Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 210 (Apa Lagi??)


__ADS_3

Setiap shubuh, aku selalu membangunkan Naufal, dan bergegas aku memasak di Dapur bersama Bi Sarah. Setelah tidur semalaman di dekapan Naufal, rupanya suasana hatiku mendadak jadi tenang. Tidak separah kemaren sore.


***(Di Dapur)


Bi Sarah seperti biasa sudah bangun terlebih dahulu dibanding denganku, beliau sudah mencuci bersih semua sayur yang akan di masak pagi ini.


"Pagi Bibi," sapaku dengan wajah sumringah.


"Eh pagi Mbak Gia," jawab Bi Sarah dengan senyumnya di wajah yang sudah mengkriput dan banyak flek hitam.


"Menu nya apa Bi??" tanyaku sambil membantunya meletakkan sayur ke dalam waskom.


"Mbak Gia kayaknya sumringah banget, apa Mbak Gia sudah mendingan dan tidak memikirkan masalahnya yang kemarin ya," gumam dalam hati Bi Sarah.


"Bi," panggilku sambil melambaikan tanganku di depan kedua matanya.


"Bibi...." Panggilku lagi.


"Eehmm, Mbak Gia mau menu apa pagi ini?" tanya Bi Sarah padaku.


Kami pun bergelut berdua di Dapur, saling menimpal canda dan tawa.


"Mbak," ucap Bi Sarah dengan lirih.


"Iya Bi?" Jawabku sambil mencuci talenan kayu.


"Bibi boleh nanya nggak Mbak??" tanya Bi Sarah dengan terbata-bata.


"Boleh lah Bi, apa??" tanyaku ganti.


"Eem...Mb....Mbak Gia kenapa resign?" tanya Bi Sarah sedikit takut.


Ku matikan kran airnya, lalu ku hela nafas panjang, sudah berapa kali beberapa menanyakan pertanyaan yang sama padaku.


Kenapa aku harus bernostalgia kembali dengan pertanyaan yang ku anggap seram ini.


"Gia resign, karena memang Gia mau Bi," jawabku s sambil tersenyum pada Bi Sarah.


"Maaf ya Mbak, kalo Bibi kepo, kemaren sebenarnya Bibi mau nanya Mbak, tapi Bibi nggak berani hehehe," ujar Bi Sarah.


"Hehem, ini demi mereka yang Gia sayangi Bi," kataku.


"Tapiii....Mbak Gia senang dengan keputusan ini?? Apa Mbak Gia bahagia??" tanya Bi Sarah yang to the point.


Bi Sarah memberanikan diri bertanya padaku, karena memang beliau yang sudah mengenalku sejak kecil.


"Hhmmm,"


Aku hanya memberikan senyumku pada Bi Sarah, Yaah lagi-lagi senyuman yang ku berikan.


"Pastinya Bi," jawabku dengan anggukan kepalaku.


"Bukan nya Mbak Gia sangat ingin sekali menjadi Dokter dari dulu Mbak?? Dan sekarang Mbak Gia mau melepas semua nya begitu saja, maaf ya Mbak kalo Bibi lancang, sebenarnya Bibi juga tau apa yang Mbak Gia rasakan," ucap Bi Sarah yang sepertinya kasihan padaku.


"Bibi......Bibi kan tau Gia gimana?? Jadi yaa......everything is gonna be okay Bi, hehem," jawabku sambil menyabitkan kedua bibirku kembali.


"Karena Mbak Gia selalu begitu Mbak, menyangga semuanya sendiri, jadi Bibi khawatir sama Mbak Gia, apalagi kemarin saat Mbak Gia masih murung kemarin, Bibi juga ikut sedih Mbak, kalo Mbak kayak kemaren," ujar Bi Sarah padaku.


Aku sungguh tidak ingin membahas ini kembali, saat ini aku sedang menyebrangi lautan kesedihan sendiri, aku terus berusaha mendayung dan mendayung, tapi mengapa?? Hal sedih itu kembali mendatangiku. Dan menghalangi dayunganku.


"Mbak Gia beneran?? Mbak Gia jangan sedih-sedih ya, Bibi ini sudah sejak kecil sama Mbak Gia, jadi Bibi tau apapun yang Mbak Gia rasakan," kata Bi Sarah.


Aku langsung memeluk Bi Sarah, menahan tangisku.


Agar tidak menangis di pelukan Bi Sarah, dan malah mengetahui kesedihan dari beratnya keputusan yang ku ambil ini, sebenarnya dari lubuk hatiku yang paling dalam, keputusan ini sangat berat ku ambil, tapi jika aku tidak mengambil keputusan ini??? Apa jadinya.


Kedua mataku sudah berkaca-kaca.


"Ini semua demi mereka Bi," kataku dengan tegas.


"Eeemmm, Mbak Giaaa...." Kata Bi Sarah yang memelukku kembali.


Tiba-tiba Naufal menghampiriku di Dapur. Dia berjalan dengan bersenandung lagu kesukaan nya.


Naufal kaget melihatku yang sedang berpelukan dengan Bi Sarah sepagi ini.


"Eh eh eh ada acara apa ini?? Kok pake acara peluk-pelukan?" tanya Naufal yang sedang bersandar di awakan almari es yang setinggi badannya.


Aku dan Bi Sarah dengan spontan melepas pelukan kami. Dan mata kami langsung tertuju pada Naufal yang juga memperhatikan kami berdua.


"Mas Naufal," ucapku.


"Loh Mas Naufal, sejak kapan Mas??" tanya Bi Sarah.

__ADS_1


"Hehehem, barusan Bi,"


"Kamu ngapain Sayang pelukan sama Bibi?" sambung Naufal.


"Eeee......eemmmmm.......nggak papa, yaaa pengen aja, kepo banget sih Mas masalah cewek, ya Bi ya??" kataku sambil menggaruk-garuk tengkuk kepalaku dan memberikan kode pada Bi Sarah.


"Ehehehehm, iya," jawab Bi Sarah yang sudah paham dengan kode mata yang sudah kuberikan.


"Mas Naufal, ayo lah, ke atas lah," rayuku lagi.


"Eh eh eh nggak malu manja gini di depan Bi Sarah, hehehem," ejek Naufal.


Aku langsung menengok pada Bi Sarah dengan sedikit kaku.


"Maka nya kamu jangan gini Mas," bisikku perlahan.


"Hehehem, lihat Bi, masih pagi udah ngajak romantis-romantisan ini," canda Naufal yang semakin membuatku malu.


Langsung ku gandeng tangan Naufal dan ku tarik ke halaman belakang. Naufal malah menertawakan ku seakan-akan ia tengah bersekongkol dengan Bi Sarah.


***(Di Halaman Belakang)


"Mas Naufal.....jangan gitu ah," kataku.


"Hahaha, iya iya enggak, aku juga mau ke gym kok," ucap Naufal.


"Kamu kok belum mandi?? Belum siap-siap buat kerja?" tanyaku.


"Bentar lagi Sayang, mau gym dulu bentar," ujarnya.


"Eeemmm, ya udah aku ke atas bentar mau nengokin Abay," kataku.


Aku pun meninggalkan Naufal sendirian di halaman belakang, tanpa ku tahu, dia mengikuti langkahku dan dia berhenti di Dapur untuk menghampiri Bi Sarah.


***(Di Dapur)


"Bi....Bibi," panggil Naufal sangat lirih.


Bi Sarah berjalan mengendap-endap menuruti panggilan lirih yang keluar dari mulut Tuan Rumah nya itu.


"Enggeh Mas (Iya Mas) enten nopo?? (Ada apa??)" tanya Bi Sarah yang khas dengan Bahasa Jawa nya.


"Gia tadi kenapa Bi??" tanya Naufal sambil menyelipkan dua tangannya di saku celananya.


"Adduuuhh, jawab gimana ini???" gumam dalam hati Bi Sarah.


Belum sampai menjawab pertanyaan dari Naufal, Naufal langsung mengijinkan Bi Sarah untuk membuatkan secangkir kopi pahit khusus buat Pak Rusdi.


Akhirnya, karena ia takut jika ulahnya yang sedang mencuri informasi pada Bi Sarah ku ketahui, Naufal langsung pergi ke mini gym yang ada di Rumahnya.


.


.


.


.


.


.


Beberapa jam kemudian, setelah selesai aku mandi, Mas Naufal tak kunjung kembali dari tempat gym nya.


"Loh, kok Mas Naufal belum siap-siap, kan aku udah siapin kemeja beserta yang lainnya??" ucapku sendirian di dalam kamar.


"Apa jangan-jangan....."


"Jangan-jangan Mas Naufal keenakan di gym terus lupa waktu," kataku.


"Astagfirullah Mas Naufalllll...." ucapku yang geram dengan Naufal.


Aku langsung bergegas keluar dari kamar dan turun ke bawah menjemputnya.


Dan yang membuatku kaget adalah........Naufal malah sudah duduk manis di ruang makan.


Langkah kaki ku langsung terhenti di separuh anak tangga. Aku melihatnya yang sama sekali tidak merasa bersalah.


***(Di Ruang Makan)


"Mas, kok disini?? Terus kenapa kamu masih pakek kaos biasa beginian??" tanyaku heran.


"Duduk sini Sayang," tutur Naufal.

__ADS_1


"Kamu bukan nya mau kerja?? Kok mlaah kayak gini Mas??" tanyaku terus menerus karena semakin bingung di buat makhluk satu ini.


Untung saja disana hanya ada aku dan Naufal, Bi Sarah masih sibuk di Dapur, dan yang lainnya belum juga berkumpul di meja persegi panjang yang ekstra besar ini.


"Massssss jawab akuuuu," kataku dengan manja.


"Duduk dulu sini Sayang, ah kamu," tutur Naufal dengan memegang kedua pundakku lalu menyuruh ku duduk di kursi yang berada di sebelahnya.


"Aku udah siapin kemeja, sepatu, belt, jam tangan kamu loh Mas, aaarrgggg ih kamu Mas," gerutuku.


"Aku shift malam Sayang, jadi aku belum mandi," ujar Naufal sangat enteng.


"Apa??!!"


"Kok nggak bilang sama aku?" tanyaku.


"Surpriseeee hehehehe," kata Naufal.


"Hhhmmm, dasar kamu Mas, suka banget ngerjain aku," ucapku dengan mengernyitkan kedua alisku karena kesal dengannya.


"Hahahaha, aku sengaja nggak bilang ke kamu, kan buat kejutan, aku juga mau kali nemenin istriku ini, hehem," ucap Naufal sambil mendekatkan wajahnya padaku.


"Seneng nggak kalo ditemenin suaminya gini?? Hm??" tanya Naufal dengan ketukan dua kali alis tebalnya.


"Biasa aja," jawabku yang ganti mengerjai nya.


"Ooo gitu? Biasa aja ya, eemmm.......gitu sekarang istrinya Naufal," ejek Naufal sambil menyentil ujung hidungku.


"Yakin kalo di tinggal lama nggak bakalan rindu?? Yakin nih??" tanya Naufal yang ganti tak mau kalah denganku.


"Kamu sih Mas, ngerjain aku terus, kemarens seharian belum puas ngerjain aku?? Pagi ini juga," keluhku.


"Hehehehe, maaf Sayang maaf, namanya juga romantis," kata Naufal.


Tiba-tiba Abay memanggil kami dari belakang.


"Pagi Ma....Pa," sapa Abay.


"Pagi Nak, sini duduk sebelah Papa," ucap Naufal.


Setelah Abay datang pada kami, mulai dari Bi Sarah, Pak Rusdi dan Pak Joko datang berkumpul di meja makan ini.


.


.


.


.


.


.


Di pertengahan saat kita semua sedang fokus mencerna sarapan ekstra lezat ini, Naufal berbisik padaku.


"Tapi habis ini, beneran kok Sayang, aku mau buat kamu rindu beneran sama aku, dan jelas kamu bakalan rindu sama aku, nggak mungkin nggak," bisik Naufal.


Langsung ku tengok wajahnya. Dan ganti ku bawa mulutku ini mendekat pada telinga kiri Naufal.


"Massss udah deh jangan ngerjain aku lagi," bisik ku.


"Kalo yang ini beneran Sayang," bisik Naufal lagi.


Deeggggg ..........


Tanganku langsung berhenti bergerak, sendok dan garpu yang ku pegang langsung tergeletak di atas piring ceper berwarna putih itu.


"Maasssss," kataku.


"Aku nggak bercanda Sayang," kata Naufal.


Naufal semakin membuatku ingin tau, acara apa lagi yang sedang ia persiapkan, ulah apa lagi?? Kejutan apa lagi??? Huuufftt.


"Mas udah ah habisin sana makanan kamu," tuturku.


Naufal malah senyum-senyum padaku.


"Yang dilihat makanan nya, bukan aku nya Mas," ucapku.


"Jutek banget sih Sayang, hehehm," canda Naufal.


"Apa lagi siiihhh yang direncanain pria ini??? Suka banget buat penasaran, buat kejutan secara tiba-tiba?? hhmmm," gerutuku dalam hati.

__ADS_1


Bersambung........


jangan lupa tinggalkan like, comment, dan vote nya ya hehehehe


__ADS_2