
***(di Rumah)
Tak terasa kami sampai di rumah larut malam.
"Assalamu'alaikum," salamku sambil membuka pintu rumah.
Tidak ada yang menjawab salamku.
"Kayaknya udah tidur semua Sayang," ucap Naufal di belakangku.
"Iya mungkin Mas, ini kan emang udah malem," kataku.
Kami menaiki anak tunggu menuju ke kamar.
***(di Kamar)
Ku letakkan tasku, lalu aku masuk ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.
Setelah selesai aku segera mengganti gamisku dengan baju tidur.
"Mas, cuci muka gih," kataku.
Naufal langsung masuk ke kamar mandi, aku mengganti sprei dengan bernuansa pink dan bercorak es krim.
Naufal keluar dari kamar mandi.
"Mas, aku ganti spreinya sama yang ini ya," kataku dengan gugup.
"Kamu nggak marah kan?" tanyaku.
"Kenapa marah? Gak papa lah Sayang, kamu takut aku marah cuman gara-gara spreinya warna pink," tebak Naufal.
"Iii.....iya Mas, aku pikir nanti kamu komplain kek dulu," kataku sambil menggaruk-garuk rambutku.
"Hahaha, enggak Sayang, gak papa," ucap Naufal.
"Tapi kalo kamu pengen ganti sesuai apa yang kamu minta juga gak papa kok Mas, entah itu sprei Chelsea tim sepak bola kesukaan kamu, atau batman juga gak papa Mas, hehehe, adil kan," kataku.
Naufal terbahak-bahak mendengarkanku.
"hahahah, ya ampun Sayang, nggak segitunya juga kali kamu, ya enggak lah Sayang, memang di almari aku ada sprei karakter kesukaan aku, tapi kan gak pernah aku pake, cuman aku pajang aja di almari," kata Naufal menertawakan ku.
"Oiya, kamu kan suka warna gelap polos ya Mas, eeemmm.....Kali aja kamu pengen, kamu kan beda sama aku, aku yang kekanak-kanakan, kurang bisa mikir dewasa, keras kepala, manja, ngambek an, suka ma..," kataku terhenti oleh bungkaman tangan Naufal.
"Hust hust, ngomong apa sih kamu Sayang, aku tidak memperdulikan sifatmu yang seperti itu," kata Naufal.
"Masak iya? Gak bohong?" godaku pada Naufal.
"Ah kamu Sayang, nggak serius banget kalo di ajak ngomong serius," kata Naufal.
"Hehehe, kamu kan biasanya juga gitu Mas, maaf maaf," kataku.
"Kan sekarang udah enggak Sayang, malah giliran kamu," ucap Naufal sambil mengangkat daguku.
"Ketularan kamu tau Mas," tepis ku.
"Yeeee enak aja, mana bisa nular Sayang," kata Naufal.
Naufal menggelitiki pinggangku.
Kami tertawa terbahak-bahak.
"Aduh aduh, udah Mas geli," kataku.
Naufal menghentikam gelitikannya.
"Udah sana kamu ganti baju," perintahku.
Aku merebahkan tubuhku lalu menarik selimut, sepertinya aku sangat capek hari ini.
Setelah Naufal ganti baju, dan dia mematikan lampu di kamar, segera ia menyusulku untuk merebahkan tubuhnya.
Dia mendekat padaku.
"Mas, agak kesana dong, kan tempatmu masih banyak," kataku.
"Biarin gini lah Gi, kenapa sih?" ucap Naufal.
Ku dorong tubuhnya tapi tenagaku tak cukup kuat untuk mendorongnya.
"Mas, ayolah, nanti aku jatuh gimana?" keluhku.
"Kamu sih, tidur mepet pinggir mulu," kata Naufal sambil menggeser tubuhnya.
"Gini dong, geser," kataku.
"Oiya tadi syarat kedua nya apa Mas? Kamu belum bilang ke aku," tanyaku sambil menoleh menatapnya.
"Ya gak sekarang lah Sayang, nanti aja," jawab Naufal.
"Kan tadi kamu bilangnya nanti, nantinya kapan Mas?" tanyaku lagi.
"Hahahah, kamu kok pengen tau banget sih Sayang," kata Naufal.
"Ya udah kalo gak ada syarat keduanya enak di aku dong, weekk," ucapku.
"Yeleh kata siapa? Pasti ada dong, tunggu aja," ancam Naufal.
"Hmmm ya udalah Mas, tidur aja, ngantuk," kataku.
"Kamu capek ya Sayang?" tanya Naufal.
"Enggak, aku nggak capek," kataku terpaksa berbohong.
"Aku tau kamu capek, maaf ya, gara-gara aku ajak kamu wara wiri tadi," kata Naufal sambil mengelus keningku.
"Enggak Mas, gak papa, aku gak capek, eemm....besok berarti kamu libur dong," kataku.
"Ya tetep masuk Sayang, tapi cuman bentaran aja," jawabnya.
"Ya udah besok kita pake mobil sendiri-sendiri aja kali ya Mas, biar nanti kamu nggak nungguin aku, jadi kamu bisa istirahat di rumah meskipun cuman bentar," tuturku.
"Enggak Sayang, aku nunggu kamu aja, gak boleh saling ninggalin," tutur Naufal ganti.
"Gak papa Mas, aku nyetir sendiri aja," kataku.
"Enggak Sayang aku nggak setuju sama ide kamu, udah ah biarin kita sama-sama terus," ucap Naufal sambil tersenyum menyeringai padaku.
"Hmmm ya udah kalo emang itu mau kamu, besok pagi-pagi sekali, aku siapain barang-barang kamu yang mau dibawa kesana," kataku.
__ADS_1
Naufal mendaratkan ciumannya pada keningku.
"Makasih Sayang," kata Naufal.
"Emang udah kewajiban aku jadi istri kamu Mas," ucapku sambil meraih tangannya lalu mencium tangannya.
"Eh Mas tadi temen-temen kamu padahal ada yang udah punya istri loh, tapi masih aja lirik-lirik, jangan-jangan kamu juga gitu hayo," tebakku.
"Kamu apa-apaan Sayang? Ya nggak lah, sifat tiap orang itu beda-beda, kamu gak bisa nyamain aku sama mereka, ya emang ada sih temen aku yang kek gitu, tapi aku enggak," ucap pembelaan Naufal.
"Kamu jangan gitu ya, aku bakalan sedih banget kalo kamu kek gitu," rengekku sambil menyelipkan tanganku di pinggang Naufal.
"Gak bakalan, satu aja cukup Gi, ngapain nambah," tepis Naufal.
"Kamu sekarang tidur Sayang, besok kerja, kamu ini tidurnya malem-malem mulu, kebiasaan ya," kata Naufal.
"Belum ngantuk Mas, kan dulu emang begadang buat nyelesaiin laporan waktu kuliah," kataku.
"Kamu dulu lulusan terbaik ya Mas?" tanyaku.
"Tau dari mana kamu?" tanya Naufal balik.
"Aku nanya, pernah dulu waktu aku mau dijodohin sama kamu kayaknya denger Papa sama Mama aku lagi ngomongin soal pendidikan kamu, bener gak sih? Jangan-jangan bukan kamu," kataku.
"Iya bener kamu Sayang," ucap Naufal.
"Wiiddiih," kataku sambil tepuk tangan kegirangan sendiri.
"Kamu kenapa?" tanya Naufal yang salah tingkah.
"Takut aku deket sama orang pinter, hiii," ejekku sambil mengambil kembali tanganku yang ku selipkan.
Namun Naufal meraihnya kembali dan tetap di lingkarkan di pinggangnya.
"Kenapa kamu dulu nggak mencoba nyari cewek buat kamu kenalin sama Papa kamu?" tanyaku.
"Sayang kan kamu tau sendiri, aku semenjak gak bisa lupain Vela, aku udah gak mau ngurusin soal gitu-gitu an lagi, yang aku tau ya belajar, belajar dan belajar, eh Papaku malah ngejodohin, ya bagus dong aku gak perlu susah payah lagi buat nyari-nyari, lagian baik buruknya pasangan kita, jika itu pilihan orang tua, pasti akan baik-baik saja kok Sayang, jadi aku gak mau nolak," tutur Naufal.
"Iya sih Mas, huuummm......Dulu aja aku cuman bisa bayangin kamu, dan aku juga belum pernah mikir kalo kamu bakalan sama aku, ya pasti aku tau lah, tipe cewek kamu bukan aku, meskipun aku belum mengenalmu, tapi kan aku cukup tahu diri ya, pikirku juga gitu mana mungkin dia suka sama aku, pasti dia sukanya sama cewek yang mandiri, cerdas, akhlak baik, gitu kan??? Terus pekerja keras, jadi ya sudahlah," kataku menceritakan masa-masa koas dulu.
"Kan jodohnya udah sama kamu, aku kan sama kamu sekarang, tidur Sayang," tuturnya.
"Huuumm,"
Naufal mendekap tubuhku, dan kami pun tertidur.
Waktu tengah malam.
Tergambar disana Naufal dan aku sedang ada di bandara, sepertinya aku mimpi buruk lagi.
Naufal tengah pergi meninggalkan ku dengan mengendarai pesawat, aku mengantarkannya ke bandara.
"Sayang, kamu baik-baik saja ya disini," ucap Naufal sambil mengecup keningku lama.
Aku menangis sambil menggenggam tangannya yang ku tempelkan pada pipiku.
"Kamu kenapa sedih? Jangan sedih Sayang, aku akan kembali untukmu," tutur Naufal lagi.
Aku hanya diam disana, aku hanya bisa menangis, karena baru kali ini Naufal meninggalkanku jauh.
Setelah aku menyalami tangannya dan dia mengecup keningku kembali.
Dia pergi dengan membawa kopernya.
Aku hanya bisa melihatnya dari kaca bandara.
Aku menunggu sampai pesawatnya lepas landas.
Setelah pesawat lepas landas aku pulang dengan diantarkan Pak Joko.
Sesampainya di rumah, suasana berbeda, menjadi hening dan sepi.
Dari awal Naufal meninggalkanku sampai sekarang aku di rumah, perasaanku sama sekali tidak enak, dan rasanya??? Ingin sekali menangis, hatiku pun turut sedih.
Beberapa jam kemudian, Pak Joko menghampiriku.
Tok.....tok....tok.
"Bu," panggil Pak Joko.
Aku keluar dan menemuinya di luar kamar.
"Iya Pak? Ada apa?" tanyaku sambil mengusap air mataku.
"Saya dapat kabar dari pihak Rumah Sakit Bu, katanya sejam yang lalu pesawat yang di naiki oleh tim yang dikirim dari Rumah Sakit jatuh ke laut Bu," ucap Pak Joko yang sangat gugup.
Degg.......Hatiku hancur mendengar kabar itu.
"Astagfirullah Mas, kenapa kamu ninggalin aku," teriakku sambil menangis.
Aku tidak menyangka bahwa hal ini benar terjadi.
Aku menangis sejadi-jadinya, aku tidak bisa menyangga tubuhku sendiri, aku merosot ke tepian pintu.
Aku benar-benar hancur dan jatuh, suami yang sangat aku cintai pergi meninggalkanku.
Pikiranku hanya Naufal sudah meninggal.
Aku benar-benar stres saat itu.
Ku paksa untuk ku buka kedua mataku dari mimpi buruk itu.
"Aaaaaaggghh," suara nafasku.
Nafasku tersengal-sengal karena mimpi itu.
Aku menatap Naufal, aku menciumnya.
Aku menangis sambil memeluknya.
"Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa sama Naufal, aku tidak ingin kehilangan dia, kenapa mimpi itu sama persis dengan kondisi saat ini saat Naufal akan meninggalkanku," gumamku dalam hati sambil menangis.
Sepertinya Naufal mendengarkan isak tangisku, sehingga dia terganggu lalu terbangun.
Dia tergagap untuk bangun karena melihatku menangis.
"Sayang....," ucap Naufal dengan panik.
"Kamu kenapa? Kamu mimpi buruk lagi?" tanyanya.
__ADS_1
Aku hanya menganggukkan kepalaku.
Naufal mencoba menenangkan ku sambil mengelus lenganku.
"Cup cup cup, kamu minum ya," tuturnya sambil mengambilkan segelas air di mejanya.
Segera ku teguk segelas air yang di beri Naufal.
"Kamu mimpi apa Sayang?" tanyanya.
Aku diam dan tak menjawabnya.
"Aku tidak mungkin menceritakan padanya, aku tidak ingin dia cemas padaku," gumamku dalam hati.
"Kalo kamu belum bisa cerita, gak papa Sayang, sini sini," kata Naufal sambil memelukku kembali.
Naufal mengelus setiap helai rambutku, aku semakin nyaman berada di sampingnya.
"Bagaimana jika itu benar-benar terjadi sama kamu, aku gak mau Fal, aku gak mau kamu tinggal sendirian, kita harus sama-sama bagaimanapun dan dimana pun," ucap dalam hatiku sambil meremas kuat lengan Naufal.
Naufal melihat sikapku yang sepertinya ketakutan dengan meremas lengannya kuat-kuat.
"Kamu sebenarnya mimpi apa Gi," dalam hati Naufal bertanya-tanya.
Naufal semakin memelukku kuat dan terus mengelus rambutku.
"Tidur lagi ya Sayang, tenang ada aku disini ya," tuturnya.
Aku kembali terlelap dalam tidurku.
Alarm dari ponselku berbunyi.
Ku buka mataku yang sungguh berat ini karena tangisan tengah malam.
Ku tarik tanganku pelan-pelan yang terselip di antara tangan Naufal.
Aku tidak langsung turun ke dapur, aku mengambil koper dan berjalan menuju ruang ganti baju.
Ku buka koper itu, dan memilihkan baju untuk Naufal yang akan dibawanya kesana.
Kembali ku teteskan air mataku, rasanya aku tak ikhlas untuk melepaskan dia pergi walaupun itu tuntunan dari pekerjaannya.
"Huuuufffttt,"
Ku buka setiap almari kaca yang berjejer rapi di ruang itu, ku pilih mulai dari sepatu, dasi, jas, dan kemeja untuknya.
Setelah selesai, aku mengambil kerudung dan segera aku pakai.
Aku keluar dari kamar dan berjalan menuruni anak tangga untuk menuju dapur.
***(di Dapur)
Aku datang dengan raut wajah yang tidak menyenangkan.
"Pagi Mbak," sapa Bi Sarah.
"Eehemm, pagi Bi," jawabku.
Bi Sarah dengan seksama melihatku, apalagi mataku dan hidung merahku.
"Mbak Gia flu ya," tebak Bi Sarah.
"Oh ini Bi, iii......iya Gia flu Bi," jawabku terpaksa berbohong.
"Pantesan mata sama hidung Mbak Gia merah," kata Bi Sarah.
"Ini Mbak, Bibi udah cuci semua sayurnya," kata Bi Sarah sambil meletakkan sayurnya di meja.
"Makasih ya Bi," kataku.
Segera aku iris kecil-kecil sayur itu, dari wortel sampai kubis.
"Aaawww," teriakku.
"Adduuhhhh," keluhku karena ibu jariku tersayat sedikit oleh pisau atas ulahku sendiri yang sedari tadi bengong.
Bi Sarah yang mendengarkan teriakanku segera menghampiriku.
"Ada apa Mbak?" tanya Bi Sarah yang melihat jariku berdarah.
"Astagfirullah, Mbak Gia, bentar sini Bibi bersihin lukanya," ucap Bi Sarah.
"Enggak Bi, nggak usah, Gia minta tolong Bibi lanjutin motong sayurnya aja, Gia mau ngobatin ini dulu bentar," kataku.
Aku berjalan ke Ruang Keluarga dan mengambil kotak obat.
Ku bersihkan lukaku, dan segera ku tutup dengan sedikit kasa dan handsaplast.
"Apa ini pertanda buruk ya?" dalam hati aku bertanya-tanya.
"Ya Allah, apa yang sebenarnya akan terjadi,"
Setelah ku bersihkan luka dan sudah ku tutup.
Aku kembali ke dapur.
"Sudah Mbak Gia, biar Bibi yang masak," tutur Bi Sarah.
"Gak papa Bi, Gia masih bisa kok," tepisku.
Setelah semua sayur sudah terpotong kecil-kecil, ku nyalakan kompor, dan menumis bumbu.
Setelah bumbu sudah mengeluarkan baunya yang sungguh sedap, aku mengambil satu mangkuk sayur yang sudah terpotong.
Pyyaaarrrrrr.......
Tak sengaja aku menjenggol sebuah gelas yang ada dis sebelah mangkuk sayur tersebut.
"Astagfirullah," ucapku kaget.
Tanganku gemetar, aku menepis dan menyimpan kedua tanganku.
Bi Sarah juga kaget.
"Biarin Mbak, biar Bibi yang beresin," tutur Bi Sarah.
Memang sedari awal aku sudah tidak berkonsentrasi, aku hanya memikirkan Naufal.
Bersambungg.........
__ADS_1
😁🖤Tunggu eps selanjutnya.