Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 127 (Di Bawah Hujan Deras)


__ADS_3

Tampak Naufal, Pak Bastian, dan Dokter Irene semakin dekat.


Saat pintu di buka, aku dan Susi bersorak untuk memberikan ucapan pada Pak Bastian.


"Happy Birthday," ucap kami.


Pak Bastian berdiri terpaku di antara Dokter Irene dan Naufal.


Beliau tersenyum, melihat sekeliling rumahnya.


"Oh My God, sudah Gue duga kan Fal, istri Gue romantis," kata Pak Bastian sambil tetap menatap Susi.


Pak Bastian segera berlari untuk memeluk Susi.


"Makasih," ucap Pak Bastian.


"Hehem, iya Mas," balas Susi.


"Ciye ciyeee," sahut Naufal lalu dia memeluk lenganku.


Pak Bastian meniup lilin yang ada di cake yang ku bawakan dan Susi tadi.


Setelah berhasil meniup lilin, meskipun lilinnya berkali-kali tidak padam, tapi Pak Bastian akhirnya berhasil meniupnya. Pak Bastian segera memotong cake nya, cake pertama untuk Susi, dan cake kedua untuk Naufal, lalu cake yang terakhir untuk Dokter Irene.


"Oooww jadi ini kejutannya, aku nggak tau loh tadi kalo ada kejutan kayak gini, maaf ya, aku jadi ganggu acara kalian," kata Dokter Irene.


Pak Bastian sebenarnya muak dengan Dokter Irene yang penuh drama itu.


"Eehem, nggak papa Dok, ini juga kan temen Dokter Irene," kataku.


"Tadi sebenarnya aku mau menanyakan sesuatu pada Bastian, hehhee tapi aku langsung ke rumahnya aja," kata Dokter Irene.


"Kan bisa WA," sahut Pak Bastian.


"Iii....iiya sih Bas, tapi nggak enak kalo nggak ngomong langsung," tepis Dokter Irene.


"Kan telfon bisa Ren," sahut Naufal.


Ku senggol pinggangnya agak tidak terus memojokkan Dokter Irene.


"Mas," desisku sambil memberi isyarat lewat mataku padanya.


"Maaf kalo gara-gara ada aku disini kalian jadi ngrasa nggak nyaman," ucapnya.


"Oowwhh enggak Dok, enggak," kataku.


"Iya Dok gak papa kok," sahut Susi.


"Sekarang kita makan-makan ya," kata Susi.


Setelah Susi mengatakan itu, tiba-tiba suara guruh dan petir yang sangat keras memecahkan acara kami.


"Duuuuaaarrrrrr,"


Aku ketakutan, Naufal dengan otomatis langsung memeluk dan menutup kedua telingaku.


"Yaaah, kayaknya mau hujan ni," kata Susi.


Aku terus berada di dekapan Naufal, tak peduli disana ada Susi, Pak Bastian dan Dokter Irene.


"Bas, Gue masuk aja ya, Gia takut soalnya," kata Naufal.


"Iya Gia takut kalo denger ini," sahut Susi.


"Oh ya udah kita bawa masuk semuanya aja nggak papa," jawab Pak Bastian.


Acara kali ini dirayakan di dalam rumah, semua memboyong makananya ke dalam, karena sudah rintik hujan.


Lama kelamaan hujan semakin deras, meskipun hujan deras, satu per satu teman Pak Bastian datang, sebagian dari mereka sangat shock melihat aku dan Naufal, tapi Naufal dan Pak Bastian menjelaskan pada mereka, aku hanya tersenyum-senyum saja, tak lupa Naufal memberikan kotak hadiahnya pada Pak Bastian.


"Ini Bas yang kamu tunggu-tunggu," ejek Naufal sambil memberikan kotak kado itu.


"Widiiiih, ini nih yang Gue tunggu-tunggu setelah kado dari istriku," kata Pak Bastian sepertinya sangat senang.


Mereka menyambut tamu yang datang satu per satu, aku tidak tau jika akan se ramai ini.


Aku hanya duduk berdua dengan Susi, Dokter Irene membaur pada mereka, karena semua tamu yang datang adalah teman kerjanya di Rumah Sakit.


"Si, kok bisa sebanyak ini ya?" tanyaku.


"Aku juga nggak tau Gi, padahal kan rencana kita ini nggak ada yang tau," kataku.


"Iya loh kok bisa," ucapku heran.


Naufal berjalan menghampiriku.


"Kenapa Mas?" tanyaku.


"Habis ini kita pulang Sayang," jawabnya.


"Mas, nggak enak sama Pak Bastian, kamu kan sahabatnya, habis ini aku pulang sendiri aja nggak papa Mas," kataku.


"Aku udah bilang tadi Sayang sama dia, dia juga ngerti kalo aku punya anak sekarang," jawabnya.


Aku menggeretnya untuk menjauh dari Susi.


"Mas, jangan gitu, udah gak papa aku nanti pulang sendiri aja, kamu sahabat nya Pak Bastian loh, di ibaratkan kayak aku sama Susi, apa-apa kamu butuh dia," tuturku.


"Tapi kamu nanti pulang sendiri hujan-hujanan gini loh Sayang, aku nggak mau kejadian itu terulang lagi," kata Naufal.


"Kan ini belum malam banget Mas, gak papa," kataku.


"Nggak Sayang, aku nggak mau, apa aku telfon Pak Joko aja biar kamu dijemput kesini," ucap Naufal.


"Mas...Mas, udah gak papa, aku pulang sendiri, aku nanti lewat jalan kamu tadi biar cepet, ya?" rayuku.


"Huuumm udahlah Sayang kita pulang berdua ya," rayu Naufal lagi.


"Mas kamu jangan gitu, apa kamu nggak mikirin Pak Bastian, Pak Bastian aja selalu ada buat kamu, nemenin kamu, apapun yang kamu mau beliau bisa," kataku.


Dan Pak Bastian pun memanggil Naufal.


"Fal Fal sini Fal," panggil Pak Bastian dari jauh.


Naufal menoleh pada Pak Bastian.


"Ya bentar," jawabnya.


"Tuh kan kamu di panggil Pak Bastian, udah kesana Mas, habis ini aku pamit pulang," kataku.


"Tapi Sayanggggg," rengeknya.


"Udah Mas, udah sana," kataku.


Naufal akhirnya berjalan menghampiri Pak Bastian.


"Ya udah nanti aku pulang di anter Bastian aja," ucap Naufal.


Naufal akhirnya berjalan menghampiri Pak Bastian.


Tak lama kemudian, aku berpamitan pada Susi dan semua tamu untuk pulang.


"Si aku pulang dulu ya, maaf gak bisa nemenin sampe malem, ada Abay di rumah sama Bibi," kataku.


"Gak papa Gi, tapi kalo acara aku awas kamu nggak nemenin aku sampe malem, xixixi," godanya.


"Yaelah, iya iya Si pasti hehehe," kataku.

__ADS_1


"Tapi hujan loh Gi, kamu berani??" tanya Susi.


"Udah nggak petir Si, aku berani," jawabnya.


"Yakin kamu?" tanyanya yang khawatir.


"Yakin Susi," jawabku.


"Hati hati loh Gi pokoknya, sampe rumah harus udah wa aku," tuturnya.


"Iya Si pasti," jawabku.


"Ya udah aku ke Mas Naufal dulu Si, byee," kataku.


Susi menganggukkan kepalanya.


Aku berjalan menghampiri Naufal yang sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya.


"Eh Dokter Gia," sapa salah satu teman Naufal.


Aku tersenyum padanya.


"Udah jangan di ganggu ada suaminya," canda Pak Bastian.


"Hahahaha, takut Gue," kata teman Naufal itu.


"Apa sih loh berisik," kata Naufal.


Aku membawa Naufal agak menjauh dari mereka.


"Mas aku pulang ya," kataku.


"Kamu harus bener hati-hati loh, sampe rumah sebelum keluar dari mobil, harus telfon aku," tutur Naufal.


"Iya iya Mas," jawabku.


"Pak Joko udah aku WA biar nanti langsung bawain kamu payung, soalnya dalem mobil gak ada payung aku lupa, dna garasi nya pasti di tutup sama Pak Rusdi," kata Naufal.


"Iya Mas, aku pulang dulu ya," pamitku.


"Iya Sayang, hati-hati loh, pelan-pelan," tuturnya.


"Aku anter sampe masuk mobil, bentar aku pinjam payung ke Susi," ucapnya.


Naufal langsung berjalan menghampiri Susi dan memimjam payung yang sangat besar untuk kami berdua.


Naufal segera membawaku berjalan menyebrang di tengah hujan lebat ini untuk masuk ke dalam mobil.


"Mas jangan lupa pamitin ke Pak Bastian ya," kataku.


"Iya Sayang," jawabnya sambil langsung menutup pintu mobilnya.


Naufal segera kembali ke rumah Pak Bastian, dan aku langsung melajukan mobilnya.


Aku menyusuri jalan yang tadi untuk ku berangkat dari rumah, karena lebih cepat.


"Jalannya lumayan kalo malam, hanya motor satu dua aja yang lewat," kataku sendirian dalam mobil.


Aku melihat ke arah spion, ada satu mobil yang tengah ada di belakangku.


"Untung aja ada temennya," gumamku dalam hati.


Tapi mobil itu semakin membuatku tidak nyaman.


"Sepertinya mobil itu ngikutin aku," gerutuku dalam hati.


Ku percepat laju mobilku.


"Siapa lagi ini???" tanyaku dalam hati.


Ciiiiittttttttt..


Aku langsung menancap rem mendadak.


"Haaaaaa, Pak Kevin," kataku yang melihat Pak Kevin keluar dari mobil yang menghadangku.


Pak Kevin berjalan di tengah hujan lebat untuk menghampiri mobilku.


Aku segera keluar dari mobil.


Air hujan yang dingin mengguyur tubuhku dan Pak Kevin.


Pak Kevin berjalan semakin mendekat padaku dengan wajah yang penuh amarah.


"Ppp.....Pak Kevv....vin, anda mau apa??" tanyaku terbata-bata karena takut.


Aku semakin memundurkan langkahku agar tidak terlalu dekat dengan wajah Pak Kevin.


"Pak....Pak Kevin," panggilku.


Pak Kevin meraih kedua pipiku, aku memberontak agar beliau tidak menyentuhku.


"Pak sadar Pak!!!! Bapak tidak pantas seperti ini pada saya!!!" gertakku.


Kebetulan saat Pak Kevin menghadangku, tidak ada satupun orang yang melewati jalan ini.


Pak Kevin langsung melepaskan wajahku.


Beliau jatuh berlutut di depan ku, beliau menangis.


"Giaa, aku mencintaimu Giii, aku bisa gila jika seperti ini Giiiii," teriaknya.


"Tolong buka hati kamu untukku, setiap hari, setiap malam, aku tak berdaya Gi, dan terus memikirkan mu!!! Aku terus mencari informasi tentang mu, aku mengikutimu !!!! Aku tau semua apa yang kamu lakukan, aku tau di mana kamu, aku bertahan disini bukan untuk Meira, tapi untuk kamu Gii !!!! Untuk kamu !!!! Kemana pun kamu pergi, aku akan selalu bersamamu, aku tidak peduli semuanya Giii !!! Aku hanya ingin kamu, huhuhuhu," teriak Pak Kevin lagi yang membuat air mataku mengalir bersama hujan malam itu.


"Aku berusaha diam selama ini Gi menahan semua rasa cemburu dan sakit hati padamu !!! Tapi apa lah aku ini Gi??? Aku bukan pria yang kamu inginkan, huhuhuhu, aku jauh dari Naufal Gi !!!! Kamu lebih memilihnya di banding aku, semua nggak bisa berubah begitu saja Gi, kamu kira dengan kamu menikah aku akan berhenti mencintaimu dan akan melupakanmu !!!!??? Tidak Gii !!! Tidak semudah itu, aku mencoba memaksa, mencoba segala cara untuk bisa lupain kamu, tapi nggak bisa Gi, huhuhuhu, semakin aku melupakan mu semakin aku mencintaimu Gi, huhuhuhu, mengertilah," ucapnya sambil menengadahkan wajahnya menghadapku.


"Apa lagi Gi yang harus aku lakuin ke kamu???!! Agar aku bisa memiliku," kata Pak Kevin.


Aku ikut terjatuh di depan Pak Kevin.


"Pak Kevin.....maafkans saya, ini bukan karna soal saya memilih siapa?? Mungkin kata-kata saya ini akan menyakiti hati Pak Kevin, tapi sebenarnya saya tidak ingin mengatakan ini pada Pak Kevin, saya hanya mencintai suami saya Pak, dan itu akan selamanya tetap seperti ini, saya tidak akan membagi cinta dan hati saya, saya bingung Pak??? Saya bingung disini harus bagaimana, apakah saya salah?? Huhuhuhu, Bapak jangan seperti ini, masih banyak orang yang menyayangi Bapak, keluarga Bapak, Meira, bahkan teman-teman Bapak, jangan hancurkan diri Bapak hanya karena hasutan cinta Pak, ada seribu wanita yang lebih baik dari saya, Pak Kevin juga baik, pasti sangat mudah mendapatkan wanita yang baik pula," tuturku.


"Mudah Gi?? Aku saja tidak bisa mendapatkanmu," ucapnya.


"Paakkkk.......Mungkin karena kita tidak berjodoh saja," kataku.


"Sedikit saja Gi, kamu nggak pernah cinta sama aku??" tanyanya.


Deeeeeggggggg.


Aku teringat dengan mimpi itu, kata-kata ini sama persis seperti di mimpi tadi malam.


"Mmmm.......maaf Pak, saya hanya kagum sama Bapak, sedikit pun saya tidak pernah mencintai Bapak," ucapku.


"Bilang sama aku kalo kamu nggak cinta sama aku," ucapnya.


Deg deg......deg deg......


Pak Kevin semakin kuat menatapku.


"Saya........tidak mencintai Bapak," kataku.


Pak Kevin sangat kecewa mendengar jawabanku itu.


"Baik lah, jika memang ini kenyataannya, aku janji !!! Aku janji tidak akan mengganggumu lagi !!! Tidak akan muncul di depanmu lagi !!! Memang bahagiamu itu bahagiakug, biarlah Naufal yang memilikimu," kata Pak Kevin begitu lantang terdengar di telingaku.


"Ijinkan aku memelukmu untuk pertama dan terakhir kalinya Gi, aku mohon," paksanya.

__ADS_1


"Maaf Pak, saya tidak mengizinkan Bapak untuk memeluk saya," tolakku sambil memalingkan wajahku untuk tidak menatapnya.


"Oke.....Oke....Aku akan pergi Gi, jauh dari kamu," bisiknya lirih sambil mengangguk-angguk kepalanya.


Pak Kevin berdiri, berjalan gentoyoran menuju mobilnya, membuka pintu mobilnya lalu melajukan mobilnya meninggalkanku.


Aku menangis sejadi-jadinya di tengah jalan ini.


"Huuuuuaaaaa, Ya Allah, apakah kata-kataku menyakitinya, tapi ini memang benar adanya, huhuhuhu, aku bisa apa sebagai hambamu??? Aku lemah Ya Allah, aku ingin utuh untuk suamiku, aku sangat mencintainya, apakah aku salah Ya Rab??? Aku sangat kasihan dengan pria itu (Pak Kevin) huhuhuhu, bagaimana hatiku ini???" ucapku dalam hati sambil menangis di depan mobil.


Setelah ku sadar dan aku berdiri lalu berjalan kembali masuk ke dalam mobil.


Ku buka ponsel ku, banyak panggilan tak terjawab dari Naufal dan Susi.


Ku tancap gas mobilku kembali, aku tetap menangis dalam mobil.


Ponselku berdering, segera ku terima telfon dari Naufal.


"Sayang, kamu dimana??!!" tanya Naufal.


"Aku masih di perjalanan Mas," jawabku.


"Suara kamu kok gitu?? Kamu nangis?? Kamu kenapa Sayang??? Jangan buat aku panik," tanyanya.


"Iya Mas, tapi aku nggak papa," jawabku.


"Kamu ada apa di jalan?? Kamu lama nggak nyampe-nyampe rumah, aku khawatir, aku telfon Pak Joko terus ke kamu, tidak ada jawaban sama sekali," ucapnya.


"Maaf Mas, aku segera sampai di rumah," jawabku


"Kamu ada apa sih Sayang sebenarnya??? Aku sayang sama kamu, kamu jangan sampe kenapa-napa," kata Naufal.


Aku semakin menangis mendengar suamiku yang mengatakan dia sayang padaku.


"Huhuhuhu, nanti jika kamu sudah pulang, aku akan ceritakan semuanya, dan semua akan selesai Mas," ucapku sambil terbata-bata.


"Nggak Sayang, sekarang juga aku akan pulang," ucap Naufal.


"Ya udah kalo itu mau kamu," kataku yang sudah pasrah dan juga lemas.


"Iya Sayang, tunggu aku di rumah, apapun itu, kamu harus cerita sama aku," kata Naufal dalam ponselku.


"Iya Mas," jawabku langsung menutup telfon dari Naufal.


"Aku akan ceritakan semuanya pada Naufal, aku yakin dia tidak akan marah padaku, aku sangat mencintaimu Fal, huhuhu," kataku dalam hati.


***(Di Rumah)


Sesampainya di Rumah, Pak Joko langsung membawakan payung untukku.


"Makasih Pak," ucapku.


"Iya Buk," kata Pak Joko.


Aku berjalan masuk ke dalam rumah dengan keadaan basah kuyup dan mata yang sembab.


"Assalamu'alaikum," ucap salamku.


Bi Sarah menggendong Abay dan menungguku di Ruang Tamu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah.


"Haaaa???!! Astagfirullah, Mbak Gia," kata Bi Sarah yang kaget melihatku.


"Gusti Allah Mbak Gia kenapa??" tanya Bi Sarah yang berjalan mneghampiriku.


"Eheemm, Gia ke atas dulu ya Bi, mandi, terus Gia nanti bawa Abay, biar Bibi bisa segera tidur," tuturku.


Bi Sarah sudah mengerti dengan jawabanku, jika aku tengah mengalihkan pembicaraan, pasti ada masalah yang sangat berat yang tidak ingin ia ketahui.


"Ooowhh...iii.....iya Mbak," kata Bi Sarah.


Aku berjalan menapaki anak tangga.


Gleeeekkkkk...


***(Di Kamar)


Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, setelah aku mandi, aku turun untuk mengambil Abay dari Bi Sarah.


.


.


.


.


"Sayang nya Mama," kataku sambil mencium Abay dalam gendongan Bi Sarah.


Bi Sarah langsung memberikan Abay padaku.


"Makasih ya Bi udah jagain Abay," ucapku.


"Iya Mbak sama-sama," jawab Bi Sarah dengan gugup.


"Gia ke atas ya Bi, Bibi segera istirahat," tuturku sambil tersenyum padanya.


Aku berjalan meninggalkan Bi Sarah.


***(Di Kamar)


Setelah aku mengunci pintu kamarku, aku menangis sambil menciumi Abay.


Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu kamarku.


Tok....tok....tok


"Sayang," panggil Naufal.


Mendengar suara Naufal dari luar kamar, aku terburu-buru langsung membuka pintu kamar.


Gleeeekkk....


Aku berdiri sambil menangis di depannya.


"Sayanggggg," rengekku dan langsung memeluknya erat-erat.


Bersambunggg......


Hehheeh untuk episode kali ini, siap-siap di buat nangis.


Jangan lupa like, komen, dan vote nya.๐Ÿ–ค๐Ÿ˜


Terima kasih semuanya๐Ÿ˜๐Ÿ™


See You next episode......

__ADS_1


__ADS_2