" ucapku.


"Mas...," panggilku.


Aku turun dari ranjang, dan menutup semua jendela serta gordennya.


"Oiya, kan Naufal pergi," ucapku dalam hati.


Aku baru saja teringat jika Naufal tidak ada bersamaku.


Ku lihat ponselku, tidak ada satupun pesan dari Naufal.


"Kok Naufal nggak ngabarin aku," kataku dalam hati.


Aku mencoba untuk menghubunginya, tapi di tolak olehnya.


Tak lama kemudian Aku mendapatkan pesan dari Naufal.


"Sayang, ini masih transit, nanti kalo udah sampe hotel, aku hubungi kamu lagi, bye Sayang," isi pesan Naufal.


"Huuufftt syukurlah dia baik-baik saja," ucapku dalam hati.

__ADS_1


Aku berjalan ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, setelah aku selesai mandi, dan langsung bersiap-siap untuk pergi bersama Susi.


Tak lupa aku menghubungi Susi terlebih dahulu.


Setelah selesai bersiap-siap, aku keluar dari kamar dan menguncinya lalu menuruni anak tangga.


Disana tampak Bi Sarah sedang berjalan ke dapur.


"Bi," panggilku sambil berjalan ke arahnya.


"Bi, Gia keluar dulu ya sama Susi, nanti pulangnya nggak malem-malem kok," kataku sambil tersenyum padanya.


"Iya Mbak, monggo, pun atos-atos (hati-hati) Mbak," ucap Bi Sarah dengan khas bahasa jawanya.


"Eheemm, iya Bi, Assalamu'alaikum," salamku pada Bi Sarah.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah.


Aku berjalan ke garasi untuk mengendarai mobilku sendiri.


Sedangkan mobil Naufal masih terparkir di depan halaman rumah.


Ku lajukan mobilku dengan kecepatan lumayan.


Di depan gerbang saat di bukakan Pak Joko, tak lupa aku juga pamit padanya.


"Pak, saya keluar dulu ya," ucapku.


"Iya Buk," jawab Pak Joko dengan senyumnya.


"Mari Pak," kataku sambil kunyalakan klaksonnya


Dalam perjalanan menuju kos Susi, mimpi itu kembali terlintas di pikiranku.


"Gi, kamu harus positif thinking, serahin semua sama Allah," kataku dalam hati.


Huuuufftttt, ku lajukan lebih kencang mobilku.


.


.


.


.


Tak lama kemudian akhirnya aku sampai di depan kos Susi.


Susi sudah berdiri di depan gerbang kosnya, dan dia langsung masuk ke dalam mobilku.


"Cepet banget Gi nyampenya," ucap Susi sambil memakai seatbelt.


"Ngebut Si tadi," jawabku.


"Wow, Gia ngebut, best best best," ejek Susi sambil bertepuk tangan.


"Emang kita mau kemana sih Gi?" tanya Susi.


"Kita makan, kita cari tempat makan yang nyaman buat kita ngobrol, ya?" kataku.


"Oke fine, this time is you," kata Susi.


Aku kembali menancap gas mobilku.


Akhirnya setelah setengah jam kita berputar mengelilingi kota ini, kita berhenti di resto seafood.


***(di Resto Seafood)


Ku parkirkan mobilku, dan segera keluar dari mobil lalu masuk ke dalam resto itu.


"Si duduk dimana?" tanyaku.


"Gia, time is you, jadi kamu yang milih," kata Susi.


"Sana aja ya," kataku sambil menunjuk ke arah meja di dekat kolam ikan.


Kami berjalan ke meja itu.


Kami duduk berhadapan, tak lama kemudian pelayan menghampiri kami.


"Selamat malam Mbak, silahkan," ucap pelayan itu sambil menyerahkan dua buku menu makanan.


Kami memesan makanan, minuman dan cemilan yang sama.


Setelah kami memesan, dan pelayan itu meninggalkan meja kami, Aku memulai cerita pada Susi.


"Oke, sekarang, kamu mau cerita apa sama aku," kata Susi sambil menatap dalam kedua mataku.


"Aku mau cerita dari awal sama kamu," ucapku.


Aku menceritakan semuanya mulai dari private cafe milik Pak Kevin.


"Whattt??? Pak Kevin muncul lagi Gi? Serius beliau bilang gitu di depan, di depan kamu suamiku kamu, bahkan di depan tunangannya loh," ucap Susi kaget sama menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Iya Si, beneran, sampek Mas Naufal geram banget waktu itu sama Pak Kevin," kataku.


"Terus gimana? Cerita kamu selanjutnya," ucap Susi.


Aku melanjutkan ceritaku kembali pada Susi.


Di tengah ceritaku, pelayan muncul membawakan pesanan kami.


Dia meletakkan satu per satu pesanan kami di atas meja.


"Makasih Mbak," ucapku.


Dia tersenyum padaku lalu berjalan meninggalkan meja kami kembali.


"Terus gimana yang tentang itu Vela yang di rawat sama Naufal, masalah itu kan kamu belum cerita sama aku," kataku Susi.


Aku menceritakan hal itu pada Susi, sampai air mataku menetes deras di kedua pipiku.


Setelah lama aku menceritakan semua unek-unek ku pada Susi, dan yang paling akhir aku menceritakan tentang mimpi buruk ku pada Susi.


"Serius kamu!!!!! Kamu mimpi gitu Gi," kata Susi yang juga sangat kaget.


"Iya Si, aku takut, apalagi Mas Naufal belum kasih kabar ke aku lagi," kataku sambil mengusap air mataku.


"Gia, andai aku di posisi kamu, aku juga pasti ngrasain hal yang sama kayak kamu, cemas, khawatir, ya kan? Dengan kamu cerita sama aku, aku bisa ngrasain apa yang kamu rasain, kita sama-sama ngrasain Gi, its oke, aku kan udah pernah bilang sama kamu, apapun yang kamu rasain, bagi sama aku, biar kita sama-sama ngrasain," tutur Susi yang selalu bisa membuatku sedikit tenang.


"Tapi Si, namanya seorang istri pasti khawatir banget, mimpinya juga sama persis seperti apa yang akan dilakukan Mas Naufal," ucapku sambil meneteskan air mata.


"Do'a in aja semoga gak terjadi apa-apa sama suami kamu, kamu juga jangan mikir bahwa mimpi kamu benar-benar terjadi, kamu pasti parnonya gara-gara itu kan," tebak Susi.


Aku menganggukkan kepalaku.


"Ya aku tau emang aku belum mengalami apa yang kamu alami, tapi kamu tenang ya, positif thinking, khusnudzon sama Allah, ya," tutur Susi.


"Sekarang kita makan dulu, tuh dari tadi lobster nya lihatin kamu yang lagi nangis tuh," ejek Susi.


Aku tersenyum dan mengusap kembali air mataku.


"Aaaaa Susi," rengekku sambil menyangkal lengannya.


"Udah ah, kita makan dulu gih, masak di anggurin doang Gi ini nya," kata Susi sambil menertawakanku.


Aku segera menyantap lobster dan makanan lainnya yang ku pesan.


Tiba-tiba ponselku berdering. Ternyata telepon dari rumah.


"Hallo Assalamu'alaikum Buk," suara Pak Joko.


Degggg......Hatiku syok mendengar suara Pak Joko yang persis seperti mimpiku.


"Wa'alaikumsalam, Pak, jangan bilang......," kataku.


"Maaf Buk, ini tadi ada tukang laundry dateng, saya suruh masuk tapi Bi Sarah sepertinya tidak ada, dan saya tidak tau ini nanti di taruh mana ya," ucap Pak Joko.


"Huuuffftttt syukurlah," kataku dalam hati sambil ku hembuskan nafas panjang.


"Eemmm.....taruh depan kamar saya aja Pak, maaf ya," kataku sungkan padanya.


"Baik Buk, tidak perlu sungkan Buk, ini juga termasuk tugas saya," kata Pak Joko.


"Iya Pak, makasih Pak," kataku.


"Baik Buk, Assalamu'alaikum," ucap salam Pak Joko.


"Wa'alaikumsalam," jawabku.


Aku letakkan kembali ponselku.


"Siapa Gi?" tanya Susi.


"Pak Joko Si, aku kira ngapain? Makanya aku tadi kaget banget kan, Pak Joko menelepon aku dari telepon rumah, huuffttt, kans sama persis kayak cerita aku Si," kataku.


"Terus orangnya ngmong apa ternyata?" tanya Susi lagi sambil meneguk minumannya.


"Soal baju laundry an Si," jawabku.


"Yaelah," ucap Susi.

__ADS_1


Ternyata ponselku kembali berdering.


Bersambung...


__ADS_2