Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 73 (The Beloved Angel)


__ADS_3

Di dalam mobil aku tetap melihat ke wanita itu.


"Sepertinya aku pernah mengenalnya," gumamku dalam hati.


Mobil Naufal terparkir di depan halaman rumah, kami keluar dari mobil.


"Siapa itu Gi? Kamu ada tamu? Atau janjian sama teman kamu?" tanya Naufal.


"Enggak Mas, aku pernah melihatnya sepertinya," jawabku.


Wanita itu melihat ke tempatku berdiri dengan Naufal.


Aku menatapnya dalam.


"Itu Mbak Meira Mas, tumben banget dia kesini," kataku sambil tersenyum pada Meira.


"Meira? Siapa? Tunangan Kevin?" tanya Naufal lagi.


"Iya, bentar aku kesana duluan ya," kataku sambil berjalan meninggalkan Naufal.


Aku berlari untuk menghampiri Mbak Meira.


"Mbak Meira, apa kabar? Ya ampun masih inget sama saya," kataku dengan sangat senang dan ramah.


Mbak Meira berbeda, dia menatapku penuh amarah.


"Mbak Meira kenapa? Mbak Meira ada masalah lagi ya?" tanyaku dengan polos.


Meira tidak menjawabnya, tetapi malah melotot ke arahku dan meneteskan air matanya.


"Mbak? Ada apa? Cerita sama saya? Atau.....atau saya ada salah kah sama Mbak Meira?" tanyaku.


Dia tetap tidak menjawabnya, tetapi dia seperti semakin marah padaku setiap aku menanyainya.


Aku merasa kasihan dengannya, akhirnya ku peluk dia.


Tapi pelukan ku di tolak olehnya, dia mendorongku kuat-kuat.


Sampai tubuhku terdorong ke belakang, untung saja di belakangku ada Naufal yang menangkapku.


"Sayang, ada apa?" tanya Naufal panik.


"Nggak tau Mas, tiba-tiba Mbak Meira ngedorong aku, aku nggak tau dia kenapa," jawabku yang takut dengan Mbak Meira.


Naufal berada di depanku untuk melindungi ku dari amarah Mbak Meira.


"Maaf, istri saya salah apa ya sama anda?" tanya Naufal.


Aku hanya bisa mengintip dari belakang tubuh Naufal.


"Saya tidak punya urusan dengan anda!!!," ucap Mbak Meira dengan air matanya yang terus berlinang di pipinya.


"Jika memang istri saya bersalah, kita bicarakan baik-baik di dalam rumah, mari kita masuk," kata Naufal mempersilahkannya masuk.


"Tidak perlu!!! Aku sungguh muak sama teman seperti kamu!!! Dasar gak tau diri kamu!!!" ucap Mbak Meira mencaci ku.


Aku semakin takut, karena baru kali diperlakukan orang seperti ini, aku hanya bisa meremas lengan Naufal, tidak peduli Naufal kesakitan atau apapun itu, yang ku tau saat ini aku takut dan gemetar.


"Kamu bohong kan sama aku!!! Selama ini kamu baik sama aku, kamu sebenarnya tau kan siapa tunangan aku??!! Bahkan kamu juga mengenalnya, tapi kamu gak bilang sama aku, seolah-olah kamu tidak mengenal Kevin di depanku!!! Pinter banget permainan kalian," teriak Mbak Meira.


"Mbak, ini nggak seperti yang Mbak Meira kira, saya bisa jelasin semuanya, bahkan dari awal saya mengenal Pak Kevin, saya siap karena memang saya tidak pernah ada apa-apa dengan beliau selain mahasiswa dengan dosen nya," ucap penjelasanku sambil aku meneteskan air mataku.


"Omong kosong!!!! Kamu itu bener-bener jahat, bahkan lebih dari jahat!!!! itu kamu!!!! Kamu seneng, kamu bahagia, aku mengemis cinta dari Kevin, Ha??!!," sentak Mbak Meira.


Naufal sebenarnya ingin ikut menjelaskan pada Meira, tapi aku mencegahnya.


"Aku capek, capek banget, kamu nggak ngrasain apa yang aku rasain, AKU SUNGGUH MENCINTAI KEVIN!! Tapi dia??!! Khianatin aku, berpaling dari aku buat perempuan macam kamu, kamu datang, ngerusak semua yang aku impikan bersama Kevin, licik banget sih kamu, perempuan macam apa kamu!!! Sama sekali tidak patut untuk di hargai," hinaan dan cacian yang terlontar dari mulut Meira.


Deeegggg. Hatiku sangat sakit dengan kata-kata yang paling aku benci.


"Maaf!!! Jaga ucapan anda, apakah anda tidak menghargai saya sebagai tuan rumah sedangkan anda sebagai tamu?? Dari sikap anda yang seperti ini, malah memperlihatkan kualitas diri anda sebenarnya, atas cacian yang sudah anda lontarkan pada istri saya, siapa yang sebenarnya tidak patut dihargai disini??? Saya dan istri saya sebagai tuan rumah atau anda sebagai tamu," ucap Naufal dengan tegas.


Aku hanya mampu menangis.


"Anda belain istri anda itu, Hahahhaa, pasti nanti anda akan menyesal telah mencintainya," kata Meira sambil menunjuk ke arahku dengan tetap menangis sambil matanya memerah.


"Kamu harus tanggung jawab, kamu harus balikin semuanya, kita sama-sama perempuan, seharusnya saat kamu bermain gila di belakangku bersama Kevin, kamu pasti mikir gimana perasaan ku jika tau itu,"


"Aku merasa sangat merugi berteman denganmu, sok baik, sok peduli, ini semua salahmu!!!" ucap Meira.


Naufal mengeluarkan ponsel dari saku celananya, aku tidak tau dia sedang menelepon siapa.


Tidak lama kemudian, Pak Joko menghampiri kami.


"Mbak, jika anda tetap seperti ini, tidak bisa berbicara baik-baik dan bertingkah sopan, silahkan anda pergi, tapi jika anda ingin berubah pikiran, saya sangat memepersilahkan anda untuk masuk untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini!!!" ucap Naufal dengan agak sedikit Naufal.


Meira tidak menjawab sepatah kata apapun.


"Baiklah, disini istri saya tidak bersalah, jangan pernah sekali-kali anda datang kesini lagi hanya untuk bertingkah semacam ini, silahkan anda bisa keluar dari sini," kata Naufal yang merangkul membawaku pergi masuk ke rumah.


Pak Joko membawa Meira keluar dari area rumah Naufal.


Sedangkan aku menangis terisak-isak.


Naufal langsung membawaku ke kamar.


***(di Kamar)


Naufal panik melihatku takut dan menangis semakin menggila.


"Sayang.....Sayang hey lihat aku ya," kata Naufal panik yang duduk di depanku.


"Aku licik, aku salah, aku merebut semuanya, iya kan Mas?" kataku meronta-ronta.


"Enggak Sayang, enggak, kamu sama sekali nggak salah," kata Naufal yang langsung memelukku.


"Aku kasihan sama kamu Gi, kamu nggak salah apa-apa, tapi kamu tertimpa imbasnya seperti ini," kata Naufal dalam hati sambil mendekap tubuhku.

__ADS_1


Ku peluk sangat erat Naufal, ku genggam kain kemeja Naufal karena memang hatiku sangat sakit mendengar cacian itu.


"Sayang, kamu tenang ya, siapapun gak boleh nyakitin kamu," kata Naufal mencoba menenangkanku.


Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan Naufal.


"Aku takut, aku takut dia datang kemari untuk menyakitiku lagi," kataku yang sebenarnya memang sangat takut.


"Mas kamu tau kan bahwa aku sama sekali tidak pernah mencintai Pak Kevin, aku tidak berniat merusak hubungan mereka, iya kan Mas? Kamu tau kan? Aku tidak seperti itu kan???!! Aku tidak jahat kan??!!" ucapku dengan geram sambil terus menekan keras lengan Naufal untuk tempat pelampiasan.


"Iya Sayang iya, aku sangat tau, mereka yang salah bukan kamu, mereka yang jahat bukan kamu Sayang, udah ya Sayang, kamu tenang ada aku, ada aku disini, aku akan menjagamu," kata Naufal.


"Aku tau Gi kamu pasti merasa terhina dan sangat jatuh sekarang, aku tidak terima Gi atas apa yang mereka lakukan padamu, aku tidak tega melihatmu menangis ketakutan seperti ini, hatiku juga ikut sakit Gi jika orang yang aku cintai telah terluka juga hatinya," gumam dalam hati Naufal.


Naufal melepas pelukannya dan meraih kedua pipiku.


"Lebih baik kamu sekarang istirahat ya, kamu tidur, kamu tenangin diri kamu Sayang, jangan memikirkan kejadian tadi, hal itu tidak akan terjadi lagi, ya tidur ya?" rayu Naufal.


Naufal menggiringku untuk tidur.


Setiap kali genggaman tanganku terlepas dari Naufal, segera ku cari tangan dia kembali.


"Aku sungguh takut Mas," kataku sambil menggenggam erat tangan Naufal.


"Kamu sampai setakut ini Gi, bahkan aku baru tau kamu setakut ini, sampai tanganku tak bisa lepas dari genggaman tanganmu," gerutu dalam hati Naufal.


Naufal mencium keningku lama, hal itu agak menenangkan kekacauan dalam hatiku.


"Tidur ya Sayang," kata Naufal.


"Kamu disini aja, jangan kemana-mana, kamu harus di samping aku terus," ucapku yang ketakutan.


"Iya Sayang, aku gak kemana-mana, aku disini tidur di samping kamu," tutur Naufal.


"Aku gak akan biarin dia kesini lagi Gi, aku akan segera selesaikan masalah ini, agar Meira tidak salah paham sama kamu Gi," gumam dalam hati Naufal.


Akhirnya aku pun terlelap dalam tidur.


.


.


.


.


Beberapa jam kemudian, aku terbangun.


Meraba di sampingku tak ada Naufal, syukurlah aku agak lupa dengan kejadian tadi.


"Mas Naufal kemana?" ucapku.


Mataku sangat berat sekali karena sembab.


Aku mengambil kerudung, lalu mencari Naufal ke bawah.


Di tengah-tengah anak tangga, aku melihat Naufal baru masuk ke dalam rumah dengan membawa empat kantung kresek sepertinya.


"Mas Naufal dari mana?" gerutuku dalam hati.


Mas Naufal melihatku tengah berdiri. Lalu dia menghampiriku.


"Sayang, udah bangun," kata Naufal.


"Ya Allah mata kamu sembab gini," kata Naufal sambil memeperhatikan mata sembabku.


"Kamu habis dari mana?" tanyaku pelan.


"Aku habis ngambil ini di depan," jawab Naufal.


"Ini itu kesukaan kamu, ada coffee latte, puding, roti maryam," ucap Naufal.


"Kamu banyak banget belinya," kataku heran.


"Iya Sayang sengaja aku beli banyak, soalnya buat ngembaliin mood baik kamu lagi, jadi aku beli ini kesukaan kamu, kamu nggak suka coklat kan, terus kamu pernah cerita kalo kamu suka coffee latte, ya udah biasanya cewek kan mood nya balik lagi karena nyemil," kata Naufal yang pengertian.


"Ini sekalian buat Bi Sarah, Pak Rusdi sama Pak Joko," kata Naufal.


"Subhanallah Naufal, kamu ngerti banget, kamu baik banget Mas, beruntung sekali aku," gumamku dalam hati.


Aku hanya dia terkagum-kagum memandangnya.


"Ya udah kamu balik ke kamar, mandi dulu," tutur Naufal.


"Kamu udah mandi? Udah sholat?" tanyaku.


"Udah tadi waktu kamu masih tidur," jawab Naufal.


"Udah sana segera mandi, kamu nanti makan nya pengen di bawah apa di kamar?" tanya Naufal.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Terus maunya dimana Sayang?" tanya nya dengan manja.


"Aku mau di gazebo kamu di belakang rumah," jawabku.


"Ya udah, nanti aku tunggu depan TV ya, kamu mandi dulu,"


Aku hanya menganggukkan kepalaku.


"Kenapa sih Naufal selalu punya banyak cara buat aku seneng lagi," kataku dalam hati.


Dengan segera aku bergegas untuk mandi.


Setelah mandi, dengan hati yang tidak sedih seperti tadi, aku menghampiri Naufal di bawah.


Sepertinya Naufal mendengar tapak kaki ku di alas tangga.

__ADS_1


Dia menoleh padaku.


"Udah selesai Sayang?" tanyanya.


"Iya," jawabku singkat.


Dia bangun dari sofa dan menarik tanganku untuk ke halaman belakang rumah.


***(di Halaman Belakang)


Kami duduk dalam satu bean bag (bantal besar) bernuansa tosca.


Disana sudah tertata makanan dan cemilan yang dibeli Naufal.


"Sayang, dimakan, ini kalo mau minum favorit kamu," ucap Naufal sambil mengambil coffe latte.


Aku meneguk coffe latte bersama Naufal.


"Enak kan?" tanyaku.


"Enak banget Gi, pantesan kamu suka," jawab Naufal lali meneguknya kembali.


"Tadi punya Bi Sarah sama yang lainnya udah kamu kasihkan?" tanyaku lagi.


"Udah Sayang, tadi aku kasih ke Bi Sarah waktu di dapur," jawabnya.


"Ini apa Mas?" tanyaku.


"Ini tuh sandwich enak banget, kamu harus cobain," ucap Naufal.


Dengan kata sandwich, aku teringat dengan Vela.


"Enggak Mas, aku nggak suka," ucapku.


"Tapi ini sandwichnya beda Sayang, ayo cobain," paksa Naufal.


"Mas ini pudingnya kayaknya enak," kataku sambil membuka sekotak puding.


Aku suapi Naufal sambil ku makan sendiri puding itu.


Satu per satu makanan ringan kami santap dengan nikmat.


Ku sandarkan kepalaku pada dada Naufal sambil melihat bintang-bintang yang terhambur di atas langit malam.


"Bagus banget Mas ternyata kalo malem disini, dari pada di balkon kamar kita," ucapku.


"Emang dulu sengaja desainnya gini Gi," kata Naufal.


"Mas, aku pengen punya satu ruangan, tapi atapnya kaca, jadi kalo waktu hujan aku bisa main hujan tanpa harus basah," kataku.


"Kamu mau?" tanya Naufal dengan serius.


"Pengen Mas bukan mau," jawabku.


"Sering-sering kita lakuin momen kayak gini Gi, biar awet, langgeng," tuturnya.


"Kamu sih di kamar mulu," ucap Naufal sambil menyentil hidungku.


"Habis gimana lagi, pulang kerja, capek banget," kataku.


"Meskipun nggak capek kamu mungkin dulu di rumah juga gitu, jarang keluar kamar," kata Naufal.


"Iiiih enggak ya, aku kalo di rumah, baur sama semuanya," kataku.


"Baur sama tetangga nggak?" ucap Naufal.


"Eeemmm.....Kalo itu sih, enggak Mas," jawabku.


"Tuh kan, makanya kalo disini di kamar mulu," kata Naufal.


"Sosialisasi itu penting Sayang," ucap Naufal.


"Ku beda sama kamu, kamu bisa ramah sama siapa aja, karena kamu udah terbiasa, kalo aku? Belum bisa aja," bantahku.


"Huummm susah sama orang yang kek gini," ceplos Naufal.


Aku membangungkan kepalaku dari dada Naufal lalu menatapnya.


"Susah? Berarti kamu susah hidup sama aku?" tanyaku.


"Bukan begitu Sayang, kalo introvet kaya kamu susah kan mau gini malu gitu malu, ya nggak?" tebaknya.


"Iya Mas," kataku yang kembali menyandarkan kepalaku pada dada Naufal.


"La iya makanya itu, tapi gak papa sih, rasaku tetep kok, gak berubah sama kamu Sayang," ucap Naufal sambil mengecup keningku.


Di pipiku terasa tetesan air yang jatuh.


"Mas, hujan ya?" tanyaku sambil merasakan tetesan air di telapak tanganku.


Naufal mengikutiku.


"Kayaknya iya Sayang," jawabnya.


"Masuk ayo Sayang," ucap Naufal sambil menutupi kepelaku dengan tangannya.


Kami masuk untuk berteduh di dalam rumah.


"Ya elah, padahal tadi ada bintang Mas, kok hujan sih," keluhku.


"Lain kali lagi Sayang kan bisa," kata Naufal.


"Huuuuuum, ya udah lah," kataku.


Kami berjalan kembali ke kamar.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2