
Gia dan Riana menuju ke parkiran mobil, Riana tak kunjung masuk ke dalam mobil, tetapi malah melongo melihat ke arah belakang mobil sambil memegang pintu mobil.
"Na lihatin apa sih?" tanya Gia.
"Gi, Dokter Naufal Gi," jawab Riana sambil tetap melamun ke arah Dokter Naufal.
"Huftt Na..Na. kirain apaan, mana sih?" tanya Gia yang juga ingin melihat Dokter Naufal.
"Itu Gi," jawab Riana sambil mengarahkan bola matanya ke arah Dokter Naufal.
Sejenak Gia memandangi Dokter Naufal yang entah sedang mengambil apa di mobilnya.
"Andai saja, hati dapat menyusun skenario sendiri, dan Dokter Naufal kelak akan jadi imamku," gumam Gia dalam hati sambil bibirnya tersenyum seperti bulan sabit.
"Astagfirullah, gak gak gak, aku gak boleh kayak gini, aku tidak boleh jatuh hati pada siapapun kecuali pada pria pilihan Papa nanti," ucap Gia dalam hatinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengernyitkan kedua alisnya.
Gia tersadar dalam khayalannya. Untung saja Riana masih melamun dan tidak mengetahui kelakuan Gia tadi.
"Na, udah puas lihatnya," ejek Gia.
"sebenarnya belum Gi," jawab Riana sambil menggaruk-garuk kerudungnya.
"Ayolah Na pulang," rengek Gia.
"Hmm ayo ayo," ucap Riana sambil masuk ke dalam mobil.
Mereka menuju arah jalan pulang, tetapi Gia mengantarkan Riana terlebih dahulu.
***(Di perjalanan pulang)
"Gi, penasaran gak sih kamu sama Dokter Naufal?" tanya Riana.
"Enggak lah Na," jawab Gia dengan fokus menyetir dan memandang ke arah depan, padahal sebenarnya Gia juga penasaran.
"Aku jadi penasaran deh sama Dokter Naufal, tanya Kakak Ku ah nanti," ucap Riana yang membuat Gia penasaran.
"Memangnya Kakak mu tau tentang Dokter Naufal?" tanya Gia.
"Mungkin aja Gi, kan dulu Kakak Ku koas nya juga disini, pasti tau lah rumor-rumor tentang Dokter Naufal, lagian kita kan akan libur 3 hari Gi, jadi aku bisa pulang dan menanyakan tentang Dokter Naufal pada Kakak Ku," ucap Susi sambil merapikan lipsticknya di depan kaca kecilnya.
"Ooo gitu ya," Jawab Gia singkat sambil mengangguk-angguk.
Akhirnya mereka sampai di depan kos Riana. Riana keluar dari mobil Gia.
"Gi gak mampir dulu," ucap Riana.
"Enggak Na, lain kali aja," jawab Gia.
"Ya udah ya, makasih loh tumpangannya," kata Riana dengan membungkukkan badanya.
"Iya Na sama-sama, aku balik ya, Assalamu'alaikum," ucap Gia sambil memutar mobilnya.
"Iya Wa'allaikumsalam Gi, hati-hati kamu," jawab Riana.
***(Di kos Gia)
Sesampainya di kos Gia, Gia melepas jas nya di dalam mobil dan menggantungkannya kembali, Gia langsung masuk ke kamarnya dan mandi lalu sholat dhuhur. Setelah sholat ponsel Gia berdering. Rupanya video call dari Mama Gia.
"Assalamu'alaikum Nak," salam Mama Gia.
"Wa'allaikumsalam Ma," jawab Gia sambil mengusap-usap wajahnya.
"Habis sholat ya kamu?" tanya Mama Gia yang melihat Gia masih memakai mukenah.
"Iya Ma, ini Gia baru selesai sholat," jawab Gia.
"Kamu gimana hari ini?" tanya Mama Gia lagi.
"Alhamdulillah Ma, lancar sesuai doa Mama yang selalu Mama ucapkan disetiap sholat Mama," jawab Gia dengan senyumannya yang ingin menggoda Mamanya.
"Bisa aja Gia, gini Gi, Papa mau ngomong sama kamu," ucap Mama Gia.
"Papa pulang ya Ma?" tanya Gia.
"Iya Nak, ini Papa mau ngomong," jawab Mama Gia dengan menyerahkan ponselnya pada Papa Gia.
"Hallo Nak, Gia sehat?" tanya Papa Gia.
"Sehat Pa Alhamdulillah," jawab Gia.
"Gini nak, kemarin kamu bilang ke Papa kan libur 3 hari, Kamu pulang ya?" rayu Papa Gia.
__ADS_1
"Memangnya ada apa Pa?" ucap Gia sambil meraih sekotak wafer di depannya.
"Papa mau kasih kamu hadiah Nak," kata Papa Gia.
"Kan ultah Gia udah lewat kemarin Pa," jawab Gia dengan heran.
"Kali ini, hadiahnya sangat berarti banget buat Gia, karena selama ini Gia sudah jadi anak baik untuk Mama dan Papa, jadi Gia pulang ya," ucap Papa Gia.
"Ii...iya Pa, Gia pasti pulang," jawab Gia yang tidak mungkin membantah kata Papanya.
"Ya udah Gia tunggu aja hadiahnya sambil di tebak-tebak Nak," goda Papa Gia.
"Ah Papa selalu bisa buat Gia seneng," jawab Gia.
"Awas loh Kak, kali ini hadiahnya wow banget," sahut Johan adik Gia.
"Kayak tau aja kamu Dek," jawab Gia.
"Lihat saja nanti Kak," kata Johan dengan nada mengancam karena Johan tau apa hadiah dari Papa dan Mama mereka.
"Ya udah kalo gitu, Gia jangan lupa makan terus istirahat yang cukup," ucap Mama Gia.
"Iya Ma" jawab Gi.
"Assalamu'alaikum," salam Mama Gia.
"Wa'allaikumsalam Ma," jawab Gia.
Gia penasaran dengan hadiah dari Papanya, karena kata Papanya hadiah ini sangat berarti. Sampai-sampai Gia tidak bisa tidur siang, Gia mencoba menghubungi Susi tetapi Susi tidak membalas pesannya.
"Pesan makan aja ah, laper banget," gumam Gia dalam hati.
Gia memesan makanan, dan Susi ternyata membalas WAnya.
WA Gia dan Susi.
"Uy" Gia.
"Apa Gi?" Susi.
"Ada libur gak kamu?" Susi.
"Iya aku libur 3 hari gara-gara acara apa gitu aku lupa" Gia.
"Enak dong, kamu pulang Gi?" Susi.
"Iya aku disuruh Papa pulang, besok ikut aku ya Si" Gia.
"Kemana?" Susi.
"Beli oleh-oleh" Gia.
"Jam berapa Gi?" Susi.
"Sore juga gapapa" Gia.
"Oke Gi siap" Susi.
Gia menutup ponselnya, Gia beranjak keluar dari kamarnya karena sepertinya ada yang memanggilnya.
"Mbak Gia," ucap Bu Avin (Tukang laundry langganan Gia).
"Iya Buk," jawab Gia.
"Ini Mbak Gia laundrynya," kata Bu Avin sambil memberikan sekantong kresek besar ke Gia.
"Makasih ya Buk," ucap Gia.
"Iya mbak Gia, sama-sama," jawab Bu Avin.
Gia membuka kantung kresek laundry nya dan di rapikan di almarinya. Ponsel Gia berdering ternyata notif dari Bapak Gofood.
Gia mengambil makanannya dan langsung menyantapnya. Sepertinya Gia merasa kenyang dan mengantuk. Gia tertidur pulas padahal belum selesai menata bajunya di almari.
Adzan ashar berkumandang, Gia terbangun dari tidurnya dan melanjutkan menata baju-bajunya tadi. Selesai Gia menata bajunya, Gia menyapu kamarnya, lalu Gia mandi dan berwudhu serta sholat ashar.
Setelah sholat, Gia melakukan kebiasaanya rebahan, membaca buku dan mendengarkan musik dengan earphone nya. Tak lupa Gia selalu menyiapkan cemilan di sekelilingnya.
Adzan magrib berkumandang.
Gia bangun dari kasurnya, dan bergegas mengambil air wudhu lalu sholat dan mengaji.
__ADS_1
Tok...tok...tok.
Gia mendengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Dan Gia membukanya. Ternyata suara ketukan tangan Riana.
"Baaa," suara Riana yang ingin mengagetkan Gia sebenarnya.
"Nana, ih apaan sih gak kaget tau," ucap Gia sambil menarik mulutnya ke bawah bermaksud mengejek Riana.
"Hmm dasar Gia garing," ucap Susi.
"Tumben Na kesini," kata Gia yang heran secara tiba-tiba Nana ke kosnya tanpa memberi aba-aba.
"Bosen Gi di kamar sendiri, aku nginep sini ya? semalam aja? Pliss," kata Riana memohon pada Gia.
"Yaelah Na, kamu nih kayak sama siapa aja, santai aja kali sama aku," jawab Gia sambil membereskan sajadahnya.
"Baik banget sih anak tante Gina (Mama Gia)," goda Riana.
"Terus kamu besok pakai jas apa? Pakai stetoskop siapa? Pakai baju siapa?" tanya Gia.
"Tenang bu dokter Gia, udah aku siapin semua di mobilku," ejek Riana.
"Ceileh Nana, tidur sama aku nih," ucap Gia.
Mereka saling bercanda dan saling bercerita.
Hingga adzan isya' berkumandang, mereka berdua melaksanakan sholat isya' bersama, lalu mereka memutuskan langsung tidur karena mereka besok masuk pagi seperti biasanya.
Adzan shubuh berkumandang, Gia terbangun dan membangunkan Riana untuk melaksanakan sholat shubuh bersamanya. Setelah sholat Gia mandi yang bergantian dengan Riana.
Gia dan Riana sudah rapi dan akan berangkat ke rumah sakit, tidak lupa Gia dan Riana sarapan dengan 2 lembar roti beserta olesan margarin di tengahnya, bagi mereka sarapan itu sudah sangat kenyang.
Mereka berangkat mengendarai mobil Riana.
***(Di Rumah Sakit)
Setelah mereka memarkirkan mobil dan berjalan menuju ruangannya, Gia dan Riana disuguhkan oleh pemandangan yang begitu indah sekali.
"Subhanallah Gi, makhluk apa ini," ucap Riana yang menghentikan langkah Gia disampingnya.
"Apa sih Na?" tanya Gia yang melepas dua tangannya dari saku jasnya.
"Tuh Gi lihat depan," kata Nana yang masih memegang tangan Gia.
"Aduh Na, kayak baru pertama kali lihat aja kamu ni," jawab Gia yang sebenarnya juga senang melihat Dokter Naufal yang sedang berjalan di depannya.
"Pagi Dok," sapa Riana pada Dokter Naufal.
Dokter Naufal hanya menganggukkan kepalanya dan senyum memeperlihatkan lesung pipinya.
"Sumpah Gi mau pingsan aku," ucap Riana yang wajahnya memerah.
"Udah ah ayo jalan, gak usah di lihatin terus," jawab Gia yang sebenarnya juga deg-deg an jika dekat dengan Dokter Naufal.
Sampai di ruang kerja mereka. Seperti biasa Gia, Riana dan Rama melakukan tugasnya masing-masing.
Di dalam ruangan disana sudah terlihat badan kekar Dokter Naufal yang sudah memberikan wejangan pada setiap pasiennya. Gia mencoba memeriksa seorang pasien perempuan yang sudah lansia.
Gia memasang eartips stetoskop pada telinganya dan mencoba memeriksa pasien itu, tetapi Gia mendapat penolakan, Riana dan Rama kaget melihatnya.
"Dok, saya mau di periksa dokter ganteng itu aja," ucap Pasien lansia itu.
Gia hanya tersenyum dan melihat ke arah Dokter Naufal yang menghampirinya karena mendengar rengekan pasien lansia tadi.
Dengan senyumnya Dokter Naufal menghampiri dan memeriksa pasien lansia itu dengan sabar.
Gia, Riana, dan Rama pergi ke ruang selanjutnya.
"Gi, aku juga mau jadi pasiennya Dokter Naufal setiap hari," ucap Riana.
"Na, kita nih lagi koas loh, fokus dong," sahut Rama.
"Tuh bener Na kata Rama," jawab Gia.
Mereka bertiga berjalan bersampingan. Sepertinya Rama cemburu akan kelakuan Riana.
Setelah mereka selesai melakukan tugasnya, dan sepertinya hari ini hari tersibuk untuk mereka, karena kuwalahan menangani pasien yang sangat macam-macam sifatnya tidak seperti biasanya. Gia dan Riana memutuskan untuk pulang setelah membereskan meja kerjanya.
Bersambung....
Tunggu episode selanjutnya kakak😁
jangan bosan membaca dan menunggu setiap episode novelku.
pastinya jangan lupa like, komen, vote, dan kasih bintang ya kakak.
__ADS_1
Diusahakan novel akan up setiap harinya🙏see you🖤