
Kami berjalan akan masuk ke dalam mobil.
“Yeeaay anak Papa gitu loh pasti menang,” ucap Naufal.
“Anak aku juga kali Mas,” sahutku.
“Iya iya Sayang kan aku setengah kamu setengah jadi fair,”
kata Naufal.
Aku tersenyum pada mereka.
Setelah kami semua masuk ke dalam mobil dan mobil melaju
kembali, Naufal menawari Abay sebuah hadiah atas kemenangan yang di raihnya hari ini.
“Abay mau minta apa?” tanya Naufal.
“Minta apa?? Bua apa Pa?” tanya Abay balik.
“Kan Abay juara 2, jadi Abay mau minta hadiah apa dari
Papa sama Mama?” tanya Naufal lagi.
“Ooh itu, Abay mau minta apa ya…….terserah Papa sama Mama aja mau kasih Abay apa,” jawab Abay.
“Loh ya terserah kamu Nak, ini kan hadiah jadi harus
kamu yang minta,” kata Naufal.
“Abay pengen punya sepeda Pa,” jawab Abay.
“Sepeda?? Sepeda pancal maksud kamu?” tanya Naufal.
“Iya Pa, kan lama banget Abay nggak pake sepeda,” kata Abay.
"Yakin kamu?" tanya Naufal lagi.
"Iya yakin Pa," jawab Abay.
“Oke nanti bakalan Papa beliin, kamu tunggu aja, tapi ingat,
Abay harus tau, Papa belikan sepeda untuk Abay sebuah hadiah buat Abay, jadi Abay harus tetap selalu ingat bahwa jika kita menginginkan sesuatu, maka harus berusaha, jadi nggak langsung minta langsung di belikan sama Papa,” tutur Naufal.
“Iya Pa, Abay kan selalu ingat itu,” jawab Abay.
“Kalo Abay nggak berusaha kan pasti Papa juga nggak kasih,” sambung Abay.
“Sekarang kita makan dulu aja di luar sama jalan-jalan, tapi
sholat dulu ya cari mushola,” kata Naufal.
“Iya Pa,” jawab Abay.
Mobil pun berbelok ke arah mushola di tepi jalan.
Kami bergegas turun dari mobil, dan melepas alas kaki kami, lalu masuk ke dalam mushola untuk kami sholat.
.
.
.
.
.
Setelah sholat, kami pun melanjutkan perjalanan menuju
Mall.
“Lama banget ya kita nggak pergi ke Mall,” ucap Naufal.
“Enggak, aku terakhir kemarin sama Susi sama Abay juga waktu kamu tinggal ke luar negeri,” kataku.
“Bukan ninggalin Sayang, kan kerja,” tepis Naufal.
“Iya maksud aku itu,” bela ku.
.
.
.
.
***(Di Mall)
Beberapa kemudian kami sampai di Mall, Naufal masih
mencari-cari tempat parkir karena sangat penuh dan ramai.
“Penuh banget Mas,” kataku.
“Iya Sayang, hari apa sih ini Mall nya rame banget,” sahut
Naufal.
“Kalo Mall ini tiap hari pasti rame Mas,” tepisku.
“Mas itu Mas ada satu,” kataku.
Mobil Naufal langsung terparkir ke satu sisi parkiran yang
kosong.
“Akhirnya dapet juga setelah nyari-nyari,” kataku.
Kami pun turun bertiga dari mobil.
Abay menggandeng tangannku dan kami berjalan beriringan, sedangkan Naufal berjalan di belakangku.
“Oh gitu ya, sekarang gandengannya sama Abay bukan sama aku,” bisik Naufal di telingaku agar tak diketahui oleh Abay.
Aku hanya tersenyum-senyum mendengar bisikan Naufal.
“Pa kita kemana ini?? Ke lantai berapa??” tanya Abay.
“Lantai paling atas aja, kita langsung ke foodcourtnya,”
jawab Naufal.
Kami pun masuk ke dalam lift untuk menuju lantai paling atas
di Mall itu.
Ting….tong…..
Kami keluar dari lift dan langsung mnecari mini café.
“Mas dimana?” tanyaku.
“Yang biasanya aja,” jawab Naufal.
Cafe hitam putih, yah cafe bernuansa vintage dan paling
banyak orang mampir ke cafe ini, ini cafe yang biasanya kita datangi jika berkunjung di Mall ini.
“Nggak rame Mas?? Ini Mall nya aja rame banget loh,” kataku.
“Lihat dulu aja Sayang,” jawab Naufal.
Akhirnya Cafe Hitam Putih tidak begitu banyak pembeli.
***(Cafe Hitam Putih))
Tempat duduk dengan 4 kursi dan 1 meja persegi panjang
dengan desain bambu di campur modern kami duduk i.
Seorang pelayan berpakaian jadul menghampiri kami.
“Malam, Silahkan memilih apa yang ingin anda pesan disini, disini kami menyediakan beberapa menu baru,……….,” pelayan itu menyebutkan beberapa makanan jadul seperti gethuk dan lainnya namun di sajikan dengan taste yang berbeda.
“Saya pesan semua menu baru nya aja ya Mbak,” kata Naufal.
Aku memesan gethuk lindri dan beberapa makanan tradisional
yang mengenyangkan.
“Jangan lupa nanti untuk menu barunya 5 paket ya Mbak di
bungkus jadi nggak dine in,” ucap Naufal.
“Baik Pak, terimakasih,” ucap Pelayan itu lalu pergi dengan
membawa buku menu dan secarik kertas yang sudah terisi oleh pesanan menu makanan baik minuman dari kami.
“5 paket buat orang di rumah ya Pa,” tebak Abay.
“Iya Bay, pasti mereka suka kalo di beliin makanan
tradisional kayak gini, kan lama banget mereka nggak makan beginian, ini tuh makanan jaman dulu banget, sekarang aja hampir nggak ada,” kata Naufal.
“Iya jaman Mama dulu masih ada, kamu jarang banget kan
nemuin makanan kayak gini, adanya mungkin di pasar tradisional, kamu aja nggak pernah kesana, hehehm” kataku.
“Hehehe iya Ma, tapi enak banget loh Ma, meskipun dari
singkong dari jagung, tapi tetep aja enak-enak banget, terus yang Mama pernah beliin buat Abay itu apa Ma namanya, yang warnanya ada putih terus merah, ada gula merah kentalnya sama parutan kelapa itu loh Ma,” ucap Abay.
“Apa?? Mama lupa,” kata ku.
__ADS_1
“Ya rasanya kenyal Ma,” sanggah Abay.
“Oh ini loh, cenil ya,” tebak Naufal.
“Nah itu Pa, itu Abay suka banget,” kata Abay.
“Lah kamu tadi nggak pesen cenil?” tanya Naufal.
“Pesen Pa, udah tadi,” jawab Abay.
Beberapa saat kemudian aneka makanan yang kita pesan pun
datang.
“Silahkan menikmati,” ucap Si Pelayan.
“Makasih Mbak,” kataku.
Kami segera menyantap makanan jadul yang lama banget dan
jarang banget kita makan.
.
.
.
.
.
Setelah makan, kami berjalan-jalan untuk membeli sesuatu
barang jika kami menginginkan.
“Belok sini bentar Mas,” ajakku untuk masuk ke butik yang
kulihat koleksi gamisnya lumayan banyak.
Aku memilih-milih gamis disana, Naufal dan Abay seperti
biasa menungguku sambil duduk-duduk.
2 set gamis sudah terkantung rapi, sekarang giliran Abay dan
Naufal.
Naufal mengajakku ke toko sepatu sport.
Sekarang ganti aku yang menunggunya, Naufal dan Abay asik
memilih-milih sepatu yang ingin mereka beli.
Akhirnya mereka menemukan 2 pasang sepatu sport dengan
ukuran berbeda namun dengan model dan warna yang sama, satu untuk Abay dan satu untuk Naufal.
“Ini cerita nya couple an Mas kamu sama Abay?” tanyaku.
“Iya, ini udah dapet yang kembaran, aku mau bayar dulu
bentar, kamu tunggu sini,” perintah Naufal.
Aku menunggunya bersama Abay.
Tak lama kemudian Naufal kembali dan membawa 2 kantung besar yang berisi sepatu mereka.
“Mas ke tempat daster-daster dulu ya, mau beliin Bibi,” kataku.
Naufal mengikuti setiap kemanapun aku meminta.
Belum sampai di toko yang menjual daster-daster, aku melihat sebuah kerudung segi empat yang bercorak Arabian.
“Mas lihat kerudungnya, cocok ya kalo di pake Mama Feni,”
kataku.
“Iya Sayang, bagus itu buat Mama, pasti Mama suka,” sambung Naufal.
Kami pun memutuskan untuk memebeli kerudung itu.
“Pasti Mama kamu suka banget ini Sayang, maka nya sekalian
aku beliin dua,” ucapku.
Kami berjalan-jalan kembali menuju toko daster.
Dan kami pun menemukan 1 daster warna hijau tua yang akan kami berikan untuk Bi Sarah.
“Udah Sayang?? Kamu mau kemana lagi ini??” tanya Naufal.
“Udah Mas ini aja, lagian udah jam setengah 9, udah malem,”
jawabku.
“Kalo aku nggak pengen Mas, tanya Abay barangkali mau,” kataku.
“Abay mau beli apa lagi??” tanya Naufal.
“Abay masih kenyang Pa, langsung pulang aja ya Pa,” ajak
Abay.
“Beneran ya ini udah nggak pengen apa-apa lagi?” tanya
Naufal untuk meyakinkan kami berdua.
“Iya Mas, beneran,” jawabku.
“Ya udah kalo nggak ada, langsung pulang aja kita,” ajak
Naufal.
Kami kembali berjalan menuju lift.
Hingga kami pun tiba di parkiran lantai 3, saat kami berjalan mendekati mobil kami, kebetulan sekali pemilik mobil yang terparkir di sebelah kami sedang memasukkan belanjaannya ke bagasi mobilnya.
Seorang gadis memanggilku dari arah mobil itu.
“Tante,” panggilnya.
Aku menoleh ke arahnya begitu juga Abay dan Naufal.
Aku berusaha mengingat-ingat wajah anak itu.
“Siapa ya?? Kok wajahnya nggak asing banget, kayaknya aku
pernah ketemu anak ini, tapi dimana??” kataku dalam hati namun aku tetap tersenyum padanya.
Gadis itu menghampiriku dengan riang.
“Tante, Tante lupa sama aku, aku anak nya Mama Vela, Tante lupa ya,” ucap gadis itu.
“Vela??!!!” ucapku dalam hati.
Saat mendengar nama Vela, perempuan yang semula sibuk
memasukkan belanjaan nya ke mobil, kini menoleh ke arahku. Aku kaget mendengar nama Vela yang muncul kembali di telingaku, Naufal yang semula nggak begitu serius melihat ke arah gadis itu, kini fokus menatapnya dan melihat perempuan
yang berada di belakang mobil.
“Itu Mama Tante,” sambung gadis itu lagi.
Aku melihat ke arah Mama yang dimaksud gadis itu, dan
ternyata perempuan itu adalah Vela.
Aku dan Naufal bengong melihat Vela. Begitu juga Vela yang
langsung menghentikan tangannya untuk mengangkat satu per satu kantong kresek ke dalam mobilnya.
“Tante lama banget nggak main ke rumah aku, main lagi sama
Mama,” kata gadis itu.
Aku masih bengong melihat gadis itu, gadis yang sangat lama
sekali tak kutemui.
“Tante,”panggilnya.
“Emmm….ooww, Tante inget, inget banget, Ya Allah kamu ternyata udah sebesar ini, cantik banget kamu,” pujiku.
“Hehehehe, udah lamaaaaaa banget kita nggak ketemu Tante, Mama sering cerita tentang Tante ke aku,” ucapnya.
Vela hanya berdiri memperhatikan kami.
“Oh ya?” tanyaku dengan ramah.
Lalu Vela melangkah ke arah kami.
Belum sampai gadis itu menjawabnya, Vela langsung menyuruhnya untuk segera masuikke dalam mobil.
“Masuk ke mobil, udah malem,” ucap Vela pada anaknya.
Anaknya pun menuruti apa kata Vela.
Vela menatapku dengan sangat dalam.
“Haii…..Vel,” aku mencoba untuk menyapanya meskipun bibirku
sangat kaku untuk ku gerakkan.
“Lama banget kita nggak ketemu, kebetulan mobil kamu terparkir bersebelahan sama mobil Mas Naufal,” ucapku.
__ADS_1
Wajah Vela langsung sedikit menunduk saat aku mengucapkan
nama Naufal.
“Gimana kabar kamu Vel?” tanyaku dengan kaku.
“Baik Gi,” jawabnya.
“Eeemm…….. aku pulang dulu ya, udah malem soalnya,” pamitnya singkat.
Vela sama sekali tidak melihat ataupun melirik ke arah Naufal.
Namun sempat dia memberikan senyum pada Abay.
“Aku…..aku duluan ya Gi,” ucapnya.
“Iya Vel,” jawabku.
Vela langsung berjalan masuk ke dalam mobilnya, kami selalu
bertemu pada moment yang tidak pas bagiku.
Aku masih tidak menyangka, anaknya Vela tumbuh besar dan cantik dengan balutan kerudung di kepalanya.
Mobil Vela melaju meninggalkan kami.
“Ma, ayo masuk mobil,” ajak Abay.
“Emm…oh iya Nak,” jawabku.
Kami bertiga akhirnya masuk ke dalam mobil dan melanjutkan
perjalanan untuk pulang.
.
.
.
.
Dalam perjalan, tiba-tiba suasana menjadi kikuk dan hening,
beberapa kali Naufal sempat berdehem.
“Mas, cantik banget ya anaknya Vela,” pujiku.
Naufal hanya mengangguk kaku dan berusaha untuk tidak
terlalu meresponku.
“Ma, tadi kan temennya Papa juga, kenapa tadi Papa nggak
ngajak ngobytol Tante tadi?” tanya Abay yang membuat aku dan Naufal tidak bisa menjawabnya.
“Eeemm…….mmmmm…mungkin tadi Tante Vela terlalu buru-buru pulang Nak, jadi nggak sempat nyapa ke Papa,” jawabku.
Naufal hanya diam tak mampu menjawabnya.
.
.
.
.
.
**(Di Rumah)
Sampailah kami di rumah, mobil melaju masuk ke lhalaman
rumah kami, mobil terparkir baik dalam garasi.
“Assalamu’alaikum,” salam kami.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Bi Sarah yang baru saja keluar dari kamarnya.
“Aku ke atas dulu ya Gi,” ucap Naufal.
“Iya Mas,” jawabku.
“Bi, ini ada makanan buat Bibi sama yang lainnya, di jamin
pasti Bibi suka banget,” kataku sambil menyerahkan beberapa kantong plastik.
“Apa ini Mbak?” tanya Bi Sarah.
“Ini tuh makanan jadul Bi, kayak gethuk sama temen-temennya,” jawabku.
“Waaaaaah, kalo ini pasti Bibi suka banget Mbak, waduh lama
nggak makan jajanan Bibi dulu, hehehe,” ucap Bi satah.
“Ya udah Bi, segera di makan ya,” ucapku.
“Iya Mbak, oh iya Mbak, tadi Dek Abay dapat juara berapa
Mbak?” tanya Bi Sarah yang antusias menunggu kabar kemenangan Abay.
“Juara ke-2 Bi, Alhamdulillah,” jawabku.
“Alhamdulillah Gusti, Bibi nggak berhenti do’a in Dek Abay
tadi Mbak,” kata Bi Sarah.
“Makasih ya Bibi,” sahut Abay.
“Hehehe, sama-sama Dek Abay,” jawab Bi Sarah.
“Gia k eats dulu ya Bi,” ucapku.
”Enggeh Mbak,” jawabnya.
Aku dan Abay berjalan menaiki annak tangga, kami pun
berpisah karena harus menuju ke kamarnya masing-masing.
***(Di Kamar)
Aku tidak melihat Naufal berada disana, namun pintu kamar
mandi tertutup, sepertinya Naufal sedang mandi.
Ku kunci pintu kaca yang mengelilingi kamarku, tak lupa
separuh gorden ku geser agar sedikit menutupu ruangan dalam kamarku.
Tak lama kemudian, Naufal keluar dari kamar mandi dengan
rambutnya yang basah.
“Abis ini aku ke bawah ya, ada kerjaan yang harus aku
selesain,” ucap Naufal sambil berjalan masuk ke ruang ganti baju.
“Iya Mas,” jawabku.
Giliranku untuk bersih-bersih yang biasa ku lakukan sebelum
tidur.
.
.
.
Setelah mandi, aku tak melihat kembali NAufal sedang ada
dalam kamar.
“Mas Naufal kaku banget, apa perkataanku ada yang salah ya
tadi sama dia,” gumamku dalam hati.
“Tapi nggak lah, nggak mungkin,” ucapku.
Aku berjalan masuk ke ruang ganti baju, ku keringkan
rambutku lalu ku sisir rambutku di depan kaca riasku.
Aku melihat ponsel Naufal yang sedang berdering di atas Kasur.
“Kok Mas Naufal ninggalin handphone nya, biasanya kan kalo
lagi kerjain tugas pasti bawa handphone,” kataku sambil meraih ponsel Naufal yang ada di atas Kasur.
Ternyata panggilan masuk dari Pak Bastian, aku tidak ingin
mengangkatnya terlebih dahulu, karena aku takut dikira lancang ataupun seenaknya sendiri, meskipun aku ini istrinya.
Ku bawa ponsel Naufal, lalu ku ambil kerudungku, dan aku
turun ke bawah.
Di depan ruang kerja Naufal, ku ketuk pintunya beberapa
kali, namun taka da jawaban dari Naufal.
Tok……tok…..tok….
Ku coba membuka pintunya, namun pintunya terkunci.
__ADS_1
Bersambung..........
Yang nanyain kabar Vela....hehhee