Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 149 (PAPA)


__ADS_3

Aku dan Abay segera turun ke bawah.


Aku berusaha menelepon Naufal, dan mengirim pesan padanya, namun tak kunjung ada jawaban.


Aku berlari ke pos depan untuk menemui Pak Joko.


“Pak, Pak Joko,” panggilku.


Pak Joko segera berdiri dan kaget melihatku menangis.


“Ada apa Buk? Ibuk kenapa menangis,” tanya Pak Joko.


“Papa saya sakit Pak, saya minta tolong sama Bapak sekarang, tolong antarkan saya ke rumah sakit Papa,” jawabku.


“Oh iya Buk, siap Buk,” ucap Pak Joko.


“Bawa mobil saya ya Pak,” kataku.


Kami pun berjalan ke garasi mobil.


Aku terus mengirim pesan pada Naufal dan meneleponnya, namun jawabannya sama, kosong.


Kami masuk ke dalam mobil, lalu mobil melaju kencang keluar dari Rumah.


“Buk, ini Rumah sakitnya dimana?” tanya Pak Joko.


“Di kota asal saya Pak, ini,” jawabku sambil menyerahkan


ponselku sebagai GPS.


Aku menangis terus di dalam mobil.


“Maaf Buk, apakah Bapak sudah tau jika Ibuk keluar semalam


ini??” tanya Pak Joko.


“Saya telfon, saya WA tapi nggak ada jawaban Pak, mungkin


Mas Naufal sibuk,” jawabku.


Abay hanya bisa diam di sampingku, karena baru kali ini dia


melihatku se panik dan menangis parah seperti ini.


Sepanjang perjalanan, aku terus berdo’a untuk Papaku, aku


sangat trauma, jadi ingat semua kejadian dulu yang hampir nyawa Papa tak bisa tertolong, meskipun Mama dan Papa memintaku untuk melupakan kejadian itu, tapi aku tidak bisa melupakannya, sekarang aku benar-benar ingat, terbayang di depan mataku bagaimana saat ayah kesakitan dan terbaring tak berdaya di atas ranjang, sampai saat ini pun Mama dan Papa tidak pernah memberitahukan padaku bahwa Papa


sakit apa, karena jika aku tau jawabannya, pasti hidupku, hatiku, akan hancur, dan Mama tau itu, Mama tau bagaimana aku sangat mencintai Papaku, sangat dekat sekali dengan Papaku, jadi Mama tak ingin menyakitiku, meski terkadang


sebenarnya dengan aku menjadi Dokter ini aku tau apa yang pernah di alami Papa, aku ingin bilang sama mereka, tapi mereka ingin aku tak lagi membahasnya.


“Ya Allah, lindungi Papa, sembuhkan Papa, huhuhu,” doa ku


dalam hati.


“Berikanlah kesehatan dan kesembuhan untuk Papa hamba Ya


Allah, Aamiin,” ucapku dalam hati.


“Abay ngantuk, sini bobok di pangkuan Mama,” tuturku.


“Papa nggak angkat telfon dari Mama ya,” ucapnya.


“Mungkin Papa kamu sibuk Nak,” jawabku.


“Pasti nanti Papa kamu bales WA Mama kok,” ucapku.


Pak Joko melajukan mobilnya dengan sangat kencang karena aku juga ingin segera bertemu dengan Papa.


“Pak kalo macet kita lewat jalan tol aja ya Pak,” tuturku.


“Iya Buk,” jawabnya.


Untung saja jalanan nggak begitu ramai dan sama sekali tidak


terjebak macet.


.


.


.


Akhirnya tengah malam tepat, aku sampai di Rumah Sakit


dimana Papaku di rawat.


“Abay, Abay bangun Nak, udah sampai,” kataku sambil


mengelus-elus lengannya.


“Abay Sayang, bangun Nak,” kataku lagi.


Akhirnya Abay pun bangun.


Mobil telah terparkir, kami pun turun dari mobil.


“Pak, Bapak nggak ikut masuk?” tanyaku pada Pak Joko.


“Enggak Buk, saya di dalam mobil saja,” jawabnya.


“Kenapa Pak? Bapak ikut aja nggak papa,” kataku.


Akhirnya Pak Joko pun menuruti apa kataku, aku mencari-cari alamat kamar Papaku yang sudah dikirim Mama padaku.


Naufal juga tak kunjung membalas pesan WA ku.


Aku bertanya pada salah satu Suster disana.


“Sus, kamar ini dimana ya?” tanyaku sambil memberikan alamat kamar pada di dalam ponselku.


“Oh ini, Ibu naik saja ke lantai 8, nanti Ibu belok kiri lurus aja, disana pasti Ibu nemuin kamar ini,” jawab Suster dengan ramah.


“Makasih ya Sus,” kataku.


“Iya Bu sama-sama,” jawabnya.


“Pak kita ke lantai 8 ya,” ajakku.


“Iya Buk,” jawab Pak Joko.


Kami berjalan masuk ke dalam lift.


Teng tong…………


“Ini belok kiri terus lurus aja,” gumamku sambil menggandeng


Abay.


Aku dan Pak Joko membaca satu per satu nama kamar yang


tertulis disana, akhirmya aku menemukan kamar Papa.


“Pak, disini kamar Papa saya,” panggilku pada Pak Joko.


Aku pun segera masuk ke dalam kamar Papa.


“Assalamu’alaikum,” kataku sambil meneteskan air mata.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Johan yang masih belum tidur.


Aku melihat Papaku yang tidur pulas dengan memakai nebulizer.


“Kakak,” panggil Johan yang langsung memelukku.


Mamaku terbangun dan melihatku.


Aku terjatuh bersimpun di lutut Mamaku.


Aku menangis dengan kepalaku terpangku oleh Mamaku.


“Ma, Papa nggak sakit kayak dul…” kataku terpotong oleh


Mamaku.


“Huusst, jangan katakan itu Nak, Papa baik-baik saja, Papa


hanya kecapek an dan butuh istirahat cukup,” kata Mamaku.

__ADS_1


“Mama yakin Papa hanya kecapek an saja dengan nebulizer yang ada di hidung Papa,” kataku.


Mamaku hanya menganggukkan kepalaku dan mengangkatku untuk duduk di sampingnya.


“Ma, Gia sangat khawatir sama Papa, Gia nggak mau kejadian


dulu terulang lagi,” kataku dengan lirih.


“Gia, Mama sama Papa kan sudah minta sama Gia buat lupain


masalah itu, anggap saja itu tidak pernah terjadi Nak,” tutur Mamaku.


“Maafkan Gia Ma, Gia terus di hantui oleh hal itu Ma, Gi…”


kataku kembali terpotong oleh Mamaku.


Mama langsung memelukku, aku menangis di pundaknya, begitu


juga Mama yang menangis di pundakku.


“Papa kan sudah sembuh Nak, jadi nggak mungkin hal itu


terjadi lagi, kamu jangan bicarakan hal itu lagi ya,” tutur Mamaku sambil mengelus kepalaku.


Mama melepas pelukanku, lalu menghapus air mataku.


“Kamu sudah bilang sama Naufal kalo kamu kesini Nak?” tanya


Mamaku.


“Sudah Ma, Gia sudah telfon Mas Naufal, sudah WA juga tapi


belum di balas,” jawabku.


“Gia besok ambil cuti Ma, dan untuk besok Abay juga ijin aja


ke sekolahnya,” kataku.


“Ma, Gia duduk di samping Papa ya,” kataku.


Mamaku hanya menganggukkan kepalanya padaku.


Aku berpindah duduk di samping ranjang Papaku, aku menatap


keningnya, menatap kulitnya yang tampak keriput dan lelah.


Aku kembali menangis melihat seseorang yang paling kuat


bagiku, jatuh sakit di hadapanku.


Aku pun tertidur di samping Papaku.


.


.


.


.


.


Hingga ke esokan harinya.


Papa tak kunjung bangun.


Aku terbangun dengan kedua mata yang sangat berat karena


sembab.


Ku buka ponselku dan 55 panggilan tak terjawab dari Naufal.


“Aku segera kesana Sayang,” isi balasan pesan Naufal.


Aku menoleh ke belakang, hanya ada Abay dan Johan yang masih tertidur.


Mama yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampiriku.


“Ma, Mas Naufal masih di jalan mau kesini,” kataku.


“Kamu udah bilang sama Guru sekolah Abay kalo Abay hari ini


“Sudah Ma,” jawabku.


“Kamu mandi gih, Mama udah mandi, giliran Mama yang jagain


Papa,” tutur Mamaku.


“Kamu bawa baju ganti nggak?” tanya Mamaku.


"Enggak Ma," jawabku.


“Ya udah pake gamis Mama dulu, nanti biar di ambilin sama


Johan di Rumah,” ucap Mamaku.


“Pak Joko kemana Ma?” tanyaku.


“Tadi shubuh Pak Joko balik Nak, tadi pamitan sama Mama


waktu Mama selesai sholat sama Johan sama Abay, katanya di suruh Naufal balik, Pak Joko nggak berani bangunin kamu, Mama juga nggak berani bangunin kamu, karena kan kamu abis perjalanan jauh Nak,” jawab Mamaku.


“Tapi tadi Pak Joko udah makan kan Ma?” tanyaku lagi.


“Udah kok udah, “ jawab Mamaku.


“Ya udah Gia mandi ya Ma,” ucapku.


Aku pun segera mandi.


.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian setelah selesai aku mandi, aku membangunkan Abay dan Johan.


“Nak, mandi dulu ya,” tuturku.


“Kan Abay nggak bawa baju ganti Ma,” jawab Abay.


“Biar nanti di belikan Johan di depan Nak,” sahut Mamaku.


“Iya Kak, Johan juga mau pulang,” jawab Johan.


“Nanti sekalian bawakan baju untuk Kakak kamu ya,” perintah


Mamaku pada Johan.


“Iya Ma,” jawab Johan.


“Kamu nggak kerja?” tanyaku pada Johan.


“Ambil cuti Kak untuk Papa,” jawab anak laki-laki Papa.


“Abay tunggu sebentar ya Nak, Om Johan nggak lama kok, kan rumahnya deket dari sini,” ucapku sambil meraih kedua pipi Abay.


“Iya Ma,” jawab Abay.


Abay duduk di sebelah ruangan tidur Papa sambil menonton TV, aku kembali menemani Papaku.


“Ma, biar Gia yang nemenin Papa,” kataku.


Mamaku kembali menemani Abay, aku duduk kembali di samping


Papa.


“Pa, Papa kok belum bangun, disini ada Gia PA, Gia sayang


banget sama Papa, Papa pernah bilang kan sama Gia untuk tidak pernah membuat Gia menangis, Gia hanya ingin Papa bangun, Papa sembuh,” kataku sambil mengelus kening Papa dan menangis.


Tak lama kemudian, Dokter datang untuk memeriksa kondisi


Papaku.

__ADS_1


“Pagi,” sapa Dokter itu.


“Pagi Dok,” jawabku.


“Sebentar ya saya periksa Papanya dulu,” ucap Dokter itu.


“Iya Dok, silahkan,” jawabku.


Setelah memeriksa keadaan Papa, Dokter langsung menemui Mama dan tidak berbicara padaku.


Aku tidak menghiraukan mereka, yang aku tau aku harus


menemani Papa.


.


.


.


.


.


Tepat jam 10 pagi, Naufal datang, Papa membuka kedua


matanya.


“Assalamu’alaikum,” ucap salam Naufal.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Mama.


Aku hanya mendengar suara Naufal dan Mama yang mengajak


Naufal untuk masuk ke kamar Papa, saat kedua mata Papaku terbuka, aku langsung berdiri memeluknya.


“Papa…..” kataku sambil menangis.


Papa membalas pelukanku. Papa malah melepas nebulizer dan


tersenyum padaku.


“Papa…Papa kenapa baru bangun,” rengekku.


Aku melepas pelukan Papa, dan ku genggam tangannya, ku ciumi tangannya sambil aku menangis terisak-isak.


Aku hanya mampu melihat Papa dengan tangisanku, aku merasa senang campur dengan sedih.


Mama, Abay, Johan dan Naufal berjejer mengelilingi ranjang


Papa.


“Gia khawatir banget sama Papa, huhuhuhu,” kataku.


Papa ku hanya tertawa dan mengelus-elus kepalaku.


“Papa hanya kecapek an aja Nak,” jawab Papaku.


“Nggak mungkin Papa kecapek an aja, jangan bohong sama anak Papa ini, anak Papa ini kan Dokter,” kataku sedikit bercanda untuk menghibur Papa.


“Ini kan alasan Papa pengen banget jadiin anak Papa sebagai


seorang Dokter, biar bisa ngerawat Papa,” kataku.


“Hehehem, Nak memang Papa hanya kecapek an saja, karena Papa habis meeting dari luar negeri, terus sehari Papa nggak bisa tidur,” ucap Papaku.


“Tapi kenapa Papa baru bangun, huhuhu,” tanyaku terus.


“Papa kan sehari nggak tidur, jadi ini tadi sebagai gantinya,” jawab Papa.


“Huhuhuhu, Papa jangan bercanda sama Gia,” kataku.


“Papa jangan sakit-sakit lagi ya, Papa harus sehat, Papa


nggak boleh kecapek an, Papa kan selalu bilang sama Gia,  jangan pernah menyakiti hati seseorang apalagi sampai membuatnya menangis, Papa pernah bilang gitu sama Gia sama Johan, jadi Papa nggak boleh sakit biar Gia nggak nangis karena Papa, huhuhuhu,” Kataku.


“Sini sini Papa pengen peluk Gia,” ucap Papaku sambil memelukku.


Mamaku menoleh pada Naufal.


“Kamu jangan cemburu Nak, memang begitulah cara Gia


mencintai Papanya,” kata Mamaku lirih di sebelah Naufal.


“Gia, makan dulu Nak, dari pagi kan kamu belum makan, ini


juga suami kamu udah datang,” tutur Mamaku.


“Gia makan nanti aja ya Ma, Gia masih pengen sama Papa,”


jawabku.


“Ma, Johan mau ajak Abay keluar bentar ya,” ucap Abay.


“Iya Nak,” jawab Mamaku.


Mamaku dan Naufal pun meninggalkanku berdua dengan Papa


untuk duduk di ruang tamu minimalis yang ada di sebelah kamar Papaku.


“Fal, jangan pernah kamu cemburu dengan sikap istrimu pada


Papanya, dia sangat mencintai Papa nya lebih dari apapun, Dia sangat sedih jika mendengar Papa nya jatuh sakit, yah ini alasan Gia untuk ngotot meminta malam-malam datang kesini,” kata Mamaku pada Naufal sambil meneteskan air matanya.


“Iya Ma, Naufal tau, pertama kali Naufal datang ke rumah


Mama untuk melamar Gia, Naufal sudah tau Ma,” jawab Naufal.


“Jadi harap kamu maklumi ya Fal, dulu Gia pernah trauma saat


melihat nyawa Papanya yang hampir tidak tertolong, maka nya dia tadi bilang sama Papanya, ini alasan Papanya menjadikan Gia seorang Dokter, ya ini, biar Gia nanti yang merawat Papanya,” kata Mamaku.


“Huhuhuhu, Mama tidak pernah memberi jarak antara Gia dan


Papanya Fal, mereka sangat dekat dan sangat dekat, karena Papanya bisa jadi teman untuk Gia, meskipun banyak harap dan rahasia Gia yang di sembunyikan dari Papanya maupun Mama,” ucap Mamaku sambil mengusap air matanya dengan sehelai kertas tissue.


“Rahasia?? Benar selama ini dugaanku, Gia pandai


menyembunyikan rahasia dari siapapun termasuk Papa dan Mamanya,” gumam dalam hati Naufal.


“Pasti kamu paham Nak apa yang Mama katakan padamu,” kata Mamaku.


“Iya Ma,” jawab Naufal.


Aku pun memanggil Mama atas permintaan Papaku.


Aku berjalan menemui Mama yang sedang berbicara serius


dengan Naufal.


“Ma, Papa manggil Mama,” kataku.


Mama berdiri dan langsung masuk ke kamar Papaku.


Aku berdiri lemas dan berjalan mendekati Naufal, aku


menatapnya dengan air mata yang terus-menerus keluar dari kedua mataku.


Aku memeluk Naufal dengan erat, Naufal membalas pelukanku, aku menangis di pundak Naufal.


“Udah Sayang jangan nangis, Papa kan udah bangun,” tutur


Naufal sambil mengelusku.


Aku tak mampu menjawabnya, aku hanya menangis di pundaknya.


“Firasatku benar Gi, aku merasa bahwa kesedihan akan menemuimu, dan ternyata sekarang, hatiku ikut sakit saat melihatmu mennagis, kesedihan itu benar-benar datang Gi,” gumam dalam hati Naufal.


Naufal melepas pelukanku dan meraih kedua pipiku.


“Ternyata firasat tak baik yang aku rasakan selama ini


benar-benar terjadi Sayang,” ucapnya.


“Aku sangat sedih Mas, huhuhuhu aku sangat sedih, Papaku Mas Papaku,” rengekku.


"Sabar Sayang, sabar," tutur Naufal.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan komen, like dan vote yaaa hehee


__ADS_2