
Visual Tokoh sebagai Gia Azimaika dalam Novel
Adzan shubuh berkumandang, kami berdua segera bangun dan bergegas mengambil air wudhu, lalu kami melaksanakan sholat berdua.
.
.
.
.
Paginya, aku segera mandi dan Naufal siap-siap untuk berangkat bekerja.
Selesai aku mandi, Naufal pamit untuk sarapan di bawah bersama-sama.
"Gi, aku turun dulu ya," ucapnya sambil melihat ponselnya.
"Iya Mas," jawabku.
Naufal berjalan keluar dari kamar.
.
.
.
Tak lama kemudian, aku menyusul Naufal untuk turun, tetapi aku tidak menyusulnya untuk sarapan, melainkan aku berjalan menuju halaman belakang.
***(Di Halaman Belakang)
Aku berbaring di tepian kolam renang sambil mengelus perut buncitku.
"Semoga nanti selalu diberi kemudahan ya," ucap batinku.
Tak lama kemudian Naufal menghampiriku.
Dia duduk di sampingku.
"Sayang, jangan lupa besok USG loh," kata Naufal.
"Besok ya Mas? Udah jadwalnya ya Mas," tanyaku yang agak lupa.
"Iya lah Gi, kamu lupaan aku tau," ucap Naufal.
"Ya udah, aku berangkat ya Sayang," ucapnya.
"Iya Mas, cepet pulang ya," godaku.
"Hehehm, ada ada aja sih kamu Sayang," kata Naufal sambil mencubit hidungku.
"Baik-baik loh di rumah, nggak usah capek-capek," tutur Naufal sambil mengecup keningku dan perutku.
"Iya Mas," jawabku sambil menyalami tangannya.
"Assalamu'alaikum," salam Naufal.
"Wa'alaikumsalam," jawabku.
Naufal berjalan mulai menjauh dariku.
Aku mencoba melihat ponselku, ada pesan dari Susi.
"Gi, kangen banget," Susi.
Setelah membaca pesan dari Susi, video call langsung ku tujukan padanya.
Tut....tut.....tut, dering ponselku.
Susi langsung menerimanya.
"Assalamu'alaikum," ucapku.
"Giaaz Wa'alaikumsalam," jawabnya.
"Ya Allah Gi, aku kangen banget sama kamu, semenjak aku mau nikah, kan aku gak pernah keluar, apalagi ini aja aku udah di Rumah," ucap Susi.
"Ya iyalah Si, kan besok kamu udah nikah," kataku.
"Awas loh kamu, jangan telat, ini sekarang kamu dimana?" tanya Susi.
"Masih di Rumah Mas Naufal Si," jawabku.
"Nanti malem aku pulang Si," kataku.
"Giiii, sumpah aku deg deg an banget besok ijab qabul," kata Susi.
"Hahaha, Ya Allah Si, aku dulu juga gitu lah sama kek kamu, gak bisa tidur tau," ucapku.
"Bener Gi kamu, tadi malem aja aku gak bisa tidur, apa lagi nanti, haduuuh," keluhnya.
"Jangan sampe nggak tidur loh kamu, nanti kecapek an Si," tuturku.
"Insya'Allah Gi, hehhee, insom Gi rasanya," keluhnya.
"Kamu ngapain ini sekarang?" tanyanya.
"Berjemur Si, biasa bumil," jawabku.
"Sendirian?" tanyanya lagi.
"Iya sendirian Si, Mas Naufal kerja," jawabku.
"Ya udah Gi kalo gitu, ini aku di panggil Mama," ucap Susi.
"Iya Si," jawabku.
"Besok jangan telat ya, kamu harus nemenin aku terus, daaaa Gia, Assalamu'alaikum," ucapnya.
"Iyaaa Siii, byeee Wa'alaikumsalam," jawabku.
Susi menutup video call dariku.
Lalu aku berjalan masuk ke dapur.
***(Di Dapur)
Ada Bi Sarah yang sedang mencuci piring.
"Mau makan Mbak?" tanya Bi Sarah yang sudah mengerti jika aku habis berjemur pasti aku makan.
"Iya Bi," jawabku.
"Gia mau makan disini aja Bi," kataku.
"Ya udah Bibi ambilin, Mbak Gia mau apa? Ada salad sayur, ada sayur sup, ada gurame," tawar Bi Sarah.
"Gia mau salad aja Bi," jawabku.
"Pake nasi Mbak, sesuai pesan Mas Naufal," tutur Bi Sarah.
"Iya Bi dikit aja," kataku.
"Maaf ya Bi, semenjak Gia hamil, Bibi repot banget kayaknya," ucapku.
"Aaah Mbak Gia, nggak papa, sudah pekerjaan Bibi ini Mbak, hehehem, Mbak Gia jangan nggak enak hati atau bagaimana sama Bibi," tuturnya.
Aku hanya tersenyum padanya.
"Bibi ambilin dulu ya Mbak," kata Bi Sarah.
Bi Sarah berjalan mengambilkan ku sarapan.
Tak lama kemudian beliau datang dan memberikanku sepiring sarapan.
"Makasih ya Bi," ucapku sambil tersenyum padanya.
"Iya Mbak, Bibi buatin susu ya Mbak," tawar Bi Sarah.
"Boleh Bi," jawabku.
Aku mulai menyantap salad sayur buatan Bi Sarah.
"Bi, Bibi kok bisa buat apa aja dan rasanya enak banget Bi," pujiku.
__ADS_1
"Ah masak Mbak? Hehehm jadi malu Bibi," canda Bi Sarah.
"Beneran Bi? Apa pun Bibi bisa masak, ya kan," kataku.
"Hehe, dari dulu kan Bibi kerja sama Ibuk (Mama Gia) Mbak, jadi Ibuk yang berbagi resep sama Bibi," kata Bi Sarah.
"Jadi Mama Bi yang ngajarin Bibi resep ini itu dan semuanya," ucapku.
"Iya Mbak, maka nya masakan Bibi sama rasanya kayak buatan Ibuk Mbak," kata Bi Sarah sambil menuangan air yang direbus ke dalam gelas.
"Dulu Bibi sengaja Mbak di suruh kerja sama Mbak Gia, karena sekalian jaga Mbak Gia katanya Ibuk, hehheem, kan Ibuk juga tau Mbak kalo Mbak Gia akrab banget sama Bibi, jadi ya Bibi mau banget Mbak waktu di tawarin Ibuk," kata Bi Sarah.
"Ya Allah Mama sayang banget sama aku," gumamku dalam hati.
"Saking sayangnya Ibuk sama Mbak Gia, hehehm, sampe udah nikah Bibi suruh ngikutin terus Mbak," ucap Bi Sarah sambil memberikan segelas susu padaku.
"Diminum Mbak," tuturnya.
"Ya Bi," jawabku.
Ku habiskan segera sarapan pagi dan segelas susu itu.
"Mbak, Bibi ke taman belakang dulu ya," ucap Bi Sarah.
"Bibi mau ngapain kok bawa pot," tanyaku heran.
"Bibi mau tanam bunga Mbak," jawabnya sambil membawa tumpukan pot bungan kecil-kecil.
"Gia ikut Bi," kataku.
"Jangan Mbak, nanti Mbak Gia kecapek an, ini juga udah mau siang Mbak," kata Bi Sarah.
"Nggak papa Bi, dari pada Gia nggak ngapa-ngapain," kataku.
"Eemmm.....Ya udah Mbak, monggo," ucap Bi Sarah.
Aku dan Bi Sarah berjalan menuju halaman belakang Rumah.
***(Di Halaman Belakang)
Akud dan Bibi jongkok di atas rumput-rumput hijau yang sangat terawat berkat Pak Rusdi suami Bi Sarah.
"Mana Bi bunganya?" tanyaku.
"Ini Mbak," jawab Bi Sarah sambil mengambil tanaman bunga matahari.
"Bunga matahari aja ini Bi," tebakku.
"Ada mawar kayaknya tadi Mbak, Pak Rusdi beli banyak tadi Mbak," jawabnya.
Mataku langsung terbelalak mendengar kata-kata mawar.
"Mawarnya merah Bi?" tanyaku lagi.
"Putih kayaknya Mbak, kan kesukaan Mbak Gia mawar putih," ucap Bi Sarah.
"Bentar Bibi tanyakan Pak Rusdi dimana naruh tanaman mawarnya," kata Bi Sarah berdiri untuk mencari Pak Rusdi.
Tak lama kemudian, Bi Sarah dan Pak Rusdi menghampiriku sambil membawa 5 tanaman mawar putih.
"Waaaah," kataku.
"Pak Rusdi beli dimana ini Pak?" tanyaku.
"Beli di pasar Mbak, terus kata Bibi Mbak Gia suka mawar putih, jadi saya nggak jadi beli yang warna merah Mbak, hehehe," ucap Pak Rusdi.
"Ya Allah Pak, nggak papa kalo Bapak pengen," tuturku.
Pak Rusdi dan Bi Sarah meletakkan tanaman bunga mawar yang ada di polibag tepat di samping tempatku duduk.
"Saya ke depan dulu ya Mbak, saya mau tanam yang bagian depan," kata Pak Rusdi.
"Iya Pak, makasih ya Pak," ucapku.
"Iya Mbak," jawab Pak Rusdi dan berjalan meninggalkanku dan Bi Sarah.
Kami memulai aksi kami untuk menanam tanaman ini, Bi Sarah yang mengajari bagaimana cara menanam dan merawat tanaman ini, karena ini baru pertama kali aku melakukan seperti ini.
"Bi, nanti Gia minta satu ya, buat Gia taruh di balkon, biar jadi temennya kaktus Bi," kataku.
"Boleh Mbak, kan ini semua miliknya Mbak Gia," kata Bi Sarah.
Setelah separuh tanaman bunga berhasil ku pindahkan dalam pot, punggungku sudah terasa capek.
"Kenapa Mbak?? Punggung nya sakit?" tanya Bi Sarah.
"Eemm....iya Bi," jawabku.
"Sudah sudah Mbak Gia istirahat saja, biar Bibi saja Mbak," kata Bi Sarah yang khawatir.
"Iya Bi, Gia istirahat dulu ya," pamitku.
"Mari saya antar Mbak, saya bawakan bunganya," tutur Bi Sarah.
"Nggak Bi, nggak papa Gia bawa sendiri aja," bantahku.
"Jangan Mbak, Bibi khawatir nanti," kata Bi Sarah yang cemas.
"Mari Mbak mari, kalo Mbak Gia sakit, Bibi sedih, Mas Naufal juga pasti sangat sedih," ucapnya.
Aku menuruti apa kata Bi Sarah, Bi Sarah mengantarku ke kamar.
.
.
.
.
.
***(Di Kamar)
"Bibi taruh disitu aja nggak papa Bi," tuturku.
"Bibi taruh bawa sini ya Mbak," ucap Bi Sarah.
"Iya Bi," jawabku.
"Mbak Gia istirahat loh, Bibi turun dulu ya Mbak," kata Bi Sarah.
"Iya Bi," ucapku.
Bi Sarah menutup pintu kamarku, dan ku rebahkan tubuhku, aku pun tertidur.
Bi Sarah menutup pintu kamarku, dan ku rebahkan tubuhku, aku pun tertidur.
.
.
.
.
.
.
Tepat setengah 2 siang Bi Sarah membangunkan ku.
Tok tok tok....
Aku mulai terusik dengan suara itu.
"Mbak Gia bangun, sholat dulu Mbak," kata Bi Sarah dari luar kamarku.
"Uuughhhmmm," ku buka pelan kedua mataku.
"Iya Bi, Gia bangun," jawabku.
"Ya sudah Mbak, Bibi hanya membangunkan Mbak Gia saja," kata Bi Sarah.
Setelah Bi Sarah berhasil mmebangunkanku, Bi Sarah kembali turun.
Dan aku segera bergegas untuk bangun, dan mengambil air wudhu lalu sholatd dhuhur.
__ADS_1
Setelah sholat, ku ambil tanaman bunga mawar yang di taruh Bi Sarah di lantai di sampaing bufet.
Ku pindahkan tanaman itu di balkon.
Aku meletakkan tanaman bunga itu di dekat tanaman kaktus milikku.
Sesekali ku hirup bau segar bunga mawar itu.
Ku habiskan waktuku siang ini untuk duduk santai di balkon.
.
.
.
.
.
.
.
Hingga akhirnya adzan ashar berkumandang.
"Mas Naufal kok belum pulang ya?" tanyaku dalam hati.
Aku berjalan masuk ke kamar.
Sesekali aku melihat jam duduk.
"Padahal udah sore," kataku sendiri.
Sambil menunggu Naufal pulang, aku memutuskan untuk mandi saja.
.
.
.
.
.
Beberapa menit setelah aku mandi, dan selesai aku berganti baju.
Seseorang telah mengetuk pintuku.
"Pasti itu Naufal," kataku dalam hati kegirangan.
Dan aku segera membuka pintunya.
Gleekkk...
Dan ternyata Bi Sarah yang tengah berdiri di depanku saat ini.
"Mbak, ada tamu di bawah, kata nya teman Mbak Gia dulu," ucap Bi Sarah.
"Teman aku dulu Bi?" tanyaku pada Bi Sarah.
"Iya Mbak," jawab Bi Sarah.
"Cewek kan Bi?" tebakku.
"Iya Mbak," jawab Bi Sarah lagi.
"Siapa ya??" gerutuku dalam hati.
"Siapa Bi namanya?" tanyaku.
"Waduh, Bibi lupa tanyanya Mbak, tapi tadi sempat berkenalan sama Bibi, tapi Bibi lupa, assshh," kata Bi Sarah.
"Ya udah Bi gak papa, bentar lagi Gia turun ya Bi," ucapku.
"Iya Mbak," jawab Bi Sarah lalu berjalan meninggalkan ku.
Aku segera mengambil kerudung, setelah ku mendapatkan kerudung, aku langsung turun.
Di pertengahan anak tangga, aku sepertinya pernah melihat body type tapi tamu ini. Aku tidak bisa melihatnya langsung karena dia membelakangiku.
Saat dia mendengar langkah kakiku, tamu itu menoleh padaku.
"Gia," panggilnya.
"Riana, Ya Allah Naaaaa," kataku langsung menghampirinya.
Aku berpelukan dengan Riana.
"Ya Allah Gi, kamu hamil ya, uuummm perut kamu udah jadi jarak di antara kita, hehehe," ejek Riana.
Kami melepas pelukan kami.
"Nanaaaaa, duduk-duduk," tuturku.
"Kamu hilang kabar sih Na, kabar kamu gimana?" tanyaku.
"Alhamdulillah Gi, aku juga sehat baik-baik aja kek kamu," jawab Riana.
Aku memandangi terus wajah Riana.
"Aduuh Na, kamu kenapa sih hilang kabar?" tanyaku.
"Aku pengen fokus sama satu cita-cita aku Gi, aku pengen bener-bener nyari jati diri aku, jadi aku sengaja menghilang dari temen-temen ku," jawabnya.
"Ooww gitu, aku jawab email kamu nggak kamu bales Na," ucapku.
"Hehehe emang sengaja Gi aku mau buat surprise kamu," kata Riana.
"Kamu tau alamat aku dari mana?" tanyaku.
"Aku tanya temen-temen kita dulu lah Gi, terus rumah kamu segede ini, aku tadi aja di depan kayak mau kayak enggak, terus katanya temen-temen kamu udah nikah Gi, tapi temen-temen nggak tau suami kamu siapa?? Aneh gak sih, kamu ga ada ngundang temen-temen Gi??" tanya Riana yang membuat mulutku terbungkam.
"Eeemmm gitu ya....iya sih Na, aku gak ada undang temen-temen koas, soalnya emang acaranya sakral satu keluarga," kataku sambil terbata-bata.
"Disini juga nggak ada foto pernikahan kamu," kata Riana sambil menoleh ke arah samping kanan dan kiri dinding Ruang Tamu.
"Emang sengaja nggak di pajang di sini Na, kalo di kamar ada, terus di beberapa ruangan ada, di dinding-dinding lainnya juga ada, kalo disini cuman kaligrafi aja sih, soalnya harus nurut suami Na," jawabku mulai deg deg an karena Riana belum tau kalo suamikua adalah Dokter Naufal yang di idam-idamkan olehnya.
"Waaah religius banget Gi suami kamu sama kamu, huuumm," puji Riana.
Aku hanya tersenyum padanya.
Memang di Ruang Tamu ini sengaja tidak di pajang foto pernikahan kami, hanya tulisan kaligrafi saja yang ada disini dan karpet pajang bergambang ka'bah.
"Eh iya Gi mana suami kamu?" tanya Riana.
"Emm...suami aku ya, suami aku masih kerja Na kalo jam segini," jawabku semakin deg-degan.
"Untung saja Mas Naufal belum pulang," gerutuku dalam hati.
Riana mendekatkan dirinya padaku.
"Eh Gi, mumpung gak ada suami kamu, wahahaha apa kabarnya ya Dokter yang mimpin kita koas dulu," ucap Riana dengan lirih.
Deggg.....
"Pasti yang dimaksud Riana ini Naufal," gumamku dalam hati sambil menarik wajahkua agak menjauh dari tatapan Riana.
"Sii....siapa Na maksud kamu?" tanyaku terbata-bata.
"Iiih masak kamu lupa sih Gi, Dokter Naufal Gi," jawab Riana.
Tiba-tiba ucapan salam dari seorang pria terdengar.
"Assalamu'alaikum,"
Dan ternyata Naufal sudah pulang.
Deg deg.....deg deg....deg deg.
"Wa'alaikumsalam," jawabku dan Riana semakin lirih.
Riana dan aku langsung berdiri, mata Riana melongo melihat Naufal yang terhenti langkah kakinya sambil membuka kancing kemeja di pergelangan tangannya.
"Ooo oow Gi, panjang umur makhluk nya," kata Riana yang tetep melongo melihat Naufal.
__ADS_1
Aku bingung mau jelasin ke Riana dari mana dulu, karena dia temanku yang baik.
Bersambung.......