
"Sini Nak, duduk sini," tuturnya.
Aku duduk di samping Naufal.
"Bi, tolong ambilkan minum sama cemilan," ucap Mama Feni pada pekerjanya di rumah.
"Hehehem, akhirnya kalian kesini juga, Papa sama Mama selalu mengharap kedatangan kalian Nak," ucap Mama Feni.
"Papas sama Mama tadi denger klakson kamu Nak, terus Papa nyuruh Mama turun, eh ternyata kamu," kata Papa Diki.
"Pa, Naufal kesini bawa berita bahagia buat Papa sama Mama," kata Naufal.
Mama Feni mendekat pada Naufal.
"Apa Nak??" tanyanya sangat penasaran.
"Gia hamil Ma, Pa," ucap Naufal dengan membelakkan matanya.
"Gia hamil??" tanya Mama Feni.
"Iya Ma," jawab Naufal.
"Alhamdulillah," kata Mama Feni langsung memelukku.
"Sejak kapan Nak?" tanyanya.
"Udah 3 minggu Ma, tadi Gia baru periksa sama Mas Naufal, jadi baru ketauan tadi pagi," jawabku.
Mama Feni meneteskan air matanya.
"Ya Allah, Alhamdulillah, Mama sangat bahagia Nak," ucap Mama Feni dengan air mata yang menetes di kedua pipinya.
"Alhamdulillah Nak," sahut Papa Diki.
"Kamu harus ekstra jagain Gia Fal," tutur Papa Diki.
"Pasti Pa," kata Naufal dengan tegas.
"Mama menunggunya Gi, akhirnya Allah kasih kamu sekarang, seneng banget Mama Gi," ucap Mama Feni.
Aku hanya tersenyum padanya.
Bibi yang bekerja di rumah Naufal mengantarkan jamuan untuk kami.
"Makasih Bi," ucap Mama Feni.
Lalu Bibi itu kembali pergi ke meninggalkan kami.
"Benar selama ini, Mama sangat mengharapkan seorang cucu dari kami, akhirnya aku bisa membuatnya mereka bahagia," gumamku dalam hati sambil mataku berkaca-kaca.
"Mama sama Papa kamu sudah tau Nak?" tanya Mama Feni.
"Sudah Ma, tadi pagi Gia video call sama Papa sama Mama," jawabku.
"Mereka pasti juga sangat histeris seneng banget kan Nak?" tebak Mama Feni.
"Eehmmmm.....iya Ma," jawabku.
"Setelah ini, kamu harus lebih memperhatikan istrimu Nak," tutur Mama Feni pada Naufal.
"Pastilah Ma, Naufal kan selalu memperhatikan Gia, ngejagain menantu kesayangan Mama ini," ejek Naufal.
Aku menyenggol pelan lengannya.
"Apa sih kamu Mas," kataku malu-malu.
Mama Feni dan Papa Diki menahan tawanya.
"Sudah sudah, habis ini kita makan dulu Nak, kamu nginep nggak disini?" tanya Mama Feni.
"Enggak Ma, besok Naufal sama Gia harus kerja," jawab Naufal.
"Kalo hamil tua, Gia ambil cuti aja Fal," tutur Mama Feni.
"Iya Ma, hamil muda aja, Naufal udah khawatir kalo dia kenapa-napa waktu Naufal gak ada di sampingnya," jawab Naufal.
"Nanti kalo udah 7bulan Mama nanti sering-sering ke rumah kamu, atau Gia aja yang kesini," tawar Mama Feni.
"Hehehemm, Mas Naufal maunya gimana Ma Gia nurut aja," jawabku.
"Ya nanti di rundingin Ma," sahut Naufal.
"Ya udah ayo makan dulu," ajak Mama Feni.
Kami semua berjalan menuju Ruang Makan.
***(di Ruang Makan)
Naufal menarik kursi untuk memeprhatikanku duduk.
Mama Feni dan Papa Diki hanya melihat tingkah manis kami.
"Aaggheeem," deheman Mama Feni.
"Mama apa sih," ucap Naufal malu-malu.
"Gitu ya Pa kalo pacaran setelah nikah, hehehem," ucap Mama Feni sambil menertawakanku dan Naufal.
"Iya Ma, kayak kita dulu," sahut Papa Diki.
Aku tersipu malu dengan ejekan Mama Feni.
"Nanti Gia malu Ma," rengek Naufal.
Aku menepuk pahanya untuk memberi kode pada Naufal.
"Apa sih Mas," ucapku lirih.
"Hehehe, iya Gia kan pemalu Nak, dulu aja apa lagi ya Pa waktu kita ke rumahnya," kata Mama Feni menceritakan masa lalu.
"Maa....jangan di terusin dia malu nanti," ucap Naufal yang tau bahwa aku tengah malu.
"Hehehe," sahut Papa Diki.
"Ya udah makan-makan," ajak Mama Feni.
"Ini Gi, menu spesial Mama, kornet enak banget," kata Mama Feni sambil mengambilkanku kornet.
"Eehhmm.....Iya Ma," ucapku.
Beberapa menit kemudian, setelah makan, Papa Diki mengajak kami untuk sholat dhuhur bersama.
"Sholat sama-sama ya, tadi udah adzan, habis sholat, kamu ajak istrimu istirahat Fal, kasihan dari tadi sampek sini belum istirahat, malah di introgasi sama Mama sama Papa," tutur Papa Diki.
"Iya Pa," jawab Naufal.
Segera kami bergantian mengambil air wudhu, lalu melaksanakan sholat dhuhur berjama'ah yang diimami dengan Papa Diki.
Setelah sholat, Naufal mengajakku ke kamarnya yang dulu sebelum menikah denganku.
***(di Kamar Naufal)
Kamar yang sangat rapi dan bersih. Kamar yang jika kita masuk maka kita akan merasa aman bahkan nyaman disini, tidak ada benda ataupun desain bernuansa childhood, yaaah seperti orangnya yang sangat dewasa.
"Rapi banget Mas, padahal udah nggak pernah kamu pake tidur," kataku sambil duduk di sofa berwarna maroon.
"Mama emang gitu Gi, meskipun udah nggak di pake, tapi tetep aja di rapi in di bersihin, katanya masih keinget aku Gi," ucap Naufal.
"Kasihan Mama Mas," ucapku.
"Ya gimana lagi, kan udah punya keluarga sendiri, apalagi bakalan punya baby," kata Naufal sambil mengelus perutku kembali.
__ADS_1
"Mama kamu pasti juga gitu apalagi Papa kamu yang deket banget sama kamu," ucap Naufals yang duduk menghadapku.
"Huusstt, jangan bahas itu, sedih aku nanti," tuturku.
"Hehehem,"
"Ya udah sekarang rebahan gih sana, nanti capek kamu," tutur Naufal.
Naufal menggandengku berjalan ke ranjang.
"Aduuuh, enaknya cuti sehari," kata Naufal sambil merebahkan badannya di sampingku.
Naufal tak kunjung tidur, malah mengelus-elus perutku ini.
"Nggak sabar kalo lahiran Gi," ucapnya dengan gemes.
"Sabar dong, ini aja masih 3 minggu," ucapku.
"Nanti kamu pengen lahiran di mana Sayang?" tanya Naufal.
"Eeehmmm.......terserah kamu aja Mas, aku nurut," jawabku.
"Meskipun sebenarnya aku ingin sekali lahiran di kotaku saja, tapi bagaimana lagi, aku harus menurut sama suamiku," gumamku dalam hati.
"Gimana kalo lahirannya di sana aja Sayang, di Mama kamu," ucapnya.
"Kok Naufal tau apa yang sebenarnya aku mau tapi tak mampu untuk ku utarakan," kataku dalam hati.
"Jangan Mas, nanti kamu kerjanya kejauhan, gak papa disini aja," bantahku.
"Nggak papa Sayang, kalo masalah kerja bisa di atur, biasanya Sayang kalo lahiran itu, harus di temenin sama Mamanya juga, pasti kamu juga pengen di temenin Mama kamu," ucapnya.
"Tapi Mas, beneran gak papa? Nanti aku kasihan kamu, kecapek an," kataku.
"Udah gak papa Sayang," ucap Naufal yang tetap kekeh memaksaku lahiran di kota asalku saja.
"Ya udah terserah kamu Mas," ucapku mneyerah.
"Bobok ya Sayang," tuturnya sambil mengelus-elus keningku.
Aku membalikkan badanku untuk menghadapnya.
Lalu kupejamkan mataku, akhirnya kami berdua tertidur.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dua jam kemudian, akhirnya kami terbangun.
"Uuughhhmm,"
Ku buka kedua mataku, ruangan yang kulihat berbeda dari biasanya, aku baru sadar bahwa sekarang aku tidak sedang ada di rumah.
Saat aku sudah terbangun, tak lama kemudian Naufal ikut terbangun.
Dia langsung memelukku.
"Uuughhhmmm, bawaannya pengen lengket sama kamu terus Sayang," rengeknya sambil mata tetap masih terpejam.
"Lebay banget deh kamu Mas, hehehe," ejekku.
"Mandi sana Mas, habis ini kita pulang," tuturku.
"Bentar Sayang, masih pengen kayak gini terus," rengeknya lagi dan lagi.
Tiba-tiba ponselku berdering, segera Naufal mengambilkan ponselku di samping mejanya.
"Siapa Mas?" tanyaku.
"Susi," jawabnya.
Ternyata video call dari Susi.
"Assalamu'alaikum, Giaaaa," salamnya dengan sangat sumringah.
"Wa'alaikumsalam, tumben kayaknya seneng banget nih kamu," kataku.
"Eh eh bentar, kamu dimana ini Gi?? Di Kamar ya??" tanyanya.
"Iya ini di kamar sama Mas Naufal," jawabku dengan polos.
"Ya udah Gi maaf maaf, nanti aja ya, maaf ganggu," kata Susi dengan sungkin.
"Apaan sih Si, gak papa kok, gak ganggu juga kamu," tepisku.
"Sumpah aku nggak enak sama suami kamu," kata Susi yang lirih tetapi tetap terdengar oleh Naufal.
"Gak papa Si," sahut Naufal.
"Tuh kan gak papa Si," kataku.
"Kamu kenapa?? Hmm? Kok kayaknya bahagia banget, habis dapet apa dari Pak Bastian," ejekku.
"Iiiih apa sih Gi, enggak lah," ucapnya.
"Jangan keras-keras nanti suamimu denger," kata Susi tanpa suara dan hanya menggerakkan bibirnya saja.
"Oke oke, hehehe," jawabku yang paham dengan gerakan bibir Susi.
"Nanti aja ya Gi ceritanya, aku malu," rengek Susi.
"Hehehe, ya udah iya, eh Si aku punya berita bahagiiaaaaaaaaa banget," ucapku.
"Apa Gi??" tanyanya dengan nada datar.
"Bentar lagi kamu punya keponakan," jawabku.
"Whatt???!!! Apa Gi??? Aku punya ponakan, dari siapa??? Dari kamu??? Kamu lagi hamil???" tanyanya dengan histeris.
"Iya, he'eh, aku hamil Si," ucapku.
"Ya Allah, Alhamdulillah, udah berapa bulan?" tanya Susi yang juga ikut senang.
"Baru 3 minggu Si," jawabku.
"Mas mandi gih buruan, nanti gantian, keburu malem," tuturku.
"Iya iya Sayang," ucapnya dan beranjak dari kasur menuju ke kamar mandi.
"Kamu taunya kapan Gi?" tanya Susi dari layar ponselku.
"Baru aja tadi pagi Si, ini kan Anniversary ku sama Mas Naufal, berarti rejeki banget Si," kataku.
"Oiya ya, ini kan tanggal pernikahan kamu," ucap Susi.
"Terus ini kamu lagi dimana?" tanya Susi.
"Di rumah Mama Feni Si," jawabku.
__ADS_1
"Keluarga kamu udah tau Gi? Pasti Papa kamu seneng banget," tanya Susi lagi.
"Udah Si, tadi pagi sempet video call, Papa seneng banget Si, apa lagi ini tadi Mama Feni sampe nangis," jawabku.
"Eh tadi sebenarnya kamu mau ngomong apa sih Si, mumpung Mas Naufal lagi mandi," paksaku.
"Aku mau kasih kabar baik buat kamu, tapi aku malu tadi ada suami kamu," ucap Susi.
"Kabar baik??? Tentang kamu sama Pak Bastian??" tanyaku.
"Iya Gi, hehehem, aku mau tunangan sama Pak Bastian," jawabnya.
"Serius kamu???!! Sumpah??? Kapan Si?" tanyaku.
"Tiga hari lagi Gi," jawabnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Eeeciiiyee, yang mau halal," ejekku.
"Jangan gitu ah Gi, malu tau," ucap Susi.
"Padahal aku baru kenal Pak Bastian beberapa bulan, tapi kayak udah lama aja Gi, meskipun nih ya kita komunikasinya cuman by phone tapi nyambung banget, orangnya dewasa bangett Gi," kata Susi tak henti-hentinya sambil tersenyum.
"Terus gimana kamu kenalinnya ke Mama kamu?" tanyaku.
"Awalnya aku cerita sama Mama, terus satu minggu kemudian, Pak Bastian beserta keluarga mengkhitbahku Gi," jawabnya.
"Ya Allah Si, huuumm akhirnya," ucapku sambil mataku berkaca-kaca.
"Iiiiih ngapain kamu gitu??? Ini kan berita bahagia Gi," ejeknya.
"Ya seneng aja Si, akhirnya sahabatku sebentar lagi menikah, gak kebayang dalam satu hari aku dapet dua kabar baik," kataku.
"Emang Pak Bastian gak ada bilang apa-apa ya sama Naufal Gi?" tanyanya.
"Kayaknya gak ada deh Si, tapi padahal Pak Bastian selalu cerita loh," jawabku.
"Hehehem, ya begitulah," kata Susi.
Saat Naufal keluar dari kamar mandi, dia langsung menyuruhku untuk mandi.
"Sayang, mandi gih," perintahnya.
"Iya Mas," jawabku.
"Si maaf ya, aku tutup dulu, udah dis suruh mandi," kataku.
"Iya Gi, mandi sana," kata Susi.
"Ya udah Gi, byee," kata Susi langsung menutup video callnya.
Segera ku letakkan ponselku lalu pergi mandi.
.
.
.
.
Beberapa menit setelah mandi, kami melaksanakan sholat berdua.
Setelah sholat dan bersiap-siap untuk pulang, kami bersiap-siap dan berberes.
.
.
.
Tak lama kemudian kami turun ke bawah berpamitan untuk pulang.
Tampak Mama Feni dan Papa Diki sedang duduk-duduk di taman belakang.
***(di Taman Belakang)
"Ma, Naufal mau pulang," ucap Naufal.
"Haduh Nak, kok cepet banget, Mama masih rindu," kata Mama Feni.
"Keburu malem Ma," ucap Naufal.
"Ya udah hati-hati ya," sahut Papa Diki.
"Gia jaga kesehatan ya," tutur Mama Feni.
"Iya Ma," jawabku sambil tersenyum padanya.
Kami menyalami tangan keduanya, lalu kami di antar di halaman depan rumah.
"Naufal sama Gia pulang ya Ma, Assalamu'alaikum," ucap salamku dan Naufal.
"Iya Nak, Wa'alaikumsalam, hati-hati jangan ngebut," jawab mereka.
Kami segera masuk dalam mobil, lalu melajukan mobilku untuk pulang.
Di tengah perjalanan, kami menyempatkan untuk sholat terlebih dahulu.
Dua jam kemudian, akhirnya kami sampai di rumah. Jalanan sangat macet.
***(di Rumah)
Mobil langsung di masukkan ke dalam garasi, segera kami turun dari mobil dan membuka pintu Rumah.
"Assalamu'alaikum," salam kami, tetapi tidak ada jawaban sama sekali.
"Udah pada tidur mungkin Gi," ucap Naufal.
"Kayaknya Mas," ucapku.
Kami langsung berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamar.
***(Di Kamar)
Segera aku cuci muka lalu mengganti baju tidur.
Setelah selesai cuci muka, aku duduk di sofa sambil mendengarkan musik romance menggunakan earphone putih.
Sedangkan Naufal sepertinya lagi bersih-bersih di kamar mandi.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, Naufal selesai keluar dari kamar mandi, dia memanggil-manggil ku, tapi aku tidak mendengar sama sekali karena terlalu hanyut dalam musik romantis itu.
Naufal menghampiriku dan berdiri di sampingku.
Aku kaget melihatnya, aku beranjak dari sofa dan berdiri di depannya.
Naufal memandangku lama memberi isyarat bahwa ia ingin berbicara padaku.
Ku lepas satu earphone dari telingaku dan aku ingin bertanya padanya, tapi dia malah membungkam bibirku dengan jari telunjuknya, dengan cekatan Naufal mengambil satu earphone lalu di pakai di telinga kirinya.
Aku mengernyitkan kedua alisku, tetapi Naufal malah memberi senyuman padaku lalu memakaikan earphone yang ku lepas tadi di telinga kananku, jadi satu earphone untukku, satu lagi untuk Naufal.
Kami sangat menikmati alunan musik romance itu yang kebetulan Naufal sepertinya juga suka, Naufal mulai mendekat dan lebih dekat padaku, sampai-sampai jarak kami hanya satu centi saja.
__ADS_1
Bersambungg........
Nantikan moment baperrrrr next episode kakak😁🖤🙏