
***(Di Kamar)
Naufal sibuk memainkan ponselnya.
“Mas…..udah besok lagi, udah malem,” tuturku sambil tidur
menghadapnya.
“Chatingan sama siapa sih?? Sibuk banget,” kataku.
“Kamu cemburu yaaaa…” goda Naufal.
“Apaan sih?? Sama siapa dulu??” tayaku lagi.
“Eemmmm siapa ya…enaknya siapa Sayang,” kata Naufal.
“Nggak lucu ah,” ucapku langsung menarik selimut menutupi
ujung kaki hingga leherku dan berbalik memunggungi Naufal.
“Hahahahaha, ngambek nih istri aku,” goda Naufal lagi.
“Ini loh aku chatingan sama Bastian bentar, kamu cemburu
sama Bastian?? Hmm??” tanya Naufal sambil mengendus-endus pundakku.
“Apa sih Mas, nggak jelas kamu,” kataku yang terlanjur
ngambek pada Naufal.
“Utututututu masih ngambek nih,” kata Naufal.
Aku hanya diam sambil mengernyitkan kedua alisku.
Naufal menyelipkan tangannya dalam selimut dan merangkul
pinggangku, aku agak bergeser agar terkesan lebih ngambek padanya.
“Sayanggggg……..tadi chatingan sama Bastian beneran, bukan
sama siapa-sisapa,” ucap Naufal dengan halus di dekat telingaku.
“Maka nya kalo di tanya istrinya langsung di jawab, nggak
boleh gitu,” rengekku.
“Kalo aku ngambek kamu yang bingung juga kan,” sambungku
lagi.
“Hehehehe, iya lah Sayang, lagian kamu sih Sayang ngapain
pake acara cemburu, nggak mungkin lah aku chatingan sama wanita lain,” ujar Naufal.
“Beneran nggak pernah??” tanyaku.
“Iya nggek pernah,” jawabnya.
“Terus sama rekan kerja kamu di Rumah akit itu apa??”
tanyaku.
“Kan itu bahs kerjaan Sayang, jadi ya harus berinteraksi
langsung sama aku,” kata Naufal.
“Nah iya berarti pernah kan, bukan nggak pernah,” ujarku.
“Iya de hiya aku kalah, udah jangan ngambek lagi Sayang,”
kata Naufal sambil mengelus-elus rambutku.
“Semua itu berawal dari pekerjaan,” ucapku.
“Astagfirullah Sayang, tapi kan aku nggak mungkin berpaling
dari kamu,” bela Naufal.
“Maka nya kamu jangan buat aku cemburu kalo lagi di rumah,
jadi ngawur kan yang aku omomngin, cukup kamu di kagumi mereka-mereka di rumah sakit, kamu bisa milik mereka, tapi kalo di rumah, kamu milikku, ya meskipun kamu dimana pun milikku, tapi kan aku paham tempat dan kondisi,” rengekku.
“Eehhhmmm, gini ya kalo manja, coba sini hadap aku,” kata
Naufal.
“Nggak mau,” tolakku.
“Sayang……” ucap Naufal.
Aku malah memejamkan kedua mataku, Naufal langsung
membalikkan tubuhku menghadapnya.
Dia memberikan malamnya kembali padaku, malam yang sangat
indah untuk kami.
Aku sangat tenang terkurung di dalamnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Adzan shubuh berkumandang….
“Allahuakbar……Allahuakbar…”
Kali ini bukan aku yang bangun duluan, Namun Naufal.
Lagi-lagi selalu dia tidak membangunkanku langsung, malah
melihat terus wajahku.
“Makasih Sayang untuk malamnya,” bisiknya di telingaku.
Aku kira itu mimpi indah.
Tak sengaja alam bawah sadarku membawaku untuk memeluk
Naufal setelah dia membisikkan kata indah itu menurutku.
Buuukkkk…..
Naufal malah keasikan saat aku memeluknya.
“Gia…..Gia kalo gini kelihatan manja nya kamu Sayang,” ucap
Naufal sambil membelai pipiku.
Naufal memutuskan untuk mandi terlebih dahulu dan
membiarkanku.
.
.
.
.
.
Setelah dia mandi, dan aku masih tertidur pulas, Naufal
meninggalkanku ke Dapur.
***(Di Dapur)
“Bibi,” panggil Naufal pada Bi Satah.
“Eh Mas Naufal,” kata Bi Sarah kaget sambil clingak-clinguk
ke belakang Naufal.
“Loh, Mbak Giamana Mas??” tanya Bi Sarah.
“Gia nya masih tidur Bi, abis ini mau saya bangunin, hari
ini dia nggak masak ya Bi, biar saya yang masakin dia,” ucap Naufal.
Bi Sarah menjingkat kaget mendengar untuk pertama kalinya
Naufal mengatakan hal itu.
“Beneran Bi, Naufal yang masak,” kata Naufal.
“Mas Naufal bisa??” tanya Bi Sarah agak ragu.
“Waduh jangan meragukan saya Bi, hehehe, bisa dong Bi, yang saya nggak bisa cuman nyakirin Gia,” ucap gombalan Naufal.
“Hehehehe,Mas Naufal…..Mas Naufal….pantesan Mbak Gia bahagia banget sama Mas,” kata Bi Sarah.
“Ya sudah Bi, saya ke atas lagi ya,” ucap Naufal.
“Enggeh Mas, monggo monggo,” kata Bi Sarah.
“Asuh aduh, enaknya jadi Mbak Gia, udah suaminya baik, bisa
masak pula, hehehem,” puji Bi Sarah.
***(Di Kamar)
Naufal membangunkan ku dengan pelan-pelan.
“Sayang………” ucapnya.
Aku pun tak kunjung bangun.
“Gi……..Gia…….Sayang,” kata Naufal.
__ADS_1
Telingaku terusik olehpanggilan Naufal sehingga aku pun
terbangun.
“Uuughhhhh….apa Mas??” tanyaku membuka pelan kedua mataku.
“Udah shubuh, kamu nggak mau bangun,” kata Naufal.
“Hum?? Shubuh?? Astagfirullah,” ucapku.
“Keenakan ya…..tidurnya,” ucap Naufal.
“Mau tau yaa…” godaku ganti.
“Mandi sana gih,” tutur Naufal.
“Aku turun dulu bentar, abis itu kita sholat,” sambung Naufal.
“Iya Mas,” jawabku smabil mengucek kedua mataku.
.
.
.
.
.
.
Selesai aku mandi, ku keringkan rambutku, tak lama kemudian
Naufal menemuiku di Kamar.
Kami pun segera sholat shubuh berdua.
Setelah sholat, Naufal membujukku agar tidak turun ke bawah.
“Eiittsss mau kemana??” tanya Naufal.
“Mau ke bawah, masak,” ucapku sambil memakai kerudungku
meskipun rambutku masih basah.
Naufal menarik tanganku dan menyuruhku duduk saja.
“Mending kamu duduk manis aja disini, keringin rambut kamu,”
kata Naufal.
“Loh…loh,” kataku yang tidak tau rencana Naufal.
“Udah nurut aja sama suami, tunggu ya Sayang, bentar lagi ke
atas,” tutur Naufal.
Beberapa kali aku berusaha berdiri, namun Naufal terus saja
menahan pundakku agar tetap duduk.
Dan Naufal pun meninggalkanku.
“Tunggu bentar Sayang,” ucapnya.
Brraakkk….
Naufal menutup pintunya dan mengunciku dari luar.
“Aneh banget sih,” gumamku.
Ku ambil hair dryer ku dan ku keringkan rambutku.
“Mas Naufal mau ngapain ya….” Gumamku di depan kaca.
“Pasti ada yang di rencana in buat aku nih,” tebakku.
Aku menuruti saja apa yang di suruh oleh Naufal, hingga dia
kembali menemuiku.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian.
Gleeekkkk….Naufal membuka pintu kamar.
“Taraaaa….lihat aku bawa apa ini,” ucap Naufal yang sedang
membawa Loyang yang di atasnya ada makanan dan minuman, dan di ikuti Bi Sarah dari belakang.
“Amit ngget Mas, kulo mlebet (Permisi ya Mas, saya masuk)”
kata Bi Sarah.
“Iya Bi,” jawabku.
“Hari ini aku masakin special buat kita bertiga,” kata
Naufal.
Rasa senang campur bahagia berkecamuk dalam hatiku.
“Beneran kamu masak sendiri??” tanyaku yang sangat excited.
“Tanya Bibi kalo nggak percaya,” ucap Naufal.
“Beneran Bi?? Ini Mas Naufal yang masak??” tanyaku pada Bi Sarah.
“Iya Mbak, Mas Naufal yang masakin, udah di cicil saat Mbak
Gia mandi tadi, hihihi,” kata Bi Sarah sambil senyum-senyum sendiri.
“Aaaaaaaa…….Mas Naufal,” rengekku lalu berdiri dan spontan
memeluknya.
Naufal dan Bi Sarah kaget karena melihatku seberani ini di
depan Bi Sarah.
Naufal dan Bi Sarah saling beradu pandangan.
Akhirnya aku pun sadar dan merasa tak enak adanya Bi Sarah disana, dank u lepas pelukanku pada Naufal.
“Eehhmm……kelepasan Bi….maaf,” ucapku malu-malu.
“Hehehe, nggak papa Mbak, sudah biasa,” kata Bi Sarah.
“Ya sudah Mas, Mbak, Bibi permisi ke bawah dulu ya,” kata Bi
Sarah.
“Iya Bi, makasih udah bantuin saya,” ucap Naufal.
“Nggeh Mas, sami-sami (Iya Mas, sama-sama)” jawab Bi Sarah.
Bi Sarah melangkah keluar dari kamar kami.
“Aku panggil Abay bentar ya Sayang,” ucap Naufal.
“Iya Mas,” jawabku.
Naufal memanggil Abay di kamarnya, dan aku menyiapkan kursi dan meja di balkon untuk kita sarapan bertiga.
Sudah lengkap keluarga kecilku, ada Abay, Naufal dan Aku.
Kami duduk bertiga saling berhadapan di balkon sambil
menikmati segarnya udara di pagi hari.
“Ma, tumben kita makan disini,” ucap Abay.
“Iya, untuk hari ini kita makan disini,” sahut Naufal.
“Ada hari special ya Pa,” tebak Abay.
“Bukan Nak, hari ini bukan hari spesial, ya sebenarnya nggak
ada acara apa-apa cuman lagi pengen ganti suasana aja, yak an Sayang,” ucap Naufal.
“Iya,” jawabku sambil tersenyum pada Naufal.
“Uuuhmmm,” ucap Abay.
“Dan, hari ini, Papa yang masak, bukan Mama,” ujar Naufal.
“Papa yang masak?? Memangnya Mama kenapa Pa?? Mama sakit??” tanya Abay.
“Enggak, Mama nggak kenapa-napa, cuman Papa pengen aja
masakin buat Abay sama Mama, Papa kan lagi berbahagia dua hari ini, hehehe,” ceplos Naufal.
Auto aku langsung menyenggol kakinya dari bawah meja.
“Bahagia kenapa Pa?? Bagi dong sama Abay..” rengek Abay.
“Udah udah Nak, Papa kamu bahagia soalnya kan kemaren pulang ke rumah lagi, setelah alma nggak ketemu kamu, jadi Papa bayarnya sekarang, udah ayo di makan, nggak baik banyak bicara di depan makanan, hehehem,” bujukku.
“Iya Abay, begitu maksud Papa,” sahut Naufal.
Kami pun langsung menyantap sarapan buatan suamiku yang
mendadak jadi Chef pagi ini.
Aku mencoba ayam koloke buatannya.
“UUhhmm enak Mas,” pujiku.
“Beneran enak??” tanya Naufal.
“Iya enak,” tegasku.
“Yessss……padahal tadi aku agak ragu loh Sayang, soalnya aku
nggak cicipi sama sekali tadi,” ucap Naufal.
“Kamu bakat juga jadi koki, hehehem,” pujiku.
“Kayak Papa aku, beliau bisa jadi apaaaaaaa aja yang aku mau,” kataku.
__ADS_1
“Maksud kamu??” tanya Naufal sambil menaikkan dua alisnya.
“Perasaan dulu kamu udah aku kasih tau,” kataku.
“Yang Papa aku bisa jadi apa, karena beliau bisa jadi koki,
arsitek, montir, peternak, terus apa lagi….banyak deh, Papa aku bisa jadi apa aja, ehhhmm ini…bisa jadi Guru juga,” kataku.
“Soalnya Papa punya skill masak, terus dulu tuh kalo design
ruangan pasti ide nya dari Papa, bukan karena beliau seorang imam, jadi Papa segalanya,” sambungku.
“Aku juga bisa seperti Papa kamu, kan aku juga punya skill
memasak,” ucap Naufal.
“Coba yang lain?? Nanem bunga aja mati kamu Mas,” candaku.
“Kan aku lupa nyiramin Sayang,” kata Naufal.
“Kamu sih, punya tanggungan tapi nggak kamu rawat,” ucapku.
“Tapi yang lain pasti bisa kok aku,” tegas Naufal yang tidak
mau kalah dengan Papaku.
“Aah masak iya??” goda Naufal.
“Mau coba??” tanya Naufal.
“Udah udah di habisin Mas makanannya,” tuturku.
.
.
.
.
.
Selesai kami bertiga sarapan, kami pun berangkat bekerja
sekalian mengantarkan Abay ke sekolahnya.
.
.
.
.
.
***(Di Rumah Sakit)
Mobil telah terparkir rapi.
Kami berjalan berdua menyusuri koridor, Dokter Irene
berjalan menuju ke arah kami.
“Hai kalian,” sapa Dokter Irene.
Aku tersenyum padanya.
“Fal, gimana??” tanya Dokter Irene.
“Ren, udah lah, nggak bisa,” jawab Naufal.
Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
“Nggak ada ruang sama sekali buat aku??” tanya Dokter Irene yang sepertinya memaksa Naufal.
“Mereka ngomongin apa sih, kok kayaknya serius banget??”gumamku dalam hati.
“Kan dari awal aku udah bilang Ren, dari pada kamu sakit,
jangan ya, kamu cewek,” tutur Naufal.
“Sebenarnya ada apa sih mereka ini???” tanyaku dalam hati
yang semakin kesal.
“Ya udah deh Fal kalo gitu,” ucap Dokter Irene yang akhirnya
menyerah.
“Aku duluan ya Gi,” kata Dokter Irene.
“Iiii….iya Dok,” jawabku.
Dokter Irene melangkah menjauh dari kami berdua.
Naufal tau dan melihatku tengah kesal namun tak bisa ku
ungkapkan.
“Loh loh kok murung gitu??” tanya Naufal.
“Kamu ngomongin apa sih sama Dokter Irene Mas??” tanyaku.
“Alvi, mau siapa lagi?? Aku?? Ya nggak mungkin lah Sayang,”
jawab Naufal.
“Aku kirain kamu,” kataku.
“Nggak mungkin lah, gila ya aku, nggak lah Sayang,” tepis
Naufal.
“Dia itu ngebet mau sama Alvi, ya nggak bisa dong, Alvi udah
punya tunangan, lagian Alvi juga cowok baik-baik,” kata Naufal.
“Gitu dong Mas, kamu jelasin ke aku, dari tadi aku mikir
loh,” keluhku.
“Hehehehe, lucu tuh tadi wajah kepo kamu,” kata Naufal
sambil menarik pundakku dan berjalan bersamaku.
Naufal mengantarkanku hingga di depan ruanganku.
“Hal kecil akyak gini, jangan pernah hilang dari kita, ya,”
ucap Naufal sambil mengelus tanganku.
“Kamu semangat ya kerjanya,” tutur Naufal.
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan tersenyum padanya.
“Kamu juga,” kataku.
“Masuk gih,” perintahnya.
Naufal pun menungguku hingga masuk dan duduk di dalam
ruanganku, lalu dia pun meninggalkanku ke ruangannya.
Ku letakkan tasku di atas meja.
“Dokter Irene kenapa gitu ya??” tanyaku dalam hati.
“Aku kira Dokter Irene benar-benar berubah,” ucapku
sendirian.
“Hhmmm Astagfirullah, namanya manusia, pasti naik turun,”
kataku menasehati diriku sendiri.
Gleeekk….
“Pagi Dok,” ucap Suster Andini.
“Pagi Sus, berkas apa lagi ini???” tanyaku.
“Kalo ini bukan berkas lagi Dok, kita bakalan lembur sampe
malam hari ini, hehem,” jawab Suster Andini.
“Pasti ini hasil kemaren ya,” tebakku.
“Iya Dok, apa lagi, dan hari ini semuanya lembur, kecuali
Dokter Naufal ada meeting di luar,” ucap Suster Andini.
“Kok Suster tau??” tanyak.
“Baru aja tadi saya jalan sama rekannya Dokter Naufal, dan
informasinya juga mendadak Dok,” kata Suster Andini.
“Huuufttt nggak papa lah di syukuri aja Sus, kapan lagi kita
lembur ngerjain ginian, kita nggak pernah kan Sus, selalu on time, start nya jam segini, pasti pulangnya juga bakalan jam segini, hehehe, biar kita juga rasain lembur itu gimana,” tuturku.
“Iya sih Dok, bener juga, lagian bukan kita doang yang kayak
gini, yang shift malam juga dikasih ginian Dok,” ujar Suster Andini.
“Oh ya???” tanyaku.
“Iya Dok,” jawab Suster Andini.
“Ya Allah malah lebih kasihan mereka,” kataku.
“Tapi tetep Dok, harus disyukuri, hehehe,” kata Suster
Andini.
“Bener-bener, udah taruh sini aja Sus, panggilan ke ruang
sebelah kita,” ajakku.
“Oh siap Dok,” kata Suster Andini.
Kami menjalankan rutinitas pekerjaan kami.
Berambung.......
Terima kasih buat semuanyaaaaa😁
dan yang sudah selalu menanti setiap episode iniiii🙏😁🖤
__ADS_1