
Bi Sarah tersenyum malu-malu karena pujian Naufal.
"Apaan sih Mas," tepisku malu-malu.
***(Di Rumah Mama)
Akhirnya kamipun sampai rumah tepat jam 5.30 pagi.
Mobil melaju masuk ke halaman Rumah Mama.
Tampak Mamaku sudah menungguku sambil duduk-duduk di depan Rumah.
Mama langsung berdiri saat melihat mobil Naufal melaju di dan berhenti di garasi.
Mama berjalan menghampiri kami, Mama langsung menuju tepat pada pintu mobil yang ku duduki.
Langsung ku buka pintu mobil itu.
"Mamaaaa," ucapku.
Belum juga aku turun dari mobil, Mama sudah langsung memelukku.
"Anakkuu," ucap Mama sambil mengelus punggungku.
Mama menciumi ku.
"Sini Nak turun dulu sini, hati-hati," ucap Mama.
Naufal dan Bi Sarah ikut turun dari mobil, Mama berpelukan dengan Bi Sarah, dan Naufal segera menyalami tangan Mama.
"Sehat Nak?" tanya Mamaku pada Naufal.
"Alhamdulillah Ma, sehat," jawab Naufal sambil tersenyum pada Mama.
Barang-barang nya biar di turunin Bi Reni aja sama Pak Leka (pekerja di Rumah Mama)
Bi Reni dan Pak Leka berdiri di belakang Mama.
Naufal segera membuka bagasi belakang mobil.
Mama menggiringku masuk ke Rumah.
"Assalamu'alaikum," salam kami.
"Jo, Kakak dateng Jo," ucap Mamaku.
Johan berjalan menghampiri kami.
"Wa'alaikumsalam," jawab Johan.
"Kakak," panggilnya dan berlari lalu menyalami tanganku dan memelukku.
"Aduh perutnya Kakak udah buncit gini," ejek Johan sambil mengelus perutku.
Lalu dia menyalami Naufal dan Bi Sarah.
"Makan dulu ya, Mama udah siapin loh," ajak Mamaku.
Aku tidak mungkin menolak apa kata Mamaku. Jadi kita memutuskan untuk sarapan saja.
***(Di Ruang Makan)
Aku duduk di antara Mama dan Naufal.
Johan dan Bi Sarah duduk di depanku.
"Bi kopernya di taruh kamarnya aja dulu, nanti Bibi sama Pak Leka balik kesini kita sarapan sama-sama," tutur Mamaku.
"Iya Buk," jawab mereka.
Bi Reni dan Pak Leka berjalan menuju kamarku.
"Mama masakin ayam kecap loh Gi," ucap Mama.
"Aaaah Mama, Gia lama nggak makan ini," kataku.
"Gimana Nak kandungan kamu?? Baik-baik aja kan?" tanya Mamaku.
"Alhamdulillah Ma," sahut Naufal.
"Berarti Naufak jagain beneran ini, hehehe," ucap Mama becanda.
Tak lama kemudian, Bi Reni dan Pak Leka datang kembali, lalu duduk bersama kami.
"Ayo segera di makan ya, jam setengah 8 udah berangkat ke acara, soalnya acaranya jam 9," kata Mamaku.
"Iya Ma," jawabku.
Kami semua segera menikmati dan menyantap sarapan pagi masakan Mama ini.
"Ma, Papa jadi nggak pulang ya," kataku.
"Nggak bisa Kak, soalnya Papa sibuk banget, video call kita aja malam ya Ma kalo mau tidur," sahut Johan.
Mama hanya menganggukkan kepala padaku sambil mengunyah makanannya.
"Johan gimana Ma kuliahnya, pacaran nggak? Hehehe," ejekku.
"Apa sih Kak, mana di bolehin Papa hayo," kata Johan.
"Hehehe, kali aja Dek, kalo di bolehin kamu patsi iya kan," godaku lagi pada Adikku satu-satunya.
"Emmm.....enggak dulu, mau fokus kuliah dulu, gak mau ngecewain Papa sama Mama kayak Kakak," puji Johan.
Naufal tersenyum menyeringai sambil menolehku.
"Kak Naufal langsung pengen ketawa loh, hahahaha," kata Johan.
Aku menyenggol kaki Naufal dari bawah untuk memberikan isyarat padanya.
.
.
.
Sengaja butuh sedikit waktu untuk kami sarapan, karena harus segera datang ke Hotel tempat Susi dan Pak Bastian melaksanakan pernikahannya.
Setelah selesai makan, aku dan Naufal meminta untuk ke kamar.
"Ma, Gia ke kamar ya," ucapku.
"Iya Nak," jawab Mamaku.
Aku dan Naufal berjalan ke kamarku.
***(Di Kamar)
Ponselku berdering, dan ternyata pesan WA dari Susi.
📳
"Gi, kamu udah nyampe rumah Mama kamu kan?" Susi 06.01.
"Iya Si, ini mau mandi," Gia. 06.01.
"Ya udah habis mandi langsung kesini, ini aku juga baru mau make up," Susi. 06.02.
"Iya Si, pasti," Gia 06.03.
Ku letakkan ponselku kembali di meja.
"Mas aku mandi duluan ya," ucapku.
"Iya Sayang," jawabnya.
Segera aku berjalan masuk ke kamar mandi.
.
.
__ADS_1
.
Tak lama kemudian, aku keluar dari kamar mandi.
Giliran Naufal yang mandi, sedangkan aku berjalan keluar untuk menuju kamar Mama.
Tok...tok...tok
"Ma," panggilku.
"Masuk Nak," jawab Mama dari dalam kamar.
Gleekkk, ku buka kamar Mamaku.
Terlihat Mama yang sedang berdandan di depan kaca riasnya.
"Ma, Gia mau mengambil baju Gia sama Mas Naufal," kataku.
"Oh iya Nak, di dalam almari Mama ambil aja," jawab Mamaku.
Aku segera mnegambilnya di dalam almari Mama.
Tampak bajuku dan baju Naufal yang terpajang dengan hanger dan terselimuti oleh kain hitam tebal.
"Ini ya Ma," kataku.
Mamaku menoleh padaku.
"Iya Nak," jawabnya.
"Kamu baru selesai mandi?" tanya Mamaku.
"Iya Ma, Mas Naufal sekarang yang sedang mandi," jawabku.
"Ya udah kalo gitu Gia balik ke kamar ya Ma, Susi udah nunggu Ma, hehehe," kataku.
"Iya Nak, Mama juga buru-buru ini," kata Mamaku.
Aku langsung keluar dari kamar Mama dan berjalan ke kamarku.
Gleekkk, ku buka pintu kamarku.
Aku segera ganti baju lalu duduk di depan kaca riasku.
Ku kenakan kerudung yang sama dengan Mamaku.
Beberapa menit kemudian, Mas Naufal keluar dari kamar mandi.
"Mas, ayo Mama udah hampir selesai loh," kataku.
"Iya Gi," jawabnya.
"Bajunya itu di ranjang," kataku sambil menepuk-nepuk kulit wajahku dengan sponge puff.
Naufal langsung mengambil bajunya lalu sedikit mengeringkan rambutnya.
Tak lama kemudian, aku selesai memakai sedikit make up di wajahku.
Kebetulan Naufal juga sudah selesai mengeringkan wajahnya, hanya saja perlu memoles rambutnya dengan sedikit krim rambut.
Ku ambil heels dan sepatu milik Naufal dari dalam koperku.
"Mas ini ya sepatunya sekalian aku siapin," kataku.
"Jam tangan sekalian Sayang," ucapnya.
Sekalian ku siapkan jam tangan hitam milik Naufal.
Setelah ku pakai heels dan Naufal juga sudah siap, segera ku ambil tasku lalu kami keluar dari kamar.
Kebetulan Mamaku juga keluar dari kamarnya.
"Bi Sarah mana Nak?" tanya Mamaku.
"Di bawah kayaknya Ma, pasti Bibi udah siap juga," jawabku.
"Oh ya udah ayo sekalian turun," ajak Mamaku.
Terlihat Bi Sarah sudah menunggu kami di bawah.
"Bi, maaf ya, saya nggak tau kalo Bibi ikut, jadi nggak dibeliin baju yang sama, tau gitu pasti saya beliin Bi," ucap Mamaku.
"Iya Buk, ndak papa, ini juga warnanya sudah sama, hehe," tepis Bi Sarah sambil tersenyum pada Mama.
"Ya udah sekarang kita berangkat ya," ajak Mamaku.
"Johan tadi udah di bilangin Ma suruh jaga Rumah," kataku.
"Udah Gi, tapi habis ini kayaknya Johan berangkat kuliah," jawab Mama.
"Oh ya udah kalo gitu Ma," kataku.
Kami berjalan bersama keluar dari Rumah.
"Fal, pake mobilnya Mama aja ya," ucap Mamaku.
Karena Mobil Naufal hanya muat diisi untuk 4 orang saja sedangkan Mobil Mama lebih luas.
"Kita soalnya di antar sopir aja Fal, kamu capek habis perjalanan jauh, kamu juga kurang tidur Nak," tutur Naufal.
Naufal hanya tersenyum pada Mama, dia hanya menurut pada Mama.
Kami segera masuk ke dalam mobil.
Aku duduk dengan Naufal, Mama duduk di depan, dan Bi Sarah duduk paling belakang.
"Ini sopir Mama yang baru Nak, sejak Johan kuliah, Johan di antar jemput sama Bapak ini, kebetulan Johan hari ini naik mobil sendiri," kata Mama.
Sopir itu hanya tersenyum pada kita. Lalu segera melajukan mobilnya.
Dalam perjalanan kami sempat berbincang-bincang.
"Fal," panggil Mama.
"Iya Ma?" jawab Naufal.
"Kamu bener-bener jagain Gia, makasih ya Nak," ucap Mamaku.
"Ehehem, sudah kewajiban Naufal Ma," jawab Naufal.
"Bibi disana baik-baik aja kan tinggal sama Gia?" tanya Mamaku pada Bi Sarah.
"Alhamdulillah Buk, Bibi betah sekali disana," jawab Bi Sarah.
"Lebih dingin ya Bi disana, nggak panas kayak disini," candaan Mama.
"Hehehem, sepertinya iya Buk, disini dingin karena AC, disana kalo malam Bibi nggak pake AC Buk," kata Bi Sarah.
Semua tertawa mendengar kata Bi Sarah.
"Padahal Mas Naufal ngrasa disana panas loh Bi," sahutku.
.
.
.
.
.
Setengah jam kemudian, kami sampai di Hotel tempat Susi dan Pak Bastian merayakan weddingnya.
***(Di Hotel)
Mobil Mama diparkirkan tepat di lantai 3.
Setelah mobil berhasil terparkir, kami segera keluar dari mobil.
Kami langsung berjalan menuju lift untuk menuju lantai 7 menuju aula hotel dan kamar Susi.
__ADS_1
Ting tong......suara lift yang mendarat di lantai 7.
Aku mencoba menelepon Susi.
Tut....tut....tut...suara dering dari ponselku.
"Assalamu'alaikum Si," ucapku.
"Wa'alaikumsalam, Gi kamu dimana?" tanya Susi.
"Ini aku di depan kamar kamu Si," jawabku.
"Masuk aja Gi gak papa, kayak sama siapa aja kamu," kata Susi.
"Ya udah iya Si, bentar aku ngomong sama Mama terus aku langsung masuk, bye Si, Assalamu'alaikum," kataku langsung menutup telepon pada Susi.
"Ma, Gia masuk ke kamar Susi ya, Mama langsung ke Aula ini?" tanyaku.
"Iya Nak, Mama sama Naufal sama Bi Sarah langsung ke Aula," jawab Mamaku.
"Ya udah Ma, Gia masuk kamar Susi ya," kataku.
Aku langsung membuka kamar Susi dengan kode yang sudah dikirimnya padaku.
Setelah pintu terbuka, aku melihat Susi yang hanya dengan Mama dan Papanya saja disana.
"Tuh Ma Gia," ucap Susi sambil menoleh padaku.
Aku langsung berjalan dan menyalami tangan Mama dan Papa Susi.
"Ini yang di tunggu-tunggu sama Susi Pa dari tadi," kata Mama Susi.
"Hehehe, maaf Tante, Gia nggak telat kan?" tanyaku.
"Oh enggak Gi, enggak," jawab Papa Susi.
"Nyampe sini jam berapa Gi?" tanya Papa Susi.
"Tadi jam setengah 6 Om," jawabku.
"Mama sama suami kamu dimana Gi?" tanya Mama Susi.
"Langsung ke Aula Tante," jawabku.
"Syukurlah, soalnya ini jam akadnya di majuin jadi jam 8 Gi," kata Mama Susi.
"Ya sudah Ma, ayo kita ke Aula sebentar," ajak Papa Susi.
"Ayo Pa," jawab Mama Susi.
Mama dan Papa Susi berjalan keluar kamar hotel.
Aku melihat wajah Susi yang benar-benar sangat cantik.
"Masya'Allah Susi cantik banget kamu," pujiku sambil melihat setiap sisi wajahnya.
"Jangan gitu Gi, aku makin deg deg an," ucapnya.
"Kamu tadi malam bisa tidur nggak?" tanyaku.
"Bisa sih Gi, meskipun sempat kepikiran buat acara sekarang ini," jawab Susi.
"Keringat dingin aku Gi," kata Susi.
"Ahehheem, sabar bentar lagi akad, aku dulu juga gitu Si," kataku untuk sedikit menenangkan Susi.
"Kamu sempat kabar-kabar an nggak sama Pak Bastian semalam?" tanyaku lagi.
"Eemmmm, eheemm enggak Gi," jawab Susi sambil menyeringai padaku.
"Pantesan Pak Bastian nggak bisa tidur semalam," gumamku dalam hati.
"Nanti kamu temenin aku terus loh Gi," ucap Susi.
"Iya iya pasti aku temenin," kataku.
"Oh iya Si, aku minta bedak kamu, katanya orang jawa suruh di olesin ke perut biar nggak sawanan," ucapku.
Susi memberikan bedaknya padaku, lalu ku oleskan sedikit pada perutku.
"Udah Si, makasih," ucapku.
"Iya Gi," jawabnya.
Aku melihat jam dalam ponselku, kurang setengah jam lagi acara akad akan di mulai.
"Kurang setengah jam lagi Si," kataku.
"Aduuh iya Gi, Mama sama Papa kemana ya kok belum kesini, aku deg deg an banget," keluh Susi sambil kakinya terus bergerak dan tidak ingin berhenti.
"Kan ada aku Si, pasti bentar lagi Mama sama Papa kamu kesini, ini acaranya langsung resepsi apa resepsinya nanti malam Si?" tanyaku.
"Langsung Gi, Mama sama Papa mintanya langsung," jawab Susi.
"Ooww gitu, terus setelah nikah kamu ikut Pak Bastian?" tanyaku lagi.
"Iya Gi pastinya," jawabnya.
"Wah enak dong Gi, kita bebas nanti bisa pergi berempat," ucap Susi.
"Agheemm, kok empat Si, lima dong, kan membernya tambah satu, hehehem," candaku.
"Oh iya aku lupa Gi, hehehem," kata Susi.
Papa dan Mama Susi masuk kembali ke kamar Susi.
"Si, keluarga Bastian udah dateng," kata Mama Susi.
Susi melotot melihatku dan menelan salivanya.
"Giiiii," kata Susi sambil menggenggam tanganku kuat-kuat.
"Ayo Nak siap-siap, Bismillah supaya lancar," tutur Mama Susi.
"Ma, tangan aku gemetar," keluh Susi.
"Bismillah Nak, pasti semua orang merasakan ini, tanya Gia," sahut Papa Susi.
"Iya Si, udah Bismillah aja," kataku.
"Huuuuffftt, Bismillah semoga lancar sampai acaras selesai Ya Allah," ucap Susi sambil menghela nafasnya.
"Aamiin,"
"Ayo Ma, Susi udah siap," ajak Susi.
Papa dan Mama Susi menggiringnya keluar dari kamar hotel untuk menuju Aula, aku mengikutinya dari belakang.
Di depan Aula, kami berhenti dan salah satu tim MUA yang di sewa oleh Susi mengkonfirmasi apakah semua sudah siap untuk dimulai.
Dan kami menunggunya 5 menit saja di depan Aula.
Setelah 5 menit, tim MUA itu kembali dan memberitahukan pada kami.
"Semua sudah siap Mbak," ucap tim MUA itu.
Papa Susi masuk terlebih dahulu ke Aula karena untuk menemui Pak Bastian.
Segera kami berjalan masuk ke Aula dengan pintunya yang sudah di bukakan oleh tim MUA.
***(Di Aula)
Semua pandangan terbelalak menatap Susi.
"Ma, Susi deg deg an," keluhnya dengan sangat lirih.
Aku menahan tawaku yang sedang menggandengnya menyusuri karpet merah.
"Aduh Susi yang nikah kenapa aku yang deg deg an," gumamku dalam hati.
Bersambungggg.....
__ADS_1