
Setelah sholat isya’, aku langsung merebahkan tubuhku dan memaksa kedua mataku agar tertidur.
Mas Naufal juga jadi ikut tidur di sebelahku.
“Mas, kalo aku resign, jangan kasih tau siapa-siapa ya, nanti malah banyak yang bikin kejutan, malah buat aku jadi sedih lagi, biarin tiba-tiba aku nggak masuk lagi, nanti kalo misal, ada yang tanya ke kamu, kamu jawab aja, aku nemenin Abay,” ucapku sambil emmunggungi Naufal.
“Iya Sayang, tapi kamu bener-bener yakin sama keputusan kamu ini??” tanya Naufal lagi.
“Insya’Allah Mas, aku nggak nyesel, memang ini yang terbaik, aku ingin menjadi selayaknya seorang ibu dan istri,” jawabku.
“Maafin aku, yang terlalu sibuk selama ini Sayang,” ujar Naufal.
“Bukan, bukan kamu yang salah, sudah semestinya kok kamu seperti itu,” ujarku.
Aku langsung menutup kedua mataku dan tidak ingin membicarakan hal ini lagi.
.
.
.
.
.
.
.
Adzan shubuh berkumandang, aku segera bergegas mandi dan membangunkan Naufal.
Kami pun sholat berjama’ah berdua.
Setelah sholat aku langsung menuju ke Dapur.
***(Di Dapur)
Belum tampak Bi Sarah disana.
“Bibi kemana tumben belum ada disini,” gumamku dalam hati.
Tak lama kemudian, Bi Sarah datang.
"Habis dari mana Bi?? Biasanya jam segini Bibi udah sibuk banget di dapur," tanyaku.
"Heheh, buang sampah di depan Mbak," jawabnya.
"Mbak Gia mau masak apa??" tanya Bi Sarah.
"Belum tau Bi, Gia belum ada ide," jawabku.
"Sepertinya Mbak Gia masih murung," gumam dalam hati Bi Sarah.
"Hari ini, semua menu yang nentuin Bibi aja ya, nanti Gia tinggal masaknya," ujarku sambil berdiri di sebelah meja Dapur.
"Ooowhh, iya Mbak," jawab Bi Sarah sambil tersenyum kecut padaku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah selesai memasak, dan semua sudah rapi bersih, seperti biasa, kami berkumpul melingkari meja makan.
Kami semua segera sarapan pagi untuk memulai aktivitas kami hari ini.
.
.
.
.
.
.
Setelah selesai sarapan pagi.
Aku dan Naufal segera berangkat bekerja berdua.
.
.
.
.
.
Di perjalanan aku hanya diam termenung, Naufal tidak berani mengajakku berbicara, Naufal juga bingung apa yang sebenarnya ada di pikiranku, ini kemauan ku sendiri, tapi mengapa tidak terbesit rasa bahagia di depan mataku.
.
.
.
.
.
.
.
***(Di Rumah Sakit)
Kami turun dari mobil.
"Yakin kamu nggak ngasih tau siapa-siapa Sayang kalo kamu mau resign??" tanya Naufal.
"Ya mungkin cuman Suster Andini Mas," jawabku.
__ADS_1
"Susi pasti tau kan berita ini??" tanya Naufal.
"Pasti lah Mas, kan dia sahabat aku," jawabku.
"Pasti Bastian juga tau ini Sayang," tebak Naufal.
"Enggak, Susi nggak bilang sama Pak Bastian," jawabku.
"Mas, pulang kamu kan sore, aku kan siang, nanti aku naik ojol aja ya, mobilnya kamu pake," kataku.
"Nggak bisa gitu dong Sayang, mobilnya tetep kamu yang pake," ucap Naufal.
"Masss.....udah nggak papa, aku naik yang mobil deh bukan motor," kataku.
Ada perdebatan kecil saat kami berjalan berdua di koridor.
"Lagian nanti kamu biar nggak susah-susah Mas," gumamku.
"Iya deh Sayang," ucap Naufal yang akhirnya menyerah padaku.
"Ya udah kamu sana gih belok," tuturku.
Naufal sesekali menepuk dan mengelus pundakku.
"Semangat," ucapnya sambil tersenyum padaku.
Untuk hari ini, tidak ada pekerjaan untukku, karena hari ini, waktuku hanya untuk mengemasi barang-barang yang memenuhi ruang kerjaku ini.
Rasa berat dan sedih pasti ada, tapi jika aku berfikir bahwa disini aku berkorban untuk membahagiakan banyak orang, rasa berat dan sedih itu sedikit ku usir dan benak ku.
Yaaaaa meksipun pastis sangat ada, dan aku juga sudah siap untuk menguburnya dalam-dalam.
***(Di Ruanganku)
Ada beberapa foto terpajang disana, dengan beberapa Dokter dan tenaga medis disini.
Ku lihati satu per satu karena akan ku simpan dan ku masukkan dalam dus.
Aku tersenyum sendiri saat melihat-lihat foto itu, secara tidak langsung aku menyentuh satu per satu rekan kerja dan tim ku yang selalu setia membantu ku dan bekerja sama bersamaku.
"Huuuuffftt, semua ini akan jadi kenangan," gumamku dalam hati.
"Keputusan ini aku yang ambil, buat mereka, Abay anakku, Mama sangat menyayangi mu Nak," kataku dalam hati.
Air mataku kembali memenuhi pelupuk mata.
Ku bereskan buku-buku dan ku masukkan dalam kardus.
"Siapa yang akan mengisi ruangan ini ya," tanyaku dalam hati.
Ku pandangi setiap sisi ruanganku.
"Huuuumm, mulai besok aku udah nggak disini," kataku.
"Pasti kangen," kataku sambil melipat tanganku dan mengusap air mataku yang terus mengalir di pipiku.
"Hehehem, memang ya, rencana Allah nggak ada yang tau, hal yang paling ku inginkan dan ku impikan sejak kecil, akan musnah seketika, aku harus ikhlas, aku tidak ingin sebenarnya menyakiti diriku sendiri, ini pilihanku, aku akan menanggung resiko nya," kataku dalam hati.
"Nggak nyangka ya, yang aku perjuangin beberapa tahun sama Susi, terus kenal Mas Naufal, hehehem, ketemu Pak Kevin, di ngambekin dosen, dimarahi waktu koas, lucu ya," gumamku dalam hati.
Tok...tok....tok....
Langsung ku hapus bersih air mataku saat mendengar ada yang mengetuk pintu ruanganku.
"Masuk," ucapku.
Gleekkk.....
Suster Andini datang dan syok saat melihat seperempat barang-barang ku sudah ku simpan rapi di kardus.
Suster Andini menghentikan langakah kakinya dan berdiri sambil membulatkan mata dan mulutnya.
"Haah?? Dokter???" ucapku.
"Dokter mau pindah kemana?" tanya Suster Andini.
"Pindah kemana?? Nggak pindah kemana-mana Sus," jawabku.
"Ini maksud nya gimana Dok?? Kok di beresin?? Jangan bilang Dokter tempat nya di pindahin ya," tebak Suster Andini sambil berjalan mendekat padaku.
"Hehehem, enggak kok Sus, saya mau pindah di rumah aja," kataku.
"Maksudnya?? Bentar-bentar Dok, Dokter mau buka praktek sendiri di Rumah?? Atau mau bangun klinik sendiri gitu Dok???" tanya Suster Andini yang bertubi-tubi.
"Hehehem, enggak Sus, saya resign," jawabku to the point.
"Ha?? Dokter resign??" Ucap Suster Andini yang spontan dan mengagetkanku.
"Ya Allah Dok?? Kenapa resign?? Dokter nggak nyaman kerja disini?? Atau gimana?? Kurang enak disini Dok?? Kan Ditektur nya suami sendiri Dok," ujar Suster Andini.
"Bukan begitu Sus, gini loh, disini enak kok, enak banget, nyaman juga, apalagi ada Suster, tapi ya mau gimana lagi?? Mungkin sudah waktunya saya resign dan berhenti kerja Sus, memang mungkin sudah takdir nya saya mengambil keputusan ini," jawabku.
"Astagfirullah Dok, Dokter beneran resign?? Nggak di pikir-pikir lagi, udah sekolah lama-lama loh Dok, dan akan musnah begitu saja," kata Suster Andini.
"Hehehem, kayaknya enggak deh Sus, ini keputusan yang sangat benar," jawabku.
"Dokkkk......banyak yang menginginkan posisi seperti Dokter ini, termasuk saya, apa sih Dok yang sebenarnya terjadi sampai Dokter mengambil keputusan ini??" tanya Suster Andini yang sepertinya tidak terima jika aku resign.
"Jangan sampai nanti Dokter menyesal, Haaaah, saya nggak tau Dok, saya pasti bakalan kangen sama Dokter," keluh Suster Andini dan duduk lemas di sofaku.
"Insya'Allah saya nggak menyesal Sus, ini sebenarnya sudah saya pikirkan jauh banget, saya juga sudah berunding dengan keluarga saya Sus, jadi yaaaa semua setuju," kataku.
"Dokter setuju nggak dengan keputusan Dokter ini dari lubuk hati yang paling dalam??" tanya Suster Andini yang menusuk dan mematikan.
"Hehehem, udah udah, yang penting, ini untuk kebahagiaan bersama Sus, bukan hanya saya saja," kataku.
"Dokter yakin?? Dokter bahagia dengan keputusan ini???" tanya Suster Andini lagi.
Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepalaku saja padanya, biarkan Suster Andini sendiri yang membacanya.
"Aaaaaaa......Dokter, saya pasti bakalan kesepian, gak ada lagi yang nemenin saya sholat, nemenin saya ke kantin, ngasih saya nasehat, nggak ada lagi," keluh Suster Andini dengan sedih.
Aku langsung memeluk Suster Andini.
"Nanti kan Suster bisa WA ke saya, kita masih bisa ketemu, makan bareng," ucapku lalu melepas pelukan kami.
"Huuumm, siapa lagi ini yang bakalan gantiin Dokter," ucap Suster Andini dengan sedih.
"Saya bener-bener sedih Dok kalo tau Dokter resign, ada rasa nggak terima nya dikit Dok, nggak tau lah nanti saya gimana kalo nggak ada Dokter," ujar nya.
"Ya bakalan tetep kayak biasanya Sus, yang semangat kerja, disini aja udah, jangan lupa main ke rumah saya, karena hari ini terakhir saya disini, tapi Suster jangan bilang siapa-siapa ya, karena nggak ada yang tau Sus, Mas Naufal saja saya suruh bungkam, biar nggak ada acara perpisahan Sus, nanti malah saya susah move on nya hehehe," candaku.
"Aaaa Dokter masih aja bisa becanda, saya kan lagi sedih Dok," kata Suster Andini.
"Udah Sus jangan sedih-sedih kan masih ada yang lain," ucapku.
"Tapi pasti sedih lah Dok, nggak mungkin enggak, bayangin tiap hari sama Dokter, terus mulai besok udah enggak," keluh Suster Andini.
"Jangan dong, jangan sedih, kasihan pasien nya nanti, hari ini saya nggak kerja Sus, jadi cuman cek dan cek aja, sama beres-beres ini," tuturku.
"Huuufft, ya sudah Dok, saya bakalan kangen, tapi saya harus lanjut kerja ini Dok, jadi saya nggak bisa bantu beresin," kataku
"Iya Sus, udah gih, udah di tungguin pasien nya, saya mau lanjut ini dulu, pasti udah di tungguin Dokternya loh," kataku.
"Aaaaaa Dokter," kata Suster Andini yang kembali memelukku.
Aku juga membalas pelukannya.
"Semangat kerjaaaa," kataku.
"Huuumm, bye Dok, nanti harus pamitan sama saya ya Dok," ujar Suster Andini.
__ADS_1
"Iya pasti kok Sus," jawabku.
Suster Andini keluar dari ruanganku.
Aku kembali bergelut dengan rasa sedih dalam hatiku yang diingatkan oleh Suster Andini.
"Aaah, Suster Andini jadi bikin sedih aja," kataku sambil menghela nafas panjangku.
Aku kembali melanjutkan beres-beres bsemua disini sendiri.
Suasana sunyi di dalam ruangan, hening. Dan hanya suara berisik barang-barang yang ku masukkan ke kardus.
Naufal tiba-tiba menghampiriku dan nyelonong masuk ke ruanganku.
"Sayang," panggilnya.
"Loh kok kamu nggak kerja??" tanyaku.
"Kerja Sayang, ini nyempetin nyamperin kamu dulu," kata Naufal.
"Kenapa?? Ada apa Mas??" tanyaku sambil mengibas-ibaskan kedua tanganku.
"Kamu pulangnya nggak perlu pake ojol, aku suruh Pak Joko kesini pake mobil kamu nggak papa kan??" tanya Naufal.
"Ya......ya nggak papa Mas," jawabku.
"Ya udah soalnya tadi Pak Joko udah aku telfon, aku tadi minta tolong Abay buat ngambil kunci mobil kamu, kan barang-barang kamu banyak, nggak mungkin kalo naik ojol, jadi ya memudahkan kamu, kan kita juga punya Pak Joko, ya udah aku nyuruh Pak Joko," ujar Naufal.
"Oooh oke Mas, nggak papa," kataku.
"Kamu beres-beres nya masih lama??" tanya Naufal.
"Kayaknya masih deh Mas, sebanyak ini," jawabku.
"Perlu bantuan?? Nanti aku panggilin CS atau OB nya," tawaran Naufal.
"Eemmmm.....nggak usah Mas, nggak usah," kataku.
"Nggak papa Sayang, aku panggilin ya??" ucap Naufal.
"Nggak usah Mas, nantia aku malah kaku dan kikuk lagi sama OB nya, hehehem, ya kan??" kataku.
"Ya udah kalo mau nya gitu, aku balik kerja ya Sayang," kata Naufal.
"Iya Mas, eh Mas udah ada yang gantiin aku buat kerja hari ini??" tanyaku.
"Udah kok Sayang," jawab Naufal.
"Ya udah soalnya tadi Suster Andini nanya ke aku Mas, balik kerja gih," perintahnya.
"Ya udah, bye Sayang," ucap Naufal sambil berjalan membuka pintu ruanganku dan meninggalkan ku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, tidak terasa hari semakin siang, hampir semua barang-barang ku seisi ruangan ini sudah selesai ku bereskan.
Sejak pagi hingga siang, ku habiskan waktu ku hanya di ruangan ini saja, sibuk dengan packing.
Tok....tok.....tok....
"Masuk," kataku.
Aku kaget karena yang datang adalah Pak Joko.
"Pak Joko," ucapku.
"Maaf Buk, saya kesini atas perintah Bapak," jawab Pak Joko.
"Iya Pak, hehem, saya sudah tau," kataku.
"Ada yang bisa saya bantu Buk??" tanya Pak Joko.
"Oiya ini, saya minta tolong Pak, yang sudah saya packing ini Bapak bawa ke mobil ya, ini udah tinggal dikit kok, nanti kita langsung aja pulang," kataku.
"Baik Buk," jawab Pak Joko.
"Makasih ya Pak," ucapku.
"Iya Buk," kata Pak Joko.
Pak Joko mengangkat satu per satu kardus menuju ke mobil.
"Hmmm, tinggal beberapa jam lagi aku ada disini, aku aja masih nggak nyangka loh," gumamku dalam hati.
Rasa sedih campur gelisah dan resah bercampur jadi satu.
Ku percepat packing ku agar segera cepat pulang dan menjelaskan semuanya pada Abay dan orang Rumah.
.
.
.
.
.
.
.
Satu jam kemudian, aku selesai packing semua barang-barangku yang akan ku bawa pulang.
"Semua sudah di masukin ke mobil ya Pak??" tanyaku pada Pak Joko.
"Sudah Buk," jawab Pak Joko.
"Ya sudah Pak, Bapak tunggu di mobil dulu aja, saya mau pamitan sama teman-teman saya Pak," kataku.
"Iya Buk, saya tunggu di mobil Buk," jawab Pak Joko.
Aku kembali melihat setiap sisi ruanganku, melihat jendela ku yang langsung mengarah pada taman indah di Rumah Sakit ini.
Aku menahan tangisku sambil berdiri di dekat jendela kaca itu.
Ku bungkam mulutku agar tidak menangis.
"Aku harus ikhlas, Gi kamu harus ikhlas ya," gumamku dalam hati menyemangati diriku sendiri.
Ku ambil kunci ruanganku di dalam tas, lalu aku berjalan perlahan menuju pintu.
"Terima kasih untuk beberapa tahun ini," kataku sambil menutup dan mengelus gagang pintu.
__ADS_1
Bersambung..........