Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 180 (Dr. ABC)


__ADS_3

“Ini kan dia lagi,” kataku dalam mobil.


“Kenapa harus ketemu dia terus sih,” kataku yang kesal.


Tin tinnnn……..


Beberapa kali ku beri peringatan lewat klakson agar dia


minggir.


Tinnnn……


Dia tak kunjung menepi dan tetep berdiri melambaikan


tangannya di tengah jalan.


Ku tolehkan kepalaku ke belakang.


“Mana nggak ada yang lewat sama sekali lagi,” gerutuku.


“Huuufftt,”


Ubun-ubunku rasanya sudah panas, namun aku harus tetap


sabar, dan terpaksa ku hentikan mobilku untuk menolongnya.


Aku turun dari mobil dan Alvi kaget bahwa yang keluar dari


mobil adalah aku.


Aku menatap dia dengan raut wajahku yang sebenarnya marah.


“Gia,” ucapnya.


Aku berjalan mendekat padanya dengan memasang wajah jutekku.


“Ternyata kamu yang bawa mobil,” kata Naufal yang kaku tidak seperti saat kita bertemu dan bukit dan dia mengangguku.


“Iyaaaaaa..” jawabku.


Aku melihat-lihat motor yang dikendarainya sama persis saat


tadi Alvi berhenti di pinggiran jalan POM.


“Motornya kenapa??” tanyaku yang sebenarnya malas dengannya.


“Engg….nggg…..nggak, nggak papa kok,” jawabnya dengan


terbata-bata.


“Nggak papa gimana??? Terus ngapain cari tumpangan??”


tanyaku terus terang sambil mengangkat satu alisku agar terlihat semakin garang.


“Nggak jadi, kamu lanjutin aja jalannya, mau ke puncak kan,” tebaknya.


Aku semakin kesal dengannya karena sok sok an nggak mau ku tolong.


“Udah nggak usah kayak gitu, ini jalanan sepi, dan udah


malem, nggak mungkin lagi nemuin pengendara disini, siapa malem-malem gini mau ke puncak,” ucapku jutek.


“Cuman mogok aja kok, nanti juga montir nya dateng, udah aku calling,” kata Alvi.


Aku tetap menunggunya disana, karena merasa kasihan, dia


juga teman Naufal.


Aku berdiri bersandar di pintu luar mobil.


“Aku tungguin disini,” kataku singkat.


“Sampe montirnya dateng,” sambungku.


“Aku nggak enak sama Naufal nanti,” tepisnya dengan gugup.


Alvi semakin negeselin dan ingin semakin membuatku marah.


Dia sungguh berbeda, dia terlihat cool tidak seperti ingin menggangguku.


“Kalo montirnya kesini ngambil motor ini, ke atas nya


gimana?? Mau GoCar juga kasihan nanti sopirnya,” ucapku.


“Lagian ini kan aku nolongin temen suami aku,” ucapku.


Aku langsung membuka pintu dan masuk ke dalam mobil, Alvi masih jongkok membenahi mesin mobilnya.


Aku melihatnya dari dalam mobil. Dia sama sekali tidak berubah cara pakaian nya yang selalu memakai kaos oblong hitam atau nggak pake hoodie.


Seperempat menit kemudian, montir datang dan membawa langsung motor Alvi.


Sebenarnya aku sangat malas satu mobil sama Alvi, tapi gimana lagi. Aku sudah terlanjur menolongnya.


Alvi tidak berani masuk ke dalam mobil, melainkan dia malah


berdiri di depan mobil.


Aku keluar menyusulnya dan menyuruhnya untuk masuk.


“Masuk aja,” tuturku.


“Aku yang nyetir aja ya, udah malem juga,” kata Alvi.


“Nggak usah nggak papa, aku bisa,” jawabku cuek.


Aku langsung kembali masuk ke dalam mobil, Alvi duduk di


belakang, seperti aku adalah seorang sopir dan dia penumpangnya.


Untung saja dia pengertian, tanpa harus aku yang meminta,


karena aku juga takut, jika suamiku nanti cemburu.


Ku lajukan mobilku dengan pelan.


Dalam mobil, Alvi berbeda, tidak seabsurd saat di bukit,


melainkan dia hanya diam dan memperhatikan jalan di depan.


“Agghemm,” deheman Alvi.


“Eemmm……..kab…….kabar kamu gimana Gi???” tanya Alvi.


Deegggg......

__ADS_1


Akhirnya Alvi membuka obrolan denganku setelah suasana mati


hening.


“Emang sebelumnya kita pernah ketemu?? Kok nanya in kabar, kan aku nggak kenal siapa kamu, yang aku tau kamu temen baru Mas Naufal,” kataku sambil fokus menyetir.


“Kamu beneran sama sekali nggak ingat aku,” ucapnya.


“Aku kan udah bilang, aku…..nggak kenal siapa kamu, nggak


jelas banget, kan aku udah bilang berkali-kali, kamu salah orang, Gia teman kamu itu bukan aku, nama Gia banyak banget di sini,” ucapku dengan tegas.


“Aku gak mungkin salah orang, ini kamu, temen aku, kita lama sama-sama,” tepisnya.


Alvi semakin menjadi-jadi. Tapi aku tetap tidak memperdulikan omongannya.


“Udah lama nikah sama Naufal??” tanya Alvi.


“Udah,” jawabku singkat.


“Eemmmm…..Gi, nggak ingat cerita Layla Majnun ya,” kata


Alvi.


Aku tetap fokus menyetir dan tidak menggubris perkataan Alvi.


“Kalo cerita peniyihir yang mengutuk putri istana gimana??”


tanya nya lagi.


Deegggg….


Ingatan yang sudah ku kubur lama, perlahan muncul kembali dalam pikiranku hanya karena Alvi.


Aku semakin kesal dengannya yang terus membuat telingaku


panas, ku injak gas mobilku lagi agar melaju lebih cepat.


“Aku…udah bilang sama kamu, aku nggak kenal sama kamu!!


Jangan ngaco, dan jangan pernah bilang Layla, Majnun, siapa mereka?? Cerita apa?? Aku sama sekali nggak pernah denger cerita itu,” ucapku.


"Itu cerita kita Gi, itu kisah kita, apa karena aku menghilang lama, dan kamu jadi seperti sama aku," ucap Alvi.


“Aku Alvi Gi, kamu nggak mungkin nggak kenal sama aku, kita


sering sama-sama Gi, aku ingat Kakek kamu, dia yang selalu dongengin kita Gi, main sama kita,” kata Alvi.


Aku semakin kesal dan marah, namun aku tak tau, kenapa air


mataku keluar dengan sendirinya, memenuhi pelupuk mata.


“Aku tetangga sekaligus teman kecil kamu Gi, kalo kamu nggak


ingat lagi, aku teman SD kamu Gi, Alvi,” kata Alvi.


Alvi sepertinya sudah tau, jika aku semakin emosi dengan menambah kecepatan laju mobilku.


"Kamu nggak inget, kita selalu pulang sekolah sama-sama, beli baju kartun sama, padahal aku paling benci warna kuning, tapi gimana lagi?? Aku mau karena kamu, terus kamu nggak inget kita pernah main karambol sama Kakek kamu, terus kamu jatuh, kepala kamu kebentur, kamu nangis di pelukan Kakek kamu, aku tau semua tentang kamu Gi, aku tau," cerita Alvi menceritakan masa lalu kita dulu.


“Aku tau Papa kamu, Mama kamu, bahkan Mama kita temenan baik Gi, Apa kabar Papa kamu Gi??” tanya Alvi.


Ciiiitttttttt………..


Ku rem mendadak dan mobilku berhenti. Air mata menetes di


“Diam !!” ucapku.


“Kamu ngaco ya!! Aku, sama sekali nggak kenal sama kamu!!! Kamu nggak tau aku!!! Apalagi Papa sama Mama aku!!!” tegasku sambil menoleh padanya dengan bercucuran air mata.


Aku berkata dengan penuh emosi sambil menunjuk-nunjuknya.


Alvi merasa puas karena aku telah memarahinya.


“Kamu nangis??” tanya Alvi.


“Dan aku minta satu hal lagi sama kamu!!! Aku bukan teman kecil kamu!! Dan aku juga bukan Gia teman kamu!!!” kataku dengan tegas namun tetap menangis.


Aku kembali menghadap ke depan mobil.


“Gi, jangan gara-gara aku ninggalin kamu, dan kita beda,


kamu jadi lupa gini sama aku,” ucap Alvi.


“Aku tau kamu bohong, kamu bohong seolah-olah nggak


mengingat semua kenangan masa kecil kita, aku masih ingat semua nya Gi, masih. Dan aku juga tau kalo kamu masih ingat semua nya juga, aku ingat, kamu yang mengutukku jadi pria yang akan terus membuatmu menangis, aku ingat Gi, bahkan


sekarang, aku membuatmu menangis lagi, kamu tanya ke aku soal kata-kata yang sering di ucapkan Papa kamu, aku tau, karena aku, kamu dan Papa kamu saja yang tau kata itu Gi,” sambung Alvi.


“Cukup Al!!! Stop it!!!! huhuhu,” teriakku sambil menutupi kedua telingaku dengan tanganku.


"Kamu nggak perlu jelasin itu semua sama aku!!! Kamu.....nggak perlu memback up semuanya ke aku!!! Karena aku!!! Udah lupain semuanya," tegasku.


Alvi Bernardus Clement adalah teman masa kecilku sekaligus


tetangga di depan rumahku.


Kita memang sudah sangat lama bersama, mulai dari kita TK,


SD, sampai SMP kelas 7. Alvi anak dari Tante Tira dan Om Alvan. Mereka tetangga baik keluargaku. Suatu ketika, Alvi ninggalin aku, karena dia harus pindah ikut dengan Papanya. Dulu dia seringggggggg banget main ke rumahku, karena Mama kita temenan baik, dan juga pastinya kita sering main dengan Almarhum Kakekku. Hanya Alvi teman pria yang boleh bermain bersamaku, yah mungkin karena Mama kita temenan.


Aku pernah bilang sama Alvi saat untuk pertamakalinya dia membuatku menangis karena meninggalkanku bermain dengan teman satu gereja nya, “Alvi, ku kutuk kamu karena kamu telah membuatku menangis huhuhu,” itu kata saat aku masih kecil. Papa memberi kami nama Layla Majnun, karena kita nggak akan bisa sama-sama seperti kisah mereka, kita berbeda. Setelah Mama Alvi cerai dengan Papanya, semua berubah, Mama Alvi hilang tanpa kabar, dan Alvi di bawa oleh Papanya dan hilang tanpa kabar, sampai-sampai Papaku mencari-cari keberadaan mereka, namun mereka hilang.


Mungkin kenangan dengan Alvi, sangat berat buat aku lupain,


butuh waktu hampir 5 tahun. Alvi sangat sangat sangat baik, aku nggak perlu jadi orang lain ketika bersama Alvi, aku nggak perlu Mengalah, aku bisa marah, kesal, jahat, sedih, tidak


bungkam dengan semua hal yang sebenarnya aku ingin ucapin dan ingin di dengar, dengan Alvi, aku bisa menjadi diriku sendiri. Saat bersama dia, yah, aku bisa sebahagia itu.


Padahal aku tau, kita ngak akan bisa sama-sama selamanya, dan selama itu aku nahan agar aku tidak jatuh hati padanya, dengan seusia ku yang masih sangat kecil, aku belum


mengerti makna sebenarnya jatuh cinta itu wujudnya bagaimana dan apa, bahkan sampai aku kuliah pun, namun dengan Alvi,aku bisa lakuin apa saja yang aku mau tanpa rasa sungkan ataupun nggak enakan.


“Kamu manggil nama aku Gi, berarti kamu ingat semuanya, kamu bohong,” kata Alvi.


“Iya aku bohong!!! Aku ingat semuanya, kamu puas!!! Kamu jahat Al,” ucapku.


“Setelah bertahun-tahun, aku coba lupain semua itu, dengan


mudahnya kamu muncul di depan aku lagi dengan membawa semua kenangan kita, kamu jahat!!!" ucapku dengan terisak-isak lalu membuka mobilnya dan turun.


Alvi menyusulku turun, aku berjalan sambil menangis.


“Kamu jahat Al, kamu jahat,” kataku dalam hati.

__ADS_1


“Gi, masuk ke mobil, bahaya udah malem,” teriak Alvi yang


berjalan di belakangku.


“Aku nggak peduli,” kataku.


Alvi menarik lenganku.


“Nggak usah peduli sama aku,” bentakku.


“Oke oke….aku janji Gi, setelah ini aku gak bakal gangguin


kamu lagi Gi, tapi kamu masuk ke mobil,” rayu nya.


Langkah kaki ku terhenti mendengar hal itu.


“Kamu janji??” tanya ku sambil berbalik menghadapnya.


Alvi hanya menganggukkan kepalanya.


“Aku janji, kamu masuk ya,” tutur Alvi.


Akhirnya aku pun masuk ke dalam mobil, namun kali ini Alvi


yang menyetir.


Pandanganku kosong ke arah luar mobil.


“Aku mau nikah,” ucap Alvi.


 “Sama siapa?” tanyaku namun tidak melihatnya.


“Sama Gi,” jawabnya.


“Sama? Maksud kamu,” tanyaku.


“Aku selalu berdoa Gi, agar bisa menikahi perempuan seperti


teman masa kecilku, itu kamu. Dia nggak perlu jadi orang lain saat sama aku, sama seperti kamu dulu, dulu mungkin karena aku masih polos Gi, yang aku rasain cuman nyaman aja kalo sama kamu, ngebayangin bisa nikah sama kamu, hehem dan sekarang calon aku, dia baik Gi, sama sepertimu, dia muslim Gi, berhijab, jauh sebelum aku kenal sama dia, aku udah jadi mualaf Gi, biar bisa jadi imam yang baik seperti Papa kamu, hehem, tapi kamu udah nikah, aku sempat denger kabar kamu dari Susi, tapi dia nggak ngasih tau kalo suami kamu adalah Dokter Naufal, lama aku berusaha lupain kamu, tapi syukurlah aku bisa lupain kamu, dan malahan akan menikah dengan wanita yang sama persis sifatnya seperti kamu,” jawab Alvi.


“Aku belum cinta Gi sama dia, tapi aku udah berani nikahin


dia, heheem, karena aku nggak mau lama-lama terpuruk dan kalah dengan kenangan kita,” sambung Alvi.


“Belajar buat cinta ke dia seperti kamu belajar buat cinta


islam,” kataku.


"Hehehm," senyum Alvi.


“Aku bahagia Gi, kamu jatuh ke tangan yang benar, apalagi


suami kamu orang besar,” ucap Alvi.


Alvi bercerita-cerita padaku sepanjang jalan.


“Kamu nggak dimarahin Naufal karena sama aku??” tanya Alvi.


“Nanti aku bisa jelasin ke Mas Naufal kok,” jawabku jutek.


“Aku aja yang jelasin,” kata Alvi.


“Udah nggak usah, aku aja,” ucapku singkat dan kesal.


“Kamu masih tetep seperti dulu ya Gi, masih sama juteknya


kalo sama aku, tapi terlihat teduh jika di depan orang lain ataupun keluarga kamu sendiri,” kata Alvi.


“Udah deh, nggak usah bahas masa lalu,” cetusku.


Alvi malah tersenyum padaku dan melirikku dari kaca, dia


menceritakan semua nya padaku, alasan dia hilang dan pergi bersama Papanya, dan dia juga menceritakan Mamanya.


Aku berpura-pura seolah-olah tidak mendengar ceritanya.


.


.


.


.


.


Sampainya di puncak.


Aku langsung keluar dari mobil untuk meninggalkan Alvi dan


segera mencari Naufal.


Dan ternya Naufal belum juga selesai.


Aku menunggunya di kursi yang semalam kami berdua duduki,


Alvi sepertinya sudah tidak mengawasiku, dia menepati janjinya untuk tidak menggangguku lagi.


“Iiiiisssshhh, andai aja Papa sama Mama tau, kalo aku ketemu


sama Alvi, gimana ya mereka??” gerutuku dalam hati.


“Pasti mereka seneng banget, apalagi dengar Alvi yang


sekarang,” gumamku.


“Kenapa dia harus muncul lagi sih??? Aku sangat benci


padanya, aku tidak ingin bertemu lagi dengannya setelah bertahun-tahun dia menyiksaku,” gerutuku lagi dalam hati.


Tajk lama kemudian, Naufal menepuk pundakku dari belakang.


“Sayang,” ucapnya sambil duduk di sampingku dengan membawa sebuah roti.


“Eh kamu,” ucapku.


“Iya aku?? Mau siapa lagi, Hehehm, kenapa kaget ya,” kata


Naufal.


Aku hanya tersenyum padanya.


Bersambung......


jangan lupa like, komen dan vote nya yaaa😁🖤🙏

__ADS_1


hehehehe makasih smeuanyaaa😁


__ADS_2