Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 245 (Perihal Kebahagiaanku)


__ADS_3

"Ma, Mama jangan nangis, Mama kenapa? " tanyaku lagi.


"Gia bahagia kan??" tanya Mamaku sambil memegangi kedua pipiku.


"Mama kenapa sih? Selalu dan selalu menanyakan tentang kebagaiaan aku, selalu setiap aku kesini Mama nanya Gia bahagia," gumamku dalam hati dengan cemas.


"Ma, Mama kenapa?? Gia bahagia kok, bahagia Gia," jawabku.


"Sama Naufal kamu bahagia kan?" tanya Mamaku lagi.


"Ya Allah sebenarnya ini ada apa?? Kenapa Mamaku seperti ini, dan ada apa dengan Mas Naufal," gumamku lagi dalam hati.


"Mama.....hey...."


"Ma, Gia bahagiaaaaa banget sama Mas Naufal, bangettt Ma, Mas selalu ngebahagiain Gia,"


"Hehehem, jadi Mama nggak perlu khawatir atas kebahagiaan Gia, dari awal kan Gia selalu bahagia sama Mas Naufal Ma,"


"Udah ya, Mama jangan mikir yang aneh-aneh, yang penting Mama cepet sembuh, ya,"


"Sekarang, Mama ganti baju dulu kita siap-siap ke makam Papa, ya Ma ya, udah jangan nangis," tuturku menenangkan Mamaku.


Aku menahan tangisanku saat keluar dari kamar Mamaku. Budhe mengahmpiriku dan menepuk lenganku.


"Kenapa lagi Gi?? Mama kamu kenapa?? Jawab apa??" tanya Budhe dengan halus.


"Mama belum jawab Budhe," jawabku sambil menghapus air mataku.


"Sabar ya," tuturnya yang mengelus-elus lenganku.


"Budhe tau ini sangat berat buat kamu, Budhe bakalan selalu ada buat kamu, ya,"


"Makasih ya Budhe udah ngerawat Mama," kataku sambil memeluknya.


"Sudah sepantasnya Budhe seperti ini Gi,"


"Eeeemmm....Budhe, Gia sama Mama mau ke makam Papa hari ini,"


"Iya Gi, Mama kamu pasti seneng," jawab Budhe.


Tak lama kemudian, Mama keluar dari kamar dengan gamis dan jilbab putih yang tergerai lebar sangat bersih.


"Ayo Ma," ajakku sambil menggandeng tangannya.


Kami berangkat ke Makam di antar oleh sopir Mama yang dari dulu setia bekerja dengan keluargaku.


.


.


.


.


.


***(Di Makam)


Kami berjalan ke makam Papaku dan duduk disana.


Memanjatkan doa atas ampunan untuk Papaku.


Mamaku menangis begitu hebatnya sambil mengelus nama Papa.


Ini caraku mengobati rindu pada Papaku.


"Pa, Assalamu'alaikum,"


"Gia kesini bawa Mama, Gia rinduuuuu banget sama Papa,"


"Gia pengen cerita banyak sama Papa, apalagi tentang kondisi Mama sekarang Pa, Mama yang semakin hari semakin suka melamun dan sedih,"


"Pa, bukankah Mama dan Papa yang selalu mengajarkan pada Gia tentang bagaimana kita mengihklaskan sesuatu hal,"


"Tapi kenapa sekarang Mama begitu terpuruk Pa? Psikis Mama terganggu Pa, Mama yang dulunya periang, sekarangg???......sudah berubah Pa,"


"Huhuhuhuhuhu,"


"Papa, Gia kangennnnn," ucapku dalam hati mengadukan semuanya kepada Papaku.


"Mama juga kangen sama Papa, Papa tenang disana ya,"


Cukup lama kami melepas rindu kepada Papaku.


Hingga mataku sangat beraatt karena terus menangisi kerinduan pada Papaku.


Apalagi Mamaku, yang sudah sangat memerah kedua matanya.


"Ma, sudah?" tanyaku.


Mamaku hanya menganggukkan kepalanya lalu ku gandeng kembali tangan Mamaku yang gemetar.


.


.


.


.


.


Di perjalanan Mama tetap saja masih menangis.


"Ma, Mama jangan nangisss, ya," rayuku sambil menghapus air mataku Mamaku.


"Tadi Mama dia apa buat Papa??" tanyaku untuk mengalihkan kesedihan Mamaku.


"Papa.....tenang..."


"Disana," jawab Mamaku sambil terbata-bata.


Aku memeluk Mamaku.


"Ma, maafin Gia ya,"


"Gia nggak bisa nemenin Mama setiap hari, setiap waktu, maaf Gia nggak bisa ngerawat Mama,"


"Bagaimana perasaan Mama?? Pasti Mama sangat sedih dikondisinya yang seperti ini, aku tidak ada disampingnya 24 jam,"


"Kasihan Mama, Johan sekarang juga sibukkkk banget dengan urusan kerjanya," kataku dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Sampainya di Rumah Mama.


Budhe langsung menyambut kami dan membawa Mamaku ke kamar setelah kami mencuci kaki dan tangan di teras Rumah.


Aku bergegas ke kamarku untuk berganti baju. Setelah itu Budhe mengajakku makan.


Di Ruang Makan hanya kami berdua, kata Budhe Mama langsung tidur.


"Suami kamu nggak ikut kemana Gi??"


"Kerja ya?" Tebak Budhe.


"Ehehehem, iya Budhe," jawabku.


"Sama kayak Johan, rumah cuman buat tidur, kerjaaa terus, nggak ada capeknya,"


"Gia lama nggak ketemu Johan Budhe, ngobrolnya cuman Via WhatsApp kalo nggak gitu video call, Gia seneng sih dia jadi pekerja keras,"


"Tapi.......dia nggak lupa sama Mama kan Budhe??" tanyaku dengan lirih.


"Oooo.....tentu enggak dong, dia nih kan kalo habis isya' pulang, terus langsung nyamperin ke kamar Mama kamu, ngobrol-ngobrol, kadang sama Budhe juga, terus tengah malam kalo Mama kamu udah tidur, baru deh dia ke kamarnya,"


"Heraan Budhe sama dia, apa lagi yang dia cari?? Semua udah ada, tapi susah banget kalo disuruh nikah, coba kamu yang suruh Gi, hehehem," canda Budheku.


"Udah Budhe, dia nya yang susah, katanya mau ngurus Mama dulu fokus ke Mama,"


"Kasihan Papa udah nggak ada, gitu katanya Budhe," sambungku.


"Terus kapan kamu kasih budhe adek nya Abay, hhhmm, hehehe," sentil Budhe.


"Hehehem, secepatnya Budhe, insya'Allah ya, do'a in aja," jawabku.


Kami asyik ngobrol berdua disini hingga adzan ashar kami tak henti-hentinya terus bergurau.


"Gia mandi dulu ya Budhe, habis ini Gia langsung pulang," ucapku sambil membereskan piring.


"Loh, nggak nginep Gi??"


"Enggak Budhe," jawabku sambil menyunggingkan kedua pipiku.


"Yaaaaahhh Budhe kira kamu menginap Gi, nginep aja," perintah Budhe.


"Kalo Mas Naufal di rumah aja ya Budhe, Gia nginep, di rumah nggak ada orang, hehe," jawabku.


"Oalaaaa.......yasuda kalo gitu, biar Budhe yang beresin ini, nggak pake tapi Gi," ucap Budhe.


Aku langsung berjalan masuk ke kamarku dan segera mandi serta melaksanakan sholat ashar.


Sambil mengemasi barang-barangku kembali, sambil aku menunggu sopir yang datang menjemputku.


Setelah aku siap untuk pulang, tak lupa aku mampir ke kamar Mamaku terlebih dahulu.


Tok....tok...tok.....


"Mama," panggilku.


Tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar Mama.


"Mama...."


Aku coba membuka pintu kamar Mama. Disana tidak ada Mama.


"Mama kemana??"


Aku kembali turun ke bawah untuk mencari Mamaku.


Dan aku melihat Mama duduk santai dengan Budhe di taman depan Rumah.


"Mama, Gia nyariin Mama,"


"Hari ini, Gia belum bisa menginap disini,"


Mama hanya membalasku dengan senyum indahnya yang selalu aku rindukan.


"Gitu dong Mama senyum, Mama nggak boleh sedih-sedih ya,"


"Biar Mama cepet sembuh, ya??" Rayuku.


"Pokoknya Mama harus sehat, jangan capek-capek, nggak boleh banyak pikiran, istirahat yang cukup, nurut sama Dokter ya Ma, ehehehem," kataku.


Ya Allah rasanya aku sedih sekali saat mengucapkan kalimat itu ke Mamaku.


"Tuh, dengerin Dokter Gia nya ya," sahut Budheku.


"Ehehehem, ya udah Gia pulang ya Ma,"


"Udah ditungguin itu," kataku sambil menyalami tangan Mamaku, memeluk Mamaku, dan mencium Mamaku.


"Budhe juga sehat-sehat ya," kataku sambil menyalami lalu memeluk Budhe.


"Assalamu'alaikum," ucap salamku.


Saat aku beranjak berdiri, Mama memegangi tanganku dan Mamaku berkata "Baik-baik sama Naufal," itu pesan Mamaku.


"Iya Ma, pasti itu, Mama tenang aja, ya," kataku sambil mengelus-elus tangannya.


Aku berjalan masuk ke dalam mobil dengan pikiran kacau karena sedari tadi aku menginjakkan kaki ku disini, Mama terus saja membahas Mas Naufal.


Ya Allah, semoga tidak ada apa-apa dengan Mas Naufal. Semoga semua baik-baik saja. Lindungillah dimanapun suamiku berada Ya Allah.


Di sepanjang perjalanan, aku melamum memikirkan kata-kata Mamaku.


"Mama kenapa ya?? Terus membicarakan tentang Mas Naufal dan kebahagiaan,"


"Ada apa??" tanyaku dalam hati.


"Ah sudahlah, aku nggak boleh berfikir negatif,"


"Pak, hari ini ke Butik dulu ya, jadi nggak langsung pulang, nanti Bapak tunggu saya sebentar," kataku.


"Baik Bu," jawabnya.


Daripada aku memikirkan yang tidak-tidak, sejenak aku tertidur.


.


.


.


.


.


.


.


"Bu, sudah sampai Bu," ucap Bapak Sopir.


Suara Bapak itu terdengar samar-samar di telingaku, tetapi pada akhirnya aku terbangun.


"Sebentar ya Pak," kataku lalu keluar turun dari mobil.


Aku masuk sebentar ke Butik untuk membelikan karyawanku makan, dan juga menyempatkan berbincang bersama mereka.

__ADS_1


Tetapi, selang waktu tak lama. Aku berpamitan untuk pulang karena sudah malam.


Mobil membawaku pulang ke Rumah besar Mas Naufal.


"Assalamualaikum," salamku.


Bi Sarah langsung menyambutku.


"Wa'alaikumsalam, Mbak gimana kabarnya Ibuk?" Tanyanya yang menanti kabar dari Mamaku.


"Mama nangis terus Bi, kangen sama Papa, Gia sampe kasihan sama Mama," jawabku.


"Ya Allah Gusti, kasihan banget Ibuk, Ibuk sudah membaik kan Mbak?" tanya Bi Sarah lagi.


"Ya begitulah Bi," jawabku tak semangat.


"Sabar ya Mbak, intinya sabarr aja, ingat pesan Bapak tentang keikhlasan, pengorbanan dan kesabaran, itu paket komplit Mbak, ehehehem," canda Bi Sarah yang mencoba menghiburku.


"Gia tuh sebenarnya pengen Bi nemenin Mama, aaplagi di saat Mama kayak gini, tapi Gia juga gak boleh egois Bi, Gia disini juga punya keluarga yang harus Gia urusin,"


"Gia sayang banget sama Mama, Gia cinta sama Mama sama Papa melebihi diri Gia sendiri," kataku dengan terbata-bata karena sudah tidak bisa menahan tangisan ini.


"Mbak, perkara cinta dan sayang Mbak ke Ibuk sama Bapak, Bibi sudah tauuuuu betul dari dulu,"


"Seorang anak yang mengutamakan kebahagiaan orang tua nya di atas kebahagiaannya sediri itu ya Mbak Gia,"


"Karena bagi Gia Bi, kebahagiaan orang tua itu yang utama,"


"Rasanya hampa Bi saat tau Papa ninggalin Gia, Gia berusaha kuat,"


"Gia nggak pengen terpuruk walaupun sebenarnya hati ini sangat lemah Bi,"


"Bibi tau, Mbak Gia ini kuat, Bibi looo yang temanan dari Mbak Gia masih bayi sampai jadi ibu rumah tangga seperti ini, hehehem,"


"Sudah, mendingan sekarang Mbak Gia ke kamar, istirahat saja, ya," tutur Bi Sarah.


Aku melihat betul air mata yang terbendung di mata Bi Sarah. Aku pun berjalan ke kamar.


"Sebenarnya Bibi ini tau betul Mbak, sehancur apa hati Mbak Gia ditinggalkan oleh Bapak, terus ditambah lagi, kondisi Ibuk yang sekarang seperti itu,"


"Bibi juga ikut ngerasain Mbak," gumam dalam hati Bi Sarah.


"Buk, kenopo nangis (Kenapa menangis)?" Tanya Pak Rusdi sambil menepuk pundak Bi Sarah.


Bi Sarah langsung menghapus air matanya dengan kain dasternya.


"Ndak kenapa-kenapa Pak, ini loo, aku kasihan sama Mbak Gia,"


"Andai saja ya Pak, Bapak itu masih ada,"


"Pasti tidak akan pernah ada kesedihan di wajah Mbak Gia," ucap Bi Sarah.


"Sudahlah Pak, aku mau cuci piring ini," sambung Bi Sarah lalu pergi ke Dapur.


***(Di Kamar)


Aku mencoba menghubungi Mas Naufal, namun posnel nya sedang tidak aktif.


"Tumben hpnya Mas Naufal nggak aktif??" gumamku.


"Pasti dia udah tidur, udah lah besok aja," kataku.


"Huuuuffftttt,"


"Tidur ah, mumpung lagi nggak ada Mas Naufal, aku bisa kuasain kasurnya sendiri hehehem,"


Aku memeluk guling dan ku tutupi seluruh badanku dengan selimut. Ku buka galeri foto di ponselku.


Satu album berjudul "Family" itu isi semua foto tentang keluargaku.


Ku geser foto demi foto, setiap satu foto terdapat banyak cerita yang membisu.


Tiba-tiba air mataku menetes begitu saja. Mengingat saat aku kecil bersama Papaku.


"Andai ya Pa, Papa masih dikasih panjang umur sama Allah, pasti Gia nggak akans sedih kayak gini,"


Bahkan Papa sendiri dulu yang bilang sama Aku, kesedihan dari level manapun dan dari versi apapun, selama Papa masih ada, mereka nggak akan datang sama Gia.


"Huhuhuhuhuhu, Papa,"


"Padahal aku dulu selalu berharap loo, waktu kecil aku nggak mau kalo Mama sama Papa sampe tua, hehehehem,"


"Segitu polosnya aku," gumamku sendiri di kamar.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku.


"Siapa??" ucapku.


"Bibi Mbak," jawab Bi Sarah.


"Masuk aja Bi nggak papa,"


Bi Sarah masuk sambil membawa segelas minum berwarna merah.


"Wwwaaahh, apa itu Bi??" tanyaku yang bangun dari kasur empuk ini.


"Ini Bibi buat jus strawberry kesukaan Mbak Gia, hehehe, kan katanya Mbak Gia apa tuh yang bahasa inggris Mbak,"


"Bibi lupa.......emmmm.....oh ya, All about strawberry, Mbak Gia suka, hehehe, monggo diminum (silahkan diminum)" ucap Bi Sarah sambil memberikan jus strawberry padaku.


"Waaah, makasih loo Bi, enak ini pasti," pujiku.


"Biar Mbak Gia nggak sedih-sedih an lagi, jadi Bibi buatin ini,"


"Makasih ya Bi, tau aja Bibi iiihh," sentilku pada Bi Sarah.


Aku meneguk habis jus strawberry super nikmat dan manisnya pas ala Bi Sarah.


"Uuuummm segerrr Bi," kataku.


"Sudah, mood nya sudah membaik?? Hehehe," goda Bi Sarah.


"Aaaaa Bibi ada aja,"


"Mbak Gia jangan sedih ya, kan udah dibuatin jus strawberry sama Bibi, hehe,"


"Maaf Bibi ganggu nih Mbak," sambung Bi Sarah.


"Enggak kok Bi, nggak papa," ucapku.


"Ya sudah, monggo (silahkan) dilanjutkan Mbak, Bibi ke bawah lagi mau bobok, ehehe," kata Bi Sarah.


"Iya Bi, makasih ya Bi sekali lagi,"


"Ya sami-sami Mbak (sama-sama Mbak)" jawabnya.


Aku masih kepikiran dengan kata-kata Mamaku tadi sebenarnya, kenapa Mama selalu menanyakan pertanyaan yang sama.


Perihal kebahagiaan dengan Mas Naufal.


"Tapi jika mungkin ada sesuatu, pasti Mama bilang ke aku,"


"Aaahhh pasti Mama hanya kepikiran saja, apalagi kan Mama jarang ketemu aku, khawatir itu sudah pasti," gumamku.


Ada apa sebenarnya?? Padahal aku dan Mas Naufal sangat baik-baik saja.

__ADS_1


Sebelum tidur, aku menyempatkan untuk menghubungi Abay anakku.


Bersambung........


__ADS_2