
***(di Ruang Tamu)
Naufal kaget dengan kedatangan Vela yang sungguh berbeda.
Vela yang terus memberikan senyumnya pada Naufal.
"Silahkan duduk," kataku.
Vela duduk di depanku dan juga Naufal.
"Sebelumnya aku minta maaf Fal jika lancang menemuimu, tapi Gia sudah mengijinkanku juga," kata Vela.
"Iya dia sudah cerita padaku semua tentang kamu," kata Naufal.
"Kamu pasti kaget dengan aku sekarang yang seperti ini, ini aku lakuin semata-mata demi kamu Fal," ucap Vela.
"Aku faham dengan sikap Vela yang tergila-gila dengan Naufal, malah aku kasihan dengan dia yang sempat depresi juga, aku sedih melihatnya," gumamku dalam hati.
"Aku tau Fal, ini kan yang kamu minta, aku sudah seperti Gia, berkerudung, memakai gamis, ini kan yang kamu inginkan, aku bisa Fal seperti ini terus, apakah kamu sudah mencintaiku kembali??" tanya Vela sambil matanya berkaca-kaca.
"Kamu bisa kan kembali sama aku, kita bakalan seperti dulu lagi kan Fal, aku sudah menjadi wanita yang kamu inginkan sekarang, kurang apa lagi," desak Vela terus.
"Vel stop Vel, stop. Aku ngerti banget posisi kamu, tapi kamu gak bisa maksa aku, aku tidak menginginkan kamu yang seperti ini, jangan lakukan ini demi aku, lakukan karena memang kamu ingin," tutur Naufal.
"Lantas sekarang kamu mau aku yang gimana Fal??? Ha??" tanya Vela sambil meneteskan air matanya.
"Aku ingin kamu berubah menjadi yang lebih baik, udah itu aja, fokus sama hidup kamu, tapi maaf, aku udah gak bisa lagi sama kamu," jawab Naufal.
"Kenapa Fal??? Aku mohon, cobalah kembali," paksa Vela.
"Apakah memang kamu tidak ingin mencoba untuk mencintaiku kembali???!" tanya Vela lagi.
Aku hanya bisa diam memperhatikan perdebatan mereka.
"Apa karena aku ini wanita yang hina, wanita yang kotor Fal, jadi kamu merasa tak sudi lagi mencintaiku," kata Vela.
"Bukan begitu Vel, ini masalah hati, ini masalah perasaan, aku gak pernah bisa main-main jika soal perasaan Vel, dulu aku juga tidak pernah main-main kan saat aku mencintaimu, aku benar-benar menjagamu, tidak pernah sedikitpun ingin menyakitimu, ini yang sekarang ku lakukan untuk Gia Vel, aku mencintainya, aku menjaganya, aku tidak ingin menyakitinya dan itu akan selamanya, maaf jika memang apa yang ku katakan ini menyakitimu, tapi memang benar begitu adanya," ucap Naufal dengan tegas.
"Cinta bukan untuk dipaksain Vel, gak bisa Vel, nanti akan jadi beban buat kita dan malah saling menyakiti hati kita, cinta itu datang dari hati dan untuk hati, gak bisa aku membuat alasan dan memaksakan untuk mencintaimu, maaf, aku sudah tidak mencintaimu," ucap Naufal.
Vela semakin menangis dan menyangga kepalanya dengan tangannya.
"Oke Fal, oke, aku ngerti, jika memang ini keputusan kamu, meskipun sangat sangat berat untuk aku menerimanya, tapi aku sadar, aku tidak bisa memaksamu, dan aku juga sudah janji sama Gia, aku lega dengan keputusanmu Fal, sebenarnya aku belum ikhlas, tapi aku janji sama kalian, aku.....tidak akan pernah mengganggu kalian, dan tidak akan pernah muncul lagi di hadapan kalian, aku sudah tidak ingin menjadi pengganggu dalam rumah tangga kalian, aku bukan benalu ataupun parasit seperti yang mereka lihat, aku siap dengan keputusan Naufal," ucap Vela dengan menangis sampai terisak-isak.
"Vel, tapi kita masih bisa berteman baik kok," kataku.
"Tidak Gi, kamu terlalu baik, aku ingin menghindar dari kalian, agar aku juga bisa pelan-pelan ngelupain Naufal," ucap Vela sambil mengusap air matanya.
"Tapi beneran gak papa kok Vel, kita tetep temenan baik," rayuku.
"Keputusanku sudah bulat Gi, jika aku berteman denganku, otomatis aku akan terus teringat dengan Naufal, aku harap kamu ngerti," ucap Vela.
Vela beranjak dari sofa dan memelukku.
"Makasih Gi, kamu sudah membantuku dengan tulus, meskipun pada akhirnya seperti ini, aku lega, maafin aku Gi, dulu selalu membuat hatimu terluka, aku benar-benar janji Gi kali ini sama kamu, seenggaknya aku sudah mendengar sendiri dari Naufal," kata Vela di pundakku.
"Iya Vel, aku maafin kamu dari dulu, aku harap hidup kamu akan lebih baik ya Vel, kapanpun kamu butuh aku, Insya'Allah aku akan ada untuk kamu," ucapku.
"Tidak Gi, kamu sudah cukup berkorban untukku, perempuan mana yang mau membagi kasihnya dengan perempuan lain, perempuan mana yang mau membantu wanita sepertiku ini," kata Vela.
Vela melepas pelukannya.
"Eehmmmm, aku minta maaf juga Fal sama kamu, aku sudah sering menyakiti istrimu," permohonan maaf Vela.
Naufal hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Vela.
"Kalo gitu aku pamit pulang ya," pamit Vela.
"Aku anterin pulang ya Vel," tawaranku.
"Nggak usah Gi, aku naik ojek online saja," tolak Vela.
"Gak papa Vel," paksaku.
"Enggak Gi, cukup kemarin dan tadi aku merepotkanmu untuk yang terakhir kalinya, kali ini jangan, aku mohon, aku tidak ingin semakin merasa bersalah padamu," kata Vela.
"Ya udah aku anterin ke depan gerbang ya," rayuku.
"Gia, udah gak papa, kamu disini aja, ya," ucap Vela dengan lirih.
Vela mengambil tasnya lalu berpamitan pulang pada kami.
"Aku pulang ya Gi," pamitnya.
"Iya Vel hati-hati ya," kataku.
"He'em, Assalamu'alaikum," salamnya.
"Wa'alaikumsalam," jawabku bersamaan dengan Naufal.
"Akhirnya semuanya selesai," kataku dalam hati.
"Sayang, aku ke atas dulu ya," ucap Naufal lalu berjalan meninggalkanku.
Saat kakinya akan melangkah pada anak tangga, Aku memanggilnya.
"Mas," panggilku sambil berlari menghampirinya lalu memeluknya erat.
Aku menangis di pundak Naufal.
"Makasih Mas, aku mencintaimu," ucapku.
Naufal tersenyum sambil mengelus-elus kerudungku.
Lama kami berpelukan, ternyata Bi Sarah lewat di Ruang Tamu.
__ADS_1
"Agheemm, ciye ciye," ejek Bi Sarah.
Kami langsung melepas pelukan kami.
"Bi Sarah," ucapku kaget.
"Mbak Gia sama Mas Naufal so sweet banget," ejek Bi Sarah lagi.
"Ini Bi Gia mau manja terus sama saya," kata Naufal.
Aku mencubit pelan pinggangnya.
"Apaan sih," kataku dengan malu.
"Hehehehe," Naufal menertawakanku.
"Mari Mbak Mas, monggo di lanjut, Bibi hanya iklan mau ke halaman belakang, hehehe," kata Bi Sarah sedikit menertawakan tingkah kami.
Naufal mendekap pundakku dan kami berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.
***(di Kamar)
"Huuuuuuffttttt, akhirnya lega Gi, kita udah gak ada yang gangguin lagi, gak ada yang buat kamu cemburu," kata Naufal sambil membuang tubuhnya di ranjang.
"Sebenarnya kasihan Mas, tapi aku masih bisa berteman baik kok sama dia," kataku.
"Iya sih Sayang, tapi gimana lagi??? Dia sendiri yang nolak," kata Naufal.
"Ya udah mending sekarang kamu wudhu dulu, abis itu kita sholat, terus aku mau ajakin kamu pergi," tutur Naufal.
"Pergi??? Kemana??" tanyaku.
"Ada deh pokoknya, udah sana wudhu dulu," perintahnya.
Aku menuruti perintahnya dan segera mengambil air wudhu.
Setelah kami berdua selesai berwudhu, Naufal langsung mengimami sholat kami.
Setelah selesai sholat, tak lama kemudian kami turun ke bawah dan menuju halaman depan rumah.
***(di Halaman Depan)
Naufal membukakan pintu untukku, setelah aku dan dia masuk ke dalam mobil, Naufal menancap gas mobilnya, mobil melaju keluar Rumah.
"Mas kita mau kemana sih?" tanyaku yang penasaran.
"Dinner dong sama kamu, kan kita udah lama nggak dinner berdua Sayang," ucap Naufal.
"Kali ini aku yang milih tempatnya, pasti kamu suka, aku jamin," kata Naufal yang semakin membuatku penasaran.
"Ah masak??" kataku seakan-akan tak percaya.
"Lihat saja nanti Sayang, pasti kamu bilang gini, wah kamu kok tau banget aku sukanya kayak ginian Mas, gitu," ucap Naufal sambil menirukan gaya bicaraku.
"Hehehe, apaan sih kamu, emang apaan sih Mas??" tanyaku lagi.
Di pertengahan perjalanan, sepertinya aku semakin paham kemana arah mobil Naufal.
"Loh loh, ini kan jalan buat ke puncak Mas," tebakku.
"Memang Sayang," jawabnya.
Tak lama kemudian, mobil Naufal berhenti di sebuah Restoran.
"Udah sampe Sayang," ucapnya.
"Ini Mas," kataku.
"He'em," jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
"Kamu belum tau dalamnya Sayang, ini masih depannya doang," kata Naufal.
"Yuk turun," ajaknya.
Kami melepas seatbelt masing-masing, lalu turun dari mobil.
Naufal menggandeng tanganku untuk masuk.
Saat aku masuk bersama Naufal, pelayan langsung menghampiri kami.
"Selamat malam, dengan Bapak Naufal?" tanyanya dengan santun.
"Iya," jawab Naufal.
"Ini istrinya Pak?" tanyanya.
"Iya ini istri saya," jawabnya.
"Mari saya antar," ucapnya sambil tersenyum ramah pada kami.
Kami berjalan semakin masuk ke dalam, aku ternganga melihat Restoran di puncak ini, Desain sky room yang sangat kusuka, lilin yang terajang dimana-mana, tempatnya langsung menyatu dengan bintang-bintang dan juga kolam renang yang terbangun disampinya. Bagiku ini Restoran beratap bintang, ya tepat disini bintang bertaburan rata di awan.
"Makasih," ucap Naufal.
Pelayan itu hanya menunduk lalu berjalan pergi.
Naufal menarik kursi lalu mempersilahkan ku duduk.
"Mas, kok tau banget aku sukanya beginian," kataku.
"Tau lah Dayang, kan kemaren katanya kamu pengen punya ruangand di rumah yang bisa langsung lihat bintang, jadi aku ajak kamu kesini," ucapnya.
Aku meraih tangannya sambil tersenyum.
"Maka...," ucapanku terpotong oleh Naufal.
__ADS_1
"Huuuussttt, ini sudah kewajiban aku buat bahagia in kamu, kamu nggak udah sering bilang terima kasih sama aku," kata Naufal sambil mengelus-elus tanganku.
"Kamu suka??" tanyanya.
"Suka banget Mas," jawabku dengan sangat senang.
Naufal, dia pria yang sangat baik, mengerti sekali dengan apa yang diinginkan istrinya, romantis, selalu ingin istrinya bahagia, wanita mana yang tidak ingin bersanding selamanya dengan dia.
Aku tersenyum dan terus memandangnya, untuk pertama kalinya Naufal memotretku dengan ponselnya.
"Aku buat insta story ya Sayang," ucapnya.
"Boleh kan??" tanyanya.
"Kamu yakin???" tanyaku.
"Aku sebenarnya yakin Sayang, tapi aku harus minta ijin sama kamu dulu," kata Naufal.
"Kenapa harus minta ijin sama aku Mas," kataku sambil mengernyitkan kedua alisku.
"Aku kan tau kamu tertutup banget, jadi aku juga jaga privasi kamu lah Sayang," jawabnya sambil menyunggingkan kedua pipinya.
"Eemmmm.....boleh kok Mas," kataku.
"Yes, untuk pertama kalinya ini Sayang aku buat insta story foto cewek," kata Naufal yang kegirangan.
Naufal langsung membuat insta story foto yang dia potret.
Kemudian, pelayan datang lalu menyiapkan makanan di meja kami, ada beef steak daging, ice cream cake, chiken katsu dan lainnya.
Aku dan Naufal saling bersulang, saling mencicipi makanan satu sama lain.
Ponsel Naufal berkali-kali berbunyi.
"Rame banget Mas handphone kamu," kataku sambil menikmati ice cream cake.
"Iya, ini pada nanya, siapa itu, hehe pada nggak tau Sayang," kata Naufal.
"Dasar kamu Mas, suka buat penasaran orang aja," kataku.
"Hehehe, mereka pada nggak sadar apa Sayang, padahal di Instagram aku udah aku kasih foto tangan kamu pake cincin," kata Naufal sambil sedikit menahan tawanya.
"Kamu malah jarang ada foto kamu di sosmed, ada tapi nggak kelihatan wajahnya," kata Naufal.
"Yeeee, orang kan beda-beda Mas," kataku.
Tiba-tiba ponsel Naufal berdering.
"Angkat Mas," suruhku.
"Sayang ini candle light dinner kita, aku gak mau ada yang ganggu," kata Naufal.
"Siapa tau penting Mas," kataku.
Naufal menuruti kemauanku. Dan mengangkat telepon dari Pak Bastian.
"Hallo, apa Bas?" ucap Naufal.
"Lo dimana sih?" tanya Bastian balik.
"Dinner sama Gia, ada apa?" tanyanya lagi.
"Pantesan, mereka pada nyerbu Gue buat nanyain tentang insta story Lo, terus Gue buka insta story loh, pantesan mereka nanyanya ke Gue, pasti gak ada yang Lo bales kan," kata Pak Bastian.
"Iya, hehhee," kata Naufal.
"Wah dasar Lo, kalo buat story Gia tuh dikasih caption bini Gue, gitu loh Fal, biar nggak pada nanya, Lo enak, Gue yang diserbu," kata Pak Bastian.
"Wahahaha, alay banget Lo," ejek Naufal.
"Ya maaf Bas, jadi gak enak Gue, hihihi," kata Naufal.
"Iiih kek apaan aja Lo, udah lanjutin sana sama Gia," kata Apk Bastian.
"Yoi, hehehe,"
"Bye Fal," ucap Pak Bastian.
Naufal menutup telepon dari dari Pak Bastian.
"Hahahhaa, ada-ada aja Bastian," kata Naufal.
"Oh iya Sayang, kapan nemuin Bastian sama Susi, Susi bisanya kapan??" tanya Naufal sambil memotong beef steak.
"Susi kapan aja bisa Mas, pokoknya nggak sore," jawabku.
"Ya udah, besok malem aja Sayang, semoga aja mereka cocok dan berjodoh," ucap Naufal.
"Bastian itu sebenarnya baik banget Sayang, meskipun kelihatannya kayak gitu, tapi serius banget tuh anak, dari dulu Sayang yang deket sama dia tuh ganti-ganti, haduuuh, tapi tiap kali dia ngejalani hubungan selalu serius, gak pernah enggak, aduh gokil kalo keinget jaman kuliah Sayang," kata Naufal sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kamu?? Enggak??" tanyaku.
"Enggak apa??" tanyanya balik.
"Enggak kayak Pak Bastian gitu," ucapku.
"Ya nggaklah Sayang, ya kali aja," jawabnya membela diri.
"Kamu tuh mungkin yang kek gitu," ejek Naufal ganti.
"Terserah kamu Mas, aku gak pernah ya gitu-gitu an," ucapku.
"Ya sama Sayang kalo gitu, kamu sih nuduh aku terus," rengek Naufal.
"Aku nanya Mas, bukan nuduh, huuufttt, kacau kalo salah paham gini," keluhku.
__ADS_1
"Hehehe, iya iya Sayang, ya ampun," jawab Naufal.
Bersambung.....