
Tok….tok…tok…
“Masuk aja Sayang,” ucap Naufal dari dalam euangannya.
“Mas Naufal kok tau, kalo yang kesini aku,” gumamku dalam
hati.
Glleeeekkk….
“Kok tau Mas kalo aku yang kesini??” tanyaku.
“Ya tau lah Sayang, tadi aku ketemu suster Andini, kalo
flash disk udah di kasih ke kamu, pasti kamu bakalan langsung kesini, ya kannnn,” goda Naufal.
“Yak an ini emang tugas Mas,”ucapku.
“Ini tugasnya udah aku selesai in semuanya Bapak Naufal,” kataku.
“Heheheem, kok jadi kaku gitu,” ejek Naufal.
“Kan wibawa Mas, hehehem,” candaku.
Kembali ada yang mengetuk pintu Naufal.
Dokter Irene dan Dokter lain masuk ke dalam ruangan Naufal
untuk menyetor tugas yang semalaman kami kerjakan.
“Udah selesai semua ini??” tanya Naufal.
“Sudah Dok,” jawab mereka.
Merekakembali ke ruangan nya masing-masing, saat aku akan
ikut mereka, Naufal memanggilku.
“Eh mau kemana??" tanyanya.
“Mau balik lah Mas ke ruanganku,” jawabku.
“Bentaran Sayang, buru-buru banget sih, bantuin suaminya
bentar nyusun semua ini,” ucap Naufal.
“Mas, kan bentar lagi rekan kamu juga dateng,” kataku.
“Bentaran aja Sayang, sini ah,” rengek Naufal sambil menarik
tanganku.
Tepat saat itu, rekan kerja Naufal masuk.
“Tuh kan udah dateng, udah ya aku balik,” kataku.
“Huuummm, kamu sih,” ucap Naufal.
“Byeee Mas,” kataku meninggalkan Naufal dengan rekan kerja nya wanita yang sudah lama menemani nya selama awal kerja.
Aku kembali ke ruanganku.
Saat aku sedang berjalan, ada seorang Suster yang berlari
menuju ruangan Naufal hingga tertabrak olehku.
Buuukk….
“Aaaaawwww,” ucapku karena tabrakan keras mengenai lenganku.
Suster itu terjatuh dan flashdisk nya jatuh entah kemana.
“Kamu nggak papa??” tanyaku sambil membantunya berdiri.
“Nggak Dok, nggak papa,” jawabnya.
Dia langsung mencari flashdisk nya.
“Flashdisk saya jatuh kemana ya tadi,” gumamnya.
Aku juga membantu mencari.
“Flashdisk nya warna apa Mbak??” tanyaku.
“Putih Dok,” jawabnya sambil terus mencari.
Namun tak ketemu juga.
Saat flashdisk sudah terlihat, ada dua orang canti dengan
heels tinggi nya menginjak flashdisk tersebut.
Kkrraaakkk….
Si Suster langsung melongo melihatnya.
“Ya Allah,” ucapnya.
Dua wanita itu tidak meminta maaf atau berbicara pada Si
Suster dulu, dia malah langsung nyelonong jalan.
“Gimana ini mau di kasihkan ke Dokter Naufal lagi,” gumam
Suster itu sambil memungukit flashdisk nya yang remuk.
“Mbak, ini tadi mau ke ruangan Dokter Naufal??” tanyaku.
“Iya dok, tapi gimana flashdisk saya rusak gini,” jawabnya.
“Eemmmmm, saya antar saja gimana??” tanya ku.
Suster itu menoleh padaku.
“Dokter ini kan istrinya Dokter Naufal kan?” tebak Suster
itu.
Aku hanya menganggukkan kepalalku dan tersenyum padanya.
“Aduuuh syukurlah, mohon bantu saya Dok, saya benar-benat
sangat takut,” ucapnya.
“Iya saya antar ke ruangan Dokter Naufal ya, Insya’Allah di
kasih toleransi kok, kan ini musibah, kita kan nggak tau,” tuturku.
“Iya Dok, makasih Dok sudah berkenan membantu saya, Ya
Allah, syukurlah,” ucap Suster itu sangat senang.
Aku mengantarkan nya ke ruangan Naufal.
***(Di Ruangan Naufal)
“Sayang, balik lagi,” ucap Naufal.
“Mmmm…Mas, kamu jangan marah ya,” ucapku.
“Marah kenapa??” tanya Naufal yang juga heran karena aku
datang dengan Suster yang sebelumnya tidak pernah dekat denganku.
“Eemmmmm, ini tadi kan aku nggak sengaja tabrakan sama Mbak ini, terus flashdisk yang mau di kasih ke kamu jatuh, eh ke injak orang pula, jadi dia belum bisa kumpulin sekarang, gimana Mas??” tanyaku agak sedikit memohon pada Naufal.
“Flashdisk nya masih ada??” tanya Naufal.
“Ada Dok,” jawab Suster sambil membuka tangannya yang
mengeggam serpihan flashdisk.
“Gini aja, kamu kasihin itu nya sama saya, datanya pasti
masih ada, nanti biar rekan saya yang beresin sama merekap,” ujar Naufal.
“Memangnya nggak papa ya Mas, kan kata kamu jam 9 harus di kumpulin,” kataku.
“Iya Gi, tapi di setor kesana nya masih nanti sore, bisa lah
Insya’Allah,” tutur Naufal yang membuat Suster lega.
“Huuuufftt, Alhamdulillah,” ucapnya.
__ADS_1
“Nggak usah takut, kan musibah nggak ada yang tau,” tutur
Naufal.
Aku semakin mencintai nya dengan sifatnya yang pengertian
dan toleransi nya yang sangat tinggi.
“Kamu carikan kontak nya Pak Seva, nanti kirim ke saya ya,
saya mau bicara sama beliau,” perintah Naufal pada rekan kerjanya.
Aku sedikit mendekat pada Naufal.
“Mas, gara-gara ini ya kamu mau bicara sama Pak Seva, mau
undurin deadline karena ada data belum lengkap,” ucapku dengan lirih dan agak sedikit mengangkat tumitku.
“Enggak, akum au bahas yang lain Gi, bukan masalah ini,”
jawab Naufal.
“Hhhmm, syukurlah,” ucapku.
“Kok deket-deket gini, pake jinjit-jinjit segala lagi, mau
apa?? Kiss??” tanya Naufal sangat lirih.
Langsung ku turunkan kembali tumitku.
Untung saja mereka berdua tidak mendengarkan ucapan Naufal tadi yang mencoba menggodaku.
“Massss……sempet-sempetnya,” gumamku.
“Ya udah aku balik lagi ya, tadi aku balik cuman mau bantu
Mbak ini ngomong ke kamu,” ujarku.
“Hehehehe, iya iya,” kata Naufal.
Aku dan Suster itu keluar dari ruangan Naufal.
“Suster nggak usah takut banget gitu sama Dokter Naufal,”
ucapku sambil menutup pintu ruangan Naufal.
“Saya sebenarnya nggak takut Mbak, Dokter Naufal memang
pribadi yang sangat baik, sangat menghargai kerja keras teman-teman beliau yang ada disini, cuman saya sangat takut mengecewakan beliau Mbak, karena kerja saya nggak maksimal. Apalagi hari ini deadline, tapi data belum lengkap,” ucap Suster itu.
“Hehehem, semua nya pasti bisa di atasi Mbak, tenang aja,”
tuturku sambil tersenyum pada Suster itu.
“Makasih ya Dok sudah di bantu tadi ngomong sama Dokter
Naufal,” ujar Suster itu.
“Sama-sama,” jawabku.
Aku pun kembali ke ruanganku.
Dan mengerjakan kembali pekerjaan ku.
Aku berjalan dan memasuki ke setiap ruangan disana.
***(Ruang Rose)
Suster Andini dan satu temannya sudah lebih dulu ada disana.
“Pagi semuaaa,” sapaku pada mereka.
“Pagi Dok,” jawab mereka.
“Eh ketemu Dokter lagi, hehehem, jangan bosen-bosen ya Dok,” ucap salah satu orang tua dari pasienku.
“Ada apa ini Buk???” tanyaku.
“Kambuh lagi Dok,” jawab Si Ibu dari pasien yang sudah lama
mondar mandir balik ke Rumah Sakit ini.
“Ooooh pasti kangen sama saya ya ini, jadi opname lagi
disini kan, hehehem,” candaku pada anak ibu itu yang masih seusia Abay.
Dia membalas senyumanku.
Suster Andini memberikan kertas hasil pemeriksaan setiap
pasien di Ruangan Rose.
Sorenya, Naufal menjemputku ke ruangan, sedangkan aku sedang sibuk mengetik di depan laptop.
“Jangan capek-capek,” tutur Naufal yang duduk di depanku
karena harus menungguku.
“Bentar ya Mas, kurang dikit kok,” ucapku.
“Iyaaa Sayang, kapan pun selesai nya pasti aku tungguin kok,
udah tenang aja, hehehem,” jawab Naufal.
“Sini aku ganti pijitin,” ucap Naufal sambil beranjak
berdiri.
“Nggak, nggak usah Mas, aku nanti malah geli,” kataku sambil
menutup leher dan tengkuk ku dengan tanganku.
“Nggak papa Sayang, pelan aja,” tutur Naufal.
“Nggak nggak, aku tetep nggak mau, geli Mas,” kataku.
“Ya udah di totok aja,” rayu Naufal.
“Emang kamu bisa??” tanyaku.
“Bisa dong, Mama aku punya Spa, masak anaknya nggak bisa,
hehehe,” canda Naufal.
“Bisa aja kamu Mas,”kataku.
“Tapi merem ya kalo di totok,” kata Naufal.
“He’em, tapi bentaran aja,” ujarku.
“Iya iya,” jawab Naufal.
Ku sandarkan kepalaku di bagian atas kursi.
Naufal mulai memijat-mijat keningku dengan jari jemarinya.
“Nggak kalah enaknya sama Mbak-Mbak karyawan Mama Feni Mas,” pujiku sambil enjoy dengan totok dari Naufal.
“Hehehem, iya dong, kamu sih nggak percaya, aku kan kayak
Papa kamu, bisa jadi apa aja, sekarang malah jadi tukang titik wajah, hehehehe,” canda Naufal.
“Hehehehe, iya sih bener kamu Mas,” kataku.
“Udah Mas, udah,” kataku sambil membuka kedua mataku.
“Loh bentaran Sayang, belum, bentar lagi,” ucap Naufal.
“Udah Mas, udah enak kok,” kataku.
“Belum Sayang, ini belum, yang penutupnya belum,” paksa
Naufal agak sedikit tertawa.
“Apa sih pake penutup segala, hehehem, emangnya pidato, bisa aja kamu kalo ngerayu,” ejekku.
“Sayaangggg….beneran, ini penutup doang, penutup itu biar
capek dan semua pikiran yang berat-berat jadi ilang,” bujuk Naufal.
“Eeeemmm, ya udah deh, aku nurut,” kataku yang akhirnya
pasrah.
__ADS_1
Ku sandarkan dan ku pejamkan lagi kedua mataku.
“Mas, mana??” tanyaku karena jari Naufal tidak kunjung
menyentuh dan memijat kulit wajahku.
“Bentar yaaa…” ucap Naufal.
Nafas Naufal terasa semakin dekat dengan keningku.
Daaannnnn benar, satu ciuman mendarat tepat di keningku.
“Hehehehem, kamu mainin aku ya,” kataku masih tetap
memjamkan kedua mataku.
“Hhmm, udah kan, ilang semua kan beban yang ada di pikiran
kamu,” canda Naufal.
“Mas….Mas, bisa aja buat aku ketawa,” ucapku.
“Udah ah, sekarang aja pulang, nanti kamu malah bahaya lagi,” kataku sambil mematikan laptopku.
“Hehehem, bahaya apaan, emangnya aku hewan buas yang bakalan menerkam kamu,” kata Naufal.
“Yaaaa bisa di bilang gitu,” kataku.
Aku pun berjalan berdua bersama Naufal menuju parkiran
sambil berbincang-bincang.
Mobil melaju menjemput Abay.
“Mas, memangnya kamu nggak pernah marah sama tim kerja
kamu??” tanyaku.
“Maksud kamu gimana?? Marah sama siapa??” tanya Naufal.
“Ya misal kamu marah sama tenaga kesehatan di rumah sakit
karena datangnya telat atau apalah,” jawabku.
“Eemm…itu, ya nggak lah Sayang,” jawabnya dengan enteng.
“Mereka telat atau apa pun itu pasti juga punya alasan,
nggak mungkin enggak, dannnn….kalo kasih alsan ke aku yang nggak jujur ya aku biarin aja, kan yang dosa dia, yang penting aku bisa merangkul yang lain yang lebih patuh, dari pada memperhatikan satu orang tapi malah merugikan, biarin
aja, dosan kan di tanggung mereka, terus kalo menurut aku, selagi masalahnya masih bisa di atasi, kenapa harus dimarahi??? Ya kan,” ucap Naufal.
Aku salut dengan jawaban Naufal, aku semakin jatuh cinta
padanya.
“Kayak misal kemaren, ada kan anak yang di Laboratorium, ngelanggar apa gitu aku lupa, pokoknya kelewat deadline, terus aku kasih dia waktu 3 jam buat selesai in tugas nya dia, selesai kan, kenapa harus dimarahi, kasihan, mereka juga kerja Sayang, tapi yang pasti mereka juga setelahnya bakalan aku kasih nasehat jangan di ulangi lagi, dan Alhamdulillah nggak ada sih sampe sekarang,” sambung Naufal.
“Pantesan Papa aku jodohin sama kamu, menyakiti orang lain
saja kamu nggak mau, apalagi istri dan anak mu sendiri,” pujiku pada Naufal.
“Heheheem, kesambet apa ini istriku, kok tiba-tiba gini,
muji-muji suaminya<’ ucap Anufal sambil mengelus kepalaku.
“Bukan muji, aku ngomongnya real kok,” kataku.
“Hehehem, iya iya Sayang, senggol dikit aja langsung
meledak,” ejek Naufal.
“Massss….orang aku ngomongnya halus kok ke kamu, mana pernah aku ngomong teriak-teriak ke kamu, bentak-bentak ke kamu, hmmm, kamu nih,” bela ku.
“Iya iya, ututututu, iya Sayang, bercanda, aku tau kok, tau
banget sifat istriku kayak gimana,” ucap Naufal.
***(Di Rumah)
Setelah kami sholat dan mengaji bersama, aku dan Naufal
keluar ke Rumah Mama Feni.
“Nak, Mama sama Papa pergi dulu ya,” kataku.
“Iya Ma,” jawab Abay yang sedang bersiap-siap untuk les.
“Ma, nanti setelah les, Abay minta antar Bibi buat ke
Supermarket sebrang jalan,” ucap Abay.
“Iya Nak,” jawabku.
“Mama berangkat ya, Ddaaaaa,” kataku.
Aku dan Naufal turun ke bawah.
Kami bertemu Bi Sarah di ruang tamu.
“Bi, nanti katanya Abay setelah les mau ajak Bibi ke
Supermarket sebrang jalan,” ucapku.
“Oh, enggeh Mbak (Iya Mbak), nanti saya antarkan Dek Abay,” jawab Bi Sarah.
“Ya udah Bi, ini Gia sama Mas Naufal mau ke rumah Mama Feni soalnya Bi, pulangnya malem kayaknya Bi, Abay tadi saya ajak nggak mau, eh ternyata dia les,” kataku.
“Enggeh Mbak (Iya Mbak), atos-atos nggeh Mbak (Hati-hati ya Mbak)” ucap Bi Sarah.
“Iya Bi, Asssalamu’alaikum,” salamku.
Klakson mobil Naufal sudah memanggil-manggilku, Naufal sudah
menungguku di depan Rumah.
Baaakkkk…
Ku tutup pintu mobilnya.
“Udah bilang Bibi tadi, kita pulangnya agak malam??” tanya
Naufal.
“Udah kok Mas,” jawabku.
“Ke Swalayan dulu Mas, mau beliin sesuatu buat Mama,”
ujarku.
“Swalayan yang mana?? Yang biasa nya kamu??” tanya Naufal.
“Yang deket kea rah rumah Mama aja Mas,” jawabku.
“Ooo iya, tapi nggak usah ngroweng macetnya ya, awas kamu,” ancam Naufal.
“Heheheehm, kamu selalu gitu kalo aku ngajaknya kesana,”
ucapku.
“Soalnya biasanya kamu ngroweng minta turun dari mobil
Sayang, jangan ya, nggak ada yang jual es krim kalo lagi macet, Hihihihi,” canda Naufal.
“Aaaaaa Mas Naufal, masih inget aja, dulu kan emang masih
baru-baru nikah, ya masih kikuk dan kaku sama kamu, kalo sekarang kan udah enggak, mungkin cuman diem aja,” rengekku.
“Hehehehe, ngroweng juga nggak masalah kok Sayang buat aku,” ucap Naufal.
Seperti khalayak anak remaja, Naufal meraih tanganku dan di
genggamnya erat-erat.
Aku merasa menjadi perempuan paling bahagia di dunia ini.
Menjadi perempuan paling beruntung.
Menjadi wanita paling di sayangi.
Suamiku selalu memanjakanku dan tidak pernah mengeluh akan
sikap ku yang masih kekanak-kanakan sejak dulu dan sekarang agak sembuh karena bimbingannya untuk terus berfikir dewasa.
__ADS_1
Bersambung.......