
Sengaja aku meletakkan sandwich dan oetmeal di meja kamarku.
"Kalo Mas Naufal pulang, pasti langsung kaget, kok ada ini, hehehm, aku nanti pura-pura dulu ah," gumamku dalam hati.
Setelah aku meletakkan oetmeal dan sandwich di meja. Sengaja aku turun kembali dan berpura-pura sibuk dengan Bi Sarah di halaman belakang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tak lama kemudian, Mas Naufal pun pulang. Dia sempat mencariku ke halaman belakang.
Namun aku sibuk membersihkan kolam renang dengan Bi Sarah.
"Sayang, Mas pulangg," ucap Mas Naufal.
Aku sudah terlanjur basah dan tidak bisa menemui Mas Naufal.
"Yaah, aku sudah terlanjur bantuin Bibi Mas," kataku dengan sengaja.
"Nggak papa Sayang, Mas ke atas dulu ya, mau mandi," ucap Mas Naufal.
"Waaah, kebetulan sekali, xixixixi," gumamku dalam hati menertawakan Mas Naufal yang sudah ku pasangi jebakan di dalam kamar.
"Iya Mas, bentar lagi ini juga udah selesai kok," kataku.
Mas Naufal meninggalkan ku dan menuju kamar kami.
Aku tersenyum-senyum sendiri saat membersihkan kolam ikan, Bi Sarah heran melihatku.
Sedangkan Mas Naufal yang sudah berada di dalam kamar.
Setelah menutup pintu kamar, dan berbalik badan.
Matanya langsung menuju meja. Dia pun melihat satu piring sandwich dan satu mangkuk oetmeal.
"Ini sandwich siapa??" tanya Mas Naufal dalam hatinya.
Mas Naufal mulai mendekati sandwich dan oetmeal itu. Dia mengolak alik piring dan mangkuknya.
"Apa ini punya Gia ya??"
"Aaaggh nggak mungkin, dia kan nggak mau makan sandwich," gumam dalam hati Mas Naufal.
"Terus ini punya nya siapa??" tanya Mas Naufal lagi.
Mas Naufal sedikit takut melihat sandwich dan oetmeal itu, karena dia tau aku tidak mau lagi jika Mas Naufal berhubungan dengan makanan satu ini.
Aku kasihan dengannya yang bingung dan takut saat itu, ekspresinya sangat lucu sekali.
"Apa ini Bi Sarah ya yang buatin buat aku??"
Mas Naufal sangat berfikir kuat-kuat.
"Iya, sudah pasti ini yang buatin Bi Sarah," ucapnya menebak bahwa sandwich dan oetmealnya buatan Bi Sarah.
"Aaarrrggghhh, Bibiiiii........." gerutu Mas Naufal.
"Kalo Gia tau, pasti dia ngambek ini, dikira nanti aku yang minta ke Bibi, aduuuuhhh, gimana iniiii????" ucap Mas Naufal kebingungan sambil mondar-mandir dan tak kunjung mengganti bajunya.
"Aku harus bawa ini lagi ke bawah, mumpung Gia belum kesini, aku nggak mau dia ngambek lagi," ucap Mas Naufal.
Akhirnya, Mas Naufal kembali mengancingkan kemeja nya. Dengan wajah sangat takuuttt...
Dia membawa loyang itu.
Saat dia akan membuka pintu kamar, aku terlebih dahulu membuka pintu kamar dan membuka.
Taraaaaaaaaa............game di mulaiiii.
Mas Naufal langsung kaget dengan kedatanganku, matanya melotot melihatku, dia berdiri kaku sambil membawa loyang itu.
Ku kernyitkan kedua alisku dan mataku juga langsung menuju loyang yang dibawa oleh Mas Naufal.
Deg deg.....deg deg.....
Bergetar hati Mas Naufal.
"Gi......Giaaa," ucap Mas Naufal terbata-bata.
Tatapanku mulai sinis dan kesal padanya.
"Nggak, ini bukan Mas," ceplos Mas Naufal.
"Buk.....bukan Sayang, Mas nggak......nggak tau,"
"Ini punya siapa Mas nggak tau,"
"Bukk....bukan Mas," sambungnya dengan kata yang terbata-bata membuatku ingin tertawa terpingkal-pingkal.
"Mas mau makan sandwich??" tanyaku dengan wajah yang sinis.
"Diam-diam makan sandwich di kamar?? Hm??" tanyaku sambil mengangkat kedua alisku.
"Nggak,"
"Nggak gitu Sayang ceritanya, dengerin Mas dulu," tepisnya.
"Tadii.....waktu Mas masuk ke kamar, makanan ini udah ada di meja kamar kita Sayang,"
"Dan Mas........Mas nggak tau ini punya siapa??"
"Beneran.....Mas nggak tau menahu tentang ini Sayang," ucap Mas Naufal terbata-bata.
"Hihihihi, maafin aku Mas.....aku prank kamu, hihihi," gumamku dalam hati.
"Nggak mungkin, pasti Mas bohong,"
__ADS_1
"Aku kan nggak suka makanan ini Mas, Mas jujur sama aku,"
"Mas diam-diam minta buatin Bibi ya," kataku semakin memojokkan Mas Naufal.
"Enggak Sayang, enggak, Mas nggak minta dibuatin," tepis Mas Naufal lagi.
"Nggak mungkin Mas, pasti Mas Naufal diam-diam kayak gitu,"
"Kok bisa tiba-tiba makanan kesukaan KAMU ada disini, kan nggak mungkin dia lari sendiri, pasti Mas yang mau, ya kannn??"
"Udah lah ngaku aja," ucapku kesal.
"Kata nya udah nggak mau makan ini lagi, tapi apa??? Bohong banget sih Mas," ujarku sambil berjalan duduk di ranjang.
"Hey....hey....Sayanggggg,"
"Bukan begituuuuu, aku udah jujur sama kamu, terus Mas jujur apa lagi, tadi tuh udah sejujur jujurnya, beneran Mas nggak mau makan sandwich lagi," bela Mas Naufal sambil berjalan mengikutiku dan tetap membawa loyang itu.
"Jangan ngambek gini dong Sayang, kita sama-sama nggak tau loh ini punya siapa??" sambung Mas Naufal.
Aku hanya diam agar terlihat marah padanya.
"Sayanggg, kok kamu gini sih sama Mas, kan Mas juga nggak tau,"
"Ya udah kalo gitu lebih baik Mas tanya Bibi aja langsung," ucap Mas Naufal.
"Waduh, gawat nihhh!!! Pasti Bi Sarah nggak tau apa-apa,"
"Hehehehhe, Mas....Mas, wajah Mas tuh lucu banget," gumamku dalam hati.
Sebelum Mas Naufal membuka pintu kamar nya, aku terlebih dahulu menghadangnya disana.
"Nggak usah Mas, jangan..." cegahku.
"Loh, kenapa Sayang?? Dari pada kita berantem, Mas nggak mau," jawabnya.
"Siapa yang berantem??"
"Mas kali yang mau berantem," jawabku tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Aaahh, udah Sayang, Mas mau tanya ke Bibi dari pada kita eyel-eyelan terus," kata Mas Naufal.
"Masss....."
"Sini sini, duduk dulu," ucapku sambil menggandengnya untuk duduk di sofa.
Mas Naufal tambah bingung dengan sikapku yang tiba-tiba berubah manis padanya.
"Duduk manis disini, dengerin aku,"
"Nggak usah tanya ke Bibi, karenaa..........yang buat sandwich dan oetmealnya itu aku,"
"Hehehehe, kena prankkkkkk.....weeekkkkk," ucapku.
"Oooooo gitu, jadi kamu ngerjain Mas ini, hmm," ucap Mas Naufal.
Mas Naufal langsung meletakkan loyangnya di meja kembali, dan dia menyerangku dengan menggelitiki ku hingga aku terjatuh di ranjang.
"Hahahaa......Mas stop......Hahahahha,"
"Hm ini akibatnya kalo ngerjain suaminya ya...." Ucap Mas Naufal.
Akhirnya Mas Naufal menghentikan serangannya padaku.
"Hahahaha, udah udah, haduuuh.....Mas Naufal," keluhku.
"Tapi.......tumben banget, kenapa kamu buatin Mas makanan itu lagi, bukan nya kamu sendiri yang nggak mau lihat Mas makan itu lagi," kata Mas Naufal yang menyangga tubuhnya agar tidak jatuh padaku.
"Eeemmmm karena apa yaa......" godaku.
"Udah deh Mas, jangan sok-sok an gitu, hehehem, makan aja nggak papa, itu spesial buat Mas Naufal," ucapku yang masih tertidur dihadapan Mas Naufal.
"Aku bener-bener masakin buat Mas loh tadi, kan Mas udah lama nggak makan sandwich, jadiiiii untuk hari ini, Mas bebas mau makan dia," kataku sambil memainkan kra kemeja Mas Naufal.
"Tunggu, atas dasar apa kamu buatin Mas sandwich??" tanya Mas Naufal.
"Hehehehe, masih ngeles aja Mas Naufal, Mas tuh ya suka nya yang tiba-tiba sukanya juga pura-pura, udah makan aja, makasih karena Mas udah ngebahagiain Gia setiap harinya," ucapku sambil menatap kedua matanya.
Cup......satu ciuman di keningku telah didaratkan.
"Sudah semestinya sepergi itu Sayang,"
"Jadi, Mas boleh makan nih, sandwich nya??" tanya Mas Naufal sambil menaikkan satu alisnya.
"Boleh, boleh banget, tapi untuk hari ini saja ya Mas," kataku.
"Eemmm....nggak ah, Mas kan udah janji sama kamu, nggak mau makan itu di depan kamu," tepis Mas Naufal.
"Untuk hari ini saja Mas, nggak papa kok," paksaku.
"Janji itu tetap janji Sayang, Mas nggak mau makan itu di depan kamu," tolak Mas Naufal lagi yang tetep kekeh.
"Ya udah, makan sandwich nya pas lagi nggak ada aku aja kalo gitu, hehehem, beres kan,"
"Yang penting dimakan, hehehem," ucapku sambil tersenyum pada Mas Naufal.
"Gia....Gia....kamu baik banget sama Mas," gumam dalam hati Mas Naufal.
"Gimana aku bisa nyakitin kamu, kalo kamu baik sama Mas kayak gini, Mas bakalan buat kamu bahgaia terus Sayang," ucap dalam hati Mas Naufal.
"Udah, Mas mandi dulu gih," tuturku.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah Mas Naufal mandi, dia mengajakku untuk menikmati oetmeal berdua di kamar sambil nonton berdua.
"Uuuhhmmm, enak banget Sayang," puji Mas Naufal pada oetmeal buatanku.
__ADS_1
"Masak sih?? Perez banget Mas Naufal," ejekku.
Mas Naufal menyuapiku satu sendok oetmeal, Mas Naufal benar-benar tidak ingin memakan sandwich ini di depanku.
"Pasti Mas udah ngiler ya karena ada makanan ini di depan Mas, ya kaaannnn," godaku sambil menyentil ujung hidung mancungnya.
"Enggak, biasa aja," jawabnya yang tidak sedikitpun melirik sandwich itu.
"Hehehem, kelihatan tuh bohongnya," ujarku.
"Beneran enggak Sayang, malah udah lupa rasanya gimana tuh makanan, hihihihi," tepis Mas Naufal.
"Gayanya Mas.......Mas," kataku.
"Ibarat gini loh Sayang, bukan benci aja yang bisa jadi cinta, tapi cinta itu juga bisa jadi benci, kayak aku sama sandwich, dulu sukaaaaa banget, tapi kan sekarang berubah, agak nggak suka aja, hehehehe," ucap Mas Naufal.
"Hhmmm, nggak mungkin,"
"Udahlah habisin oetmealnya," sambungku.
Mas Naufal begitu menikmati sendok demi sendok oetmeal itu.
"Mas, aku tadi ketemu Meira," ucapku.
"Meira??" ucap Mas Naufal sambil mengernyitkan kedua alisnya dan meletakkan sendok di mangkuk.
"Iya, Meira nya Pak Kevin," jawabku.
"Ngapain kamu ketemu sama dia lagi??" tanya Mas Naufal yang serius.
"Enggak gitu Mas ceritanya, gini loh....tadi kan Meira ke Butik aku, terus katanya dia mau diskusi in desain sama aku, eh ternyata dia baru tau, kalo Butik itu milik aku, terus aku ajak lah dia ke atas, tapi setelah kita hanya berdua dia atas, dia malah marah. Mengungkit semuanya kembali, dia tetap nyalahin aku atas perasaan Pak Kevin kepadaku,"
"Padahal kan udah jaman kapan ya Mas, aku aja yang tetep disalahin sama Meira,"
"Kalo yang jatuh cinta Pak Kevin itu kan urusan Pak Kevin ya Mas, yang penting aku biasa aja kan," ceritaku mengadu pada Mas Naufal.
"Terus, waktu Meira nya marah, kamu gimana?? Diapain kamu sama dia?? Ditampar lagi??" tanya Mas Naufal bertubi-tubi sambil tatapannya fokus pada pipiku.
"Enggak, dia nggak ngapa-ngapain aku, cuman cara bicara nya dia ke aku tuh nylekit gitu loh Mas, tapi yaaa.....nggak papa lah Mas," ucapku.
"Nggak bisa nggak papa Sayang, yang ada rasa Si Kevin, kok kamu yang kena,"
"Ya itu urusan Kevin, bener kamu, yang jatuh cinta dia sendiri, kamu nya enggak, eeehhh kok malah kamu yang direpotin, awas aja tuh Meira kalo berani-beraninya nanti ngapa-ngapain kamu,"
"Aku nggak segan-segan bawa ke jalur hukum ini Sayang," ujar Mas Naufal yang agak kesal dengan kemunculan Meira di hadapanku lagi.
"Salahnya Kevin sendiri tuh, masih aja jatuh cinta sama kamu Sayang, jadi ceweknya masih aja nyalahin kamu, hhmmm," gerutu Mas Naufal.
"La makannya itu Mas, aku aja dulu jatuh cinta sendiri, aku nggak nyalahin siapa-siapa," sindirku pada Mas Naufal.
"Maksud kamu??" tanya Mas Naufal.
Aku tersenyum-senyum mengejek padanya, dan Mas Naufal berusaha sedang membaca pikiranku.
"Ooooo......gitu, nyindir Mas nih kamu, hhhhmmm???"
"Hehehem, dasar kamu Sayang, bisa aja," ucap Mas Naufal.
"Uuuuhhhmmm, bisa aja ngerjain suaminya," kata Mas Naufal sambil mencubit kedua pipiku.
"Aawwww....Mas Naufallllll," rengekku.
"Hehehem, salahnya sendiri masih pagi-pagi ngerjain suaminya yang baru pulang kerja,"
"Bisa nya pura-pura nggak tau apa-apa, sok-sok an marah sama Mas, huummm oke juga akting kamu, hahahahaha," puji Mas Naufal.
"Yaaaahhh, Alhamdulillah bisa di ulangi lagi kalo gitu Mas," ucapku.
"Hm?? Apa? Kamu ulangi lagi Sayang??"
"Ya jangan lah Sayangggg.....tadi Mas udah takut banget loh, kaget banget....kok tiba-tiba ada ini di kamar, secara kan kamu nggak suka banget, dan nggak mungkin kamu yang buat makanan ini buat Mas,"
"Eeehhhh malah kamu biangkerok nya Sayang," sambung Mas Naufal.
"Hehehehe, satu sama lah Mas," kataku.
"Sayangggg,"
"Lain kali, kalo Meira kesana lagi, udah kamu nggak usah muncul di depan dia lagi, dari pada nanti dia marah ke kamu lagi," tutur Mas Naufal.
"Iya iya Mas, baikkkk," jawabku dengan manja.
"Hhhmmm, gemes Mas ini sama kamu,"
"Nggak usah ke Butik ya Sayanggg hari ini," rayu Mas Naufal dengan manja.
"Terus ngapain di rumah Massss??" ucapku.
"Nemenin Mas aja di rumah, yaaa......ya Sayang ya??" rayu Mas Naufal lagi sambil menempelkan kepalanya di lenganku.
"Aku bentaran kok di Butik, bentarrrrr doang Mas," tepisku.
"Nggak usah lah Sayang, ngapain kesana??" rengek Mas Naufal.
"Ada kiriman kain lagi Mas," jawabku sambil meneguk segelas teh hangat.
"Kan kamu bisa calling Haru atau Hilya atau yang satunya lagi, siapa??" tanya Mas Naufal.
"Isamu Mas," jawabku.
"Nah itu Sayang,"
"Kan ada mereka, kamu disini aja ya sama Mas, Mas pengen ditemenin sama kamu, pliiiisss," rayunya dengan sangat manja dan menggandeng tanganku agar tidak pergi.
"Tumben Mas manja gini sama aku??" tanyaku.
"Nggak tau, Mas nggak mood nanti kalo nggak ada kamu malahan," jawab Mas Naufal.
"Ha?? Tumben Mas Naufal manja banget kayak gini, hehehem, tapi nggak papa ah, aku juga mau deket terus sama Mas Naufal," gumamku dalam hati.
"Eemmmm.....gimana yaaa???"
"Ke Butik apa nggak yaa," ucapku.
"Nggak usah lah Sayang, ya ya ya," rayunya lagi.
"Hehehem, iya deh Mas," jawabku menuruti kemauan suamiku.
"Naaahh, gitu dong Sayang," ucapnya yang langsung bangun dan memelukku.
Bersambung........
__ADS_1