
Siangnya, matagari begitu terik dan sangat terasa panas,
Rumah Sakit agak sedikit sepi, hanya bunyi heelsku saja yang mengajakku berjalan ke ruangan Naufal.
***(Di Ruangan Naufal)
Tok..tok..Tok..
“Masuk,” ucap Naufal.
Gleekkk…..
“Siang Mas,” ucapku setelah sholat dhuhur menghampiri
Naufal.
“Gimana Sayang?? Ada apa??” tanya Naufal yang duduk
bersandar di kursi putarnya dan tangannya yang menari di keyboard laptopnya.
“Hehehm, nggak papa,” jawabku.
Aku melihat raut lelah di wajah Naufal.
“Kamu lanjut aja nggak papa, pasti kamu sibuk ya,” ujarku.
“Eehhm enggak kok, santai,” tepis Naufal sambil merekatkan
jari jemarinya.
“Aaah enggak apanya, udah deh jangan bohong Mas,” ucapku.
Aku berdiri dan memikat kedua pundak Naufal.
“Uuuhmmm enak banget nih pijitan istri,” puji Naufal.
“Gitu katanya kamu nggak capek,” kataku.
“Nggak terlalu Sayang,” ucap Naufal.
“Udah kamu diem aja, aku pijitin bentar,” tutur Naufal.
Naufal menyandarkan kembali kepalanya, sehingga menghadap
padaku. Ia memejamkan kedua matanya.
“Subhanallah,” pujiku dalam hati.
Bulu mata Naufal terlihat semakin lintik dari sisi atas.
Aku tetap fokus memijat kedua pundak Naufal.
Sepertinya Naufal merasakan keenakan, dia membuka kedua
matanya, dan menatapku sambil tersenyum-senyum di bawah wajahku.
“Pemandangannya bagus banget Sayang disini,” ucap Naufal
sambil melihat wajahku dari bawah.
“Apa sih Mas,” kataku malu-malu.
“Udah deh kamu merem lagi,” tuturku.
“Nggak usah merah gitu pipinya, hihihihi, grogi ya,” goda
Naufal.
Deg deg….deg deg…..deg deg…
“Enng……enggak sih, biasa aja,” tepisku.
“Aaaa masak?? Ya udah kalo nggak grogi lanjutin aja
mijitnya, aku mau lihatin kamu terus,” goda Naufal lagi.
Semakin tak kuat aku terus-terusan di pandang oleh kedua
mata Naufal, akhirnya ku lepaskan tanganku dari pundaknya, namun Naufal dengan cepat menangkap tanganku lalu menciumnya.
“Makasih ya,” ucap Naufal sambil tersenyum padaku.
“Iya sama-sama, udah ah Mas jangan gini,” kataku.
“Langsung hilang capeknya Sayang, hehehe,” canda Naufal.
Aku kembali duduk di sofa besar Naufal.
“Gitu katanya nggak capek, bohong deh kamu Mas,” ejekku.
“Ya elah Sayang, capeknya udah ilang pas tadi kamu kesini,
kalo jam jam istirahat gini kamu keruangan aku dong,” perintah Naufal.
“Nggak enak sama yang lain Mas,” tepisku.
“Ya kan nggak tiap hari Sayang,” ujar Naufal.
“Eemmmm Mas, nanti kamu ada meeting di luar ya,” kataku.
“Astagfirullah, tadi akum au bilang kamu loh padahal, kok
kamu tau??” tanya Naufal.
“Dari Suster Andini, tadi kata rekan kamu,” jawabku.
“Iya Sayang, aku nanti ada meeting di luar, aku anterin kamu
pulang dulu jadinya,” ujar Naufal.
“Eemmm nggak usah, aku juga nanti bakalan lembur kok, nanti
aku biar di jemput Pak Joko aja,” kataku.
“Jangan jangan, nggak boleh, kamu yang bawa mobilnya aja,
biar nanti aku nebeng sama yang lain,” kata Naufal.
“Mass…..udah nggak papa, kamu biarin aku semobil sama Alvi
aja kamu nggak cemburu, maska sama Pak Joko orang kepercayaan kamu yang udah lama kamu masih aja cemburu,” ceplosku.
“Yak an kalo sama Alvi sama ngebuktiin kalo kamu memang bener-bener udah lupa Sayang,” tepis Naufal.
“Huuufftt, ya udah deh, aku annti bawa mobil nya,” kataku
yang akhirnya menyerah dan menuruti Naufal.
“Nanti kamu sama Pak Bastian juga??” tanyaku.
“Enggak lah Sayang, nanti sama yang lain, ada kok, tenang
aja,” jawab Naufal.
“Pulang jam berapa??” tanyaku.
“Nah ini Sayang, aku juga belum tau,” ucap Naufal.
Tok tok tok……..
“Pasti Bastian ini Sayang,” kata Naufal.
“Masuk,” ucap Naufal.
Glleeekkk……
Dugaan Naufal benar, tamu nya adalah Pak Bastian.
“Wiih, maaf nih Gue salah kamar Fal, hihihihi,” canda Pak
Bastian.
“Ada Gia ternyata,” ucap Pak Bastian.
“Mas, aku balik dulu ya,” pamitku.
“Kenapa balik Gi?? Udah nggak papa disini aja,” tutur
Naufal.
“Ehem, enggak Pak, nggak papa, udah kok tadi,” kataku.
“Oh udah, udah nih?? Beneran udah??? Nggak lagi???” goda Pak Bastian.
Naufal berdiri dan langsung menabok lengan Pak Bastian yang
otaknya agak gesrek dikit sepertinya.
“Apa sih Lo,” kata Naufal.
Pak Bastian tertawa terbahak-bahak.
“Aku balik Mas,” ucapku dan melangkah meninggalkan mereka.
“Iya Sayang, jangan dengerin Bastian, gak jelas,” teriak
Naufal.
.
.
.
.
.
.
Aku tidak langsung ke ruanganku, aku mampir dulu ke kamar
kecil.
Keluar dari kamar mandi, aku bertemu dengan Dokter Irene.
“Eh Gi, akum au ngomong nih sama kamu,” kata Dokter Irene.
“Eemmm boleh Dok, tapi…..bukan nya waktu jam istirahat
tinggal bentar lagi ya Dok,” kataku.
__ADS_1
Dokter Irene melihat jam tangan yang dipakainya.
“Nanti kamu lembur nggak??” tanya nya.
“Iya Dok, saya lembur,” jawabku.
“Ya udah nanti aku ke ruangan kamu ya,” ucap Dokter Irene.
“Iya Dok, silahkan,” kataku.
Belum sampai di ruanganku, udah ada panggilan dari ICU saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Malamnya, aku masih berada di tempat kerja, tak lupa aku
memberi kabar pada Abay.
***(Di Ruang Kerjaku)
“Sayang, aku pergi ya,” pamit Naufal sambil mengalungkan
jasnya di pergelangan tangannya.
“Jangan pergi Mas,” regekku sambil menarik tanganya.
“Uluh uluh, istriku lagi manja nih, hhmm,” ucap Naufal
sambil mengelus-elus pipiku.
“Hehehem, enggak-enggak Mas, becanda,” kataku.
“Serius juga nggak papa kok Sayang, tiap hari juga nggak papa, malahan seneng aku kalo kamu manja merengek-rengek kayak gini,” ujar Naufal.
“Hhmm apa sih Mas, udah tua juga masih aja di suruh
manja-manja an,” tepisku.
“Hmm, bilangnya nggak manja, coba aja kalo di rumah,” kata
Naufal.
“Kan beda Mas, kalo disini kan nggak enak di lihatin yang
lain nanti,” kataku.
“Oh ya??? Masak?? Diaman??” tanya Naufal menggodaku sambil membungkuk dan menatap wajahku begitu dekat.
“Ini kan ruangan kamu, nggak ada siapa-siapa loh,” bisik
Naufal mengerjaiku.
“Mas Naufal…..mulai deh, udah sana pergi,” tuturku.
“Loh, kok ngusir??” ucapnya.
“Di usir nih aku nya, tadi aja nggak boleh pergi, sekarang
ngusir-ngusir,” sambungnya.
“Hehehem, kamu sih Mas, suka nya ngerjain aku, udah sana, di tunggu temen kamu loh,” perintahku.
“Ya udah, bye Sayang,” kata Naufal sambil mengelus kepalaku.
“Bye Mas, hati-hati,” ucapku.
Naufal keluar dari ruanganku, di susul Suster Andini dan
Dokter Irene yang menghampiriku.
“Malam Dok,” sapa Suster Andini.
“Malem,” jawabku.
“Sudah sholat Dok??” tanya Suster Andini.
“Sudag,” jawabku.
“Ya udah berarti kita bisa ngerjain ini nya sama-sama,
hehehe,” kata Suster Andini.
“Pendamping Dokter Irene mana??” tanya Suster Andini.
Kami pun memulai menysuun data dan membuat presentasi serta laporan yang akan kami serahkan besok.
“Waaaaww, ternyata banyak ya Sus,” kataku.
“Pulang tengah malem bisa loh Dok kita ini nanti,” ucap
Suster Andini.
“Hehehem, nanti Suster pulang sama siapa??” tanyaku.
“Biasa Dok, Gojek yang selalu setia mengantar kemanapun saya pergi, hehehe,” jawab Suster Andini.
“Pulang sama saya aja gimana Sus?? Kan kita pulangnya
bakalan barengan,” ujarku.
“Ehm boleh boleh aja Dok, tapi nggak ngrepotin nanti saya,:”
ucap Suster.
“Aaahh enggak Sus, saya nanti pulang sendiri kok, kan Dokter
Naufal meeting sama temennya,” ucapku.
“Temennya siapa Gi??” sahut Dokter Irene.
“Alvi ya??” sambung Dokter Irene lagi.
“Eeeehmm bukan Dok, temennya satu lokasi kerja kok, kalo
Gokter Alvi kan nggak tinggal di kota ini,” jawabku.
“Kok kamu tau tentang Alvi??" tanya Dokter Irene.
“Kan Mas Naufal temen Dokter Alvi Dok,” kataku.
“Eeehmmm gitu,” kata Dokter Irene sambil fokus ke arah
laptonya.
Aku kembali fokus kea rah laptopku.
Kami diskusi berempat, saling tukar pendapat dan di
sela-sela kesibukan kami, kami masih bisa bercanda dan tertawa.
Apalagi Suster Andini.
“Hahahahahaha, Dokter Gia sama Dokter Naufal nih panutan
banget, udah lama kan rumah tangganya, tapi masih kayak anak ABG aja, romantis-romantisan,” ceplos Dokter Andini.
Aku merasa tak enak hati dengan Dokter Irene yang mengalami perceraian dengan suaminya.
“Agghheem,” aku sedikit berdehem untuk memberi kode pada
Suster Andini.
“Eheemm nggak papa Dk, memang panutan kok pasnagan Dokter Gia sama Dokter Naufal, bener kata Suster Andini,” sanggah Dokter Irene.
“Hehehe, udah udah sekarang kita fokus lagi biar cepet
pulang,” tuturku.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sampai jam 19.40 mata kami belum juga beranjak dari laptop.
“Hoaamm, ini di lanjutin besok nggak boleh apa ya?” tanya
Suster Andini yang rupanya sudah lelah.
“Nggak boleh Sus, kan besok pagi kasihnya,” jawabku.
“Ini masih setengahnya loh kita Dok, belum yang
belakang-belakang ini,” ucap Suster Andini sambil membalik halaman kertas tebal yang dibawanya.
“Ini aja kita yang shift pagi, coba aja yang malam, malah
kasihan, keteteran,” ucap Dokter Irene.
“Tapi kan kalo yang shift malam dikasih waktu sampe siang ya
__ADS_1
bukan nya Dok,” jawab Suster Andini.
“Iya Sus, tapi kan tetep aja, masih enak kita,” ujar Dokter
Irene.
Tulang belakangku sudah sangat pegal, mataku juga sudah
panas, ku cek ponselku, namun belum juga ada kabar dari Naufal.
“Pasti Mas Naufal juga belum pulang,” gumamku dalam hati.
“Pesen makanan online yuk, nggak enak nggak ada cemilan,
lapar juga,” ucap Dokter Irene.
“Iya boleh, Dokter Irene mau apa??” tanyaku.
“Ini aja sih aku, sate yang di Resto Famia aja,” jawab
Dokter Irene.
“Kalo Suster Andini?? Famia juga??’ tanyaku.
“Iya Dok, biar nggak ribet, satu Resto aja,” jawab Suster
Andini.
“Sate juga??" tanyaku lagi.
“Iya Dok, tapi saya sate ayam aja ya,” jawab Suster Andini.
“Oke, Suster Dila mau apa ini, sama juga??” tanyaku.
“Iya Dok, samain aja nggak papa,” jawab Suster Dila.
Suster Dila adalah Suster yang paling pendiam dan pendiam
nya kebangetan di Rumah Sakit ini.
Kalo nggak di ketuk, pasti nggak ngomong.
“Suster Dila ikut candaan kita dong, heheh,” canda Suster
Andini yang hanya di beri balasan senyuman dari Suster Dila.
Karena Suster Dila adalah Suster baru disini, masih 2 tahun
lebih bekerja disini, dia dulu juga anak magang disini. Umurnya mungkin masih 25 tahun an lah.
“Suster Dila, awas loh nanti kalo cinlok sama Dokter disini,
ehehe,” goda Suster Andini.
“Hehehem, Insya’Allah enggak Suster Andini,” jawabnya.
“Masih Insya’Allah loh Sus, kita nggak tau kalo tiba-tiba
nikah kayak kisahnya Dokter Gia sama Pak Direktur kita,” canda Suster Andini lagi-lagi yang membuatku tersenyum dengan tingkah konyolnya.
“Oh ya?? Dokter Gia dulu juga murid koas??" tanya Suster
Dila.
“Betul Sus,” jawabku.
“Tuh kan Sus, disini udah banyak yang cinlok sama murid
koasnya atau anak magang loh, 3 udah nikah, yang 2 masih pacaran,” ujar Suster Andini.
“Ehehehem,” lagi-lagi hanya balasan senyuman dari Suster
Dila.
Sambil bekerja kami sambil berbincang-bincang.
Beberapa menit kemudian, ada notif di ponselku, aku kira
pesan dari Naufal, ternyata notif dari Bapak GoJek.
“Udah di depan Dok Bapaknya?” tanya Suster Andini yang
sepertinya peka.
“Sudah ini Sus,” jawabku.
“Ya udah biar saya aja yang ambil,” kata Suster Andini.
“Jangan Sus, biar saya aja nggak papa,” ujarku.
“Udah Dok, nggak papa, Dokter pasti capek kan, biar saya aja yang ambil, heheheh,” tutur Suster Andini yang langsung nyelonong pergi mengambil makanan pesanan kami.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
1 jam kemudian.
Akhirnya tugas kami pun sudah selesai.
“Alhamdulillah,” ucap Suster Andini.
“Alhamdulillah udah selesai, tinggal setor aja besok,” sahut
Dokter Irene.
Kami pun bubar karena harus pulang.
“Bye Dokter Gia, makasih ya,” ucap Dokter Irene dan Suster
Dila.
“Iya Dok, sama-sama,” jawabku.
Ku bereskan meja kerjaku dengan di bantu oleh Suster Andini.
“Ternyata gini ya Dok kalo jadi Dokter, lebih parah,” ucap
Suster Andini sambil membereskan meja.
“Ya beginilah Sus,” jawabku menata kembali buku-buku dalam
laci.
Setelah semuanya sudah beres, kami pun langsung menuju ke
Parkiran.
***(Di Parkiran)
Bip bip…..
Kunci mobil terbuka, aku pun masuk ke dalam mobil bersama
Suster Andini.
Mobil melaju keluar dari parkiran dan menuju jalan raya, aku
kembali mengecek ponselku, namun hasilnya tetap saja, tidak ada pesan atau
panggilan dari NAufal.
Akhirnya kulajukan mobilku sedikit cepat agar cepat juga
sampai Rumah.
“Dokter beneran nggak papa nganterin saya, nggak kemaleman Dok, ini udah jam 23.00 loh Dok,” kata Suster Andini.
“Nggak papa Sus,” jawabku.
Beberapa menit kemudian, sampai di depan Rumah Suster
Andini.
“Makasih ya Dok atas tumpangannya,” ucap Suster Andini.
“Iya Sus sama-sama,” jawabku.
Suster Andini turun dari mobil, ku buka kaca mobilku.
“Bye Dok, hati-hati,” ucapnya smabil emlambaikan tangannya.
“Bye Sus,” kataku sambil menyalakan klakson.
Ku lajukan mobilku untuk pulang, ponselku pun bergetar.
"Assalamu'alaikum Mas," ucapku.
"Wa'alaikumsalam Sayang, Sayang kamu dimana?" tanyanya.
"Kau baru nyampek depan Rumah, katanya Pak Joko kamu belum pulang, kamu masih dimana ini sekarang??" tanya Naufal lagi.
"Aku abis nganterin Suster Andini, ini aku otw pulang kok Mas," jawabku.
"Sekarang, kamu berhenti di pinggiran jalan, biar aku jemput kamu disana, udah jam segini jangan pulang sendiri, meskipun jalannya rame," tutur Naufal.
"Iya iya Mas, kamu juga baru pulang??" tanya ku.
"Iya, aku baru aja nyampek terus nanya ke Pak Joko, ternyata kamu belum pulang juga, kunci mobil kamu dimana Sayang?" tanya Naufal.
"Di laci biasanya Mas," jawabku.
"Ya udah aku susulin kamu, kamu berhenti ya sekarang," tutur Naufal.
"Iya Mas, Assalamu'alaikum," salamku.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya dan menutup teleponnya.
__ADS_1
Bersambung...............