
Mas Naufal menjadi sensi, tidak seperti biasanya padaku.
"Ya udah kalo gitu aku nggak jadi cerita ke Mas, maaf kalo buat Mas cemburu, atau ngerusak moodnya Mas," kataku yang merasa bersalah.
"Kan aku nggak mau ada lagi yang aku tutup-tutupi dari Mas," sambungku.
"Maafin aku kalo gitu," kataku lagi.
"Mas nggak papa Sayang, nggak usah ngerasa bersalah kayak gitu,"
"Cerita aja nggak papa," ucap Mas Naufal.
"Enggak jadi Mas," tepisku lalu menyandarkan punggungku di sandaran sofa.
"Mas Naufal kenapa sih?? Apa dia ada masalah?? Kok kelihatannya nggak asik gini," tanyaku dalam hati.
Saat kami menonton televisi berdua.
Suasana hening, kami tidak saling berbicara. Mas Naufal seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Mas capek ya," tebakku.
"Enggak Sayang," jawabnya.
"Mas kenapa?? Lagi mikirin apa??" tanyaku.
"Mas nggak lagi mikirin apa-apa," jawabnya lagi singkat.
Usahaku agar membuat Mas Naufal cerita padaku sudah gagal.
"Ya udah kalo gitu," ucapku.
"Mau dibuatin coklat panas?? Atau apa? Mas mau?" tawaranku agar bisa mencairkan beku di hatinya karena telah ku buat cemburu.
"Enggak Sayang," jawabnya sambil tidak melirikku.
"Mas marah sama aku??" tanyaku pelan-pelan.
"Mas kan sudah bilang, Mas nggak marah," jawabnya.
Aku kesal dengan Mas Naufal yang tidak asik seperti ini, disisi lain aku juga merasa bersalah.
Mungkin sekarang Mas Naufal sedang tidak baik suasana dihatinya, lebih baik aku tidak mengganggunya dan tidak memberi pertanyaan-pertanyaan padanya.
Aku pun pergi untuk turun dengan wajah kesal.
"Sayang,"
"Kemana??" tanya Mas Naufal.
"Bawah," jawabku singkat dan langsung nyelonong pergi.
"Loh loh kamu ngambek sama Mas??" teriak Mas Naufal.
Aku sudah terlanjur menuruni anak tangga, jadi aku tidak mungkin berteriak-teriak menjawab Mas Naufal.
Aku bergumam terus selama menuruni anak tangga dengan murka.
***(Di Dapur)
Aku membuat jus strawberry dengan sedikit soda dan sedikit potongan jeruk nipis.
Minuman ini yang bisa menaikkan moodku kembaki, di temani dengan pancake strawberry.
Meskipun hujan belum reda, dan masih saja deras seperti ini. Aku tetap menikmati minuman dan cemilan ini sendiri sambil menatap jendela yang ada di Dapur .
"Mas Naufal nggak asik banget sih," gumamku di dalam hati yang terus saja kesal dengan Mas Naufal.
.
.
.
.
.
Tak lama kemudian, Mas Naufal menyusulku ke Dapur dengan wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah dan sok riang gembira.
"Hay Sayangg," ucapnya lalu duduk di sampingku dan menyeret pancake ku.
"Ngambek ya sama Mas," tebaknya.
Kebetulan setelah Mas Naufal menyusulku, adzan magrib berkumandang.....jadi otomatis aku hanya diam dan tidak memberi jawaban pada Mas Naufal.
Allahuakbar........ Allahuakbar.....
Setelah adzan, langsung ku minum habis jus buatanku.
"Kok nyuekin Mas??" tanya Mas Naufal.
"Mau ke atas,"
"Sholat," jawabku yang ganti sinis.
Aku langsung nyelonong pergi ke atas untuk kembali ke kamar. Mas Naufal terus mengikutiku.
"Sayangg,"
__ADS_1
"Giiaaaaa," goda nya sambil berjalan dibelakangku.
"Awas loh ya, kalo nanti malam ada petir, hhmm, kamu kan takut petir," ucapnya.
"Udah nggak takut," sahutku singkat.
Gleeekkk.......ku buka pintu kamarku.
***(Di Kamar)
Aku langsung nyelonong ke kamar mandi tanpa memperdulikan Mas Naufal.
Kami pun sholat berjamaah berdua dan mengaji.
.
.
.
.
Setelah selesai melaksanakan kewajiban kami, saat aku tengah melepas mukenahku.
Mas Naufal meraih tanganku.
"Kamu kenapa??" tanyanya sambil menatap kedua mataku.
"Mas yang kenapa?? Bukan aku yang kenapa??" tepisku.
"Mas nggak kenapa-napa," jawabnya.
"Kenapa Mas tiba-tiba nggak asik gitu sama aku?? Ha??" tanyaku dengan kesal.
"Nggak asik gimana sih Sayang??"
"Mas nyuekin kamu?? Enggak kan Sayang," sambungnya.
"Enggak katanya Mas, udah lah Mas jangan dibahas," ucapku.
"Nggak mau, ini harus dibahas,"
"Cerita sama Mas, gimana tadi kamu waktu ketemu sama Kevin??" paksanya.
"Udah lah Mas, jangan dibahas, nanti Mas cemburu lagi," jawabku.
"Iya deh maafin Mas, tadi moodnya Mas lagi nggak baik, banyak kerjaan, maafin Mas," ucap Mas Naufal.
"Pulang dari luar negeri Mas malah kayak gini, kalo banyak kerjaan kan aku bisa bantuin Mas, nggak seperti tadi," omelanku.
"Iya iya Sayang, maafin Mas,"
"Padahal Mas nggak pernah kayak gitu, memangnya banyak banget kerjaan Mas??" tanyaku.
"Ya begitulah Sayang," jawabnya.
"Udah ayo, nggak usah bahas kerjaan Mas, itu urusan nanti, urusannya Mas,"
"Sekarang, kamu cerita tentang Kevin tadi," perintah Mas Naufal lagi.
"Lebih baik nggak usah deh Mas, dari pada Mas Naufal nanti mood nya jelek lagi," tepisku.
"Udah nggak papa, ceritain sama Mas, Mas juga harus tau," kata Mas Naufal.
Aku menceritakan kejadian di Supermarket di dalam Mall saat itu. Saat Pak Kevin menolongku dan Bi Sarah juga melihat bahwa Pak Kevin sedang memperhatikanku.
"Jadi gitu Mas ceritanya," kataku.
"Tuh kan, Mas Naufal jadi badmood kan," sambungku lagi menebak ekspresi dari Mas Naufal.
"Ngapain dia pake perhatiin kamu segala??" ucap Mas Naufal.
"Ya nggak tau Mas, yaaa mungkin karena pengharum ruangannya udah mau jatuh kali Mas, jadi Pak Kevin ancang-ancang,"
"Untung aja disana nggak ada Meira Mas, tapi aku belum sempat ngucapin makasih sama Pak Kevin karena udah nolongin aku," sambungku lagi.
"Kan Pak Kevin benci banget Mas sama aku, jadi apa yang terjadi tadi sore, yaaa....emang mengalir aja," kataku.
"Sayang......Sayang ..."
"Kenapa harus Kevin sih yang nolongin kamu, Mas cemburu kalo sama dia," kata Mas Naufal.
"Tapi kan aku nggak ngapa-ngapain sama Pak Kevin Mas, cuman gitu doang, nggak ngobrol juga kok,"
"Lagian, aku juga nggak mungkin neko-neko sama Mas, Gia kan miliknya Mas," ucapku malu-malu.
"Uuuuhhhhhmm, gitu yaaaaa," jawab Mas Naufal sambil mengelus-elus kepalaku.
"Iya lah Mas, memang nya aku salah ngomong??" tanyaku sambil mengernyitkan kedua alisku.
"Hehehehe, benerrrrrr banget,"
"Sini dipeluk sama Mas," ucapnya sambil menarik dan memelukku.
"Aku mencintai Mas," kataku.
"Mas lebih cinta sama kamu," jawab Mas Naufal.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Hujan semakin lebat, dan tidak berhenti dari tadi sore.
Bisa-bisa besok akan banjir di kompleks ini.
Aku dan Mas Naufal sedang movie time di lantai bawah. Untung saja hujannya tidak disertai dengan petir. Tapi hawanya sangat dingin seperti es, sampai AC di rumah ini tidak dinyalakan sama sekali.
"Bbbrrrrrr, dingin banget ya Sayang," kata Mas Naufal.
"Iya Mas, hujannya dari tadi sore loh nggak redah-redah," sanggahku.
Bi Sarah menghampiri kami berdua sambil membawakan dua gelas minuman jahe hangat.
"Monggo (silahkan)" ucap Bi Sarah.
"Loh Bi," ucap Mas Naufal.
"Udah Mas ndak papa, Bibi memang sengaja buatin untuk Mas Naufal dan Mbak Gia, karena dingin banget Mbak hawanya, Bibi juga buatin buat yang lainnya kok Mbak, hehehm," jawab Bi Sarah.
"Eeemmm makasih Bi," kata Mas Naufal.
"Bibi mau kemana lagi??" tanyaku.
"Mau ke belakang lagi Mbak," jawab Bi Sarah sangat santun.
"Sini aja Bi, sama kita," sahut Mas Naufal.
"Hehehem, ndak enak Mbak, mengganggu waktu berduanya," tepis Bi Sarah sambil malu-malu.
"Udah nggak papa Bi, dari pada Bibi sendirian di belakang, Pak Rusdi juga pasti ada di depan sama Pak Joko kan," tebakku.
"Iya Mbak," jawab Bi Sarah.
Tiba-tiba.......
Ada yang mengetuk pintu rumah ini dan mengucapkan salam berkali-kali.
"Mas, ada yang ketuk-ketuk pintunya," kataku.
"Mana sih Sayang??" tanya Mas Naufal lalu Mas Naufal mengecilkan volume televisinya.
"Iya Mas, ada yang mengetuk pintunya," sahut Bi Sarah.
Mas Naufal pun ikut mendengar ketukan yang sangat keras itu.
"Siapa yang mau hujan-hujanan kayak gini Sayang?? Malam-malam pula," tanya Mas Naufal.
"Bentar, Bibi buka ya Mas," kata Bi Sarah.
"Jangan Bi, biar Naufal saja yang buka pintunya," ujar Mas Naufal.
Mas Naufal pun memilih yang membukakan pintunya, karena takut jika yang datang adalah orang jahat atau siapa. Meskipun sudaha ada Pak Rusdi di depan, namun Mas Naufal tetap harus waspada.
Mas Naufal mengintip dari jendela.
"Sayang,"
"Sini," panggil Mas Naufal.
"Ha?? Aku Mas??" tanyaku kaget.
"Udah sini dulu Sayang," jawab Mas Naufal sambil melambaikan tanganku.
"Siapa Mas??" tanyaku semakin penasaran dan berjalan mendekati Mas Naufal.
"Itu karyawan kamu Sayang," jawabnya Mas Naufal.
Dan ternyata, Isamu yang sedang datang ke rumah ini.
"Isamu!!!" ucapku.
Aku kaget melihat Isamu yang sedang berdiri di depan pintu ini kedinginan dan bajunya sepertinya basah semua.
Mas Naufal juga tidak tega melihat Isamu, Mas Naufal langsung membukakan pintu untuk Isamu.
Gleekkk.....
"Ya Allah Isamu......"
"Sini masuk," kataku.
"Tapi Buk, baju saya basah semua," jawab Isamu.
"Udah nggak papa masuk aja," kataku.
"Bi, Naufal minta tolong ambilkan handuk Bi," teriak Mas Naufal.
Bi Sarah dengan sigap mengambilkan handuk untuk Isamu.
__ADS_1