
Satu bulan kemudian, tiba Abay menagih janji nya untuk
liburan bersama kami.
“Pa, ayok Pa liburan ke rumahnya Bibi,” rengek Abay.
“Kamu yakin mau liburan disana??” tanya Naufal.
“Iya Pa yakin, kata Mama disana enak banget,” jawab Abay.
“Ya udah Papa akan ambil cuti satu hari ke depan lagi,” kata Naufal yang memuaskan hati Abay.
“Yeeaaay beneran ya Pa, Papa udah janji loh sama Abay,” ujar Abay.
“Iya Nak,” jawab Naufal.
Abay senang kegirangan dan berlari meninggalkan Naufal
sambil bersorak.
Setelah nya Naufal selesai menyelesaikan tugasnya, dia
menemui Bi Sarah yang sedang ngobrol denganku di halaman belakang.
***(Di Halaman Belakang)
“Bi, Naufal mau ngomong sama Bibi,” ucap Naufal.
“Monggo Mas, enten nopo ?? (Silahkan Mas, ada apa?)” tanya
Bi Sarah.
“Abay kan sudah liburan Bi, jadi Abay minta kita buat ajak
dia liburan ke rumahnya Bibi, kira-kira boleh nggak ya Bi kita kesana??” tanya Naufal sambil berdiri di tengah-tengah pintu.
“Ini serius Mas??” tanya Bi Sarah.
“Iya Bi, serius,” jawab Naufal.
“Waduh pasti boleh sekali Mas, monggo ten mriko (Silahkan
kesana)” jawab Bi Saeah.
“Adduuuuuhhh saya seneng beneran loh ini Mas, kapan lagi kan
rumah saya ada tamu dari kota, hehehe,” ujar Bi Sarah.
“Nanti sekalian Bi Sarah dan Pak Rusdi ikut pulang kesana
ya,” ucap Naufal.
“Pasti Mas, Mas Naufal mau kesana kapan??” tanya Bi Sarah.
“Kayaknya satu hari lagi Bi, secepatnyaBi pokoknya
kesananya,” jawab Naufal.
“Masya Allah saya senang sekali loh Mas, Mbak, hmmmm
keluarga saya di kampung pasti juga senang banget,” kata Bi Sarah.
“Gia juga rindu di kampung halaman Bibi,” ucapku.
“Mas Naufal pasti kalo kesana udah nggak mau pulang, pasti
kamu suka Mas disana, karena semua nya masih alami, air nya jernih-jernih,” kataku.
“Iya lah Sayang, kata kamu disana banyak sawah, banyak
terasering, Abay sendiri loh Bi yang minta mau kesana, saya juga antusias pengen kesana, mendengar ceritanya Gia,”kata Naufal.
“Heheheehm, nanti kalo disana Mas, pasti berbeda sangat jauh dengan disini Mas,” ujar Bi Sarah.
“Ya sudah kalo gitu, aku ke atas ya Sayang,” ucap Naufal.
“Iya Mas,” jawabku.
Naufal melangkah meninggalkanku bersama Bi Sarah.
“Ya Allah. Bibi udah nggak sabar Mbak, hehehem, Mbak Gia
sama Mas Naufal mau bertamu ke rumah Bibi,” ujar Bi Sarah.
“Sebenarnya Gia sama Mas Naufal mau mau aja Bi kesana, tapi kan cari waktunya Bi yang susah, Bibi juga tau sendiri, Gia sama Mas Naufal bagaiama Bi,” kataku.
“Iya sih Mbak, Mbak Gia sama Mas Naufal kan sibuk banget
ya,” sanggah Bi Sarah.
“Nah itu dia Bi, kemaren Mama juga bilang loh sama Gia, kalo
pengen kesana, terus Mama tanya ke Gia Bi, kapan ya kita bisa kesana sama-sama, gitu, apa Gia ajak Mama juga ya Bi sekalian sama Papa??? Kalo sama Johan mah pasti nggak bisa Bi, dia kan sekarang sibuk banget,” kataku.
“Iya Mbak ngajak Ibuk aja Mbak, pasti makin rame disana,
Ibuk sama Bapak kan juga udah lama nggak kesana,” ucap Bi Sarah.
Aku terus berbincang-bincang dengan Bi Sarah.
Hingga waktu sudah larut malam, aku memutuskan untuk masuk ke kamar.
.
.
.
.
.
***(Di Kamar)
Terlihat Naufal yang duduk bersandar dan membujurkan kaki nya di atas ranjang sambil terus memandangi laptopnya.
“Laptop mulu yang di lihatin,” ejekku dan duduk di
sebelahnya.
Naufal langsung menutup laptopnya dan melihatku.
“Mau nya kamu gimana?? Lihatin kamu terus??? Oke, aku
bakalan turutin kalo itu mau kamu,” candaan Nauafal.
“Hehehehe, apa sih enggak-enggak, udah ah lanjutin,” tturku.
Naufal tidak membuka laptopnya kembali, malah asik menatapku terus-menerus.
“Mas, jangan di lihatin gitu dong, kamu ah,” ucapku
malu-malu.
“Kenapa sih hm kenapa??” tanya Naufal sambil menggeser dirinya agak semakin dekat dan semakin jelas untuk menatapku.
“Kan aku becanda Mas, lanjutin ngetiknyaaa,” rengekku.
“Nggak mau ah, lebih enakan gini,” ujar Naufal.
Aku semakin teripu malu di buatnya.
“Massss…….ayo lah,” rengekku lagi.
“Ayo apa sih?? Hm?? Ayo kemana?? Minta kemana sih
Sayanggggg??” tanya Naufal yang mencoba menggodaku.
“Tau ah kamu gitu nggak serius,” jawabku.
“Hehehem. Tuh kan ngambek, kamu sendiri loh yang bilang
tadi, eh kamu sendiri juga tyang ngambek, dasar Sayang ngambek an ihhh,” ejek Naufal.
“Biarin weeekkkkk,” kataku sambil beranjak berdiri dari
ranjang lalu masuk ke kamar mandi.
.
.
.
Setelah cuci muka dan gosok gigi, Naufal tak kunjung selesai
memangku laptopnya.
“Masih banyak Mas??” tanyaku.
“Masih Sayang, ini aja baru separuh perjalanan,” jawab
Naufal yang tetap fokus melihat monitor laptopnya.
“Di kumpul kapan sih Mas??’ tanya ku sambil menarik selimut
di atas ranjang.
“Dua hari lagi Sayang,” jawab Naufal.
__ADS_1
“Emm, aku temenin ya,” kataku.
“Nggak usah kamu tidur duluan aja,”ucap Naufal.
“Nggak papa Mas, kan aku udah biasa nemenin kamu,” ujarku.
“Sayaaanggggg, tidur dulu aja ya, ini masih lama, nanti kamu
kemaleman tidurnya, ya,” tutur Naufal sambil mengelus-elus rambutku.
“Tapi kamu nggak papa sendirian?? Nggak ada temen nya
ngobrol loh,” kataku.
“Ada kok, udah tenang aja,” jawab Naufal dengan enteng.
“Ha??? Ada?? Siapa??” tanyaku.
“Ini aku chatan sama Bastian,” jawab Naufal.
“Ya elah Mas, Pak Bastian, aku kira siapa, kamu ini udah
kayak orang pacaran aja sama Pak Bastian, selengket dan sedeket itu,” kataku.
“Nggak lah Sayang, iiiihh aku sama dia itu cuman sahabatan,
nggak lebih, lagian ini juga diskusi Sayang, yang di bahas itu kerjaan bukan yang lain-lain,” ucap Naufal membela diri tak terima jika di bilang berpacaran dengan Pak Bastian.
“Iiiihhh takut ah aku sama kamu, sereemmmm,” godaku lagi.
“Sayang jangan gitu ah, geli aku dengernya,” kata Naufal
yang sepertinya risih.
“Hahahaha, udah ah aku tidur beneran ya Mas, awas kamu,
jangan malem-malem,” tuturku.
“Iya, nggak malem-malem kok, bobo ya, night Sayang,” ucap
Naufal sambil mencium keningku.
“Night too,” jawabku.
Aku pun tertidur.
.
.
.
.
.
Hingga saat tengah malam, aku pun terbangun karena terusik
dengan cahaya dari layar laptop Naufal saat aku berbalik menghadapnya.
“Uuuhhmm, bunar banget,” ucapku lalu terbangun.
“Hooooaammm,” kua ngkat badanku untuk bangun dank u raih
ponselku lalu ku lihat jam berapa sekarang ini.
Ternyata sudah jam setengah dua belas malam.
“Masss……udah jam segini loh kamu belum tidur,” kataku.
“Bentar lagi Sayang,” jawab Naufal.
“Mas tidur dulu gih, kan bisa di lanjutin besok, jangan terlalu menforsir tenaga kamu gini,” tuturku.
“Iya iya bentar lagi ah Sayang,” kata Naufal.
“Ya udah lah terserah kamu,” kataku yang kesal karena tidak
di dengar oleh Naufal.
Akhirnya aku pun menutupi seluruh badanku dengan selimut
tebal ini.
“Hm ngambek kan,” kata Naufal.
Aku hanya dia menutupi dua telingaku.
“Sayangggg…..hei, jangan marah dong,” rayu Naufal.
“Bentar lagi doang Sayang,” kata Naufal.
“HHhhhmmmm, iya iya aku tidur,” ucap Naufal lalu menutup
laptopnya.
“Aku mendengar Naufal membuka lacinya dan menyimpan
laptopnya.
Aku sangat kesal dengannya.
“Udah nih, aku udah nggak ngetik lagi, hadap sini dong,”
tutur Naufal.
Aku tetap saja tidak menjawabnya.
“Jangan marah Sayang, aku udah nggak kerja loh,” rayu
Naufal.
“Hhhm kamu Sayang,” sambungnya lalu melingkarkan tangannya pada pinggangku dan menempelkan mulutnya pada telingaku.
“Jangan marah ya, maafin aku kalo udah buat kamu ngambek
gini gara-gara nggak ngedengerin kamu,” bisik Naufal.
Naufalmenarik tanganku agar aku menhadapnya.
Aku memasang wajahku yang sangat jutek padanya. Dia membelai kedua pipiku.
“Udah dong jangan marahan,” rayu Naufal.
“Abis kamu sih Mas, istri nya ngomong nggak di dengerin, itu
juga kan demi kebaikan kamu, apalagi akhir-akhir ini kamu sibuk banget,”ucapku.
“Iya, aku salah,maafin aku,ya,” ucapnya.
“Aku takut nanti kalo kamu jatuh sakit, udah,cukup Papa aja,
masak kamu mau ikut-ikutan Papa,” kataku.
“Hehehem, ya nggak lah Sayang, kan kasihan annti
istriku,”ucapnya.
“Maka nya kamu dengerin aku, lagian waktunya kan masih dua
hari lagi, seneng ya kalo di ngambekin sama aku,” rengekku sambil mengernyitkan kedua alisku.
“Ya nggak maul ah Sayang, kamu ih,” kata Naufal.
“Kan sekarang udah nggak megang laptop, ngelihatin
laptop, sekarang kan megang tangan kamu, lihatin kamu, masak cemburu sama laptop,” ucap Naufal yang sangat hobby mengerjaiku.
“Tuh kan,kamu nggak suka ya di perhatiin, di peduli in sama
istrinya,” kataku.
“Heheheheeh bercanda Sayang bercanda,” kata Naufal.
“Udah udah bobo lagi bobo lagi,” tuturnya.
“Kamu ya bobo Mas,”ucapku.
“Iyaa, aku juga bobo kok, laptopnya udah aku simpan jauh-jauh tuh,”ujar Naufal.
Naufal pun menurutiku dan dia tertidur bersamaku.
Keesokan harinya, setelahs sarapan, kami langsung berangkat
bekerja, kali ini kami tidak lagi mengantarkan Abay, karena Abay sudah libur panjang.
Mobil malaju keluar dari kompleks.
"Mas, tadi malem sebenarnya aku mau ngomong sama kamu,
tapi kamu sibuk, akhirnya nggak jadi," kataku.
"Ngomong apa?? Kenapa nggak langsung ngomong aja,"
ucap Naufal.
"Aku nggak enak sama kamu, kamu konsentrasi
banget," ucapku.
__ADS_1
"Soal apa??" tanya Naufal.
"Kalo misal kitaa ajak Mama aku ikut liburan ke rumah
Bibi boleh Mas???" tanyaku.
"Soal itu??" tanya Naufal lagi.
"Ii....iya Mas, kenapa??" tanyaku balik.
"Ya Allah Sayang soal itu aja kamu tanya ke aku, ya pasti boleh lah Sayang, nggak pake di tanyain lagi, kamu iiiihh," kata Naufal.
",Ya kan baik nya aku bilang ke kamu, dari padaa aku
nggak bilang ke kamu kan nggak menghargai kamu Mas," ucapku.
"Subhanallah, taat banget, hehehem," puji Naufal.
"Apa sih Mas??? Orang cuman gini doang," kataku.
"Nggak papa Sayang, bilang sama Mama ikut semua aja
sama Johan," ujarnya.
"Kalo Johan udah pasti nggak bisa lah Mas, dia kan
sibuk nya pake banget sekarang, apalagis semenjak usaha nya Alhamdulillah lancar," ucapku.
"Iya ya, Johan sekarang kan pekerjaannya double ya," sanggah Naufal.
"Iya, kayak kamu," kataku.
"Hehehem, cowok emang harus gitu Sayang, pekerja keras,
apalagi Johan nanti bakalan menghidupi keluarga nya," kata Naufal.
"Ya udah nantia aku bilang ke Mama, pasti Mama seneng
banget Mas, soalnya lama kan nggak kesana," ucapku.
.
.
.
.
.
.
Jalanan masih pagi tapi sudah agak macet, dari tadi mobil
Naufal tidak bisa melaju dengan kecepatan tinggi.
"Tumben ya Sayang, macet banget," ucap Naufal.
"Kan mau ada pameran di Stadion Mas," jawabku.
"Oh iya?? Kamu kok tau?? Kata siapa??" tanya
Naufal bertubi-tubi.
"Ya elah Mas, tuh kan kamu nih yang akhir-akhir ini
sibuk banget, sampe gini an aja kamu nggak tau," ujarku.
"Di IG rame Mas, banyak yang buat insta wa juga
kok," sambungku.
"Eeemmm pantesan macet banget ini," ucap Naufal.
.
.
.
.
.
.
.
***(Di Rumah Sakit)
Parkiran sudah agak penuh, biasanya kalo nggak macet, pasti di dalam parkiran sini masih ada 5 sampe 10 mobil yang terparkir, dan ini agak sedikit sudah penuh.
Setelah mobil terparkir, aku dan Naufal langsung berjalan
masuk ke koridor.
"Woy Fal," panggil Pak Bastian dari belakang.
"Loh Bas, Lo dari mana??" tanya Naufal.
"Dari rumah lah, mau dari mana lagi," jawab Pak
Bastian.
"Kejebak macet tadi Gue," sambung Pak Bastian.
"Tumben Lo berangkat siang gini?" tanya Pak
Bastian.
"Sama, Gue juga kejebak macet tadi, di sekitaran
Stadion kan," tebak Naufal.
"Iya, kan emang mau ada pameran," jawab Pak
Bastian.
"Seorang Naufal, datanga agak siangan kayaknya nggak
mungkin bangettt," ejek Pak Bastian.
"Kan Gue nggak tau kalo di Stadion mau ada acara, tau
gitu tadi Gue milih jalan yang lain, bukan lewat sana," ujar Naufal.
"Diiih Lo nggak tau beneran??" tanya Pak Bastian.
"Ya beneran lah Bas, masak bo'ongan," kata Naufal.
"Padahal rame loh di sosial media," ujar Pak
Bastian.
"Tadi Gia juga bilang gitu, kan Gue nggak sempet lihatin," ucap Naufal.
"Lo sih sok sibuk," ejek Pak Bastian.
"Bukan sok sibuk Bas, emang kenyataannya gitu, nggak di
buat-buat, ya mau gimana lagi??" kata Naufal.
"Protes aja Gi kalo dia suka lupa merhatiin kamu,"
ucap Pak Bastian.
Aku hanya memberikan senyumku saja pada Pak Bastian.
"Untung aja Gia nggak banyak bicara, kalo Susi, waduh udah barabe Gue," kata Pak Bastian.
"Lo sih Bas sok sibuk," ejek Naufal ganti.
"iiiih Gue nggak se sibuk Lo kali, Lo sibuknya kebangetan," ucap Pak Bastian.
"Tau nggak Gi, tadi malam kan aku mau tidur nih, eh dia WA aku mau ajak diskusi, hhhmmm ya udah deh harus di turutin, ini kan komando, Hahaha," kata Pak Bastian.
"Biar kita nanti nggak keteteran Bas, ini kan juga yang
terbaik buat kita," ucap Naufal.
"Aaaghhhemm," aku berdehem untuk mengingtakan Naufal dengan kataku semalam yang mengejeknya karena aku bilang pacaran dengan Pak Bastian.
"Maksudnya kan rekan kerja, harus sama-sama ngerjain
nya," ucap Naufal.
“Lo sih Bas, mau nya sama Gue terus, istri Gue jadi curiga
kan,” canda Naufal.
“Apaan, orang Lo juga yang mau deket Gue, udah dewasa juga, udah tua, masih aja debat-debat gini,” kata Pak Bastian.
Kami pun berpisah untuk menuju ke ruangan masing-masing.
Bersambung.......
Makasih semua nyaaa🙏😁
Makasih banyakk sudahs upport Author😁
__ADS_1