
Aku kaget karena semua rumah sangat gelap gulita.
"Mas, kok gelap?" tanyaku pada Naufal.
"Nggak tau Gi, masak mereka semua belum pada pulang," jawab Naufal.
"Aku gak berani masuk kalo gelap gini nih," rengekku.
"Kan ada aku, mana tangan kamu?" kata Naufal.
" Mau ngapain? Jangan main-main loh, sumpah aku takut banget kalo masalah gelap-gelap kayak gini," kataku.
"Enggak, udah deh percaya sama aku," ucap Naufal.
"Ini," kataku sambil mengangkat tangan kananku.
"Gini nih caranya biar kamu gak takut lagi, ya?" kata Naufal dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya.
Tangan kirinya mendekap kepalaku, aku hanya mampu memejamkan mata dan tidak ingin melihat sekeliling ku.
Naufal mulai membawaku berjalan masuk.
"Mas, hati-hati loh, aku merem ini," kataku.
"Iya iya Ya ampun, udah percaya aja sama aku," tutur Naufal.
Kami berjalan pelan-pelan.
Tiba di tengah ruang tamu, lampu menyala satu per satu.
Ku buka mataku pelan-pelan.
"Loh Mas, kok nyala sendiri?" tanyaku.
Tiba-tiba dari arah belakang, depan, dan samping kanan dan kiriku muncul para orang-orang yang sangat ku sayangi.
"Surpriseee.......," ucap mereka semua.
Susi muncul dari arah belakangku dengan membawa kado besar, Johan, Mama dan Papaku muncul dari samping kiriku, Mama dan Papa mertua muncul dari arah kananku, dan para pekerja kami di rumah, membawakan kue ulang tahun untuk ku lagi.
Mereka bersorak mendekat padaku.
Papaku, memelukku untuk yang pertama. Tak lupa dia mencium kening dan kedua pipiku.
Kemudian Mamaku, memelukku lama.
Semua memberikanku pelukan hangat, termasuk Susi dan Bi Sarah kecuali Pak Joko dan Pak Rusdi.
Susi, wanita urutan terakhir yang memelukku.
"Selamat ulang tahun Gi," kata Susi.
"Aaaaaaa Susi, aku terharu banget," kataku.
Semua bergerombol membawaku untuk menuju halaman belakang rumah.
Di halaman belakang rumah, tampak dekorasi mungil di sebelah kolam renang, lilin mengambang di atas kolam renang.
Kerlap kerlip tengah jatuh berhamburan.
Hatiku benar-benar bahagia, melihat semua orang yang aku sayangi tengah berkumpul bersamaku, merayakan hari spesialku.
Kami berdiri baris di dekorasi itu.
"Ayo Kak, buat permohonan buat kita dong," sahut Johan.
"Iya dong Gi," sahut Susi.
"Baik, hehehe," jawabku.
"Semoga, semua yang hadir disini, selalu di berikan kemudahan, lapang rezekinya, berkah barokah, sehat, panjang umur, selalu bersyukur," ucap do'a ku untuk kami semua.
"Aamiiiinnn," kata mereka serentak.
"Tiup lilinnya Nak," sahut Mama Naufal.
"Bismillahirrahmanirrahim," kataku sambil langsung meniup lilin.
"Monggo, potong kue nya Mbak Gia," ucap Bi Sarah.
Ku potong kue iris demi iris.
Potongan pertama aku berikan pada Papa, dan untuk potongan kedua aku berikan pada suamiku Naufal.
Ku bagi masing-masing potongan kue pada mereka.
.
.
.
.
Disana telah tersedia gazebo dan acara bakar-bakar daging serta jagung.
Naufal tengah berbincang dengan Papa dan Mamanya.
Susi menghampiriku dan duduk di sebelahku.
Dia menyerahkan kado besar untuk ku.
"Giaaaaa," ucap Susi.
"Waah,....apa nih Si?" tanyaku.
"Udah nanti buka aja, aku jamin pasti kamu suka," kata Susi dengan sangat yakin.
"Apapun kado dari kamu, aku pasti suka Si," kataku.
"Kok kamu bisa disini sih ini tadi?" tanyaku.
"Iya, kita semua tuh sebenarnya udah ngrencanain seminggu sebelum hari H tau nggak Gi, sampek bikin grup WA segala, wkwkwkw," kata Susi.
"Ya Allah, seneng banget Si, ketemu kamu di hari ulang tahunku ini," ucapku.
"Gia, kan setiap tahunnya selalu seperti ini, aku selalu ada buat kamu melebihi siapapun, kecuali Papa kamu, hehehe," kata Susi sambil meneguk segelas mocca.
Johan menghampiriku yang duduk bersama Susi sambil membawa kotak kecil.
"Kak, ini dari Johan, hehee," kata Johan sambil memberikan kotak kecil itu.
"Apa ini?" tanyaku.
"Pasti Kakak suka banget, soalnya itu barang kesukaan Kakak," jawab Johan.
"Ah masak sih?" kataku lagi.
"Iya beneran, tapi nanti aja Kakak buka nya," ucap Johan.
"Heheh, makasih Dek," kataku.
Setelah mereka selesai membakar jagung dan barbeque nya, mereka semua menghampiri kami dan duduk bersama kami.
__ADS_1
"Pa, kok bisa barengan gini sih Pa? Kan biasanya gak bisa, entah Papa sibuk atau Mama," kataku.
"Kita sudah sepakat Nak, untuk tidaks sibuk di hari ulang tahunmu," jawab Papaku.
"Iya Nak, ini tadi aja Mama cancel mau pergi sama temen-temen, Mama bilang ada acara penting," sahut Mama Naufal.
"Papa sama Mama gimana kabarnya?" tanyaku pada Mama dan Papa Naufal.
"Alhamdulillah baik Nak, kamu sendiri bagaimana? Apakah Naufal menyakitimu?" kata Papa Naufal.
"Ooww tidak Pa, sama sekali dia tidak pernah menyakitiku," kataku dengan sumringah.
"Tadi pagi Bi Sarah, Pak Rusdi sama Pak Joko kemana? Kok pagi-pagi udah gak ada di rumah," tanyaku pada mereka.
"Tadi itu, Bi Sarah Mama culik buat nyiapin ini semua," sahut Mamaku.
"Iya Mbak, hehehe, Pak Rusdi sama Pak Joko juga ikut," kata Bi Sarah.
"Pasti kamu udah tau ya rencana ini," kataku pada Naufal yang sedari tadi diam duduk di depanku.
"Hehehe, maaf Gi, kan namanya kejutan, jadi kita harus saling kerja sama buat nutupin dari kamu," ucap Naufal.
"Awas ya kamu," ancamku becanda.
"Sudah, ayo makan dulu ininya," kata Mamaku.
Dengan segera kami semua menghabiskan jamuan malam.
Tidak peduli bahwa waktu itu tepat pukul 20.00.
Selesai makan tak lupa kami foto bersama untuk mengabadikan momen bahagia ini.
"Mama nggak nginap aja disini," rayuku pada Mamaku.
"Gak bisa Nak, Mama harus pulang, besok Papa kamu balik lagi," jawab Mama.
"Lain kali Nak," sahut Papaku.
"Huuum, baiklah Pa," kataku agak sedikit berat.
Hari sudah semakin malam, mereka semua pamit untuk pulang.
Di halaman depan rumah kami mengantarkan mereka.
Setelah mobil mereka melaju keluar dari gerbang rumah, Naufal kembali menggandengku untuk masuk ke rumah.
"Bi, pintunya langsung di kunci aja ya," perintah Naufal.
"Baik Mas," jawab Bi Sarah.
Naufal menarikku ke atas menuju kamar. Tak lupa kami mengambil tumpukan kado dari mereka untuk kita usung ke kamar.
***(di Kamar)
Kami menyisihkan kado-kadonya terlebih dahulu.
"Mas, kita belum sholat loh, kamu jangan lupa cuci muka, terus wudhu habis itu kita sholat, lalu langsung tidur deh," perintahku.
"Iya iya Sayang, pasti kamu capek kan," tebak Naufal sambil melepas kancing lengan tangannya.
"Enggak, aku nggak capek, malah bahagia banget, kamu kok bisa sih Mas ngatur ini semua," kataku.
Naufal berjalan mendekatiku.
Dia meraih pipiku.
"Apa yang gak bisa buat kamu? Hm? Gak ada, selagi ada aku, aku akan selalu usahain buat kamu," kata Naufal.
Deg....deg...deg. Hatiku berdegup sangat kencang.
"Eehhkem, eemm aku wudhu dulu," kataku untuk mengakhiri tatapan Naufal.
"Hahaha, pasti tuh Gia deg deg an deket aku, tau banget aku Gi," gumam dalam hati Naufal.
Setelah selesai wudhu, Naufal langsung menyusulku.
"Minggir, aku mau keluar dulu," kataku.
"Kenapa? Kalo aku gak mau gimana?" kata Naufal.
"Mas, ayolah jangan becanda, aku udah wudhu nih," rengek ku.
"Hahaha, iya iya Gi, uuuuuhhh pengen ku cubit kamu," kata Naufal sambil menepi di dinding kamar mandi.
"Dasar sadis, weekkkk," ucapku sambil langsung meninggalkannya.
"Awas aja kamu Gi," kata Naufal.
Setelah Naufal berwudhu, kami melaksanakan sholat bersama.
Setelah sholat, Naufal mengajakku ke balkon.
"Gi ke balkon yuk," ajak Naufal.
"Mau ngapain? Udah malem, jangan macem-macem," kataku sambil menaruh mukenah kembali di almari.
"Ayolah Gi, pengen banget loh," rengek Naufal.
"Dingin ah, gak mau," tolak ku.
"Kok kamu gitu sih, sekali aja, ya? Ayo Sayang," kata Naufal sambil memegang pundak ku dari belakang.
"Huuufftt ya udah iya iya, dasar," kataku.
Naufal menggiringku berjalan ke balkon.
***(di Balkon)
"Mau ngapain kalo udah disini?" tanyaku.
Aku ternganga melihat cahaya yang terpancar dari bawah balkon.
"Apa itu Mas?" tanyaku.
"Nggak tau, coba kamu lihat," kata Naufal.
Aku melihat ke arah bawah yang menuju taman di halaman depan rumah.
Lampu lampion berbaris membentuk kata "HBD" tertata rapi di sana.
"Oh My God, Massss, bagus banget," kataku sambil tetap melihat lampu lampion itu.
Tiba-tiba dari arah bawah, ada tiga buah balon berbentuk hati yang tengah terbang semakin mendekat ke arahku, Naufal dengan cekatan meraih dan menangkapnya.
Lalu balon itu di berikannya untukku.
Setangkai mawar putih lagi-lagi tergantung di ujung balon.
Disana juga terdapat kotak kecil berwarna putih.
"Apa ini Mas?" tanyaku lagi.
"Buka aja Sayang," ucap Naufal.
__ADS_1
Ku buka kotak itu, dan ternyata isinya adalah sebuah kalung berbentuk simbol salju, terdapat permata putih di pojoknya.
Aku terkejut melihatnya.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Langsung ku memeluk Naufal.
Aku terharu sampai menangis tanda bahagia.
"Makasih Mas, Makasih banget, aku nggak tau lagi harus bilang apa sama kamu, intinya aku berterima kasih banget sama kamu, gak ada habisnya kejutan hari ini, yang kamu susun untuk ku," kataku di pundak Naufal.
"Ini sudah sepantasnya kamu dapatkan Gi," kata Naufal.
"Di pake ya Sayang," bisik Naufal.
Ku lepas pelukan kami.
"He'em, pasti akan aku pake," kataku.
Naufal memasangkan kalung itu di leherku.
"Kamu suka?" tanya Naufal.
"Banget," jawabku singkat dan kembali memeluk Naufal.
Aku memeluknya lama.
"Aku bingung ngucapin terima kasih gimana lagi ke kamu Mas," ucapku di pundaknya.
"Udah banyak banget kebahagiaan yang kamu kasih buat aku," kataku.
"Apakah kamu semakin percaya padaku, jika aku benar-benar mencintaimu tanpa alasan apapun selain kata tulus?" tanya nya.
"He'em, aku percaya Mas," jawabku.
Kami melepas pelukannya.
Aku tersenyum padanya sambil memegangi kalung itu.
"Btw siapa Mas yang nerbangin balon nya?" tanyaku.
"Bi Sarah sama Pak Rusdi lah, dia ada di bawah tadi tuh," jawab Naufal.
"Kapan? Perasaan tadi mereka ikut kita masuk," kataku.
"Tadi waktu aku bilang Bi kunci pintunya itu biar kamu nggak curiga, setelah di kunci dan kita udah ke kamar, mereka menjalankan misinya dong Sayang," kata Naufal.
"Tapi kok tadi aku ngga lihatin lampu-lampu yang di bawah itu?" tanyaku lagi.
"Kan masih mati Sayang, baru di nyalain waktu kita ke kamar sama mereka," jawab Naufal lagi.
Aku kembali tersenyum padanya, ku cium pipi kanan Naufal.
Deg...deg....deg. detak jantung Naufal.
"Aduuh Gia, kenapa setiap kali kamu bersikap kayak gini aku grogi banget sih," gerutu dalam hati Naufal.
"Kamu bisa aja sampe nyusun rencana kayak gini Mas," pujiku.
"Iiii....iyalah Gi, aku gitu," ucap Naufal gugup.
"Kenapa? Kamu deg deg an ya?" tebak ku.
Naufal membuang pandangannya.
"Enggak, apaan sih, aku biasa aja kok," bantah Naufal.
"Aaaaa masak sih? Udah kelihatan kali," ejek ku.
"Masak iya kelihatan sih? Abis gimana? Aku nahan gak bisa," gerutu dalam hati Naufal lagi.
"Tuh kan diem, salting, udah ngaku aja Mas," paksaku.
"Enggaklah, kamu ngaco, kamu kali yang deg deg an," ejek Naufal ganti.
"Iiiiih kok ganti aku? Jelas-jelas aku biasa aja kayak gini," bantahku.
"Lihat saja, aku akan balas ulahmu Gi," ancam Naufal dalam hati.
"Wkwkwkwkw, dasar gak mau ngaku kamu," sentil ku.
"Oooh gitu, awas ya kamu," ancam Naufal becanda.
"Awas-awas aja nggak takut, weeekkkk," kataku sambil berlari pergi ke dalam kamar.
Naufal mengejarku tak lupa dia menutup pintu rapat-rapat.
"Gak bisa kan? Gitu ngancam-ngancam kamu, wkwkkwwk," ejek ku lagi.
Naufal terus berusaha mengejarku, dari ruang ganti baju sampai aku terjatuh di ranjang karena tersandung karpet.
Naufal berhasil menangkapku, aku tidak bisa berkutik sama sekali, wajah Naufal tepat ada di depan wajahku saat ini.
Tiba-tiba nafasku menjadi agak sesak, setiap kali sedekat ini dengan Naufal, rasanya di bumi tepat di kamarku minim akan adanya oksigen.
Aku menatapnya kuat-kuat, aku hanya diam tidak bisa melakukan perlawanan, karena memang Naufal sudah mengurungku.
Deg.....deg......deg.
"Huuufftt tenang Gi tenang," gerutuku dalam hati.
Jantungku benar-benar berdegup sekencang-kencangnya.
Naufal pun juga menatap bola mataku terus menerus.
"Kata siapa gak bisa Sayang? Nyatanya? Bisa kan," kata Naufal.
"Eeeheeemm, aku.....aku ke kamar mandi dulu Mas ya," kataku sambil berusaha membangungkan tubuhku.
"Mau ngapain?" tanya nya sambil mengejekku.
"Aku......aku mau...eeehhmm ini cuci muka, ya cuci muka," ceplosku gugup yang sudah tidak bisa berfikir lagi karena sudah terbayang wajah Naufal saja di otak ku sekarang.
"Kan tadi udah Sayang, kamu jangan ngeles dong," kata Naufal sambil tersenyum.
"Ad..duh ketahuan kan," gumamku dalam hati sambil ku telan salivaku.
"Alasan apa lagi ini," gerutuku lagi dan lagi.
"Udah kamu gak usah lari kemana-mana, cukup disini aja sama aku," kata Naufal.
Naufal meraih tangan ku untuk di lingkarkan nya tepat di lehernya.
Jantungku semakin deg deg an tak karuan.
Sepertinya malam ini Naufal akan mengulanginya lagi.
Mengulangi malam yang sudah pernah kita lalui dengan indah dan manis.
Lagi dan lagi aku hanya bisa pasrah.
Naufal sangat berkuasa malam itu.
Tak ada jarak sama sekali di antara kami.
__ADS_1
Bersambung.....