Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 107 (Surrender 2)


__ADS_3

Adzan shubuh berkumandang.


Aku kaget melihat tubuhku dalam dekapan Naufal.


"Semalam? Aku udah baikan sama Naufal," kataku dalam hati.


Aku berusaha melepas tubuhku dari dekapannya. Dan Naufal terbangun.


Saat Naufal terbangun, aku segera beranjak berdiri menjauhinya.


"Kenapa Gi?? Ada yang salah lagi sama aku??" kata Naufal setengah sadar.


"Tadi.....malam....ki.....kita baikan?" tanyaku dengan gugup.


"Iya kenapa? Kamu lupa?" tanya Naufal ganti.


"Kamu kan semalam meluk-meluk aku, masak kamu lupa?? Kamu lagi sadar kan itu," kata Naufal.


Aku mencoba mengingat-ingat tingkahku semalam.


"Ya ampun, Naufal bener, aku lupa sih," kataku dalam hati.


"Udah?? Inget??" tanyanya lagi.


"Eemm....aku wudhu dulu," ucapku langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Ku basuh wajahku dan ku berkaca di depan cermin.


"Aaaiisshh, semalem bener-bener aku meluk Naufal, huumm kok bisa sih?? Kan seharusnya aku masih ngambek sama Naufal, agar dia lebih peka lagi," ucapku.


"Aku tidak membencinya, cuman aku pengen dia sadar aja, aaasshh," kataku sambil mengernyitkan kedua alisku.


Tak lama-lama aku memikirkan Naufal.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, aku selesai mandi, lalu keluar sambil mengusap-usap rambutku dengan handuk.


Aku berjalan langsung ke ruang ganti baju.


"Gi," panggil Naufal.


"Ii..iya?" jawabku tanpa menoleh padanya.


"Kamu marah lagi sama aku?" tanya Naufal yang semakin membuatku malu.


"Aduuuh, aku jawab gimana sama Naufal," kataku dalam hati.


"Menurut kamu," ucapku langsung melangkah masuk ke ruang ganti baju.


"Aaarrghhh, susah banget nebak sikap dia, semalam udah kelihatan nggak marah, udah ngrengek-ngrengek sama aku, la pagi ini, dia balik dingin lagi," ucap Naufal langsung masuk ke kamar mandi.


Sedangkan aku yang gugup harus bersikap gimana sama Naufal, sampai-sampai salah mengambilkan baju untuk Naufal.


.


.


.


.


Setelah selesai mandi, kami langsung melaksanakan sholat shubuh bersama.


Setelah sholat, aku bergegas mengembalikan sajadah dan mukenah untuk ku gantung dalam almari.


"Loh Gi, kamu beneran suruh aku make baju ini," kata Naufal sambil menjereng kemeja yang di hanger.


Krik krik krik krik.


"Emang aku tadi ngambilin baju Naufal apa ???!!" kataku dalam ruang ganti baju.


"Aduuuuh, Gia kamu fokus dong," kataku dalam hati dan berjalan menghampirinya.


Aku kaget melihat Naufal yang menggantung setelan baju tidur.


"Aoowh," kataku sambil menutup mulutku dengan kedua tanganku.


"Kok bisa sih aku ngambilin baju tidur Naufal," gumamku dalam hati.


"Kamu nglamunin apa sih??" kata Naufal sambil berjalan mendekatiku.


"Eengg.....nggak, aku nggak nglamun, mana bajunya," kataku sambil merebut setelan baju tidur dari tangan Naufal.


Aku berlari masuk ke ruang ganti baju, dan mengambilkan kemeja yang benar untuk Naufal.


Setelah ku dapatkan kemeja abu polos, ku letakkan kemeja itu di ranjang.


Saat aku hendak ingin menuju depan cermin rias, Naufal menghadang jalanku.


Aku ke kiri dia ikut ke kiri, aku ke kanan dia ikut ke kanan.


"Naufal apaan sih," gerutuku dalam hati.


"Minggir nggak," kataku sambil ingin menepis lengannya.

__ADS_1


Naufal sama sekali tidak mau mengalah padaku.


Aku sangat kesal dan gemas padanya, aku langsung menggigit lengan kekarnya.


"Aaa....aaaww, Giiaaa," ucap Naufal sambil mengelus lengannya.


"Salahnya sendiri gak mau minggir," kataku.


"Kamu juga gitu, susah tau nggak Gi nebak mood kamu, semalem kamu meluk-meluk aku, gak mau aku pergi, gak mau aku kemana-mana, tapi sekarang, kamu berubah lagi, iiissh aku harus gimana lagi Gi, Hmmm??" ucapnya.


"Sebenarnya kamu masih marah nggak sih sama aku?" tanya Naufal sedikit lebih tegas.


"Kamu nanya aku masih marah atau nggak sama kamu, sekarang gini, sebenarnya aku masih sangat marah padamu, aku tidak berniat yang lain melainkan aku hanya ingin kamu sadar, peka, lebih ngerti lagi sama aku, aku cuman pengen dengan marahku sama kamu ini bisa ngerubah kamu, kamu nggak ceroboh lagi sama istrimu ini," jawabku tegas di depannya.


Aku menepis lengannya dan langsung duduk di depan kaca.


"Huummm, kenapa Naufal selalu memancingku," gumamku sambil memoles bedak pada kulit wajahku.


Naufal tidak puas dengan jawabanku, dia kembali mendekatiku.


Naufal memeluk pundakku dari belakang.


"Udah dong Gi, jangan gini sama aku, kamu nggak rindu kalo kita lagi romantis-romantisan gitu," rayu Naufal.


Deg....deg...deg...deg.


"Aduuuh tahan dong, gini amat bunyinya," gerutuku karena jantungku berdebar-debar.


"Coba deh kamu inget-inget, pasti kamu juga rindu, nggak mungkin nggak Gi, manusiawi lah suami sama istri," rayu Naufal lagi.


Ku lepas lengan Naufal dari pundakku.


"Udah, siap-siap sana, kesiangan nanti," bantahku yang tidak ingin mengingat hal romantis itu.


Naufal menuruti apa kataku, dia berjalan dan duduk di sofa untuk mengenakan sepatunya.


Setelah selesai berberes, kami berjalan menuruni anak tangga untuk sarapan pagi.


***(Di Ruang Makan)


Bi Sarah melihat kami dengan menyunggingkan kedua pipinya.


"Pagi Bi," sapaku.


"Hehehem, pagi Mbak, Mas," jawab Bi Sarah.


Aku duduk di samping Naufal.


Pagi ini seperti pagi pagi kemaren, hanya gesekan sendok dan piring yang bersuara.


"Mbak Gia sama Mas Naufal kok masih diem-diem an, bukannya sudah baikan, tadi turun berdua," gumam Bi Sarah dalam hati sambil melihat ke arahku.


"Bibi kenapa?" tanya Naufal yang mengetahui curi pandang Bi Sarah.


"Owwh enggak Mas, nggak papa," jawab Bi Sarah dengan gugup.


.


.


.


.


.


.


Setelah beberapa menit kami selesai sarapan, kami berpamitan dengan Bi Sarah.


"Kami berangkat Bi, Assalamu'alaikum," salam Naufal dengan langsung menarik tanganku untuk di gandengnya.


Aku melongo melihat sikap Naufal sambil melihat ke arah Bi Sarah yang perlahan langkah kami menjauhi Bi Sarah.


Naufal membawaku masuk ke dalam mobil, dan dia langsung menancap gas mobilnya.


.


.


.


Di dalam mobil, Naufal mencoba merayuku kembali.


"Gi, udah ya marahnya," rengek Naufal.


Aku diam dan tidak menjawabnya.


"Kamu nggak capek apa diem terus sama aku, kita suami istri loh Gi, masak iya kita gini, udah ya, ya ya ya??" paksa Naufal.


"Jangan diem Gi, aku gak bisa terus-terusan seperti ini, aku nggak tahan," ucapnya.


Dengan rengekkan Naufal itu, tiba-tiba terlintas di pikiranku tentang kata-kata Pak Bastian waktu berjalan bersamanya.


"Apa kamu nggak takut kehilangan Naufal!!"


Kalimat itu yang terngiang-ngiang di telingaku saat ini.


"Gi, kamu begitu mudahnya memanfaatkan semua orang, tapi untuk memaafkanku?? Ayolah Gi, aku mohon, jangan seperti ini padaku, serasa jadi orang bodoh banget aku Gi, udah gak ada yang perduliin, semua orang gak peduli sama aku gak papa Gi, tapi kalo untuk istri, beda Gi rasanya," ucapnya.


"Apalagi kamu diemin kayak gini Gi, sedih bangets sebenarnya," keluhnya.


Aku merasa kasihan dengan Naufal.


"Apa sudah cukup hukuman yang aku beri untuknya?" gumamku dalam hati.


"Huufftt Ya Rab, setiap manusia pasti melakukan sebuah kesalahan, dari yang masalah sepele ataupun fatal, sudah cukup aku menghukumnya beberapa hari ini Ya Allah, aku hanya meminta agar dia berubah, selebihnya semuanya ku serahkan padaMu Ya Allah, aku pasrah, aku jika tidak tahan untuk berpura-pura tidak peduli padanya, bagaimana pun nanti Naufal berubah ataupun tidak, Engkau yang berhak atas semuanya Ya Allah," kataku dalam hati.

__ADS_1


Mataku mulai berkaca-kaca.


"Aku bisa memaafkan kamu Mas, sangat bisa, apalagi setiap kali kesalahan selalu kau ulangi, aku sudah memaafkannya tanpa kamu memohon-mohon padaku Mas," kataku sambil meneteskan air mata di samping Naufal.


"Kadang aku mikir, aku yang nggak pantas buat kamu, atau kamu yang kurang peka sama aku?? Sekarang gini Mas, coba kamu mikir, gimana perasaan kamu, semisal sekarang ini aku sudah terbujur kaku menjadi jasad yang dibunuh oleh tukang begal itu, hmm?? Kamu akan menyalahkan dirimu sendiri? Atau kamu hanya sedih karena kehilangan aku?" tanyaku padanya.


"Pasti aku menyesal Gi, pasti aku nyalahin diri aku karena gak bisa ngejagain kamu," jawabnya.


"Terus kemaren, apa yang kamu lakukan sama aku?? Hm??" tanyaku lagi.


"Huuummm aku tau Gi aku salah, aku udah gak tau lagi harus ngomong gimana sama kamu??? Harus gimana lagi sama kamu, udah Gi, udah mentok banget aku disini, tiap hari aku memohon sama kamu, tiap hari juga aku minta maaf sama kamu, tapi kalo emang kamu kekeh bakalan kayak gini terus sama aku, sampe kapanpun itu yang kamu mau, terus aku bisa apa Gi??" ucapnya.


"Aku akan memberimu ruang untuk marah sama aku, untuk tidak bicara lagi padaku, untuk ngehindar dari aku, okey, aku ikhlas sekarang Gi," ucapnya.


"Kenapa kamu bilang gitu?? Kamu udah muak sama aku?? Udah bosen dengan sikapku ini," kataku.


"Bukan gitu Gi, coba deh sekarang kamu yang ada di posisiku, kamu bakalan gimana? Bakal nglakuin apa??? Melunakkan hatiku seperti yang ku katakan padamu, suatu perjungan dalam suatu hubungan, bukankah baiknya dilakukan sama-sama Gi, ibaratnya es ya Gi, percuma aku ngotot bersih keras buat ngelunakin es itu, tapi kalo pemilik es sendiri terus naikin suhu agar esnya terus mengeras, usahaku sia-sia dong Gi," kata Naufal yang semakin membutku menangis.


Aku sudah tak kuat menahan semuanya, aku langsung memeluk Naufal erat-erat, menangis di lengannya.


"Maafin aku ya, aku udah nyiksa kamu," kataku.


Naufal mengelus-elus pipiku.


"Aku tau sebenarnya kamu juga udah gak bisa nglakuin apa-apa ke kamu, tapi aku cuman pengen kamu fokus ke aku, khawatir ke aku, jadi kamu tau situasinya dimana kamu harus mengkhawatirkanku," ucapku yang terus menangis di lengan Naufal.


"Iya Sayang, maafin aku juga ya, kamu udah jangan diem-diem sama aku, aku maaf banget sama kamu, maaf ya, saat itu aku juga panik Sayang, aku bingung, Bastian juga udah pulang, aku kira hanya sebentar tapi malah sampe tengah malam, maaf ya Sayang," ucapnya sambil menghapus air mataku.


"Meskipun aku tau, bahwa semua yang terjadi adalah takdir, jadi jika kita menyalahkan seseorang, berarti kita juga salah, karena.....orang yang kita salahkan juga belum tentu tau akan seperti ini jadinya, jadi untuk kamu Gia, jangan memberikan semua kesalahan pada satu orang saja, bagilah denganmu, sekalipun dia menyakitimu," ucapku dalam hati.


"Udah ya kita nggak marahan lagi ya," rayu Naufal.


"Udah jangan nangis, nanti keliahatan orang-orang di Rumah Sakit, apalagi pasien kamu," kata Naufal.


"Aaaaaa jangan gitu, aku masih pengen nangis," ucapku.


"Tuh kan gak bisa kan kamu kalo nggak ngrengek-ngrengek sama kamu, kamu udah puasa manja beberapa hari ini sama aku Gi," ejek Naufal.


"Aaaaa udah jangan diterusin lagi," rengekku.


Akhirnya hubungan kami sudah membaik.


Udah kamu jangan nangis, nggak malu nanti dilihat Bastian," ejek Naufal.


"Biarin," kataku sambil memalingkan wajahku untuk lebih masuk ke belakang lengan Naufal.


Tak lama kemudian, akhirnya kami sampai di Rumah Sakit.


***(Di Rumah Sakit)


Mobil Naufal sudah terparkir, Naufal tak kunjung keluar dari mobil.


Naufal meraih wajahku lalu mengelus pipiku.


"Kamu baikin dulu wajah kamu, tuh usap dulu air mata kamu" ucap Naufal.


Ku hapus air mataku dengan tissue.


Aku melihat Pak Bastian yang sedang berjalan ke arah mobil kami.


"Mas, ada Pak Bastian mau kesini, kamu turun dulu aja nanti Pak Bastian tau aku habis nangis," kataku.


Pak Bastian mengetuk pintu kaca mobil Naufal.


Tubuh Naufal langsung menutupi ku, dan Naufal membuka kaca jendelanya.


"Apa sih Bas?" ucap Naufal.


"Cepetan ada meeting, kan Lo sendiri yang buat jadwal," ucap Pak Bastian.


"Iyaa sabaran dulu, Lo duluan aja," kata Naufal yang masih menutupiku.


Pak Bastian melihat tingkah aneh Naufal dan sepertinya beliau paham.


"Ya udah Gue tunggu," kata Pak Bastian yang sepertinya tau tingkah aneh sahabatnya.


"Iya bentar lagi Gue nyusul," kata Naufal.


"Kamu duluan aja gak papa," kataku.


"Enggak aku nungguin kamu aja," ucap Naufal.


"Kan kamu yang mimpin disini, nanti kalo telat apa kata yang lain Mas," tuturku.


"Iya deh, tapi gak papa kan kamu aku tinggal duluan," kata Naufal.


"Gak papa," jawabku.


"Ya udah aku duluan ya," kata Naufal lalu mengecup keningku.


Aku mati gaya saat dia mencium keningku. Hanya mataku saja yang mampu berkedip.


"Romantis banget Naufal," kataku dalam hati.


Naufal segera mengambil jas dokternya di kursi belakang, dan berjalan meninggalkanku.


.


.


.


.


Tak lama kemudian, aku turun dari mobil dan berjalan ke ruanganku.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2