Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 170 (Sifat Asli Naufal)


__ADS_3

Fajar telah menyambutku dengan hangat pagi ini.


Suara bising sudah membangunkan kami dari alam maupun


sekitar.


“Ugghhmmm,”


Naufal baru saja bangun, sedangkan aku baru saja selesai


mandi dan memasak.


“Pagi Mas Naufal,” ucapku sambil membuka gorden dan pintu balkon.


“Uugghhmmm pagi Sayang, jam berapa ini?” tanya Naufal.


“Jam setengah 6,” jawabku.


Naufal langsung kaget dan menarik tubuhnya untuk bangun.


“Setengah 6 Sayang!!! Kamu kok gak bangunin aku tadi jam 5,” ucapnya.


Aku duduk di sebelah Naufal.


“Emang sengaja aku nggak bangunin kamu, biar istirahat kamu


nambah, meskipun dikit,” ucapku.


“Hehehem, Sayang……Sayang, gara-gara kamu sih jadi keenakan akunya,” kata Naufal.


“Gara-gara aku?? Emang aku ngapain kamu?” tanyaku.


“Kamu sih manggil-manggil aku sayang, denger di telinga


aku enak kan, jadi nya buat saku tidur, hihihi,” goda Naufal.


“Apa-apaan sih,” kataku sambil malu-malu.


Aku menarik lengan tangan Naufal agar segera turun dari


ranjang.


“Udah ah Mas, mandi gih,” tuturku.


“Iya iya Sayang,” jawab Naufal sambil membuka selimutnya dan menurunkan kaki nya dari ranjang.


“Aku udah rapi nih, baru selesai mandi, sekarang ganti kamu,


awas luka nya,” tuturku.


“Iya iya Dokter Sayang,” rayu Naufal sambil berjalan masuk


ke kamar mandi.


“Bisa aja kalo ngerayu istrinya hehehem,” ucapku smabil merapikan tempat tidur.


.


.


.


.


.


.


Setelahnya Naufal mandi,dan kami semua sudah rapi, kami


turun ke bawah untuk sarapan.


***(Di Ruang Makan)


“Pagi pagi,” ucap Naufal yang sangat gembira.


“Pagi Pak,” jawab mereka yang seperti biasa sudah menunggu


kami di meja makan.


“Gimana nyenyak tidurnya semalam?” tanya Naufal yang tidak


biasanya dia seperti ini.


“Nyenyak Pak, Alhamdulillah,” jawab mereka yang juga heran


dengan pertanyaan Naufal.


“Alhamdulillah kalo nyenyak semua, pasti nya saya yang


paling nyenyak tidurnya, soalnya semal..” ucapan NAufal berhenti saat ku senggol kaki nya yang ada di bawah meja.


“Eeemmm…soalnya saya kan tidur sama istri hehehe,” jawab


Naufal untung saja tidak jadi keceplosan.


“Huuuufftt, dasar Mas Naufal, bahaya banget,” gerutuku dalam hati.


“Mari di makan, makan yang kenyang, ya,” tutur Naufal.


Akhirnya semua sarapan pagi bersama.


“Pak, semalam ada masalah apa Pak, kok Pak polisi kesini??


Sebenarnya saya ingin memanggil Pak Naufal duluan, tapi Pak Polisinya bilang kalo kenal sama Bapak,” ucap Pak Joko.


“Nggak ada masalah apa-apa Pak, cuman masalah ringan aja,


biasa masalah kerjaan,” jawab Naufal.


“Itu polisinya temennya Bastian Pak, maka nya maksa masuk


ya, hehehe,” tebak Naufal.


“Hehehe iya Pak, pantesan, pertama kali saya kaget Pak waktu Polisi itu kasih kartu namanya masing-masing, saya kaget banget, saya pikir ada apa, kemalingan atau gimana mikir saya Pak,” ujar Pak Joko.


“Hehehem, enggak kok Pak, masalah di Rumah Sakit, tapi udah di urusin juga,” jawab Naufal.


Naufal berusaha mengalihkan pembicaraan agar pembahasan


tentang kecelakaan yang terjadi di Rumah Sakit tidak semakin melebar, untung saja Abay tidak begitu memperdulikan dan malah fokus melahap makanan yang ada di depannya.


.


.


.


.


.


Selesai sarapan, kami pun berpamitan untuk pergi bekerja.


.


.


.


.


***(Di Rumah Sakit)


Saat kami sedang turun dari mobil tepat di parkiran, semua


manusia yang baru saja datang juga disana bergantian menyapa dan mendoakan Naufal.


“Pagi Dokter Naufal, gimana Dok keadaannya?” tanya Dokter


yang juga bekerja disana.


“Alhamdulillah, nggak kenapa-napa kok, cuman ke gores dikit


aja,” jawab Naufal.


“Cepat sembuh ya Dok,” ucap Dokter itu.


“Iya makasih ya,” kata Naufal.


Banyak yang menyapa dia, dan hampir seluruh penghuni Rumah Sakit ini.


Saat aku dan Naufal menyusuri koridor rumah sakit juga


masih sangat banyak yang terus menyapa Naufal.


“Ciiieee banyak banget yang peduliin,” ucapku yang berjalan


beriringan dengannya.


“Apa sih Sayang, ya dia menghargai Sayang, soalnya kemaren


nggak sempat nanya langsung, bisa nya waktu ketemu gini,” ucap Naufal.


“Kamu cemburu?” tanya Naufal.


“Enggak lah, ngapain juga aku cemburu, buat apa, biasa aja


kali Mas, malah aku seneng banyak banget yang peduli sama kamu, ya memang kalo pertama dulu sempat cemburu, sekarang ya enggak lah,” ucapku.


“Cieeee dewasa banget…hihihi,” canda Naufal meraih telapak


tanganku agar masuk dan menyatu di sela-sela jari-jemarinya.


“Masih pagi udah modus aja kamu,” ejekku.


“Hhmm biarin, kan halal, nggak dosa, weekkk,” kata Naufal.


Aku tersenyum melihat Naufal.


Saat langkah kami semakin dekat dengan ruangan ku dan


Naufal, ku lepas genggaman tangan Naufal dan aku berjalan sendirian menuju ruang kerjaku.


Ku letakkan tasku di meja kerja dan ku gantungkan jas


dokterku.


“Huuufftt, nanti pulang langsung packing,” kataku smabil


membuka laptop dna mendekatkan kursi putarku pada meja.

__ADS_1


“Huummm, semoga luka Mas Naufal cepet sembuh, aku nggak mau dia terluka,” kataku.


Si Suster mengetuk pintu ruanganku.


“Pagi Dokter,” sapanya sambil membawa berkah-berkas yang


selalu ada dalam gendongannya.


“Pagi Sus,” jawabku.


“Sibuk banget Dok, padahal masih pagi,” tanya Si Suster.


“Iya Sus, ini buat data besok kita berangkat,” ucapku.


“Eeeemmm….eh Dok, hari ini saya senengg banget,” ucap Si


Suster.


“Seneng kenapa Sus?” tanya Naufal.


“Satu bulan lagi, pacar saya pulang Dok, hihihihi, nggak


sabar Dok, saya ketemu sama dia, udah berapa tahun saya nggak ketemu sama dia, huummm LDR ternyata beraaaattttttt banget ya, untung saya sibuk kerja Dok, kalo nggak, pasti stress saya,” kata Si Suster.


“Kalo Suster stress, saya yang kasih resep obat stress khusus buat Suster, hihihihi,” candaku.


“Hahaha, Iiihhh Dokter,” kata Si Suster.


Ku lihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan


kiriku.


“Sus, kita ke atas, ke ruangan atas,” ajakku pada Si Suster.


“Udah jam nya Dok?’ tanya Si Suster.


“Udah Sus,” jawabku smabil berdiri dan mengambil jas


dokterku.


“Ya elah cepet banget Dok, padahal mau cerita banyak sama


Dokter,” ujar Si Suster.


“Nanti jam istirahat siang, kamu bisa cerita sepuasnya


setelah sholat, saya bawa roti Maryam,” tuturku.


“Assiikk, buatan sendiri Dok?" tanya Si suster sambil


mengikuti langkahku.


“Iya Sus,” jawabku.


“Wiiihh, pasti enak kalo buatan Dokter, dijamin,” kata Si


Suster.


Aku berjalan keluar dari ruang kerjaku bersama Si Suster


untuk menuju lantai atas rumah sakit ini.


Pastinya akukembali memeriksa satu per satu kondisi dan


perubahan dari pasien-psienku.


Saat kami menuju lift, kami masih menunggu di depan lift.


Saat lift terbuka, ternyata ada Naufal, Pak Bastian, dan 3


wanita di dalamnya yang juga petugas kesehatan disini.


3 wanita itu sangat kaget saat melihatku yang berdiri tegak


di depan lift.


“Pa….Pagi Dok,” sapa mereka padaku.


“Pagi,” jawabku sambil tersenyum pada mereka.


Aku meangkah masuk ke dalam lift dan berdiri tepat di


samping Naufal.


Dalam lift mendadak hening saat ada aku disana, apalagi Si


Suster yang berdiri kaku di sampingku.


“Aaaghheeemm,” Pak Bastian berkali-kali berdehem ingin


mencairkan suasana.


“Mau ke lantai berapa kamu?” tanya Naufal padaku.


“Ke lantai 10,” jawabku yang tetap menatap ke depan.


“Oooo sama kalo gitu,” kata Naufal.


“Jangan-jangan kalian satu ruangan,” sahut Pak Bastian yang berdiri di belakang Naufal.


“Emang kamu di ruangan mana?’ tanya Naufal lagi yang


menolehkan kepalanya padaku.


“Tuh kan sama,” sahut Pak Bastian lagi.


“Kamu juga kesana?” tanyakupada Naufal.


“Iya Gi,” jawab Naufal.


4 wanita yang berada dalam lift bersamaku hanya bisa diam


dan mendengar obrolanku dengan Naufal.


Teng tong…….


Pintu lift terbuka perlahan.


Naufal mempersilahkan ku agar keluar duluan dari lift.


“Dokter Naufal romantic banget sih, sopan banget sama


istrinya, coba aja nanti suamiku kayak gitu,” puji salah satu wanita yang masih ada dalam lift.


Aku tersenyum mendengarnya dan Si Suster menatapku.


“Heeeemmm, masih pagi udah mulai aja ghibah nya,” ucap Pak


Bastian yang sepertinya juga mendengar bisikan suara 3 wanita itu.


“Siapa Bas?” tanya Naufal.


“Ya 3 perempuan fans Lo Fal,” jawab Pak ABstian.


“Telinga Lo dengerin aja kalo soal ghibah-ghibah,” ejek


Naufal.


“Lagian, bisikannya nggak bisa dikecilin dikit, untung aja


dia nggak ikut turun ke lantai ini,” gerutu Pak Bastian.


“Giliran ada istri Lo aja mereka langsung diem nggak


gerak-gerak,” sambung Pak Bastian lagi.


Aku sangat tau bahwa Si Suster girang kesenangan ada


bersamaku karena bisa terus mendengar suara Naufal.


Kami berempat masuk di ruangan yang sama.


.


.


.


.


.


Kamar demi kamar, ruangan demi ruangan kamu masuki satu per satu, hingga kamar terakhir dengan pasien yang sangat kasihan menurutku.


Aku baru saja keluar dari ruangannya bersama Si Suster.


“Kasihan ya Dok pasien itu, tapi bandel,” keluh Si Suster.


“Hehehm, ya begitulah Sus, kepribadian orang kan beda-beda,


kita gak bisa samain Sus,” kataku.


“Iya sih Dok,” jawab Si Suster.


“Eehheemmm…...ngomong-ngomong, makasih ya Dok,” ucap Si


Suster.


“Makasih buat?” tanyaku sambil mengernyitkan kedua alisku.


“Tadi saya bisa jalan sama-sama sama Dokter Naufal, sebagai fans nya saya senang banget Dok, hihihihi, padahal waktu di lift Dok, kaki saya sudah gemetaran pengen pingsan Dok hihihi, ini aja saya fans nya Dok, apalagi Dokter yang istrinya, tiap hari tiap waktu sama Dokter Naufal, jadi gak bisa bayangin saya Dok, hihihihi,” kata Si Suster.


Aku tertawa mendengar celotehnya dan ekspresi serta gaya


bicaranya.


“Hehehehe, ya ampun Suster, segitunya loh. Sampe mau pingsan segala,” kataku.


“Abisnya Dok, jarang-jarang yang satu lift sama Dokter


Naufal,” kata Si Suster.


“Ya nanti kalo pulang sama saya aja Sus, biar satu mobil


sama Dokter idola nya Suster,” kataku.


“Heheheh, malu saya Dok,” ujarnya.


“Loh katanya pengen sama Dokter Naufal,” godaku.


“Denger suaranya aja saya udah seneng Dok, hihihi,” kata

__ADS_1


Suster.


Aku selalu tertawa dengan tingkah konyol Suster itu.


.


.


.


.


Hingga adzan dhuhur berkumandang, kami pun bergegas untuk


segera sholat.


Setelah sholat, Si Suster kembali mengikuti ke ruang


kerjaku.


“Nih Sus, buatanku,” ucapku sambil membuka satu kotak roti Maryam.


“Wiiiiih selalu enak kalo buatan Dokter,” pujinya.


Aku mengeluarkan satu kotak lagi dari dalam tasku.


“Itu satu lagi buat siapa Dok? Buat Dokter Naufal,” tebak


Suster.


“Hehehem, iya, buat siapa lagi, bentar lagi pasti orangnya


kesini,” jawabku.


Si Suster langsung kaget, dan membulatkan kedua kelopak


matanya sambil melotot melihatku dengan mulut yang menganga.


“Haaa???? Yang bener Dok,” ucapnya.


“Iya,” jawabku sambil mengangguk-anggukan kepalaku.


“Kalo gitu saya permisi aja ya Dok,” ucapnya.


“Kenapa?? Udah nggak papa makan sama-sama disini aja,”


tuturku.


“Aduuh Dok, nanti saya nggak enak sama Dokter Naufal, kan


Dokter mau berduaan, tapi malah saya ganggu, yaaa meskipun saya sebenarnya sangat senang bisa makan bersama Dokter Naufal,” kata Si Suster.


“Udah nggak papa disini aja, kapan lagi makan sama Dokter


Naufal,” bujukku sambil tersenyum padanya.


“Beneran nggak papa Dok?? Saya nggak ganggu?” tanya Si


Suster.


“Enggak Sus, tenang aja,” kataku dengan santai.


"Waduh saya harus rapi nih di depan Pak Direktur," ucapnya.


Tak lama kemudian, Naufal datang masuk ke ruanganku.


“Saya….nggg” Panggil Naufal yang tidak genap karena ada Si


Suster yang duduk di depanku.


“Sini Mas, duduk sini,” ucapku sambil ku suruh duduk di


sampingku.


Aku tau betul raut wajah Si Suster yang sangat senang


bercampur dengan malu-malu, Sikapnya berubah drastis, yang tadinya konyol, kini menjadi kaku dan anteng.


“Hayy, Suster,” sapa Naufal pada Suster yang ikut makan


bersama kami.


Si Suster hanya tersenyum kaku pada Naufal, aku tau dia


pasti gemetar.


“Kita makan bertiga ya Mas, gak papa kan?” tanyaku.


“Oooo nggak papa banget Sayang,” jawab Naufal.


“Massss…” desisku untuk memberi kode padanya.


“Ini buat kamu,” kataku sambil membuka kan kotak makan untuk Naufal.


“Hhhmmmm aku nggak sabar Gi, dari tadi ngebayangin roti


kamu, uuuhhmm bau keju nya aja udah enak banget,” puji Naufal.


“Hehehem, kamu bisa aja,” kataku.


“Udah Sus, mari dimakan,” kataku.


Kami makan bertiga dengan suasana yang kaku dan hening.


“Gimana Sus?? Enak rotinya?” tanya Naufal pada Si Suster.


“Ee…..enak banget Dok,” jawab Si Suster.


“Buatan istri saya memang paling enak Sus, hehem,” puji


Naufal.


“Hehehm iya Dok,” jawab Si suter.


“Gimana soal bisnis kamu?? Lancar??” tanya Naufal.


“Alhamdulillah lancar Dok,” jawab Si suster yang terus saja


kaku.


“Syukurlah, kapan-kapan saya beli ya, buat istri saya,” ucap


Naufal.


“Hehehe, siap Dok , nanti saya buatkan yang bagus banget,”


kata Si Suster.


“Bisnis itu harus sabar, telaten juga, penghasilan pertama


selalu melonjak tapi nggak usah patah semangat kalo bulan-bulan selanjutnya menurun, ya memang begitulah bisnis, rejeki udah ada yang ngatur, intinya sabar sama telaten aja,” tutur Naufal.


“Hehehe, iya Dok,” jawab Si Suster.


“Memangnya Si Suster bisnis apa Mas?” tanyaku.


“Dia kan punya ruko buat jualan bunga hias,” jawab Naufal.


“Ooooo udah lama??” tanyaku.


“Baru-baru ini,” jawab Naufal.


“Eeemmm pantesan aku nggak tau,” kataku.


“Sayang tissue Sayang,” ucap Naufal yang lagi-lagi


keceplosan.


Ku ambilkan tissue dan ku usahkan di dekat bibirnya yang


cemot terkena coklat.


“Adduuuhhhhh bikin iri aja sih mereka, huuummm andai aja aku


bisa jadi pasangan suami istri seperti dia,” gerutu dalam hati Si Suster.


“Jangan banyak gerak kamu, inget jahitan kamu,” tuturku.


“Iya iya Sayang,” jawab Naufal yang sengaja memanggilku


Sayang.


Setelah roti Naufal sudah habis dilahapnya, dia berpamitan


untuk kembali lagike ruangannya.


Saat Naufal sudah keluar dari ruanganku, Si Suster langsung


menjatuhkan kepalanya di meja kerjaku.


“Aaaahhh.........Sumpaaaaahhhhh Dok, ini parah, ini parahhhh Dok,” ucap Si Suster dengan sangat ekspresig.


“Ha?? Parah apa nya Sus?” tanyaku.


“Untuk pertama kalinya, saya memandang dekat wajah Dokter Naufal, hidungnya Dokter Naufal, bulu mata lentiknya, dagu belahnya Dok, Astaghfirullah, maafkan hamba hari ini khilaf Ya Allah,” ucapnya.


“Hehehe, apa sih Suster ini,” kataku sambil memakan satu


sendok roti lagi.


“Makasih Dok, makassiihhhhh banget, kapan lagiiiii Dok, saya


bisa semeja makan bersama sama Dokter Naufal, ternyata ya Dokter Naufal ramah pake banget Dok, pantesan banyak penggemarnya, di luarnya aja kelihatan kaku dan dingin, tapi sebenarnya malah sebaliknya Dok, Humble banget, supel banget Dok,” ucap Si Suster yang masih saja membayangkan Naufal.


Aku hanya tertegun dan tersenyum melihatnya.


“Hehehe, biarin Dok kalo kata Dokter saya alay, tapi memang


ini yang saya rasain Dok, jarang-jarang loh Dok mereka-mereka bisa sedekat ini sama Dokter Naufal, saya yang hanya Suster malah bisa makan bersama,” kata Si Suster.


“Hihihihi ya ampun Suster,” gumamku.


“Romantis banget loh Dok ternyata Dokter NAufal, meskipun


udah punya 1 anak, manggilnya masih sayang-sayang, perhatian banget lagi sama Dokter, udah pokoknya couple goals banget lah Dok,” puji Si Suster.


“Bikin iri Dok Ya Allah, sampe-sampe saya bayangin tadi,


begitu tadi Dokter Naufal masuk, tangan saya keringat dingin langsung Dok, bibir saya gemetar saya di tanya-tanya sama Dokter Naufal, Hhmmmmm, hari bersejarah lagi ini Dok, apalagi waktu kasih nasehat ke saya, saya bisa nya


jawab cuman iya iya aja, hihihihi jadi malu, waduuuh ternyata beda banget ya Dokter Naufal kalo jam kerja sama jam istirahat gini,” kata Si Suster.

__ADS_1


Bersambung...........


__ADS_2