
Pak Joko dan Abay sudah menungguku di depan Lobi.
Aku dan Naufal berjalan menghampiri mereka.
***(Di Depan Lobi)
Abay langsung menggandeng tangan Papnya.
“Ayo Pa, Papa ikut kan??” tanya Abay.
“Abayyyy……..maafin Papa, Papa nggak bisa ikut kamu sama
Mama,” jawab Naufal.
Abay langsung melepas tangan dari Papanya.
“Yaaah Papa nggak ikut, Papa sibuk lagi ya pasti,” ucap Abay
yang sepertinya sedikit kecewa pada Papanya.
Aku mencoba merayu Abay.
“Abay….Papa kan kerja buat kita, jadi Abay nggak boleh
kecewa sama Papa, Papa udah usahain buat bisa ikut kita kok, tapi kan tetep nggak bisa, tadi Papa juga bilang, kalo seandainya kita nginap disana, pasti Papa nyusul, tapi kan kita nggak nginap Nak,” tuturku.
“Eeem, ya udah Ma, Abay sama Mama aja nggak papa kok,” ucap Abay.
“Maafin Papa ya Nak,” ucap Naufal.
Abay hanya menyunggingkan pipinya pada Naufal.
“Udah nggak papa, kan ada Mama,” ucapku.
“Salim dulu sama Papa,” sambungku.
Abay pun langsung menyalami tangan Papanya.
“Mas, aku tinggal dulu ya, nanti pasti pulang ku malam banget,” pamitku.
“Iya Sayang,” jawab Naufal.
Aku pun juga menyalami tangan Naufal.
“Pak, bawa mobilnya pelan-pelan ya, nggak usah ngebut,
soalnya yang dibawa berharga Pak,” ucap Naufal pada Pak Joko.
“Heheheh, beres Pak,” jawab Pak Joko sambil mengacungkan
jempol tangan nya pada Naufal.
“Heheheh, Mas Naufal bisa aja, ada Abay loh,” kataku.
“Hehehe, apa sih Sayang, emang berharga banget kok,” kata
Naufal.
“Udah ya Mas, Assalamu’alaikum,” salamku.
“Iya Sayang, wa’alaikumsalam,” jawab Naufal.
Aku dan Abay pun masuk ke dalam mobil.
Mobil pun melaju menuju kota asalku.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di perjalanan, aku terus-menerus merayu Abay yang terlihat
sedih karena Papa nya nggak ikut.
“Kasihan Abay,” gumamku dalam hati.
“Abayyyy, kenapa??? Masih sedih ya??? Gara-gara Papa nggak ikut??" tanyaku.
Abay hanya menggelengkan kepalanya padaku.
“Terus, kenapa Abay cemberut gitu??” tanyaku.
“Abay nggak papa Ma, hehehe,” jawab Abay.
“Abayyyy…..nggak boleh loh bohong sama Mama,” tuturku.
Aku tau sifat Abay ini seperti aku, suka memendam dan tidak
ingin mengutarakan.
Tapi aku terus mencoba merayu nya agar dia mau bercerita
padaku.
“Abaayyyy, ayo coba cerita sama Mama, kamu nggak boleh gitu, harus di omongin ke Mama,” tuturku.
“Kan kata Mama, Papa ngelakuin semua ini buat kita Ma, jadi
wajar kok Papa nggak bisa pergi sama kita,” ucap Abay.
Aku memberikan senyumku padanya.
“Abay, memang Papa kamu sangat sangat sibuk, tapi kamu nggak boleh berkecil hati, Papa kamu udah janji kok, nanti bakalan ganti waktu-waktu yang tersita, Papa bilang gitu ke Mama,” tutur Abay.
“Abay kasihan sama Mama, Mama selalu sendirian,” ujar Abay
yang akhirnya mau terbuka padaku.
“Abay tau banget apa yang aku rasain tanpa aku harus bicara
sama dia,” gumamku dalam hati.
“Masya’Allah Nak,” ucapku dalam hati.
“Enggak, Mama nggak sendiri kok, kan ada kamu,” ucapku
sambil mengelus kepala Abay.
“Apa Mama dulu sebelum ada Abay, Papa juga sering sibuk
kayak gini ya Ma,” tebak Abay.
“Enggak, Papa kamu malah selalu ada buat Mama, sekarang juga selalu ada, tapi kan kalo untuk sekarang Papa kamu ada bisnis juga banyak, jadi ya konsekuensi nya harus seperti ini, kita nggak boleh buat tumbang Papa, malahan kita harus semangatin Papa,” tuturku.
“Yaaaah meskipun aku juga merasa agak kesepian, tapi Abay
nggak boleh ngerasa kayak aku,” gerutuku dalam hati.
“Abay mau makan apa ini??” tanyaku.
“Pak, kita cari makan dulu ya, biar nanti Bapak juga bisa
makan,” ucapku.
“Saya sudah makan tadi Buk,” jawab Pak Joko.
“Nggak papa Pak, makan lagi, hehehe, kan mau perjalanan jauh Pak,” ucapku.
“Nanti kalo ada M** berhenti aja ya Pak, kita beli kesana
aja,” ujarku.
“Baik Buk,” jawab Pak Joko.
“Kita ke M** aja ya Nak,” kataku.
“Iya Ma,” jawab Abay yang penurut.
.
.
.
.
.
Mobil kami berhenti di sebuah tempat makan yang sudah sangat mendunia dan pastinya semua orang tau, nggak ada yang nggak tau.
Kami memutuskan untuk tidak makan disana, karena akan
memakan waktu kami, apalagi ini sudah mau menjelang magrib.
.
.
.
.
.
.
Kami melanjutkan perjalanan lagi menuju kota asalku sambil
menikmati makanan yang kami beli tadi.
“Pak, nanti makanan nya harus dimakan loh ya, hehehe,”
ucapku.
“Iya Buk, pasti nanti saya makan, kalo sekarang saya masih
kenyang banget Buk, tadi makan desert sama rawon nya Bi Sarah,” jawab Pak Joko.
“Enak nggak Pak desertnya?? Bapak suka??” tanyaku.
“Hehehem enak Mbak, enak, itu makanan orang jaman gaul ini
ya Mbak???” ucap Pak Joko.
“Hehehem, Bapak…..Bapak……bisa di bilang gitu sih Pak,”
jawabku.
Adzan magrib pun berkumandang dari ponselku.
“Allahuakbar………Allahuakbar…..”
“Udah magrib ya,” kataku.
__ADS_1
“Pak cari mushola dulu ya,” ucapku.
“Baik Buk,” jawab Pak Joko.
Mobil berhenti di sebuah Masjid besar.
“Abay, turun dulu, sholat,” tuturku.
Kami semua turun dari untuk melaksanakan sholat magrib
berjama’ah.
.
.
.
.
.
Setelah sholat, saat aku sedang memakai kaos kaki ku, ada
seorang Ibu-Ibu mengajak ku berbicara.
“Mau kemana Mbak??” tanya Ibu itu.
“Mau ke Rumah orang tua saya Buk,” jawabku.
“Sendiri??” tanya nya.
“Sama sopir dan anak saya Buk,” jawabku.
“Eeemmm, dari mana Mbak??” tanya Ibu itu lagi.
“Dari kota *******” jawabku.
“Wah jauh ya Mbak,” kata Ibu itu.
“Ya udah saya duluan ya Mbak,” ucap Ibu itu yang sudah di
tunggu suaminya.
Aku melihatnya berjalan masuk kemobil bersama suami dan
anaknya.
Aku tersenyum melihat mereka.
“Mungkin, untuk sekarang, aku belum bisa seperti mereka,
tapi Mas Nafal tetap yang terbaik, dia sudah memeberikan semua hidupnya pada aku dan Abay, kesibukan Mas Naufal tidak akan bisa mengalahkan rasa sayang, cinta, peduli ku padanya,” gumamku dalam hati.
Abay menghampiriku dan mengajakku untuk segera masuk ke
mobil.
“Ma, ayo,” ucapnya.
“Bentar Nak, biar Pak Joko makan dulu,” kataku.
Aku sengaja membiarkan agar Pak Joko bisa menikmari makanan nya terlebih dahulu, karena berasa tidak enak jika aku ada di dalam mobil.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, Pak Joko memanggil kami untuk
melanjutkan perjalanan yang lumayan jauh ini.
Mobil pun melaju kembali untuk menuju Rumah Sakit tempat
Papaku di rawat disana.
“Mbak, memangnya, Papa nya Ibuk sakit apa??” tanya Pak Joko.
“Papa hanya kecapek an aja kok Pak,” jawabku sama persis
seperti jawaban Mama padaku.
“Do’a in Papa saya ya Pak, biar bisa segera pulang,” sambungku.
“Pasti Mbak, pasti saya do’a in,” jawab Pak Joko.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah kami emnghabiskan beberapa jam di perjalanan,
akhirnya kami pun sampai di Rumah Sakit dimana Papa dirawat.
mencari tempat untuk memarkirkan mobil kami.
Tut…..tut……tut…..
Aku menelepon Johan agar menjemputku di Lobi.
“Assalamu’alaikum Kak,” salam Johan.
“Wa’alaikumsalam Dek,” jawabku.
“Dek, KAkak udah di Lobi, kamu jemput ya,” kataku.
“Iya KAk, tunggu ya, Johan langsung kesana,” jawabnya.
Tak lama kemudian, Johan berhasil menemukan ku yang sedang duduk dengan Abay di sekitaran Lobi.
“Kak,” panggil Johan dan langsung menyalami serta memberikan pelukan hangat padaku.
“Mas Naufal mana Kak??” tanya Johan.
“Mas Naufal nggak ikut dek, sekarang yang penting anterin
Kakak ke kamar Papa,” kataku.
“Ya udah, kita ke lantai 7 ini Kak,” ucap Johan.
Abay bergandengan dengan Johan, sedangkan aku berjalan
mengikutinya dari belakang.
Teng tong……..pintu lift terbuka.
“Kak, Kakak sama siapa?? Nyetir sendiri??” tanya Johan.
“Tadi sama sopirnya Mas Naufal, tapi kan orangnya masih cari
tempat parkir, jadi tadi Bapaknya nyuruh Kakak buat masuk duluan soalnya kasihan pengen segera ketemu Papa katanya,” jawabku.
Teng tong……kami tiba di lantai 7.
“Kesini Kak,” ucap Johan.
Ada rasa sedih dan gembira, saat aku hampir saja mendekat ke kamar Papaku.
Dan tibalah tepat di depan kamar Papaku.
Gleeekkk……
“Assalamu’aliakum,” ucap Salamku.
Mamaku langsung menoleh padaku.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Mamaku.
“Mama,” kataku langsung memeluk dan menyalami nya.
“Huusst, Papa kamu lagi tidur Nak, jangan keras-keras ya,
soalnya Papa kamu baru bisa tidur,” ucap Mamaku dengan lirih.
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja.
“Gia boleh lihat Papa,” kataku dengan lirih.
“Boleh Nak, tapi jangan sampe Papa bangun ya,” tutur Mamaku.
“Iya Ma,” jawabku.
Aku melangkah ke tempat tidur Papaku.
Aku melihat disana Papaku di pasang oleh beberapa alat yang
tertancap di tubuhnya, saat itu juga aku semakin yakin, bahwa Papa ku sedang tidak baik-baik saja dan tidak hanya kecapek an saja.
“Ya Allah, sakit apa sebenarnya Papaku ini??? Semua bungkam dan tidak memberitahukan padaku Ya Allah, aku tidak tega melihat orang pertama yang membuatku jatuh cinta terbaring lemas tak berdaya seperti ini, huhuhuhu,” ucapku dalam hati memendam segala rasa ingi tau ku tentang penyakit Papa sebenarnya.
“Papa, Gia udah sampe sini Pa, Papa bangun, Gia nggak bisa
lama disini Pa,” ucapku dalam hati sambil emnangis dan membungkam mulutku.
“Papa harus bangun, ada anak Papa disini, Papa katanya
pengen ketemu kan sama Gia, sekarang Gia hadir disini Pa, untuk Papa,” ucapku lagi dalam hati.
Aku kembali menemui Mamaku yang sedang duduk di sofa
sambilku hapus air mataku.
“Kalo aku tanya Mama, pasti Mama akan kasih aku jawaban yang sama, tapi aku mau tanya siapa lagi??” gumamku dalam hati.
“Agghemm, Ma,” ucapku dengan pelan.
“Sebenarnya Papa sakit apa?” tanyaku.
Mamaku tidak langsung menjawabnya, malah Mama ku diam dan menatapku.
“Ma, nggak mungkin Papa cuman kecapek an aja, sedangkan
banyak alat-alat yang menancap di tubuh Papa Ma,” kataku dengan sangat halus.
“Anak Mama ini Dokter Ma, Gia tau Ma, pasti Papa ada
penyakit lain,” sambungku.
“Papa kamu baik-baik saja Nak, Papa hanya kecapek an aja,
__ADS_1
udah itu,” jawab Mamaku namun dengan kedua mata nya yang berkaca-kaca dan menahan agar tidak menangis dan terlihat panik di depanku.
“Ma, Mama yakin Mama nggak bohong kan sama Gia??” tanyaku sambil mengenggam tangan Mamaku.
Mamaku langsung menundukkan pandangan matanya dariku.
“Mama mau ketemu sama Abay,” ucap Mamaku mengalihkan
pembicaraan.
Mamaku pun berdiri meninggalkanku dan menemui Abay.
Johan gentian masuk menemui.
“Dek, Kakak mohon ya, jawab jujur pertanyaan Kakak,” kataku.
“Papa sakit apa sebenarnya??” tanyaku.
“Jangan jawab kalo Papa cuman kecapek an aja Dek, jangan,” kataku.
Johan hanya diam, berarti jawaban yang akan Johan berikan
padaku sama dengan jawaban Mamaku.
“Ayo lah Dek, Kamu sama Kakak sama-sama ngerti sama-sama tau, profesi kita sama, kenapa harus di sembunyiin Dek, kamu juga pasti tau kan, kalo Papa nggak mungkin cuman kecapek an aja,” kataku dengan terbata-bata karena menangis.
Lagi-lagi Johan hanya diam tidak menjawabku.
“Sekarang kamu tau Kakak Dek, Kakak sudah punya keluarga
baru, jarangggg banget bisa ketemu sama Papa, eh sekali nya mau ketemu Papa malah seperti ini, Kakak disini nggak lama Dek, habis ini Kakak garus pulang, Kakak cuman pengen tau Dek, apa yang sebenarnya terjadi sama Papa, takdir nggak ada yang tau Dek, siapa tau tiba-tiba besok Kakak udah nggak ada, atau Papa, hmm,” ucapku sedikit berontak namun tetap pelan dan halus.
“Nggak ada yang tau kan, ayo lah Dek, Kakak mohon sama kamu,” paksaku.
Tiba-tiba Papa memanggilku.
“Gia,” panggil Papaku dengan suaranya yang lemas.
“Papa,” ucapku langsung beranjak berdiri dan menghapus air
mataku.
Aku langsung berjalan menghampiri Papaku.
“Papa,” ucapku sambil tersenyum pada Papaku, meskipun kedua air mataku ini sudah berat dan basah.
Aku menayalami tangan Papaku dan ku ciumi tangan beliau,
lalu ku tempelkan pada pipiku.
“Papa mau apa?? Mau minum??” tanyaku.
Papa ku hanya menggelengkan kepala nya saja.
“Papa minta apa?? Makan??” tanyaku lagi.
Lagi-lagi Papaku menggelengkan kepalanya.
“Suami mu mana??" tanya Papaku.
“Mas Naufal nggak bisa ikut kesini Pa, Gia kesini cuman sama
Abay,” jawabku sambil terus meneteskan air mata.
“Mas Naufal sibuk,” ucapku.
“Papa sakit apa?? Kali ini Papa harus ngomong jujur sama
Gia, Papa nggak boleh sembunyiin dari Gia,” kataku.
“Papa kan sudah bilang sama Gia, Papa cuman kecapek an aja
Nak,” jawab Papaku.
“Enggak Pa, Papa pasti bohong sama Gia, Papa nggak mungkin cuman kecapek an aja,” ucapku.
“Semua nya bungkam sama Gia Pa, jadi Papa yang harus jujur sama Gia ya,” rayuku.
“Hhmm, kok Gia nangis,” kata Papaku sambil mengusap air
mataku.
“Gia sedih, karena Papa nggak jujur sama Gia,” ujarku.
Aku memeluk tubuh Papaku.
Aku menangis di dada Papaku.
“Pa, Papa pasti akan baik-baik aja kan, apapun penyakit yang
di derita sama Papa, meskipun Gia nggak boleh tau, tapi Papa harus tetep baik-baik aja, Papa nggak boleh ninggalin Gia, huhuhuhu,” kataku.
Papaku mengelus-elus kepalaku.
“Papa mau ngomong sama kamu,” ucap Papaku.
“Untuk permintaan Papa yang terakhir kalinya, dan untuk
terakhir kalinya Gia harus nurut sama Papa,” ucap Papaku.
Aku langsung bangun dari dada Papaku setelah mendengar bahwa ini yang terakhir kalinya.
“Kok Papa bilangnya terakhir kali, enggak Pa, nggak ada yang
terakhir dari Papa buat Gia,” rengekku.
Akhirnya Papa ku mengucapkan semua unek-unek dan permintaan nya padaku.
Aku menangis terisak-isak saat nasehat, do’a, dan mimpi
Papaku yang diceritakan semuanya padaku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hampir satu jam waktu Papa hanya untukku.
“Jadi Papa mohon ya Nak, untuk yang terakhir kali nya,
turuti apa yang Papa minta, ini demi kebaikan kalian,” tutur Papaku.
Mataku sudah sangat bengkak dan merah karena sedari tadi
datang kesini sampai sekarang aku terus saja menangis.
“Sekarang, kamu pulang Nak, pulang lah, suami kamu menunggu, Papa ingin mengatakan itu semua padamu,” ucap Papaku.
“Tapi Pa?? Kan Gia baru bentaran disini,” ucapku.
“Nanti pasti kan akan ketemu Papa lagi, kalo Papa udah
sembuh, Papa janji akan mengunjungi Rumah kamu,” ujar Papaku.
“Huhuhuhu, Papa janji ya, Papa nggak boleh ingkar,” kataku.
Papaku menganggukkan kepalanya dan tersenyum padaku.
“Papa juga harus janji sama Gia, kalo Papa harus sembuh,”
ucapku.
“Iya Nak, Papa pasti sembuh,” kata Papaku.
“Abay nggak bisa masuk kesini Pa, jadi nggak bisa ketemu
sama Papa, dan Mas Naufal sebenarnya pengen kesini Pa, tapi belum bisa,” kataku.
“Iya Nak nggak papa, pasti nanti kan juga bakalan ketemu,
hehehem,” ujar Papaku.
"Sebenarnya Gia belum pengen pulang Pa, tapi ini Papa yang minta, jadi Gia nggak mungkin nggak nurut sama Papa," kataku.
"Papa cepet sembuh ya, huhuhuhu, banyak planning kita yang belum terwujud berdua Pa," ucapku sambil memeluk Papaku kembali.
"Iya Nak, Papa pasti sembuh kok, sudah kamu jangan sedih, kasihan nanti anakmu dan suami mu," tutur Papaku.
"Ya udah kalo gitu Gia balik ya Pa, huhuhuhu, Papa harus sembuh," kataku yang tak rela melepas tangan Papaku.
Ku ciumi kembali tangan Papaku.
"Gia pulang ya Pa," pamitku.
"Iya Nak, hati-hati," jawab Papaku sambil tersenyum padaku.
"Ya Allah sangat berat untuk aku meninggalkan Papaku, tapi bagaimana lagi Ya Allah???" gumamku dalam hati.
"Gia janji Pa, Gia akan turutin semua mau Papa, karena memang itu menurut Papa yang terbaik buat Gia, huhuhu, Gia......kamu pasti kuat, kebahagiaan Papa kamu lebih utama kebahagiaan anak dan suami mu juga lebih utama," gerutuku dalam hati.
Aku keluar dari ruang kamar Papaku.
"Sudah Gi??" tanya Mamaku yang sedang duduk-duduk bersama Abay, Johan dan Pak Joko.
"Sudah Ma," jawabku.
Mataku sudah sangat berat dan mengembang.
"Pak kita pulang sekarang ya," ucapku.
"Baik Buk," jawab Pak Joko.
Abay yang melihatku sudah tidak berani lagi mengajakku berbicara.
"Ma, Gia harus pulang kata Papa, kasihan Mas Naufal," ucapku.
"Iya Nak, kamu hati-hati ya, maafin Mama," kata Mamaku.
Aku memeluk erat-erat Mamaku.
"Iya Ma, Gia ngerti," jawabku.
"Dek, Kakak pulang," kataku sambil memeluk Johan.
"Iya Kak," jawab Johan.
Akhirnya aku pun pulang dengan sangat berat hati.
__ADS_1
Bersambung............