
Mas Naufal tidak langsung menjawabnya.
Dia masih sempatnya berfikir dan tidak menjawab sesuai apa yang aku harapkan.
"Enggak, Mas nggak cinta sama dia," jawab Mas Naufal.
"Mas cintanya sama kamu Gi, ingat anak kita, kamu jangan begini sama Mas,"
"Mas yang seharusnya ingat sama anak kita,"
"Mencintai itu nggak bisa dipaksain Mas, sekarang Mas cinta sama aku. Besoknya, Mas cinta sama Vela juga bisa, sudah berapa kali aku bilang sama Mas, Allah itu Maha Membolak-balikkan hati manusia, tergantung manusianya saja bagaimana?"
"Aku juga tau Mas, yang menikah saja belum tentu bisa mencintai setiap hari, semua ada fasenya,"
"Ada fase nya Mas bosan sama aku, Mas nggak cinta sama aku, itu pasti ada,"
"Aku minta sama Mas sekarang jujur, huhuhu, aku nggak papa jika memang kenyataannya bukan aku yang sedang Mas cintai,"
"Aku sudah terbiasa mencintai sendirian," kataku sambil menangis terisak-isak.
"Mas bingung Gi, Mas bingung..."
"Akhir-akhir ini Mas nggak tau apa yang hati Mas rasain??? Mas bingung, Mas sungguh mencintai kamu," ucap Mas Naufal dengan enteng.
Duuuuaaaarrrrrrr......
Kata-kata yang paling MENYAKITI HATIKU.
Dengan mudahnya dia bilang seperti itu. Aku semakin menangis dan menangis tidak ada jeda sama sekali untuk aku berhenti menangis.
Mas Naufal benar-benar telah menyakitiku.
Ini bukan main-main lagi.
"Mas bingung, disaat Mas sibuk kerja, banyak pikiran, Clava datang dan welcome sama Mas, semuanya mengalir Gi, jika ada Clava sudah jelas disana ada Vela, dan Vela.......Vela mencoba ngobrol sama aku,"
"Kita ngobrol biasa Gi, Mas sudah membentengi diri Mas agar membicarakan seputar penyakit Clava nggak lebih dari itu, tapi....."
"Tapi semua berlanjut kan Mas," tebakku sambil melirikku.
"Bukan begitu Gi, Maafin Mas Gi, maafin Mas.." kata Mas Naufal.
"Semua ngalir gitu aja, kamu percaya Gi Mas nggak cinta sama Vela, Mas memang sering ketemu sama Vela, memori yang dulu jelas masih ada Gi, sebenarnya Mas juga tidak menginginkannya," sambung Mas Naufal lagi.
"Jadi, kalo sudah kayak gini, berarti Mas mencintai Vela??" tanyaku lagi.
"Enggak, Mas cintanya sama kamu, Maafin Mas Gi....Maaf....Mas nggak tau apa ini sebenarnya??" jawab Mas Naufal yang jatuh bersimpuh di kaki ku dan memohon-mohon padaku.
"Papaaaaaaa...........huhuhuhuhu.....Mas Naufal berkhianat sama Gia Pa, Mas Naufal jahat Pa, huhuhuhu," jeritku dalam hati menahan luka sembilu ini.
Aku melepas tangan Mas Naufal yang merangkul kaki ku. Lalu aku duduk berpindah di sofa. Aku menangis kembali menyesali jika aku sudah percaya dengan Mas Naufal.
"Mas nggak mau kamu tinggalin Gi, Mas nggak mau,"
"Nggak ada yang bisa menghilang dari rasa cinta pertama Mas," kataku padanya.
"Ya Allah.....kenapa Mas Naufal begitu kejam padaku, apa semua yang dibicarakan Mas Naufal ini memang dari lubuk hatinya yang paling dalam, aku juga tidak bisa menyalahkan semuanya sama Mas Naufal, pondasi saja bisa roboh jika sewaktu-waktu bencana datang," ucapku dalam hati.
"Mas, meskipun Mas lebih mencintaiku, tapi rasa Mas ke Vela masih ada,"
"Aku juga nggak bisa nyalahin Mas, aku juga nggak bisa nuntut Mas buat cinta nya ke aku aja, aku bukan orang egois Mas,"
"Luka ini sudah biarkan, biarkan aku yang merasakan sendiri, dan Mas......jika memang Mas benar-benar masih mencintai Vela, teruskan.....aku ikhlas, aku juga nggak akan ninggalin Mas,"
"Tapi jika suatu saat nanti aku mengambil keputusan, Mas juga jangan egois dan jangan menuntut agar aku tetap bersama Mas," ucapku.
"Mulai sekarang, cabut janji Mas sama Papa buat ngebahagiain aku,"
"Aku mau dan aku mampu ngebahagiain diriku sendiri, dengan caraku sendiri. Kita tetap suami istri tapi tujuan kita berbeda, jalan kita berbeda, aku harap Mas mengerti. Dan Mas segera kembali pada siapa takdir cinta Mas berada,"
"Gia, Mas nggak mau seperti ini, Clava itu pasiennya Mas Gi, nggak mungkin Mas nggak melayani dia, bagaimana dengan sumpah Dokter Mas dulu," ucap Mas Naufal.
"Kalo kamu mau, Mas siap ajak kamu ke luar negeri buat ketemu Vela, karena dia sudah tidak ada disini, dia pindah ke luar negeri buat berobat Clava, dan brownies tadi, itu brownies perpisahan yang dibuat Clava untuk Mas," sambung Mas Naufal lagi.
"Nggak perlu Mas, semuanya sudah jelas,"
"Mulai detik ini, aku ingin mencoba mencintai diriku sendiri lebih dari apapun,"
"Aku akan mengakhiri semua ini Mas, aku akan hilangin rasa cinta aku sama Mas," tegasku.
"Aku harap Mas menerima keputusan ini, dan mengerti," kataku yang langsung meninggalkan Mas Naufal sendirian di kamar ini.
Gllerrrrrr.......
Cambukan untuk Mas Naufal yang tidak jujur padaku.
Aku menangis menuruni anak tangga, tidak peduli hujan lebat. Hari ini aku akan pergi, mengadu pada Mama Feni. Aku tidak mungkin mengadukan ini pada Mamaku. Apalagi Mamaku yang belum sembuh dari kehilangan Papa.
"Ya Allah.....aku tau ini berdosa, aku tidak pantas mengucap kata itu pada suamiku, tapi aku ini juga manusia biasa, yang pasti melakukan dosa. Ampuni aku Ya Allah, huhuhuhu, sudah sakit berulang kali hatiku diperlakukan seperti ini, aku berjuang sendiri disini Ya Allah," ucapku dalam hati.
Untung saja di lantai bawah tengah sepi, aku bisa langsung berlari menuju garasi.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
Ku tancap gas mobilku menuju gerbang besar rumah Mas Naufal. Pak Joko kaget saat membukakan gerbang untukku. Karena Pak Joko jarang melihatku keluar sendiri dengan hujan selebat ini.
Aku tidak membuka kaca mobilku sama sekali, aku tidak ingin Pak Joko tau dan malah nanti Pak Joko bertanya-tanya padaku.
Mas Naufal sempat menanyakan kepergianku pada Bi Sarah dan juga Pak Joko.
"Hallo Pak, tadi Gia pergi kemana??" tanya Mas Naufal via telepon.
"Waduh, saya kurang tau Pak, tadi Ibuk tidak pamitan sama saya," jawab Pak Joko.
"Ya udah Pak, makasih Pak," ucap Mas Naufal langsung memutus teleponnya.
"Kemana lagi sih Gia inim??" gumamnya.
Di perjalanan, ponselku terus berdering.
Panggilan masuk dari Mas Naufal sudah beberapa kali. Namun ku abaikan bahkan beberapa kali aku merejectnya.
"Papa,"
"Gia kangen sama Papa,"
"Siapa lagi laki-laki yang bisa dipercaya sama Gia Pa, Gia ingin pergi dari sini Pa,"
"Ingin pergi dari kehidupan Mas Naufal, tapi Gia sudah berjanji sebelum Papa meninggal, bahwa Gia nggak akan berpisah dengan Mas Naufal dan tetap mempertahankan pernikahan apapun alasannya, huhuhuhu,"
"Pa, andai Papa tau sekarang sakitnya Gia bagaimana?? Pasti Papa sudah menjauhkan Gia dari Mas Naufal, kenapa Papa tetap saja menganggap bahwa Mas Naufal sangat baik di depan mata Papa, kenapa Pa?? Putrimu ini disakiti olehnya, huhuhuhu," kataku dalam hati.
Aku menangis saat perjalanan menuju rumah Mama Feni.
Aku melampiaskan semuanya disini. Aku tidak peduli dengan hujan lebat yang menghalangiku.
"Aku nggak mau ketemu Mas lagi, huhuhu,"
Tiba-tiba kepalaku pusing. Mungkin karena efek sudah setengah harian aku terus menangis.
"Eeesshhh aawwhhh,"
Pandanganku juga buram apalagi ditambah hujan lebat. Jalanan sangat sepi. Dan akhirnya.....
Brakkkkkkk.........
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Saat aku terbangun, aku sudah berada di rumah sakit. tanganku sudah terpasang jarum infus, kepalaku juga agak sedikit berat. Kaki ku sangat sakit.
Pertama kali mataku menatap wajah Mas Naufal yang menempelkan tanganku pada keningnya.
Saat sadar tanganku di pegang oleh Mas Naufal. Langsung ku tarik tanganku darinya. Mas Naufal langsung menjingkat kaget dengan sikap dinginku ini.
"Bi....Bibi,"
Bukan Mas Naufal yang ku panggil. Melainkan Bi Sarah yang sedang duduk di sofa.
"Enggeh Mbak (Iya Mbak)" jawab Bi Sarah.
"Gia kenapa ya Bi??" tanya Bi Sarah.
"Tadi kamu kecelakaan, terus ada orang yang lihat mobil kamu menabrak batas jalan, untung saja kamu nggak jatuh ke jurang," jawab Mas Naufal.
Hatiku masih sakit jika mendengar suaranya.
"Iya Mbak begitu ceritanya, Mbak Gia hujan-hujan begitu mau kemana sih Mbak??" tanya Bi Sarah.
"Eeee......aaaaammmm......mau..."
"Udah istirahat aja, jangan terlalu mengingat-ingat dulu, kepala kamu terbentur, kaki ku luka juga," jawab Mas Naufal.
"Bi, Mama jangan sampai tau ya,"
"Gia nggak mau Mama malah mikir aneh-aneh," ucapku pada Bi Sarah.
"Baik Mbak," jawab Bi Sarah lalu kembali duduk di sofa.
Gleekkkk.....
Mama Feni datang.
"Assalamu'alaikum," ucap salamnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab kami semua.
"Astagfirullah Nakkkkk!!! Ya Allah Giiaaa!!" ucap Mama Feni yang menangis dan langsung memelukku.
"Ya Allah Sayang, kenapa bisa terjadi seperti ini?? Gimana ceitanya Nak," tanya Mama Feni padaku.
Mas Naufal langsung menyahuti pertanyaan Mamanya.
"Naufal, kenapa kamu bisa biarin istri kamu pergi sendirian??!! Kamu kan paling nggak tega kalo istri kamu kemana-mana sendirian," kata Mama Feni memarahi Mas Naufal.
"Eemmmm......ini.....ini bukan salah Mas Naufal Ma, ini salah Gia, Gia yang pergi tanpa pamit," kataku.
"Kok bisa Fal??!!! Seharusnya kamu tau kemana Gia mau pergi," kata Mama Feni yang terus menyalahkan Mas Naufal.
"Waktu itu......Mas Naufal lagi di kamar Ma, Gia mau ke Butik karena ada callingan mendadak," jawabku terbata-bata terpaksa berbohong pada Mama Feni.
Aku belum siap cerita pada Mama Feni jika keadaanku saja masih begini.
"Giaaa, lain kali hati-hati, Mama nggak mau lihat kamu kayak gini lagi, yaa,"
"Kalo kemana-mana, minta tolong sama suami kamu, atau nggak minta Pak Joko saja yang antarin kamu, ya," tutur Mama Feni.
Aku hanya menganggukkan kepalaku agar memuaskan permintaan Mama Feni.
"Pasti Gia belum makan kan Nak," kata Mama Feni sambil memegang kedua pipiku.
"Fal, suapin istrimu," perintah Mama Feni.
Mas Naufal merasa canggung saat diperintahkan Mama Feni untuk menyuapiku, karena dia tau aku menghindari kontak darinya. Tanganku saja sudah ku tarik tadi saat Mas Naufal menggenggamnya.
"Aaaaa.....mmm Gia bisa sendiri Ma," tolakku.
"Udah disuapin Mas Naufal nya kamu aja,"
"Itu kan ada bubur dari sini, gih suapin Fal," perintah Mama Feni lagi.
Melihat wajah Mas Naufal saja hatiku sudah sangat sakit. Apalagi dia harus menyuapiku.
Bersambung.........
Jangan khawatir buat kalian yang galau karena mereka berdua (Gia dan Naufal) hehehe.
Badai akan segera berlalu kok,😁sabar yaaa
Jangan tinggalin kisahnya🙏😀
Terimakasih sudah sabar menanti hehehe
__ADS_1