Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 163 (Bimbang)


__ADS_3

Aku kembali masuk ke ruanganku bersama Suster.


“Dok, kalo Dokter ikut nanti siapa yang jagain anaknya?”


tanya Si Suster.


“Nah itu Sus, saya juga bingung, anak saya gimana, saya


nggak mau sampai anak saya sendirian,” jawabku.


“Anak nya Dokter nggak pernah komplen ya kalo di tinggal


kerja berdua?” tanya Suster lagi.


“Alhamdulillah sampe sekarang nggak pernah sih Sus,


memangnya kenapa??” tanyaku balik.


“Nggak papa Dok, takutnya nanti anak kurang perhatian, maaf ya Dok bukannya saya gimana-gimana,” kata Si Suster.


“Iya juga ya, bener kata Suster apa aku nggak ikut aja ya,”


gumamku dalam hati.


“Ehhhmmmm nanti coba saya diskusi in sama Mas Naufal saja


Sus, hehehm,” kataku.


.


.


.


.


.


.


.


Sepulangnya dari kerja, mobil berhenti tepat di depan


gerbang sekolah Abay.


Abay berjalan keluar sendirian dan langsung masuk ke dalam


mobil.


“Assalamu’alaikum Ma, Pa,”kata Abay.


“Wa’alaikumsalam,” jawab kami.


“Kenapa muka nya di tekuk gitu Nak?” tanya Naufal.


“Teman Abay pindah sekolah Pa,” jawab Abay.


“Temen Abay yang mana?” tanya NAufal lagi.


“Yang biasanya sama Abay, Revina Pa,” jawabnya lagi.


Deeeggg……..


“Revina kan anaknya Pak Kevin,” kataku dalam hati.


“Eeemmm pantesan kok Papa nggak pernah lihat kamu sama dia,” ucap Naufal.


“Kenapa dia pindah?? Orang tuanya dinas di luar kota?” tanya


Naufal lagi yang tak tega melihat anaknya yang sedih.


Sedangkan aku hanya diam mendengarkan percakapan mereka.


“Nggak tau Pa, kemaren aja pindahnya nggak pamitan sama


Abay, tiba-tiba nggak masuk sekolah,” keluh Abay.


“Nah terus kenapa Abay sedih banget gini, kan masih ada


temen Abay yang lain,” tutur Naufal.


“Tapi Revna baik banget Pa,” puji Abay.


“Pasti ini gara-gara aku, atau jangan-jangan Pak Kevin nggak mau kalo anaknya temenan sama anak aku,” ucapku dalam hati.


“Iisssshhh kenapa sih Pak Kevin gitu banget, kasihan anaknya


dong, kan kita juga udah nggak ada masalah, meskipun pernah ada sesuatu yang terjadi, tapi kan nggak harus libatin anak-anak, jadi kasihan mereka,” gerutuku sangat kesal dalam hati.


“Sayang, kenapa alisnya kayak kesel gitu,” ucap Naufal.


“Eehhmm….eng,….enggak, nggak papa kok,” alasanku.


“Lagi mikirin aoa?? Banyak ya yang lagi di pikirin,” tebak


Naufal.


“Hehehem,” aku hanya tersenyum pada Naufal.


“Mikirin apa?? Mikirin soal tadi kita meeting?” tanya


Naufal.


“Ii….iya Mas, aku bingung jika misalkan nanti namaku ada di


daftar relawan, gimana Abay nanti,” kataku.


“Memangnya Mama mau ngapain??” sahut Abay yang duduk di


belakang mobil sendirian.


“Gini Abay, kan satu hari lalu kamu lihat berita nggak kalo


lagi ada bencana di luar Pulau Jawa, nah ternyata ada gempa susulan, jadi tempat kerja Mama mau kirim beberapa relawan kesana, dan Papa kamu juga pasti ikut, nah sekarang Mama yang bimbang, takutnya kalo nama Mama ada di daftar relawan, nanti Abay sendirian di rumah, Mama nggak mau,” kataku.


“Eeemmmm….gitu ya Ma, pasti lama kan Ma,” tebak Abay.


“Iya Nak, pasti lama,” kata Naufal.


“Nggak papa Ma, Mama nanti ikut aja, kan Abay bisa di rumah


sama Bibi,” ucap Abay.


“Enggak Nak, nanti kamu kesepian di rumah, Mama mending


nggak ikut aja,” sanggahku.


“Tapi Ma, mereka lebih butuh Mama, kasihan loh Ma mereka,”


kata Abay.


“Nanti coba Mama bicarain sama Papa kamu,” kataku.


.


.


.


.


.


***(Di Rumah)


Sampainya di rumah, kami turun dari mobil dan segera masuk


ke rumah.


“Assalamu’alaikum,” salam kami.


Kami pun langsung menuju kamar kami masing-masing.


***(Di Kamar)


Aku duduk di atas ranjang dengan wajah yang sangat gelisah.


“Mas, gimana ya?? Aku takutnya nanti ada nama aku disana,”


kataku.


“Tapi Abay ngijinin kamu loh Sayang,” ucap Naufal sambil


melepas kancing kemejanya.


“Iya Mas, tapi aku khawatir, Abay aja selama ini sering


banget kita tinggal buat kerja, apalagi kalo kita jadi relawan pasti lama Mas, nanti siapa yang perhatiin Abay,” tepisku.


“Apa kita bawa ke Mama aja ya, tapi kasihan nanti Abay,” kata Naufal.


“Jangan ah Mas, nanti ngrepotin Mama kamu, nggak usah,”


ucapku.


“Terus mau gimana??”tanya Naufal.


“Sebenarnya aku mau ikut Mas, tapi aku kepikiran Abay, tapi


kalo misal nih ya, disana nanti ada nama aku, terus aku nggak ikut, kan nggak enak sama temen-temen lainnya Mas, masak iya istri pimpinan Rumah Sakit nggak ikut, terus nanti di kiranya aku seenaknya sendiri mentang-mentang kamu jadi Direktur,” keluhku.


“Huuuummmm, bingung aku Mas,” ucapku sambil melempat rubuhku di atas ranjang.


“Hehehem, udah mandi dulu sana kamu, malah rebahan,” kata

__ADS_1


Naufal.


“Pusing aku mikirin ini Mas,” keluhku.


“Nggak usah terlalu di pikirin, nanti coba minta solusi ke Mama,” tutur Naufal.


“Kamu mandi duluan aja, nanti aku nysul,” kataku sambil


memijat keningku.


“Beneran nyusul ya, Hahaha,” canda Naufal.


Aku langsung bangun dari ranjang.


“Eemmm……emmmm….maksud aku bukan itu, maksud aku, aku nyusul setalah kamu, huuumm, udah sana mandi,” perintahku.


“Hahahaha, iya iya aku ngerti, sengaja aja ngerjain kamu,


weeeekkkk,” ucap Naufal langsung berjalan masuk ke kamar mandi.


Tiba-tiba pandanganku kembali buram dan kepalaku sangat


pusing.


“Aaaawwww…….aduh sakit banget,” keluhku.


Naufal ternyata keluar lagi dari kamar mandi.


“Sayang, kenapa?” tanya Naufal.


“Cuman pusing Mas,” jawabku.


“Kamu sering banget pusing loh, kita bawa ke Dokter aja ya,”


tutur Naufal.


“Nggak usah Mas, ini tuh cuman kecapek an, kalo nggak gitu ya kurang darah, udah ah jangan parno,” tepisku.


“Ngapain kamu keluar lagi, ada yang ketinggalan?” tanyaku.


“Ada Sayang,” jawab Naufal.


“Apa?” tanyaku.


“Kamu, hehehe,” canda Naufal.


Langsung ku ambil bantal dan ku pukulkan padanya.


“Mas Naufal ngaco deh,” kataku malu-malu.


“Hahahah, ini loh mau ambil shampoo aku, yang di dalam udah


abis,” jawab Naufal sambil mengambil shampoo nya di dalam almari miliknya.


“Jangan lupa mawarnya di siramin, nanti kalo mati nangis kamu,” ujar Naufal yang elangkah masuk ke kamar mandi.


“Iya iya,” kataku.


Aku beranjak dari ranjang dan berjalan ke balkon untuk


melihat bunga mawar putih yang aku tanam.


“Ya Allah, kering banget,” ucapku saat melihat tanaman bunga


mawaeku yang layu.


Aku langsung berlari mengganggu Naufal yang akan mandi.


Tok….tok….tok…


“Mas….Mas Naufal…Plissss ini penting banget Mas,” kataku


sambil mengetuk keras pintu kamar mandinya.


“Astaga Giaaaaa,” gerutu Naufal dalam kamar mandi.


“Iya…iya bentar aku buka in,” kata Naufal.


Gleeekkkk……


“Apa lagi Sayang??” tanya Naufal.


“Hehehe, mau minta air,” jawabku dengan polos.


“Iiisshhhh astaga Giaa, sana ambil,” ucap Naufal.


Aku masuk ke kamar mandi dan segera ku ambil satu timba air.


“Udah, cukup segitu?” tanya Naufal.


“Hehehe, udah Mas, maaf ganggu ya,” kataku sambil tersenyum kecut padanya.


“Huuuufffttt, aku pikir kamu mau nyusulin aku beneran,” goda


Naufal.


sengaja.


“Hahahaha, Awww jahat banget kamu Sayang,” ucap Naufal.


“Biarin, kamu sih Mas, udah sana lanjut mandi, aku nggak


ganggu lagi kok,” kataku.


Segera ku siram tanaman bunga mawarku.


“Huuufftt, udah dua harian ini bunga nya lupa nggak aku


siramin, dosa banget aku,” kataku sendirian.


Aku melamun sambil memikirkan tentang rencana relawan yang


akan di kirim jauh di Pulau Jawa.


Beberapa menit kemudian, Naufal selesai mandi.


“Sayang…..mandi gih,” tutur Naufal.


Namun tidak ada jawaban dariku.


Naufal menghampiriku sambil menggosok kepalanya yang basah.


“Gi……Hey,” gertak Naufal.


“Eeehhmm…iya Mas, tadi nyuruh aku ke kamar Abay kan, oke aku kesana,” kataku.


“Siapa yang nyuruh kamu ke Abay, aku nyuruh kamu mandi


Sayang, hmmmm,” kata Naufal.


“Kamu nglemunin apa sih, ngerasa bersalah karena udah


beberapa hari bunga kamu nggak kamu siramin, issh segitunya,” sambung Naufal.


“Ehhmm…ehemm…..siapa juga yang meratapi bunga ini,” tepisku.


“La terus apa?” tanya Naufal.


“Masalah tadi Mas,” jawabku.


“Nah kan udah pasti, bener dugaanku, apanya yang di pikirin


sih Sayang, kalo kamu nggak ikut juga nggak papa, udah nggak usah mikirin apa kata orang nantinya,” tutur Naufal.


“Segitunya kamu sampe mikirinnya,” kata Naufal.


“Kan kamu tau sendiri aku mikiran orangnya, beda sama kamu


yang bisa lupain apa aja dengan cepet,” kataku ketus dan langsung masuk ke kamar mandi.


“Marah Gia,” kata Naufal sambil menaikkan satu alisnya.


.


.


.


Setelah aku mandi, aku menuju kamar Abay, namun Abay sudah memulai mengajinya dengan Ustad yang mengajarinya, aku pun kembali ke kamar dengan wajah lesu, lalu duduk di ayunan balkon.


“Mood aku nggak bagus banget sih, kenapa ya, apa aku mau datang bulan, tapi kan aku udah haid, dan ini bukan tanggalnya,” gumamku dalam hati.


“Huuuuuuummm,” aku berdiri tepat di pinggir balkon.


Kaki ku naikkan di bagian bawah relling balkon, ku rentangkan kedua tanganku, dan ku hirup udara segar di sana untuk merilekskan pikiranku.


Naufal datang, memelukku dari belakang, aku tetap masih


dalam posisi yang sama,  Naufal menciumi pundakku dan menghembuskan nafasnya yang terasa hangat di belakang telingaku.


“Maafin aku,” kata Naufal yang mencondongkan kepalanya di


pundakku.


“Biarin aku seperti ini dulu Mas untuk beberapa menit,”


kataku.


“Kamu kenapa?? Banyak pikiran ya??” tanya Naufal.


“Enggak, aku cuman butuh rileks aja, dari tadi moodku jelek,”


jawabku.


“Ke salon Mama mau?” tanya Naufal.

__ADS_1


“Nggak usah Mas, disini aja sama kamu udah balik lagi kok


pasti mood aku,” ujarku.


Naufal semakin erat memeluk perutku.


“Rasanya enak banget Mas kayak gini, huuufftttt, rasanya


tenang banget, ini jadi tempat favorite aku, saking sepinya, bahkan tiupan angin aja sampek kedengaran, tuh kamu denger nggak,” kataku.


“Kenapa ya Mas?’ tanyaku.


“Ha?? Maksud kamu gimana?? Kenapa apanya?” tanya Naufal.


Aku tersenyum sambil tetap memejamkan kedua mataku.


“Hehehe, nggak papa, cuman pengen ngomong aja,” jawabku.


“Kenapa ya Mas, semua orang kan di lahirkan baik, tapi entah


kenapa harus ya buat nyakitin?” tanyaku.


“Kenapa kamu tiba-tiba nanya gini? Ada yang nyakitin kamu?? Siapa??? Aku ya nyakitin kamu,” tanya Naufal balik.


“Heemmm, selalu deh, bertubi-tubi kalo nanya. Nggak papa Mas aku nanya aja, kali aja kamu tau jawabannya, selama ini aku nyari jawaban itu Mas,” kataku.


Naufal diam dan mungkin tidak bisa menjawab atas apa yang aku pertanyakan padanya.


“Udah nggak usah terlalu di pikirin, hehehem, aku cuman


bercanda kok,” ucapku.


Kaki ku turunkan dari relling balkon dan berbalik menghadap


Naufal.


Naufal memegang pinggangku dan aku meraih kedua pipinya.


“Maafin aku ya, jadi buat mood kamu jelek,” kata Naufal.


“Bukan salah kamu, emang dari diriku sendiri aja,” kataku.


“Kamu jangan banyak pikiran ya, nanti kamu malah sakit,


nggak usah terlalu di pikirin, anggap aja semua akan baik-baik saja,” tutur Naufal sambil membelasi wajahku.


“Aku mau tanya sama kamu, pernah nggak kamu tiap hari punya pertanyaan yang kamu aja sama sekali nggak tau jawaban nya?” tanyaku pada Naufal.


“Eeemmmm…..pernah nggak ya, emmmm…..kadang-kadang sih, nggak selalu,”jawab Naufal.


“Emang kamu tiap hari?” tanya Naufal.


“Iya tiap hari, aku selalu tanya sama diri aku sendiri, besok


gimana ya?? Aku bakalan ngapain ya?? Itu sih,” jawabku.


“Dan sangat sulit buat aku dapetin jawabannya,” sambungku.


“Udah nggak usah mikir macem-macem, kamu selalu sama aku,


ngapa-ngapain ya sama aku, habis ini aku telfon Mama, buat ngobrolin tentang Abay,” tutur Naufal lalu mengecup keningku.


Saat aku menarik keningku, Naufal menekan pinggangku untuk


memberi isyarat padaku agar tetap di ciumnya.


Dan aku sungguh menikmatinya, rasanya sangat nyaman dana man jika berada di dekat Naufal.


“Kamu kenapa keburu narik Sayang??” tanya Naufal.


“Ya kamu lama-lama,” jawabku.


“Kan aku mau nenangin kamu Sayang,” ucapnya sambil mengelus rambutnya.


"Makasih,” rengekku sambil menarik tubuhnya agar dapat ku


peluk, dengan tinggi badannya yang jauh lebih tinggi dari aku, membuat tumitku ku angkat setiap kali aku memeluknya.


“Udah Mas, jangan lama-lama,” rengekku.


Naufal melepas pelukan kami.


“Tumitku pegel kalo kelamaan pelukan sama kamu, kesemutan nanti, yaaaa kamu tau kan tinggi badan istri kamu ini berapa, beda jauh sama kamu, selisihnya aja 10 cm lebih,” kataku.


“Hehehem, lain kali kalo mau meluk aku, pake kursi yang


kecil itu loh Sayang, yang biasanya di buat orang nyuci,” ucap Naufal.


Aku tertawa mendengarnya.


“Iiiih Mas Naufal,” kataku.


Naufal senang melihaktku tertawa kembali padanya.


“Kalo senyum kan jadi seneng aku nya,” ucap Naufal.


“Hehehem, ini juga berkat kamu kali,” kataku.


“Udah ah aku mau turun, mau buat brownies,” kataku.


“Emang bisa?” tanya Naufal.


“Bisa lah, lihat aja nanti,” kataku sambil meraih kerudungku


dan berjalan ke luar dari kamar.


Tepat saat aku menutup pintu kamar, Abay berjalan menaiki


anak tangga dan melewati kamarku.


“Udah selesai Nak ngajinya?” tanyaku.


“Udah Ma,” jawabnya.


“Mama mau kemana?’ tanya Abay.


“Mama mau buatin brownis buat kamu sama Papa sama yang lain juga sih,” jawabku.


“Eemmmmm Kalo gitu Abay tunggu deh nanti browniesnya Mama, hehehe,” kata Abay.


“Papa kemana Ma?’ tanya Abay.


“Di dalam kamar, mau main PS lagi ya,” tebakku.


“Hehehe, iya Ma, cuman bentaran aja,” kata Abay.


“Ya udah sana panggil Papa kamu,” tuturku.


“Iya Ma,” jawab Abay langsung beralari masuk ke kamarku.


Aku berjalan turun ke dapur untuk memulai rencanaku membuat brownis.


***(Di Dapur)


Ku keluarkan satu per satu bahan yang sudah ku beli, tak


lupa pastinya ku siapkan resep andalan dari Mamaku yang dulu waktu kecil sering banget buatin aku.


Mulai ku masukkan tepung dan telur serta bahan lainnya dalam


wadah, ku buat dengan sungguh-sungguh danpenuh cinta, yang meskipun aku nggak begitu bisa, tapi aku yakin pasti rasanya enak banget.


Tepat saat aku membuat brownies, ponselku bergetar, ku


angkat telefon dari Mamaku.


“Haloo Mama, Assalamu’alaikum,” ucap salamku.


“Wa’alaikumsalam Nak, kamu lagi dimana sekarang?? Ngapain??” tanya Mamaku.


“Ini Ma, Gia lagi buatin brownis yang Mama kasih resepnya ke


Gia,” jawabku.


“Hhmmm pasti dijamin enak itu Gi,” puji Mamaku.


“Hehehe, ada apa Mama telfon Gia?? Kangen sama Gia ya,”


tebakku.


“Hehehe, pastinya Mama kange sama anak Mama ini lah,” jawab Mamaku.


“Ada apa Ma?? Mama mau bicara apa?? Ada apa??” tanyaku lagi.


“Nggak papa Nak, nggak ada apa-apa, Mama cuman pengen telfon Gia aja,” jawab Mama.


“eehmmm, Papa di rumah Ma?” tanyaku.


“Papa kamu kerja Nak, seperti biasanya, Adik kamu juga,” jawab Mamaku.


“Yaaah Mama kesepian yaa di rumah,” kataku.


“Hehehe ya beginilah Nak, Mama sudah terbiasa,” ucap Mamaku.


“Ma, Papa ingetin loh ya, makanan nya jangan yang


lemak-lemak lagi, harus bener-bener yang higyene sama yang fresh kalo buah, susu nya harus teratur tiap pagi, apa lagi Papa kalo udah kerja pasti lupa makan, Mama harus setia ingetin Papa,” tuturku.


“Iya Ibu Dokter, Hehehe, pasti Mama ingetin kok, sesuai apa


yang di bilang Dokter barusan,” kata Mamaku.


“Hehehe, Mama apaan sih, Gia cerewet ya,” ucapku.


“Enggak, Mama malah seneng Nak,” kata Mamaku.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2