
***(di Rumah Sakit)
Akhirnya aku tiba di Rumah Sakit.
Mobil langsung ku parkirkan dan aku bergegas untuk segera berlari masuk ke ruanganku.
***(di Ruang Kerja)
Ku letakkan tasku di atas meja.
“Aduh gimana ini, telat 5 menit,” kataku dan langsung memakai jas dokter ku.
Segera aku berjalam keluar ruangan dan langsung menuju Ruang Periksa.
Dengan jalan yang sangat terburu-buru.
Satu per satu pasien telah ku tangani.
Setelah selesai, aku bersiap-siap menangani pasien operasi usus buntu.
***(di Ruang Operasi)
Tenaga medis sudah menyiapkan semua alat bedah.
.
.
.
.
Satu jam kemudian, akhirnya aku merasa lega bisa keluar dari Ruang Operasi.
Tidak cukup dengan ittu, ternyata salah satu perawat menghampiriku.
“Dok ada meeting 15 menit lagi,” ucap Perawat itu.
“Iya Sus, setelah ini saya segera kesana,” kataku.
Tak lama kemudian aku segera berjalan menuju Ruang Meeting.
***(di Ruang Meeting)
Rupanya semua tim sudah menungguku.
Ku siapkan data yang akan ku presentasikan pada mereka.
Ku letakkan berkas yang sudah lama aku siapkan.
Kali ini aku yang memimpin meeting.
“Dokter Anton,” panggil Dokter Irene (Salah satu Dokter spesialis saraf di Rumah Sakit ini)
“Ya Dok,” jawab Dokter Anton.
“Seharusnya meeting kali ini kan bersama Dokter Naufal, dimana beliau?” tanyanya.
“Dokter Naufal ada meeting di luar negeri, jadi meeting kali ini saya yang gantikan,” jawab Dokter Anton.
“Yaaaaah, sejak kapan Dok?” tanya Dokter Irene.
Rupanya para dokter wanita yang tengah hadir memenuhi kursi meeting itu merasa lemas saat mendengar bahwa Naufal tidak hadir meeting kali ini.
“Baru saja satu hari disana, bukan begitu Dokter Gia?” tanya Dokter Anton padaku.
Aku sangat kaget mendengar hal itu, tak menyangka jika Dokter Anton akan membahas hal ini juga dengan mengaitkan aku.
Semua mata menatapku dan sepertinya mereka terlihat syok.
“Eeegghhmmm…iii…iya Dok,” jawabku dengan gugup.
Karena hampir semua rekan-rekan Naufal sama sekali belum tau jika Naufal sudah berkeluarga dan menikah denganku.
“Dokter Gia tau?” tanya Dokter Irene yang agak lebih tua dariku.
“Dokter Gia lagi deket sama Dokter Naufal?” tanya Dokter Irene pada Dokter Anton.
Aku hanya ternganga mendengar pertanyaan dari Dokter Irene di depan tim meeting.
“Dokter Gia istri dari Dokter Naufal,” ceplos Dokter Anton.
Semua kembali syok dan benar-benar syok telah mendengar jawaban dari Dokter Anton.
“Eehmmm, mari bisa kita mulai meetingnya,” ucapku untuk mengalihkan pembicaraan.
“Eehhmm….bisa Dok bisa,” jawab Pak Anton.
“Oke saya mulai meeting kali ini, Assalamua’alaikum, selamat siang,” kataku membuka meeting kali ini.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, akhirnya kami selesai meeting, aku merasa canggung dengan semua Dokter yang ada di ruangan itu.
Dengan segera aku keluar dari Ruang Meeting, tetapi Dokter Irene mengikutiku dari arah belakang dan memanggilku.
“Dokter Gia,” panggilnya agak jauh dari arah belakangku.
Aku menoleh lalu berbalik badan, Dokter Irene berjalan menghampiriku.
“Ada Apa ya Dok?” tanyaku.
“Dokter Gia beneran sudah menikah dengan Dokter Naufal?” tanyanya.
“Ehhmmm…Sudah Dok,” jawabku dengan ramah.
“Sejak kapan kalian menikah? Apa kalian sudah berpacaran sejak dulu waktu kamu koas disini?” tanyanya lagi yang sepertinya ingin mengorek-ngorek informasi tentang aku dan Nuafal.
“Eeeehmm…,” belum sempat aku menjawab, ternyata salah satu Perawat kembali memanggilku.
“Dokter Gia,” panggilnya.
Aku menoleh ke arah perawat itu.
“Maaf Dok, saya harus segera kesana,” alasanku yang sama sekali tidak nyaman berada di dekat Dokter Irene.
“Oh ya, silahkan,” ucapnya.
“Permisi Dok,” ucapku sambil menundukkan kepala dan berjalan menghampiri perawat yang memanggilku.
"Syukurlah, aku bisa menghindari Dokter Irene," ucapku dalam hati.
Aku sangat sibuk hari ini, sama sekali aku tak sempat mengecek ponselku barangkali ada pesan dari Naufal.
.
.
.
.
Hari sudah semakin sore, senja sudah mulai menampakkan senyumnya.
Waktu ku selesai untuk bekerja.
Aku berberes membersihkan meja kerjaku yang tertimbun oleh berkas-berkas yang akan ku kerjakan nanti di Rumah.
Setelah selesai berberes, aku berjalan menuju parkiran dan segera masuk ke dalam mobil lalu menancap gas mobilku.
Di perjalanan aku mampir ke sebuah Supermarket untuk berbelanja kebutuhan di rumah.
***(di Supermarket)
Ku dorong troli sendirian, dan aku memilih sayur-mayur yang biasa ku masak di rumah.
__ADS_1
Barisan sayur mayor segar yang menggoda mataku untuk ingin mengambilnya semua.
Begitu juga Barisan buah-buahan yang juga tak mau kalah.
Saat aku sedang mengambil buah lecy, aku melihat seseorang yang persis seperti Vela.
Aku mengejar pelan dan mengendap-endap untuk mengikutinya dari belakang.
“Iya bener itu Vela, bukannya dia sudah di ajak pulang sama Mamanya,” gumamku dalam hati.
Aku mencoba untuk berjalan mendekatinya.
“Tapi tidak ah, aku takut jika dia emosi bertemu denganku, aku takut jika dia masih saja tidak terima dengan takdir,” kataku dalam hati.
Aku mengurungkan niatku untuk menemuinya.
.
.
.
Setelah selesai aku memilih-milih barang belanjaanku dan lama mengantri di kasir yang menurutku sangat membosankan.
Setelah akhirnya giliran belanjaan milikku selesai di hitung oleh mesih kasir.
Aku segera membawa belanjaanku masuk ke dalam bagasi, lalu kembali ku lajukan mobilku.
Saat mobilku berjalan melewati pintu masuk depan Supermarket, aku melihat Vela yang sedang berdiri sendirian, aku kasihan melihatnya.
Mobil ku hentikan di depan Vela, aku turun untuk memberi tumpangan padanya, dan aku juga menyiapkan mental tebal saat menghadapinya.
“Vela,” panggilku.
“Kamu mau pulang ya?” tanyaku.
“Iya,” jawabnya ketus.
“Mau aku antar, daripada kamu nunggu disini sendirian Vel,” ucapku ramah.
“Nggak usah,” jawabnya singkat.
“Aku nggak keberatan kok Vel,” kataku.
“Ya udah,”jawabnya yang singkat-singkat.
Vela segera membuka pintu mobilku dan masuk ke dalam mobilku.
Kembali ku tancap gas untuk mengantarkan Vela pulang.
Hampir setengah jam perjalanan kami, tidak ada percakapan di dalam mobil, aku diam begitu juga dengan Vela.
“Rumah kamu dimana?” tanyaku dengan mental tebal.
“Di jalan Pattimura nomor 9,” jawabnya.
.
.
***(di Rumah Vela)
Akhirnya sampai di depan rumah Vela.
“Makasih,” ucapnya ketus lalu keluar dari mobilku sambil sedikit membanting pintu mobil.
“Ehhhmm iya,” jawabku yang sepertinya tidak terdengar oleh Vela.
Dan ternyata tas Vela ketinggalan di dalam mobilku, dengan memberanikan diri aku membawa tasnya lalu masuk ke halaman rumahnya.
Saat aku berdiri di depan pintu rumahnya, seorang gadis kecil menghampiriku.
“Siapa anak ini?” tanyaku dalam hati.
“Tante mencari siapa?” tanyanya.
“Tante temennya Vela, ini tadi tasnya ketinggalan di mobil Tante,” kataku.
Deeegggg….
“Mama???!!” tanyaku dalam hati yang syok mendengar panggilan Mama dari anak itu.
“Sejak kapan Vela punya anak,” ucapku dalam hati.
Aku berjalan bergandengan dengan gadis kecil itu menuju taman belakang rumahnya.
Aku melihat Vela yang tengah duduk termenung melamum disana.
“Itu Tante Mama, aku mau menggambar dulu ya, Tante kesana aja,” ucap anak itu.
Aku bingung dengan panggilan Mama dari anak kecil itu.
“Iii…..iya, makasih,” kataku sambil mengelus rambut anak itu.
Aku berjalan pelan mendekati Vela.
“Vel,” panggilku yang berdiri di samping kursi taman milik Vela.
“Gia!!!” ucap Vela yang syok melihatku berada di dalam lingkup rumahnya.
“EEhhmmm maaf Vel, Vel aku gak bermaksud apa-apa, ini tas kamu ketinggalan di mobilku, terus coba aku kembalikan, dan ternyata aku bertemu dengan anak gadis kecil itu, terus aku dibawa kesini untuk menemuimu, maaf Vel jika aku lancang,” kataku sambil ku gigit bibir bawahku dan mengernyitkan kedua alisku.
“Ka….Kamu ketemu sama anak gadis kecil tadi???!!!” tanyanya dengan gugup.
Entah apa yang disembunyikan Vela dariku.
Vela langsung terjatuh lemas di tempat duduknya.
“Kamu duduk dulu Gi,” ucap Vela sedikit sensi.
Aku mencoba menuruti kemauan Vela.
“Kamu kenapa masih baik sama aku??!!” tanya Vela agak sensi.
“EEhhm memangnya kamu salah apa sama aku??” tanyaku ganti.
“Kan selama ini, aku selalu berusaha merebut Naufal darimu,” jawabnya.
“Eeemmmmm, alasan apa yang bisa membuatku benci sama kamu? Kamu nggak salah,” kataku.
“Aku sama sekali nggak pernah ingin membenci kamu, aku ngerti kamu dulu pernah punya kenangan sama Mas Naufal, tapi bukan berarti aku harus membencimu, aku juga tau persis bagaimana perasaan kamu, kamu cinta sama Mas Naufal, ya memang itu isi dari hati kamu, aku nggak bisa melarang ataupun memaksamu untuk tidak mencintainya bukan?” ucapku yang duduk di samping Vela.
Tiba-tiba Vela meneteskan air matanya, aku nggak tau entah ini benar air mata tulus atau tidak.
“Kamu kenapa menangis?? Maaf ya jika perkataan ku ada yang melukai hatimu,” kataku.
“Pantas jika Naufal sangat mencintaimu dan tidak ingin meninggalkanmu Gi, kamu sangat pantas mendapatkan Naufal, aku memang sangat mencintainya, tapi aku bisa apa Gi buat dia agar bisa jatuh cinta lagi sama aku, jika dia sudah punya istri yang seperti kamu ini, aku jauh Gi dari kamu, jauuuhh,” curhatnya yang semakin membuat isak tangisnya menjadi sesak.
“Enggak Vel, semua orang sama derajatnya, wanita itu mulia, aku dan kamu sama Vel,” tepisku.
“Enggak Gi!!! Kamu salah, kita berbeda, ketulusan hati kita berbeda, aku jahat dan kamu baik, aku hancur dan kamu utuh, aku licik dan kamu.....sudahlah, aku kotor Gi, aku sangat kotor, pantas saja jika Naufal memilihmu,” teriak Vela.
Entah apa yang kurasakan kali ini, aku hanya merasa kasihan dengan curhatan Vela, aku sama sekali tidak berfikir bahwa dia telah membohongiku.
“Aku ingin sepertimu!!!! Memakai kerudung, pakai gamis, taat, aku ingin Gi!!!!” teriaknya.
“Jika itu yang diinginkan Naufal, aku bisa Gi, aku akan mencoba, apa memang benar Naufal menginginkan itu???!!” tanyanya dengan air mata yang terus menetes di pipinya.
“EEhhmmm……eemmm, mungkin cinta bukan perkara itu Vel, jika kamu ingin sepertiku, maka lakukan semuanya demi Allah, lakukan ketaatannya dalam ikhlas dan tulus dari hati kamu,” tuturku.
“Aku hancur Gi, hancur, asal kamu tau, aku ini kotor, murahan Gi,” ucapnya sambil sedikit emosi.
“Vela, kamu nggak boleh seperti itu Vel,” tuturku.
“Sejak aku lulus SMA di Indonesia, aku kembali ke Singapura dengan paksaan dari Mamaku, Kamu kira selama ini Mamaku baik, Mamaku peduli, itu semua kebohongan Gi,” kata Vela.
“Disana aku jadi wanita malam untuk memuaskan para lelaki hidung belang Gi, aku di paksa sama Mamaku Gi, karena keadan ekonomi kami, aku terperangkap lama disana Gi, aku berharap ingin keluar dari sana, tapi tidak ada seorang pun yang sayang sama aku Gi disana, dan akhirnya ketika aku berhasil kabur dari Mamaku, aku kembali ke Indonesia untuk menemui Naufal, karena bagi aku, Naufal yang hanya bisa nolongin aku, yang peduli sama aku, dia pasti akan percaya jika aku mengadu padanya, tapi ternyata…....Dia sudah menikah denganmu,” cerita Vela yang membuatku ikut meneteskan air mata.
“Mamaku hanya berpura-pura baik di depan kalian kemaren, bahkan Naufal juga tidak pernah tau jika Mamaku sekejam itu, aku hanya bercerita padamu Gi, aku kira dengan aku kembali ke Indonesia, aku akan bahagia menikah dengan Naufal dan terbebas dari mereka, tapi aku salah Gi,” kata Vela yang sudah tidak mampu untuk bercerita karena isak tangisnya.
__ADS_1
“Sabar ya Vel sabar,”kataku sambil mengelus lengannya.
“Dan kamu tau siapa sebenarnya gadis kecil yang mengantarmu kesini untuk menemuiku,” ucapnya.
Aku menggelengkan kepalaku.
“Dia anakku Gi, satu tahun setelah aku lulus SMA, aku di hamili oleh om om Gi, dia sama sekali tidak bertanggung jawab padaku Gi, dia meninggalkanku, aku merawatnya sendiri, sampai-sampai aku pernah meninggalkannya ke Indonesia, dan kemaren waktu Mama memaksaku untuk kembali pulang, aku bawa kabur dia kesini Gi,” kata Vela dengan isak tangisnya.
Aku mencoba memeluknya agar Vela sedikit tenang.
“Maaf Vel, aku nggak tau jika hidupmu seperti ini, maafkan aku telah merebut Naufal darimu,” kataku.
“Cuman Naufal Gi penolongku, siapa lagi jika bukan Naufal, saudara-saudaraku tidak ada yang peduli Gi sama aku,” ucap Vela.
“Meskipun sekarang aku tau Naufal sangat mencintaimu, tapi hal itu sama sekali tidak membuat rasa cintaku berubah pada Naufal Gi,” ucapnya lagi.
“Kamu tau sediri, sekarang aku tinggal dengan Nenek dan anakku, sedangkan Nenek sudah sakit-sakitan Gi, aku bingung harus lari kemana lagi, harus mengadu sama siapa Gi, laki-laki mana yang mau bersamaku Gi, huhuhuhuhu,” ucap Vela.
“Kasihan kamu Vel,” gumamku dalam hati.
Aku melepas pelukan kami.
Vela meraih tanganku.
“Gi, aku mohon banget sama kamu, kali ini aku benar-benar tulus Gi, aku ingin sepertimu, aku ingin membuat Naufal kembali mencintaiku lagi,” kata Vela.
Deeegggg…..
Aku bingung harus menjawab apa.
“Aku masih punya kesempatan kan Gi buat dapetin hati Naufal lagi,” ucapnya.
“Ya Allah jawaban apa yang harus aku berikan pada Vela, “ gumamku dalam hati.
“Gi jawab aku, aku mohon, aku ingin sekali lagi mendengar dari mulut Naufal bahwa dia sudah benar-benar tidak mencintaiku, setelah dia mengucap hal itu, aku janji sama kamu, sumpah Gi aku gak akan gangguin keluarga kalian lagi, aku mohon,” ucap permohonan Vela.
“Bisakah aku menjadi wanita yang bahagia sepertimu??” kata Vela.
“Ya Rabb, Aku merasa sangat kasihan dengan hambaMu ini, dia juga berhak bahagia. Aku percaya jika Naufal akan tetap mencintaiku, tapi bukankah semua umat berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk mendapatkan kebahagiaannya,” ucapku dalam hati.
Aku meneteskan air mataku.
“Oke baiklah, aku akan mengizinkanmu untuk bertemu dengan Mas Naufal, jika nanti dia sudah kembali ke Indonesia, aku akan mempertemukanmu dengan dia di Rumah, tapi kamu juga harus menepati janjimu jika Mas Naufal sudah mnegatakan hal itu padamu,” kataku dengan tegas.
Vela langsung memelukku.
“Aku janji Gi, kali ini aku benar-benar tulus memintamu, aku akan menepati janjiku,” kata Vela di pundakku.
Entah, apa yang seharusnya aku rasakan saat ini, bahagia ataukah sedih.
Bahagia karena Vela ingin menjadi yang lebih baik, ataukah sedih karena mengizinkannya Vela untuk menemui Mas Naufal.
“Gia, ajari aku untuk sepertimu, aku ingin berkerudung sepertimu, ya,” ucap Vela sambil melepas pelukannya.
Dia menggandengku untuk menuju kamarnya.
***(di Kamar Vela)
Dia mengambil kerudungnya lalu diberikan padaku, dia duduk di depan kaca rias, ku tata kerudungnya untuk dikenakan di kepalanya.
Vela sepertinya sangat bahagia, sedangkan aku tak tau apa yang sedang dirasakan oleh hatiku saat ini.
“Vel, kamu yakin ingin berkerudung?” tanyaku.
“Bukankah wajib bagi seorang muslim untuk menutupi aurtanya Gi,” jawabnya.
Aku melamun sambil memakaikan kerudung di kepala Vela.
Setelah selesai aku membantunya memakai kerudung, dia tersenyum penuh kebahagiaan di depan kaca.
“Makasih Gi,” ucapnya.
Aku tersenyum kepadanya.
Aku menahan air mataku menetes kali ini.
“Gi aku janji, kali ini aku ingin menjadi yang lebih baik, aku harap Naufal bisa menerimaku kembali, tapi jika tidak, mungkin memang aku yang harus pergi dari kehidupannya Gi, dan membiarkan dia hidup bahagia bersamanya,” kata Vela.
“Kamu ikhlas kan Gi membantuku seperti ini?? Atau kamu keberatan,” tanyanya.
“Eemmm…..Enggak, enggak kok, semua orang berhak bahagia Vel, termasuk kamu,” kataku sambil tersenyum padanya.
“Bantuin aku ya Gi, bair aku jadi wanita yang taat, aku ingin taat sepertimu,” kata Vela.
“Dengan senang hati aku akan membantumu semampuku, Insya’Allah,” kataku sambil tersenyum padanya.
“Ya udah Vel, aku pamit pulang ya, ini udah malem," pamitku.
“Aku antar ke depan ya,” ucapnya.
"Enggak usah nggak papa," kataku.
"Udah gak papa Gi," ucap Vela.
Kami berjalan ke depan halaman rumahnya, anak dari Vela tiba-tiba menghampiri kami.
“Tante mau pulang?” tanyanya.
“Iya,” jawabku sambil tersenyum padanya.
“Tante besok kesini lagi ya, kasihan Mama sendirian dan sering menangis,” uucapnya.
Aku menatap ke arah Vela.
“Insya’Allah besok Tante kesini, ya udah aku pulang ya Vel,” kataku.
“Iya Gi,” jawabya.
Aku berjalan masuk ke dalam mobil sesekali ku nyalakan klakson untuk mereka, ku lajukan mobilku.
Dalam mobil aku termenung.
“Aku yakin Mas Naufal pasti akan tetap mencintaiku, aku yakin dia bisa memegang janjinya, tapi jika tidak…..Sudahlah aku pasrahkan semua pada Allah,” gumamku dalam hati sambil mengusap air mataku.
Saat di perjalanan, tiba-tiba ponselku berbunyi.
"Gimana ini?? Aku cerita sama Mas Naufal atau tidak," gumamku dalam hati.
Akhirnya ku angkat telepon darinya.
"Ha...Hallo Mas, Assalamu'alaikum," salamku.
"Wa'alaikumsalam, kamu dimana Sayang?" tanyanya.
"Eemmm.....ini......ini aku di perjalanan Mas," jawabku.
"Kamu baru pulang?" tanyanya lagi.
"Iya Mas, ini tadi aku juga baru belanja ke Supermarket," jawabku gugup.
"Kamu udah selesai meetingnya?" tanyaku.
"Udah Sayang, aduh capek banget aku hari ini, meeting baru aja selesai, belum juga mandi," keluhnya.
"Mandi dulu sana kamu," tuturku.
"Bentar Sayang, aku masih gerah, masih pengen ngobrol sama kamu," ucap Naufal.
"Heleh," sahut Pak Bastian yang selalu mengikuti Naufal.
"Kamu mandi dulu Mas," tuturku.
"Tuh Fal, harus nurut juga sama istri," ejek Pak Bastian.
"Ya udah iya iya Sayang," kata Naufal.
"Bye Sayang," ucapnya.
Ku tutup telepon dari Naufal.
__ADS_1
Bersambung.......