
DiDan sekarang tidak ada jarak diantara kami.
Wajah Naufal semakin mendekat padaku.
Lalu dia mengecup keningku lama, tidak hanya itu, Naufal mencium setiap sisi di wajahku.
.
.
.
.
.
Naufal tersenyum seperti orang yang sama sekali tidak bersalah, sedangkan aku tersipu malu.
"Udah malem, kita tidur ya," ajakku.
Naufal mengangkat daguku. Lalu mengelus-elus rambutku.
"Kamu kenapa lihatin aku kayak gitu," tanyaku.
"Gemes kalo lihat kamu malu-malu kek gitu," ejeknya.
"Apa sih," kataku sambil ku tabok dadanya lalu aku merebahkan tubuhku.
Naufal gemas padaku, lalu menyusulku.
"Udah kamu tidur, jangan lihatin aku terus," kataku.
Mata Naufal tetap menatapku sambil tersenyum-senyum padaku.
Ku tutup kedua matanya dengan tanganku.
"Aduh Sayang, sakit tau yang kamu tabok tadi," keluhnya.
"Apaan, orang udah tadi sakitnya sekarang, dasar ya kamu," kataku sambil mencubit kedua pipinya.
"Aaaawww, aku nggak terima Sayang, kamu harus tanggung jawab," kata Naufal dengan penuh canda.
"Cuman gitu doang padahal, apa sakitnya," kataku membela diri.
"Cium dulu, ini," kata Naufal sambil mengetuk pipi kanannya dengan jari telunjuknya.
Aku tersenyum malu-malu, lalu ku turuti keinginannya.
"Udah," ucapku.
"Satunya lagi dong, kan tadi dua kamu cubitnya," kata Naufal.
"Ya Allah, perhitungan banget Mas Mas," ejekku.
"Hahahah, biarin sama istri sendiri kok," ucap Naufal.
"Huuuu," ejekku sambil mencium pipinya.
"Makin Sayang aku sama istriku ini," ucap Naufal sambil menarik tubuhku dan memeluknya.
"Mas, Susi sama Pak Bastian mau tunangan," kataku.
"Haaa??? Serius kamu Gi??!!" tanyanya dengan panik.
"He'em, tadi Susi bilang sama aku," kataku.
"Kok Bastian gaka ada cerita sama aku sama sekali Sayang," ucapnya heran.
"Ya kan nggak semua harus di ceritain ke kamu Mas," ucapku.
"Kayaknya serius beneran nih Bastian, hahaha, tumben gak bilang sama aku, bentar aku telepon dia Sayang," kata Naufal lalu meraih ponselnya di meja.
Tut...tut....tut. Naufal melaudspeaker teleponnya dengan Pak Bastian.
"Assalamu'alaikum," salam Naufal dengan lembut.
"Wa'alaikumsalam, kenapa Lo? Kesambet apa Lo jadi gitu," ejek Pak Bastian.
"Wahahah, ah Lo Bas, gak bilang-bilang sama Gue," kata Naufal menggoda Pak Bastian.
"Lo sehat kan Fal??" tanya Pak Bastian.
Aku menahan tawa dengan dua sahabat ini.
"Lo kok gitu sih Bas, gak bilang-bilang sama Gue, rahasia-rahasia an sama Gue," goda Naufal.
"Bentar bentar, sebenarnya maksud Lo telepon Gue malem-malem apa sih, tumben banget," tanya Pak Bastian yang semakin heran.
"Hahahahhaah, Bas Bas, gaya Lo aja, Lo mau tunangan kan sama Susi, ya kan " ejek Naufal.
"Kata siapa?? Tau dari mana Lo???" tanya Pak Bastian dengan gugup.
"Aaahh udah ketauan juga masih gak mau ngaku juga," paksa Naufal.
"Lo gitu Bas sama Gue," ucap Naufal pura-pura kesal.
"Bukan gitu Fal, Lo baper banget sih, Gue sengaja gak bilang sama Lo karena Gue mau kasih surprise, nanti kalo misal tunangan, Lo pasti kaget kan waktu nerima undangan tunangan Gue sama Susi, gitu rencana Gue, eeeeh malah ketauan duluan," kata Pak Bastian.
"Wahahahaha, beneran kayak gitu??" tanya Naufal lagi.
"Iya lah, emang Lo tau dari mana??" tanya Pak Bastian balik.
"Dari istri Gue, kan istri Gue sahabat CALON istri Lo," ejek Naufal yang memojokkan Pak Bastian kali ini.
"Hahahaha, gak pake nada gitu juga kali kalo ngomong Fal," kata Pak Bastian sambil tertawa.
"Lagian Lo sih, udahd deket sama Susi gak pernah cerita apa-apa sama Gue, Lo juga gak ada tanda-tanda chatan sama Susi, kencan sama Susi," kata Naufal berterus terang.
"Gue kan taarufan sama Susi, gak perlu kencan, gak perlu saling kasih kabar, kayak Lo dulu sama Gia, yeeee," ujar Pak Bastian.
"Duuuuhh, best best best, Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya Bastian bakalan nikah juga," ucap Naufal sambil menahan tawanya.
"Huusstt, gak usah ngetawain Gue Lo, nanti kedengeran istri Lo," tutur Pak Bastian.
"Orang dari tadi Gia disamping Gue kok, yeeee, biasa lah suami istri ya gini," kata Naufal.
"Dia ngedengerin telepon kita dong Fal," ucap Pak Bastian agak lirih.
"Ya iyalah, dari tadi, nempel terus nih, hahahah," kata Naufal.
"Nanti Lo udah gak bisa ejekin Gue gini, nikah sana Bas biar gak sendirian, ada yang nyiapin makan, ada yang di lihat tiap pagi, lihat aja, Lo udah gak bisa bilang kayak gitu Fal," kata Pak Bastian membela diri.
"Wahahahahhaha, tuh siapa coba yang baper, Lo sakit hati selama ini Gue bilang gitu," ucap Naufal sambil memegang perutnya karena tertawa terpingkal-pingkal.
"Iddihhh Gue gak baperan kali, ya cuman rasa iri pikiran kapan ya Gue bisa kayak Naufal pasti ada, manusiawi Bro," bela Pak Bastian.
"Lo mikir gitu Bas, wahaahhaa, aduh aduh perut Gue sampe sakit," keluh Naufal.
"Ya udah Gue tidur dulu ya, selamat buat Lo, seneng Gue Bas," kata Naufal.
"Hahahah, bisa aja Lo, ya udah sana tidur, bye," ucap Pak Bastian lalu menutup telepon dari Naufal.
"Hahhaaha, aduh Sayang Sayang, Bastian gokil banget, gerak cepet banget dia, padahal baru kenal beberapa bulan loh, udah yakin dia," kata Naufal.
__ADS_1
"Masih mending Susi sama Pak Bastian masih sempat saling mengenal Mas, dan juga udah kenal beberapa bulan, apa kabar dengan kita???" kataku sambil menaikkan kedua alisku.
"Hehehe angkat kepala kamu," perintah Naufal.
"Mau apa??" tanyaku heran.
"Udah angkat aja," ucap Naufal.
Kua angkat kepalaku, Lalu Naufal mencium keningku dan lengannya menjadi bantal untukku.
"Iya ya, kita malah kenal sehari, chat gak pernah, cuman waktu fitting baju, udah itu doang," kata Naufal.
"La iya Mas, terus kenapa tuh kamu bisa yakin secepat itu hayo lo," kataku.
"Kan dijodohin Gi, ya udah yakin yakin aja, lagian kamu juga pilihan Papa aku, gak mungkin orang tua ngasih yang cuma cuma sama anaknya, maka nya aku bisa yakin, apalagi setelah aku tau kalo orangnya itu kamu," ucapnya.
"Ah masak???" godaku.
"Jangan nyalahin aku loh Sayang, kalo aku udah gemes sama kamu, terus aku," kata Naufal terpotong olehku.
"Heheheh, nggak nggak, aku becanda Mas," ujarku.
"Huuufftt syukurlah," gumamku dalam hati.
"Gak sabar Gi lihat Bastian nikah," kata Naufal sambil melihat langit-langit atap.
"Aku juga nggak sabar Mas lihat Susi nikah, apalagi aku meskipun jadi sahabat Susi tapi gak pernah tau Susi deket sama siapa dan Susi juga sepertinya anti sama hal hal kayak gitu, sebenarnya sama kayak aku, tapi cuman gara-gara ada itu," kataku.
"Itu apa??? Kevin??" tanya Naufal.
"Hehehm, iya Mas," jawabku sedikit takut padanya.
"Banyak ya di kampus kamu dosen suka sama mahasiswanya?" tanya Naufal sambil mengernyitkan kedua alis tebalnya.
"Kok kamu tanyanya gitu?" tanyaku balik.
"Ya cuman pengen tau aja Gi," ucapnya singkat.
"Ya ada, apa lagi di kampus aku dulu dosennya masih banyak yang masih muda," kataku.
"Pantesan," jawabnya singkat.
"Emang seorang Dokter gak pernah naksir sama koasnya?" tanyaku balik dengan lembut.
Naufal bingung ingin menjawab apa.
"Aagheemm, ya.......ya ada, ada kok," jawabnya gugup.
"Eemmm," ucapku.
"Tapi yang pasti bukan aku loh Sayang," ucapnya membela diri.
"Kan aku gak bilang kalo itu kamu," kataku.
"Udah ah Sayang, ngapain bahas ginian," tepis Naufal yang sepertinya kalah denganku.
"Oh iya, ini penting buat kamu," kata Naufal.
"Apa??" tanyaku.
"Mulai besok kamu nggak usah masakin aku, ya?" tuturnya.
"Kenapa Mas?? Kamu udah nggak pengen makan masakan aku," ucapku.
"Nggak Sayang, bukan gitu, aku nggak mau kamu kecapek an, aku takut sama keadan kamu," kata Naufal yang semakin over protektif padaku.
"Aku sehat aja, kan kemaren Dokternya juga bilang kalo rahimku sehat sehat aja," bantahku.
"Hussttt, Sayang......nurut ya," rayu Naufal.
"Ya, sampe kamu lahiran mungkin," jawab Naufal.
"Yaaaahhh, lama dong Mas," keluhku.
"Ini demi kita Sayang," tuturnya lagi.
"Ya udah iya," kataku meskipun sebenarnya sangat berat sekali.
"Sekarang kamu bobok, besok kita ke Supermarket buat belanja, atau biar Bibi aja Sayang yang belanja," ujar Naufal sambil mengelus keningku.
"Gak gak gak, kita aja Mas, heheh, ya," rayuku.
"Sekalian besok beli susu buat kamu," tuturnya.
"He'em," jawabku sambil tersenyum padanya.
Naufal mengelus-elus keningku sampai aku tertidur.
.
.
.
.
.
.
.
Adzan shubuh berkumandang,segera aku membangunkan Naufal.
"Mas, sholat Mas," kataku.
"Uuugghm,"
"Mas.....bangun, shubuh loh ini," kataku.
"Iya Gi, hooaam," ucap Naufal langsung beranjak dari ranjang dan berjalan mengambil air wudhu.
Setelah Naufal keluar dari kamar mandi, segera aku menyusulnya untuk mengambil air wudhu.
Setelah berwudhu, kami melaksanakan sholat shubuh.
.
.
.
Keesokan harinya.
Naufal yang bangun mendahuluiku.
"Hoooaammm,"
"Uuughhhm, Sayang......Sayang, bangun," ucap Naufal.
Ku buka pelan kedua mataku.
"Uuughhhh, udah pagi Mas?" tanyaku.
__ADS_1
"Udah," jawab Naufal yang beranjak dari kasur.
"Eh eh eh kamu mau kemana?" tanyaku sambil menahan tangannya.
"Nyiapain air hangat buat kamu," jawabnya dengan rambutnya yang masih berantakan.
"Nggak usah Mas, aku bisa sendiri," kataku.
"Kamu lagi hamil Sayang," kata Naufal.
"Mas, aku tau aku hamil, tapi nggak semua pekerjaan aku harus kamu yang gantiin, selagi aku masih mampu, gak papa kan Mas, " kataku.
"Ya, pliiisss??" rayuku.
"Ya udah iya, tapi kalo kamu ngerasa kecapek an meskipun itu dikit banget, udah gak usah di lanjutin kamu bilang sama aku," tuturnya.
"He'em, pasti," kataku untuk meyakinkan Naufal.
"Udah kamu duduk manis disini, biar aku siapin semuanya," kataku lalu beranjak dari kamar mandi.
Naufal menuruti apa kataku.
Setelah ku siapkan semua air hangat untuknya, Naufal langsung menuju ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, setelah Naufal mandi, dan bergantian denganku.
.
.
.
.
.
Setelah aku selesai mandi, dan kami bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Ku oleskan lip tint di bibirku.
"Sayang, udah?" tanya Naufal yang ada di ruang ganti baju.
"Ini udah hampir selesai," jawabku.
Naufal keluar dari pintu ruang ganti baju.
"Ayo turun Sayang," tuturnya.
Segera kami keluar dari kamar, dan turun ke Ruang Makan.
***(di Ruang Makan)
Satu per satu penghuni rumah berkumpul di Ruang Tamu.
"Pagi Mas Naufal, Mbak Gia," sapa Bi Sarah.
"Pagi Bi," jawab kami.
"Monggo Mas Mbak, duduk sini monggo," kata Bi Sarah mempersilahkan kami untuk duduk.
"Bi, mulai Gia hamil sampai nanti lahiran, Gia nggak di bolehi sama Naufal untuk masak dulu ya," kata Naufal.
"Oh iya Mas, lebih baik begitu, nanti takutnya Mbak Gia kecapek an," ucap Bi Sarah.
"Tuh Sayang dengerin, Bi Sarah aja ngerti," ucap Naufal lirih.
"Ini nih Bi Gia sempet ngeyel sama Naufal, kan Naufal khawatir Bi, apalagi ini baru pertama kalinya," kata Naufal.
"Hehehe, benar Mas Naufal Mbak Gia, takutnya nanti kenapa-napa," tutur Bi Sarah.
"Hehehem, iya Bi," jawabku sambil tersenyum padanya.
"Udah, ayo dimakan," sahut Naufal.
"Iya Pak," jawab mereka.
Langsung kami menyantap hidangan sarapan pagi yang berjejer rapi di alas meja, dari ayam panggang sampai semur ayam.
"Uuummm enak banget Bi ayam panggangnya, Bibi sendiri yang buat ini?" tanya Naufal.
"Iya Mas," jawab Bi Sarah.
"Sumpah enak banget Bi," kata Naufal.
"Aku juga bisa kali masak seenak itu," bisikku di telinga Naufal.
Tiba-tiba semua pasang mata memandang ke arah kami.
Krik krik krik.
Tangan yang semula bergerang memegang sendok sekarang terhenti melihat kami.
Aku sangat malu, apa iya mereka mendengar bisikanku pada Naufal.
"Aduuuh, aku tengsin banget, masak mereka denger sih," gumamku dalam hati.
"Aagheemm, ayo di lanjut makannya," ucap Naufal yang sepertinya tau aku sangat malu.
Beberapa menit setelah selesai sarapan, aku berpamitan dengan Bi Sarah, sedangkan Naufal sudah menungguku di dalam mobil yang sudah terparkir di halaman depan.
"Bi, Gia berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum," pamitku.
"Iya Mbak, Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah sambil membereskan piring di meja.
Aku berjalan menyusul Naufal di dalam mobil, sesekali Naufal menyalakan klakson mobilnya, lalu menancap gas mobilnya keluar dari gerbang rumah.
Di dalam perjalanan Naufal terus tertawa.
"Kamu dari tadi ketawa kenapa?? Pasti kamu ngetawain aku kan," tebakku.
"Hahaha, Ya ampun Sayang, tadi kamu bisa setengsin itu sih, terus tiba-tiba pada diem semua Gi," kata Naufal.
"Jangan di ketawain dong Mas, emang tadi mereka denger ya?" tanyaku sambil mengernyitkan kedua alisku.
"Enggak Sayang, cuman mungkin mereka tadi lihat kelakuan mesra kamu sama aku, hahahah," kata Naufal sambil tetap tertawa.
"Tau ah kamu gitu ngetawain aku terus," kataku sambil menepuk lengannya dengan pelan.
"Hahahaha, love you t," kata Naufal.
"Hussst udah, pasti kamu mau bilang love you too kan," kataku sambil membungkam mulutnya.
"Tau aja sih Sayang, kan emang peraturan nya udah gitu," ucap Naufal yang semakin membuatku kesal.
"Fokus nyetir aja, nggak usah ketawa ketawa kayak gitu," tuturku.
"Iya iya Dokter Gia, maaf maaf," kata Naufal.
"Emang ya kamu Mas, sumpah Astaghfirullah, sabar Ya Allah," kataku sambil menahan amarah.
"Loh apa sih Sayang, aku salah apa?" tanya Naufal sambil menahan tawanya.
"Udah fokus nyetir aja Mas," tuturku.
__ADS_1
Bersambungg......