
Ternyata Naufal berhenti di sebuah tempat Salon and Reflexion Spa.
"Loh loh loh kamu ngapain kesini Mas?" tanyaku bingung.
Naufal tidak menjawabnya, Dia langsung memarkirkan mobilnya.
"Mas, ngapain kita kesini?" tanyaku lagi.
Aku bertanya lagi tapi lagi-lagi dia tak menjawab.
Dia hanya tersenyum dengan menaikkan sebelah sisi pojok mulutnya.
Mesin mobil telah dimatikan olehnya.
"Turun Sayang," perintah Naufal.
Dia membuka pintu mobilnya, sedangkan aku tetap duduk murung di dalam mobil.
Naufal melihatku yang tengah kesal dalam mobil.
Dia membukakan pintu untuk ku.
"Sayang, kok nggak turun?" tanyanya sambil masih menggenggam kunci mobil.
Aku terdiam dan tidak menjawabnya.
"Oooh gitu diem ya, aku gendong kamu mau?" goda Naufal sambil sudah mengatur posisi untuk segera menggendongku.
"Eh eh ngaco kamu, kamu tuh dari tadi di tanyai nggak di jawab," ucapku tanpa menatapnya.
"Kan surprise Sayang, namanya juga kejutan, masak aku kasih tau kamu sih, aneh kamu Sayang," ejek Naufal yang tetap berdiri di sampingku.
"Terus ngapain kita kesini? Siapa yang mau di spa? Siapa yang mau ke salon?" tanyaku sambil menghadapnya.
"Ya kamu lah, masak iya aku Sayang," jawab Naufal.
"Udah ayo turun," kata Naufal sambil menarik tanganku untuk di gandengnya.
Dengan rasa sebal yang masih menghuni pada diriku, aku mengikuti segala kemauan nya.
Pintu kaca terbuka untuk aku dan Naufal.
"Selamat Malam," ucap pegawai yang duduk di bagian kasir.
Semua pegawai disana rata-rata wanita, hanya ada 2 pria tapi rupanya mereka terlihat aneh.
Semua pandangan mata tertuju pada aku dan Naufal, aku tidak tau megapa mereka begitu serius dan begitu niat untuk memandang kami.
"Kenapa mereka melihat kesini semua? Apa ada yang salah? Apa bajuku ada yang robek?" tanyaku dalam hati.
Mereka tersenyum ramah pada Naufal begitu juga denganku.
Sepertinya Naufal sudah sering kesini.
Langkah kami terhenti karena salah satu pegawai menghampiri kami.
"Aduh duh duh, Mas Naufal.....Akhirnya kesini," ucap pria yang berjalan menghampiri Naufal.
Aku merasa aneh dengan 2 pria disini.
"Mentang-mentang udah nikah, jarang banget kesini, dulu aja seminggu sekali kesini," kata pria itu yang sepertinya sedikit lekong, hehehe maaf.
"Bisa aja Ko, ini sekarang kesini, bawa istri pula," ucap Naufal menoleh dan tersenyum padaku.
Aku tersenyum pada pria yang dipanggil "Ko" itu.
"Ini istrinya Mas Naufal?" tanya pria itu.
"Iya Ko, namanya Gia," kata Naufal.
Aku sangat malu, semua pandang mata masih tertuju pada kami. Apalagi ketika Naufal memperkenalkanku, semua mata memandangku tidak lagi memandang Naufal.
"Eleh eleh, kemaren Koko taunya di instastory Ibu aja Mas, aduuuh rempong deh, sekarang tau secara langsung," kata pria sambil melihat ke arahku.
Aku takut padanya, semakin kesini semakin tampak sikap lekongnya.
"Ibu? Ibu siapa?" dalam hatiku bertanya-tanya.
"Mbak Gia kesini minta diapain Mbak? Spa? Apa mau di totok? pegawai disini sangat siap melayani istri Mas Naufal ini, bukan begitu?" ucapnya.
Semua pegawai mengangguk ramah padaku.
"Eehhemm Mas malu," ucapku lirih di dekat telinga Naufal.
"Hehehe malu dia Ko, message refleksi aja Ko," jawab Naufal.
"Eeemmm malu-malu aja istri Mas Naufal ini, hahahah," ceplos pria itu.
"Sa, Nisa...," pria itu memanggil salah satu pegawai disana.
Seorang perempuan berjalan menghampiri kami. Dia tersenyum pada kami.
"Bawa Mbak Gia ini ke ruang VIP Sa, message refleksi, nanti apa-apanya Mbak Gia biar memilih sendiri sesuka hati," goda pria itu membuatku tersenyum malu-malu.
"Mari Mbak Gia saya antar," kata pegawai wanita.
__ADS_1
Naufal tidak bergerak sama sekali.
"Mbak Gia sama Nisa jadi nggak usah khawatir, nanti Mas Naufal menunggu di taman sebelah biasanya," ucap pria itu.
"Eemmmm.......Mas, gak berani, ayo," rengek ku lirih sambil menarik tangannya.
"Hehehe, dia gak berani sendiri Ko, jadi Naufal ikut ke belakang juga aja, dia maluan Ko soalnya," kata Naufal.
"Rempong.......tau aja kalo gak bisa jauh-jauh dari Mas Naufal, Koko ini juga tidak bisa jauh dari Mas Naufal Mbak sebenarnya, hehehemm," kata pria itu yang ceplas ceplos tapi sebenarnya dia ramah.
"Antar ke belakang gih Sa," perintah pria lekong itu.
Saat aku dan Naufal berjalan mengikuti Nisa menuju ruang belakang, aku tau sebenarnya pegawai wanita Naufal sedang membicarakanku di belakang.
Bisikannya sedikit terdengar.
Kami melewati taman yang bernuansa seperti Bali.
Banyaknya pohon kenanga, bunga-bunga nya yang berjatuhan, sarung hitam putih khas Bali dan juga alunan musik refleksi dari Bali.
"Mas bagus ya tatanannya, setiap ruangan di sekat dengan taman jadi bukan kayak di tempat Spa, tuh ada gedung lagi, kita ke gedung yang mana sih Mas?" tanyaku.
"Ruangannya beda-beda Gi, kalo yang depan kita itu khusus buat body treatment, terus depan tadi itu Salon khusus perawatan rambut, kuku, apa segala macem, terus yang ruangan depan sebelah kanan itu khusus buat Spa, itu kita mau kesana nantinya," ucap Naufal menjelaskanku peta di tempat ini bak tour guide.
"Kok kamu hafal banget sih, keseringan kesini pasti," kataku heran.
"Ya tau lah Sayang," ucapnya.
"Orang ini punya Mama Gi," gumam dalam hati Naufal.
Kami masuk ke gedung bertuliskan "Spa Bali" lalu kami melepas sepatu dan diganti dengan alas kaki tipis berwarna putih.
Seorang pegawai membawa beraneka ragam lulur mulai dari strawberry, coklat, green tea, dan lainnya.
"Silahkan pilih Mbak, mau yang green tea ada," ucapnya sambil sedikit menekuk kakinya di depanku.
"Eeeemmm.... Strawberry aja Mbak," kataku malu-malu.
"Mas kamu nunggu dimana?" tanyaku.
"Ruang sebelah situ Sayang, nanti kalo udah selesai kamu ke sana aja," jawabnya sambil memainkan ponselnya.
"Oh ya udah,"
"Mari Mbak kesini," ucap pegawai wanita tadi.
Aku mengganti baju yang telah diberikan pegawai itu padaku.
Dia mempersilahkanku untuk duduk, lalu kaki ku di rendam air hangat sambil sedikit diberi pijatan.
"Iya Mbak, Mbak kenal sama Mama Feni?" tanyaku balik.
"Ibu Feni pemilik Salon dan Relaxion Spa ini Mbak," jawabnya dengan ramah.
"Oooo jadi ini miliknya Mama Feni, aku baru tau," gumamku dalam hati.
"Ememm pantesan pegawai disini sudah akrab sama Mas Naufal, apalagi waktu tadi depan semua lihatin saya sama Mas Naufal, eh ternyata mereka udah akrab banget, hehehe," kataku.
"Pegawai wanita disini memang begitu Mbak, selalu salah tingkah jika Mas Naufal kesini, termasuk saya ehehehe," ucap pegawai itu sambil menyeringai.
"Ooowwhh heheem iya Mbak," jawabku.
"Apalagi waktu tau Mas Naufal menikah, seharian mata mereka sembab Mbak," ucapnya dengan sangat ramah.
"Oh iya? Ehehhehem kok bisa?" tanyaku yang semakin nyaman berbicara dengan pegawai wanita ini.
"Iya Mbak, Mas Naufal itu baik banget orangnya, dia dekat sama siapa aja Mbak disini, peduli sama semua orang termasuk pegawai Ibu disini, humble banget Mbak beliau, apalagi sama Koko di depan tadi, hehehe," kata wanita itu.
"Ada pegawai Ibu Feni yang sakit, beliau langsung cekatan Mbak, terus terkadang kalo lagi lebaran pasti buka bersama sama keluarga beliau, dulu Ibu saya kesini Mbak, Mas Naufal menyambutnya dengan ramah dan santun pula, padahal saya ini dari keluarga kalangan kelas bawah, tapi beliau sangat menghargai Ibu saya," cerita pegawai wanita itu.
"Fal Fal, pantesan Papaku terpikat olehmu untuk dijadikan sebagai menantunya, aku bersyukur menjadi milikmu Fal," kataku sambil senyum-senyum sendiri.
Setelah pijatan kaki sudah selesai, pegawai itu mempersilahkan ku untuk tidur tengkurap.
Kami bercerita kembali.
"Mbak udah kerja disini berapa lama?" tanyaku.
"Saya disini sudah 7 tahun Mbak Gia," jawabnya.
"Mas Naufal pernah nggak Mbak bawa cewek kesini selain saya dulu hehehem?" tanyaku malu-malu.
"Setau saya belum pernah Mbak, dulu sih Mbak dengar kabar-kabarnya Mas Naufal belum bisa melupakan sahabat waktu SMA nya, karena itu dia memutuskan buat tidak memikirkan soal hati Mbak, jadi beliau fokus mengejar cita-cita nya, gitu sih Mbak berdasarkan rumor dari pegawai disini yang selalu update tentang beliau, hehehehe," ucapnya.
"Pasti yang di maksud Mbak ini Vela, huuummmm segitunya Naufal cinta mati sama cewek," gumamku dalam hati.
Kami saling bercerita sepanjang waktu relaxion spa.
.
.
.
Beberapa jam berlalu.
__ADS_1
Aku kembali memakai kerudungku, dan keluar dari ruangan tersebut.
Aku cari di ruangan sebelah, tampak dia disana duduk santai sambil menikmati film action.
"Mas," panggilku.
"Udah selesai Sayang?" tanyanya.
"Udah," jawabku.
"Gimana? Enak kan...aku mau manjain kamu, soalnya kan kamu beberapa hari ngadepin masalah yang amburadul itu," ucapnya.
"Aaaaaaaaaaa pengertian banget kamu," ucapku manja sambil mencubit kedua pipinya.
"Iya dong Sayang, ayo pulang, udahan apa mau nambah lagi? Mumpung masih disini," tanya Naufal.
"Pulang aja udah malem juga," ucapku.
Naufal beranjak dari sofa, mengambil kunci mobil di meja dan menggandeng tanganku.
Kami kembali berjalan menuju ruangan Salon.
Pria lekong itu menghampiri kami kembali.
"Pulang Mas Naufal, aduuuuuh jangan pulang dong, Koko lama loh gak ketemu Mas Naufal," ucap pria itu.
"Udah malem Ko, kapan-kapan lagi," ucap Naufal.
"Hati-hati loh jangan sampek kamu ini kenapa-napa, nanti nangis tau aku," kata pria itu yang membuatku geli sendiri.
"Iya Ko, mari semuanya, semangat kerja ya," kata Naufal pada semua pegawai disana.
"Malam Mas Naufal, baik Mas," jawab semua pegawai dengan serentak.
Kami berjalan keluar ruangan dan masuk ke dalam mobil.
Dengan segera Naufal menyalakan mesin mobilnya dan mobil kembali melaju.
"Mas, aku kok baru tau Mama punya salon dan spa disini, kamu juga gak pernah bilang sama aku," kataku.
"Biar kamu tau sendiri Sayang, eh kamu tau dari siapa kalo salon sama spa itu punya Mama," ucap Naufal.
"Dari Mbak yang tadi sama aku," jawabku.
"Maka nya kamu akrab banget sama mereka, apalagi sama Koko tadi," kataku.
"Hehehe, itu pegawai paling dipercaya sama Mama, ya semua pegawai di percaya sama Mama sih, tapi Koko itu tadi yang memegang salon dan spa kalo Mama nggak sempet berkunjung kesana, makanya semua pegawai nurut sama dia," ucap Naufal.
"Kok dia kayak lekong ya Mas?" tanyaku dengan ragu.
"Hehehehe emang gitu Sayang, dia dulu kasihan kerja jadi penyapu jalanan, orang tua masih hidup tapi udah tua renta banget Sayang, terus ketemu Mama, eh akhirnya di jadiin pegawainya meskipun dia nggak punya ketrampilan apa-apa, kata Mama yang penting dia jujur gitu aja, ya udah sampe sekarang ini," kata Naufal sambil tetap fokus menyetir.
"Aku takut takut geli gimana gitu Mas kalo dia deket aku," ucapku sambil merasakan kegelian di area tengkuk ku.
"Wkwkwkkw takut takut geli gimana sih Sayang? Ada-ada aja kamu, tapi Koko itu humoris banget, dari pertama aku tau dia sampe sekarang belum pernah aku lihat wajahnya emosi, marah, sedih, galau apalagi gak pernah Gi, bawaannya ketawa mulu kalo sama dia," cerita Naufal.
"Aku tadi tanya tau sama Mbak nya gini, Mas Naufal pernah bawa cewek kesini nggak? Terus Mbaknya jawab gini, setau saya belum pernah Mbak, tapi rumornya Mas Naufal dulu belum bisa lupain sahabatnya waktu SMA, gitu, emang bener Mas?" tanyaku sambil mengahadap serta menatapnya.
"Ya........ya bener sih, tapi dulu Sayang, duluuuuuu banget, ya kamu tau sendiri lah Gi gimana rasanya, pasti kamu udah pernah ngrasain juga," ucapnya.
"Belum. Sama sekali belum pernah," jawabku singkat.
"Yakin kamu belum pernah? Serius Sayang?" tanya Naufal dengan serius.
"Iya. Kan aku gak pake gituan kek kamu, aku kan langsung nikah, udah. Jadi jatuh cinta, patah hati, sakit hati, ngrasa kecewa, nangisin seseorang, cemburu, dan apalagi ya? Grogi, salting itu ya baru ini sama kamu numpuk," jawabku.
"Tapi kagum pernah kan?" tanyanya lagi.
"Pernah lah kalo itu, kan manusiawi, tapi gak lama pasti kagumnya udah pergi jauh-jauh," kataku.
"Kok gitu?" tanya nya lagi dan lagi.
"Kamu tanya mulu Mas, fokus nyetir udah malem, udah ah," tuturku.
"Yaelah Sayang nanya gitu doang," keluhnya.
"Eh Sayang, berarti tadi bener itu cafe punya Kevin," tiba-tiba Naufal membahas hal itu.
"Kamu kenapa tiba-tiba bahas masalah itu lagi?" tanyaku agak sedikit kesal.
"Kok bisa ya kamu sedihnya lari kesana, pas banget," ucapnya sambil menepuk pahanya.
"Pas apanya? Gak usah negatif thinking sama aku, orang aku juga baru tau ini tadi kalo Pak Kevin punya cafe di puncak," ucapku.
"Bisa-bisanya dia bilang di depan Meira kalo dia cinta sama kamu, kasihan perasaan Meira Gi," kata Naufal.
"Pasti sakit banget, kalo masalah cinta nih Gi ya, sekali sakit tuh sakit banget, kalo tulus ya, tapi kalo enggak ya nggak, biasa aja," cerita Naufal.
"Aku nggak nanya loh Mas, ini kamu curhat ya, saking sakitnya sampe-sampe sekarang kamu masih inget Mas," tebakku.
"Nggak gitu Gi, maksud aku kasihan Si Meira ini, perasaannya gimana dia tuh," gumam Naufal.
"Ya semoga aja Pak Kevin bisa buka hati buat Mbak Meira Mas," kataku.
Bersambung.......
__ADS_1